
Sejak Rita melahirkan, Daniel bekerja dari rumah, hanya sesekali ia datang ke kantor.
Di kantor
"Saya ingin bertemu pak Daniel" seorang tamu datang ke resepsionis kantor
"Oh maaf, pak Daniel tidak berada di tempat"
"Tidak di tempat? Kok bisa? Saya beberapa kali mengutus orang kesini jawabannya selalu sama!" Keluh orang tersebut agak kesal, ia meninggalkan tempat itu, keesokannya ia datang lagi, kali ini ia mencari seseorang kebetulan yang bertugas di resepsionis berbeda orang dengan yang kemarin sehingga orang tersebut dapat dengan mudah masuk ke dalam gedung.
"Saya ingin bertemu dengan pak Donald!" Ujarnya, ia sudah mengingat nama orang di tiap lantai di perusahaan itu.
"Pak Donald, lantai 15 ?"
"Benar!"
"Bapak sudah buat janji?"
"Apa harus buat janji dulu?"
"Iya pak, tapi tunggu sebentar" resepsionis itu menghubungi lantai 15 dan memberikan info tentang tamu yang akan bertemu pak Donald. Beberapa saat kemudian,
"Maaf pak, pak Donald sedang keluar"
"Keluar?"
"Maksud saya tugas luar"
"Orang disini sering tugas keluar ya?" Keluhnya
"Memang pak, para CEO dan COO bahkan president direktur jarang di tempat, mereka aktif bertemu klien di luar kantor" jawab resepsionis
"Oh begitu, kalau begitu saya bisa bertemu asistennya saja?"
Setelah berbicara dengan lantai 15, resepsionis memberikan kartu pas untuk orang itu.
"Terimakasih !" Ujarnya
Dengan langkah tenang ia menaiki lift, sesampainya di dalam lift ia bertemu petugas lift
"Ke lantai berapa pak?"
"Ke lantai presiden direktur!" Jawabnya percaya diri sambil memberikan kartu pas nya
"Maaf pak, kartu ini hanya ijin sampai ke lantai 15!" Ujar petugas lift
"Wah.. resepsionis tadi salah memberikan kartu kalau begitu" ujarnya beralasan
Lift membawa orang itu menuju lantai 15.
"Silakan pak!"
Orang itu keluar dari lift sambil menggerutu
"Ketat juga!"
Di lantai 15 sedang ramai, karena itu bagian klaim asuransi, beberapa nasabah mengantri untuk mendapatkan kartu pas untuk dapat masuk ke ruangan dalam lantai 15 dan mengklaim asuransinya. Keadaan tersebut dipergunakan orang itu untuk keluar melalui pintu darurat.
"Oh my God, 15 lantai lagi baru bisa ke lantai atas?" Letak ruangan kantor presiden direktur paling atas. Satu lantai itu adalah lantai presiden direktur. Ia menaiki anak tangga satu per satu.
Sementara di rumahnya, Daniel menyempatkan diri mengantarkan anaknya les karate. Ia bertemu dengan salah satu sinsei.
"Selamat pagi sinsei! Saya orang tua Ranna dan Raffa"
"Oh ya? Saya sinsei Arashi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sinsei paruh baya keturunan Jepang , logat Jepang nya masih sangat terasa.
"Begini Sinsei, ibunya anak-anak, istri ku baru saja melahirkan, sebenarnya sudah seminggu yang lalu, ia mengalami baby blues sindrom"
"Kasihan..." Arashi terlihat ikut prihatin
"Maksud saya, apa ada sinsei wanita yang bisa menjadi sparing partner untuk istri saya?"
"Hah? Sparing?"
"Iya, saya pikir istri saya perlu menyalurkan emosinya" jawab Daniel
"Begini pak, karena istri bapak baru melahirkan, sebaiknya pakai alat saja seperti samsak tinju saja, kalau orang kami takut lawan sparing nya akan mengenai bagian vital sang ibu" terang sinsei Arashi
Daniel terdiam, ia memikirkannya.
Setelah berbicara dengan sinsei ia menunggu kedua anaknya latihan. Ranna dan Raffa sangat bersemangat latihan hari itu ditemani papinya.
"Anna, itu papa mu ya?" Tanya Elsa
"Heeh!" Jawab Ranna, ia melambai ke arah Daniel yang membalasnya.
Sinsei Alfa melihat lambaian Ranna dan melihat ke arah Daniel
"Sekarang kalian sparing ya? Ranna melawan Ema" ujar Sinsei Alfa.
Ema dan Ranna bangkit bersamaan,
mereka maju ke depan , Daniel mendekati mereka dan mulai merekam aksi anak sulungnya.
Ranna terlalu bersemangat sehingga ia lengah, ia terjatuh pada serangan pertama Ema. Awalnya ia ingin menangis, kemudian ia melihat ke arah papinya yang memberi semangat.Ranna kembali bangkit dan melakukan serangan balik. Pertandingan berakhir seri.
"Hebat kakak!" puji Daniel
Samping kedua Raffa melawan Wayu, keduanya seumuran.
Raffa tidak seperti Ranna yang menunggu diserang, ia fokus dengan musuh dihadapannya. Waya adalah rivalnya, mereka berkali-kali menjadi lawan tanding. Tapi hari itu Raffa ingin unjuk gigi pada papinya, berkali-kali serangannya masuk dan membuat Wayu kewalahan, pertandingan berakhir dan Raffa pemenangnya.
"Hebat Abang!" Puji Daniel
Setelah latihan Daniel membawa mereka ke mall, ia membeli alat-alat untuk berlatih tinju, seperti samsak, sarung tangan dan boneka sasaran.
"Untuk siapa Pi?" Tanya Ranna sambil menjilat es krimnya
"Untuk mami ya?" Tanya Raffa
"Betul! Kalau mami nangis lagi, kasih ini saja supaya mami bisa pukul-pukul!" Ujar Daniel yang ikut menyantap es krim.
Dari mall mereka langsung pulang, Daniel disambut Rayya
"Papi dali mana?" Tanyanya
"Papi temani kakak dan Abang! Kak Rayya sudah makan?"
"Sudah!" Rayya memeluk papinya manja. Setelah lahir adiknya Rayya semakin manja pada Daniel.
"Eh papi beli es krim banyak!"
"Mana?"
"Tuh! Minta sama kakak!"
__ADS_1
Ranna dan Raffa bekerja sama mengangkat puluhan es krim yang dibeli Daniel. Mereka memasukkan ke dalam freezer.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Rita, ia baru turun dari kamarnya
"Mami!" Ranna dan Raffa menghampiri dan memeluk kaki maminya
"Hei! Sudah enak kan?" Tanya Daniel menghampiri istrinya
"Lumayan! Aku baru selesai memompa ASI, kamu mengantar anak-anak?"
"Iya, sekalian ada perlu, oh iya ikut aku yuk!" Daniel menarik tangan istrinya ke samping rumah,
"Ngapain kesini? Aku kan masih nifas jadi gak boleh berenang"
"Bukan kolamnya, tapi itu!"
Daniel menunjukkan alat-alat olahraga yang baru dibelinya
"Hah? Kamu beli semua ini?"
"Iya, kalau kamu mulai kesal kamu bisa melampiaskan dengan memukul ini, aku juga membeli pelindung kepala dan sarung tangan nya"
Rita memasang pelindung kepala dan sarung tinju, ia mendekati boneka sasaran, ia mulai memukuli boneka itu
"Buk..buk..buk!" Bunyi pukulan Rita yang sangat keras, Daniel agak bergidik dibuatnya.
"Eh, Emir sudah masak?" Tanya Daniel, Rita tidak mendengar, ia sibuk memukuli boneka sasaran.
Raffa berbisik
"Mami lagi marah ya Pi?"
"He eh! Makan yuk? Papi lapar!" Daniel mengajak ketiga anaknya ke dapur, sementara Rita masih asyik dengan mainan barunya.
Mereka makan di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.
"Papi kelja dali lumah telus?" Tanya Ranna
"Enggak! Besok papi ke kantor!"
"Yahh!" Ujar Ranna dan Raffa bersamaan
"Papi kan harus cari uang untuk kalian les, beli es krim, makan ke mall" jawab Daniel
"Kalau uang, Affa punya Pi, di kaltu Affa banyak!"
"Di kaltu Anna juga Pi"
Daniel tersenyum melihat kedermawanan kedua anaknya
"Iya, nanti kalau papi butuh papi boleh pinjam ya?"
"Heeh!" Jawab keduanya
Sementara orang yang berusaha payah ingin bertemu Daniel telah tiba di lantai 35, ia duduk sejenak di anak tangga sebelum keluar dari pintu darurat. setelah menunggu beberapa saat ia hendak membuka pintu darurat yang ternyata terkunci
"Ah sial!" Makinya, ia menendang pintu itu berkali-kali karena kesal.
Hentakan nya mengundang security di lantai itu membuka pintu
"Anda kenapa? Kok lewat sini?" Tanya security. Melihat pintu terbuka, orang itu sangat tidak sabaran ia mendorong security hingga terantuk dinding sampai pingsan. Orang itu menarik security ke dalam tangga darurat dan mengambil seragamnya.Ia menyamar menjadi security lalu berkeliaran di sekitar lantai 35. Setelah beberapa waktu akhirnya ia menemukan kantor presiden direktur. Ia memasuki ruangan besar itu di situ ia bertemu dengan resepsionis
"Pak Direktur ada?"
"Tidak ada! Beliau kerja dari rumah istrinya baru melahirkan" jawab resepsionis, ia agak curiga dengan security itu
"Eh, iya! Kira-kira kapan pak direktur masuk kantor?"
"Tidak pasti! Pak direktur yang sekarang ke kantor hanya untuk meeting saja" jawab resepsionis, tanpa diketahui security palsu itu, ia memencet tombol darurat.
Sebelum security palsu keluar dari ruangan, dua orang security datang ke ruangan
"Ada apa?"
"Orang itu penyusup!" Teriak Ranna resepsionis, sadar samarannya ketahuan, ya ia berusaha melarikan diri dari sergapan security. Ternyata orang itu memiliki kemampuan bela diri yang membuat kedua security kewalahan dan ia berhasil meloloskan diri. ia kembali masuk ke tangga darurat dan membuka samarannya, dengan cepat ia kembali ke lantai15, dan turun melalui lift di lantai itu bersama para nasabah. Sementara para security berlarian ke lantai 35 untuk membantu penyergapan. Dengan tenang orang itu mengembalikan kartu pas lalu keluar dari gedung.
Allan mendapat laporan tentang penyusup yang mencari Daniel. Ia melaporkan ke polisi beserta rekaman CCTV tapi sayang orang itu sulit diidentifikasi karena selalu menghindari CCTV.
"Apa sebaiknya kita peringatkan pak Daniel pak?" Tanya Ramos kepala security
"Jangan dulu! Pak Daniel sedang sibuk dengan keluarganya, jangan menambahkan pikirannya lagi!"
Keesokan harinya Daniel ke kantor, hal tersebut tentu membuat Allan terkejut.
"Eh pak Daniel tidak Wfh?"
"Hari ini ada meeting dengan para korban itu kan?"
"Oh iya hari ini ya?"
"Al, aku sudah mempelajari semuanya dan juga sudah datang langsung ke lokasi. Sepertinya tidak semuanya salah kita, tapi sebagai perusahaan ternama kita tidak boleh merusak reputasi kita kan? Aku minta panggil orang-orang lapangan, aku ingin briefing dengan orang kita sebelum bertemu para korban!"
Allan melakukan perintah Daniel.
Beberapa orang datang ke ruangannya.
"Teman-teman, aku sudah menyelidiki tentang kasus polutan itu dan sudah menghubungi beberapa orang yang terkait. Demi reputasi kantor kita di mata publik dan para pemegang saham, jadi kita akan memperbaiki kerusakan akibat pembuangan itu, dananya diambil dari dana CSR, aku sudah meminta bagian anggaran membuat perkiraan biaya dan perbaikan harus segera dilaksanakan Minggu ini juga"
"Tapi pak, bukan perusahaan kita yang melakukan perusakan, kalau kita yang memperbaiki malah nanti kita yang dituduh" ujar penanggung jawab lapangan.
"Itu tidak usah khawatir! Aku sudah mengirim orang untuk merekam daerah itu selama beberapa bulan belakangan. Dan aku sudah memberikan barang buktinya ke pemerintah setempat dan sebagai itikad baik aku menjanjikan perbaikan salurannya agar pencemaran tidak mengenai warga sekitar "
Setelah diputuskan, rapat selesai. Rapat berikut nya dengan para korban. Daniel menerima mereka di lantai lain, bukan di ruangannya.
Mereka bernegosiasi cukup alot
"Kami tahu niat baik Anda, tapi bagaimana dengan ganti rugi yang selam ini kami alami?" Keluh orang itu.
Daniel menunjukkan beberapa bukti video
"Aku mengirim orang selama beberapa bulan untuk menyelidiki tempat itu dan ini hasilnya"
"Yang menambah kerusakan tempat itu anak anda kan?"
"Hah?" Orang itu terdiam melihat video perusakan yang dilakukan anaknya
"Kami sudah berkonsultasi dengan kuasa hukum kami, jadi sebaiknya Anda berhenti menjelekkan perusahaan kami kepada media. Tentang perusakan itu, kami hendak memperbaikinya"
"Tapi pak, kerusakannya besar biayanya pasti besar!" Ujar Allan tak sabar
"Tenang Al! Beberapa hari ini aku menemui perusahaan pembuang limbah di situ, dan memberikan bukti perbuatan mereka, dan kami sepakat untuk menanggung biaya perbaikannya bersama"
"Eh?" Allan terdiam
"Mereka menyetujuinya, aku melibatkan pejabat lingkungan setempat untuk proses perbaikan itu" semua peserta rapat terdiam, baru kali ini mereka mendengar seorang presiden direktur turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Daniel menunjuk orang yang akan bertanggungjawab di lapangan.
__ADS_1
"Laporkan perkembangannya setiap 3 hari sekali! Oh iya! Aku akan mengawasi, jangan berpikir untuk berbohong kepada ku" ujar Daniel kepada kepala proyek setelah rapat selesai
"Baik pak!"
"Oh ya Allan, tentang masalah impor itu, aku menghubungi pejabat setempat, sepertinya ada orang kita bekerja sama dengan oknum pemerintah untuk melakukan Mark up sehingga biayanya membengkak. Aku minta kepala divisinya dipanggil besok, dan buat surat pengunduran diri agar mereka bisa tanda tangani"
"Eh surat pengunduran diri?" Allan sangat terkejut
"Iya! Kamu tahu orang itu sudah membuat perusahaan ini merugi hampir 1 Milyar dolar karena sudah dilakukan bertahun-tahun!"
Allan melongo mendengar ucapan bosnya
"Tapi pak?"
"Kenapa? Kamu kasihan? Begini Al! Orang-orang seperti mereka tidak peduli pada orang banyak yang ikut mencari nafkah secara halal di sini. Mereka rakus untuk diri mereka sendiri . Aku sudah menyelidiki kepala divisi bagian import, dari keluarganya, tidak ada yang bekerja atau memiliki usaha lain tapi kehidupannya sangat mewah. Itu aneh bukan? Kemungkinan terbesar ia memainkan anggaran import alat , dan ternyata benar. Jadi aku ingin orang seperti itu tidak ada dalam jajaran kepemimpinan ku!" Ujar Daniel
"Baik pak, saya akan menghubungi bagian HRD untuk membuat surat pengunduran diri untuk kepala divisi serta orang-orang terkaitnya "
"Baiklah! Kira-kira selesainya kapan?"
"Akan segera kami buat pak!"
"Aku meminta rapat gabungan Minggu depan! Sekarang aku akan pulang!"
Allan melihat jam tangannya menjelang makan siang
"Eh pulang?"
"Iya! Oh iya Al! Sebenarnya aku ada hak cuti karena kelahiran anak ku kan?"
"Eh iya pak?"
"Nah! Dua hari ke depan aku akan ke Singapura menggunakan jatah cuti ku!"
"Baik pak!"
Daniel keluar dari kantor, ia lebih senang menggunakan tangga darurat lalu menggunakan lift karyawan dari lantai di bawahnya, sengaja ia tidak menunjukkan identitas dirinya. Ia ingin mengetahui keadaan tiap lantai tanpa diketahui para karyawannya.
Allan melaporkan hasil rapat kepada Mr.Alec
"Oh begitu, jadi Daniel berhasil membuat para korban menyerah juga memaksa perusahan lain untuk patungan memperbanyak saluran pembuangan"
"Betul Pa! Oh iya, dia juga akan memecat kepala divisi bagian import pengadaan mesin karena sudah korupsi"
"Korupsi? Ada korupsi di perusahaan kita?"
"Lebih tepatnya Mark up, pak Daniel mendapatkan dokumen peraturan import alat serta biaya pengadaannya dan ternyata memang tidak sebesar yang diajukan kepala divisi itu!"
"Ckckck...dan dia melakukan semua itu dari rumahnya?"
"Benar pak, beliau bilang ia lebih bebas berpikir jika tidak terkurung di kantor "
"Begitu ya? Baiklah! Allan katakan pada bagian HRD, jika Daniel tidak ke kantor tapi ia melakukan secara online, itu berarti dia tetap bekerja! Kalian jangan menyusahkannya!"
"Baik pak! Oh iya beliau akan cuti selama 3 hari untuk ke Singapura "
"Singapura? Ngapain?"
"Ada urusan keluarga katanya "
"Cuti?"
"Beliau punya hak cuti untuk kelahiran anak keempat pak!"
"Oh! Anaknya lelaki atau perempuan?" Tanya Mr.Alec
"Lelaki pak!" Allan menunjukkan video anak Daniel
"Allan, kirimkan kado untuk anaknya, pilihkan yang terbaik! Katakan itu hadiah selamat datang dari perusahaan!"
"Baik pak!"
Keesokan harinya Daniel dan Rita bersiap berangkat ke bandara, sebuah truk datang membawa banyak hadiah.
"Ini dari mana?" Tanya Daniel heran
"Kiriman dari Mr.Alec pak, hadiah untuk baby" jawab kurir, setelah menerima hadiah itu, stafnya membawa masuk ke dalam rumah, security sudah memeriksa keamanannya
"Aman bos!" Ujar security rumah
"Sayang!!"panggil Daniel, Rita menuruni tangga, dan menemui suaminya
"Ya?"
"Coba lihat, Razan dapat hadiah"
"Hadiah? Aku senang hadiah!" Rita sangat suka membuka bungkus kado.
"Eh Yang, ini untuk kamu!" Daniel memberikan kado yang bertuliskan untuk Ibu Rita
"Ibu?...huuu...aku sudah ibu-ibu ya?" Rita mulai menangis lagi
"Sayang! Anak mu sudah 4 tentu kamu sudah jadi ibu!"
"Tapi..aku masih cantik kan?"
"Cantik dong!" Daniel memeluk istrinya sayang
Mereka membuka kado itu
"Stroller lagi Yang"
"Tapi ini unik, bisa disambung seperti kereta" Daniel menyambung stroller itu.
"Jadi di depan untuk adiknya , di belakang untuk kakaknya. Bagian atasnya juga bisa untuk duduk, seperti troli supermarket.
Di saat bersamaan para suster bersama anak-anak telah siap berangkat, mereka menunggu mobil jemputan bandara.
"Kamu sudah siap peralatan kuliah mu kan?"
"Sudah, sejak kemarin"
"Nah kebetulan!"
Seperti biasanya, Daniel memvakum dulu stroller baru itu lalu meletakkan Razan di dalamnya.
Di sampingnya Rayya, pada bagian atas kedua kakaknya duduk di stroller itu. Sedangkan bagian bawah stroller digunakan untuk menaruh perlengkapan bayi.
"Wahh ...hebat sekali stroller ini"Daniel mengagumi
"Yang, mobil sudah datang!" Rita tampak tidak sabar
"Oh iya!"
Mereka pun segera meninggalkan rumah menuju bandara untuk ke Singapura
__ADS_1
_bersambung_