
Rita akan mengadakan pesta ulang tahun Rayya yang pertama sekaligus perpisahan dengan teman-teman klub karate Ranna dan Raffa.
"Michele perlu diundang gak ya?" tanya Rita pada Daniel
"Undang dong, gak enak kan kita berkali-kali maksa ibunya supaya anaknya bisa main sama Raffa. Datang syukur ga datang juga gak apa-apa yang penting kita sudah mengundang"
"Tapi nanti Raffa sedih lagi gimana?"
"Ya gak apa-apa, kamu jangan menganggap anak kita serapuh itu, dia kuat kok!"
"Kamu yang tanggung jawab ya kalau Raffa nangis lagi!"
"Iya, nanti aku yang dampingi, adek belom tidur ya?" Daniel yang sedang menggendong Rayya meminta Rita melihat Rayya dalam pelukan Daniel
"Hmm ..belum ..kamu sih, biarin saja di kasur nanti juga tidur sendiri ini malah digendong terus nanti dia manja lho!"
"Gak apa-apa ya dek, mumpung adeknya belum muncul, puas-puasin sama papi ya?"
"Hhhaa..." Rayya memindahkan posisi kepalanya
"Kamu kapan cek kandungan lagi?"
"Hmm... Minggu depan"
"Sudah empat bulan ya? Bisa kelihatan jenis kelaminnya"
"Kamu penasaran ya?"
"Menurutku sih laki-laki, karena bentuk perut mu bulat seperti telur"
"Masa? Tapi kan belum kelihatan jelas"
"Aku bisa lihat kok!"
"Yaa lihat saja nanti, kalau lelaki ya Alhamdulillah..Raffa ada temannya"
"Iya ya, jadi dua pasang"
"Aku kira kita gak jadi pindah lho, habis kayaknya prosesnya lama"
"Memang, masa kamu gak ingat, proses kita pindah ke sini saja ber bulan-bulan sejak aku ditugaskan?"
"Sebulan?"
Daniel menggeleng
"Enggak dong, tiga bulan lebih, aku kan bolak-balik ke sini, itu waktu kamu lagi hamil Rayya masa gak ingat?"
"Iya ya? Aku lupa, jarang memikirkan hal detail"
"Oh iya tema pesta adek apa?"
"Apa ya? Belom tahu, kalau Raffa aku bisa tanya langsung, kalau Rayya kan belum ngerti"
"Temanya Mr.incredible saja"
"Incredible?"
"Iya, mereka kan keluarga tuh, nanti kita pakai kostum merah-merah terus pakai kaca mata hitam deh"
"Iya ya, seru-seruan " Rita mencatatnya di tablet
"Kamu nulis apa?"
"Besok aku akan minta penjahit langganan membuat kostumnya "
"Gak nyewa saja?"
"Itu pakaiannya ketat, bahannya spandek seperti karet. Bentuk tubuh mu akan terlihat"
"Ya gak apa-apa, bentuk tubuh ku kan bagus"
"Tapi bagian sini juga akan kelihatan lho" Rita mengingatkan bagian bawah pinggang
"Oh iya ya, kalau sewa belum tentu kostum ibunya cocok sama kamu yang lagi hamil"
"Iya kan? "
"Lalu, kamu kapan ujian skripsinya?"
"Bulan depan, aku baru saja mengajukan persyaratan sidang, katanya baru dapat jadwal bulan depan"
"Bisa secara online kan?"
"Bisa, aku sudah menceritakan kondisi ku yang gak mungkin terbang jauh ke sana, jadi mereka mengijinkan untuk ujian online"
"Syukurlah, aku sempat khawatir harus antar kamu kesana, sementara tugas kantor masih bertumpuk menjelang kepindahan kita"
"Sudah tidur tuh Yang!"
Daniel segera membawa Rayya ke kamar bersama kakak-kakaknya. Ia mengawasi anak-anak yang sudah lelap tertidur, ia menciumi kepala mereka satu persatu lalu perlahan meninggalkan kamar mereka.
"Ahh... akhirnya.. sekarang giliran boboin yang di sini" Daniel tengkurap dan mencium perut Rita.
"Kalau suntuk di kantor aku kangen sama anak-anak, terutama Rayya"
"Anak paling kecil sih ya?" Rita mengusap rambut suaminya lembut
"Ya, kan sebentar lagi ada adeknya. Mudah-mudahan kehamilannya lancar ya?" Daniel mencium perut istrinya lalu beranjak dari ranjang
"Kamu mau kemana?"
"Belum sholat Isya, kamu sudah?"
"Sudah tadi, habis tadi ngantuk banget eh sudah sholat malah hilang ngantuk nya"
Daniel pergi ke toilet untuk berganti pakaian dan berwudhu sementara Rita sibuk memperhatikan CCTV tokonya yang dikirimkan oleh Erina.
"Kalau uang ku cukup aku mau beli pesawat jet ah, supaya bisa bolak-balik ke toko sesuka ku" gumamnya sambil mematikan tabletnya lalu pergi tidur.
Pagi harinya, suasana rumah cukup ramai karena Ranna berebut mainan dengan Rayya.
"Kakak, ngalah dong!" Pinta suster Erni
"Enggak! Ini mainan kakak, adek Ayya sudah punya mainan sendiri!" Ujar Ranna bersikeras, sementara Raffa tenang dengan sarapannya
"Adek kan cuma pegang saja kak!" Ujar suster Eva
"Enggak ah!"Ranna menarik mainannya hingga Rayya terjatuh di atas mainan
"Huaawaaaaa...!!"Rayya menangis kencang .
"Nah lho kakak, berdarah tuh bibir adek!" Suster Eva mengangkat Rayya dan menenangkannya. Eva tampak ketakutan karena Rayya merupakan tanggung jawabnya, dengan segera ia membawa ke toilet dan membersihkan luka di mulutnya.
Ranna ikut menangis ketakutan, ia tahu sudah melukai adeknya.
Suster Erni menenangkannya.
"Kakak sih pelit! Kalau gak pelit adek gak akan jatuh!" Ujar Raffa santai
__ADS_1
Ranna tampak kesal dengan ucapan Raffa.
"Kamu juga pelit! Kakak gak boleh pegang mainan kamu!" Jawabnya
"Boleh, tapi kakak seling taluh sembalangan jadi aku gak mau minjemin kakak lagi!" Jawab Raffa
Suster Eva datang bersama Rayya yang sudah berganti pakaian.
"Adek gak apa-apa?" Tanya suster Erni, dia melihat luka di bibir Rayya
"Sudah gak keluar darah, tadi aku sudah kasih obat sedikit" Eva tampak pucat ketakutan.
Ranna menghampiri Rayya, lalu memberikan mainannya
"Nih Dek, maaf ya?" Ujarnya. Awalnya Rayya mendorong mainan itu,
"Itu dek, mainannya dipinjamkan kakak, tadi adek mau kan?" Bujuk suster Eva
Akhirnya Rayya mengambil mainan itu dan menunjuk ke kursinya. Eva menaruh Rayya di kursinya. Ranna menghampiri Eva.
"Sustel, maafin kakak ya?"ujarnya dengan nada menyesal
Eva semula kesal dengan Ranna, tetapi melihat tatapan tulus anak 3,5 tahun itu, hatinya trenyuh.
"Iya kak, lain kali jangan rebutan sama adek ya? Kan kakak lebih besar dari adek jadi harus mengalah!" Ujar Eva menasehati
"Iya sustel!" Ranna memeluk Eva lalu kembali ke kursinya.
Beberapa saat kemudian Daniel turun ke ruang makan.
"Selamat pagi semuanya!!" Ujarnya Riang,
"Pagi PI..!!" Jawab anak-anaknya.
"Adek!"Daniel mencium pipi Rayya, kemudian ia melihat luka di bibir Rayya.
"Kenapa Rayya?" Tanyanya
"Tadi jatuh pak" jawab Eva takut
"Jatuh? Kok bisa jatuh?" Daniel mengangkat Rayya lalu bergegas membawanya ke Rita yang sedang istirahat di kamarnya.
"Sayang!" Panggilnya sambil menggendong Rayya
"Iya? Kenapa?"
"Lihat, Rayya luka bibirnya."
"Aaahh!" Rayya menolak menunjukkan lukanya
"Kenapa? Jatuh?" Rita mengambil Rayya
"Iya, kok bisa bengkak, parah gak?" Tanyanya panik
"Kamu jangan panik begitu, adek gak apa-apa ,dia tenang tuh. Eh sudah jam setengah 9 tuh, nanti kamu terlambat!" Ujar Rita mengingatkan, ia menenangkan Rayya.
"Ah sial! Aku sarapan di mobil saja!" Daniel berlari ke bawah lalu menuju dapur.
"Beatrice aku bawa untuk sarapan di mobil saja"
"Iya pak, sudah saya siapkan bekal Ini untuk sarapan dan ini untuk makan siang"
"Terimakasih!" Daniel langsung meninggalkan dapur dan menuju mobil yang sudah dibukakan pintu oleh Dickens.
"Pagi pak Daniel!"
"Pagi Dickens!"
Selesai sarapan anak-anak berangkat karate, kedua suster mengikuti mereka.
Rita turun ke dapur membawa Rayya.
"Pagi Beatrice!"
"Pagi Bu! Anda sudah enak kan?"
"Lumayan, agaknya mabuk karena produk bayi sudah hilang, ini Rayya gak bikin saya eneg"
"Syukurlah!"
"Tadi ada apa? Kenapa Rayya bisa luka?"
"Oh itu, tadi Rayya ingin mainan Ranna, mereka ribut. Ranna menarik mainannya hingga Rayya jatuh di atas mainannya"
"Para suster?"
"Mereka sudah mengingatkan Ranna, tapi namanya kecelakaan susah untuk dihindari"
"Hmm... suami ku sangat kesal tadi. Rayya itu kesayangannya"
"Iya, bisa saya lihat tadi keluar begitu saja"
"Memang kalau dia marah seperti itu"
"Orang yang jarang marah begitu marah memang menakutkan " ujar Beatrice
"Beatrice, menurut mu apa kedua baby sitter bekerja dengan baik?"
"Maksud Anda?"
"Yaaa...kalau anda supervisor nya bagaimana mereka?"
"Hmm... bagaimana ya? Mereka membuat kesalahan itu pasti karena membiarkan anak asuhnya terluka, masalahnya ini perkelahiannya antar anak asuh, jadi gimana ya? Kedua suster juga sudah mengingatkan Ranna tadi, tapi kelihatannya Ranna bersikeras"
"Begitu ya? Pusing Juga. Ranna versus Rayya...aku bersyukur Raffa gak ikutan ribut"
"Justru tadi Raffa yang membujuk Ranna hingga ia memberikan mainannya dan minta maaf ke Eva"
"Raffa?"
"Iya, anak itu kelihatan dewasa sekali" puji Beatrice
Ponsel Rita berbunyi
"Tuh kan, dari suami ku, dia pasti meminta penjelasan "
Rita menggendong Rayya dan bergegas ke ruangan lain untuk menerima telepon dari suaminya.
Beberapa saat kemudian ia kembali ke dapur dengan lesu.
"Anda tidak apa-apa?"
"Aku harus memperingati para baby sitter untuk menjaga anak lebih hati-hati lagi! Ia sangat marah tadi"
"Dia sangat posesif pada yang ia sukai ya?"
"Iya, sudah lama aku gak lihat dia se gusar itu"
"Mungkin karena Rayya itu sangat mirip Anda Bu!"
__ADS_1
Rita menggendong Rayya dan menatapnya agak lama.
"Masa segitunya ya? Aku kan masih ada di sisinya tapi kenapa dia terobsesi sama anak yang mirip aku?"
"Mungkin, kalau Anda harus membagi cinta dengan anak-anak, sehingga ia agak kurang diperhatikan, jadi dia melimpahkan ke anak yang mirip Anda" ujar Beatrice sambil menyeruput kopinya
"Apa begitu ya? Beatrice aku akan kehilangan mu dan percakapan seperti ini Anda yakin gak mau ikut kami ke Kanada?"
Beatrice tersenyum matanya berkaca-kaca.
"Aku dipekerjakan Lexington untuk melayani para CEO di rumah dinasnya, sebentar lagi aku pensiun "
"Oh ya? Kapan itu?"
"Setahun lagi, setelah pensiun anak ku yang paling sulung meminta ku tinggal bersamanya"
"Begitu ya? Sebenarnya kalau masih setahun anda masih bisa ikut kami dan minta pindah tempat tugas"
"Lexington itu perusahaan besar Bu, apalah arti seorang Beatrice, mereka akan mencari asisten yang lebih muda dan cekatan untuk mendampingi Anda"
"Tapi mereka tidak akan seperti Anda!"
Malam harinya, Daniel makan di lantai 2, ia menghindari para baby sitter agar kekesalannya tidak ia tumpahkan.
"Sayang, kamu jangan berlebihan begitu lagi pula Rayya gak apa-apa."
"Iya , mereka harus bersyukur Rayya hanya luka sedikit, kalau banyak awas saja, aku langsung pulangin ke Indonesia hari ini juga!" Ujarnya kesal.
"Sayang..masih marah ya?"
"Kenapa? Kalau mau ngomong bilang terus terang supaya sekalian aku marahin"
"Kok aku juga dimarahin?" Protes Rita
"Habis kamu kayaknya tenang saja anaknya luka."
"Lukanya sedikit, sudah aku obati lagi pula itu karena rebutan mainan. Namanya juga anak-anak."
"Ranna ini benar-benar deh, harus aku apain ya, supaya dia jera?"
"Kamu jangan begitu! Ingat sebelum ada Rayya, Ranna juga kesayangan mu. Keduanya anak mu. Kamu cukup menegurnya saja tapi jangan terlalu keras. Kamu gak mau kan Ranna membenci adiknya?"
"Kenapa bisa membenci?"
"Iya dong, kalau aku jadi Ranna aku kesal, karena adek yang merebut mainan ku dan malah aku yang kena dimarahi. Aku gak mau punya adek lagi!" Ujar Rita memperagakan.
Daniel terdiam, ia memikirkan kata-kata Rita. Selama ini ia anak tunggal jadi tidak tahu dan tidak merasakan persaingan antar saudara, rebutan, saling ejek semua yang namanya hubungan persaudaraan.
Selesai makan, ia mengembalikan piringnya ke dapur. Ia hendak kembali ke lantai 2 dan berbicara dengan Ranna. Tapi ternyata Ranna sedang berada di teras depan rumah, ia termenung dengan tangan di pipinya. Melihat anak kecil termenung membuat Daniel trenyuh,
"Menggemaskan!" Gumamnya
Ia mendekati Ranna dan duduk di sampingnya.
"Kak, sudah malam ngapain duduk di sini?" Tanya Daniel
"Kakak lagi nungguin Bulung bangau"
"Burung bangau?"
"Kata Affa, burung bangau yang bawa adek bayi ke perut mami"
"Memangnya kalau ketemu burung bangau kakak mau ngapain?"
"Mau kakak usil!"
"Usir?"
"Iya! Kalau Bulung bangau bawa bayi telus, lama-lama semua mainan Anna dilebut adek-adek! Anna disuluh ngalah telus.." ujarnya kesal
Daniel terdiam mendengar kata-kata anak sulungnya.
"Kakak sayang adek-adek gak?"
"Sayang lah! Tapi adek Ayya ngeselin. Mainan kakak selalu dimainin, dikasih eh telus dilempal kan lusak!"
"Adek Rayya kan masih bayi kak belum ngerti apa-apa "
"Enggak Pi, bayi itu lebih kecil dan tidak bisa jalan. Ayya udah bisa jalan jadi bukan bayi"
"Iya sih, tapi kan Rayya lebih kecil dari kakak. Coba nih kakak rebutan sama papi, kira-kira yang menang siapa?"
"Papi lah kan papi lebih besal"
"Nah, itu juga kalau kakak rebutan sama adek pasti adek kalah. Memangnya kakak mau adeknya sakit karena luka-luka?"
Ranna menggeleng
"Maaf Pi, gak sengaja habis tadi.." mata Ranna berkaca-kaca menyesal
"Kakak kan mainannya banyak,
Pinjamin adek sebentar saja masa gak boleh? Minggu besok adek ulang tahun kadonya pasti banyak, kalau adek pelit kakak gak dikasih gimana?"
Ranna berpikir, ulang tahun Raffa kemarin kadonya sangat banyak dan bagus, ia boleh ikut memainkannya.
"Kakak boleh mainin kado adek?"
"Boleh dong, adek kan gak pelit. Kalau kakak pelit adek juga pelit."
"Begitu ya Pi?"
"Iya! Mulai sekarang jangan rebutan sama anak yang lebih kecil ya, sayang?"
"Kalau lebih besal Pi?"
"Kalau kakak yakin menang, ya silakan saja! Tapi kalau yang direbut punya kakak ya, bukan punya orang"
"Iya Pi" Ranna mengangguk mengerti
"Masuk yuk Pi!" Ajaknya
"Burung bangau nya?"
"Bialin aja deh, kayaknya gak datang malam ini, gendong belakang Pi?"
"Ayo deh!" Daniel menggendong Ranna di punggungnya dan membawanya ke kamarnya.
Raffa dan Rayya sedang menempel di maminya.
"Nih dek, kak Ranna!" ujar Daniel menurunkan Ranna dari punggungnya.
Ranna menghampiri Rayya,
"Maaf ya dek! Kakak gak pelit lagi deh" Ia mencium bibir adeknya.Rayya tampak kesal, ia menghalau Ranna dengan tangannya
"No!" Teriaknya
"Wah...adek sudah bisa ngomong!!" Teriak Daniel senang
__ADS_1
_bersambung_