Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 106: Cerita Kiano


__ADS_3

“Papanya Kiano sudah meninggal pagi ini, dek Rita. Saya Om nya, Fauzil”


“Innalillahi wa’innailaihi roji’un, sekarang almarhum ada di mana Om?”


“Abu Dhabi, insyaAllah siang nanti akan segera dimakamkan. Kalau De’Rita bisa membawa Kiano kemari, kami akan sangat berterimakasih. Saya akan kirim alamat kami, tolong kabari jika Kiano sudah ditemukan!”


“InsyaAllah Om, akan saya usahakan!” Rita mengakihiri percakapannya dengan Fauzil, ia membuka rekaman CCTV terakhir Kiano pergi. Kemudian ia segera mandi dan berganti pakaian.


“Mau kemana Rit, sudah rapi ?” Andi melihat Rita yang bergegas keluar dari kamarnya


“Nyari Kiano kak, papanya meninggal pagi ini!”


“Innalillahi wa’innaillaihi roji’un!, apa Kianonya tahu?”


“Kayaknya engga deh, soalnya Om Fauzil nyariin”


“Kiano punya Om?”


“Katanya adik dari papanya, mereka tinggal di UEA”


“Ooo jadi Kiano keturunan arab ya?”


“Iya, Rita juga baru tahu”


“Emang dia gak pernah cerita latar belakang keluarganya?”


“Enggak, dia Cuma cerita bonyoknya cerai ketika ia belum lahir.”


“Kok bisa?”


“Jadi ketika bonyoknya bercerai mamanya lagi hamil Kiano”


“Emang boleh bercerai kalau lagi hamil? Bukannya gak boleh?”


“Mungkin setelah jatuh talak baru ketahuan mamanya hamil”


“Terus papanya tahu gak kalau Kiano itu ada?”


“Gak tau deh, dia kan rada absurd kak!”


“Iya juga, jadi lo mau nyari di mana?”


“Rita mau mencari di tempat-tempat yang memungkinkan dia kunjungi”


“Gue ikut deh, gue yang bawa mobil ya?”


“Bilang aja mau minjem!”


“Sekalian, jadi lo bisa bebas nyari gue yang bawa, kan lebih ringan”


“Iya deh, nih!” Rita memberikan kunci mobilnya ke Andi. Dengan segera mereka meninggalkan rumah dan berkeliling mencari Kiano


“Coba di motel ini, siapa tahu dia nginep di sini!”


“Lo bawa fotonya gak?”


“Kan kemarin kita foto-foto berempat, aku pakai itu saja!”


“bener juga, untung kita berfoto dulu ya!” mobil merah memasuki halaman penginapan kecil, Rita menemui resepsionis, beberapa menit kemudian ia keluar dari motel tersebut dan kembali ke mobil


“Gak ada Kak, aku tanya ke Satpam dan lihat CCTV tadi malam juga gak ada”


Kira-kira 2 jam sudah mereka berkeliling dan bertanya ke penginapan sekitar, bahkan mencari di terminal bus dan stasiun kereta api.


“Apa dia sudah di Korea?” gumam Rita berpikir


“Coba inget-inget deh Rit, tempat yang paling dia sering kunjungi dan bikin dia nyaman!”


“Sering dikunjungi dan nyaman?” Rita berpikir keras


“Eh kak, yang menuju ke rumah kita ada apotek kan?”


“kayaknya ada, tapi gak tau masih buka apa enggak, emang lo sakit?”


“Coba kesitu deh, jangan-jangan dia di situ”


“Kog larinya ke apotek? Bener-bener absurd ya tu anak?”


“Dulu dia sering di suruh mamanya ambil obat untuk terapi kanker, dia bilang apotek yang membuat mamanya lebih baik”


“Kog apotek? Tuhan dong? Aneh ya tu anak?”


“Maklumlah Kak, dia tuh kadang sering terombang-ambing, selama ini dia dekat sama keluarga dari mamanya.Sedikitpun dia gak pernah cerita tentang papanya, katanya mama juga gak pernah cerita tentang papanya”


“Biasanya dia rindu figur ayah tuh”

__ADS_1


“Memang dia dekat sekali sama Ayah, bahkan pernah ia menjadi comblang antara mamanya dan ayah”


“Oya? Terus? Kenapa mereka gak jadian?”


“Mamanya di diagnosa kanker”


“Kanker apa?”


“paru-paru, mungkin karena tempat kerjanya banyak yang merokok. Jadi almarhumah menjadi perokok pasif”


“Kasihan ya Kiano, anak yang kelihatan selalu ceria, eh gak taunya menyimpan kisah sedih. Padahal selama ini gue pikir gue yang paling sedih ceritanya, gak taunya dia lebih sedih”


“Kisah kita gak seberapa kak, mereka kadang kesulitan keuangan, pernah Kiano beberapa hari tidak masuk sekolah karena ia malu selalu dipanggil ke TU belum bayar sekolah”


“Oya? Terus gimana? Dia bisa putus sekolah dong?”


“Alhamdulillah, ayah punya teman yang kantornya punya program CSR yaitu beasiswa untuk anak-anak tidak mampu. Beasiswanya bukan hanya menanggung biaya sekolah saja, tapi kebutuhan anak itu. Kalau gak salah beberapa anak di sekolah Rita juga dapat deh”


“Oya? Bagus dong! Perusahaan apa tuh?”


“Apa ya? DR apa gitu?”


“DRC?”


“ah iya betul, Rita pikir dulu DRC itu kependekan dari dokter yang namanya C”


“Bukan, DRC itu singkatan dari Darmawan Restu Company, itu perusahaannya kakek”


“Hah? Wahhh...Restu, jadi nama tengah kakek kita itu Restu?”


“Bukan, Restu itu nama Partner usaha kakek, dulu awal usaha nama perusahaan kakek DRC, setelah besar mereka pecah kongsi, kakek dengan Darmawan Corp, pak Restu bukin sendiri, tapi gue gak tau nama perusahaannya”


“Kak Andi banyak tahu tentang kakek Darmawan ya?”


“Walau kakek itu sibuk, tapi beliau sering cerita kalau dulu beliau berangkat dari orang susah. Karena beliau pintar beliau bisa dapat beasiswa tapi hanya untuk biaya sekolah, tidak untuk kebutuhan hidup. Jadinya setelah usahanya jalan ia membuat program CSR itu.”


“Berarti program beasiswanya sudah lama ya?”


“Iya, bahkan ayah Reza juga hasil dari beasiswa itu”


“Ooo, begitu. Rita turun di depan situ saja kak Andi cari parkir, nanti Rita telepon ya kalau minta dijemput!” Andi meminggirkan mobil dan menurunkan Rita di depan Apotek. Rita memasuki apotek bertuliskan 24 jam, di dalamnya banyak orang yang mengantri untuk mengambil obat. Rita mencari Kiano dengan cepat, dan ia menemukannya sedang duduk menghadap televisi. Rita duduk di sampingnya


“Heh! Pergi gak bilang-bilang, main ngeluyur aja!” tegur Rita, Kiano hanya memalingkan wajahnya ke Rita, lalu kembali menatap televisi.


“Kog Lo bisa tahu gue di sini?”


“hmm..iya, gue lihat apotek ini jadi ingat almarhumah mama”


Rita mengelus punggung Kiano


“Lo sudah tahu kabar tentang bokap lo?”


“Iya, sudah tahu”


“Tahu dari mana?”


“Tante gue nelpon, dia dikabari sama adiknya papa”


“Turut berduka ya Ki!” Rita merangkul Kiano


“Hmmm...” Kiano hanya diam saja


“Apa karena ini lo cabut gak bilang-bilang dari rumah gue?”, Kiano memandang Rita, lalu kembali melihat TV


“Perasaan gue kacau Rit, enam bulan lalu gue dapat kabar kalau bokap gue sakit keras. Lo tahu kan selama ini gue gak dekat dengan bokap, bahkan gue tahu tentang beliau setelah nyokap wafat. Beliau minta gue datang ke rumahnya di Abu Dhabi, beliau juga ngirim banyak uang untuk kebutuhan ongkos gue pergi ke sana”


“Lo pergi ke Abu Dhabi? Sendirian?”


“Sama tante gue, berdua. Tante gue yang kenal sama bokap dan keluarganya”


“Bokap lo orang arab ya Ki? Baru tahu gue”


“Emang Lo gak bisa lihat perawakan gue sama model hidung gue?”


“Enggak, kalau hidung atau warna kulit orang India juga mancung-mancung.”


“Jadi Lo pikir gue orang India?”,tanya Kiano. Rita mengangguk polos


“Nama belakang gue aje Abdulah, masa orang India. Kalau Bachan tuh baru India!”


“Bachan, tempe kali!”


“Itu bacem! Lo becanda mulu Rit! Mo denger cerita gue gak?”


“Ceritanya di rumah gue aje yuk, jangan di sini, gak kedengeran!, kasihan kak Andi mondar-mandir gak dapat parkir!” Rita melihat pesan dari Andi di ponselnya. Kiano menurut.

__ADS_1


Sesampainya di rumah.


“Lee, tolong bawakan makanan dan minuman untuk Kiano, kasihan belum makan!” ujar Andi ketika sampai di rumah


“Lo duduk dulu Ki, jangan emosi. Ayo dilanjut ceritanya!” ujar Rita


“Bokap gue itu anak pengusaha kaya, sedangkan nyokap orang biasa. Bokap sudah ditunangkan dengan calon dari keluarga kaya juga. Tapi bokap bersikeras menikahi nyokap. Mereka menikah di Indonesia, kira-kira 6 bulan pernikahan, bokap gue bilang mau kembali ke UEA, dia gak punya penghasilan di sini. Maklum dari keluarga kaya, selama ini hidupnya disupport keluarganya, begitu beliau membangkang, semua fasilitas dari keluarganya diputus. Di bulan-bulan awal pernikahan beliau masih punya simpanan uang, itupun dikirim diam-diam oleh adiknya Fauzil, tapi lama-lama ketahuan. Om Fauzil gak bisa ngirim uang lagi, karena di banned sama papanya. Bokap gue yang nota bene anak manja juga gak biasa kerja, nyokap gue yang kerja. Menurut tante gue, bokap gue bukan saja manja, tapi juga cemburuan. Beliau sangat cemburu sama nyokap dan teman kerjanya, padahal tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan kerja. Sampai pada puncaknya bokap berbuat kasar sama nyokap, sampai nyokap harus nginap sehari di UGD. Keluarga nyokap tidak terima dengan perbuatan bokap, mereka melaporkan ke polisi, tapi karena bokap bukan WNI, jadi melibatkan kedutaan besar. Akhirnya bokap dideportasi, mereka bercerai. Sebulan kemudian nyokap baru tahu kalau dirinya hamil, tapi ia takut bilang ke bokap. Ia takut gue dibawa, apalagi ketahuan kalau gue anak lelaki.”


“Ooo” Rita dan Andi menyimak sambil menyemil keripik


“Kalian kayak lagi nonton bioskop, nyimak sambil ngemil”


“Lo mau?” Andi menawarkan kripiknya. Kiano mengambil beberapa, lalu ia melanjutkan ceritanya


“Awalnya keberadaan gue tidak diketahui bokap, tapi setelah nyokap sakit parah, baru deh beliau menghubungi bokap. Almarhumah takut gue sendirian setelah beliau wafat”


“Nyokap lo dulu TKI? Bisa ketemu bokap?” tanya Rita


“Nyokap gue dulu penerjemah di KBRI UEA, ada acara di kedutaan yang melibatkan perusahaan milik keluarga bokap, mereka sering ketemu.”


“Terus nyokap gak lanjutin profesinya?”


“Setelah menikah beliau agak susah masuk KBRI lagi, apalagi ada ketidaksukaan keluarga bokap yang berpengaruh, seperti lo tahu nyokap gue nyambi kerja di cafe-cafe”


“Terus Lo ketemu sama bokap gimana? Pakai bahasa apa?”


“Bokap pakai bahasa Inggris, gue? Bahasa isyarat”


“Serius nih! Lo lagi sedih kan?”


“Gini-gini gue juga paham bahasa inggris Rit, nyokap gue kan penerjemah tiap malam gue disuruh belajar bahasa inggris sama arab”


“Kalau bisa bahasa Inggris, kenapa kemarin Lo gak cerita pakai bahasa Inggris?”


“Emang sengaja, supaya Daniel gak perlu tahu cerita gue!”


Rita melemparkan bantal kecil ke arah Kiano


“heh! Malah berantem, lanjutin ceritanya Ki!” ujar Andi, ia makin tertarik dengan asal-usul Kiano


“Ya, ternyata bokap sudah menikah lagi dengan perempuan yang dijodohkan keluarganya, anaknya 3 perempuan semuanya”


“Ooo begitu, pantesan lo dicari, keluarga arab masih memegang prinsip ahli waris cowok yang utama sih ya?” ujar Andi


“Gue gak tau deh tentang itu, yang jelas, waktu gue datang, bokap lagi di opname di RS. Beliau nangis minta maaf sama gue karena menyia-nyiakan gue selama ini. Gue bilang, bokap gak salah, kan dia gak tahu gue ada. Anehnya dia bilang dia tahu gue ada, sebenarnya ketika bercerai bokap masih stalking nyokap. Ia sampai menyewa orang untuk ngikutin nyokap. Setelah gue lahir, orang yang ngikutin nyokap mati digebukin warga karena bertindak mencurigakan, sejak saat itu gak ada kabar lagi tentang gue. Ditambah lagi, nyokap pindah rumah.”


“Kasihan ya?”


“Iya, kasihan gue?”


“Bukan, kasihan orang yang mati digebukin!” ujar Rita dan Andi serempak


“Kalian sudah kakak adik beneran ya?” tanya Kiano


“Iya dong masa boongan?” timpal Andi


“Gak half-half lagi?”


“Half-half pala lo! Andi memiting leher Kiano karena gemas


“Heh sudah dong, gimana nih Ki, pak Fauzil minta gue untuk menghubungi beliau kalau lo ketemu. Bokap lo mungkin sudah dikubur sekarang”


“Menurut Lo gue perlu datang gak Rit?”


“Datang dong, ucapin perpisahan sama bokap!”


“Lo mau nemenin gue? Andi juga ikut!” ajak Kiano berharap


“Ikut yuk Rit!, sekarang hari jum’at , hari minggu kita pulang!” ajak Andi


“Emang bisa begitu? Visanya gimana?”


“urusan itu kasih aja ke Om Fauzil, pasti bisa cepat deh!”


“Ya udah ayo kak, aku nelpon pak Fauzil dulu!” Rita mengirim pesan ke pak Fauzil, beberapa saat kemudian Fauzil menelpon Rita, dan berbicara dengan Kiano.


“Jadi gimana? Boleh kita ikut?” tanya Andi


“Boleh, lagi diurus visa sementara, lo sudah ngirim dokumen kan Rit?”


“sudah, tadi via email, punya kak Andi juga sudah!”


“Eh Rit, emang paspor lo sudah dibalikin kakek?”


“Sudah, pas ultah kemarin!”

__ADS_1


“Oo kebetulan banget ya, ayo kita siap-siap!”


Mereka pun bersiap berangkat ke Abu Dhabi


__ADS_2