Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 142: Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Hari yang ditunggu Rita telah tiba, ia berangkat menuju Sukabumi untuk menghadiri pernikahan tantenya.


“Rita kamu duluan saja ya, nanti mama dan Andi menyusul. Kalau kamu bisa menginap di rumah ayah, kalau mama kan gak enak sama istri ayah kamu”


“Hmm..tapi ma, Rita juga sudah pesan hotel kok di dekat situ, yah tepatnya sih villa. Lumayan untuk beberapa hari”


“Kamu bisa tahu tempat itu dari siapa?”


“Kebetulan keluarga Qowi menyewakan penginapan ma, rumah neneknya kan besar, sudah gitu estetik, jadi oleh keluarganya di ubah jadi seperti penginapan.”


“Oh neneknya yang sudah meninggal itu ya? serem gak Rit?”


“Enggak lah ma, neneknya baik kog.”


“Ah kamu, bikin mama merinding saja, kamu pesan berapa kamar?”


“Rita pesan 1, tapi yang bednya besar, kalau untuk kak Andi, nanti Rita pesan lagi”


“Nanti mama transfer ya untuk penginapannya, oh iya kamu jangan tangan kosong dong kalau ketemu ayah. Bawa apa gitu, mainan untuk anak-anaknya.”


“Oh sudah ma, Rita sudah beli 4 hadiah, untuk ayah, untuk istrinya, untuk 2 anaknya”


“Kapan kamu belinya? Kok gak ajak mama?”


“Minggu lalu di Singapura!”


“Hah? Kamu ke Singapura? Sendirian?”


“Dianter pak Ridwan”


“Terus di sana tidur di mana?”


“Sewa hotel, pak Ridwan tidur di tempatnya Daniel, Rita di hotel”


“Ooo, syukurlah!” Ratna merasa lega


“Kenapa? Mama gak percaya sama kami?”


“yaa, namanya orang tua Rit khawatir pasti ada. Lalu kalian baikan lagi?”


Rita mengangguk agak malu


“Terus Danielnya bilang apa?”


“Dia bilang tidak akan ghosting Rita lagi kalau marah.”


“hmm..dia mau datang ke nikahan Saye gak?”


“Katanya sih mau datang, ia ingin kenal ayah!”


“Wahh,..gentle juga ya Daniel ini. Tapi kamu juga harus hati-hati ya Rit, lelaki jaman now. Wahh..mama sampai geleng-geleng kepala deh. Karyawan perempuan mama banyak yang diselingkuhin suaminya, ckckck..mama heran apa lembaga pernikahan sudah tidak sakral lagi ya?”


“Tapi yang perempuan juga banyak yang selingkuh ma, bukan yang lelaki saja!”


“Nah itu, mama nih Rit, dulu merasa suka sama orang selain papa kamu rasanya bersalah banget.”


“Tapi mama suka sama ayah sejak dulu kan? Katanya mama duluan suka ke ayah baru ke papa?”


“Hah? Siapa yang bilang?”


“Kakek Sugi, papa curhat ke kakek. Mama hanya menganggap papa teman kecil”


“Ah, kakek sok tahu!”


“Menurut cerita kakek, setelah mama tahu ayah sudah punya tunangan, mama kabur ke Paris buat belajar, lalu papa menyusul, kalian jadiannya di Paris kan?”


“Kakek ini benar-benar deh, seharusnya beliau jadi penulis novel saja dari pada jadi pengusaha”


“Jadi benar ma?”


“apanya?”


“Mama naksir ayah duluan dari pada papa?”


Ratna terdiam mengingat masa lalu


“Ah Rit, mama sudah lupa tuh!”


“Lupa apa dilupa-lupain?”


“Lupa beneran, konon katanya Rit, kalau kita sudah bertemu jodoh yang tepat, mantan mah gak usah diinget! Nah mama kayak begitu!”


“Tapi akhirnya mama nikah juga sama mantan?”


“Habis, mantannya deketin terus! Lagi pula papa kamu ngijinin kok”


“Mama nikah sama ayah setelah berapa lama papa meninggal?”


“hmm..sekitar satu bulan deh, eh apa 3 minggu ya? soalnya almarhum papa mengatakan mama harus menikah sama ayah itu, sebelum dia koma”


“Almarhum sempat koma ma?”


“Iya, sekitar seminggu, kemudian kakek Darmawan memutuskan untuk mencabut alat penopang hidup papa. Kasihan katanya, papa sudah sangat lemah”


“Kasihan ya kakek Darmawan, oh iya ma, apa kakek menentang mama menikah dengan Ayah?”


“Bagaimana ya? ketika mama minta ijin menikah lagi, beliau diam saja. Gak ada sepatah kata pun”


“Beliau datang ke nikahan mama?”


“Enggak, tapi dia menelpon mengucapkan selamat, waktu itu ia segera kembali ke Auckland”


“Rita kasihan deh sama kakek Darmawan tapi beliau juga orangnya gila kerja. Selama Rita di sana beliau sering ke luar negeri untuk perjalanan bisnis, gak heran kak Andi suka marah-marah karena dicuekin”


“iya memang, eh Rit, mama sudah mendaftarkan kita untuk pergi umroh”


“Kita ? siapa saja ma?”


“Mama, kamu dan Andi”


“Kakek gak ikut?”


“Mereka sudah sering umroh dan haji Rit. Mereka bilang dosa kalau sering ke luar negeri tapi enggak berkunjung ke Baitullah”


“Oo begitu, kira-kira berapa lama ma?”


“Sekitar 11 hari deh, bisa perpanjang juga kalau kita jalan-jalan ke Turki”


“Wah keren tuh, sekalian ke Palestina ma, ke mesjid al Aqsa”


“Pengen sih Rit, tetapi menurut travelnya Israel lagi gokil, tahu sendiri mereka sering mengusir warga muslim yang ibadah di mesjid al Aqsa, sudah gitu pada sadis lagi. Wah mama ngeri deh”


“iya, Israel tuh iseng banget ya, ngapain ngusir-ngusir orang ibadah, sudah jaman now kayak gini masih saja menindas orang!”


“Itu politik sih Rit, mama sih no comment saja, yang penting kita bisa ibadah dengan tenang dan pulang kembali dengan selamat”


“Aamin!”


Pak Umar mendatangi mereka dengan tergopoh-gopoh


“Neng Rita sudah siap?


“Sudah pak! Ini koper-koper yang mau saya bawa” Rita menyerahkan 2 koper ukuran besar ke pak Umar


“Kamu sudah pamit ke kakek Rit?”


“Sudah ma, ke kakek Darmawan juga sudah lewat Vcall”


“Kog Vcall? Memangnya beliau di mana sekarang?”


“Singapura ma, lagi sidak proyek baru katanya”


“Ooo begitu, pantes, beliau ngebolehin kamu tinggal di rumah kakek Sugi”


“Iya, beliau bilang supaya Rita bisa leluasa “


“Memangnya di rumah beliau kamu gak leluasa?”

__ADS_1


“yaa, gitu deh, mungkin karena masih baru ma, kecuali dengan pak Ridwan, dengan staf lain Rita belum kenal, seperti asing gitu.”


“Hmm..ya sudah, hati-hati ya Nak!” Ratna mencium pipi kanan dan kiri serta memeluk Rita erat


“Nanti mama susul ya!”


“Iya ma, Rita berangkat ya?” Rita menaiki mobil velfire hitam, perlahan mobil meninggalkan rumah besar.


Rita termasuk yang tidak kuat menempuh perjalanan alias mabuk, jadi ia banyak menghabiskan waktu dengan tidur di dalam mobil. Mobil melalui jalan tol Bocimi, sehingga perjalanan 5 jam bisa dipangkas menjadi 3 jam.


“Neng Rita, kita sudah sampai!” tegur pak Umar


“Hhh..ahh...iya pak, sebentar ya!” Rita mengejapkan matanya lalu membasahi sapu tangan handuk untuk mengelap wajahnya. Sedikit touch up, kemudian ia keluar dari mobil


“Taraaa!!!” tiba-tiba tiga orang yang ia kenal mengejutkannya


“Astaghfirullah!!” Rita terkejut, ia mengenali teman genknya


“Qowi, Lisa, Andien!” Rita menghambur keluar mobil dan mereka saling berpelukan melepas rasa kangen


“Ya ampun Rita, sudah setahun gak ketemu lo makin tinggi dan cantik saja!” puji Qowi


“Alhamdulillah, Paling bisa muji! Masih cantik lo ah! Lisa apa kabar?”


Lisa kembali memeluk Rita


“Baik Rita, wah Lo udah jadi princess ya”


“Iya Rit, waduh kaget gue lihat lo keluar dari mobil ini!” ujar Andien, yang kemudian ikut memeluk Rita


“Yaa ini pinjaman dari kakek, eh masuk yuk, capek nih gue!” ajak Rita


“Ayo Rit, gue sudah siapkan kamar khusus buat lo!”


Rumah tinggal yang direnovasi menjadi penginapan membuat Rita berdecak kagum


“Wah, beda banget ya sama yang dulu?”


“Iya Rit, warisan nenek gue, ia bilang rumah ini harus jadi penginapan, jadi uangnya bisa menghidupi kami semua”


“Kami?”


“Iya para ahli waris.”


“Tamunya banyak Qowi?”


“Kalau weekend atau hari libur nasional atau libur sekolah membludak Rit, gue sampai turun tangan di front desk. Mereka ini juga jadi pegawai lepas di sini” Qowi menunjuk Lisa dan Andien


“Eh, kok Kiki gak ada?” Rita celingukan mencari temannya yang satu lagi


“Kiki pindah Rit, dia ikut Andre ke Surabaya. Anaknya sudah mau 2 lho!” jawab Lisa


“Wahh,..gak nyangka ya Kiki, tapi kalian suka bertukar kabar dengan dia?”tanya Rita


“Lisa doang sih yang sering ngobrol sama dia, gue masih belum maafin dia!” ujar Qowi


“Maafin? Memangnya dia salah apa?” tanya Rita


“Ya, dia sudah mengkhianati Elo Rit, itu namanya musuh dalam selimut”


“Sudahlah Wi, kan Kiki juga sudah minta maaf!” ujar Andien, ia merasa kurang suka Qowi menjelekkan sahabatnya


“Iya Wi, gue sudah maafin dia kog, lagi pula dia juga yang mengorbankan dirinya supaya gue bisa kabur”


“Ya sudah semestinya lah, kan karena ulahnya juga!” ujar Qowi keras kepala


“Selamat Datang di Hotel Bahagia!” ujar Lisa, ia membukakan pintu kamar Rita


“WOW!!!” Rita berdecak kagum, kamar berukuran luas dengan furniture yang serba antik


“ckckck..luar biasa!”Rita tak henti-hentinya mengagumi kamar itu


“Ini sekelas presidential room Rit, gue lho yang wanti-wanti supaya kamar ini jangan dibooking orang!” ujar Qowi


“Terima kasih, tapi gue jadi gak enak nih kayaknya terlalu mewah!”


“Ada harga ada kamar Rit, dan Elo dapat discount special dari gue!” ujar Qowi


“Nah, sudah gue kira lo bakal bilang begitu, jadi gue kasih free lunch saja!” ujar Qowi lagi


“Dasar!!!” teman-temannya tertawa


Mereka berkumpul di kamar itu, Rita membagikan oleh-oleh yang ia beli dari Singapura.


“Apaan nih Rit?” tanya teman-temannya


“Hanya sekedar saja, gue lagi jalan-jalan eh ketemu tas imut kayak gini, teringatlah kalian. Jadi gue beli 4 supaya samaan!”


“Lucuuu!!” Mereka bertiga teriak kegirangan


“Jadi Rit, bagaimana rasanya ketika bangun kembali ternyata lo cucu dari para Sultan?” tanya Andien yang sejak tadi penasaran ingin tahu kehidupan orang kaya


“Jujur ya? buat gue yang beda itu luas rumah, jenis mobil, banyak yang melayani dan satu lagi, mereka selalu sibuk!”


“ya pastilah, untuk kemewahan itu pasti butuh pengorbanan!” ujar Andien lagi


“Nah itu sudah tahu! Kog masih tanya?” jawab Rita tersenyum


“Eh Rit, masih capek gak?” tanya Lisa


“Enggak, dari tadi gue tidur saja di mobil!”


“ya iyalah dengan mobil semewah itu pasti enak tidur!” ujar Andien lagi


“Enggak juga Dien, karena gue gampang mabuk. Ya di darat, udara, laut, pokoknya mabuk transportasi deh”


“Ternyata teman super kita ini punya kelemahan juga ya?” ujar Lisa


“Banyaklah sis, gue kan baru saja sembuh dari usus buntu”


“Oh ya?” ketiga temannya melihat bekas jahitan di perut Rita, mereka merasa kasihan


“Sakit gak Rit?” tanya Qowi


“Banget! Tapi sekarang sudah enggak, makanya gue boleh kemari”


“Yuk kita ke warung pak Amir, nostalgia masa lalu Rit!” ajak Lisa


“Ayo!” Rita berdiri tiba-tiba


“Kita naik mobil lo kan?” ujar Andien penasaran


Rita mengangguk, mereka berempat memasuki mobil menuju warung pak Amir


“Pak, kira-kira 2 jam lagi jemput aku di sini ya?”


“Tapi neng Rita, bapak di minta Nyonya untuk kembali ke Jakarta. Tapi tadi bapak sudah memesankan taksi khusus buat neng Rita. Jadi selama di sini neng Rita pakai taksi itu” ujar Pak Umar


“Ooo begitu, baiklah pak, hati-hati berkendara ya?”


“Iya neng, terima kasih!” pak Umar dan mobilnya pergi meninggalkan mereka di warung pak Amir


“Wah tambah keren!” Rita mengagumi tampilan cafe yang disebut warung itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan selfie di sana.


“Ayo kita wefie!” ajak Rita, mereka berempat berfoto bersama. Setelah itu mereka memasuki warung, Rita memilih spot yang bagus untuk duduk agak lama. Beberapa saat kemudian waiter datang menanyakan pesanan. Masing-masing memesan makanan dan minuman, setelah itu Rita pergi ke kasir untuk membayar pesanan mereka.


“Kali ini gue traktir ya, next time kita bayar sendiri-sendiri!” ujarnya


“Ah pelit, cucu sultan masa perhitungan!” ujar Andien


“Iya dong, karena gue juga harus bayar cicilan jadi pengeluaran gue banyak!” Rita beralasan


“Hah cicilan? Memang lo nyicil apaan?” tanya Lisa penasaran.


Rita menceritakan kejadian yang dialaminya sehingga ia harus mengganti mobil dan motor yang telah ia rusak. Teman-temannya terkesima mendengar aksi heroik Rita, dan merasa menyesal dengan hukuman yang ia peroleh.


“Kalau begitu, gue bayar makanan gue ini saja!” ujar Andien , ia membuka dompetnya

__ADS_1


“Gak usah!, gue memang sudah meniatkan hari ini traktir kalian kog!”


“Gak apa-apa nih Rit? Nanti duit lo habis gimana? Kok kakek lo tega gitu sih?” tanya Lisa prihatin


“Katanya supaya gue lebih berhati-hati dan lebih panjang berpikir sebelum bertindak!”


“Tapi elo kan menyelamatkan anak perempuannya! Gimana sih kakek lo!” protes Qowi yang disetujui kedua temannya


“gak pa-pa girls tapi berkat itu, gue jadi ketemu..ya mudah-mudahan sih jodoh ya?” Rita menunjukkan cincin di jari manisnya


“Hah? Serius lo? Rit? Siapa orangnya?” tanya Qowi yang sangat tertarik dengan kisah asmara,


“Jadi lo sudah tunangan begitu?” tanya Lisa


“Yaa, belum resmi sih, tapi secara pribadi dia memberikan cincin ini, dia bilang tanda kalau dia serius sama gue. Mungkin 1-2 tahun lagi kita bakal married!” ujar Rita, ia terlihat bahagia


“Tapi Lo belum diapa-apain kan sama dia?” tanya Andien tiba-tiba


“Kenapa sih pada nanya begitu? Enggaklah mana mau gue diapa-apain, apalagi Cuma pakai cincin doang.”


“Tapi cincin ini mahal lo Rit!” Qowi menunjukkan harga cincin itu yang ia browsing dari internet


“Iya betul mahal, tapi gue lebih mahal dong!, gue gak mau diacak-acak sama dia sebelum waktunya, nanti pas resmi gue ditinggalin karena dia sudah bosen. cowok itu kalau sudah dapat yang dia mau jadi gak tertarik lagi. makanya gue jaga diri"ujar Rita


“Bagus deh Rit, kita lega lho tapi juga bersyukur, karena kita nih sempat khawatir ketika kak Tommy meninggal. Kita sampai berpikir jangan-jangan Rita milih jomblo terus nih!” ujar Lisa


“Kak Tommy memang orang istimewa bagi gue, dan itu ada tempat tersendiri di hati gue, lagi pula kak Tommy sudah tahu kok gue sudah suka orang lain” ujar Rita sambil menyeruput milk shake coklatnya


“maksud lo?” tanya Lisa


“heh, kita gak usah heran, Rita ini kan indigo, biasanya dia terhubung dengan arwahnya! Bener gak Rit?” tanya qowi meyakinkan


“Kalau di bilang arwah gue gak setuju ya, susah sih jelasinnya, tapi yang jelas gue sudah move on dari kak Tommy”


“Iya-in saja deh, dari pada benjol!” ujar Andien yang menyeruput jus alpukat


“Jadi Rit, kak Dewa gak punya kesempatan lagi dong ya?” tanya Lisa tiba-tiba


“Memangnya kak Dewa pernah PDKT sama gue?” tanya Rita heran


“Masa lo gak tau? Apa pura-pura gak tau?” tanya Qowi heran


“Kak Dewa itu sudah gue anggap kakak gue, apalagi ternyata dia juga teman lama kak Andi. Pas banget kan jadi kakak gue!”


Tiba-tiba seseorang mengagetkan mereka


“Dorrr!!!”


Rita CS, terkejut, rupanya Dewa datang bersama gengnya yang dulu, Indra, Rafi dan Fathat


“Eh kakak-kakak!” ujar Andien, dia yang lebih cepat sadar dari pada teman-temannya


“Eh kak Dewa! Apa kabar?” tanya Rita, entah kenapa hatinya jadi deg-deg-an melihatnya


Dewa dan teman-temannya merapatkan mejanya seperti dulu


“Kak Indra, Kak Rafi , kak Farhat apa kabar?” tanya Rita


“Baik Rita!!” ketiganya menjawab bersamaan


Qowi yang sedang minum rootbeernya tersembur


“Kalian mirip trio kwek-kwek-kwek” ujarnya geli


“Kakak-kakak lagi libur kuliah kah?” tanya Rita


Dewa mengangguk, ia bangkit lagi lalu pergi ke bagian pemesanan, tak berapa lama ia kembali ke tempat duduk mereka


“Kak Indra kelihatan lebih coklat ya?” ujar Rita


“Hahaha,..maklumlah Rit, kita lebih banyak praktek dari pada teori. Sering di lapangan jadi coklat deh!” Indra tertawa malu


“Kak Farhat dan kak Rafi gimana? Ambil jurusan apa?” tanya Rita


Farhat agak malu-malu bertemu Lisa


“Sehat Lisa?” tanyanya


“Kok Lisa saja yang ditanya?” goda Qowi


“Eh, kalian sehat semuanya kan?” tanya Farhat malu


“Ah elo Far, basa-basi banget, tentulah mereka sehat!” ujar Dewa riang


“Mereka ini mahasiswa IPDN, sekarang lagi cuti hamil eh..apa sih istilah kalian?” tanya Dewa ngasal


“Oh Kak Rafi dan Farhat calon camat ya?” tanya Rita


“Gimana Rit, di luar negeri? Kayaknya betah banget nih?” tanya Indra


“Lumayan lah kak, kapan-kapan main ke sana ya?” ujar Rita


“Eh Dewa waktu itu...” ucapan Indra terpotong karena kakinya diinjak oleh Farhat untuk menghentikan ia berbicara


“Kalian sengaja kemari atau memang lagi main saja?” tanya Qowi


“Sengaja, eh main!” keempatnya menjawab tidak kompak


Para cewek jadi bingung


“Andi bilang, hari ini Rita datang, jadi kita-kita mau menyambut, untuk mengenang masa lalu!” ujar Dewa


“Ah kak Dewa, kita Cuma pisah setahun, kok kayak bertahun-tahun !” ujar Rita tertawa


“Sepertinya kita gak bertemu bertahun-tahun!” ujar Dewa, tiba-tiba suasana hening


“Ehem!!!” tiba-tiba Andien berdehem untuk membuka percakapan baru


“Sebentar lagi kami ujian kak, katanya tahun ini akan lebih ribet dari tahun sebelumnya!” ujar Andien membuka percakapan


“Oya? Kata siapa?” tanya Dewa


“Nih informan kita, Lisa”


Lisa sejak tadi terdiam karena berhadapan dengan Farhat


“Eh iya, itu menurut info dari ayah!” ujarnya


“Ayahmu sehat Lisa?” tanya Farhat


“Sehat kak, mama juga sehat, keluarga kak Farhat sehat semuanya kan?” tanya Lisa


Farhat mengangguk, ia kelihatan kikuk sendiri


“Eh, kak Apa betul budaya bully masih ada di IPDN?” tanya Rita tiba-tiba


“Sudah enggak ada Rit, apalagi zaman medsos seperti sekarang kalau ada pembulian pasti kita sudah diamuk media” ujar Rafi yang sejak tadi diam saja


“Kamu rencana kuliah di mana Rit?” tanya Indra


“Kamu masih tertarik jadi chef?” tanya Dewa


“Wi, kita pergi saja yuk! Dari tadi yang diajak ngomong senior ini kalau gak Rita, Lisa!” ajak Andien bercanda


“Ayo Deh!” Qowi tiba-tiba berdiri, semua teman-teman tertawa melihat tingkah mereka berdua


Tak terasa 2 jam berlalu, taksi yang dipesan Rita sudah tiba menjemput mereka


“Senior, kami pamit dulu ya, kapan-kapan kita ngeriung lagi!” Ujar Rita ramah, merekapun berpisah


Dewa memperhatikan mobil yang membawa Rita CS pergi menjauhi cafe


Indra menepuk bahu Dewa yang masih termenung menatap kepergian mobil Rita


“Rita makin cantik saja ya Wa, untung gue sudah move on!” ujar Indra


“Move on? Emangnya lo pernah jadian?” tanya Dewa heran, Indra hanya angkat bahu dan mengajak dua temannya yang lain pulang

__ADS_1


"heh Ndra jawab gue!" teriak Dewa penasaran


_bersambung_


__ADS_2