
Kabar duka datang ketika Rita, Daniel dan Andi tiba di Singapura pada di hari Rabu malam.
“Selamat Malam!” seorang polisi mengetuk pintu apartemen Daniel
“Malam! Ada yang bisa saya bantu?”
“Di sini kediaman keluarga Rita DS?” tanya polisi tersebut
“Iya betul, saya suaminya”
“Bisa kami bicara dengan ibu Rita?” tanya polisi tersebut
“Tunggu sebentar Pak!” Daniel memanggil Rita yang sedang mengganti popok Ranna
“Saya Rita, ada apa ya?” tanya Rita, ia memberikan Ranna ke Daniel
“Kami dari kepolisian, kami meminta Anda segera datang ke RS Silam segera”
“Ada apa pak?”
“nomor kontak dan alamat anda tertera pada salah satu korban kecelakaan mobil pagi ini” jawab salah satu polisi
“Hah? Astaghfirullah siapa pak?” tanya Rita kaget
“Mario?”
“Hah? Mario? Yang!!! Mario kecelakaan!” Rita berteriak kepada suaminya, dirinya panik
“Mario? Anda yakin pak?” tanya Daniel meyakinkan
“Agar lebih yakin Anda bisa datang ke rumah sakit tersebut. Oh iya bersamanya ada satu korban lagi, tapi sayang tidak tertolong”
“Siapa pak?” Daniel menahan nafasnya berharap nama seseorang tidak disebut
“Tuan Radian? Anda mengenalnya?” tanya polisi tersebut
Daniel terduduk lemas, Rita yang sedang bersiap untuk pergi kaget melihat suaminya terduduk lemas di lantai
“Kenapa Yang?” tanya nya heran
“Om Radian tewas!” ujarnya sambil memeluk istrinya, Daniel terdiam tidak percaya
“Untuk memastikan, Anda berdua bisa segera ke rumah sakit untuk mengidentifikasi korban!”
“Baik Pak, segera!” Daniel mengambil jaketnya, dan menggendong Ranna dengan gendongan, tak lama kemudian Andi yang dihubungi Rita segera bergabung dengan mereka.
Polisi mengantar mereka ke rumah sakit Silam yang letaknya cukup jauh dari apartemen mereka. Sesampainya di sana, mereka melihat Mario dalam kondisi koma, ia baru saja menjalani operasi
“Malam!” dokter dari ruang ICU mendekati mereka
“Malam dokter!, kami keluarga pasien yang bernama Mario!” ujar Andi
“Pak Mario baru saja menjalani operasi darurat, sekarang kami sedang menunggu apakah ia segera sadar atau tidak”
Sementara Daniel diminta ke kamar mayat untuk mengenali jenasah. Keadaan jenasah memilukan, selain kepalanya berdarah, tangan dan kakinya juga patah. Daniel melihat wajah kaku bersimbah darah di hadapannya, kemudian ia mengangguk, tak terasa air mata meleleh di pipinya. Ia menandatangani dokumen, kemudian menghubungi kakek Darmawan untuk mengabarkan keadaan Radian. Darmawan segera terbang ke Singapura malam itu juga dan menemui Daniel di rumah sakit.
“Sebenarnya apa yang terjadi Pak?” tanya Daniel pada polisi yang meminta keterangan darinya
“Mobil yang dikendarai pak Mario dan Radian ditabrak truk yang mengalami rem blong dari belakang. Pak Radian yang posisinya di belakang mengalami benturan paling keras, sedangkan Mario yang duduk di samping supir mengalami benturan di bagian kepala.” Terang polisi
“Bagaimana dengan supirnya?” tanya Daniel
“Itu sedang kami selidiki, karena ketika mobil diketemukan dalam keadaan hancur, hanya kedua orang tersebut yang ada dalam mobil, supir mobil mereka dan supir truk juga tidak diketemukan!”
“Bagaimana CCTV di sekitar kejadian pak?” tanya Daniel
“CCTV di daerah tersebut rusak sudah beberapa hari” jawab polisi
“Menurut Anda, apakah ini kecelakaan murni atau kah percobaan pembunuhan?” tanya Daniel
“Kami masih menyelidiki pak, kami harap keluarga korban mau bekerja sama dengan kami untuk mengungkapnya” ujar penyelidik polisi lagi
“Tentu pak! Apa pun kami akan mendukung penyelidikan!” ujar Daniel
Dari kamar jenasah, Daniel menemui Rita dan Andi di ruang tunggu rumah sakit. Rita menangis dan memeluk suaminya mendengar Radian meninggal, Ranna yang berada digendongan Andi juga turut menangis, ia merasakan kedukaan keluarganya. Setelah semua dokumen dilengkapi, jenazah Radian di bawa ke Auckland untuk dimakamkan. Acara pemakaman dilaksanakan sehari setelah jenazah tiba. Para kerabat, rekan bisnis serta para karyawan Dar,Co datang ke pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir. Darmawan memberikan pidato pelepasan sebelum jenasah masuk ke liang kubur.
“Aku tidak menyangka akan melepas mu seperti ini. Anak ku!,..beristirahatlah dengan tenang, terima kasih sudah menjaga ku selama ini” Darmawan meneteskan air mata kesedihan. Andi memeluknya erat. Upacara penguburan selesai, para pelayat meninggalkan pemakaman.
Di rumah besar Darmawan, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing setelah dari pemakaman untuk beristirahat. Rita menidurkan Ranna di ranjang mereka, sementara Daniel duduk di meja kerja membaca laporan penyelidikan kecelakaan Radian dan Mario. Ia membacanya berkali-kali. Rita menghampiri suaminya, dan mengecup kening nya
“Apa ada yang aneh?” tanyanya
“Tentu saja aneh!”
“Selain kedua supir tidak ditemukan?”
“Bukan itu saja, CCTV mereka keluar dari apartemen, kantor, dan jalan yang mereka lalui juga tidak ada, sepertinya mereka tiba-tiba berada di tempat itu” ujar Daniel
“Berarti satu-satunya saksi yang masih hidup tinggal Mario!” ujar Rita
“Kakek Darmawan sudah mengamankan Mario, ia berada di tempat khusus untuk memulihkan diri. Kita sendiri tidak boleh menemuinya” ujar Daniel
“Kamu akan ikut menyelidikinya Sayang?” tanya Rita
“Tentu Saja!, kalau tidak aku khawatir, Om Radian dan Mario bukan korban terakhir, ada lagi yang diincar, kakek, Andi, Aku atau Kamu!” ujar Daniel khawatir
“Bagaimana kamu akan memulai penyelidikan?”
“Tentu bukan aku yang turun tangan, aku meminta salah satu teman detektif ku.”
“Kenapa?”
“Untuk berjaga-jaga, kalau aku jadi pembunuh aku akan mengikuti gerak-gerik keluarga korban. Itu aku tidak mau. Untuk itu aku menyewa teman lama ku yang membuka jasa pengawalan dan detektif swasta untuk mencari tahu”
“Apa orang itu bisa dipercaya?”
“Aku mengenalnya sudah cukup lama, aku pikir dia berpengalaman dalam hal ini”
“Apa menurutmu ini terkait dengan pembagian warisan kakek?” tanya Rita
“Bisa juga, tapi aku lebih kepada merger cabang Singapura. Om Radian mengambil langkah hukum untuk mereka. Aku sudah mengungkapkan kepada polisi tentang hal ini, tapi tidak bisa dibuktikan keterlibatan mereka”
“Mereka yang kamu maksud?”
__ADS_1
“Jameson! Dia yang paling dirugikan atas merger ini, dan dia juga akan mengalami masalah hukum”
“Kamu harus hati-hati Yang!, ingat Aku yang sedang hamil dan Ranna yang masih kecil” ujar Rita khawatir
“Tentu saja! Aku akan melindungi kalian!” Daniel memeluk tubuh istrinya dengan sayang.
Mereka kembali ke Singapura beberapa hari kemudian, sedangkan Andi tetap di Auckland. Ia merasa lebih aman di sana.
Kantor Dar,Co masih dalam suasana berkabung, kepemimpinan Radian diambil alih langsung oleh kakek Darmawan begitu pula dengan proyek kerjasama Radian dengan Charles .
“Kami turut berduka atas meninggalnya pak Radian!” Ujar Charles Lucas
“Terima kasih Pak Charles!, mengenai proyek Radian. Aku akan mengambil alih sampai proyek tersebut selesai” ujar Darmawan to the point
“Baik Pak, bagi kami tidak ada masalah. Oh iya Aku minta maaf tidak datang ke pemakaman, istriku baru saja melahirkan putra pertama”
“Selamat Pak Charles!! Wah!! Ada penerus ya?” Darmawan tertawa senang
“Terima kasih, kami berniat mengundang para kolega kami, beberapa minggu ke depan, saya harap Anda dan keluarga bisa hadir!”
“Baik Pak Charles, terima kasih akan kami tunggu undangannya!” Darmawan menutup percakapan dengan Charles
Di kantor Daniel, ia menerima undangan pernikahan dan surat pengunduran diri salah satu staf nya
“Hmm...Erina bisa datang ke ruangan saya?” pinta Daniel, setelah membaca undangan dan surat pengunduran diri darinya.
“tok..tok..tok””
“Masuk Er! Biarkan pintunya tetap terbuka!” pinta Daniel
“Silakan duduk!” Daniel mempersilakan Erina untuk duduk di ruang tamu di ruangannya, ia memberikan secangkir teh untuknya
“Santai saja ya?” ujarnya, ia melihat Erina yang kelihatan tegang menghadapinya
“Baik Pak!” ujarnya sambil meminum tehnya
“Pertama-tama saya ucapkan selamat atas pernikahan mu, insya Allah kami datang!”
“Terima kasih pak!” Erina tersenyum senang
“Yang kedua, kamu yakin mengundurkan diri dari perusahaan ini? Kamu tahu kan setelah kamu keluar akan banyak yang menggantikan posisi mu dengan senang hati?” tanya Daniel
“Sebenarnya saya berat pak, apalagi di lantai ini suasana kerjanya paling nyaman, tetapi calon suami saya keberatan jika saya harus lembur. Ia bilang, rumah tangga tidak akan langgeng jika istri tidak ada di rumah ketika suami pulang”
“ooo, ada ya pepatah seperti itu?” tanya Daniel heran
“Suami saya berbeda 17 tahun pak dari saya, beliau sangat kuno. Dia ingin ketika pulang ke rumah istrinya selalu ada di rumah” ujar Erina menerangkan
Daniel mengangguk, ia mengerti karena ia juga merasakan hal yang sama jika pulang dari kantor Rita tidak di rumah.
“begini Er, aku tidak akan menahan mu di sini, tetapi saya punya penawaran untuk mu.”
“Penawaran apa pak?” mata Erina berbinar-binar
“Bu Rita, istri saya sedang mencari manajer untuk D’Ritz. Selama ini manajerial dia pegang sendiri, alhasil dia kerepotan apalagi sebentar lagi Ranna akan punya adik”
“Oh ya? selamat ya pak!”
“terima kasih, jadi maksud saya kalau kamu berminat untuk posisi itu, silakan buat perjanjian dengan istri saya untuk interview. Tidak buru-buru sih, tetapi makin cepat makin baik. Karena sejak kemarin dia meneror saya terus untuk mencarikan orang yang tepat untuk nya” ujar Daniel
“Kamu bisa mendiskusikan jam kerja dengan beliau, istri ku itu hanya tampak luarnya saja galak, tetapi hatinya sangat baik”
“Menurut saya bu Rita cantik dan ramah pak!, saya tidak melihat kalau beliau galak”
“Hahahaha...berarti sama saya saja ya?, baiklah Erina sampai bertemu di pernikahan mu ya!” Daniel menyalami Erina
“Terima kasih banyak Pak!” Erina meninggalkan ruangan Daniel dengan lega, ia tidak menyangka akan mendapat tawaran kerja dari bosnya yang ia kagumi.
“Eddy, bisa ke ruangan saya sebentar?” panggil Daniel melalui interkom
“Saya pak?” Eddy datang ke ruangan Daniel
“Ed! Erina mengundurkan diri. Ia tidak akan bekerja lagi di sini bulan depan”
“Bulan depan berarti mulai hari Senin depan dong Pak?”
“Iya, betul!”
“Apa perlu saya mencari gantinya pak?”
“Gak usah! Kamu saja Ed. Sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkan asisten, kemarin aku lakukan karena aku perlu merangkul pegawai dari departemen lain tapi sekarang kalian sudah menjadi tim yang kompak jadi sudah tidak perlu lagi. Yang diperlukan sekarang manajer yang mengarahkan para staf, dan itu adalah kamu Ed!” Daniel memegang bahu Eddy
“Baik Pak! Kapan tugas saya dimulai?”
“Ya setelah Erina tidak ada, kalian serah terima tugas ya? aku meminta dokumen yang ia kerjakan selama ini!”
“Baik pak!”
“Eddy!”
“Ya Pak?”
“Kamu sudah mendengar desas-desus tentang cabang ini?”
“Sudah pak!, tetapi issue itu berhenti sejak pak Radian wafat”
“Memang!, big bos sedang mempertimbangkan menggabungkan Singapura 1 dengan Singapura 2, kemungkinan kita yang bergabung dengan mereka!”
“Lho kok? Kenapa Pak? Bukan kah dari segi performa kerja Singapura 2 lebih unggul dari pada 1?” tanya Eddy heran
“Performa Singapura 2 memang terbaik, tapi juga terkorup. Pak Radian menemukan beberapa penyimpangan proyek di sini. Mungkin itu alasan beliau disingkirkan” ujar Daniel
“Maaf pak Daniel,boleh saya menanyakan sesuatu?”
“Iya silakan Ed!”
“Kenapa pak Daniel tidak mengajukan diri saja sebagai kepala perwakilan Singapura 2? Menurut saya pak Daniel lebih baik dari pada pak Davies dalam memimpin” tanya Eddy
“Aku orang baru di sini Ed, banyak yang belum aku kuasai di bidang ini. Seperti kata pepatah ‘ jangan memberikan sesuatu pekerjaan pada yang bukan ahlinya’ nah saya belum ahli jadi saya tidak punya kepercayaan diri untuk itu”
“Tapi seperti pak Daniel pernah bilang, keahlian diperoleh sebagian besar karena terjun langsung mengatasi masalah, trial-error, dan saya lihat berkali-kali kita mengalami krisis dan pak Daniel berhasil mengatasi dengan baik!”
“Terima kasih Eddy atas pujiannya, saya pikir semua akan ada saatnya! Sudah hampir 4.30, kamu siap-siap untuk pulang, aku juga!” Eddy keluar dari ruangan, Daniel mematikan semua alat elektronik di ruangannya setelah mengecek semuanya ia keluar ruangannya tepat pukul 4.30 sore.
__ADS_1
“Sampai jumpa besok teman-teman!” Daniel segera masuk ke dalam lift
“Sampai jumpa Pak!” para karyawan masih rapi-rapi di tempat kerja mereka
Sesampainya di apartemen
“Assalammu’alaikum!” Daniel membuka pintu apartemen, ia melihat Ranna yang di letakan di baby walker
“Haii...siapa ini yang menyambut papi?” Daniel tersenyum mengangkat Ranna yang kegirangan melihat Daniel datang
“wa’alaikummussalam!” Rita menghampiri dan mengambil jas serta tasnya, Daniel mengecup kening istrinya
“Kamu gak capek kan?” tanya Daniel
“Enggak kenapa?”
“Kita makan di luar yuk! Kamu belum masak kan?” tanya Daniel
“Sebenarnya aku tinggal menghangatkan saja”
“Kalau begitu kita makan di luar, aku mandi dulu ya?” Daniel memberikan Ranna ke Rita, ia segera ke kamar mandi sementara Rita mengganti pakaian Ranna untuk pergi dan mempersiapkan perlengkapan untuknya kemudian ia berganti pakaian. Beberapa menit kemudian pasangan itu telah rapi dan meninggalkan apartemen bersama bayi mereka. Daniel memilih restauran keluarga yang cukup terkenal di sana.
“Makan di sini harus reservasi seminggu sebelumnya, kamu sudah merencanakannya?” tanya Rita heran
“Iya!, kebetulan pemilik tempat ini teman ku di gym, dia memberikan ku free pass, artinya gak perlu reservasi aku bisa datang kapan saja!”
“Wow Ranna, papi mu hebat sekali!” puji Rita
“Tentu! Sesekali aku ingin kita makan sebagai keluarga!” ujar Daniel
“Kamu jangan melakukan sesuatu yang jarang, aku takut terjadi sesuatu pada mu!” ujar Rita sambil menyuapi Ranna
“Maksud mu?” tanya Daniel heran
“Iya, ada beberapa orang melakukan hal-hal yang jarang untuk keluarganya, eh tahu-tahu terjadi sesuatu yang buruk padanya”
“ah kamu! Jangan percaya yang seperti itu!, takdir orang tidak ditentukan dengan yang seperti itu!” ujar Daniel sambil melahap steak nya, dan menyuapi istrinya.
“Hmm...steak ini enak!” puji Rita
“Daniel?” tiba-tiba seseorang menyapanya
“eh? Aldy? Apa kabar?” Daniel terlihat sangat senang bertemu lagi dengan teman satu gym nya
“Baikk!!! Wah makin segar saja!”
“Oh, kenal kan ini Rita istri ku! Dan ini Ranna bayi 6 bulan kami!”
“Aldy!! Akhirnya bisa bertemu nyonya Daniel!” ujar Aldy tersenyum
“Eh?” Rita heran
“Pak Daniel selalu menceritakan istrinya yang cantik, aku pikir dia cuma omong kosong, ternyata benar!” ujar Aldy tertawa
“Ah..terima kasih! Pak Daniel ini terkadang terlalu sering memuji!” Rita tersipu malu
“Eh Al mau bergabung dengan kami?” tanya Daniel
“Aku baru saja hendak pergi, tadi anak ketiga ke meninggalkan tumbler kesayangannya di arena bermain di sini, jadi mama nya memintaku mengambilnya!”
“hahaha...papa yang baik, kapan mulai nge-gym lagi?”
“Nantilah! Istriku baru saja melahirkan anak kami yang keempat, aku sibuk dengan bayi ku!”
“Wow! Selamat ya!” Daniel tertawa senang
“Baiklah, sampai ketemu lagi Daniel! Rita!” Aldy pergi meninggalkan mereka
“Wahh...anaknya sudah empat sekarang!” Daniel melahap steak nya
“hmm..kamu sudah banyak teman ya di sini?” tanya Rita
“Aku? Tentu saja! Aku kan social butterfly!” ujar Daniel sambil menyuapi potongan steak ke mulut istrinya.
“Yang aku masih lapar, aku ingin burger!” Rita menunjuk burger ukuran besar
“Baiklah! Laksanakan nyonya!” Daniel segera ke kasir dan memesan burger yang diminta Rita
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang, Daniel juga membeli untuk ia bawa pulang.
“Itu apa?” tanya Rita
“Ini? Steak dan burger! Aku takut masih menginginkannya jika pulang nanti”
“Jangan-jangan kamu lagi ngidam ya?” tanya Rita
“Ngidam? Apa itu?”
“Ngidam itu, keinginan yang tidak tertahankan! Biasanya ada pada orang hamil orang bilang keinginan bayi.”
“oh ya?”
“sejak kapan kamu ingin makan steak ini?” tanya Rita
“Sejaak?? Aku lihat iklannya di TV, tiap pulang kantor aku melewati restaurant ini, aku ingin mengajak kalian makan di sini. Eh Alhamdulillah kesampaian!”
“Iya betul Yang! Kamu ngidam! Selamat ya!, akhirnya keinginan bayi ini terpenuhi kelak ia lahir tidak akan ngiler”
“Masa? Waktu Ranna kamu ngidam?”
“Ngidam dong!, kamu ingat gak malam-malam aku minta dibelikan kebab turki?”
“ohh iya!! Oh itu namanya ngidam..apa ada istilah medisnya?”
“Gak ada! Ada yang bilang itu mitos saja, tapi aku pernah dengar temanku bilang bayi saudaranya ileran terus, ternyata ketika bayi ayahnya tidak memenuhi keinginan mamanya. Jadi dia ngiler terus!”
“Ada-ada saja ya? kalau aku, selama ngidamnya tidak menyusahkan, insya Allah aku penuhi!”
“Aamiin!!”
Selesai makan mereka jalan-jalan sebentar di sekitar restaurant, kemudian kembali ke apartemen mereka, sesampainya di sana alangkah kagetnya
“Yang! Apartemen kita dibobol orang!” teriak Rita yang masuk lebih dulu ke apartemennya
__ADS_1
_bersambung_