
Sebagai anak lelaki satu-satunya, Raffa selalu diajak kemana pun oleh sang papi, Daniel. Mulai dari sholat jum’at ke Mesjid, pengajian, bahkan Daniel sering membawa Raffa untuk menemaninya bekerja di kantor. Raffa yang berusia kurang dari 2 tahun termasuk anak yang istimewa, diusianya cara ia berbicara sudah lancar dan tidak cadel. Menurut dokter anak langganan mereka perkembangan Raffa 30% lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya, itu yang menyebabkan ia lebih memahami sesuatu dibandingkan kakaknya Ranna.
Suatu hari di taman bermain, Ranna, Raffa dan Rayya bermain bersama tentunya mereka diawasi oleh para baby sitter mereka.
“Dek, main itu yuk!” ajak Ranna ke Raffa ia menunjuk jembatan gantung
“Let’s go kak!” Raffa menyanggupi, dengan lincah mereka berlari menuju tangga ke jembatan gantung, sementara suster Rini dan Erni mengikuti mereka
“abang, kakak hati-hati ya?” teriak mereka, kedua anak itu seperti mami mereka yang tidak takut akan ketinggian, dengan lincah mereka menaiki tangga tali hingga sampai ke jembatan gantung.
“Wah dek, itu di bawah air yang banyak” teriak Ranna, ia berimajinasi di bawah jembatan adalah sungai dengan air yang deras
“Yes kak, let’s cross it!” Raffa mulai melangkahkan kakinya menapaki titian kayu jembatan dengan santai. Ranna tidak mau kalah, dengan cepat ia melangkah hingga ia melampaui Raffa. Tanpa sengaja ia menyenggol seorang anak kecil seusia mereka yang sedang berjuang menyebrang. Karena kaget dengan senggolan Ranna anak itu terjatuh diantara kedua lututnya, melihat ke bawah jembatan tiba-tiba timbul ketakutan
“huaaa....mommyyy!!!” ia menangis ketakutan. Raffa melihat anak menangis itu, lalu ia kembali ke tengah jembatan lalu menghampirinya
“Don’t be afraid !” anak kecil itu melihat Raffa, ia menghentikan tangisnya
“Can you stand?” tanya Raffa, anak itu mengangguk
“I’ll help you” dengan tenaga kecilnya Raffa membantu anak itu bangkit. Perlahan tapi pasti mereka berjalan menuju seberang jembatan, akhirnya mereka sampai
“here we go! Careful with the stairs!” ujar Raffa memberi arahan. Ibu si anak memperhatikan mereka sejak tadi.
“Ella!” ibu anak itu memanggil, ia menghampiri dan tersenyum
“mommy!” Ella memeluk ibunya, Raffa meninggalkan kedua ibu dan anak itu
(bahasa Inggris)
“sebentar, nama mu siapa?” tanya si Ibu
“Raffa!”
“Raffa, terima kasih. Ini permen untuk mu!”
“Terima kasih!” Raffa tersenyum lalu pergi
“Raffa!” panggil Ella, Raffa menghentikan langkahnya
“Ya?”, Ella menghampirinya, lalu mengecup pipinya
“Terima kasih!” ujar Ella tersenyum, Raffa membalas senyumannya, lalu pergi. Ia melihat para baby sitternya sudah menunggu di pintu keluar.
Ketika pulang, di dalam mobil ia duduk di pangkuan maminya. Ia mengambil permen lolipop dari kantongnya
“Mami, can you open it for me?” pintanya
“hah? Kamu dapat permen ini dari mana?”
“A lady gave me”
“kok bisa?”
“I’ll help her daughter in play ground” ujar Raffa dengan wajah datar. Rita memperhatikan wajah putranya, tidak mungkin Raffa berbohong pikirnya. Ia membuka bungkus permen itu dan memberikan pada Raffa. Ranna melihat Raffa dengan permennya dan hendak mengambilnya, Rita langsung mencegahnya
“Kakak! Jangan kebiasaan. Kalau mau minta ijin dulu. Dek Kakak boleh minta gak? Begitu!” ujar Rita memperingatkan. Ranna mengangguk
“Dek, boleh kakak minta?” ujar Ranna. Raffa bukan anak yang pelit, ia memberika permennya untuk dihisap oleh kakaknya. Ranna tersenyum lalu menghisap permen itu.
“Sudah kak, kembalikan ke Raffa” ujar Rita, tadinya Ranna segan, tapi ia melihat wajah Rita yang galak, akhirnya ia mengembalikan permen ke Raffa.
“Ingat ya Kakak dan Abang kalau mau minta sesuatu harus ijin dulu, jangan langsung main ambil saja!” ujar Rita
“yes mami”
“Ya mami!” jawab keduanya kompak. Mereka bergantian menghisap permen itu sampai tinggal sedikit. Akhirnya Raffa memberikan sisa permennya ke Ranna
“Bilang apa kakak?” tanya Rita
“Terima kasih Dek!” jawab Ranna
“you’re welcome!” jawab Raffa tersenyum, Rita ikut tersenyum. Ia menciumi pipi Raffa bertubi-tubi karena gemas
“hihhhh....mami gemassss....kamu bayi ganteeeennngggg” puji Rita menciumi pipi dan leher Raffa hingga ia tertawa kegelian.
Mereka tiba di rumah
“assalammu’alaikum...” sapa Rita
“Wa’alaikummussalam, kalian dari mana?” tanya Daniel, ia duduk di sofa tengah rumah
“Dari play ground papi! “ jawab Ranna, ia langsung nomplok ke tubuh papinya
“Ampun kakak!!” teriak Daniel bercanda
Rita tersenyum melihatnya, ia langsung ke dapur untuk meletakkan belanjaannya diikuti oleh para baby sitter. Raffa duduk bersama Rayya di ruang tengah. Rayya sudah bisa merangkak, ia melihat remote control lalu mengambilnya dan menaruh di mulutnya
“Don’t do that! That’s dirty!” Raffa mengambil remote dari mulut Rayya,
“haaaaaaa!!!!” Rayya berteriak kesal
“hey!! Kalian kenapa?” tanya Daniel, ia berusaha melepaskan wajahnya dari dekapan Ranna
“Adek put remote to her mouth, that’s dirty!” ujar Raffa
“Ambilnya pelan-pelan bang, jadi adek gak marah” ujar Daniel mengajari
“Kakak, bisa diam gak? Papi gak bisa nafas nih!” Ranna langsung diam, lalu ia menghampiri Raffa dan ia melakukan hal yang sama pada adeknya
__ADS_1
“nooo!!!” Raffa berusaha melepaskan diri dari dekapan kakaknya, mereka bergumul. Daniel hanya memperhatikan kedua bocah itu, ia lebih tertarik pada Rayya
“Hey Adek!! Tadi dari mana?” ia menggendong Rayya dan menciuminya
“uhhh...bau ih...hay kalian mandi yuk??” ajak Daniel
“Ayo!!!” ujar Ranna dan Raffa bersamaan, mereka berlari ke lantai 2
“Pelan-pelan naik tangganya!” teriak Daniel. Ia mengikuti dari belakang.
Daniel menyiapkan bath tub dengan air hangat, tak lupa ia meletakkan boneka karet . Ketiga anak bermain air kegirangan. Ranna iseng pada adeknya, ia menekan Raffa ke pinggir bath tub hingga Raffa berteriak menahan tubuhnya
“Kakakkkkk!!!!” teriaknya sebal, Daniel segera menarik Ranna ke tengah
“kakak jail banget ya?” ujar Daniel, ia mulai memisahkan Rayya dengan kedua kakaknya kemudian membawa Rayya ke kamar tidur untuk memakaikan pakaiannya setelah itu ia menggendongnya ke bawah
“Sayang, ini satu sudah beres, 2 lagi on the way!” ujar Daniel, ia menaruh Rayya di kursi bayi di ruang makan
“Terima kasih sayang!” jawab Rita, ia sibuk menyiapkan makan malam bersama Beatrice
“Sama-sama! Kamu masak apa?” tanya Daniel mendekati Rita yang sedang masak
“Cuma sop Iga, nanti kamu pasti suka”
“Hmm...kayaknya enak!”
“kakakkkkk!!!” teriakan Raffa membuat Daniel melihat ke arah tangga
“Si kakak ini jahil banget dari tadi!” ujarnya sambil setengah berlari menuju tangga
Rita tersenyum melihat suaminya yang kerepotan
“Nikmatilah masa-masa seperti ini, nanti kalau anak-anak remaja mereka sudah tidak membutuhkan kita lagi” ujar Beatrice tersenyum, Rita mengangguk menanggapi
Makan malam tiba, keluarga kecil itu bersama para baby sitter makan malam dengan tenang, awalnya hingga muncul keributan karena Ranna iseng mengganggu Rayya dengan mengambil sendoknya.
“aakkkkhhhhhh!!!!!” teriak Rayya, ia kesal dan melemparkan semua yang ada di depannya ke arah Ranna sementara Raffa dengan duduk dengan tenang di samping kakaknya
“Kak Ranna!!!” Daniel memperingatkan,
“Rayya!!!” Rita memperingatkan anak bayi berusia 8 bulan itu
“Kedua anak ini sifatnya sama, gak ada yang mau ngalah! Rayya masih bayi tapi sudah bisa melawan kakaknya!” ujar Rita
“Iya bu, tadi di play ground juga, kak Ranna ini sereing iseng mengambil mainan yang sedang dipegang Rayya, padahal mainannya sama dia Cuma ingin menggoda adeknya saja”
“Lalu Rayya gimana?”
“Dia mempertahankan mainannya dan mendorong Ranna dengan kakinya” ujar suster Erni bercerita
“hahahaha...” Rita dan Daniel tertawa geli membayangkan perkelahian kedua anak bayi
“Saya kan megang anak bu, masa mainin hp” jawab suster Erni
“Oh iya ya? sayang, tadi Raffa dikasih permen sama ibu-ibu” Rita menceritakan
“Iya bang? Kenapa bisa dikasih?” tanya Daniel
“Ceritain bang!” pinta Rita
“There was a kid who afraid crossing the bridge. Kak Ranna made her on knee, she’s afraid and i’ll help her”
“Kak Ranna lagi ya?”Rita melihat ke anak sulungnya yang makan dengan wajah tak bersalah
“Jadi kamu dikasih permen?”
“yes, and a kiss too”
“kiss??” tanya Daniel heran
“That kid kissed me “ ujar Raffa menunjuk pipinya
“Ciyeee abanggg!!! Kisseu...kisseeeuu” ledek Rita, Daniel tersenyum
Malam harinya menjelang tidur
“Ranna bisa iseng begitu gimana ya?” tanya Daniel khawatir
“Hahaha...dia memang iseng. Agaknya di kepalanya hanya ingin bersenang-senang” jawab Rita menenangkan suaminya
“Apa itu gak apa-apa?” tanya Daniel khawatir
“Selama isengnya masih batas wajar ya tidak apa-apa”
“Tadi dia beberapa kali mengisengi Raffa di kamar mandi, aku sudah memperingatkannya berkali-kali tapi tetap saja ia melakukannya” keluh Daniel
“Untuk memarahi Ranna, kamu harus menatap wajahnya langsung, biarkan ia melihat wajah serius mu. Pasti dia takut”
“Wajah seriusnya? Kamu pasti bercanda, aku mendengar suara lucunya saja tertawa apalagi harus menatap wajah lucunya” ujar Daniel
“Nah itu, kamu harus latihan supaya ada wibawanya”
“Memangnya aku kurang wibawa?”
“Enggak sih, apalagi kalau suara berat mu sudah keluar, aku saja merinding!”
“kamu? Merinding mendengar suaraku?”
“Iya! Kamu kan jarang marah, tapi begitu keluar suara beratnya, kaki ku langsung lemas”
__ADS_1
“Kamu suka berlebihan!” ujar Daniel tersenyum mendengar kata-kata istrinya
“Kita di sini empat hari lagi ya?” tanya Rita sambil memakai piyamanya
“Iya, memangnya kamu mau nambah lagi?” tanya Daniel yang tengah membaca jadwal di tabletnya
“sebenarnya di sini enak sih, tapi kelamaan juga bisa repot aku”
“Repot? Kan ada Beatrice”
“Bukan begitu, aku sudah dapat warning dari mall untuk segera membuka booth ku”
“Memangnya kamu menutupnya?”
“Iya, semua bahan dan resep aku yang tahu, jadi kita gak jualan hampir 2 minggu ini”
“Wah sayang dong? Kamu kontrak di mall berapa bulan?”
“3 bulan, ini baru masuk bulan pertama”
“Dua bulan lagi, kalau kamu gak niat buka kenapa melakukan?”
“Yeahh...aku Cuma ingin tahu saja rasanya jualan di mall”
“Apa hasil jualanmu dapat untung?”
“Dapat sih, setelah dikurangi biaya sewa dan lain-lain tipissss banget”
“Itu sebabnya orang jualan harus rajin jualan ya? dulu mama ku juga begitu. Walau pun kondisi sakit ia tetap membuka restorannya. Beliau bilang kalau gak buka nanti para pelanggan pindah ke restoran lain”
“ooo begitu ya? aku pikir pelanggan itu setia lho, kalau dia suka pasti nungguin”
“Tergantung pelanggannya juga Yang. Kamu pernah dengar lidah yang terbiasa gak?”
“Lidah yang terbiasa? Apaan tuh?”
“Jadi begini, misalnya, ada dua toko menjual jenis makanan yang sama, awalnya orang-orang lebih menggemari toko pertama yang rasanya lebih enak, tetapi karena toko ini jarang buka, pelanggan berpindah ke toko kedua yang rasanya biasa saja. Lama-kelamaan para pelanggan toko pertama pindah semua ke toko kedua karena mereka sudah terbiasa dengan rasa di toko kedua”
“Bisa begitu?”
“Iya!, coba saja kamu deh, kalau misalnya kamu terbiasa makan masakan yang rasanya biasa saja, lidah kamu juga menyesuaikan, tetapi kalau kamu biasa makan masakan yang enak”
“iya dehh...aku ngertii!”
“Eh Sayang kamu sudah mendengar gosip?” tanya Daniel tiba-tiba
“gosip? Gosip apa? aku kan di sini gak kenal siapa-siapa kecuali Beatrice”
“Oh itu, aku baca di group WA ex Dar.co. Setelah bos besar dikabarkan sakit, beberapa karyawan, terutama karyawati banyak yang resign”
“Oh ya? kenapa?”
“Aku juga gak tahu, mungkin nanti kamu bisa konfirmasi pada Andi atau Mario”
“Lalu?”
“Beberapa karyawati yang merupakan single mother diterima kerja di tempat lain”
“Alhamdulillah, di mana?”
“D’Ritz!, bahkan mereka menjuluki D pada D’Ritz itu Darmawan”
“Oh ya? hmm...” Rita diam saja
“Memangnya kamu mengijinkan Erina menerima karyawan lagi?”
“Sebenarnya, karena D’Ritz sudah lumayan besar, jadi aku meminta Erina untuk membentuk manajemen untuk mengurusi, jadi sekarang D’Ritz dikelola secara professional. Aku gak tahu Erina merekrut teman-teman dari Dar.Co”
“Wah, kamu hebat bisa bikin seperti itu, jadi kamu sebagai?”
“Komisaris lah! Dan Erina Dirutnya”
“Istri ku hebat sekali, makanya menurut ku kamu gak usah minta perusahaan dari kakek, kamu saja sudah hebat” puji Daniel
“Sayang, itu gak apa-apa pada resign?” tanya Rita khawatir
“Kamu harus tahu Yang, Dar.co itu perusahaan yang peminatnya banyak, hilang 1 tumbuh seribu. Mereka banyak sumber dayanya”
“Kamu yakin?”
“Tentu saja! Bahkan mereka baru saja memenangkan tender dari perusahaan besar”
“Oh ya? syukurlah! Btw kamu masih berhubungan dengan teman-teman Dar.co ya?” ujar Rita agak cemburu
“Tentu dong, sebenarnya aku Cuma ingin tahu perkembangan Dar.co. Seperti rumor kayak gini kan aku harus tahu”
“Harus?”
“Aku masih peduli sama Dar.Co lho, aku juga gak ingin Dar.Co kolaps”
“hmmm....Aku belum menerima laporan dari Erina, mungkin aku belum sempat membacanya” gumam Rita
“Sayang....” Rita hendak mengatakan sesuatu
“zzzzzzzzz” Daniel telah lelap tertidur
“yah dia tidur” Rita mengecup pipi suaminya lalu mematikan lampu kamar, mereka pun terlelap
_Bersambung_
__ADS_1