
Malam harinya, anak-anak telah tidur. Daniel masih mempelajari spesifikasi mobil yang hendak ia pilih.
“Belum memutuskan Yang?”
“Belum, aku nunggu kamu dulu”
“Kenapa?”
“Aku juga lagi mikir, kira-kira mobil mana yang mau aku ambil”
“hmmm...sebenarnya aku merasa gak enak nih, aku kan cuma cucu mantu eh dapat bagian juga”
“Mario yang anak angkat saja dapat, masa kamu enggak”
“Iya sih, tapi nanti orang bilang aku nikahi kamu karena modal tampang doang!”
“Tapi kamu kan enggak begitu, bukan tampang saja, kamu modal sendiri lho buat nikahi aku. Sudah begitu potensi mu besar. Kakek bilang, mungkin Daniel enggak kaya harta tetapi dia kaya intelektual aku akan baik-baik saja selama bersama kamu” ujar Rita sambil menyenderkan kepalanya ke lengan Daniel
“Kakek bilang begitu?” Daniel tampak kelihatan bangga
“terus aku bilang, siapa bilang Daniel gak kaya harta, dia punya apartemen, motor mewah, mobil semua dia beli sendiri”
“Terus kakek mu bilang apa?”
“Itu yang kakek bilang, karena dia kaya intelektual makanya dia bisa menghasilkan lebih banyak harta. Seharusnya dia gak minder sama kamu, kakek bilang begitu”
“Kamu ngarang saja kali supaya aku senang”
“Enggak, nih ada kok rekamannya” Rita mengambil ponselnya dan memperdengarkan pembicaraannya dengan kakek Darmawan. Daniel tersenyum bangga
“Kapan kalian ngomongin aku kayak gini?”
“Sebelum aku berangkat ke Singapura, beliau kan ngasih kado pernikahan yang uang itu, lalu beliau ngomong itu”
“Hmm...jadi aku gak boleh minder ya?”
“Iya, lagi pula orang-orang yang ngomongin kamu jelek itu cuma iri saja, selain jelek wajah, jelek juga hatinya”
“Kamu tahu dari mana wajahnya jelek?”
“Biasanya kalau orang suka ngomongin orang lain yang jelek-jelek wajahnya ikutan jelek sejelek hatinya makanya aku males ngegibahin orang”
“Bagus deh!” Daniel mencium bibir Rita
“Aku belum bersih” Jawab Rita
“Aku cuma mau mencium saja” ujar Daniel tersenyum. Mereka berciuman dengan mesra, hingga
“Hueeee” suara tangis Rafa menghentikan mereka
“Wow, save by Rafa” ujar Daniel, Rita segera bangun dan mengambil Rafa dari tempat tidurnya, ia mengecek popoknya.
“Penuh ya Rafa, kamu banyak minum hari ini” Rita mengganti popok dan pakaian Rafa, lalu menyusuinya beberapa menit kemudian Rafa kembali tertidur kemudian ia kembali ke sisi suaminya.
“Tadi sampai mana?” tanyanya
“Sampai Rafa menangis” jawab Daniel tersenyum, ia kembali membaca tabletnya. Rita membuka laman sosmed dari tabletnya
“Wah kacau nih”
“Kenapa?”
“Kamu ingat temanku Kiki?”
“Kiki? Yang bikin kamu diculik?”
“Iya”
“Kenapa dia?”
“Dia lagi berantem sama suaminya”
“Kamu tahu dari mana?”
“Nih statusnya di sosmed”
“Aneh, berantem rumah tangga kok di bawa ke sosmed, nanti malah melebar masalahnya” ujar Daniel. Rita tidak mendengar, dia membaca status Kiki sebelumnya
“Ternyata Andre suaminya gak pulang sudah lama, dia selingkuh” Rita membaca sosmed Kiki
“Gak pulang karena suaminya bekerja belum tentu selingkuh” ujar Daniel lagi
“Enggak ini beneran Yang, si Kiki grebek suaminya ngamar dengan perempuan lain”
“Apa itu grebek? Ngamar?”
“grebek itu menangkap basah di kamar berdua dengan perempuan lain”
“Mereka lagi berhubungan begitu?” tanya Daniel
“Lagi ngamar sama perempuan bukan istrinya, apalagi kalau bukan berhubungan, memangnya ngapain?”
“Bisa saja kan mereka lagi menyamar untuk menangkap seseorang” ujar Daniel lagi
“Kamu itu kebanyakan nonton film Mission Imposible. Gak mungkin lah, orang mereka berduaan di kamar itu”
“Ohh...”
“Kok Ohh doang? Menurut kamu itu biasa?” tanya Rita, nada suaranya mulai menyelidik
“Enggak, gak biasa”
“Terus? Kok reaksi mu biasa saja?” tanya Rita heran
“Hmm...gimana ya, dulu pekerjaan ku sebagai pengawal, klien ku mengadakan pertemuan di kamar hotel. Jadi mendengar tentang itu aku gak punya perasaan lain selain pertemuan klien”
“Klien mu berdua saja di kamar?”
“Iya”
“Kamunya di?”
“Aku di luar, di depan pintu, kadang di teras”
“Kliennya laki-laki dan perempuan?”
“Enggak sih, kebanyakan lelaki-lelaki”
“Waduh serem itu” ujar Rita
“Kok serem? Kamu bikin aku bingung”
“Maksud ku, dua lelaki di kamar berduaan, apa gak ngapa-ngapain?”
“Waduh, kamu mikirnya kok kesitu terus ya? mereka gak ngapa-ngapain. Mereka membicarakan kontrak kerja, kalau di restoran mereka terganggu dengan suara-suara, jadi biasanya mereka menyewa kamar presidential suit untuk pertemuan”
“Oooo begitu, kirain”
“Lagi pula kata kamu gak mau ngomongin orang, kok kamu malah ngeliatin status sosmed orang?” tanya Daniel
“Yeah..aku pengen tahu saja keadaan teman-teman ku. Kiki ini menikah mudah juga lho, anaknya juga sudah dua. Sama kayak aku”
“Tapi kan suaminya beda! Kamu jangan menyama ratakan semua suami itu mudah selingkuh” ujar Daniel, nada suaranya terdengar keberatan
“Kelihatannya kamu gak suka ya?”
“Iya, jujur saja, tentang selingkuh ini yang katanya sedang trend aku sebagai lelaki merasa gak nyaman”
“Kenapa?”
“Karena insya Allah aku setia dengan istri ku. Walau banyak perempuan cantik menari –nari di mataku menggoda dipikiran ku hanya istri ku”
__ADS_1
“Masa sih? Kog picisan sekali?” wajah Rita terlihat tak percaya
“Tuh kan, kamu gak percaya sih, sekarang kamu pikir aku gak curiga kamu selingkuh?”
“Aku selingkuh? Sama siapa?”
“Dewa? Kalian kan berduaan waktu nikahan tante Saye?” ujar Daniel
“Masa aku selingkuh, aku kan hubungi kamu terus sewaktu sama Dewa, artinya aku gak selingkuh”
“Yaa, bisa saja kan itu trick supaya aku gak curiga”
“Enak saja!, aku gak tertarik sama Dewa. Kalau mau sama dia kami pasti sudah jadian ketika di Bali dulu tapi kan enggak!”
“Nahh, gak enak kan dicurigai terus?” ujar Daniel, akhirnya Rita paham maksud Daniel mengatakan kecurigaannya.
“Masalahnya punya suami yang terlalu tampan itu membebani”
“Huh? Maksud mu Yang?”
“Kamu inget gak waktu kamu Vcall aku lagi di rumah tante Saye?”
“Hmm...iya, itu pertama kalinya aku kenal tante Saye ya?”
“Iya betul, tante lihat foto kita, terus beliau bilang,..wah Rita ganteng banget pacarnya, hati-hati ya, saingannya banyak! kamu yakin?”
“huh? Tante bilang kamu yakin? Gitu?”
“Iya, dia hanya ingin melindungi aku. Suaminya yang dulu juga ganteng tapi gak mencintai tante jadi dia takut aku ngalamin hal yang sama”
“Tapi kata mu, akhirnya suaminya pengen balik ke tante tapi ditolak?”
“Kamu dengerin cerita aku rupanya” Rita tersenyum
“Tentu dong, masa enggak”
“Kirain, aku dengar lelaki biasanya gak dengar cerita istrinya”
“Salah itu, sebenarnya mereka mendengar, merekam di otak Cuma gak mau merespon saja. Selain gak kenal orangnya juga gak penting”
“oh begitu”
“Jadi tentang tante Saye?” tanya Daniel
“Ya aku bilang, aku yakin sama pilihan ku, nanti tante aku ketemuin deh sama orangnya. Orangnya baik banget”
“Paling bisa, eh bulan ini aku sudah transfer uang bulanan belum ya?” tanya Daniel
“Sudah! Kenapa kamu mikirnya aku baik sama kamu kalau kamu sudah transfer?” protes Rita
“Biasanya begitu kan?” goda Daniel
“Ya, gak seratus persen benar tapi jujur aku sering insecure lho, misalnya nih, di kolam hari ini, kamu buka baju, eh para staf cewek pada melotot melihat tubuh mu, aku kesel banget”
“Begitu doang, aku kan gak menggoda mereka, aku cuma mau berenang. Itulah sedihnya jadi orang ganteng dicurigai pamer terus, padahal kita mau menjalani hidup normal saja. Aku memang tampan dan keren tapi bukan berarti aku menyukai semua perempuan. Aku lelaki normal lho, senang melihat perempuan cantik, tapi tidak semua perempuan cantik aku seriusi.”
“Iya...iya...kalau ngomong tentang ini, pasti kesimpulannya kamu narsis deh” ujar Rita
“Aku serius cuma sama satu perempuan cantik dan dia ibu anak-anak ku!”
“Memangnya aku cantik?”
“Kamu cantik dan menarik, tidak membosankan. Itu yang aku suka dari kamu!” Daniel mencium bibir Rita lagi. Rita tersipu hatinya berbunga-bunga
“Kamu lama banget sih milih begitu saja?” tanyanya heran
“Sebenarnya aku tertarik sama yang dua ini” Daniel menunjukkan sebuah mobil SUV dan sport
“Kamu lebih berat yang mana?”
“Dua-duanya, apa kamu yang SUV ini?” tanya Daniel
“Huh? Kamu mau balapan?”
“Enggak, kadang aku kepengen mobil sport saja, seperti mobil ku yang di Auckland”
“Kamu mobil sport yang mana?”
“Yang ini” Rita menunjuk mobil sport jenis lain
“Lambo ini” ujar Daniel
“Kenapa kamu mau yang SUV?”
“Aku lelaki berkeluarga sekarang, harus memikirkan membawa keluarga ku tapi juga ingin terlihat keren dengan mobil sport ini”
“apa begini saja, kamu ambil SUV ini sedangkan yang sport ini kamu beli saja dari kakek, kata pak Ridwan kakek akan menjual mobil-mobil koleksinya”
“Oh ya? apa boleh ?”
“Ya boleh dong, masa beli gak boleh?”
“iya deh begitu saja, kakek gak akan marah kan?”
“Enggak, percaya deh sama aku, kamu tanya-tanya saja sama pak Ridwan”
“Kamu gak keberatan kan aku beli mobil?”
“Enggak, kan uang mu sendiri, lagi pula kamu gak lupa sama kebutuhanku dan anak-anak jadi gak masalah untuk ku”
“Oh iya yang, mau tanya itu yang bayar baby sitter siapa?”
“Kakek kayaknya”
“Bilangin deh, untuk anak-anak aku saja yang menggaji mereka. Aku sudah dilayani bak raja di sini setidaknya untuk keperluan anak-anak biar aku yang menanggung”
“Sudah kuduga kamu akan bilang begitu, aku sudah bilang sama kakek tadi pagi”
“Oh ya? terus beliau bilang?”
“Untuk bulan ini mereka sudah digaji, bulan selanjutnya saja. Kakek bilang anggap saja kado kelahiran Rafa. Beliau juga bilang kalau gak begini kamu gak akan menyewa pembantu”
“hoo..begitu...hehehe...kakek bisa saja” ujar Daniel tersenyum
“Besok kita dari sini sore ya?” tanya Rita
“Iya, aku lagi cari tiket penerbangan malam, biar agak santai eh sebentar ada berita nih” Daniel membaca pemberitahuan penutupan bandara Changi dari semua pendatang
“Hah? Ada apa?”
“Di Singapura sedang melakukan karantina, penyakit pernafasan yang disebabkan virus sudah tinggi.”
“Waduh, padahal kemarin masih aman-aman saja”
“Iya, dalam waktu 2 hari sudah banyak jatuh korban”
“Maksudnya meninggal?”
“Belum, Cuma masuk rumah sakit, nih lihat rumah sakit kakek Sugi penuh”
“Terus, toko-toko tutup dong?” tanya Rita
“Hmm...kantor-kantor disuruh bekerja dari rumah seminggu ini, kayaknya semua bisnis deh namanya juga karantina”
Ting-ting! Rita menerima e-mail dari Erina, Daniel menerima E-mail dari Davies tentang karantina. Rita segera menghubungi Erina
“Er, belum ada produksi kan di toko?”
“Belum bu, kami baru mendapatkan beritanya siang ini, karantina sendiri di mulai Senin, semua orang WFH”
“Kalau begitu, minta Ismael menaruh semua bahan di freezer. Tutup saja tokonya, aku akan mentransfer pembayaran gaji karyawan dari sini”
__ADS_1
“Iya bu, semua bahan sudah kami taruh di freezer, untung saja kami belum memesan bahan baku karena ada pembatalan pemesanan 600 roti karena acaranya batal”
“Iya gak apa-apa Er, kalian di rumah saja. Aku memantau keadaan dari sini, gak usah khawatir tentang gaji ya?”
“Iya bu, nanti saya sampaikan”
Setelah itu Rita menghubungi suster Rini, lalu memberikan gajinya untuk bulan ini
“Eh bu, kok saya sudah gajian?” tanya suster Rini
“Iya Sus, saya akan lama di Jakarta, belum tahu kapan kembali ke sana, saya harap gaji itu bisa membantu anak-anak suster”
“terima kasih banyak bu Rita, kabarkan saya kalau sudah kembali ke sini”
Rita melakukan transfer gaji para karyawannya, ia sibuk dengan e-bankingnya
“Apa gak terburu-buru Yang?” tanya Daniel
“aku merasa karantina ini akan berlangsung lama, gak mungkin cuma seminggu saja. Kasihan para karyawan yang tidak bekerja karena bisnis di tutup. Jadi aku transfer saja gajinya bulan ini”
“Kamu baik banget!” Daniel mencium kening istrinya
“Kalau kamu gimana?”
“Mulai besok, kami rapat via on line jam 9 waktu Singapura”
“Wahh...akhirnya...terkabul juga keinginan kita kerja di rumah”
“Kita jahat juga ya, kejadian ini malah senang” ujar Daniel
“antara senang gak senang, belum apa-apa tabungan ku berkurang banyak untuk gaji karyawan”
“Hah? Apa jadi negatif?”
“Enggak dong, aku kan bilang berkurang saja, bukannya merugi”
“Oh begitu, aku sempat khawatir tadi”
“Aku sudah membuat cadangan gaji untuk karyawan setiap bulan, untuk hal-hal semacam ini”
“Kamu jadi pintar banget ya?”
“Iya dong, jujur saja aku agak tersinggung lho, kakek tidak mempertimbangkan ku untuk mengelola bisnisnya”
“Beliau gak bermaksud begitu, beliau ingin kamu fokus membesarkan anak-anak!”
“Iya, tapi aku kan bisa mengurus anak-anak sambil mengelola bisnis”
“Kamu kan sudah punya D’Ritz, masa mau yang punya kakek juga?” tanya Daniel
“Maksudku pengakuan saja Yang!”
“Pasti lah kamu diakui, aku dengar dari Mario mama Ratna sudah mengajukan menjadi silent partner di perusahaan kakek Sugi, itu juga berlaku untuk Andi dan kamu”
“Oh ya? kok mama gak bilang ke aku?”
“Mungkin nanti kali, karena kamu kan juga jarang ketemu mama?”
“Kalau perusahaan kakek Sugi, aku agak takut, gak tahu pasti bisnis kakek sugi apa saja. Apa lagi latar belakang mafianya..aku setuju sama mama deh”
“Nah mungkin itu pertimbangan mama Ratna! Jadi kamu ngikut saja ya?”
“Iya..iya.. eh kamu sudah sholat Isya?”
“Belum, ini mau, kamu gak sholat?”
“Belum bersih!”
“Oh iya ya belum 40 hari” Daniel bangkit lalu segera ke kamar mandi untuk berwudhu, sementara Rita berganti pakaian dengan piyamanya, lalu memompa ASI untuk persediaan anak-anaknya.
Esok paginya, mereka melakukan aktivitas pagi, Daniel membawa anak-anak berkeliling taman bernuansa Jepang sedangkan Rita melakukan Jogging.
“Hah..hah..hah..” nafasnya terengah-engah, ia melihat taman yang dibuka untuk umum mulai ditutup, dengan pengumuman. Ia menghampiri penjaga taman
“Sampai kapan taman ini di tutup pak?” tanya nya
“Belum tahu bu, tetapi kami dapat edaran dari pemerintah setempat untuk menutup semua fasilitas umum. Lalu kami juga harus melakukan desinfektan di sini”
“Oh begitu” Rita kembali berlari menuju rumahnya
“Assalammu’alaikum”
“Wa’alaikummussalam, berlarinya sudah sampai mana mba?”
“Baru sampai taman depan situ, aku belum kuat lagi. Oh iya pak, staf di sini gak WFH kan?”
“Kita kan sudah di rumah mba?”
“Maksud ku, bapak tahu deh”
“Iya mba, di sini bekerja seperti biasa, beberapa staf yang rumahnya jauh diminta pindah ke mess di belakang rumah ini, supaya bisa bekerja dan tetap dipantau kesehatannya”
“Yang sudah berkeluarga bagaimana?”
“Pindah bersama keluarganya ke sini mba, mereka akan lebih terjamin kesehatannya. Kami sudah memasang air filter di setiap pintu masuk dan melakukan desinfektan lebih sering”
“Oh begitu, jadi insya Allah kita aman ya Pak?”
“Insya Allah aman mba, saya menerima kabar dari pak Darmawan, beliau, bu Ratna dan mas Andi juga tertahan di London, jadi mereka tinggal di sana”
“Oh begitu, syukurlah aku lebih lega sekarang. Oh iya suami saya di mana ya pak?”
“Beliau bersama anak-anak ada di taman Zen”
“Oh di situ, saya kesana ya Pak, oh iya tolong minuman jusnya diantar ke sana ya?”
“Baik mba Rita, nanti saya kirim staf dapur ke sana”
“Terimakasih pak!” Rita berjalan ke kamarnya, udara segar yang berhembus di dalam kamar membuat tubuhnya sudah dingin, ia pun segera mandi. Beberapa menit kemudian ia telah rapi lalu mencari anak dan suaminya di taman Zen.
“Dor!!! “ ia mengagetkan Daniel yang sedang membaca buku di taman
“astaghfirullah! Kamu bikin kaget saja!”
“Hehehe...Lho Ranna dan Rafa mana?”
“Ranna lagi bersepeda, Rafa lagi lihat ikan, dia senang banget”
Rita melihat anak keduanya bergerak aktif melihat ke kolam penuh ikan Koi dalam gendongan baby sitternya.
“Ranna punya sepeda?”
“Dibelikan Om Robby, baru di buka kadonya kemarin”
“Kado? Kado apa?”
“Sebentar lagi Ranna ulang tahun kan?”
“Bulan depan, dia genap 12 bulan!”
“Oh..kalau begitu kadonya duluan” ujar Daniel tersenyum
“Baik juga ya Robby” Rita tersenyum, Ia menghampiri Ranna yang kegirangan naik sepeda berkeliling taman, ia memotonya lalu mengirimkan ke Robby
“Terima kasih kadonya Om, Ranna senang sekali”
Robby membaca pesan dari Rita, lalu membalasnya
“Sama-sama!” dengan emoticon tersenyum
_Bersambung_
__ADS_1