Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 256: Mencari Jejak Rita


__ADS_3

“Pak saya hendak mengajukan cuti selama beberapa hari” pinta Daniel pada Radian


“Cuti? Kamu mau kemana?”


“Saya akan mencari Rita pak. Sudah tiga hari tidak ada kabar dari pihak berwajib. Saya takut semakin lama pencarian semakin menghilang jejaknya”


“Apa menurut mu kamu lebih baik dalam mencarinya dibandingkan para polisi dan detektif yang disewa Om Sugiyono?”


“Bukan begitu pak, saya pikir kita harus menggunakan metode lain untuk mencarinya, lagi pula saya termasuk yang terdekat dengan Rita sebelum ia hilang”


“Kalau begitu, kamu saja yang mencarinya Niel” ujar Darmawan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Radian


“Om!” Radian dan Daniel bangkit dari kursi mereka.


“Aku sudah cukup sabar menahan diri untuk tidak ikut campur mencari cucu ku sendiri, jadi aku mengijinkan kamu mencarinya Niel. Radian, anggap saja Daniel tugas luar!”


“Baik Om, akan saya sampaikan kepada bagian HRD” ujar Radian


“Kapan kamu mulai Niel?”


“Besok pak, hari ini saya menyelesaikan pekerjaan saya dulu”


“hmm...bagaimana progress proyek yang kamu ajukan kemarin?”


“Berjalan baik pak, mereka akan survey beberapa minggu ke depan sebelum memutuskan jadi saya pikir sebelum itu saya harus bisa menemukan Rita” ujar Daniel optimis


“Baiklah, silakan kamu melanjutkan pekerjaan mu!” ujar Darmawan


“Baik Pak, terima kasih!” Daniel meninggalkan ruangan Radian


“Apa tidak apa-apa Om membiarkan Daniel dengan Rita?” tanya Radian


“Seharusnya sih tidak apa-apa, aku mengenal Daniel sejak dia masih remaja. Aku tahu karakternya, selain setia dia ulet dan juga cerdas. Bukan kah dulu kamu pernah diselamatkan olehnya?”


“Iya Om, tetapi dulu ia masih bergabung dengan interpol, tapi sekarang?”


“Kita coba saja, toh Daniel hanya alternatif pencarian. Kak Sugih juga sudah mengerahkan semua sumber dayanya untuk mencari Rita”


“Bukannya ia menaruh chip di bawah kulit cucu-cucunya?”


“Sudah dicabut beberapa bulan lalu, katanya sering tidak akurat. Benar-benar ironis, sekarang justru kita benar-benar kehilangan Rita.


Sementara Daniel menyelesaikan tugas kantornya, sebelum pulang ia menghubungi beberapa temannya di interpol


“Hei Ian!”


“Niel, apa kabar?”


“Baik! “


“Kamu sekarang kerja di mana?”


“Aku bekerja di Dar.Co An, oh iya apa kamu masih di divisi orang hilang?”


“Masih, kenapa?”


“Bisa dicek orang hilang dalam tiga hari ini?”


“Orang hilang? Apa kenalan mu?”


“Iya, dia cucu bos ku. Ia menghilang tiga hari yang lalu.”


“Berapa usianya?”


“Enam belas tahun”


“Enam belas tahun, apa kamu yakin dia gak kabur dari rumah?”


“Tidak, coba cek, namanya Rita Darmawan a.k Rita Soegiarto”


“Sebentar, aku cek di data base”


Beberapa menit kemudian


“Yap, Rita Darmawan a.k Rita Soegiarto menghilang sejak tiga hari yang lalu, di sini yang melaporkan menghilang kakaknya Raka Andika...hmm...dia cucu Sugiyono mantan mafia”


“Iya betul, Rita ini juga ternyata cucu pemilik Dar,Co. Ian bisa kamu beri info dari petugas setempat?”


“Terakhir ia terlihat di halte depan sekolahnya pukul 16.30, menurut CCTV di sekitar, ada beberapa orang mendekatinya dan membawanya dengan mobil sedan berwarna hitam. Sayangnya plat nomornya tidak terlihat. Beberapa CCTV di sekitar juga rusak.”


“Ah sial!, bagaimana dengan percakapan teleponnya?”


“Hmm...iya sinyal telepon terakhir tercatat sekitar pukul segitu”


“Apa tidak ada saksi mata?”


“Di sini tidak ada, tetapi mereka telah meminta keterangan dari sekolah dan teman-teman terdekatnya”


“Lalu?”


“belum ada keterangan lain”


“Baiklah, terima kasih Ian. Kabari aku kalau ada perkembangan penyelidikan tentangnya ya?”


“Oke Niel!”


Sepulang kantor, Daniel langsung menuju ke rumah Sisca, sebelumnya ia pernah datang ke rumah Sisca untuk mengambil ponsel Rita yang tertukar.


“Selamat Sore!” Sapa Daniel menyalami Sisca


“Sore!, oh kamu kan, teman dekatnya Rita? Daniel bukan?” tanya Sisca senang,


“Betul!” Daniel tersenyum


“Oh iya, Rita kemana? Aku ditanya beberapa orang hari ini tentang keberadaannya”


“Siapa saja?”


“Polisi, detektif, kepala sekolah juga menanyakannya pada ku”


“Lalu kamu bilang apa?”


“Aku bilang, terakhir aku bersama dengannya di halte depan sekolah, Anda sering menurunkan dia di situ kan?”


“Oh ya? Anda memperhatikan rupanya”


“Karena wajah Rita selalu terlihat cerah setiap turun dari mobil”


“Begitu ya? apa Anda melihat keanehan sebelum Anda pergi meninggalkannya hari itu?”


“Enggak ada, Rita itu anak pemberani aku pikir tidak ada yang bisa menaklukan dirinya dengan kemampuan bela dirinya kan?”


“Apa menurut mu, Rita kabur?”


“Kabur? Tidak mungkin!, Rita itu orang yang pantang kabur bahkan dari masalah terberat sekalipun, saya pikir Anda yang terdekat dengan dia pasti lebih mengenalnya dari pada saya” ujar Sisca


“Bagaimana dengan hari-hari sebelumnya, apa Rita melakukan sesuatu yang aneh?”


“Aneh? Hmmm....dia memang senang menyendiri di perpustakaan, dia juga membawa bekal makan siang sendiri. Sejak beberapa kakak kelas mencoba merundungnya, ia memilih menghindari mereka dibandingkan melawan”


“Ada yang merundungnya?”


“Iya, sebenarnya mereka iri, karena mereka tahu Rita adalah cucu konglomerat. Dan mereka ingin memanfaatkannya. Tetapi Rita sangat pandai menghindar, sehingga mereka tidak bisa mendekatinya”


“Selain itu, apa ada kejadian aneh seminggu belakangan ini?”


“Hmm...” Sisca terdiam sejenak, ia mengingat-ingat


“Oh iya, beberapa hari yang lalu ada seorang wanita menyangkanya orang lain”


“Menyangka Rita orang lain?”


“Iya, wanita itu memanggilnya dengan nama Majorka, katanya Rita mirip sekali dengan keponakannya yang bersekolah di tempat kami”


“Apa benar mirip?”


“Menurut ku sih memang agak mirip, mungkin tingginya. Entahlah. Sampai sekarang saya sendiri belum bertemu dengan Majorka”


“Majorka, apa Anda menceritakan ini ke polisi?”


“Tidak, aku lupa. Karena mereka hanya menanyakan waktu terakhir aku bertemu dengan Rita”


“Bagaimana dengan para detektif?”


“Pertanyaan mereka hampir sama dengan yang polisi tanyakan”

__ADS_1


“Apa kamu memiliki foto Majorka?”


“kayaknya ada deh, sebentar ya? oh iya Anda mau minum apa?”


“Tidak usah repot! Saya kemari hanya ingin bertanya saja”


“Baiklah, sebentar ya, saya ambil ponsel saya dulu”


Sisca meninggalkan Daniel di ruang tamu sendirian. Beberapa menit kemudian Sisca kembali


“Ini dia, tante itu membagi gambar keponakannya kepada kami”


“Bisa kamu share ke saya, nomor saya..” Daniel memberikan nomor ponselnya


Sisca menshare gambar Majorka kepada Daniel


“Menurut mu apa mereka mirip?” tanya Sisca


“Hmm...mungkin kalau dari jauh memang agak mirip, tetapi menurutku wajah Rita lebih Asia kan?”


“Iya betul, tetapi menurut tante itu, tinggi badan Rita dan Majorka hampir mirip, bentuk wajahnya juga”


“Oh iya, berapa lama Majorka menghilang?”


“mungkin sekitar dua mingguan”


“Apa ada info lain yang kamu ingat?”


“Kayaknya sudah semua deh, nanti kalau ada yang aku ingat, aku akan menghubungi mu” ujar Sisca


“Baiklah, terima kasih banyak!” Daniel keluar dari rumah Sisca, kemudian dia menghubungi temannya


“Hai Ian!”


“Ya Niel?”


“Aku kirim wajah seseorang, namanya Majorka, katanya dia juga menghilang 2 minggu yang lalu, bisa kamu cek di data base?”


“Baik Niel, nanti aku kabari!”


“Terima kasih!” Daniel kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Esok paginya, ia pergi ke sekolah Rita untuk bertemu dengan kepala sekolah. Tetapi sayangnya kepala sekolah sedang keluar kota, sehingga ia hanya menemui wakilnya.


“Selamat pagi bu, perkenalkan saya Daniel. Saya dipercaya keluarga Rita untuk mencarinya”


“Selamat Pagi!, oh iya..iya Rita ya? orang Indonesia itu ya?”


“Betul Bu!”


“Kemarin beberapa orang juga meminta keterangan dari kami, tapi sayang kami tidak bisa membantu banyak apalagi kejadiannya di luar sekolah”


“Maaf bu, saya mendapat keterangan lain, apa ada siswi di sini yang menghilang juga?”


“hah? Masa sih? Kalau ada yang hilang pasti kami lebih tahu dibanding Anda kan?”


“Maaf bu, bisa dicek terlebih dulu, apa ada siswa di sini yang bernama Majorka?”


“Majorka? Apa Anda tahu nama lengkapnya?”


“Tidak tahu, tapi saya punya fotonya” Daniel memberikan foto Majorka yang telah ia print sebelumnya


“Hmm..sebentar ya?” Wakil kepala Sekolah menghubungi bagian administrasi, mereka datang beberapa menit kemudian dengan membawa laptop


“tok..tok” bunyi pintu diketuk


“Ya masuk!” ujar Wakepsek


“Pak Daniel, kenalkan ini pak Lohan, beliau administrasi bidang kesiswaan”


“Daniel!” ia menyalami pak Lohan


“Lohan! Apa Anda memiliki mentahan dari foto ini?” tanyanya


“Ada pak, sebentar!” Daniel mengirimkan foto Majorka kepada Lohan


“Kami memiliki software pendeteksi wajah siswa dengan begini akan lebih mudah mencari siswa kami”


Foto Majorka di scan lalu mulai dicocokkan dengan data base kesiswaan sekolah, yang muncul adalah wajah Rita


“Lho, ini Rita Darmawan kemiripan 90% ” ujar Lohan


“Bagaimana dengan siswi bernama Majorka, apa ada siswi kelas 1 SMU bernama Majorka?” tanya Daniel


“Tidak ada, apa Anda tahu nama orang tuanya?”


“Sebentar, kalau gak salah Vladimir Putin” Daniel membaca pesan dari Sisca yang mengingat nama ayah Majorka


“Vladimir Putin? Apa Vladimir Putin yang itu?” tanya Wakepsek


“Bukan!, hanya namanya saja yang sama” jawab Daniel


Lohan kembali mengetikan nama Vladimir Putin ,


“Tidak ada!”


“Berarti orang itu sudah berbohong!” gumam Daniel


“Siapa yang berbohong?” tanya Wakepsek


“Beberapa hari yang lalu seorang wanita mendekati Rita dan menyangkanya sebagai Majorka. Apa orang mudah keluar masuk sekolah ini tanpa ijin?” tanya Daniel


“Sekolah ini luas, mungkin setelah ini kami akan lebih memikirkan keamanan siswa-siswa kami” ujar wakepsek


“Bagaimana dengan CCTV sekolah bu? Bisa saya melihat CCTV sekolah empat hari yang lalu?” tanya Daniel


“Hmm...sebentar!” Wakepsek memanggil kepala keamanan sekolah


“Ronie, ini pak Daniel. Beliau ingin melihat CCTV 4 hari yang lalu, apa masih ada?”


“Masih bu, kebijakan sekolah menghapus setelah satu minggu”


“hufft....syukurlah” gumam Daniel lega


Daniel diajak ke ruangan security di situ ia mencari rekaman CCTV di halaman depan perpustakaan tempat Rita biasanya beristirahat. Daniel memperhatikan gerak-gerik wanita itu yang selalu membelakangi CCTV.


“Wanita itu selalu membelakangi kamera” ujarnya kesal


“Sebentar, kita cari dari sudut lain” ujar Ronie, ia mulai mencari CCTV terdekat dengan perpustakaan


“Ah sayang sekali, mereka terlalu jauh!” ujar Ronie


“Sebentar!, jangan dipindahkan dulu”Ujar Daniel. Ia melihat beberapa siswi sedang selfie


“Anda bisa mengcapture foto anak-anak ini?” tanya Daniel


“Tentu!” Ronie melakukan permintaan Daniel, beberapa saat kemudian Daniel kembali ke ruangan wakepsek.Di situ masih ada pak Lohan


“Bagaimana pak Daniel, anda mendapatkan wanita yang Anda cari?” tanya Wakepsek


“Wanita tersebut selalu membelakangi kamera bu, jadi sulit bagi saya untuk mengenali wajahnya”


“Lalu bagaimana?”


“Pak Lohan, bisa kah Anda memanggil siswi-siswi ini?” Daniel memberikan foto yang ia dapatkan dari CCTV di depan perpustakaan


“Oh ini, sebentar!” Lohan kembali memasukkan gambar kedua siswi ke software di laptopnya, beberapa menit kemudian keluar hasilnya


“Erika dan Debie, siswi tahun pertama” ujar Lohan


“Bisa panggil mereka kemari bu? Dan meminta mereka membawa ponsel mereka?”


“Baiklah, sebentar ya?” wakepsek memanggil OB dan memintanya untuk memanggil Erika dan Debie ke kantor wakepsek dengan membawa ponsel mereka. Selama menunggu, wakepsek mengatakan sesuatu


“Kami akan membantu sebisa kami untuk mencari Rita pak Daniel, apalagi Pak Darmawan sudah lama menjadi donatur bagi sekolah kami. Saya harap Anda tidak lupa menceritakan kepada pak Darmawan tentang kontribusi kami dalam mencari cucunya”


“Tentu bu, oh iya, menurut Anda bagaimana sikap Rita di sekolah?” tanya Daniel


Wakepsek melihat ke arah Pak Lohan, lalu ia menjawab


“Rita lebih tertutup dibandingkan kakaknya Andi. Dulu Andi sangat aktif di sekolah ini, selain menjadi ketua OSIS, ia juga menjadi ketua klub robotic yang beberapa kali memenangkan penghargaan. Sedangkan Rita, jujur saja, sebelum kejadian ini saya tidak mengenalnya. Bahkan saya baru tahu kalau ternyata dia adalah adik kandung Andi” ujar pak Lohan


“Rita selama ini bersekolah di Indonesia, sepertinya ia agak sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan sekolah di luar Indonesia” Ujar Daniel memberikan alasan


‘tok..tok..


“Masuk!”

__ADS_1


Kedua siswi masuk dengan langkah malu-malu


“Ibu mencari kami?”


“Iya, Erika, Debie apa kalian membawa ponsel ?”


“Iya bu, tetapi kami tidak...” ujar Erika ketakutan


“Bukan begitu” Daniel buru-buru memotong


“Empat hari yang lalu kalian melakukan selfie di depan perpustakaan?” tanya Daniel


“Hmm..apa iya?” Erika melihat ke arah Debie, mereka tampak malu ditanya oleh seseorang yang tampan


“Apa saya boleh melihat foto selfie itu?” tanya Daniel


Erika dan Debie segera membuka gambar di galery ponsel mereka dan mencari foto mereka empat hari yang lalu.


“Ini?” Erika memberikan ponselnya, Daniel melihat gambar di belakang Erika. Syukurlah ponsel Erika yang terbaru sehingga ketajaman gambar dapat diperbesar dan jelas


“Bisa ini kirim ke saya?” Daniel memberikan nomornya


Debie melihat gambar itu


“Oh itu, aku juga memotonya” ujarnya


“Memoto siapa?” tanya Daniel


“Ini, kak Rita dan kak Sisca” ujar Debie, sambil memberikan foto Rita, Sisca dan seorang wanita yang sedang makan di kantin sekolah


“Kenapa kamu memfotonya?” tanya Wakepsek penasaran


“Apa Anda tidak tahu bu? Kak Rita itu juara taekwondo tingkat Asia, Saya mengikuti klub taekwondo di sekolah ini karena terinspirasi olehnya


“Oh ya? kenapa kami gak tahu tentang itu?” tanya pak Lohan


“Kak Rita sangat rendah hati, dia bilang tidak mau menyombongkan prestasi yang sudah lama ia raih, sudah pensiun katanya” ujar Debie bercerita, Erika melihat ke ponsel Debie


“Oh ini kak Rita yang masuk majalah Forbes itu kan?” ujar Erika


“Iya betul!”


“Kamu kapan ngobrol saya dia? Kok saya gak diajak?” protes Erika


“Waktu itu kamu masih di kelas menyelesaikan tugas, kak Rita membantuku mengambil sesuatu di atas pohon. Dia pandai memanjat lho!” ujar Debie


“Ah kamu! Seharusnya bilang dong kalau sudah ngobrol sama selebriti!” ujar Erika ketus


“Hei kalian jangan ribut di sini!” Wakepsek memperingatkan


“Kirim ke aku gambar ini!” ujar Daniel, Debie mengirim foto tersebut


“Terima kasih !” ujar Daniel tersenyum


“Sama-sama!” ujar Erika dan Debie kompak, mereka sangat senang membantu pria tampan


“Kalian boleh kembali ke kelas!” ujar pak Lohan


“Baik Pak, permisi!” keduanya pergi meninggalkan ruang wakepsek


“Jadi bagaimana pak Daniel”


“Ini kemajuan sangat berarti bu, saya akan menyampaikan kerjasama kalian kepada pak Darmawan” ujar Daniel tersenyum, wakepsek mengangguk senang. Daniel segera meninggalkan sekolah Rita, kemudian ia pergi ke kantor interpol cabang Auckland untuk bertemu Ian


“Hei An!”


“Niel!” mereka bersalaman


“Aku mau minta tolong!” ujar Daniel


“Tentu!, apa yang bisa aku bantu?” tanya Ian


“Bisa tolong cari orang ini?” Daniel memberikan foto wanita yang disebut Tante oleh Sisca dan Rita


Mereka memasuki ruangan, Ian memproses gambar yang dikirim Daniel. butuh waktu untuk memproses data tersebut


“Jadi Niel, kamu betah menjadi karyawan biasa?” tanya Ian


“Ya, begitulah, setidaknya aku lebih aman” jawab Daniel


“Apa ada lowongan?” tanya Ian


“Kamu mau pindah?”


“Enggak sih, aku hanya ingin punya cadangan pekerjaan, kamu tahu dia di sini memproses data sangat membosankan!” ujar Ian


“Apalagi aku, kamu masih suka ke lapangan kan? Kalau aku harus berurusan dengan klien dan menjamin keinginan mereka terpenuhi”


“Oh ya? posisi mu apa?”


“Manajer pemasaran”


“Ohhh...pantas, tentu tugas mu membuat klien senang ya?” tak berapa lama hasilnya keluar


“Catherine Richard, umur 35 tahun, alamat 21st main street Portland”


“Apa dia punya catatan kriminal?” tanya Daniel


“Dia pernah dicurigai atas kematian suami pertamanya, tetapi dibebaskan karena tidak ada bukti” Ian membacakan berkas Catherine


“Apa dia punya saudara dekat atau keponakan?” tanya Daniel


“saudara perempuan, bernama Sanra Edison, memiliki satu putri bernama Majorka”


“Bingo! Itu dia!” Daniel kelihatan senang


“Eh? Tapi Sanra sudah meninggal!”


“Tapi Majorka seharusnya diasuh Catherine kan? Bisa tolong print ?”


Ian memprint informasi Catherine


“Eh, apa bisa kamu cek ke imigrasi tentang WNA bernama Catherine?” tanya Daniel


“Tentu!” Ian menelpon seseorang di kantor Imigrasi Auckland


“Catherine sudah kembali ke negaranya, dua hari yang lalu”


“Apa dia bersama seseorang?”


“Tidak, di sini keterangannya ia kesini untuk seminar tentang Anggrek selama beberapa hari”


“hmm...jadi dia kembali ke Portland ya?” gumam Daniel


“Eh Ian, apa ada teman kita yang bertugas di AS?” tanya Daniel


“Ada!, tapi sepertinya kamu akan kesulitan”


“Kesulitan? Kenapa?”


“Kamu ingat teman seangkatan kita yang bernama Fred?”


“Fred? Hmm..aku gak ingat”


“Masa? Dia sangat tergila-gila pada mu! Dia mengejar mu Niel!”


“Fred? Seingat ku dulu yang mengejar ku itu bernama Mona?” Daniel mengingat-ingat


“Iya! Wah kamu gak tahu ya? Mona itu mengganti identitasnya menjadi Fred. Dia melakukan operasi pergantian kelamin, dari Mona menjadi Fred. Dulu di sini sempat heboh tentang identitasnya!”


“Oh Mona sudah menjadi Fred, berarti aku aman dong? “


“Belum tentu, desas-desus mengatakan dia operasi karena patah hati ditinggal kamu Niel!”


“Ah! Kamu jangan bikin aku takut!” ujar Daniel


“hahaha...gak mungkinlah dia menyakiti kamu Niel!” ujar Ian tertawa geli


Sebelum pulang Daniel memberikan Ian tiket pertandingan hokkey kesukaan Ian


“Nih, tiket pertandingan pembukaan! Susah lho dapatinnya!”


“Ah terima kasih niel! Kok kamu bisa dapat? Aku mencarinya sudah habis terjual” Ian menerima 2 buah tiket pertandingan laga premier


“Ya aku kan punya klien yang membantu ku!, oke An, aku pergi dulu ya!”

__ADS_1


“Oke!” Ia tersenyum senang sambil memandangi dua tiket pertandingan yang sudah lama ia incar


_bersambung_


__ADS_2