Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 133: Ketahuan???


__ADS_3

Tak terasa dua minggu sudah berlalu sejak kembalinya Rita ke Jakarta. Ia sangat sibuk dengan tugas-tugas sekolah baik yang dikerjakan secara kelompok dan perorangan. Suatu sore ia mengeluhkan sesuatu kepada Ridwan, ketua pengurus rumah tangga.


“Pak Ridwan, beberapa hari lagi tugas sekolah yang dikerjakan secara kelompok , nah minggu besok giliran saya. Jujur saja saya tidak nyaman jika teman-teman pada kemari. Rumah ini terlalu mewah, saya gak mau menjadi buah bibir lagi seperti di sekolah lama saya”


“Itu mah gampang Mba, kita sewa rumah saja, bisa bulanan atau tahunan terserah mba Rita”


“Oh ya? kira-kira biayanya berapa ya?”


“Tergantung kondisi rumah dan lokasi rumah mba.”


“Hmm..benar juga, nah pak Ridwan bisa bantu Rita untuk administrasinya untuk penyewaan dan lapor rt?”


“Itu mah gampang mba Rit, wong mba Rita bisa sekolah di SMUN saja karena link saya” ujar Ridwan membanggakan diri


“Oh iya pak, saya juga heran. Orang TU bilang saya keponakannya pak Ridwan dari istri bapak. Kenapa harus bohong?”


“Sebenarnya gak bohong sih mba, itu lebih apa ya? orang TU itu teman saya waktu SMA. Dia bilang di sekolah tempatnya bekerja banyak bangku kosong karena sistem perekrutan siswa yang menitik beratkan ke lokasi terdekat dengan sekolah, tetapi pada kenyataannya kuota tidak tercapai. Sepertinya anak-anak sekarang lebih memilih SMK daripada SMU”


“Ooo begitu, jadi ceritanya saya membeli bangku kosong?”


“Iya mba, tetapi harus warga dekat situ, nah kebetulan mantan istri saya tinggal di situ. Jadi saya menitipkan mba Rita di Kartu Keluarganya. Tentunya dengan harga yang pantas”


“Ooo begitu tetapi hebat juga ya Pak Ridwan bisa akur dengan mantan”


“Itu karena ada anak saya yang masih SD mba Rita, kalau saya ribut sama ibunya nanti kejiwaan anak saya terganggu lagi pula toh kita sudah tidak serumah lagi, anggap saja saudara “ ujar Ridwan tersenyum


“Pak Ridwan anaknya ada berapa?”


“Anak saya 2 mba Rita, yang pertama perempuan, baru tamat sekolah tahun lalu. Alhamdulillah sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan milik pak Darmawan. Sedangkan yang bontot lelaki baru kelas 4 SD, ia ikut ibunya. Tadinya mau saya bawa tinggal di sini, tetapi saya pikir-pikir kalau dia melihat rumah ini dan kemewahannya nanti dia malah gak mau bekerja keras”


“Kog begitu pak?”


“Lho mba Rita saja penghuni rumah sempat gak nyaman toh orang melihat rumah ini? Apa lagi saya. Saya takut anak saya itu jadi pengkhayal, seperti anak-anak sekarang yang belagak terlihat kaya tapi untuk konten, aslinya kere!...wahh..saya gak mau anak saya jadi seperti itu”


“Tapi anak-anak tahu Pak Ridwan kerja di rumah besar ini?”


“Ya gak tahulah, saya cuma bilang, bapaknya bekerja sebagai karyawan. Di sini selain gajinya baik, fasilitas juga lengkap mba, kesehatan ditanggung, sampai anak saya yang bontot itu dapat bea siswa dari perusahaan pak Darmawan, pokoknya kami tinggal kerja yang rajin deh gak usah mikir macam-macam”


“Alhamdulillah banget ya pak, jadi saya minta rumah yang sederhana saja pak, dekat dengan tempat tinggal istri eh mantan bapak juga gak apa. yang penting rumahnya masih layak. “


“Spesifikasinya kayak apa ya mba?”


“Spesifikasi? Kaya ponsel saja, hmmm...2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, kalau bisa ada garasi atau teras”


“Lho untuk apa mba? Kan gak boleh bawa mobil ke sekolah?”


“Saya berniat naik sepeda listrik pak, kan lagi musim tuh”


“Oo begitu, mau bulanan atau tahunan mba?”


“Hmm..bulanan saja kali ya Pak, toh di tempati sekali-kali saja”


“Begitu, range harganya?”


“Ya, Pak Ridwan cari dulu, nanti kalau tempatnya saya suka, langsung saya bayar!”


“Ini gak perlu bilang ke tuan Darmawan toh mba?”


“Nanti saya bilang ke kakek, toh saya cuma menggunakan rumah itu untuk setengah hari kalau ada tugas saja. Kalau engga ada ya tetap di sini tinggalnya”


“Hmm..begitu, baiklah, nanti saya akan mengubungi istri eh mantan saya malam ini supaya mencarikan rumah yang mba Rita inginkan”


“Siip,..eh Pak maaf boleh tahu gak, maaf ya kepo. Kenapa Bapak bercerai? Kelihatannya kalian masih sayang?”


“Hehehe...gimana ya mba, malu saya. Salah saya sih mba, saya selingkuh. Waktu itu istri saya tinggal di kampung sementara saya tinggal di Jakarta. Sebagai lelaki saya kesepian, ada seorang teman kerja dulu ia bekerja di sini. Awalnya cuma curhat-curhatan eh lama-lama nyaman. Akhirnya kesandung juga saya.”


“Pak Ridwan menikah lagi dengan dia?”


“Enggak mba, orang belum saya apa-apain, waktu istri saya datang berkunjung, cewek itu nyamperin istri saya, dia cerita kalau dia pacar saya. Waahh..perang dunia mba”


“Terus Pak?”


“Istri saya marah, dia bilang minta diceraikan”


“Saya gak mau tadinya, wong saya gak ngapa-ngapain sama cewek itu”


“Lalu kenapa akhirnya cerai?”


“Yaa ibarat kapal sudah bocor mba, ditambal lagi susah. Walau akhirnya kami tinggal bersama lagi, tapi istri saya berubah perlakuannya. Saya jadi gak nyaman lagi berada di dekatnya, kemudian kami bicara baik-baik. Setelah berunding, akhirnya kami sepakat bercerai.”


“Apa Pak Ridwan tidak ada keinginan menikah lagi atau rujuk dengan mantan Pak Ridwan?”


“Hehehe..soal itu urusan Tuhan sajalah Mba, saya anggap saya ini sedang menjalani hukuman saya karena sudah mengkhianati janji saya pada Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki kami rujuk, insya Allah hati kami dilembutkan satu sama lain, kalau tidak berarti kami ditakdirkan jadi saudara”


“Semoga Pak Ridwan mendapatkan yang terbaik ya Pak!”


“Aamiin..terima kasih mba Rita, oh iya saya dengar pacar Mba Rita juga ditinggal di NZ?”


“Kata siapa pak?”


“Kami para staf kadang suka ngerumpi juga mba!, hehehehe”


“apa ya pak, bisa dibilang kami lagi break lah!”


“Break? Itu artinya patah bukan mba?”


“Iya juga ya? yaa pokoknya saya gak mau diganggu dia dulu deh!”


“Memangnya dia salah aja, apa salah banget mba?”


“Hahahaha...pak Ridwan rumpi banget sih..kepo dehh!”


“Kan gantian mba, tadi saya sudah cerita tentang saya, sekarang giliran mba Rita”

__ADS_1


“Kalau saya gak mau cerita?”


“Yaa gak apa-apa sih, Cuma kalau mba nanya apa-apa lagi tentang saya, gak bakal saya tangepin!”


“Jiiaaahhh dia ngambek!!.. tapi Pak Ridwan jangan ngomong sama siapa-siapa ya? apa lagi sama wartawan, wah bisa gawat nanti!”


“Insya Allah, keep secret lah mba!”


“Pacar saya itu usianya 9 tahun lebih tua dari saya Pak, kami bertemu saat saya magang di kantor om saya, seiring jalannya waktu kami saling tertarik. Singkat cerita, kami memutuskan untuk serius, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan menikah”


“Wahh..bagus itu mba!”


“Iya pak, awalnya begitu”


“Lalu kenapa sekarang break?”


“Dia sering nge-ghosting saya pak. Kalau dia marah akan sesuatu, dia sering pergi tanpa kabar. Nanti muncul lagi seminggu kemudian. Anehnya setelah itu kami baru membicarakan masalah yang telah lewat.”


“Apa pacar mba itu gak pernah bilang kenapa dia nge-ghosting mba begitu lama?”


“Saya juga gak pernah menanyakan kenapa sih, Cuma biasanya karena dia tersinggung”


“Mba ngomong apa toh bisa bikin ia tersinggung?”


“Saya gak ngomong apa-apa Pak, tetapi orang yang tahu hubungan kami selalu menghubungkan antara saya cucu orang yang kaya raya sedangkan dia karyawan biasa. Dia takut dibilang mengincar kekayaan keluarga saya”


“Jadi gara-gara itu kalian break?”


“Sebenarnya saya yang melarikan diri dari dia pak, saya ingin meng-ghosting dia supaya dia tahu rasanya di ghosting!”


“Mba Rita dendam rupanya, tapi mba zaman sekarang LDR itu godaannya banyak lho!, Saya yang Cuma terpisah jarak Jakarta-Temanggung saja bisa selingkuh, apalagi pacar mba yang terpisah benua?”


Rita terdiam memikirkan ucapan pak Ridwan


“Jadi saran pak Ridwan apa?”


“Hmm...apa ya? saya ngerti sih perasaan mba Rita, tapi juga saya ngerti pacar mba. Lelaki itu egonya memang besar mba, kalau sama-sama ego besar tidak ada yang mengalah, hubungan kalian akan selesai sampai di sini”


“Jadi saya harus ngapain? Apa saya nelpon dia minta maaf gitu?”


“Itu juga jangan mba, ada baiknya juga sih memberi dia jarak untuk berpikir, doakan saja dia setia tidak seperti saya, hehehe”


“Aamiin!..lho kog..maaf ya Pak?” Rita merasa gak enak hati


Sementara itu di kantor Auckland, beberapa minggu yang lalu.


“Pak Daniel, ada permintaan take-down video dari kantor di Jakarta” ujar Martin sekretaris Daniel


“Hmm,..take down video harus dari sini? Gak bisa lokal Jakarta, kan videonya dari Jakarta?”


“Menurut orang di sana, kalau take down pakai server dari sini lebih cepat dari pada di sana pak!”


“Memangnya sepenting apa video itu sampai harus segera di take down?” tanya Daniel penasaran


Awalnya Daniel tidak begitu memperhatikan video itu, kemudian ia memperhatikan postur tubuh wanita itu


“Eh..Martin, kirimkan video itu ke laptop ku ya?”


“Baik pak!, lalu take downnya?”


“Segera di take down!, ini ijinnya!”, Daniel segera ke ruangannya, ia menonton video itu berkali-kali, karena pixelnya terlalu rendah sehingga wajah wanita yang sedang berkelahi itu tidak jelas.


Daniel meng-capture wajah wanita itu, dengan menggunakan aplikasi fixed pixel, ia bisa mendapatkan wajah wanita itu dengan jelas


“Rita!! “ teriaknya senang ia bangkit dari kursinya


“Kamu sudah ingat Ritaaa!!!” gumamnya kegirangan, tapi kemudian ia terpaku dengan tanggal video itu


“Hah? Ini tanggal sehari dia pergi ke Jakarta” Daniel berbicara dengan dirinya sendiri, kemudian dia menyadari sesuatu


“OMG!!!, ternyata Rita berpura-pura amnesia!” Daniel mengambil ponsel dari kantong celananya, kemudian menelpon ponsel Rita berkali-kali, karena Rita menggunakan ponsel baru yang lebih sederhana, sehingga ponsel lamanya dimatikan


“Ah sial!!!” Daniel mengambil jasnya dan bergegas ingin pergi ke Jakarta


“Pak Daniel!” tegur Martin


“Ya?”


“Anda ada meeting jam 2 dengan PT.XYZ mereka sudah re-schedule berkali-kali, saya pikir tidak baik jika kita mengundurkannya lagi”


“Ah,...baiklah!” Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jakarta


“Martin, tolong print jadwal saya 2 minggu mendatang!”


“Baik Pak!, ada lagi?”


“Oh iya, tolong carikan tiket ke Jakarta, kalau bisa minggu-minggu ini!”


“Maaf pak, 2 minggu ini, jadwal meeting bapak full, mungkin Pak Daniel bisa ke Jakarta pada saat meeting di Singapura”


“Oh iya lebih dekat , kapan itu ?"


“akhir bulan ini Pak !”


“Lama sekali!” Daniel tidak sabar


“Saya juga mengecek penerbangan ke Jakarta yang Bapak minta, sudah full booking selama 2 minggu ini Pak!”


“Kog waktunya bisa bersamaan begitu?” gerutu Daniel


“Oh iya pak, ada undangan dari PT.Onyc”


“Oh ya? undangan apa itu?”

__ADS_1


“Pernikahan pak, anak lelaki direktur PT.Onyc menikah”


“Ah aku malas datang, kamu saja Martin “


“Maaf pak, saya mendapat pesan dari Pak Radian, supaya Anda yang datang, sekalian untuk mengenalkan CEO baru kepada klien” ujar Martin lagi.


“Ah Siaaalll!!!” gerutu Daniel, ia kembali ke kantornya. Ia membuka album galery, ia melihat foto-fotonya bersama Rita.


“Ah Rita, kenapa kamu harus berpura-pura?” keluhnya


“Pak Daniel!” tegur Martin


“Eh iya? Ada apa?”


“Ini undangan pernikahan yang saya maksud tadi”


“Hmm...Martin kamu ada acara malam ini?”


“Kenapa pak? Kamu bisa menemani saya datang ke pernikahan itu?”


“Sebenarnya saya tidak keberatan pak, tapi saya takut.”


“hah takut apa?”


“Saya takut dirumorkan punya hubungan istimewa dengan Pak Daniel”


“Maksudmu? Hubungan istimewa apa?..ooo...kamu lebay Martin, dulu saya selalu menemani pak Radian kondangan”


“Nah...itu rumornya kencang pak!”


“Rumor apa?”


“Jangan marah ya?” tanya Martin takut-takut


“Rumor apa Martin?” tanya Daniel dengan suara tinggi


“Bapak pacarnya pak Radian”


“OMG!!! Masa sih??? Kog bisa?”


“Maklum lah pak, Pak Radian tampan tapi masih single, sudah begitu asistennya juga tampan, apalagi kalau gak pacaran pak?”


“Hei Martin FYI yah, saya itu masih normal tahu!, saya itu heteroseksual !pak Radian juga!, kalian jangan sembarangan bikin rumor!” bentak Daniel marah


“Maaf pak, saya Cuma menyampaikan yang saya tahu!”


“Sudahlah, kamu boleh kembali ke tempat mu!” perintah Daniel


Keesokan malamnya Daniel menghadiri pernikahan anak kliennya


“Selamat ya Pak!” Daniel memberikan selamat kepada orang tua mempelai


“Ooo, Pak Daniel dari Dar.Co..CEO baru...senang saya akhirnya bisa bertemu Anda!.. benar juga Anda tak kalah tampan dari pak Radian”


“Hahaha,..terima kasih banyak Pak”


“Anda datang sendirian pak Ceo?” tanya Direktur itu


“Iya Pak!”


“Kalau begitu, ini waktunya untuk bertemu dengan calon-calon mempelai pak CEO, jangan di sia-sia kan ketampanan mu!” ujar direktur itu tertawa


Daniel memaksakan tertawa, ia mengambil tempat menjauh dari keramaian, akhirnya ia duduk di depan bar


“Beri saya air soda!” pintanya


Bartender segera memberikan pesanan Daniel


Seseorang menepuk punggung Daniel yang sedang menikmati air sodanya


“Pak Daniel Apa kabar?” seorang wanita cantik menegurnya


“Hmm..maaf Anda siapa ya?” tanya Daniel


“Saya Zasha, kita pernah bertemu di pernikahan Charles Lucas sebulan lalu?”


“Oh iya, Anda ahli parfum itu ya?”


“Ah...Anda ingat rupanya!” Zasha tertawa senang karena diingat


“Andi banyak membicarakan tentang Anda, oh iya, bu Ratna juga ingin bertemu dengan Anda. Sepertinya beliau tertarik mengembangkan bisnis parfum”


“Wow!!, benar juga, acara seperti ini tidak hanya membuat kita bertemu dengan calon mempelai tapi juga calon klien”


“Iya, Anda benar!” Daniel tersenyum


“Anda sendirian di sini Pak Daniel?”


“Daniel saja!, ya, saya sendirian di sini PACAR saya sedang kembali ke negaranya” Daniel sengaja menekankan kata pacar


“Ohh..begitu, tetapi negaranya jauh, boleh saya temani di sini? “ Zasha memberikan tanda ke bartender ia meminta minuman yang sama dengan Daniel


“Uhuk apa ini?” protesnya setelah meminum soda


“Itu air soda, sejak tadi Saya meminum ini”


“Hmm...Anda terlihat sangat kesepian? “ tanya Zasha memancing


Daniel menatap Zasha, wanita berparas cantik, berpakaian setengah terbuka, parfumnya yang wangi sungguh menggoda iman, tetapi dipikiran Daniel hanya Rita seorang, ia segera menghabiskan air sodanya


“Maaf Nona Zasha, saya harus pulang, besok banyak pekerjaan yang menanti saya, selamat malam!” Daniel pamit dan segera pergi dari tempat itu, samar-samar Zasha mencium parfum Daniel yang berjalan melewatinya


“Hmm...Decision!!”gumamnya

__ADS_1


_ Bersambung_


__ADS_2