Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 288: Kisah Metha 2


__ADS_3

Sudah satu minggu Metha berada di Auckland.


“AAA!!!Michel! buka mulut mu!” Metha menyuapi kedua anak kembarnya Michele dan Michelin


“Nooo mama!” tolak Michele


“Kita gak main ke taman lagi kalau gak makan!” ancam Metha


“huaaa!!!!” Michel menangis, disusul oleh kembarannya


“Hei kenapa kalian menangis?” tanya Andi, dia menghampiri kedua anak kembar berambut keriting berusia 15 bulan itu


“Mereka gak mau makan!” keluh Metha


“Sini Andi yang menyuapi Tan!” Andi menghadapkan kedua anak itu lalu dengan dua sendok di tangannya


“ngeeeengggg.....kapal berangkat!!! Membawa makanan siapa mauuu??? Tanya Andi dengan sendok yang bergerak seolah pesawat terbang.


“hahahaha....tiba-tiba kedua anak itu membuka mulutnya, dengan mudah Andi menyuapi mereka”


“Aaammm!!!! Good boys!” puji Andi, Metha tersenyum


“Kamu pintar mengasuh anak Ndi!” puji Metha


“Ini latihan dari Ranna dan Raffa”


“Oh ya? mereka pasti kehilangan kamu ya?”


“Tante bertemu mereka di Swiss kan?” Andi menyuapi si kembar yang makan dengan lahap


“Iya!”


“Bagaimana mereka?”


“Lucu-lucu! Aku heran bagaimana Rita bisa membuat ketiga anaknya akur diam di meja makan, sementara kedua anak ku ini selalu bersikap memusuhi ku” keluh Metha


“Rita itu selalu menomorsatukan anak-anak Tan, walau ia sedang rapat sekalipun. Ketiga anaknya tahu sehingga sangat menurut pada maminya”


“Begitu ya?” Metha menatap kedua anaknya, ia menyadari selama ini ia tidak menjadi ibu yang baik bagi mereka.


“Apa sudah terlambat ya Ndi?”


“Maksud tante?”


“Supaya tante dekat sama anak-anak”


“Hahaha..tante lucu banget, mereka bahkan belum 2 tahun. Menurut Andi ini saatnya menjalin ikatan dengan mereka! Kalau sudah besar akan lebih sulit!”


“iya! Kamu benar ndi!”


Tak lama kemudian, mamanya Metha datang menghampiri, ia membawa sepucuk surat


“Apa ini?” ia menaruh surat itu di hadapan Metha dengan kasar


“Kita main di luar yuk!” Andi mengajak kedua keponakannya pergi dari ruang makan


“Mama kita main keluar dulu ya?” Andi menggunakan suara anak kecil


“Iya, terima kasih Ndi!” ujar Metha tersenyum


Setelah Andi pergi meninggalkan ruang makan, Metha membuka surat itu


“Oh ini” isinya surat panggilan sidang pengadilan untuk perceraian


“Maksudnya apa? kamu sungguh-sungguh mau bercerai dengan Francois?” tanya Sinta dengan nada tinggi


“Iya ma, Metha mantap bercerai”


“Plak!!!” Sinta menampar pipi anaknya


“Kenapa harus bercerai? Kenapa? Kamu itu dapat jodohnya susah! Begitu dapat malah mau bercerai!”


“Tapi Ma, Francois yang...”


“Ini apa lagi, yang mengajukan ini pengacara yang dikuasakan oleh Rita? Apa hubungannya sama Rita?” teriak Sinta


Darmawan yang baru tiba dari kandang kuda mendengar teriakan Sinta, lalu ia datang ke ruang makan


“Ada apa ini? Apa kalian bertengkar?” tanyanya sambil memberi kode untuk minta diambilkan minum oleh staf dapur


“ini baca!” Sinta memberikan surat panggilan sidang kepada Darmawan, sejenak ia membacanya lalu memberikannya lagi kepada Metha


“Kamu sudah mantap bercerai Metha?” tanya Darmawan


“Sudah pa, beberapa hari lalu Rita membantu Metha menyewa pengacara untuk mengurus perceraian dan mengambil hak asuh anak-anak”

__ADS_1


“Rita yang melakukan?” tanya Darmawan


“Iya! Cucu kesayangan mu itu ikut campur urusan rumah tangga tantenya. Kenapa ya? apa dia mau pamer bahagia gitu? Apa dia senang tantenya jadi janda? Dia gak tau apa suaminya sudah bikin rugi perusahaan kakeknya!” Sinta berbicara tanpa henti.


“Sinta Diam!” hardik Darmawan


“Bukan begitu Ma, Rita mendengar ancaman Francois pada Metha yang akan membawa anak-anak pergi jika Metha menceraikannya. Jadi dia segera menelpon pengacara Om Sugi untuk mengurusnya”


“Anak sok tahu! Sampai melibatkan kak Sugiyono segala! Apa kamu gak malu aib keluarga sampai keluar?” teriak Sinta


“Kamu mau diam atau, aku gak akan ngomong apa-apa lagi sama kamu?” ujar Darmawan dengan nada tegas. Sinta langsung terdiam.


“Apa yang memantapkan kamu untuk bercerai?” tanya Darmawan pada Metha


“Francois berselingkuh pa!”


“Selingkuh? Kamu bisa membuktikan?”


“Bisa pa! Bahkan terakhir Metha mengusirnya, Francois membawa pacarnya menginap di rumah Metha”


“Hah? Dia membawa pacarnya tinggal di rumah mu?” tanya Sinta terkejut


“Betul ma! Sudah hampir seminggu! Para staf rumah menjadi saksinya!”


“Seminggu? Selama seminggu itu kamu kemana?” tanya Darmawan


“Metha menginap di rumah Rita pa!”


“Ngapain kamu sampai nginap di rumah orang!” hardik Sinta


“Untuk menenangkan diri ma, sejak melahirkan, Metha mengalami insomnia parah. Dokter meresepkan obat supaya Metha bisa tidur. tetapi walaupun sudah minum obat Metha tertidur hanya 1 jam”


“Lalu, kamu ke rumahnya Rita dan kamu tidur nyenyak begitu?” ujar Sinta dengan nada sinis


“Benar ma, Metha tertidur hingga 5 jam tanpa bantuan obat.”


“Mungkin Rita memberikan sesuatu di minuman mu!” ujar Sinta lagi


“Jadi Metha menurut mu, kenapa kamu bisa nyenyak tidur?” tanya Darmawan


“Metha merasa aman dan nyaman pa. Sama seperti Metha tidur di rumah ini. Otak Metha bisa beristirahat”


“Jadi kamu siap menghadapi persidangan lusa?”


“Siap Pa!”


“Terima kasih pa!” Metha mencium tangan Darmawan. Mendengar perkataan Darmawan, Sinta semakin marah


“Apa-apaan ini Dar? Metha itu anak ku! Kamu tidak berhak melakukan apa-apa untuknya! Aku yang berhak menyuruhnya!”


“Memang! Aku tidak melakukan apa-apa untuknya, aku hanya mendukungnya! Apa aku salah?”


“Tapi kamu mendukungnya menjadi janda! Anak-anaknya masih kecil! masih butuh peran papanya!” teriak Sinta


Seorang pelayan datang membawa sebuah amplop coklat dan memberikannya kepada Darmawan


“Terima kasih!, nih! kamu lihat ini!” Darmawan memberikan amplop coklat kepada Sinta, isinya berupa foto-foto Francois bersama selingkuhannya


“Apa kamu yakin orang semacam ini bisa menjadi contoh yang baik untuk cucu mu? Dia bahkan mengajukan permintaan tes DNA ketika si kembar lahir, artinya dia tidak mempercayai bahwa si kembar itu anaknya! Rita benar! Si kembar harus diselamatkan dari bapak macam itu!” ujar Darmawan geram


Sinta melihat foto itu satu per satu,


“Apa kalian tidak bisa rujuk saja nak? Kamu masih sayang sama Francois kan? Dia gak pernah memukul kamu kan? Kamu bisa membuat pacarnya pergi, atau biar mama yang bicara pada mamanya Francois!”


“Gak usah ma! Metha sudah mati rasa pada Francois!”


“Jangan nak! Jangan tolonglah! Menjadi janda itu menyedihkan!”


“Hei Sinta! Kamu apa-apaan? Kamu itu ibunya, seharusnya kamu mendukung keputusan putri mu! Hatinya hancur dengan perilaku suaminya! Mungkin suaminya tidak memukulnya secara fisik tapi melukai secara psikis! Itu lebih berbahaya tahu!” hardik Darmawan


“Kamu lelaki tahu apa tentang penderitaan perempuan! Kalau Cuma selingkuh, dulu ayah mu selingkuh dengan banyak perempuan Metha, dan mama berhasil membuatnya tetap bersama mama!”


“Iya! Kemudian dia hampir membuat mu mati! Apa kamu mau anak mu mati? Aku heran sama kamu Sinta! Aku bukan papa kandung Metha tapi aku tidak terima anak sambung ku dilukai! Tetapi kamu!! Ibu kandung malah menjerumuskannya! Apa kamu malu sama teman-teman arisan mu, heh! Aku kasih tahu ya? semua teman arisan mu itu gak ada satu pun yang bener! Aku mengenal suami mereka, bagaimana mereka melecehkan ART di depan istri mereka sendiri! Mereka itu perempuan bodoh! Kamu jangan ikutan jadi bodoh!” ujar Darmawan kesal, ia meninggalkan ruang makan


Sinta terdiam mendengar kata-kata Darmawan. Metha pergi ke kamarnya dan Sinta mengikutinya dari belakang.


“Apa kamu tidak bisa memberi kesempatan lagi padanya Met?” tanya Sinta


“Metha sudah lelah ma! Metha tidak bisa menerima lagi semua perlakuan Francois!”


“Yang penting dia tidak memukul mu nak! Tidak seperti ayah mu!”


“Hampir ma! Francois hampir memukul Metha dengan kayu ketika Metha berkelahi dengan selingkuhannya!”


“Kamu sampai berkelahi?”

__ADS_1


“Tentu ma! Bagaimana pun juga, Metha istri sahnya Francois”


“Bagus! Lalu?”


“Francois hampir memukul, tapi tidak jadi lalu ia mendorong Metha, dan memilih pergi bersama model itu. Dia baru kembali seminggu kemudian”


“Kurang ajar!” Sinta geram mendengar cerita Metha


“Suatu malam Metha tidak bisa tidur, lalu membuka botol obat tidur hampir saja Metha meminum semua pil dalam botol”


“Kenapa tidak jadi?”


“Notifikasi ponsel berbunyi, Rita memposting sebuah bantal putih di medsosnya. Bantal itu putiiihh sekali dan terlihat nyaman seperti memanggil Metha untuk datang.


Esok paginya Metha langsung ke rumah Rita, dan benar, bantal itu benar-benar nyaman.Metha tertidur berjam-jam tanpa bantuan obat!”


“Metha, apa kamu tidak membicarakannya dulu dengan Francois?”


“Maksud mama?”


“Iya, mengapa ia tidak berselera pada mu? Padahal dulu ketika mama seusia mu ayah tidak bisa sedikit pun melepaskan mama dari ranjang!”


“mama diikat di ranjang begitu?”


“Bukan! Maksud mama, ayah mu tidak mau melepaskan mama, bahkan ke toilet saja susah!” Sinta mengingat masa lalunya


“Mungkin selera Francois itu perempuan yang pendidikannya tidak terlalu tinggi. Kamu sih ngikutin kata papa mu, kuliah terlalu tinggi! Jadi gak menarik! Lelaki itu suka sama perempuan yang biasa-biasa saja!” tambah Sinta


“Tapi akhirnya ayah melukai fisik mama kan? Metha melihatnya sendiri, waktu itu mama mencegah ayah pergi dari rumah, aneh mama baru saja dihajar habis-habisan oleh ayah, tetapi mama tetap mempertahankannya


Sinta terdiam, ia menangis mengigat masa tersuramnya


“Mama hanya perempuan bodoh Metha, tidak pintar seperti kamu. Modal mama hanya tubuh dan wajah. Ketika ayah mu akan meninggalkan kita, mama panik. Siapa yang akan menanggung hidup kita”


“Tapi kondisi Metha berbeda dengan mama! Metha berpendidikan, punya karir yang bagus, harta hasil jerih payah sendiri jadi Metha tidak membutuhkan Francois ma!”


“Iya-iya mama tahu itu, tapi mama takut!”


“Takut apa ma?”


“Papa mu sudah tua dan sakit-sakitan, cepat atau lambat dia akan pergi meninggalkan kita. Pada saat itu tidak ada jaminan Andi atau Rita membiarkan kamu yang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka untuk tetap menjalani karir mu seperti sekarang!”


“Mama! Mereka bisa melakukannya sekarang! Kalau memang mereka berniat seperti itu! Andi dan Rita anak-anak yang baik. Apalagi Rita, mama tahu, dia segera menghubungi pengacara kakeknya begitu mendengar Francois mengancam Metha. Dia juga bilang, kalau saja dia tidak tahu hukum, Francois sudah dibuatnya babak belur seperti dia membuat Eric semaput!”


“Rita sungguh bilang begitu?”


“Sungguh ma, karena Rita pula Metha berani mengusir Francois ke jalan bersama dengan pacarnya!”


Sinta terdiam menatap wajah putrinya.


“hmm...apa di sana kamu bertemu dengan Daniel?” tanya Sinta


“Iya! Kami beberapa kali makan malam dan sarapan pagi bersama”


“Apa dia menanyakan mama? Eh maksud mama bagaimana kondisi eh penampilannya sekarang?” tanya Sinta menyelidik


Metha heran dengan sikap mamanya


“Dia tidak menanyakan mama” jawabnya ketus


“Ah sial!” umpat Sinta


“Daniel sibuk dengan pekerjaan barunya dan setiap malam ia bercinta”


“Setiap malam bercinta? Dengan siapa?”


“Dengan Rita ma! Metha mendengar percakapan mereka sebagai suami istri, candaan mereka, kemesraan, Metha tidak melakukan itu semua dengan Francois ma! Bahkan ia tidak menyentuh Metha sudah setahun!”


“Hah? Setahun? Kamu gak melakukan apa pun? Pakai baju seksi, atau memberinya obat atau apa gitu?” ujar Sinta


“Semua itu tidak mempan ma, Francois tidak tertarik pada Metha.”


“Seharusnya kamu belajar dari Rita bagaimana memuaskan suami!”


“Mama!! Mama itu toxic sekali! Papa benar! Seharusnya mama mendukung Metha!


Metha sedih ma! Metha hampir mengakhiri hidup! Tapi Metha gak berani, bagaimana anak-anak kalau Metha gak ada! Tolonglah ma...ngertiin Metha...huuuuuuu” Metha menangis kejar, seperti memuntahkan semua yang ia rasakan selama ini. Sinta terdiam, hatinya trenyuh melihat anak perempuan satu-satunya menangis.


Malam telah tiba, Metha tertidur nyenyak di kamar dengan si kembar. Sinta menemaninya. Ia memperhatikan anak dan cucunya, hatinya sedih pikirannya berkecamuk.


Hari sidang telah tiba, Metha ditemani oleh mamanya. Pengacara dari kakek Sugiyono sangat lihai, ia membuat pengacara Francois tidak berkutik. Bukti-bukti sah dan para saksi memberatkan Francois, hingga hakim memutuskan perceraian mereka dengan cepat. Hak asuh anak-anak jatuh ke tangan Metha, serta Francois diwajibkan memberi nafkah kepada kedua anaknya sebesar 10 juta Franc. Selain itu galeri Francois yang benar-benar miliknya harus dijual dan hasilnya dibagi dua untuk Metha.


“Hey! Dengar ya! kamu tidak akan kuijinkan menemui cucu ku, sampai kamu memberikan uang bulanan untuk mereka! Camkan itu!” ujar Sinta dengan nada galak, lalu meninggalkan Francois yang menangis selesai persidangan. Dia kembali menjadi miskin. Ia menatap kepergian Metha yang pergi meninggalkannya dengan wajah dingin.


Kisah Metha (End)

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2