Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 193: Daniel yang glowing


__ADS_3

Kehamilan anak kedua Rita berjalan 2 bulan, selama itu Daniel terus menerus merasakan “Morning Sickness” makannya semakin sedikit dan di kantor pun ia hanya memakan salad.


Alhasil, tubuhnya menjadi langsing seperti lelaki yang belum menikah. Wajahnya dan kulitnya terlihat glowing. Hal tersebut membuatnya makin populer di kantor dan di tempat klien.


Setiap dia datang ke kantor klien, para pegawai cewek berkumpul di lobby kantor hanya untuk melihatnya lewat. Begitu pula yang terjadi kantor Dar,co.


Para pegawai wanita mengingat kebiasaan Daniel yang datang pukul 8.30 pagi, mereka datang lebih awal di kantor. Mereka belum kembali ke ruangannya sebelum melihat Daniel lewat. Sementara Daniel sendiri tidak begitu memperhatikan sekelilingnya, di kepalanya hanya ada keluarga kecilnya yang menunggunya di rumah.


Setiap masuk ke kantor ia mengenakan earphone yang berisikan lagu anak-anak yang hendak ia ajarkan ke Ranna putri pertamanya, di layar ponselnya pun ada gambar Rita dan Ranna.


Suatu ketika, Mario yang datang lebih pagi heran dengan kerumunan di lantai dua. Kebanyakan para pegawai cewek dari berbagai departemen, mereka menunggu dengan sabar sambil melihat ke arah bawah.


“Ada apaan sih?” gumamnya penasaran, baru kali ini ia melihat kerumunan cewek memenuhi lantai dua.


Pukul 8.30 tiba, Daniel masuk ke lobby kantor, ia memberikan ID card nya ke satpam, lalu mengucapkan selamat pagi sambil tersenyum. Dengan berjalan santai dengan earphone di telinganya, salah satu tangannya ditaruh disaku celana kirinya, ia bergumam menghapal lagu anak-anak.


Para cewek di lantai atas, mengikutinya sampai Daniel masuk lift. Setelah Daniel masuk lift kerumunan pun berakhir. Mario tertegun melihat kerumunan cewek penggemar Daniel. Iseng-iseng dia bertanya pada salah satu rekan kerjanya


“Tumben Yu datang pagi, biasanya telat mulu!” ledeknya


“Ada artis Korea!, ganteng banget ya?” jawabnya


“Yang mana?”


“Yang tadi! Yang naik lift itu!”


“Hei! Dia bukan artis Korea, dia CEO dari lantai 20!” ujar Mario


“Iya kami tahu!, tapi dengan kegantengan maksimal seperti itu, dia seperti artis kan?” jawabnya


“Aku iri sama staf cewek di lantai 20, mereka pasti sangat bahagia mempunyai bos setampan itu!” ujar temannya yang lain


Perkiraannya tidak salah, para staf cewek termasuk Erina mengagumi Daniel, selain bos yang sopan ia juga perhatian pada para pegawainya. Hal itu membuat kinerja timnya selalu menempati posisi pertama dalam penilaian performa.


“Aduuhhh...tiap pak Daniel lewat, jantungku berdebar kencang...rasanya pengen peluk!!! Tapi takut...nanti dianggap melecehkan!” ujar salah satu staf cewek


“Iyaa...aku juga...aku iri sama istrinya, bukan melihat wajahnya lagi, tapi juga melihat seluruh tubuhnya...aduuuhhh...


ngebayangin saja bikin aku mimisan!” ujar Helda


“Dasar kalian mesum!” hardik salah satu staf cowok yang masih single tapi tidak diperhatikan staf cewek lain karena wajahnya biasa saja.


“Kenapa dia??? Hei! Kalau mau iri dengki jauh-jauh sana! Kita gak ganggu situ kok!” ujar Asa, staf cewek


“Pak Daniel!” tegur Eddy di ruangannya


“Selamat pagi Eddy!, hari ini kita rapat gabungan?” tanya Daniel


“Nanti siang pak, oh iya tadi klien menelpon, mereka minta bapak datang ke sana, sepertinya ada yang ingin mereka bicarakan”


“Hmm...Eddy,aku minta tolong minggu depan mungkin aku gak datang beberapa hari karena ada acara keluarga. Jadi aku minta jadwal kepergian aku itu dipadatkan ke minggu ini, kamu bisa?”


“Akan saya usahakan pak!”


“Terima kasih!, sekarang masih jam 8.4, jam 9 tepat aku akan ke tempat klien, tolong bilang ke Rain untuk siap-siap di bawah!”


“Baik pak!” Eddy segera meninggalkan ruangan, sementara Daniel menyiapkan beberapa berkas yang harus ia bawa ke klien.


Salah satu staf cewek mendekati Eddy


“Pak Eddy, pak Daniel mau ke klien lagi ya?”


“Iya, kenapa?”


“Kalau boleh tahu, kliennya itu cowok atau cewek?”


“Kenapa?”


“Enggak penasaran saja!”


“Kalau gak salah tadi yang nelponnya bu Isye bagian finance”


“ooo...bukannya minggu lalu bu Isye juga?” tanya temannya lagi


“Memangnya kenapa?” suara Eddy menyiratkan kecurigaan


“kayaknya mereka beralasan saja deh supaya pak Daniel datang ke tempat mereka terus”


“Kalian itu menyamakan perempuan kantor lain itu norak seperti kalian! Gak pernah lihat cowok ganteng ya?”


“Idih! Pak Eddy sewot!” para staf cewek kesal meninggalkan Eddy.


Pukul 9.00 Daniel keluar ruangannya dan menuju tempat parkir, entah dari mana info bahwa ia akan pergi hari itu, tetapi para staf cewek dari dept. Lain berkumpul untuk melihatnya pergi.


“Yaaa...akhirnya bisa lihat dengan jelas...beneran ganteng!!!” mereka kegirangan, sampai satpam membubarkan mereka


“Davis, ada apa dengan para staf cewek kantor kita?” tanya Benny, ia memperhatikan kerumunan cewek yang membubarkan diri


“Oh itu..Daniel !”


“Daniel? kenapa dia?”


“Para staf cewek di kantor kita tiba-tiba jadi penggemarnya, mereka datang lebih pagi hanya untuk melihatnya lewat!” ujar Davis sambil menatap layar monitornya


“Kamu gak melarang mereka?”


“Untuk apa? toh mereka tidak mengganggu Daniel, lagi pula sejak itu aku perhatikan makin banyak staf cewek yang datang lebih pagi, kinerjanya meningkat. Itu bagus kan untuk performa cabang kita”


“Hmm...Davis, aku penasaran “


“Tentang apa? Daniel?”


“Bukan! Apa kamu mendapat tawaran dari Jameson?”


“Tawaran? Tawaran apa?”


“Beberapa CEO senior di sini diiming-imingi agar pindah ke perusahaan barunya Jameson”


“Tapi Jameson masih pegawai di sini?” ujar Davis heran


“Iya, sepertinya ia bergerilya , tidak hanya mau membajak para CEO terampil, juga membajak klien dari sini”


“Membajak klien? Ah sial! Kamu tahu dari mana Ben?”


“Kemarin saat kami berkumpul main poker saat kamu tidak hadir. Mereka membicarakan hal tersebut. Aku kira kamu sudah tahu! Apalagi kamu terkenal dekat dengan Jameson”


“Hmm..begitu rupanya, Jameson memanfaatkan aku yang berhutang budi pada pamannya” gumam Davis

__ADS_1


“Ben, kamu kan banyak info dari kantor pusat, bagaimana reaksi pak Radian?”


“Sepertinya pak Radian sudah memecat pamannya Jameson, oh iya apa proyek perpajangan baru Jameson sudah diperbarui?”


“Ah iya! Dengan Pak Jake! Bisa-bisa aku dituduh kaki tangannya Jameson”, Davis langsung menelpon bagian legal dan meminta mereka menunda kontrak diberikan kepada Jameson. Kemudian ia berangkat sendiri menemui Jake untuk menghandle sendiri proyek Jameson. Karena ia sendiri yang akan menghentikan Jameson. Sementara Davies pergi menemui Jake, Benny menelpon Radian untuk memberitahukan bahwa Davies bukan termasuk orangnya Jameson.


Di Auckland


“Om bisa sedikit lega, Davies kepala cabang Singapura 2 ternyata bukan orangnya Jameson, Benny sudah memastikannya”


“Ah syukurlah, sebenarnya aku hendak menjadikan Daniel menjadi kepala cabang Singapura 2, tapi ia masih terlalu muda. Aku membiarkannya mengurus proyek dengan Bank Singapura, dan kerjanya bagus, bahkan mereka memperpanjangnya. Tapi Daniel belum berpengalaman mengurus multi proyek. Maksudku membawahi banyak departemen.”


“Jangan terburu-buru Om, biar saja dia belajar mengelola proyek eksklusif ini dulu, aku dengar kliennya sangat senang mengundangnya diskusi”


“Oh ya? siapa yang sering mengundangnya?”


“Bu Isye bagian finance”


“Ahh...Isye...janda gatel itu!”


“Om???” Radian kaget mendengar celetukan Omnya


“Dulu aku pernah mengurus pinjaman dengannya, matanya seperti menelanjangiku..jijik aku jadinya!..Radian titip pesan ke Daniel, sebisa mungkin menghindari Isye, maksudku jangan terus-terusan datang ketika ia minta. Aku takut nanti Isye akan mengganggu rumah tangga cucuku!”


“Isye ini berapa usianya?”


“Kayaknya seumuran kamu deh, 36. Kamu bisa tuh mendekati dia, Radian. Aku pikir dia pasti tertarik padamu!”


“Tadi Om bilang dia janda gatel, masa Om mau aku punya istri yang kegatelan?” protes Radian


“Yaa..mungkin setelah sama kamu dia gak gatel lagi. Kinerjanya sih bagus, tapi dia senang sekali berpakaian seksi. Kadang kita jadi risih” ujar Darmawan lagi


“tuuh kan!! Om payah ah!” ujar Radian sebal


Sementara Daniel menuju ke tempat kliennya, Isye yang disebut Darmawan menunggunya dengan sabar di lobby bank.


Ketika Daniel masuk ke lobby bank, ia melihat pemandangan yang membuatnya iri.,


“Rita?” Daniel bertemu istrinya di pintu masuk bank


“Hei!..Ranna Papi tuh!” ujar Rita , tangan dan kaki Ranna bergerak-gerak lincah minta digendong.


Daniel menggendong Ranna dan menggandeng Rita ke ruang tunggu di bank itu.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Daniel


“Aku kan nabung di sini” jawab Rita


“Oh ya? sejak kapan? Kok aku gak tahu?” tanya Daniel sambil bermain dengan Ranna


“Sejakk...” ia belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba AR bank menghampirinya


“Bu Rita , silakan!”


“Yang aku titip Ranna sebentar ya?” Rita segera mengikuti AR bank, sementara Daniel bermain dengan Ranna, ia menyanyikan lagu yang baru saja ia hapalkan.


Ranna sangat menyukainya, akhirnya ia tertidur. Isye memperhatikan Daniel dari jauh, lalu memanggil rekan dari AR yang mengurusi Rita.


“Eh!, itu perempuan yang ditangani Cindy siapa?” tanya Isye


“Premium? Wahh...berarti simpanannya besar sekali ya?”


“Iya bu!”


“Kalau anak kecil itu siapanya?”


“Oh itu Ranna, anak perempuannya, yang menggendongnya itu suaminya, sepertinya ibu mengenalnya deh”


“Iya memang” tiba-tiba Isye merasa dirinya tidak pantas, akhirnya ia mengirim pesan singkat ke Daniel


“Pak Daniel mohon maaf, saya harap pak Daniel belum ke tempat saya. Hari ini saya harus mengikuti rapat mendadak dengan direktur, jadi sepertinya urusan kita bisa ditunda. Nanti saya akan hubungi lagi jika ada yang belum saya ketahui, mohon maaf dan terima kasih “ Kemudian Isye kembali ke ruangannya.


Daniel membaca pesan dari Isye, awalnya ia sangat kesal karena pemberitahuan mendadak, tetapi kekesalannya hilang karena ia bertemu dengan anak-istrinya di bank.


Beberapa menit kemudian Rita keluar dari ruangan AR yang mengantarnya sampai pintu depan. Daniel masih menggendong Ranna yang terlelap di gendongannya. Rita mengambil Ranna dari Daniel lalu masuk ke mobil yang disupiri Rain.


“Kamu mau ke toko lagi?” tanya Daniel


“Enggak ah, aku lelah mau pulang saja! Tadi baru saja aku dari toko, setelah mengumpulkan penjualan dan membayar beberapa tagihan. Aku merasa pusing”


“Hmm...apa perlu kita ke dokter?” Daniel khawatir. Rita diam saja


“Rain, kita ke RS Omega!” pinta Daniel


Rita diperiksa oleh dokter kandungan langganannya


“Ibu kecapekan pak! Kandungannya sendiri tidak bermasalah. Tetapi diusia kandungan ini memang biasanya menguras energi, apalagi anak pertama masih bayi”


“Begitu ya dokter? Jadi saran dokter gimana?”


“Biarkan si ibu istirahat tanpa harus mengurus bayinya, jadi ia bisa tidur tanpa diganggu tangis bayi”


“Baiklah dokter, akan saya usahakan”


Setelah dari rumah sakit, Daniel mengantar Rita ke apartemen mereka, dan menyuruhnya tidur. Setelah Rita terlelap, Daniel kembali ke mobil dengan membawa Ranna bersamanya. Para staf cewek heboh melihat Daniel datang dengan menggendong bayi yang mirip dengan wajahnya.


“Itu siapa??? Siapa bayi beruntung yang digendong pak Daniel?” tanya staf cewek teman Mario


Mario melihat ke lantai bawah, ia melihat Daniel dengan santainya menggendong Ranna, dan membawa perlengkapan bayi bersamanya, sementara Rain membantunya membawa tas kerjanya.


“Selamat Siang!” sapa Daniel yang baru saja kembali


“Siang Pak!..Eh...ini Ranna kan??” para staf cewek berkumpul, mereka mengerubungi Ranna.


Daniel melepaskan Ranna dari gendongannya, dan meminta Erina menggendong Ranna, sementara ia kembali ke ruangannya dan Eddy mengikutinya


“Sudah bertemu bu Isye pak?” tanya Eddy


“Gak jadi, dia ada meeting sama bosnya! Aku sempat kesal, eh malah bertemu anak dan istriku di bank itu” ujar Daniel sambil duduk beristirahat. Eddy melihat ke kerumunan staf cewek yang bermain dengan Ranna


“Bu Rita mana Pak?” tanyanya


“Bu Rita sedang kelelahan, tadi sepulang dari bank kami mampir ke RS. Dokter bilang ia kelelahan, mungkin karena kehamilannya”


“Oh bu Rita sedang hamil lagi?” tanya Eddy kaget


“Eh...hehehe...iya...kami memang ingin segera memberikan adik untuk Ranna” ujar Daniel ngeles sambil menutupi malu.

__ADS_1


“Oh iya pak! Nanti mereka seperti kembar ya?”


“Iya betul sekali!,..oh iya gimana jadwalku sudah dipadatkan?”


“Sudah pak!” Eddy memberikan tabletnya, Daniel mempelajari jadwal minggu depan yang dipadatkan


“Baiklah, terima kasih!”


Eddy kembali ke ruangannya, tak berapa lama kemudian kurir datang membawa beberapa barang


Eddy kembali ke ruangan Daniel


“Pak Daniel! ada kurir membawa barang-barang yang baru bapak beli?”


“Oh sudah datang? Cepat juga!, tolong suruh mereka masuk ke sini!”


Kurir datang dan meletakan barang-barang yang dibeli Daniel. setelah kurir pergi Daniel membuka paket tersebut


“Eddy, bantu aku!” pinta Daniel, Eddy membantu membuka paket tersebut, ternyata berupa tempat tidur bayi yang bisa dilipat dan bisa menjadi ayunan.


Daniel juga memesan vacuum cleaner untuk membersihkan tempat tidur tersebut. Lalu ia semprot desinfektan, kemudian ia vacuum lagi. Setelah yakin telah bersih, ia mengambil Ranna dari Erina, lalu meletakkannya di boks bayi.


“Nah Ranna! Hari ini kamu menemani papi kerja ya? kamu jangan rewel ya?”


“aaaaeeeeeeeee” Ranna menjawab sambil menggerak-gerakan tangannya


Daniel kembali konsentrasi pada pekerjaannya, saat jam makan siang ia tidak turun ke kantin, tapi ia minta OB untuk membawakannya makan siang ke ruangannya. Ia makan bersama Ranna.


Jam pulang kantor pun tiba, Daniel meminta Rain membantunya membawa perlengkapan Ranna, sementara ia menggendong Ranna. Para staf cewek yang mengerubung di lantai 2 bergumam..


“Ayah yang baik...aku iri...” gumam mereka.


Sesampainya di apartemen


“Assalammu’alaikum...” sapa Daniel masuk ke apartemennya


“Wa’alaikummussalam!” Rita menyambutnya, ia terlihat segar.


“Ranna! Mami kangen!” Rita mengambilnya dari gendongan Daniel


“Terimakasih ya Sayang!” Rita mencium bibir suaminya


Daniel ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berpakaian, tak berapa lama Mario datang ke apartemen mereka untuk makan malam.


“Hei O!” sapa Daniel


“Hey Niel!..Hey Ranna!!!..tadi kamu ke kantor ya??” tanya Mario ke Ranna yang sedang digendong Daniel


“Iya, tadi aku gak enak badan, jadi Ranna dibawa papinya ke kantor!” ujar Rita , ia menyiapkan piring untuk mereka makan bertiga.


“Eh tong! Yu tau gak!. Pak Daniel ini idola baru di kantor!” ujar Mario


“Aku?” tanya Daniel


“Iya!..memangnya Yu gak pernah perhatiin?”


“Enggak!..memangnya ada apa?”


“Staf cewek berbondong-bondong cuma pengen melihat yu datang doang!”


Rita melihat ke arah suaminya dengan mata cemburu


“Aku gak tau apa-apa!” ujar Daniel membalas tatapan Rita


“Dia memang gak tau apa-apa tong, karena dia asyik sendiri!” ujar Mario lagi


Daniel merasa lega karena Rita tidak lagi menatapnya dengan wajah galak


“Kenapa mereka begitu?” tanya Rita sambil menaruh lauk di atas meja, Daniel menaruh Ranna di tempat tidurnya.


“Mereka bilang CEO Daniel makin glowing! Seperti Idol Korea!”


“Kamu ngarang ah!” ujar Daniel, ia melahap makanannya


“Ya udah kalau gak percaya!”


Mereka bertiga makan dengan lahap, setelah itu Daniel dibantu Mario untuk membersihkan bekas makan mereka.


“Minggu depan kita ke Jakarta ya?” ujar Mario


“Iya, aku sudah memadatkan pekerjaanku sehingga minggu depan aku bisa pergi agak lama dengan leluasa”


“Enak dong!..aku harus bikin permohonan berlembar-lembar ke Martin!”


“Kamu bilang dia baik?” tanya Daniel


“Iya baik, tapi dia itu taat prosedur...huh..ribet!” keluh Mario


Selesai makan, Mario kembali ke apartemennya.


Setelah membersihkan diri Rita mematut dirinya ke cermin, sementara Daniel telah menidurkan Ranna


“Yang! Aku mulai gendut ya?” tanya Rita sambil melihat cermin, Daniel menghampirinya, ia melihat


“Enggak ah! Tetap seksi!” ujar Daniel


“Masa? Aku makan melulu lho!. Kalau gak Yoga melebar ni badan” ujar Rita


Ia memperhatikan tubuh suaminya yang langsing dan glowing


“Tapi Yang, mereka benar!”


“Mereka? Siapa?”


“Staf cewek di kantor! Kamu memang tambah glowing!” Rita menarik piyama Daniel supaya mendekatinya


“Kamu cemburu?”


“Cemburu? Sedikit!..tapi aku kan memilikimu!” Rita mencium bibir suaminya.


“Kamu gak capek?” tanya Daniel di sela-sela sesi ciuman mereka


“Aku sudah tidur lama tadi!..sekarang aku mau bersama suami glowingku”


Akhirnya mereka menutup hari itu dengan bercinta.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2