
Lima bulan telah berlalu, Rita dan Daniel membicarakan tentang persiapan kelahiran anak ketiga mereka.
“Yang, gimana kalau lahirannya di rumah ini saja” ujar Daniel sambil mengusap perut istrinya yang buncit
“Apa gak repot? Harus mempersiapkan semua alat? Belum lagi ruang bersalin harus steril lho!” Rita mengusap rambut suaminya
“Iya juga ya? padahal kita punya kamar rawat inap, sayang kalau gak dipergunakan”
“Sudah kosong lagi Say, semua peralatan kembali ke RS semuanya”
“Oh iya ya, alatnya pinjam semuanya”
“Kamu kapan ke Swiss lagi?”
“ Dua hari lagi, mudah-mudahan aku bisa mendampingi mu saat anak ini lahir ya” Daniel mencium perut istrinya
“aamiin..dokter bilang sih kalau gak minggu depan, minggu depannya lagi”
“Alhamdulillah, aman kalau begitu” Daniel bangkit dari tidurnya
“Kamu mau kemana?”
“Sebentar lagi waktu buka puasa”
“Oh iya, karena aku gak puasa jadi gak inget” Rita juga berusaha bangun,
“Pelan-pelan Yang” Daniel membantu istrinya. Dengan kursi roda elektrik mereka berjalan ke ruang makan, di sana anak-anak sudah siap bersama Uwa dan Eyangnya
“Wah..sudah di sini semua rupanya” ujar Rita kepada kakak dan kakeknya
“Ranna dan Raffa sudah kelaparan, mereka mengajak kemari” jawab Andi
“Kalian main apa saja sama Uwa?” tanya Daniel kepada kedua anaknya yang sedang lahap makan
“Swimming!” jawab Raffa
“Hide and Seek!” jawab Ranna
“mereka ini anak-anak cerdas ya, Raffa baru setahun dan Ranna setahun setengah tetapi bicara mereka sudah lancar” ujar Andi
“Tentu saja, maminya selalu mengajak mereka ngobrol” ujar Daniel
“Kamu kapan ke Swiss Niel?” tanya Darmawan
“Dua hari lagi Kek!”
“Ngapain kamu kesana?”
“Melaporkan perkembangan proyek terbaru di sini, mereka ingin semua manager ngumpul di sana”
“Berapa hari kamu di sana?”
“Dua hari tiga malam, saya harap dirut Lexi tidak ada rencana lain. Terkadang ia suka random, kami sering dibuatnya berlama-lama di sana” keluh Daniel
“Sir Alec memang terkenal eksentrik, tapi dia baik kan?”
“Baik sih kek, tetapi itu, kalau sudah punya ide, kita semua harus mengikuti keinginannya”
“Padahal perusahaannya sudah multi internasional ya, tetapi kelakuannya masih seperti itu” gumam Darmawan
“Dar.co Singapura gimana kek?” tanya Rita
“Yah, biasa saja. Aku sering ngintip percakapan para karyawan di medsos kantor, mereka merindukan mu Niel!”
“Oh ya? pasti karyawan cewek ya?” ujar Rita agak cemburu sambil mengambil puding
“Enggak juga, cewek dan cowok kok. Mereka bilang, bos yang sering nraktir bawahannya ya kamu”
“Memangnya kamu selalu nraktir?” tanya Rita
“Bukan nraktir, aku sering membuat mereka bekerja overtime, jadi gak salah dong kalau aku sedikit membelikan mereka makanan”
“Mereka sering membicarakan mu, dan ingin bertemu lagi dengan mu” ujar Darmawan
“Jangan deh!” ujar Rita keberatan
“Kenapa lo? cemburu?” ledek Andi
“Bukan begitu, kasihan Danielnya, dia kan sedang menapaki karir yang baru, yang masa lalu biarkan saja. Mereka harus bisa move on!” ujar Rita tegas
Adzan maghrib berkumandang, memutus obrolan mereka
“Alhamdulillah,..akhirnya buka juga!” Daniel menyeruput air hangat
“Ini puasa ramadhan kamu yang kedua ya Niel?” tanya Kakek
“Iya kek! Awalnya memang berat tetapi lama-lama nikmat juga” Daniel melahap cemilan yang manis dahulu
“Saya salut lho sama kamu Niel!” ujar Kakek
“Salut kenapa kek?” tanya Rita, ia ikut melahap cemilan
“Semangat kamu mempelajari agama baru, padahal sebelumnya kamu gak tahu apa-apa tentang Islam ya?” tanya Kakek
“Sebenarnya sudah tahu sedikit kek, saya kan tinggal di keluarga muslim di Dubai selama dua tahun, jadi bukan hal yang asing lagi”
“oh begitu”
“Alhamdulillah, agak full nih, aku ke mesjid dulu deh” Daniel meninggalkan ruang makan dan bergegas ke mesjid untuk sholat maghrib
“Bareng Niel!” Andi menyelesaikan cemilannya dan menyusul Daniel
“Kamu termasuk yang beruntung Rit! Dapat suami seperti Daniel!” ujar Kakek
“Alhamdulillah kek, mudah-mudahan tetap sholeh ya” Rita melanjutkan makannya
“Kalian sering bertengkar?”
“Akhir-akhir ini sih jarang kek, kayaknya dia sampai di rumah sudah capek banget, jadi aku bilang apa langsung iya saja”
“Pekerjaannya berat ya?”
“Menjadi perwakilan Lexi di sini lumayan berat kek, katanya dia juga harus menjadi face of Lexi di sini.”
“Face of Lexi? Maksudnya?”
“semua attitudenya paling disorot, kemarin dia mengeluh, salah seorang model salah sangka padanya”
“Salah sangka? Maksudnya?”
“Model tersebut menyangka Daniel menyukainya, padahal dia hanya memperhatikan pakaian yang dipakai model tersebut, dia mau membelikannya untuk saya kek!”
“Terus?”
“Padahal model itu masih 17 tahun kek, tapi kelakuannya terlalu berani”
“Lalu bagaimana dengan Daniel?”
“Syukurnya dia sering memakai kamera tersembunyi di outfitnya, jadi percakapan antara dia dan model itu terekam. Model itu ke GR-an, dia ingin memulai hubungan dengan Daniel.”
“Kok kamu bisa tahu?”
“Daniel menceritakan semuanya, dia juga menunjukkan rekamannya”
“Terus kamu bagaimana?”
“Sebenarnya Rita agak kurang nyaman, apalagi kehamilan ini kadang membuat Rita minder kek. Rita dibandingkan model itu, gak ada apa-apanya”
“Tapi kan Daniel memilih mu!”
“Iya sih, tetapi gak nyaman juga kek, Rita takut bagaimana kalau perasaan Daniel berubah sama Rita?”
“hmm...sebenarnya, kamu juga harus berpikir, kenapa Daniel menceritakan semuanya sama kamu”
“Kenapa kek?”
“Dia gak mau kamu salah paham, dan perasaan kamu berubah ke dia. Ingat nih, anak kalian sudah hampir 3. Komunikasi harus lancar, apapun harus kalian bicarakan. Termasuk ketidak nyamanan kamu!”
“Iya kek, Rita juga banyak berdoa, semoga jodoh kami panjang sampai maut memisahkan”
“Aamiin!”
“Oh iya, kapan kelahirannya?”
“Kalau gak minggu depan, minggu depannya lagi kek!”
“Perempuan ya?”
“Iya”
“Sudah ada namanya?”
“Katanya sih Rayya Fitri Kang”
“Rayya? Artinya apa?”
“Cahaya”
“Wow, bagus-bagus ya kalau dia ngasih nama. Ranna siapa?”
“Ranna Khadijah Kang, Rafardhan Ahmad Kang”
“ckckck...kakek berharap kalian akur-akur terus ya Rit, kakek selalu khawatir yang perbedaan status kalian bisa memisahkan”
__ADS_1
“iya kek, makanya Rita mendukung dia berkarir di Lexi, supaya gak minder terus.”
“Iya Rit, kakek juga tidak memaksanya lagi untuk mengelola Dar,co”
“Oh iya, kakek kapan kembali ke Singapura?”
“Habis lebaran lah, bagaimana pun juga, Ramadhan dan Idul Fitri lebih enak di Indonesia, lebih terasa khusyuknya”
“Assalammu’alaikum!” Daniel dan Andi telah kembali dari mesjid
“Wa’alaikummussalam” Jawab Rita dan Kakeknya bersamaan
Daniel dan Andi melanjutkan makan mereka, sementara Kakek, Rita dan anak-anak kembali ke kamar .
“Mas, ini bisa diantar ke kamar?” pinta Daniel, ia menunjuk beberapa makanan di atas meja
“Bisa pak!” jawab waiter
“Aku sering lapar sesudah tarawih” ujar Daniel kepada Andi
“Sama gue juga”
“Kamu kapan kembali ke Auckland?”
“Setelah lebaranlah, di sana gak ada siapa-siapa. Di sini ada Ranna dan Raffa bisa diajak main”
Daniel tersenyum
“Makanya buat anak sendiri deh, supaya ramai!”
“soal itu nanti deh, lagi pula banyak cewek yang deketin tapi mereka lebih melihat ke harta. Jadi malas!” jawab Andi
“Itu artinya tuh cewek bernafas, kalau gak mikirin harta artinya tu cewek mati” ujar Rita tiba-tiba, ia menyusul suaminya di ruang makan
“Kok kembali kemari?”
“Mau minta makanan yang ini dan ini buat di kamar” pinta Rita
“Tadi aku sudah minta bawain ke kamar!” ujar Daniel
“Oh ya? ya sudah”
“Kak Andi, cari ceweknya orang Indonesia saja, selain cari yang agamanya sama juga budayanya gak beda” ujar Rita
“Bisa aje lo!, lo sendiri?”
“Kalau bapak ini mah kasus! Hehehe!” ujar Rita tertawa
“Yuk ke kamar!” ajak Daniel
“Kak, kita balik dulu ya?”
“Ya! gue juga mau balik ke kamar!” ujar Andi, mereka kembali ke kamar masing-masing
Di kamar, Daniel melakukan sholat Isya dan Tarawih, lalu melanjutkan makan
“Aku perhatikan kamu makan melulu sejak kemarin” ujar Rita kepada suaminya
“Biarin deh, lagi doyan makan kali” ujar Daniel
“Kamu kepikiran model itu ya?” tanya Rita
“hmm...bukan kepikiran tentang gimana-gimana”
“Gimana apa?” tanya Rita cemburu
“Aku gak habis pikir kok bisa ya dia salah paham?”
“Coba kamu nunjukin tatapan kamu saat itu”
“gini nih” Daniel menunjukkan tatapannya ke istrinya, dan membuatnya tersipu
“Pantes!”
“Hah?”
“Kalau kamu menatap seperti itu pasti bikin orang GR, aku saja tersipu tadi”
“Masa?”
“lain kali, kalau terpana pada sesuatu jangan menunjukkan langsung, apalagi kalau barangnya sedang dipakai orang jadi pasti ya salah paham”
“Begitu ya?”
“iya, tapi aku senang kamu jujur sama aku”
“Tentu dong, aku takut tentang ini jadi desas-desus, kamu harus mendengarnya pertama kali. Aku gak ingin kehilangan istri gara-gara hal remeh seperti ini”
Rita memeluk suaminya dari belakang, lalu mencium rambutnya
“Iya” Daniel tersenyum dan memeluk istrinya dengan sayang
“mami-papi!” kedua anaknya berlari menghampiri orang tuanya
“Kakak, abang? Kalian belum tidur?” tanya Rita, suster yang bertugas malam mengasuh mereka mengikuti mereka dari belakang
“mereka ingin bersama mami dan papinya bu!” ujar salah satu suster
“Ya sudah, kalian di sini deh” Daniel menggendong kedua anaknya dan membawanya ke kamar tidur mereka
“Kalian bobo sama mami dan papi ya?” ujar Daniel
“yess!!” jawab Ranna dan Raffa bersamaan.
Kedua suster keluar dari kamar mereka, sementara Rita menghampiri suami dan anak-anak mereka.
“Minggu depan adek keluar dari perut mami, Kak, Bang. Kalian jangan nakalin ya? sayang sama adek ya?” ujar Rita
Raffa mendekati perut maminya, lalu mengusapnya
“Love baby!” ujarnya tersenyum
“Iya, love baby” ujar Rita tersenyum, sedangkan Ranna sambil minum susu dari botol sibuk dengan wajah papinya
“papi nice!” ujarnya tersenyum
“Hahaha!..sure papi nice!” ia menggelitik tubuh anak perempuannya
“no papi geli!!!” ujar Ranna tertawa geli
“Ayo pada bobo, besok main lagi sama uwa ya?” ujar Rita
“Kamu nitipin mereka ke Andi?”
“Kak Andi yang minta, dia bilang selama di sini biar dia saja yang ngasuh anak-anak!”
“Kamu senang dong!”
“enggak juga, karena anak-anak ini terkadang random. Tiba-tiba nangis nyariin aku. Kak Andi kebingungan kenapa ini. Lalu susternya bilang, anak-anak ini keingetan maminya. Jadi setiap mereka nangis dan gak bisa diam aku harus mendatangi mereka”
“oh begitu, kalau yang ketiga ini lahir, pasti kamu lebih repot lagi”
“Ya tambah saja lagi pengasuhnya. Tapi aku sih mau mengajarkan anak-anak ini mandiri”
“Mereka masih kecil, jangan dibikin stress” ujar Daniel memperingatkan
“Enggak yang sulit Say, yang ringan-ringan saja, misalnya kalau mau ke toilet bilang, jadi gak usah pakai pampers lagi”
“Bukannya Ranna sudah gak pakai?”
“Tapi dia sering lupa, anak ini kadang bertindak semaunya, jadi kita harus tegas”
Ranna tahu ia sedang dibicarakan, ia berpura-pura tidur di samping papinya
“Lihat kan, dia ini sudah mulai posesif sama kamu” ujar Rita
“Oh ya? masa? Bukannya dia bucin sama kamu?” Daniel mengusap rambut anaknya dengan sayang
“Dia sudah mulai mengerti” Rita menidurkan Raffa di pangkuannya
“Kalau si abang gimana?”
“Abang ini pengertian sekali, dia selalu mengecek aku baik-baik saja sebelum pergi main”
“Oh ya?”
“Setelah aku bilang, aku baik, dia langsung pergi menyusul kakaknya”
“Anak-anak ini, tahu-tahu sudah dua tahun dan setahun, sebentar lagi adiknya lahir. Rumah ini meriah deh”
“Iya, kadang aku sering cemas, aku takut tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak ini”
“Kamu pasti jadi ibu yang baik, karena kamu istri yang baik!”
“Aamiin!!!..mudah-mudahan ini bukan pujian untuk menutupi kesalahan mu ya?”
“Kesalahan?”
“Iya, kalau kamu gak menatap model itu, pasti gak bakal rame kan?”
“Iya-iya aku yang salah!,..aku tertarik dengan pakaiannya. Aku membayangkan kamu yang memakai itu!”
“yah, siapa yang tahu pikiran orang kan?”
__ADS_1
“Kamu gak percaya aku ya?”
“Percaya...hanya saja kadang aku insecure, apa aku cukup baik untuk kamu ya? aku takut perasaan mu berubah sama aku”
“Memangnya kamu saja yang merasa begitu? Apa lagi aku” ujar Daniel
“Kamu?”
“Iya, kamu cucu orang kaya, kalau kamu gak suka aku lagi pasti aku dibuang!”
“masa aku begitu”
“Itu rasa insecure aku. Syukurlah ada anak-anak ini, jadi kamu gak mudah lepas dari aku”
“oh jadi kamu menjadikan anak-anak ini tameng ya?”
Daniel hanya tersenyum dan mencium kening Ranna yang terlelap. Perlahan ia meletakan kepala Ranna di bantal. Lalu ia mendekati Rita hendak mengambil Raffa dari gendongan Rita. Tapi sebelumnya, ia mencium bibir istrinya cukup lama, lalu mengambil Raffa.
“Tadi itu untuk apa?” tanya Rita
“Pengen saja, sudah lama aku gak cium kamu kan?”
“Dasar!” Rita tersipu malu, ia mengganti piyamanya di walking closet, tiba-tiba
“Aduh...Sayang!!!” ia berteriak
“eh ada apa?” Daniel berlari menghampirinya
“Ketuban ku pecah”
“Kamu yakin?”
“Yakin!!”
“Baiklah, ayo kita ke rumah sakit!” Daniel berlari mengambil kursi roda , lalu menelpon Ridwan
“Pak, kami akan ke rumah sakit, ketuban Rita pecah”
“Oh, baik pak! Perlu ambulan?”
“Gak usah, biar saya saja yang membawa ke rumah sakit, oh iya tolong anak-anak, mereka tidur di kamar saya”
“Baik pak!” Ridwan segera datang ke kamar Rita, dan membantunya naik ke mobil
“Tolong anak-anak ya pak!” ujar Rita merintih kesakitan
“Iya bu, saya sudah menyuruh dua orang mengawasi mereka”
Amin supir mereka mengendarai mobil, Daniel menemani Rita di kursi belakang
“Aduuh...” rintih Rita
“Sabar ya sayang sebentar lagi sampai”
“Kayaknya mau keluar sekarang!” Ujar Rita
“Hah? Waduh, min masih jauh gak?” tanya Daniel, ia berusaha tenang
“Ada kecelakaan di depan pak, jadi macet”
“Aduhh...” Rita semakin mengerang kesakitan
“Kalau begitu balik ke rumah saja Min!” pinta Daniel, ia menelpon Ridwan untuk membersihkan kamar untuk Rita melahirkan
“EH, kenapa balik lagi?”
“Ini macet gak bergerak kalau terus, jadi kita putar arah saja, aku sudah menghubungi dokter kamu, supaya datang ke rumah bersama para suster.”
“Apa sempat?” tanya Rita
“Jarak dari sini ke rumah lumayan, seharusnya kamar kamu sudah selesai begitu kita datang!”
Mobil velfire yang dikendarai mereka cukup lama untuk putar balik, satu jam kemudian mereka kembali ke rumah. Seperti dugaan Daniel kamar dan dokter yang dipanggil telah tiba sebelum mereka, begitu juga dengan peralatan yang dibutuhkan.
Ketika sampai, Rita langsung masuk ke ruang bersalin darurat, dokter dan suster membantunya dengan infus dan alat pendeteksi detak jantung.
“Sudah bukaan 7 bu, sebentar lagi” ujar suster
“sebentar lagi Yang!” ujar Daniel sambil menggenggam tangan istrinya
“Aduuhh!!! Astaghfirullah!!” keluh Rita kesakitan
Suster kembali memeriksa,
“Sudah 8 bu”
Susah payah Rita bangkit dari tempat tidur,
“Sayang, tolong usang punggung ku” pinta Rita
Daniel mengusap punggung istrinya, ia membacakan doa, agar bayi dan ibu selamat.
Sementara Andi dan Kakek, tidak tahu yang terjadi di lantai satu, mereka asyik terlelap
“Sudah bu, kita bisa mulai!” ujar dokter
Rita mulai mengejan, Daniel memeganginya
“Hhhhaaahhhhhh!!!” teriak Rita
“Ayo bu, sedikit lagi” ujar dokter
“Ayo Sayang, tarikan penuh” Daniel membantu mencontohkan bernafas
“Sayang, setelah ini, kamu yang KB ya?” ujar Rita kelelahan
“Insya Allah, ayo mengejan lagi” ujar Daniel
“Hiiiaaahhhhh......” Rita mengejan sekuatnya
“oeee...oeee.....oee....” suara bayi menggema di ruangan
“Alhamdulillah...” Rita dan Daniel tersenyum lega. Dokter membersihkan dan memeriksa keadaan bayi, lalu menggunting tali pusarnya
“Perempuan pak, cantik!” ujar dokter. Bayi berkulit putih bersih, menangis di gendongan papinya. Daniel mendekatkan ke Rita
“Adzanin Say” ujar Rita
Daniel mengadzankan anaknya, setelah itu
“Selamat Datang ke dunia Rayya Fitri Kang!” ujar Daniel, ia terharu dengan kelahiran bayi ketiganya, ia membuka pakaiannya dan meletakkan Rayya di dadanya. Para suster terkagum melihat tubuh indah Daniel. sementara suster yang lain membersihkan Rita.
“Syukurlah kalian telah tiba lebih cepat” ujar Daniel
“Sebenarnya, pak Ridwan menghubungi kami tepat ketika kalian pergi ke RS”
“Hah? Kok bisa?”
“Ia menerima laporan kalau di jalan ada kecelakaan, jadi sepertinya kalian akan kembali ke rumah” ujar dokter menjelaskan
“Oh begitu, syukurlah..” Daniel memberikan Rayya kepada Rita untuk disusui, dan ia kembali mengenakan pakaiannya
“Rayya lahir lebih cepat dari harinya dokter? Itu gak apa-apa?” tanya Daniel
“gak apa-apa kalau didengar dari tangisan dan detak jantungnya normal. Dia sudah cukup umur”
“Alhamdulillah, sebenarnya saya senang dia lahir lebih dulu, karena saya akan ke Swiss dua hari lagi”
“Sepertinya anak ini merespon ke khawatiran Anda pak”
“Dokter, suster kamar untuk kalian menginap sudah disediakan di lantai dua” ujar Ridwan yang datang tiba-tiba
“Oh iya, baiklah, saya akan menugaskan dua suster stand by di sini”ujar dokter
“Oh kalau itu, saya sudah menyiapkan kamar dengan CCTV untuk suster, saya sudah mengantar mereka ke sana” jawab Ridwan lagi
“Pak Ridwan terima kasih banyak!” Daniel menyalaminya
“Sama-sama pak! Wah, anak ketiga ya? selamat ya pak?”
“Iya!, namanya Rayya Fitri Kang!”
“Mungkin pak Darmawan dan mas Andi akan kaget mendapatkan penghuni baru di rumah ini”
“Mereka tidak tahu?”
“Mereka di lantai 3 pak, mereka tidak akan tahu kejadian di bawah kecuali kami beritahu”
“Oh begitu, sekali lagi terima kasih pak, atas persiapan semua ini”
“Sama-sama pak, saya tinggal dulu ya!”
Ridwan, dokter dan para perawat meninggalkan Daniel dan Rita dalam ruangan . Rita menidurkan Rayya
“Rayya!, kamu pintar!...mami sempat takut kamu lahir papi pergi, eh gak taunya kamu muncul duluan!! Terima kasih ya!” bisik Rita. Rayya seperti merespon ucapan maminya. Daniel menghampiri ibu dan anak. Lalu mencium kening mereka
“Aku terharu sekali” ujarnya menitikkan air mata
“Terharu?”
“Aku tadinya sendirian, lalu berdua sama kamu. Sekarang kita berlima!” ujarnya sambil duduk di samping ranjang Rita
“iya,..cepat juga ya?”
__ADS_1
“Kamu istirahat deh!” Daniel mengambil Rayya dari gendongan Rita, dan menidurkannya. Rita terlelap karena kelelahan setelah melahirkan.
_bersambung_