Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 188: godaan itu bernama Rita (2)


__ADS_3

“Oeeee...” tangisan Ranna menghentikan Rita mengingat tentang masa itu, ia segera menghampiri Ranna dan menggendongnya


“Tadi Ranna kenapa sih?” tanya Daniel penasaran


“Seperti yang kamu bilang, Ranna itu bayi cerdas sepertinya ia merespon ucapanmu! Dia ngajak kamu main eh papinya malah ketakutan!” Rita menggendong dengan memeluk Ranna di dadanya


“Hah? Beneran?” Daniel tidak percaya


“Bener dong, buktinya begitu dia kamu serahkan ke aku, dia langsung diam bingung dia!” Rita tersenyum


“Coba sini!” Daniel mengambil Ranna dari Rita


“ehhh...hhhh...hhhh” Ranna merespon,ia kelihatan senang


“Tuuuhkaan!!” ujar Rita, Daniel meletakan Ranna di ranjang mereka, sementara Rita meneruskan makan.


“Ranna! Ini papi! Tadi maafkan ya??” Daniel mendekatkan tubuhnya ke bayi 1 bulan itu


“hhhh..hh...aaauuuuu” Respon Ranna


“Iya? Kamu juga mau main sama papa?”


“eeee...eee...eee”


“Anak baik!!!” Daniel terus mengajak Ranna bercakap-cakap, sementara Rita membereskan bekas makan mereka.


“Yang kamu gak sholat Isya?” tanya Rita melihat jam dinding


“Malam ini aku sholat di sini saja! Sepertinya di luar hujan”


“Masa?” Rita berjalan keluar balkon mereka


“Ah iya hujan!, Aku baru melihat pemandangan di luar apartemen kita saat malam, lampu-lampu dari apartemen, pohon, langit, hujan rintik-rintik bikin suasana jadi romantis. Bener gak Yang?” tanya Rita. Cukup lama Rita diam di balkon, hujan mulai turun deras ia segera masuk ke dalam dan menguncinya rapat


“Yang, Aku...” Rita menghentikan ucapannya, ia melihat suaminya telah lelap tertidur dengan Ranna dipelukannya. Perlahan Rita memindahkan Ranna dari tangan suaminya


“Ranna biarkan papi istirahat ya?” bisik Rita,


“hhh..uuuu....eee”Ranna akhirnya terbangun, Rita meletakannya di boks bayi di sisi tempat tidurnya kemudian ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian.


“eh..sudah bersih!” gumamnya, kemudian ia segera mandi wajib setelah selesai ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya


“Astaghfirullah!!” Ia sangat kaget melihat suaminya sudah berada di hadapannya


“Eh kamu mau wudhu ya?” tanya Rita, baru kali ini ia melihat tatapan mata Daniel yang aneh


“Rita, maafkan aku ya?” Daniel langsung memeluk Rita dan menciumi tubuhnya. Ia membawanya ke ranjang mereka.


“Eh..eh..” Rita kewalahan dengan serangan Daniel yang tiba-tiba


“Aku sudah tidak tahan lagi!” ujarnya, ia mencium bibir Rita dengan panas. Akhirnya mereka bercinta.


“Ahh...akhirnya buka puasa juga!” ujar Daniel selesai berhubungan, ia kelihatan lelah tapi juga merasa lega sementara Rita diam saja di sampingnya.


“Kamu kenapa Rit?” tanya Daniel melihat ekspresi aneh dari wajah istrinya


“Ah..engga??” Rita menutupi tubuhnya dengan selimut, Daniel mendekatinya dan memeluknya dari belakang


“Aku kangen sekali” bisiknya ke telinga Rita dan mencium pundaknya. Rita menghadapkan tubuhnya berhadapan dengan suaminya, ia menatap wajah suaminya dan memegang pipinya lalu ia mencium bibir suaminya. Mereka berciuman dengan panas, kali ini Daniel yang kewalahan dengan reaksi Rita akhirnya mereka bercinta untuk kedua kalinya.


“ha,..ha...ha...” keduanya ngos-ngosan setelah ronde kedua


“Ternyata kamu kangen juga ya?” ujar Daniel sambil memiringkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dan tubuh istrinya dengan selimut


“Iya, aku juga merasakan feel aneh ketika tadi kita berciuman di kamar Ranna”


“Oh ya? coba tadi diterusin ya?” ujar Daniel


“Diterusin?”


“Iya, jadi aku gak usah repot-repot keluar rumah untuk lari sore!” ujar Daniel


“Tadi aku belum yakin sudah bersih”


“Sekarang?” tanya Daniel, ia kelihatan khawatir


“Sepertinya aku salah hitung, masa nifas 40 hari itu minimal, ada yang lebih. Tadi seingatku di kartu berobat Ranna tertulis 41 hari, mungkin jamnya ngaruh ya?” tanya Rita


“Aku gak peduli! Yang penting aku mendapatkan istriku lagi” ujar Daniel, ia mencium istrinya


Lagi


“Sebenarnya kalau hanya berpelukan dan bercumbu gak apa-apa lho” ujar Rita lagi


“iya sih tapi aku takut kebablasan. Karena kamu itu betul-betul godaan yang sulit!”


“Apalagi kita mau LDR-an! Puasa 40 hari saja kamu sudah nyerah begitu!” ledek Rita


“Kalau LDR tidak sulit karena aku gak perlu melihat kamu wara-wiri di depanku. Nah selama ini kamu wara-wiri, lalu breast feeding Ranna, makin terlihat sexy. Betul-betul tersiksa!”


“Aku jadi khawatir, bagaimana kalau ada perempuan lain yang berpakaian sexy di depanmu, sementara aku sedang tidak bisa?”


“hmm...sepertinya tubuh dan inderaku hanya bereaksi sama kamu!” ujar Daniel merayu


“Gak mungkin ah! Mana ada yang begitu!” Rita tidak percaya


“Aku cerita ya? tapi kamu jangan marah!”


“Baik!”


“Sehari setelah kita kondangan, aku mencarimu di kantor ternyata kamu pergi ke ruang HRD dan aku ditugaskan ke Jepang oleh pak Radian.”


“Om Radian!”


“Iya, sekarang Om, dulu kan masih Pak!”


“Oke lanjut!”


“Di Jepang, klien mengajakku ke tempat karaoke, selain menyuguhkan miras juga cewek-cewek sexy dan cantik”


“Kamu senang dong?” goda Rita, Daniel menggeleng


“Aku malah mengingat wajahmu dengan pakaian merah yang terbuka di pundak. Aku mengingat kamu mengeluarkan permen dari belahan dadamu, aku jadi senyum-senyum sendiri”


“Oh..yang memalukan itu?” wajah Rita memerah menahan malu


“Klien bilang aku boleh memilih gadis mana saja untuk menemaniku dan itu gratis. Gadis-gadis itu masih muda lho! Dan dilihat dari penampilan mereka sepertinya PSK berkelas”


“Kamu setuju?”


“Tidak! Aku menolaknya, padahal aku belum mualaf lho! Aku memang minum sedikit tapi menyentuh cewek yang bukan pacarku, aku gak mau!”


“Jadi kalau kamu pacaran pasti menyentuh cewekmu ya?” sindir Rita


“Pastilah aku sentuh, memegang, memeluk, mencium itu sentuhan kan?”


“Iya sih! Dengan pacarmu sebelumnya kamu melakukan itu?” tanya Rita


“Pacar? Sejak Saveetri menolakku, aku patah hati. Aku gak tertarik dengan perempuan lain!”


“Kamu tahu Saveetri sudah menikah?” tanya Rita, Daniel menggeleng


“Aku langsung menerima tugas di cabang Auckland, sementara Saveetri tetap di Dubai”


“Kamu sengaja menjauhinya?”


“Tentu dong! Buatku kalau sudah ditolak artinya game over!”


“Kamu mudah menyerah dong?”


“Mungkin saat itu perasaanku ke Saveetri juga tidak begitu dalam. Aku sering memikirkan ucapannya ketika menolakku”


“Oh ya? dia bilang apa?”


“Suatu saat nanti ada seorang gadis yang lebih pantas untuk mu dan mencintaimu dengan cinta yang sama denganmu!”


“Dia bilang begitu?” Rita setengah tidak percaya, Daniel mengangguk


“Pisican sekali ya? Dan kamu percaya itu?”


“Menurutku itu kata-kata penyemangat! Walaupun ia telah mengecewakanku tapi sulit untuk membencinya karena kata-katanya itu membawaku ke cinta sejatiku!” Daniel mencium bibir istrinya


“Kalau kamu bagaimana? Setelah Tommy meninggal apa ada yang mengisi hatimu?” tanya Daniel


“hmm...aku tidak terlalu memikirkannya karena setelah Tommy meninggal banyak yang terjadi dalam hidupku sampai akhirnya aku terdampar di Auckland dan bertemu denganmu!”


“Bagaimana dengan Dewa? Menurut cerita dia yang menyelamatkanmu di hutan?”


“Iya! Aku sangat berterimakasih padanya. Jujur ya, Aku mempertimbangkan kalian berdua!”


“Oh ya? Jadi feelingku benar! Dewa itu saingan terberatku!” ujar Daniel, wajahnya terlihat puas karena berhasil memenangkan Rita


“Kamu merasa Dewa saingan terberat? Bukan Rendy atau Kiano?” tanya Rita

__ADS_1


“Atau O!” sambung Daniel


“O? Mario? Kamu cemburu sama Mario?”


“Bagaimana tidak, sehari setelah menikah kamu menghimbau semua orang untuk menganggapnya sebagai laki-laki! Itu artinya sainganku! Bahkan kalau Andi masih setengah darah denganmu aku akan cemburu padanya!”


“Setengah darah?”


“Maksudku, satu ibu lain ayah! Tetapi kalian betul-betul saudara kandung. Walau kadang aku melihat Andi terlalu berlebihan padamu!”


“Hahaha...kak Andi..ia memang terlalu ekspresif. Dia pernah marah padaku seminggu lamanya dan itu terjadi saat kami liburan pertama kali di Bali!”


“Kenapa dia marah?”


“Saat itu, mama mengenalkan teman dekatnya bahkan kami menginap di hotel miliknya. Kak Andi sangat marah karena sepertinya aku merestui hubungan mama dan temannya itu!”


“Oh ya? kamu memang merestui mereka?”


“Aku netral sih, Dewa bilang sebentar lagi aku kuliah, kost dan akan tinggal terpisah dari mama, kalau mama ada temannya maka ia tidak akan kesepian jadi aku pikir ide mama menikah lagi bukan hal yang buruk bukan?”


“Jadi kamu mendengarkan perkataan Dewa?” sindir Daniel


“Saat itu hanya ada dia di sampingku!”


“hmm...kalau dia terus bersamamu kalian pasti sudah menikah!”


“Belum tentu!”


“Maksudku kelak menikah!gak menikah muda seperti kita!”


“Iya! Belum tentu!”


“Kenapa? Kamu gak yakin padanya?”


“Kak Dewa itu baik sama siapa saja, terlalu ramah. Sulit untuk memprediksi hatinya. Aku tahu dia menyukaiku tapi..dia tidak membuatku nyaman! Aku percaya feelingku lho!”


“Kalau Aku?”


“Masa perlu aku omongin lagi?”


“Tentu dong!, jujur saja aku selalu merasa bersalah mengajakmu menikah! Ini gara-gara kebaya biru itu!” ujar Daniel


“Kebaya biru?” Rita heran


“Bukankah aku pakai kebaya hijau di resepsi London?” tanya Rita lagi


“Iya, tapi kamu sangatt...wah!!! dengan kebaya biru itu! Berkali-kali aku mencuci wajahku yang memerah di toilet. Rasanya ingin menyobek pakaianmu dan mengajakmu tidur!”


“Ooo itu sebabnya? Berarti kalau aku gak pakai kebaya biru, kamu gak akan melamarku?”


“Enggak juga! Aku memang berniat menikahi mu, kan aku sudah membawa dokumennya!”


“Tapi tadi katanya kebaya biru...”


“Itu yang mendorongku mempercepat terjadinya ijab kabul!”


“ooo begitu! Aneh juga ya? jodohku karena kebaya biru!”


“Jadi bagaimana dengan Aku tadi?” tanya Daniel


“Apanya?”


“Iya yang membuatmu setuju menikah denganku?”


“Kamu tampan, baik, memperlakukanku layaknya ratu, kamu bahkan melindungiku beberapa kali padahal kamu tahu aku memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Yang paling penting kamu sudah seiman denganku!”


“memangnya Dewa tidak melindungimu? Kan dia yang menyelamatkanmu?”


“Aku juga sering menyelamatkannya! Dari Robby, dari preman, jadi anggap saja sudah terbalas!”


“Jadi balas-balasan begitu ya?”


“Bukan, maksudku aku gak berhutang budi padanya. Aku gak perlu merasa bersalah karena menikah dengan orang lain!”


“ooh begitu! Aku agak lega sekarang. Jadi kita menikah karena sama-sama mau ya?”


“Iyaa dong Sayang!!! Memangnya kamu bisa memaksaku? Kakekku yang mantan mafia saja gak berani!”


“Tentu dong aku bisa memaksamu!” Daniel mendekati Rita lagi, mereka bercinta lagi untuk ronde ketiga.


Waktu menunjukkan pukul 3 dinihari, Daniel tersadar dari tidurnya, aktivitas bercinta tiga ronde melelahkan. Seperti biasa ia mandi junub dan melaksanakan sholat Isya disambung dengan tahajud, lalu ia memasang alarm untuk membangunkannya sholat subuh.


Keesokkan paginya, ia berangkat ke kantor dengan hati riang. Rita melihat ekspresi bahagia di wajah suaminya. Sebelum berangkat ia menyempatkan diri menggendong Ranna.


“Aku berangkat ya?”Dia mencium Rita di bibirnya, cukup lama mereka berciuman.


“Oke, nanti kamu terlambat!” Rita mengingatkan, Daniel segera meninggalkan apartemen sebelum birahinya memuncak lagi.


Rita kembali melakukan Yoga sambil membawa Ranna, sepulang dari gym ia mampir ke mall. Ia tertarik dengan gendongan bayi yang diletakkan di depan setelah mencobanya ia pun membelinya. Ia mampir ke rumah sakit untuk menemui ayahnya.


“Halo Ranna!!! Lama tak jumpa!” sapa Reza, ia mengambil Ranna dari strollernya


“Ayah!”


“Apa?”


“Rita membeli gendongan bayi yang seperti ini, kira-kira aman gak untuk Ranna?” Rita menunjukkan belanjaannya


“hmm...itu yang sedang trend!, Ranna hampir 2 bulan kan? Aman kok! Asal kamu perhatikan jangan sampai terlalu ketat sampai ia sulit bernafas atau lehernya tertekan!”


“Aku coba ya yah?”


Rita mencoba gendongan dibantu ayahnya


“Nah..gimana yah? Ranna terlihat nyaman gak?”


Tangan dan kaki Ranna bergerak-gerak kegirangan. Ia merasa senang melihat sekelilingnya


“Tuh Ranna senang!” ujar Reza


“Yah, aku membeli laksa tadi, kita makan bersama ya?” Rita mengambil mangkuk di pantry, mereka makan bersama, selesai makan


“Ayah, hari Sabtu ini ada acara?” tanya Rita


“Enggak ada!”


“Aku mau titip Ranna sebentar ada acara di kantor Daniel dan mereka memesan kue-kue dari tokoku. Aku akan repot membawa Ranna ke sana!”


“Tentu saja bisa dong! Untuk Ranna, Aki pasti bisa!”


“Aki? Bukan kakek?”


“Aki saja, Cuma tiga huruf! Hehehe” Reza mengambil Ranna dari gendongan Rita


“Alhamdulillah!” setelah mampir ke ayahnya, Rita kembali ke tokonya


Ia sibuk memeriksa penjualan hari itu.


“tok...tok...tok!” Ismael mengetuk pintu


“Masuk!”


“Bu, tadi ada tamu yang menanyakan ibu!”


“Tamu? Siapa?”


“Dia membeli banyak roti bu, matanya berkeliling seperti mencari sesuatu. Ervan yang bertugas di kasir menanyakan. Dia bilang pemilik toko ada? Lalu ia jawab belum datang , setelah membayar ia pun segera pergi!”


“Kalian gak nanya namanya?”


“Sudah bu, tapi dia gak jawab!”


“Jam berapa itu?”


“Sekitar jam 11!”


Rita melihat rekaman CCTV dari laptopnya


“Jam 11, ini bukan?”


“Iya bu betul!”


“Hmm...kalau gak salah namanya Jameson!” gumam Rita


“Ibu kenal dengannya?”


“Pernah dikenalkan sepertinya ia teman suamiku! Lain kali walaupun aku ada, bilang saja aku gak ada ya? alasannya terserah kamu. Kalau dia memesan, catat saja dan ingat pembayaran tetap 100% kamu mengerti kan?”


“Mengerti bu!” Ismael meninggalkan ruangan Rita


Sambil menggendong Ranna yang menangis, Rita berpikir


“Ngapain dia kesini?” gumamnya

__ADS_1


“oeee...”Ranna menangis


“Kamu juga merasa aneh ya nak? Kamu gak suka sama dia ya? sama mami juga enggak!” Rita memeluk Ranna hingga ia berhenti menangis.


Sore harinya mereka pulang ke apartemen, di tengah perjalanan, Jameson menegurnya


“Bu Daniel!” panggilnya


“Ya?”Rita menoleh, ia menggendong Ranna dengan gendongan baru


“Maaf masih ingat saya?”


“Hmm...siapa ya?” Rita berpura-pura tidak mengenalnya


“Saya Jameson, kita bertemu 2x, di pasar dan di kantor Dar,co”


Rita berakting, berpura-pura mengingat


“Oh iya! Pak Jameson!” ia pura-pura mengingat


“Maaf bisa kita bicara?” ajak Jameson


“Bicara? Aduh maaf pak! Sebentar lagi suamiku datang. Aku belum menyiapkan merapikan rumah dan menyiapkan makan malam untuk suamiku.” Rita menolaknya dengan halus


“Tapi..ini menyangkut pak Daniel!” Jameson beralasan


“Maaf pak Jameson, kalau saya kurang sopan. Saya baru mengenal Anda, kalau urusan Anda dengan suami saya, silakan selesaikan dengan beliau saya tidak pernah ikut campur masalah suami saya!” ujar Rita dengan halus tapi menyiratkan ketegasan


“Tapi saya penggemar roti Anda!”


“Terima kasih Pak!, Silakan datang ke toko saya!”


“Oeeee!!!” Ranna menangis, Rita sengaja mencubit kakinya pelan


“Maaf pak Jameson anak saya rewel karena habis divaksin, saya permisi dulu!” Rita langsung pergi meninggalkan Jameson yang terdiam melihat Rita meninggalkannya.


“Alasan yang bagus! Bikin aku makin penasaran saja!” ia terus melihat Rita yang semakin jauh meninggalkannya


“Ranna maafkan mami tadi mencubit mu ya? Mami gak suka sama orang itu!” Rita mencium kepala anaknya


Malam harinya, setelah sholat Isya dan makan malam, Daniel bermain dengan Ranna sementara Rita menyiapkan bahan untuk sarapan esok pagi


“Yang, tadi sore aku bertemu Jameson di jalan”


“Oh ya? ngapain dia?”


“Entahlah, tiba-tiba dia mau mengajakku berbicara, tentu aku tolak! Aku bahkan tidak mengenalnya”


“Lalu?”


“Ranna aku jadikan alasan supaya pergi darinya!”


“Ngapain dia mau ngomong sama kamu?”


“Itulah!! Kan Aneh! Dia bilang penggemar rotiku! Ya Aku bilang, kalau suka rotiku datang saja ke toko dan beli banyak! Kalau mau ngomongin suamiku ya, ngomong langsung sama dia! Aku gak ada urusan!” ujar Rita bercerita dengan nada ketus


“Kamu bilang ke dia dengan nada begitu?


“Tentu dong! Aku harus tegas jika berhadapan dengan lelaki yang ingin iseng dengan mahmud!”


“Mahmud?”


“Mamah muda maksudnya!”


“Ngapain ya dia mau ngomong sama kamu?” Daniel heran, ia mengembalikan Ranna ke tempat tidurnya


“Eh Yang!, hari Sabtu ini kamu ada acara?” tanya Rita


“Enggak ada! Kenapa?”


“Kita kencan yuk! Aku kangen jalan berdua saja dengan mu!”


“Ranna bagaimana?”


“Aku titip ke Ayah! Aku bilang ada acara di kantor Daniel, dengan pesanan yang banyak”


“Kamu boong ya?” Daniel mencubit pipi istrinya gemas


“Soal acara aku boong, tapi ada pesanan dari kantormu sampai 300 pcs itu betul. Tapi aku gak perlu datang, itu urusan Ismael! Jadi bagaimana? Bisa kita kencan?”


“Tentu dong! Kamu mau kemana?”


“Kamu dong yang pikirin tujuannya, kamu kan pintar jadi guide wisata!”


“Baiklah! Besok di kantor aku akan merencanakan! Btw bu bos?”


“ya?”


“Hari ini bisa?”


“Bisa apa?”


Daniel memeluk istrinya dengan sayang, akhirnya mereka bercinta lagi.


Keesokan paginya


“Huek..huek..!” Daniel merasa kurang sehat sehat berkali-kali dia ke kamar mandi untuk muntah


“Kamu kenapa Yang? Masuk angin?” tanya Rita


“Gak tahu!, perutku gak enak!”


Rita membuatkannya jahe merah, Daniel meminumnya kemudian memuntahkannya lagi


“Wah serius nih!” Rita segera menelpon ayahnya untuk perjanjian berobat


Di ruangan dr.Reza


“Hasil tes kamu normal semua niel! Tidak ada masalah!” dr.Reza membaca hasil Lab


“tapi badanku gak enak Yah, rasanya mau muntah terus. Bahkan aku pusing mencium bau parfum mobil!” ujar Daniel


Dr.Reza memanggil suster


“Sus! Tolong periksa darah ibu ini ya!”


“Eh kok aku yah?” tanya Rita bingung


“Tunggu saja! Kalian keluar dulu ya nanti balik lagi setelah ada hasilnya!”


“Baiklah, lagi banyak pasien ya yah?” tanya Rita


“Iya, Alhamdulillah! Tadinya ayah sempat khawatir karena beberapa minggu di sini selain kamu gak ada pasien lain. Eh akhirnya..” wajah Reza terlihat lega


Daniel, Rita dan Ranna meninggalkan ruang dokter. Daniel tidak masuk kantor hari itu.


“Pak Daniel lagi sakit ya?” tanya salah satu staf


“Iya, katanya muntah-muntah dari pagi” jawab Eddy


“keracunan makanan kali!” sambung staf lainnya


“hush! Gak mungkin lah, pak Daniel itu pemakan yang hati-hati gak sembarangan dia makan!” ujar Eddy


“Yah...vitamin mata kita gak ada!” keluh salah satu staf perempuan


“Pak Eddy gak dianggap vitamin?” tanya Erina


“Hahaha...pak Eddy jadi obat saja ya Pak!” celoteh staf cewek yang lain,


“Hahahaha!!” mereka yang mendengar tertawa geli


Sementara di ruang dokter, hasil lab Rita sudah keluar


“Jadi gimana yah?” tanya Daniel gak sabar


“Betul dugaan ayah! Rita kamu lagi hamil!”


“Hah? Hamil lagi?” Rita kaget


“Jadi yang Daniel rasakan itu, seperti sugesti kehamilan. Biasanya si ibu yang merasakan nah sekarang si ayah!” ujar dr. Reza


“Bahaya gak Yah?” tanya Daniel khawatir


“Ya enggak! Itu artinya kamu bersedia menggantikan istrimu”


“Tapi nanti Rita juga seperti itu gak yah?”


“Kalau kamu pasti! Karena itu kan hormon! Jadi selamat ya Ranna!! Kamu mau punya adik lagi!” Ujar Reza sambil menggendong cucunya


“Yah, kehamilan Rita ini berapa minggu?” tanya Daniel


“Hmm..kayaknya masih baru! Kalian jangan berhubungan dulu! Ya Niel!” ujar Reza mengingatkan

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2