Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 148: Kisah Mario


__ADS_3

Beberapa jam sebelum pulang ke Jakarta, Andi mengajak Dewa untuk mencari Mario.


“Ar, bantuin gue dong cari si O!”


“Kenapa sama si cacing?”


“Kakek gue mau dia jadi dekorator di rumah, lagi pula ada pembayaran yang belum lunas”


“kalian pulang hari ini?”


“Nanti siang!, eh gak tau deh, mungkin sebelum dzuhur”


“Gue perlu say good bye gak sama Rita?” tanya Dewa


“Gak usah! Kan sudah tadi malam, masa lo mau buka luka lagi setelah dijahit”


“Iya deh, mending gak usah ketemu ya?” Dewa segera mengambil kunci mobil, kemudian mereka berdua masuk ke dalam sedan camry berwarna merah cherry


“Lo gak mau ganti dengan mobil listrik Ar?” tanya Andi


“Di sini stasiun pengisiannya masih jarang Di, lagi pula lama kan nge charge beterainya?”


“Kan bisa charge di rumah, mobil gue di charge 13 jam untuk berkendara 8 jam ya”


“Gue baca testimoninya sih Ar, tapi masih ngeri-ngeri sedap. Kalau tiba-tiba baterainya soak gimana? Kan ada tuh yang viral mobil listrik di dorong pakai motor?”


“Ya jangan beli mobil yang merek itu, yang mahal sekalian dong Tesla atau Apple!”


“Memangnya Apple ngeluarin?”


“Gue lihat sih di medsos, katanya lebih bagus dan pintar daripada Tesla”


“mahal pastinya ya?”


“Ada harga ada barang Ar!”


“Alamat si cacing di situ?”


“Tadi tante Saye ngasih alamat dia, gue telpon-telponin dia gak angkat.”


Mereka tiba di suatu daerah yang cukup kumuh, Andi turun dari mobil dan bertanya alamat yang dituju, setelah mendapat petunjuk mereka tiba di suatu rumah yang bertuliskan “Panti Asuhan Sayang Ibu”


Andi dan Dewa memasuki tempat tersebut untuk mencari Mario


“Mario dari malam gak pulang mas! Tadi juga ada debt collector nyariin dia!” ujar pengurus Panti


“kira-kira ibu tahu dia ada di mana?”


“Coba cari di sekitar mesjid besar, biasanya dia tidur di situ, kadang bantu jadi marbot!” ujar ibu pengurus


“Baik bu terima kasih!” Andi dan Dewa pergi meninggalkan panti, kemudian menuju mesjid besar tak jauh dari situ. Mereka melihat Mario sedang mengepel lantai mesjid


“Hey Mario!” panggil Andi


Mario, tanpa melihat kedua orang yang mencarinya, ia langsung berlari ketakutan, hingga Dewa mengejarnya


“Woy Cacing!!” panggil Dewa. Sayup-sayup Mario mendengar kata cacing di telinganya, kemudian ia menghentikan larinya. Lalu menghampiri Dewa yang nafasnya terengah-engah


“Ah Elo Dewong!, gue kirain siapa?” ujarnya menghampiri


“Dicariin Andi lo! dia mau bayar!” ujar Dewa yang masih terengah-engah


Mario menghampiri Andi, kemudian mereka duduk bertiga di bawah pohon rindang di dekat mesjid


“Nih O, pembayaran kemarin, nah ini bonus dari pak Daniel, dia bingung hari gini minta cash! Memangnya Lo gak punya rekening bank?” tanya Andi


“Gak mau ah, nanti uang Ai dipotong admin melulu!, habis deh jerih payah ai!” ujarnya sambil menghitung uang dari Andi


“Wow 20 jute!” ujarnya senang


“Pak Daniel baik banget yee, beruntung deh si Ritong!” ujarnya lagi


“Ngomong-ngomong kog lo sekarang tinggal di panti?” tanya Andi


“Yah Ding, setelah bokap dan nyokap pisah, gue ikut bokap, karena beliau sakit-sakitan. Rumah ai sudah laku terjual, sudah dibagi untuk nyokap, untuk bokap sama untuk bayar hutang-hutang. Eh bokap sakit terus, akhirnya terpaksa deh ai berhutang, rumah yang ai beli terpaksa di jual. Bokap meninggal, ai bingung tinggal di mana, akhirnya ai tinggal di panti itu!”


“OO bokap sudah meninggal? Innalillahi wa’innaillaihi roji’un” ujar Andi dan Dewa bersamaan


“Ai sih gak sedih, habis kasihan bokap dimaki orang terus, sampai sakit.”


“Terus duit hasil kerja lo? lo kasih ke panti?”


“Sebagian untuk bantu-bantu mereka deh, sebagian buat bayar hutang berobat bokap”


“memangnya hutang bokap lo berapa?” tanya Andi penasaran


“Ai sih sudah cicil ya dari dua tahun lalu tapi tuh debt collector masih saja teror ai!, gak lunas-lunas!”


“Coba sini lihat surat hutangnya!”


Mario memberikan surat hutangnya ke Andi, dengan serius Andi membaca perjanjian hutang, kemudian menghitung bunga dan angsuran yang sudah dibayar


“Ah elo O, Lo tuh dikibulin!, Lo tuh sudah lunas, lebih 5 juta malah!” ujar Andi selesai menghitung


“Serius Lo? Aduh..gimana nih, ai mau minta 5 juta uang ai, kurang ajar tuh orang!” Makinya


Kemudian ia berdiri dan mengatakan sesuatu, setelah itu kembali ke Andi dan Dewa yang memperhatikannya

__ADS_1


“Jadi gimana nih? Mau gue bantuin gak?” tanya Andi


“Bayar gak?” tanya Mario


“Enggak, tadi Rita wanti-wanti, bantuin si O ngitung ya kak, dia gak pinter ngitung, semua angka dia anggap bulat, makanya Rita juluki O!” ujar Andi


“OOO begitu asal-muasal O!” ujar Dewa


“Ah si Ritong, dia memang baik, berbudi luhur, gak kalah deh sama ibu Kartini!” ujar O lagi, yang membuat Dewa dan Andi tersenyum geli


Dewa dan Andi di bawa ke suatu tempat oleh Mario, ternyata debt collector itu termasuk ilegal. Mereka tidak peduli kliennya sudah lunas apa belum, mereka tetap menagih. Mario yang datang sambil memberikan surat hutang dan perhitungannya tentu saja mereka tolak. Mereka tidak terima, bahkan merobek surat hutang itu


“Heh! Gue sudah bikin puluhan salinan surat hutang itu dan pelunasannya!, yang lo robek itu salinannya!” ujar Mario gak mau kalah. Debt collector yang juga kumpulan preman mengancam mereka bertiga, bahkan berniat memeras Andi yang terlihat memakai jam tangan mahal. Dewa yang memiliki bela diri mumpuni tentu saja dapat menghalau mereka. Andi yang bisa silat juga dapat melawan, sedangkan Mario yang sedikit belajar bela diri dari Rita juga ikut melawan. Tetapi lawan mereka terlalu banyak, dan mereka mengeluarkan senjata tajam, sehingga mereka bertiga terpaksa berlari meninggalkan tempat itu. Para preman mengejar mereka, Andi yang jarang berolah raga tanpa kesulitan karena harus berlari. Mereka berniat kembali ke mobil Dewa. Andi terengah-engah menghindari pada preman. Tanpa di duga 3 orang anak SMP melihat Andi yang terengah-engah


“Eh!, kalian ingat orang ini gak?” tanya salah satunya


“Enggak, memangnya siapa dia?” tanya temannya


“Setahun yang lalu, temannya kak Lisa, bilang ke kita kan? Kalau melihat orang ini di manapun, kita minta bantuan polisi!”


“Memang orangnya sama?” seorang dari mereka memfoto Andi, kemudian membandingkan dengan foto yang mereka punya sebelumnya


“Iya sama!, tuh mereka di kejar preman, ngumpet yuk!” mereka bersembunyi di gang, setelah para preman berlalu mereka segera ke polsek terdekat untuk melaporkan tawuran. Andi dan kawan-kawan sudah sangat terpojok, mereka pasrah dengan keadaan, tak lama kemudian polisi dan warga setempat datang membantu, mereka juga merasa resah dengan kelakuan para preman yang selama ini memeras mereka, terutama para pedagang keliling. Para preman di bawa polisi untuk diamankan, sementara Andi dkk juga dibawa sebagai saksi. Di polsek mereka bertemu dengan ketiga anak yang melaporkan kejadian itu.


“Kalian yang melapor ya? terima kasih “banyak!” ujar Dewa dan Andi bersamaan


“Gak apa-apa kak, Cuma ini yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan kak Rita!” ujar salah satunya


“hah? Kalian kenal Ritong? Eh Rita?” tanya Mario heran, ketiga anak itu terlihat masih SMP


“Sebenarnya setahun lalu, kami terlibat tawuran antar sekolah, kak Rita menyelamatkan kami bertiga!. Bahkan ia membayari dia yang harus ke dokter karena kapalanya kena celurit!”


“Rita ikut tawuran?” tanya Andi


“Enggak kak, kak Rita itu temannya kak Lisa yang Omnya polisi. Melalui Omnya kak Lisa, orang yang mengancam kami itu akhirnya bisa ditangkap.”


“Itu bukan tawuran dong!” ujar Mario lagi


“Yaa, anggap gitu saja deh, soalnya pelakunya juga masih SMP kayak kami. “


“Terus?” tanya Dewa penasaran


“Lalu kami berterima kasih sama kak Rita, kami akan berbuat apa saja untuk membalas kebaikannya!” ujar salah seorang anak itu


“Kemudian kak Rita menshare foto kakak ini, dia bilang kapan pun melihat dia lagi terengah-engah atau dikejar orang, kami harus membantu kakak! Harus lapor polisi jangan teriak ke warga!” ujar anak itu mengingat pesan Rita. Setelah urusan dengan preman selesai, dan mereka tidak akan menagih lagi ke Mario, mereka pun keluar dari polsek


“O, lo ikut gue ke Jakarta! Kakek gue pengen lo jadi design interior di rumah kami!”


“Gak mau ah!, masa gue harus meninggalkan profesi gue di sini?” ujarnya keras kepala


“Beneran?” tanya Mario


“Bener!, kemarin lo cerita panjang lebar sama kakek gue kan? Nah dia kasihan tuh sama Lo!”


“Gak mau ah kalau dapat kerjaan karena kasihan!” ujarnya lagi


“Heh O, lo ceritanya sama kakek Sugi kan? Nah yang mau mempekerjakan lo itu kakek yang satu lagi!”


“oh kakek Soto?” tanyanya


“Iya betul, dia terkesan dengan hasil kerja lo, sebenarnya kakek Sugi juga, tapi beliau gak ada job buat Lo.”


“Kakek Soto itu banyak job buat gue?” tanya Mario lagi


“Banyak, malahan lo bakal di sekolahin lagi sama dia, kakek gue yang itu hobi koleksi orang-orang berbakat!”


“Ih serem banget ai jadi koleksi aki-aki!”


“Bukan begitu O, dulu kakek gue itu juga susah kayak Lo, terus ada orang yang berbaik hati sama dia, jadi dia menyambung kebaikan orang itu dengan membantu orang berbakat yang susah kayak Elo!” ujar Andi menjelaskan. Mario terdiam, ia masih ragu


“Lagi pula nih ya cing, kalau lo bisa kerja di perusahaan kakeknya dia, lo bisa bantu banyak orang dari gaji lo! Lo bisa kirim untuk anak-anak panti, dari pada lo luntang-lantung gak jelas kayak gini!” ujar Dewa lagi


“Hmm..menurut lo begitu Wong?” Mario memanggil Dewa menjadi Dewong di singkat jadi Wong


“Udeh gak usah mikir lagi, sudah jam 10 nih, kita pada mau pulang!” ujar Andi gusar


“Ya udah deh, ai ikut, tapi kalau Ai gak betah, Ai balik kemari ya?” ujar Mario, Andi mengangguk, meskipun ia ragu Mario akan kembali ke sini. Dewa mengantarkan Mario ke panti untuk mengambil barang-barangnya. Mario memberikan uang 10 juta untuk kepentingan panti, kemudian ia pamit pada ibu panti.


“Mom! Mario pergi sejenak ya, entah kapan Ai akan kembali” pamitnya puitis


“Iya Mario, maafiin emak ya kalau banyak salah sama Mario!” ujar ibu panti yang minta dipanggil Emak


“Sama-sama Mom!, buat Mario, Mom sudah berikan semua yang terbaik buat Mario!” ujarnya menangis


Semua penghuni panti melepas kepergian Mario dengan lega tapi juga sedih, si pembuat keributan tetapi juga pencari nafkah meninggalkan mereka untuk mengejar cita-citanya.


Mobil sedan camry meninggalkan panti asuhan , Mario duduk di kursi belakang


“Eh Ding, kog bisa ya si Ritong bisa tahu kalau Lo bakal dikejar-kejar kayak gitu?” tanya Mario heran


“Rita itu punya indera ke enam Cing, waktu itu adik gue bisa selamat juga karena dia mimpiin adik gue dikejar orang”


“Hah? Masa? Gimana ceritanya? Gue gak pernah dengar tuh” tanya Andi


“Hmm..kejadiannya waktu dia lagi di Bali, katanya sih di pesawat, dia mimpi lihat cewek lari ketakutan, ada banyak cowok yang ngikutin. Dia heran, kayaknya pernah lihat muka anak cewek itu. Nah, kebetulan gue nelpon dia kan? Yang mau ikut sama Lo? nah dia baru sadar tu, kalau cewek itu ternyata Isye adik gue. Terus dia minta Tomi dkk nolongin Isye, alhamdulillah deh Isye selamat”


“Oo dia suka mimpi begitu ya? tapi kalau tentang Lo berarti mimpinya sudah lama dong?” ujar Mario lagi

__ADS_1


“hmm...dugaan gue sih, dia dapat bocoran bakal ada kejadian apa, masalahnya dia gak tau kapan terjadinya!” ujar Dewa lagi


“Kayak paranormal ya?” ujar Mario


“Bukan O! Rita gak bisa meramal, itu terjadi saja tanpa dia tahu, bahkan cowoknya bakal meninggal karena kecelakaan saja dia gak tahu!” ujar Andi tiba-tiba


“Maksud lo Tomi?” tanya Dewa


“Iya!, makanya Rita sempat kesal, dia bilang kenapa dia gak bisa dapat firasat itu, padahal yang lain-lain bisa” ujar Andi menceritakan


“Mungkin takdir!, kata guru ngaji gue, kalau kita belum ditakdirkan wafat, biasanya ada aja jalan supaya kita selamat, tapi kalau sudah waktunya ajal, ngapain saja juga gak bakal selamat deh!” ujar Mario tiba-tiba dengan suara lelaki normal


“Tuh suara lo bisa normal! Kenapa gak dilanjutin?” tanya Dewa


“Pegel Wong!, udeh biasa melambai-lambai!” ujarnya lagi


Dewa dan Andi tertawa mendengar ucapan Mario, tak berapa lama mereka tiba di penginapan Qowi


“Lo gak masuk Ar?” tanya Andi


“Gak usah, gue langsung pulang saja, capek habis dikejar preman!” jawan Dewa


“Wong! Makasih ya? sudah dibantuin!” tiba-tiba Mario memeluk Dewa


“Heh! Lo kenapa sih? Biasa aje dong!” Dewa mendorong Mario


“Huh Sombong!” Mario menarik rambut Dewa, dan Dewa membalas, mereka kembali jambak-jambakan


“uhh!! Come on!!!” teriak Andi memisahkan, Dewa langsung merapikan rambutnya dan masuk ke mobil lalu mengacungkan jari tengah lau melambaikan tangannya ke arah Mario


“Makasih ya Wong!!!” teriak Mario senang, ia membawa tasnya masuk ke penginapan bersama Andi.


Di penginapan ia bertemu Rita yang baru selesai sarapan


“Eh pengantin baru!” tegur Mario


“Eh orang lama!, katanya mau ikut ke Jakarta?” tanya Rita santai


“iya nih diajak Anding!, oiya, semalam asyik dong ya?” tanya Mario


“Kepo deh lo!!!” ledek Rita meninggalkan Mario yang dipanggil Andi untuk menemui kakek Darmawan.


Sementara Mario menghadap kakek Darmawan, Andi menemui Rita di kamar mamanya


“Rit, tadi kita dikejar preman!” ujarnya tiba-tiba


“Astaghfirullah! Kamu gak kenapa-napa Di?” tanya Ratna khawatir


“Tenang ma, pertolongan tiba pada waktunya!” ujar Andi tersenyum


“Pertolongan? Siapa yang nolongin? “ tanya Rita


“Itu anak SMP yang pernah Lo tolongin! Kalau mereka gak lapor polisi, wah sudah deh kita bakal habis!”


“Oh trio gembul!”


“Gembul? Tapi mereka gak gembul kok!”


“Dulu iya, terus Rita suruh olah raga supaya gampang lari kalau ada apa-apa, mereka masih ingat rupanya?”


“Iya Rit, kok lo bisa tahu gue bakal terpojok?”


“sebenarnya sih kak, waktu itu mereka maksa jadi anak buah Rita, mereka bilang bikin geng baru, kak Rita ketuanya. Terus waktu itu Rita keingetan kak Andi. Lalu Rita men Share foto kak Andi, sebenarnya Rita bilang begini, kapan pun kalian melihat orang ini kesulitan, kalian bantu ya? kalau dalam bahaya langsung ke polisi. Eh ternyata bisa berguna juga ya?” ujar Rita menjelaskan


“Apapun deh Rit, makasih ya!, btw Lo masih suka mimpi kayak gitu lagi?”


“Belum mimpi lagi si Kak, sudah lama”


“Sejak dia dekat sama Daniel tuh Di, dia gak mikirin yang lain!” ledek mamanya


“Ah mama bisa saja!” Rita tersipu. Pintu kamar diketuk, Rita membukanya


“Yuk kita pulang bisnya sudah datang!” ajaknya


“Kita naik bis?” tanya Rita


Daniel menunjukkan bis besar mewah.


“Masya Allah Daniel!!” Ratna dan Andi berdecak kagum


“Supaya kita gak terpisah-pisah!” ujarnya lagi, Daniel membantu memasukkan barang-barang Ratna ke bagasi bis, juga barang-barang Rita. Ia bertemu dengan Mario yang juga memasukkan kopernya ke dalam bis


“Eh mister Daniel!, makasih ya, bonusnya besar!” ujarnya tertawa


Daniel yang tidak paham bahasa Indonesia bingung dengan ucapan Mario


“Huh?”


“Katanya terima kasih, sudah dikasih bonus besar!” Rita menerjemahkan dengan bahasa Inggris


“Oo, gak masalah!” Daniel tersenyum, kemudian ia menggandeng Rita masuk ke dalam bis. Mario masih merasa cemburu


“huh!” wajahnya ngambek


“Udeh! Kenapa begitu lagi sih!” Andi merangkul Mario untuk masuk ke dalam bis.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2