
Darmawan tergesa memasuki jet pribadinya
“Aku harus segera pulang kalau tertunda lagi, Andi bisa ngamuk dan betul-betul meninggalkanku sendirian di Auckland!” gumam Darmawan dalam jetnya, ditunggu hingga 15 menit, pesawat tidak kunjung berangkat. Seorang pramugari menghampirinya
“Maaf Pak, sepertinya kita tidak bisa berangkat menggunakan pesawat ini” ujarnya sopan
“Kenapa?” tanya Darmawan heran
“Mesin sebelah kanan rusak, sepertinya karena kemasukan burung yang lewat ketika kita berangkat ke Paris minggu lalu.”
“Apa kalian tidak mengeceknya setelah kejadian? Itukan seminggu lalu? Panggil manajer kalian!” ujar Darmawan gusar
Beberapa menit kemudian manajer pesawat datang, ia berkeringat karena stress. Darmawan sangat tidak suka dengan orang yang keringatnya mengucur
“Apa kamu manajer pesawat ini?” tanyanya
“Betul pak!” jawabnya, keringatnya mulai menetes dari kening ke matanya
“Coba lap dulu keringatmu, jijik aku melihatnya!” suruh Darmawan
Pramugari memberikan handuk kecil kepada sang manajer. Setelah bersih, Darmawan kembali bertanya kepadanya
“Kamu tahu tanggung jawabmu pada pesawat ini kan? Kalau ada kerusakan atau gangguan seharusnya segera kamu tangani, hal ini menyebabkan perjalananku terhambat!” omel Darmawan
“Maaf pak, karena badai salju yang tidak kunjung henti, teknisi kita belum sampai di sini untuk memperbaiki pesawat ini!” jawab sang manajer
“Kamu kan bisa sewa teknisi dari sini! “ omel Darmawan lagi
“Masalahnya pak, pesawat ini masih baru, masih dalam asuransi, kalau kami menggunakan teknisi lain, maka kerusakan dikemudian hari karena perbaikan tersebut tidak ditanggung asuransi pesawat ini pak!” jawab Manajer
“Hmm...benar juga!” pikir Darmawan, ia melihat sekeliling pesawat, kemudian
“Baiklah, kalian lanjutkan pekerjaan, tolong keluarkan koperku, antar aku ke bandara, biarkan aku naik pesawat biasa!” perintahnya
Beberapa menit kemudian supir datang, dan mengantarnya ke bandara, ia diantar oleh asisten pribadi yang memesankannya tiket.
“Maaf pak, tiket kelas satu sudah terisi penuh, yang ada tinggal kelas ekonomi!” ujar sang asisten
Darmawan menghampiri loket
“Apa tidak ada pesawat lain menuju Auckland dengan kelas 1? “ tanya Darmawan
“Maaf pak, hanya tinggal pesawat ini saja yang menuju Auckland.” Jawab gadis penjaga loket
“Ya sudah, gak apa kelas ekonomi saja, 2 seat kan?” tanya Darmawan
“Maaf pak, baru saja kelas ekonomi juga sudah sold out!”
“Ah siall!!! Aku ini Darmawan masa gak ada pesawat yang mau mengangkut ku?” Darmawan memaki , ia kesal karena penerbangan kembali tertunda, ia akan menjadi bulan-bulanan Andi selama seminggu penuh. Makiannya menarik perhatian orang-orang sekitarnya.
“Ah maaf, apakah Anda bernama Darmawan?” tanya seorang lelaki menghampirinya
“Iya betul!, apakah kita pernah kenal sebelumnya?” tanya Darmawan, ia melihat ke arah dua lelaki dihadapannya, yang satu pakaiannya biasa, yang satu lagi mengenakan mantel panjang, usianya sekitar 45 tahun, sepertinya seorang pebisnis .
“Nama Anda Darmawan? Apakah anda kenal dengan Rita Darmawan?” tanya lelaki bermantel panjang.
“Rita Darmawan? Rita? Hmmm...sebentar! bagaimana Anda mengenal Rita?” tanyanya curiga, setahunya Rita cucunya hanya anak gadis yang homeschooling di rumah, bagaimana ia mengenal kedua lelaki paruh baya ini? Pikirnya
“Ohh..jangan salah sangka Pak, kenalkan saya Charles dan ini kolega saya Simon, kami bertemu Rita di gunung. Begini saja pak, apakah anda ingin ikut bersama kami? Kami juga hendak menuju Auckland, saya baru saja mencharter pesawat. Saya pikir pesawat itu cukup untuk kita berempat!”
“Anda mau kita membagi biaya charternya?” tanya Darmawan
“Oh tidak perlu pak! Cukup ikut bersama kami saja!” ujar Charles ramah
Darmawan berpikir sejenak
“Hmm..baiklah toh kalian yang menawarkan!” lalu ia berjalan berdampingan dengan Charles. Di belakangnya Simon dan asisten pribadi mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Selama di pesawat, mereka terdiam, suasananya cukup aneh, hingga Darmawan membuka percakapan.
“Ehem...sebelum kita berangkat, aku ingin memastikan, apakah Rita yang kamu maksud itu Rita cucuku?” Darmawan membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Rita kepada Charles. Charles memberikan kepada Simon untuk meyakinkan
“Hahahaha! Sudah ku kira! Dunia sungguh sempit bukan!” ujar Charles kegirangan
“Maaf kenapa anda sesenang itu?” tanya Darmawan, ia tidak suka melihat lelaki paruh baya tersenyum melihat foto cucu perempuannya
“Maaf Pak! Aku sangat senang, Tadi aku mendengar nama Anda Darmawan, seketika itu aku teringat pada seorang gadis penyelamatku!” ujar Charles
“Penyelamat Anda? Bisa Anda ceritakan lebih rinci?” tanya Darmawan penasaran
Charles menceritakan petualangannya bersama Rita setelah tersapu air sungai dan perkelahiannya dengan dua orang penjahat di gunung, tentu saja ditambah bumbu-bumbu agar tampak hebat dan seru. Darmawan mendengarkan dengan cemas, ia tidak suka dengan petualangan yang mempertaruhkan nyawa.
“Anda tahu yang paling hebat?” tanya Charles
“Apa?” tanya Darmawan
“Aku tanya padanya, apa kamu mau hadiah karena sudah menyelamatkanku? Eh dia jawab, Kamu punya apa? Kita berdua terjebak di sini, sudahlah berhenti bersikap menyebalkan!”
“Hahahaha! Setiap aku mengingat kalimat itu aku terus tertawa, anak perempuan pemberani! Dia gak tahu siapa orang di depannya! Kalau dia mau bahkan aku bisa membelikannya pesawat ini!” ujar Charles sesumbar
“Benarkah? Anda mau membelikannya pesawat ini?” tanya Darmawan memicingkan matanya
“Yeahh..itu kalau dia mau! Tapi dia gak mau. Bahkan ketika kita berpisah dia Cuma bilang, Maaf sudah bersikap tidak sopan padamu, saya harap Anda tidak mengingat hal buruk tentang saya! Lalu dia pergi begitu saja!”
“Pergi kemana?”
“Polisi mengantarkannya pulang. Sedangkan aku kembali ke rumahku dan menunggu Simon kembali dari pengungsian!”
“Maaf dari tadi Anda langsung menceritakan tentang gunung, sebenarnya apa yang kalian lakukan di gunung?” tanya Darmawan
“Kalau aku dan Simon berniat paragliding di gunung bersama keponakanku yang lebih dulu di sana, begitu juga dengan Rita, Daniel dan apa ya dia menyebutnya, oh iya Om nya!”
“Daniel? Om? Ahh mereka meyembunyikan sesuatu dariku rupanya!” pikir Darmawan
“hmm..oh Rita menyebutkan kakaknya memberikan banyak perlengkapan survival, wah..kalau tidak ada perlengkapan itu kami sudah mati. Aku sangat penasaran, bagaimana Anda membesarkan anak perempuan yang mengagumkan seperti Rita?” tanya Charles
“Yeahh..itu..Rita dibesarkan oleh anakku yang lain. Ia berprofesi sebagai dokter militer, Rita sering diajak bertugas dengannya!” cerita Darmawan
“Oh iya, pantas, ia sangat tahu harus bagaimana ketika mobil kami terbentur pohon, ia memeriksa apakah ada gegar otak. Dugaannya betul, kami hanya mengalami benturan dan tidak berbahaya,..wah sungguh anak yang berbakat!” puji Charles lagi
“Terimakasih!, aku tidak tahu apa yang sudah cucuku lakukan, tetapi aku juga turut bangga padanya!” ujar Darmawan sungguh-sungguh
“Cucu? Anda terlihat masih sangat muda untuk seseorang yang sudah memiliki cucu. Maaf usia berapa anda menikah?” Tanya Charles
“Ah terimakasih, aku sudah 60 tahun. Aku menikah di usia 24 tahun! Aku tampak muda karena aku sering jadi percobaan skin care perusahaanku!” ujar Darmawan bangga
“Begitukah? Anda tahu Pak? Sejak aku bertemu cucu Anda, dan mengalami kejadian hampir mati, aku jadi berpikir untuk apa selama ini aku hidup?. Bisnisku berkembang pesat, hartaku banyak, aku pikir aku sudah banyak membantu orang dengan memberikan mereka pekerjaan, lalu apa yang kurang? Lalu aku berpikir, mungkin ini saatnya aku memiliki keluarga!”
“Oh Anda belum menikah?” tanya Darmawan kaget
“Usiaku baru 45 tahun, aku sibuk mengejar mimpiku. Selama ini aku tidak begitu memperhatikan perempuan sekelilingku, tapi begitu bertemu dengan cucu Anda, aku jadi ingin memiliki anak perempuan seperti cucu Anda!” ujar Charles merangkul bahu Darmawan akrab
“Apakah ini artinya kamu tertarik dengan cucuku?” tanya Darmawan
“Hah? Aku dan Rita? Tentu saja tidak, aku 45 tahun dia baru menginjak 17 tahun, ia lebih pantas menjadi anakku. Aku iri pada Daniel, kalau saja aku semuda dirinya, aku pasti mengejarnya!” ujar Charles, ia meminum jusnya
“Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita ingin berusaha!” ujar Darmawan tiba-tiba
“Apa Anda tidak keberatan cucu Anda memilki suami yang umurnya terpaut jauh?” tanya Charles
“Eh,..yah..terserah cucuku, aku tidak memaksanya, kalau ia suka, bagaimana aku mencegahnya? Aku bukan kakek yang kuno!”
“Ah tidak, aku hanya mengagumi keberanian dan sikapnya yang tegas. Jujur saja aku anak lelaki satu-satunya, kakakku keduanya perempuan, mereka semua sangat menyebalkan, manja dan tidak bisa apa-apa, itulah yang selama ini aku pikirkan tentang perempuan di otakku, hingga akhirnya aku bertemu cucu Anda,...wahhh..betul-betul ...luar biasa!” puji Charles lagi
“Mungkin pandangan Anda yang harus diperbaiki, banyak kog perempuan baik yang usianya dibawah anda sedikit!”
__ADS_1
“Benarkah? Apakah Rita mempunyai kakak perempuan? Aku mau dikenalkan olehnya!” ujar Charles bersemangat
“Aku punya anak perempuan, usianya tigapuluh lima tahun, mungkin suatu hari aku akan mengenalkan kau padanya!’ ujar Darmawan
“Boleh pak, aku akan sangat menunggu undangan Anda!” ujar Charles bersemangat
Perjalanan itu sangat menyenangkan sehingga waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya pesawat mereka tiba di Auckland
“Baiklah Charles, terimakasih atas tumpangannya! Aku sangat menghargainya!” Darmawan menjabat tangan Charles
“Tidak, aku yang berterimakasih, Anda sudah membesarkan seorang gadis hebat, salam saya untuknya ya? oh ini kartu nama saya, jika dikemudian hari Anda membutuhkan tumpangan lagi!” Charles memberikan kartu namanya. Darmawan juga memberikan kartu namanya, kemudian mereka berdua berpisah. Darmawan membaca kartu nama yang diberikan Chales kepadanya
“ Lucas Charles, CEO CITE Ent” kemudian ia meletakan kartu nama itu di dompetnya.
“Radian kamu harus membayar ini!” gumam Darmawan tersenyum jahil.
Sebulan kemudian...
Malam hari di kediaman Darmawan yang kedatangan besannya Sugiyono, mereka berencana mengadakan TWK di kediaman Darmawan. Sebelumnya Darmawan menghubungi Radian untuk datang ke rumah besar.
“Kak Sugiyono, kakak kenal keponakanku Radian ini kan?” tanya Darmawan, Radian menyalami Kakek Sugiyono
“Apa kabar pak!” sapanya
“Oh Radian, kamu sudah dewasa ya?” jawab kakek Sugi
“Radian ini yang akan mejadi sponsor pertandingan, ia yang bertanggung jawab atas hadiah senilai 1000 USD untuk pemenang!” ujar Darmawan
“Eh 1000 USD, pertandingan Apa?” Radian kebingungan
“Pertandingan antar cucuku, Radian. Rita dan Andi juga ikut serta.” Jawab kakek Sugi
“Hubungan denganku apa?” tanya Radian bingung
“Banyak!, selain kamu pernah mengajak Rita ke tempat berbahaya, kamu juga melibatkan Andi untuk ikut serta, dosamu banyak! Jadi harus kamu tebus!” ujar Darmawan tersenyum penuh kemenangan
Radian menutup matanya, ia pasrah hal yang ia takutkan terjadi, tapi ia tidak bisa mengelak lagi, ia menyanggupi untuk memberikan hadiah sebesar 1000 USD, kemudian ia pamit. Sebelum pulang ia menemui Rita dan Andi
“Apa kalian membuka rahasia?” tanyanya kesal
“Rahasia apa? Aku gak ngomong apa-apa, iya kan kak?” ujar Rita
“Kog Om Darmawan tahu kamu ke gunung?” ujar Radian kesal
“Kak Andi pernah cerita ke kakek?” tanya Rita
“Enggak! Bunuh diri namanya! Mungkin itu sebabnya kakek menyetujui TWK ini!” ujar Andi
“TWK ? apa itu?” tanya Radian
“Tes Wawasan Kecucuan, kami cucu-cucu keluarga Sugiyono akan dipertandingkan!” jawab Rita
“Yeah, Rita juara Tahun lalu!” ujar Andi
“Ooo...begitu ya? kapan dimulainya? Aku harus nonton dong, akukan sponsornya!” ujar Radian penasaran
“Dua hari lagi Om!, arenanya sedang disiapkan!” jawab Andi
“Aku harus nonton, oh iya Andi, Edward menghubungiku, katanya ia ingin kemari dua hari lagi. Mungkin kita bisa mengundangnya untuk menonton pertandingan?” tanya Radian
“silakan saja, aku pikir tidak ada salahnya makin banyak penonton!” ujar Andi.
“Baiklah, aku akan mengatakan padanya, siapa tahu Edward mengajak pamannya, iya gak?” ujar Radian, otak bisnisnya mulai berjalan lagi
“yah, mudah-mudahan!” jawab Rita dan Andi bersamaan
“Baiklah aku pulang dulu! See you!” Radian meninggalkan mereka berdua
__ADS_1
_ bersambung_