Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 66: Eric dan Meta


__ADS_3

Di suatu pagi yang cerah...


Rita tidak pernah meninggalkan kebiasaannya setiap pagi setelah sholat Subuh. Ia berlari-lari kecil bolak-balik di teras kamarnya yang cukup luas. Ia melakukan beberapa tendangan dan pukulan, lalu melompat-lompat hingga keringat mengucur deras membasahi wajahnya.


"Pagi Rita! Wah rajin banget nih!" Sapa Andi yang sejak tadi memperhatikan Rita dari teras kamarnya. Kamar mereka bersebelahan, dan setiap kamar memiliki teras masing-masing.


"Pagi kak! Badan Rita kaku kalau gak digerakkan kayak gini"


"Biasanya Lo jalan pagi sama kakek ya?"


Rita melihat jam tangannya, pukul 6.30


"Ah iya, Rita mau jemput kakek, kita biasa jalan pagi"


"Gak usah Rit! Tadi malam kakek ada urusan, sekarang beliau di Paris, mungkin sampai seminggu di sana"


"Hah? Paris? Kapan berangkatnya?"


"Tadi malam, Lo udah tidur, jadi kakek pesan untuk nemanin Rita olahraga!"


"Kak Andi kuat gak? Kita jalannya jauh Lho!"


"Kita naik sepeda aja Rit, sama kog gerak-gerak juga!"


"Ada kak?"


"Banyak! Turun yuk, gue udah minta staf untuk siapin 2 sepeda untuk kita"


"Sebentar kak,Rita ganti baju dulu, basah karena keringat nih"


"Ya udah kakak tunggu di bawah ya!"


Setelah berganti pakaian, Rita turun ke bawah, Andi telah menunggunya dengan sepeda.


"Kita ke mana kak?"


"Ke danau yuk!"


"Ada danau di sini?"


"Ada dong,sungai juga ada."


"Wahh..luas sekali tanah kakek ya?"


"Begitulah, ayo Rit mumpung matahari belum tinggi!"


Mereka menikmati pemandangan di sekitarnya


"Ayo kak cepetan lama amat ngayuhnya!"


"Ini tanjakan tahu! Jangan disamain sama Lo dong, gue kan lemah nih!"


"Kak Andi cuma malas bergerak, kalau rajin pasti gak gampang capek. Kakek saja yang sudah tua masih kuat mengayuh"


"Siapa bilang malas gerak?" Sanggah Andi sebal


"Kakek yang bilang, Andi terlalu terpaku sama kondisi badannya, padahal kalau mau sehat ya harus banyak gerak"


"Kakek cerita apa aja sama Rita?" Andi kepo


"Kakek bilang suka kesal sama kak Andi yang lebih senang di Jakarta di bandingkan temani kakek di sini, beliau kesepian"


"Kakak lebih kesepian, kalau kakek tiba-tiba pergi bisnis kayak gini, kakak diaamm aja di rumah, teman gak ada. Sekalinya ada maunya pada memanfaatkan kakak, jadi males ah! Mending di Jakarta banyak hiburan, apalagi waktu di rumah ayah, kakak senang banget deh"


"Yahh kondisi kita sama kak, Rita juga sering ditinggal kerja ayah"


"Tapi setidaknya Lo punya banyak teman Rit"


"Yaahh"Rita hanya melengos menanggapinya


"Rita belum nelpon Ayah dan teman-teman? Sudah setahun, masih belum memaafkan?"


"Rita bingung kak, harus bagaimana sama Ayah. Seumur hidup Rita hanya beliau yang Rita tahu sebagai Ayah, ditambah ayah sudah punya keluarga baru, Rita cuma orang luar" ujar Rita dengan nada sedih

__ADS_1


"Kalau gank Lo gimana?"


"Rita takut mereka marah karena Rita gak ngabarin tentang keadaan Rita sekarang."


"Nanti deh gue tanyain sama Dewa, siapa tahu dia dengar kabar Lisa cs."


"Kak Andi ingatnya sama Lisa?"


"Iya, selain wajahnya imut, anaknya tenang sudah gitu wawasannya luas, kakak kagum"


"Lisa juara kelas terus tuh kak, tapi sayang dia sudah tunangan."


"Hah? Sama siapa? Waahh keduluan nih!"


"Sama tetangganya yang juga kakak kelas. Memangnya Kak Andi naksir Lisa?"


"He eh,..Kowi juga cantik tapi bule banget ya, out of my league deh."


"Yah kakAndi gak percaya diri sih, padahal selera Kowi gak terlalu tinggi. Mantannya juga gak ganteng-ganteng amat."


"Berarti kakak gak ganteng dong?" Canda Andi


"Bukan begitu maksud Rita Kak!"


"Eh Rit, inget mobil itu gak?"


Sebuah mobil sport berwarna kuning berjalan kencang melewati mereka


"Samber gledek! Inikan bukan arena balap ngapain ngebut!" Ujar Rita kesal, iya mengayuh sepedanya berusaha mengejar mobil itu


"Eh Rit, ngapain? Gak bakal terkejar!" Teriak Andi, tapi sepertinya Rita tidak mendengar teriakannya.


Mobil itu berhenti tepat di arena pacuan kuda. Sang pengemudi keluar dari mobil dan membuka kacamatanya. Meta datang menghampirinya. Ia masih berpakaian berkuda, kebiasaannya jika banyak pikiran ia lampiaskan dengan berkuda. Tampaknya pengemudi mobil sport itu mengerti kebiasaan Meta.


"Itu mobil lucknut, awas deh!" Ujarnya pada diri sendiri ,nafasnya memburu.


Meta bertengkar dengan pengemudi mobil yang ternyata adalah Eric.


"He's your nephew? Oh i get it, fine if you don't want to marry me, fine if your step dad interfere our relationship, but you're too much to send kids spying me!"


"Wait a minute who's spying on you? My step dad what? He never interfere my life. I don't want marry you because you're cheating on me! I knew it!"


("Sebentar! Siapa yang memata-matai? Kenapa sama ayah tiri gue? Beliau gak pernah ikut campur urusan gue. Alasan kenapa gue gak mau nikah sama elo karena lo selingkuh ! Gue sudah tahu!") Tampik Meta


"That's a lie! How you knew?"


("Itu boong, bagaimana lo tahu?" Eric ngeles


"You cheated with my best friend! , she told me everything you're bastard!"


("Lo selingkuh sama sahabat gue, dia cerita semuanya ke gue! Dasar brengsek!!")Meta marah dan menampar Eric


"That's not my fault she seduced me!"


("Bukan salah gue, dia yang menggoda gue!")Eric mengelak dari tamparan Meta


"Look Eric, i don't want to meet or look your face anymore, just leave me for good!"


(Dengar Eric, gue gak mau ketemu, lo lagi, tinggalin gue selamanya!") Meta mengusir Eric


"We've been together almost three years, sweety! I know i've made mistake! But only you in my heart! What i did with Sheila just accidentally! She mean nothing to me Meta, please, don't break up with me! I'd die if live without you!"(kita sudah bersama selama tiga tahun, gue tahu sudah berbuat kesalahan tapi cuma Lo yang ada di hati gue. Yang gue lakukan dengan sheila itu tidak di sengaja, dia gak ada artinya buat gue, tolong Meta jangan putus ,gue bakal mati kalau hidup tanpa lo!") Eric memohon


"Then die Eric!"(mati aje Lo!" Meta pergi meninggalkan Eric


"Meta! You're kidding right? Sweety? (Lo bercanda kan? Sayang?)Eric berteriak membujuk Meta, tapi teriakannya tidak digubris Meta. Rita melihat pertengkaran mereka dari jauh, Meta berjalan melewati dirinya, Eric ditinggal sendiri. Ia merasa kesal dan menendang-nendang benda-benda di sekitarnya. Eric masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan arena pacuan.


Rita menghampiri Meta.


"Tante!"


Meta memalingkan wajahnya, ia berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Rita!, Tante dengar kemarin kalian menangkap basah pencuri?"ujar Meta dengan suara parau.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Rita berbunyi


"Sebentar tante, kakAndi nelpon."


Meta menunggunya dengan sabar.


"Iya kak, Rita sama tante Meta di sini, kakAndi balik saja, makasih ya sudah nemenin olga!" Rita tersenyum dan menutup ponselnya.


"Kemarin bukan saya yang membongkar pencurian, tapi kakAndi yang membantu mengumpulkan bukti-bukti, saya cuma mencegah Eric memukul pramuniaga di sana, btw tante kog dia bisa tahu tentang keponakan tante?"


"Eric mengenali Andi, tadi malam dia menelpon marah-marah. Tante mengecek kebenarannya di butik, ternyata yang salah Eric, tante juga jadi tahu tentang perempuan yang bersamanya."


"Ooo, berarti benar dia mengenal kakAndi,tapi pura-pura gak kenal" gumam Rita


"Rit, please jangan ceritakan peristiwa ini ke papa eh maksud tante, kakek. Tante gak mau dengar I told you So!, Sebal!" Ujar Meta, tertawa getir lalu perlahan air matanya menetes. Melihat hal tersebut Rita memeluk Meta untuk menenangkannya.


Meta menangis kejer di pelukan Rita.


"Terimakasih Rit, kita belum kenal dekat tapi kamu sudah jadi bahu untukku bersandar" ujar Meta menghapus air matanya.


Rita hanya mendengarkan keluh kesahnya


"Usiaku sudah 35 tahun ini, teman-temanku sudah hampir semuanya berumah tangga, punya anak yang lucu, suami yang mendampingi. Aku? Just one boyfriend, and i can't keep him!" Keluhnya


"Tapi Tante, lebih baik tahu sekarang perilaku calon tante,daripada terlanjur menikah dengan orang yang salah? Pernikahan seharusnya blessing bukan curse (kutukan)" ujar Rita


Meta melihat Rita dengan pandangan heran bercampur kagum, anak remaja ini pemikirannya lebih dewasa dari dirinya.


"Yah mungkin kamu benar Rit, terus gimana dong? Sudah 35 nih!" Meta mulai mewek lagi


"Mungkin cara berpikirnya yang diubah tante, jangan berpikir 'sudah 35' tetapi 'baru 35', dengan begitu tante terbebas dari beban."


"How old are you Rita?"


"17!"


"I am envy you! You're so young!!" Ujar Meta, air matanya meleleh lagi.


"Mau tukeran tante?" Canda Rita


"Hahaha, emang bisa?"


"Coba saja?, Menurut Rita sih age just number tan. Rita punya teman yang orang tuanya ribuut terus. padahal keduanya menikah dengan cinta dan punya anak 3. Tapi mama temanku sering curhat ke dia, seandainya dulu ia tidak mengorbankan pendidikannya untuk menikah dengan suaminya sekarang, mungkin ia akan lebih bahagia. Bisa mandiri, cari uang sendiri."


"Jadi maksudnya?"


"Jangan mengukur kehidupan kita dengan orang lain karena jalan hidup orang berbeda-beda, syukuri dan jalani, benar gak tante?"


"Aku makin kesal karena dinasehati teenager" ujar Meta tersenyum.


"Jadi tante, acara untuk menyambut Rita bagaimana?" Tanya Rita memecah suasana


"Ah iya, butik mengirimkan pakaian yang kamu beli kemarin."


"Bagus gak tan?"


"Bagus sih, tapi gak sesuai tema"


"Emang ada temanya?" Tanya Rita bingung


"Ada dong, kakek itu kalau bikin acara harus ada temanya, dress code, beliau senang warna pakaiannya sama walau modelnya beda."


"Warna temanya apa?"


"Putih gading"


"Yaahh..beli lagi dong, kakek gak ngomong apa-apa kemarin" protes Rita.


"Kita shopping hari ini Rit! Lumayan buat healing!"


"Beneran Tante? Oke, Rita balik ke rumah dulu."


"Iya, nanti tante telpon kalau sudah siap!"

__ADS_1


Rita berpisah dari Meta, ia mengayuh sepedanya dengan hati riang, tak disangka dia bisa menjadi dekat dengan tante yang baru saja dikenalnya.


__ADS_2