Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 212: Rumah Besar Darmawan


__ADS_3

Selesai berenang, Rita dan keluarga kecilnya mengelilingi rumah besar Darmawan dengan menggunakan sepeda. Masing-masing membawa anak, mereka sangat menikmati liburan keluarga hari itu. Sesampainya di rumah besar, Daniel penasaran dengan isi garasi di rumah itu.


“Yang, itu garasi isinya apaan ya?”


“Gak tahu, aku jarang ada di sini”


“Lho waktu ujian kamu bukannya lama di rumah ini?”


“Iya, tapi aku kan sibuk latihan soal, lebih banyak di taman indoor, nanti kita kesana ya? bagus deh nuansa Jepang banget”


“Sebentar aku penasaran dengan ini garasi.”


“Kita masuk dulu Yang, taruh bocah dulu takut banyak debu di sana”


“Gak mungkin, semua pegawai di sini rajin-rajin”


Mereka mendekati garasi mobil, Daniel yang menggendong Ranna memasukinya, lalu memencet tombol di samping seketika garasi terbuka, beberapa mobil koleksi kakek berderet dengan indah. Dari mulai yang kuno sampai yang terbaru.


“Wahh...kakek banyak banget koleksinya, masya Allah!” Rita dan Daniel terkesima melihat koleksi mobil kakek.


“ini semua berfungsi gak ya?” tanya Daniel sambil melihat –lihat


“Berfungsi baik pak!” ujar salah seorang staf


“Eh, kamu Amin kan?” tanya Rita


“Iya mba Rita! Sudah lama ya gak ketemu?” ujarnya tersenyum


“Sehat Min? “ tanya Rita


“Alhamdulillah sehat bu!”


“Kenalin dulu Min, ini suamiku pak Daniel, yang digendongnya anak pertama Ranna sedangkan yang lagi tidur di saya ini adiknya Rafa”


“Amin Pak Daniel!” Amin menyalami Daniel


“Min, mobilnya sering dipakai kakek?”


“Kadang-kadang mba, tetapi hampir 3 bulan ini dianggurin”


“Tapi dirawatkan?”


“Dirawat banget mba, kami bisa dipecat kalau ada salah satu mobil tidak berfungsi baik”


“Kita pinjam yang ini yang!” Daniel menunjuk mobil sedan kuno tahun 1978


“Sebentar, aku telepon kakek dulu”


Rita melakukan Vcall dengan kakeknya, beberapa menit kemudian


“Boleh, Min kata kakek pakai saja terserah yang mana, sekalian menghangatkan”


“Baik mba, mau mobil yang mana?”


Sedan itu!” Rita menunjuk sedan yang diminta Daniel. Amin segera ke belakang garasi dan mengambil kunci mobil


“Mau saya setirin mba?”


“Gak usah, suami saya mau coba jalanin katanya”


“Baik pak, silakan!” Amin memberikan kunci mobil.


Ranna dan Rafa di pangku oleh Rita, sementara Daniel mencoba menyetir mobil tersebut


“Wahh...masih mulus sekali Yang!” Daniel tampak kegirangan


“Kamu senang banget, seperti dapat mainan baru”


“Aku punya teman yang sering memodifikasi mobil-mobil tua, misalnya dia lihat mobil lama di jalan, lalu dia beli. Nanti sama dia dibersihkan , dibetulin mesinnya nanti mobil itu berfungsi lagi”


“Dia jual lagi?”


“Kalau ada yang mau, dulu aku sering mengikutinya”


“Kok bisa mengikuti?”


“Maksudku mengawalnya.”


“Dia teman mu atau klien?”


“Klien yang jadi teman. Aku mengikutinya di sosmed, koleksi mobil kunonya sudah bertambah. Aku sudah memoto mobil ini, dia mengirimkan spesifikasi mobil ini, ternyata keluaran tahun 1978”


“Hah? Serius? Ya ampun ni mobil lebih tua dari aku” ujar Rita takjub, Ranna merengek minta di dekat papinya


“Sini nak, tapi kamu jangan ikutan nyetir ya, bahaya!” Ranna duduk di pangkuan Daniel, ia melihat ke arah jalan dengan tenang


“Duuhh..tuan putri, senang banget!” goda Rita sambil mencolek pipi Ranna , Daniel melihat ekspresi Ranna yang terlihat senang


“Kalau sudah besar, kamu belajar mobilnya sama papi saja ya, mami juga papi yang ngajarin” Daniel mencium kepala anaknya


“Memangnya kalau diajarin orang lain kenapa?”


“Nanti jadi jodoh gimana?” lirik Daniel tersenyum


“Jiaahh...memangnya Ranna itu kita!” Rita merasa geli mendengar perkataan suaminya. Mereka mengelilingi rumah besar Darmawan


“Rumah kakek besar banget, tapi sering ditinggal. Yang mengurusnya para pegawainya” ujar Rita memperhatikan sekelilingnya, ia melihat beberapa tukang kebun yang mengurus pekarangan rumah


“Nanti, rumah ini jadi tanggung jawab mu, kamu siap gak?” tanya Daniel


“Yah, kita lihat saja nanti”


“Kok begitu, apa kamu gak senang dapat rumah gratis? Sudah gratis, besar pula”


“Tapi biayanya juga besar, kamu lihat kan orang-orang tadi? Bayangin berapa juta kakek harus mengeluarkan uang untuk merawat rumah ini?”


“Menurutku ini salah satu cara kakek membagi rejekinya, beliau bisa saja membeli mesin canggih untuk mengurus ini semua, tapi beliau gak lakukan. Beliau ingin orang-orang sekitar rumahnya mendapatkan penghasilan dengan bekerja di sini. Lagi pula taman in dibuka untuk umum Sabtu dan Minggu”


“Kok kamu bisa tahu?”


“Aku tadi ngobrol sama pak Ridwan, aku ingin mengajak kalian keliling. Dia menceritakan tentang taman ini"


“oh begitu, aku lebih tertarik dengan dapurnya, dan semua fasilitas di dalam rumah, kalau di luar belum semuanya aku tahu”


“Sedikit-sedikit saja kita kenalan dengan lingkungan di sini, aku lihat Ranna juga senang di sini”


Setelah 1 jam berkeliling , mereka kembali.


“Nih Min kuncinya, terima kasih ya?” Daniel memberikan kunci mobil ke Amin dengan bahasa Indonesia


“Widih, pak Daniel sudah paham bahasa Indonesia nih” ledek Rita


“Sedikit, Mario yang ngajarin, ga nyangka dia pintar ngajar lho!”


“Ooo pantes, para staf rumah di Auckland malah bisa bahasa Indonesia, dia sendiri kebingungan dengan bahasa Inggris” ujar Rita

__ADS_1


“Hahaha, dia memang unik”


“Oh ya Mba Rita, tadi pak Darmawan menelpon, beliau bilang mba Rita boleh pilih mobil, pak Daniel juga masing-masing 1.”


“Maksudnya?”


“Pak Darmawan memberikan 2 mobil koleksinya ke mba Rita dan pak Daniel”


“Oh ya?” Rita dan Daniel terbelalak kegirangan


“Kami boleh milih gak?”


“boleh mba, gak usah terburu-buru. Oh iya ada kok katalognya nanti saya share ke TV di kamar mba”


“Katalog? Maksudnya?”


“Pak Darmawan menginventarisir semua mobilnya, membuatnya seperti katalog. Isinya spesifikasi mesin, kondisi, kelebihan, kekurangan lalu tahun mobil ini dibeli”


“Wow!, kakek benar-benar luar biasa!” Ujar Rita, ia menerjemahkan ucapan Amin ke Daniel


“Kakek Darmawan benar-benar dermawan seperti namanya” puji Daniel


Ketika tiba di kamar, kereta makan mereka telah berubah isinya menjadi makanan untuk makan siang.


“Wow!!! Aku tadi sempat menyesal kemarin niat masak sendiri, gak tahunya sudah dimasakin” ujar Rita sambil melihat kereta makanan


“Permisi mba Rita?”


“Ya?”


“Kami baby sitter untuk Ranna dan Rafa, biar kami yang mengurus mereka”


“Eh, hmm...baiklah!” Rita memberikan Rafa kepada salah satu baby sitter, sedangkan baby sitter yang satu lagi menghampiri Daniel


“Kenapa Yang?” Daniel bingung


“Mereka baby sitter dari kakek, mereka yang mengurus Ranna dan Rafa selama di sini”


“ohh..baiklah!” Daniel memberikan Ranna kepada mereka.


“Gantikan baju mereka ya sus, oh iya ini ASInya, Ranna sudah makan bubur selain ASI, sedangkan Rafa masih ASI semuanya”


“Baik bu, kami akan segera kembali” mereka membawa Ranna dan Rafa keluar dari kamar mereka


“Waahh...aku jadi gak enak hati nih” ujar Rita sambil memberikan piring kepada suaminya


“Iya, kita mau mandiri malah menikmati fasilitas mewah seperti ini ya?” Daniel mengambil makanan dari kereta makan


“Hmm...enak!”


“Iya enak! Wah..aku makin gak mau pergi dari rumah ini”


“Sama!” Mereka menyantap makan siang dengan lahap. Setelah itu Daniel mengganti pakaiannya lalu sholat dzuhur, sementara Rita datang ke dapur rumah untuk melihat sendiri keadaan dapurnya.


“Mba Rita maaf, walau mba Rita akan memasak sendiri di kamar, tapi chef kami sudah membuat makanan dan itu pekerjaan mereka. Jadi tidak apa-apa ya saya kirim ke kamar mba Rita?” ujar Ridwan, ia merasa tak enak tidak mematuhi permintaan Rita


“Gak apa-apa pak Ridwan, sebenarnya kebetulan. Tadi saya sempat menyesal sudah mau masak sendiri, eh lagi lapar-laparnya makanan sudah tersedia”


“Alhamdulillah...berarti pas ya mba?”


“Pas banget, oh iya saya mau lihat-lihat dapur boleh gak?”


“Boleh dong!, ayo saya temani” Ridwan mengantar Rita ke dapur rumah


“Mba Rita belum pernah ke dapur sini ya?”


“Iya ya, kamarnya nyaman sih ya, jadi gak mau kemana-mana”


“betul Pak!, apalagi kamar baru yang seperti rumah itu, makin gak mau kemana-mana saya”


“Hehehe...pak Darmawan bilang, bu Rita senang berkreasi masakan, makanya beliau minta ada dapur khusus di kamar mba Rita”


“Kakek benar-benar perhatian, oh iya pak pengeluaran rumah ini besar sekali ya?”


“Gak usah khawatir mba, untuk pengeluaran rumah ini, pak Darmawan menjual listrik ke PLN. Uangnya untuk operasional rumah ini, Alhamdulillah tiap tahun selalu surplus. Beliau menanamkannya agar rumah ini tetap bisa beroperasi selama bertahun-tahun lamanya, jadi mba Rita tidak perlu khawatir”


“Ohh..syukurlah, kalau koleksi mobil kakek gimana?”


“Oh itu, pak Darmawan berniat menjualnya, tapi sebelumnya ia mau memberikan kepada cucu-cucunya, juga pak Mario”


“Mario dapat juga?”


“Sudah dapat mba, dia nitip di garasi sini. Punya mas Andi juga ada. Sekarang tinggal mba Rita dan Pak Daniel, katanya pilih saja sesukanya nanti biar kami yang urus surat kepemilikannya”


“Bener nih? walau saya milih mobil yang paling mahal?”


“Boleh mba! Pak Darmawan berniat menjual beberapa mobil koleksinya, beliau bilang takut berat dihisab ketika beliau meninggal”


“Ooh begitu, total koleksi mobil kakek berapa Pak?”


“Tadinya ada 70 mobil, kemudian dijual sekarang tersisa tinggal 20 mobil saja. Beliau mau menyisakan 6 mobil saja”


“Uang penjualan mobil untuk apa pak?”


“Untuk membayar perawatan dan pajak mobil-mobil yang masih ada mba”


“Kakek benar-benar penuh perhitungan ya?”, tibalah mereka di dapur rumah besar


“Selamat Datang di Dapur mba Rita!..teman-teman...kenalkan ini mba Rita, beliau adiknya mas Andi”


“Apa kabar mba Rita!” sapa staf dapur ramah


“Terima kasih makanannya, enak sekali!”


“Terima kasih mba!” jawab mereka senang


“Aku lihat-lihat boleh ya?”


“Silakan mba!”, Rita berkeliling dapur, matanya terlihat sangat gembira


“Tidak berhenti-henti masak ya?” tanyanya kepada asisten chef


“Kami masak untuk seluruh penghuni rumah ini mba”


“Oh begitu, kalau pengaturan menunya bagaimana?”


“Kami mengganti menu setiap hari, tapi kalau ada permintaan dari pak Darmawan untuk memasak sesuai keinginannya kami bisa penuhi, mba Rita bisa request melalui aplikasi di TV”


“Oh ada aplikasinya?”


“Iya, mas Andi yang membuat sistem di sini melalui perusahaan programnya, pak Darmawan menjadi kliennya. Hingga saat ini programnya terpakai sangat baik!”


“Jadi TV di kamar itu fungsinya juga sebagai komputer ya?”


“Iya mba, ada versi kecilnya juga, kalau mba lihat di laci, itu ada tablet terhubung dengan TV, jadi bisa diprogram dari tablet itu juga”

__ADS_1


“Wah..keren..apa di sini pernah krisis listrik?”


“Enggak pernah mba, ada 3 sumber yang digunakan , tenaga surya, tenaga Air dan tenaga angin, pak Darmawan membangun sejenis bendungan untuk tenaga air, cukup luas. Pada hari libur dibuka untuk wisata”


“Kakek benar-benar deh!” Rita terkagum-kagum, dia semakin senang di dapur. Ia mencoba beberapa makanan kecil yang dibuat oleh chef


“Enak ! aku mau dong!”


“Silakan mba!” chef memberikan kue-kue kepada Rita, ia mengambil beberapa


“Mba Rita, pak Daniel sudah kembali dari mesjid, ia mencari mba!” ujar Ridwan


“Oke, aku kembali dulu ya? terima kasih semuanya!” Rita meninggalkan dapur dan berlari menuju kamarnya


“Hah..hah...hah..” dia tiba di kamarnya


“Kamu dari mana?” tanya Daniel heran melihat istrinya dengan nafas terengah-engah


“Aku tadi lari dari dapur kemari, lumayan. Aku kurang olah raga nih”


“Kamu sudah memilih mobil?”


“Belum, kamu bersemangat sekali ya?” Rita masuk ke kamarnya, lalu mencari tablet yang dimaksud Ridwan


“Nih Yang, lihat katalognya dari sini” ia memberikan e-katalog ke suaminya, sementara ia mengambil tablet satu lagi untuk melihat kondisi rumah.


“Nih yang, anak-anak lagi main di kamar anak” Rita menunjukkan anak-anaknya yang sedang bermain


“Hah? Dimana tuh?” tanya Daniel


“Di kamar sebelah ini, tadi aku sempat melewatinya, aku belum masuk ke dalam, tapi kalau di lihat dari sini, kayaknya Ranna senang sekali” Rita memesan beberapa makanan kecil untuk di kamarnya


“Selamat siang!” staf dapur datang membawa kereta makanan


“Siang! Taruh di situ saja mas, terima kasih!” ujar Rita


“Apaan tuh Yang?” tanya Daniel, ia masih mempelajari katalog mobil


“Cemilan yang, tadi aku minta dibuatkan beberapa makanan, eh sudah jadi” Rita mengambil kue-kue dan mendekatkan ke suaminya


“Nih, cobain deh!” ia menyuapi donat ke suaminya


“Donat apaan nih? enak banget”


“Ini donat kentang madu, dibuat pakai campuran kentang dan tepung, sedangkan gulanya diganti madu”


“Enak banget yang!” Daniel mengambil donat itu dari tangan istrinya dan memakannya sendiri, Rita mengambil kue yang lain


“Itu apaan?” dia melihat Rita menyantap kue lain


“Ini? Martabak coklat keju, mau coba?” ia menyuapi suaminya, lalu mengelap coklat dari pinggiran bibir suaminya


“Hahaha, enak kan?” ujarnya, Daniel menatap istrinya dengan sayang, lalu ia mencium bibirnya


“Muaaach! kamu tambah cantik!” pujinya


“terima kasih, tapi bukan aku yang buat ini semua!”


“Gak apa-apa, tapi kamu yang sudah membawa ku kesini!” ujar Daniel senang


“Aku senang kalau kamu senang!” ujar Rita sambil menyantap martabak manis lagi


“Tentu aku senang, kita sudah berenang, bersepeda, keliling-keliling, makan enak, tanpa bayar lagi siapa yang gak senang?” ujar Daniel


“Iya, coba ada suatu kejadian, kita jadi gak bisa kembali ke Singapura!”


“Hush! Ucapan adalah doa!, memangnya kamu mau di sini terus?”


“Iya!, tapi aku juga gak mau LDR-an sama kamu!” ujar Rita dengan suara manja


“Iya, aku juga. Memikirkan jauh dari kamu dan anak-anak saja aku sudah merinding”


“Kalau begitu pindah saja ke cabang sini?” ujar Rita


“Menurut Kakek, di Indonesia itu bukan cabang Dar.Co yang sebenarnya, ia bekerja sama dengan pengusaha di sini “


“Oh begitu, makanya yang di sini namanya bukan Dar.Co ya?”


“Iya, namanya Darmawan & Partner”


“Partnernya banyak?”


“Kayaknya iya”


“Kalau bikin kantor perwakilan Dar.co cabang Singapura di Indonesia gimana? Kan banyak tuh sekarang perusahaan seperti itu?” ujar Rita


“Bisa sih masalahnya nanti kantor perwakilan itu malah jadi saingan dengan Dar.Co Indonesia”


“oh begitu, benar-benar ribet ya?” kali ini Rita menyantap martabak telor


“tok..tok..”


“Ya? masuk mba!”


“Maaf bu, persediaan ASInya habis. Rafa kehausan, tadi kantong terakhir dihabiskan Ranna”


“Anak-anak bawa kemari saja Sus!”


“Baik mba!”


Rita bangkit lalu memompa ASI di ruangan lain, setelah beberapa menit, ia kembali. Rafa sudah berada di kamar mereka


“Hueeeee....” tangisnya


“Kemari nak!” Rita mengambil Rafa dan menyusuinya. Rafa menyusu dengan tenang. Tak berapa lama Ranna datang, ia melihat Rafa disusui


“Huaaa!!!” Iya menghampiri mamanya minta disusui


“Sini kemari!” Rita membuka ****nya yang satu lagi, akhirnya kedua anaknya disusuinya


“Papinya menyusu di mana nih?” canda Daniel


“Nanti, beberapa hari lagi!” jawab Rita tersenyum


Setelah beberapa menit, Ranna telah selesai menyusu, ia menghampiri papinya yang sedang membaca di tablet.


“Sini Nak, sudah kenyang ya? tadi main di mana?” tanya Daniel sambil memangku putrinya. Ranna tangannya menunjuk ke arah luar


“ooo,...kamu senang main di sini gak?” tanya Daniel lagi, Ranna melihat ke papinya lalu tersenyum


“Wah dia senang banget mi!” ujar Daniel tersenyum. Ia melihat Rita tertidur sambil menyusui Rafa. Daniel bangkit, dan mengambil bantal dari kamar tidur mereka, lalu meletakkan di belakang punggung Rita agar ia bisa tertidur dengan nyaman. Ia juga memindahkan Rafa yang terlelap dan meletakannya di kursi ayun.


“Kakak, jangan ganggu mami ya? main saja sama papi” bisik Daniel. Rita lelap tertidur, ia terlihat bahagia sekali.


Ucapan adalah doa, keinginan Rita dan Daniel terjawab. Mereka mendapatkan berita, bahwa Singapura ditutup selama belum diketahui untuk karantina. Saat ini telah tersebar virus yang menyerang sistem pernafasan, telah banyak korban berjatuhan. Rumah sakit dipenuhi para penderita sampai mereka membuat ruang darurat khusus di luar rumah sakit.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2