Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 231: Kisah Cinta Rita dan Daniel -bu Sharon


__ADS_3

"Rit, dimana lo” tanya Andi melalui telpon


“Di playzone kak!” Rita menjawab telepon sambil menembakkan pistol ke layar


“Playzone di mall?”


“Iya!”, Andi menutup ponselnya, beberapa menit kemudian ia sudah di Playzone.


“Ngapain lo disini?” tanya Andi melihat adiknya yang masih menembak para zombie dipermainan


“Lagi bunuh zombie kak!”


“Gak kerja? Tadi dicariin Om Radian”


“Enggak, males. Aku bayar denda saja sama kakek!” Rita berpindah permainan


“Denda? Memangnya lo harus bayar berapa lagi?”


“Dua ribu lima ratus dolar, aku punya kok ditabungan. Tante Metha memberikan lima ribu dolar sebelum ia ke Swiss”


“Wuihh...banyak tuh”


“Iya, kerja diusia kayak gini ide yang bodoh” Rita memilih game mengukur pukulan


“buak!” Rita memukulnya sekuat tenaga


Teng-teng-teng!


“Score 985!” mesin pengukur menunjukkan pukulan keras Rita, Andi bergidik melihat score yang dicetak Rita


“Lo kenapa Rit?”


“Gak kenapa-kenapa!” Kali ini Rita mengambil permainan memukul tikus, dan ia juga mencetak score yang tinggi


Kira-kira satu jam Andi menemani Rita berkeliling mencoba mainan yang semuanya dipukul. Rita mengumpulkan cukup banyak kupon, ia menukarkan dengan beberapa boneka kecil, yang ia taruh di tas besar.


“Buat apaan tuh Rit, banyak amat?”


“Kak Andi bawa supir ke sini?”


“Bawa”.


“Anterin Rita yuk!”


“Kemana?”


“Ikut aja deh!” Rita mengajak kakaknya pergi dari Playzone, ia memberikan sebuah alamat kepada supir. Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang cukup sempit.


Panti Asuhan Florence” Andi membaca papan nama yang terpampang di depan. Mereka masuk ke dalam dan menemui beberapa pengurus panti. Rita memberikan boneka hasil permainan juga sebuah amplop berisi cek senilai seribu dolar. Setelah bermain sebentar dengan anak-anak panti mereka pun pulang ke rumah.


“Kamu tahu tentang panti itu dari mana?” tanya Andi


“Kemarin Rita mendengar katanya anak-anak panti di situ gak punya mainan, terutama boneka. Rita banyak boneka tapi ada di Sukabumi semua, mungkin sudah disumbangkan oleh ayah. Rita sering dapat hadiah boneka karena main lama di sini, disumbangkan saja.”


“Bagus banget Rit! Tapi seharusnya lo jangan lupa kewajiban juga!”


“Kewajiban?”


“Iya, kewajiban kerja, Lo kan sudah sepakat sama kakek untuk menerima hukuman bekerja dengan Om Radian seharusnya lo penuhi itu!”


“Rita kan masih belum 17 tahun kak, kalau Rita lapor ke dinas tenaga kerja Dar.Co bisa kesulitan lho mempekerjakan anak di bawah umur” sanggah Rita


“Iya, apa lo tega, ngelaporin perusahaan kakek sendiri?” Andi mengajaknya makan di suatu tempat


Ting! Notifikasi di ponselnya Andi, ia hanya melihatnya sejenak dan meletakan kembali ponselnya.


“Siapa Kak?”


“Teman!, Lo mau pesan apa Rit? Di sini fish and chips nya enak lho!”


“Hmm...boleh deh, di sini ada makanan yang manis-manis gak?”


“Ada, es krim strawbery lo suka kan?”


“Iya, ditambah keju dan coklat yang banyak!” ujar Rita


Beberapa menit kemudian, pesanan makanan mereka tiba, dengan tak sabar Rita menyantap fish and chips


“Beneran enak kak!” Rita terus menyantapnya tanpa henti, Andi memperhatikan adiknya makan


“Pelan-pelan Rit, tadi gue sudah bilang ke Om Radian kalau lo kurang sehat”


Rita diam saja, kali ini ia menyantap es krimnya dengan suapan besar


“Hati-hati Rit, itu dingin lho!”


“aduhhh!!! Freezing brain!! Otakku membeku!” Rita memegang kepala dan giginya yang merasa ngilu dengan dinginnya es krim.


“Dibilangin pelan-pelan!” ujar Andi


Tiba-tiba Rita menangis


“Huaaaa...huuuuuhuhuhhu...”


“Eh Rit, kenapa lo?” Andi bingung melihat adiknya menangis, baru kali ini ia melihat adiknya yang pemberani menangis


“huaa...kakak....huhuhu” tangisnya sulit berhenti


“Kenapa sih lo? ada apaan? Di kantor ya?” tanya Andi, ia menebak-nebak yang terjadi sama adiknya di kantor. Rita diam saja, setelah menangis agak lama ia terdiam. Sepertinya ia sedikit merasa lega setelah menangis.


Mereka pulang setelah beberapa jam di memutari mall. Sampai di rumah, Rita dipanggil oleh kakeknya. Andi menemaninya ke ruangan kakeknya.


“Andi, kamu keluar, kakek mau ngomong sama Rita” ujar kakek Darmawan


“Rita lagi kurang sehat kek, tadi Andi mengantarnya ke dokter, nih obatnya!” ujar Andi berbohong, ia sengaja membeli beberapa vitamin dari toko di mall.


“Sakit apa Rit?” tanya Kakek, ia melihat wajah Rita yang terlihat lesu


“Gak enak badan kek” jawab Rita sekenanya


“Gak enak badan kok malah keliling mall? Kamu bolos kerja ya?”


Rita tidak menjawab pertanyaan kakeknya, perasaannya saat itu benar-benar tidak karuan.


“Kek!, kalau boleh Rita tidak dihukum kerja sama Om Radian gimana? Di kandang saja mengurus kuda?” ujar Rita


“Memangnya kenapa sama Radian? Dia galak sama kamu? Kan memang kakek yang suruh kalau kamu bandel”


“Enggak!, itu kan kantor kek, semuanya orang dewasa. Rita bahkan belum 17 tahun”


“Ya gak apa-apa, supaya kamu punya pengalaman kerja di kantor besar, seharusnya kamu bersyukur dapat kesempatan langka bukan malah memilih kerja sama kuda”


Rita kembali terdiam.


"Kek, Rita bayar saja deh kerusakan motor dan mobil itu, dua ribu lima ratus dolar kan? Rita punya kok!” ujar Rita dengan nada memelas


“Kamu punya uang sebanyak itu? Dari siapa?”

__ADS_1


“Tabungan Rita kek”


Kakek Darmawan menggeleng tidak setuju, membiarkan Rita membayar berarti ia gagal memberinya pelajaran.


“Enggak! masalahnya ini bukan hanya tentang uang, masalahnya kakek ingin kamu mulai berpikir panjang dulu sebelum bertindak. Berkali-kali kamu mengalami kesulitan karena kamu bertindak dulu baru berpikir, akhirnya nanti merugikan diri mu sendiri”


“Rita sudah belajar kok Kek, Rita tidak akan gegabah lagi. Rita janji deh”


“Gak bisa begitu Rit, lagi pula kakek sudah terlanjur mendaftarkan mu sebagai pemagang tetap yang bergaji di situ, tugas kamu menjadi asistennya Radian.”


“Kan ada pak Daniel kek!”


“Daniel bukan lagi asistennya, sekarang kamu asistennya!”


“Rita kan belum 17 tahun kek, Dar.Co akan kesulitan kalau pemerintah tahu perusahaan mempekerjakan anak di bawah umur” ujar Rita mengancam


“Kamu mengancam kakek ya?” tanya Darmawan berjalan menghampiri, Rita hanya tertunduk.


“ckckck...benar juga ya kak Sugi menghadapi mu itu sulit! Baru kali ini kakek diancam cucunya” ujar Darmawan lagi. Rita kembali menunduk, ia tidak bisa menahan air matanya. Ia langsung keluar dari ruangan kakeknya.


“Rita!” panggil Andi


“Sudah biarkan saja!” ujar Darmawan, ia heran dengan kekerasan hati Rita


“Rita gak sungguh-sungguh kek!” ujar Andi membela


“Iya, kakek tahu, kamu gak cari tahu kenapa dia begitu?”


“Sudah kek, tadi Andi sudah sogok pakai es krim, pakai fish and chips dia cuma nangis saja”


“Kenapa dia begitu?” Darmawan dan Andi heran dengan sikap Rita.


Sementara Rita masuk ke kamarnya, ia mengunci kamarnya dari dalam. Ia membuka kulkas dan diambilnya beberapa makanan beku, lalu ia goreng di fry pan tanpa minyak setelah matang ia melahapnya.


“Ahh...panas..panas” mulutnya merasa kepanasan, lalu ia menangis lagi.


“Huaaaahhh....Rita begoo!!!!goblok!!!” makinya pada diri sendiri, ia menjatuhkan tubuhnya di kasur


Sehari sebelumnya...


“Selamat pagi!” Ellie menyapa para seniornya


“Pagi! Eh kamu Ellie kan?” tanya Maya salah satu seniornya


“Iya kak!”


“Kemarin kamu makan siang bersama siapa?”


“Kemarin? Kemarin saya tugas luar kak!”


“Bukan, maksudku kemarinnya lagi”


“Hmm...oh itu, dengan Rita anak pemagang dari lantai paling atas”


“Pemagang lantai paling atas? Lantainya direktur?”


“Benar kak!”


“Kamu tahu sudah berapa lama dia magang di sini?” tanya Maya menyelidik


“Sudah dua minggu kak, katanya dalam rangka tugas sekolahnya”


“Ohh, dia masih sekolah, memang umurnya berapa?”


“Masih enam belas tahun kak, sepertinya koneksi dia petinggi di perusahaan ini deh, makanya dia bisa langsung jadi asistennya pak Radian” ujar Ellie


“Ah sok tahu kamu!”


“Pak Jake? Wah jangan-jangan keponakannya pak Jake lagi nih” ujar Emily,


“Lagi kak?” tanya Ellie


“Pak Jake, kepala HRD kita itu terkenal dengan KKN nya, dia mendahulukan saudara-saudaranya dulu baru deh orang luar!” ujar Emily yang lebih lama bekerja di situ dari pada Maya


“Oh begitu, apa pak Radian tidak tahu?” tanya Ellie


“Entahlah, mungkin tahu tapi menutup mata. Ada yang bilang pak Jake juga pemegang saham di sini alias partner, jadi gak ada yang berani menyenggol” ujar Emily lagi


“Ya sudah, kamu kembali ke tugas kamu!” ujar Maya


“Baik kak, permisi!” Ellie meninggalkan mereka berdua


“Kalau begini, kita gak bisa memperingatkan si Rita supaya jangan dekat-dekat Daniel Kak!” ujar Maya ke Emily


“Mungkin ada cara lain May” ujar Emily yang ahli strategi


“Caranya gimana?”


“Lewat bu Sharon”


“Bu Sharon, bagian marketing?”


“Heeh, Bu Sharon sudah lama tuh naksir Daniel, tapi dicuekin.” Ujar Emily


“Pastilah dia kan sudah 40 tahun?”


“Hush! Masih 39!” ujar Emily membetulkan


“Cuma korting setahun!”


“Kita dekatin bu Sharon, kita ceritain tentang kedekatan Daniel dengan pemagang baru itu, dia pasti bisa deh”


Bisa apa?”


“Bisa bikin mereka gak dekat lagi!” ujar Emily


“Kak Emily kok bisa tahu banyak?”


“Sssttt...bu Sharon itu seperti ular berbisa, walaupun cara bicaranya lembut tapi penuh bisa racun, hiiii..serem deh kalau racun bisanya kena kita”


“Tapi kak, kita gak bakal kesulitan nih?”


“Gak bakalan deh, asal pintar-pintar mendekatinya”


“Kira-kira kapan kita deketin bu Sharon?”


“Mungkin pas makan siang ini, kalau dia gak lagi ke klien pokoknya secepatnya deh, jangan sampai Daniel makin lengket sama pemagang itu”


Maya mengangguk tanda setuju.


Pagi itu, Rita meminta untuk tidak diantar supir, ia ingin naik kendaraan umum.


“Lo yakin Rit?” tanya Andi


“Yakin kak! Rita cuma pemagang biasa masa diantar jemput supir dengan mobil mewah, nanti yang melihat bisa curiga macam-macam”


“ya terserah saja!”

__ADS_1


“Rita berangkat kak!”


“Hati-hati di jalan!”


Rita naik mobil golf yang mengantarnya keluar dari gerbang rumah Darmawan yang sangat luas, dari situ ia naik bis menuju kantornya. Ia turun agak jauh dari kantornya, itu karena bis yang dinaikinya mengambil jalur berseberangan dengan kantornya. Ia turun dengan semangat, ketika ia hendak menyebrang, ia melihat seorang wanita paruh baya sibuk menelpon tampak keluar dari taksi. Ia begitu serius sehingga tidak memperhatikan seseorang menggunakan sepatu roda menarik tasnya hingga ia terjatuh. Terjadi tarik menarik tas antara wanita itu dengan copet. Copet itu menendang wanita itu hingga ia terjengkang. Rita melihat kejadian itu, tanpa pikir panjang, ia menghampiri wanita itu


“Anda tidak apa-apa?” tanyanya


“Tas ku! Dokumennya!” ujar wanita itu menahan sakit.


Rita melihat copet bersepatu roda itu yang sudah berjalan cukup jauh, ia berlari meminjam sepeda yang terparkir di depan toko majalah


“Maaf pak saya pinjam sebentar!” Rita mengayuh sepeda itu sekuat tenaga mengejar copet bersepatu roda yang semakin menjauh dan menyebrang melintasi jalan, Rita mengikutinya dengan sepeda, ia begitu serius, hingga ia hampir tertabrak mobil SUV yang mengerem mendadak


“Maaf !” teriaknya pada supir ia terus mengejar copet tadi,


“Eh Niel, itu si Rita bukan?” tanya Radian


“Iya pak, itu Rita!” jawab Daniel, mereka heran melihat Rita yang pagi-pagi bersepeda ugal-ugalan di jalan. Beberapa saat kemudian, Rita berhasil menangkap copet itu, ia ikat tangan copet dan membonceng di sepedanya. Ia menghampiri wanita tadi yang melaporkan kejadiannya kepada polisi patroli. Rita menghampiri si pemilik sepeda dan mengembalikan sepedanya.


Ini bu, tasnya. Dan ini pencopetnya pak!” ujar Rita ngos-ngosan ia tampak kelelahan habis mengejar copet tadi.


“Kamu yang mengejarnya tadi?” tanya polisi itu


“Iya pak, tadi saya meminjam sepeda dari toko majalah itu!”


“Terima kasih banyak Dik!!!” wanita itu menyalami Rita, ia memperhatikan Rita yang kecapekan, ia hendak mengajaknya berbicara


Rita mendengar ponselnya berbunyi, ia melihat notifikasi dari Radian.


“Maaf pak, bu, saya sudah terlambat!” ujar Rita, ia langsung menyebrang jalan menuju kantor. Wajahnya tampak kelelahan sehabis berlari. Ia langsung ke toilet untuk mencuci wajah dan tangannya, menggunakan sedikit bedak dan lipstick berwarna bibir serta menyemprotkan parfum untuk menyamarkan keringatnya. Ia melihat pesan dari Radian, setelah masuk ke ruangannya, ia langsung mengambil tablet dari tasnya lalu masuk ke kantor Radian.


“tok-tok!”


“Masuk!” suara Radian terdengar tegas


“Selamat Pagi pak!” sapa Rita, di situ juga sudah ada Daniel duduk di sofa.


“Pagi!” jawab Daniel , Rita melihat wajah Radian yang tampak kesal.


“Tadi kamu ngapain Rita?”


“Tadi pak?”


“Sejak kapan kamu ke kantor naik sepeda?” tanya Radian


“oh itu, tadi saya meminjam pak!”


“Kamu ke kantor pinjam sepeda, lalu berkendara sembarangan! Memangnya kamu punya ilmu kebal?” hardik Radian


“Eh?” Rita masih bingung


“Tadi kamu bersepeda hampir ditabrak mobil kan?” ujar Radian


“Eh iya pak, itu karena...”


“Bukannya kamu diantar supir? Kenapa naik sepeda? Sembarangan lagi bawanya, kalau kecelakaan gimana? Kalau kamu ditabrak orang atau menyebabkan kecelakaan bagaimana?” Radian marah-marah tanpa mau mendengar penjelasan Rita


“Tapi pak, saya..”


“Gak pakai tapi!, kamu tahu gak. Aku itu dititipi kamu sama kakek mu, kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku yang harus bertanggung jawab! Kamu dengar gak!” teriak Radian emosi


“Eh iya Pak!” Rita agak kaget dengan teriakan Radian, baru kali ini ia dimarahi habis-habisan.


“Sekarang kamu kembali ke tempat kamu!, kasih tabletnya ke Daniel, biar dia saja yang mengerjakan tugas kamu! Aku malas berurusan dengan anak nakal!” ujar Radian kesal.


Rita menyerahkan tabletnya ke Daniel dan kembali ke ruangannya. Ia agak kesal dimarahi didepan orang yang ia sukai. Ia duduk menunggu Daniel keluar dari ruangan Radian. Agak lama ia menunggu, ia mendengar Daniel pamit, ia melewati ruangan Rita begitu saja tanpa menegurnya.


Rita merasa serba salah, ia ingin menjelaskan ke Daniel, tapi dia bingung bagaimana dan untuk apa ia menjelaskan. Akhirnya setengah hari itu, ia tidak mengerjakan apa-apa di kantor, Radian juga mendiamkannya.


“Ah bosan!!” keluhnya, ia terus melihat ponselnya menunggu jam makan siang tiba.


“Baru jam 10, masih lama keluhnya” ia mendengar langkah Radian bersama sekretarisnya.


“Anda sudah ditunggu di ruang rapat pak!” ujar sekretaris itu


“Iya aku tahu, yang lain sudah berkumpul?”


“Sudah pak, tinggal menunggu bapak!”


Radian memasuki ruang rapat, di situ telah berkumpul para CEO dari beberapa divisi termasuk divisi pemasaran bu Sharon. Para asisten termasuk Daniel juga hadir di rapat itu.


“Selamat pagi semuanya!” sapa Radian


“Selamat pagi pak!” jawab semua yang hadir.


“Kita mulai rapat hari ini, mungkin di mulai dari bu Sharon bagian pemasaran?” ujar Radian


"Terima kasih pak, sebelumnya saya ingin bercerita dulu tentang kejadian yang saya alami hari ini”


Bu Sharon sangat suka bercerita, sifatnya yang supel dan mudah bergaul membuat banyak orang bersimpati dengan cerita yang dialaminya pagi itu. Sifatnya bertolak belakang dengan Radian yang tidak begitu suka bergaul.


“Hmm..apa ada hubungannya dengan rapat kita hari ini?” ujar Radian memotong pembicaraan Sharon


“Mungkin ada pak”


“Kalau begitu silakan ceritakan, singkat saja. Saya takut yang di sini akan bosan kalau bertele-tele”


“Baik pak, tadi pagi saya kecopetan. Lebih tepatnya hampir kecopetan”


“Apa dompet Anda hilang?” tanya salah satu peserta rapat


“Nah, itulah yang aneh pak. Copet itu tidak merampas ponsel saya, melainkan merampas tas saya dimana saya menaruh dokumen penting untuk rapat hari ini”


“Oh ya?” semua mulai tertarik dengan ceritanya


“Saya turun dari taksi sambil menelpon, nah tas saya pegang seperti biasa di lengan kanan, tiba-tiba seseorang bersepatu roda merampas tas saya. Saya mempertahankan tas saya sekuat tenaga, tapi orang itu juga. Kami saling tarik –menarik” bu Sharon memperagakan bagaimana ia mempertahankan tasnya, gayanya membuat orang yang melihatnya tersenyum karena kelihatan seru dan lucu.


“Lalu orang itu gagal?” tanya mereka bersamaan


“Tidak pak, orang itu menendang saya!, saya jatuh terjungkal. Akhirnya tas saya berhasil ia ambil. Saya berteriak,..tolong-tolong!..”


“Kemudian?”


“Ada seseorang menghampiri dan membantu saya bangun, saya bilang padanya, tas saya diambil banyak dokumen penting di situ. Orang itu langsung berlari mengejar copet bersepatu roda”


“Apa ia berhasil menangkapnya?”


“Iya, dia berhasil membawa kembali tas saya utuh bersama dengan pencopetnya”


Semua hadirin bertepuk tangan, mereka merasa lega dengan akhir yang baik.


“Yang menangkapnya seorang polisi?” tanya peserta yang lain


“Bukan polisi, sepertinya ia masih remaja. Ketika saya mau menanyakan, ia langsung pergi karena ponselnya berbunyi” cerita bu Sharon berhenti sampai di situ.


“Baiklah bu Sharon, karena anda tidak apa-apa, dan dokumennya juga selamat, silakan Anda memulai presentasi!” ujar Radian .

__ADS_1


“Baik Pak!”


_bersambung_


__ADS_2