Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 299: Cerita di Sukabumi


__ADS_3

Tim pembersihan rumah Rita yang dikomandoi Mario berlangsung lancar dan lebih cepat dari pada perkiraan semula.


“Nah Tong, rumah yu officially udeh rampung neh!” Mario memberikan kunci rumah pada Rita


“Alhamdulillah,..thanks O, btw barang-barang yang gue beli tadi malam udeh datang belom?”


“udehh, beli di toko itu emang cepet pelayanannya, sekarang yu sama laki yu bisa nikmatin deh”


“btw O, di kamar gue sama anak-anak udeh di pasang AC belom?”


“ih, Sukabumi adem, gak kayak di Jakarte, gak perlu AC lagi, ada juga yu siapin selimut tebel, kadang-kadang dinginnya kayak di Swiss”


“Emang lo tau dinginnya Swiss kayak apa? emang lo pernah ke sana?”


“Kan umpama, yu itu terlalu serious kadang-kadang, btw bos Daniel mane?”


“Masih di hotel, kemarin dapat hadiah sepeda listrik, dia lagi ngajak bocah-bocah keliling naik sepeda”


“Woy!!!” panggil Daniel dari halaman luar, ia bersama ketiga anaknya dengan menaiki sepeda listrik, mobilnya mengikuti dari belakang


“Halo!!” Mario menghampiri Daniel dan anak-anak dengan wajah senang


“Rumah udeh beres bos!”


“Alhamdulillah!! Good job Mario!!” puji Daniel, ia menurunkan satu per satu anaknya, kecuali Rayya yang masih di gendongan. Tubuhnya penuh dengan keringat.


“Lumayan olah raganya ya?” Rita memberikan handuk kecil untuk melap keringat suaminya dan mengambil Rayya dari gendongan.


"ini sepeda listrik tapi kok keringetan bos? Tanya Mario heran


" listriknya sengaja dimatikan jadi aku kayuh dari penginapan tadi"


“wow lumayan juga itu, ya udeh, Ai pamit dulu yee..”


“Eh Mario, nanti kirim tagihan semuanya ya!” ujar Daniel masih melap keringatnya


“Tenang aje bos kalau tentang tagihan Ai gak bakal lupa”


“Lo mau kemana O?” tanya Rita


“Mau pulang lah!”


“Lo gak mau makan dulu di sini?”


“Memangnya lo sudah masak?”


“Ya tunggu aja sebentar, sarapan bareng kita”


“Iya Mario, lagi pula kamu sendirian kan di rumah?” bujuk Daniel


“Okey deh, karena kalian maksa.” Akhirnya Mario kembali masuk ke dalam rumah Rita.


Rita dibantu ART mempersiapkan sarapan sedangkan Daniel ke kamar barunya untuk berganti pakaian. Mario berada di ruang tengah bermain dengan anak-anak.


“Uncle O!” panggil Raffa


“Yes? Panggil Om saja!”


“No!, i like uncle!”


“Ya udeh terserah Raffa deh, kenapa manggil uncle?”


“do you have mom and dad?”


“I did, but they are gone”


“Hilang?” tiba-tiba Ranna nimbrung percakapan mereka


“No, meninggal, you know die!” Mario berusaha menjelaskan


“When people die , they will come back?” tanya Raffa lagi


“No! Kalau udeh gone ya gone!”


“Om, sedih ya?” tanya Ranna ia menyenderkan tubuhnya ke Mario


“Sedih? Sudah enggak, lagi pula my dad udah happy di sana!”


“Dad? How about mom?” tanya Raffa lagi


“My mom? Lost!”


“hah? Lost? “ Raffa dan Ranna kaget


“Kog gak dicali om?” tanya Ranna


“My mom gak mau dicariin,...hehehe...udeh ah...jangan nanya yang aneh-aneh mulu, om jadi sedih nih” mata Mario berkaca-kaca


“Om, Anna punya pemen, ini buat Om. Kata mami kalau sedih makan pemen sedihnya ilang!” Ranna membelikan satu buah permen ke Mario


“Thanks! Kamu baik deh Anna!” , Mario tersenyum menerima pemberian dari Ranna lalu memakannya


“Asemm!!”


“hahahaha..” Ranna tertawa geli, ia berlari menjauh


“Kak, you shouldn’t do that!” larang Raffa


“permennya asem banget, kakak dapat dari mana? Anak kecil gak boleh makan yang terlalu asem nanti perutnya sakit” larang Mario


“that’s mami’s” ujar Raffa, ia membawakan air minum untuk Mario


“thanks!” Mario membuka kemasan air mineral dan langsung meminumnya


“ah segar!!..terima kasih ya Raf!” Mario tersenyum dan mengusap kepala Raffa


“I hope you not angry to my sister”


“no..no...Ai ngerti kok your sister iseng bin jail...mirip mami waktu kecil!” ujar Mario tersenyum


“Ayo sarapan!!!” panggil Rita


“nah...udeh jadi tu ! yuk kita makan!” ajak Mario. Mereka menuju ruang makan. Di sana telah ada Daniel, Ranna, Rayya, ketiga baby sitter dan ART. Mario membantu Raffa menempati kursinya. Suasana sarapan pagi itu sungguh meriah, Mario sangat menyukainya.


“Papi, kak Ranna gave mami’s candy to uncle O” Raffa mengadu pada Daniel, yang melotot kepada Ranna


“itu kalna Om sedih” elak Ranna


“it’s okay Raffa, kan Om sudah minum air dari Raffa jadi gak asem lagi” ujar Mario menenangkan


“Kakak acak-acak tas mami lagi ya?” kali ini Rita yang melotot pada Ranna


“Gak apa-apa Tong!, kak Ranna ngajak Ai becanda!”


“Nanti kita bicara ya kak!” tegur Rita, suaranya tegas dan membuat Ranna menciut


“Waduh kenapa jadi begini ya? Ai jadi gak enak nih”


“Bukan begitu O, kami sedang mendisiplinkan Ranna, dia ini sering jahil dan bertindak sesukanya. Jadi kami harus mengingatkannya” ujar Daniel sambil menyuapi Rayya.


“Oh begitu, jadi ortu zaman now susye yee, baru 2 tahun udeh pinter kayak gini” puji Mario


“Btw O, lo kapan balik ke Auckland?” tanya Rita


“aduh...gimana ya tong, Ai bingung nih”


“Lho, kan udeh janji sama kakek? Katanya dua minggu di sini?” Rita mengingatkan


“Iye sih Tong, tapi Ai ada proyek mendesak di sini, apa Ai minta pindah ke cabang Jakarta aje ye?”


“Ya coba saja bilang ke kakek, tapi saran gue sih lo ngomong dulu sama kak Andi”

__ADS_1


“Anding? Kenapa?”


“Kadang kakek itu gak mau mendengar alasan, kalau lo janji 2 minggu ya harus datang. Misalnya pun lo ada proyek sampingan di sini setidaknya lo pamit dulu sama kakek” ujar Rita menasehati


“Terus hubungan sama Anding?”


“Setidaknya kak Andi tau lo ngapain, kak Andi kan pemegang kuasa tertinggi di Dar.co setelah kakek”


“Ah iya ya! Ai sampe lupa!”


“menurut ku, lebih baik kamu datang dulu ke Auckland bilang langsung ke kakek jangan lewat telepon atau perantara orang, setahu ku kakek Darmawan itu orangnya sangat menghargai komitmen. Kalau kamu berjanji 2 minggu dan benar-benar datang maka beliau mungkin akan mengijinkan mu pindah ke cabang Jakarta” saran Daniel


“begitu ya Bos? Btw bos kenapa gak yu aje sih yang megang cabang Jakarta? AI kan jadi lebih tenang!”


Daniel terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Mario


“Dia terikat kontrak di Lexi selama 3 tahun O, eksklusif lho, jadi belum bisa out kalau kontrak masih berjalan”


“Yahh..kontrak lagi...kontrak lagi...bener-bener deh ah!!” Mario menghabiskan sarapannya


“Enak Tong, masih ada gak?”


“Masih, lo mau bawa?”


“Boleh deh!”


Rita mengambil wadah dari lemari dan mengisinya dengan nasi goreng


“Alhamdulillah...makasih ya tong, bos Daniel..Ai happy banget deh jadi tetangga kalian... pamit dulu yee”


“Oke O!” jawab Rita dan Daniel bersamaan


Mario keluar dari rumah Rita dengan membawa omprengan yang berisi nasi goreng.


“Sayang, hari ini tante Saye mau datang” ujar Rita


“Oya? Jam berapa? “


“Mungkin agak siang, aku memesan banyak coklat , dan beliau akan membawanya sekalian melihat rumah ini”


“Oh begitu, Aku kemana ya?”


“Di sini saja memangnya kenapa?”


“Biasanya kalau perempuan ngomongnya banyak dan lama, aku pusing mendengarnya”


“Kalau begitu, kamu main saja sama anak-anak di lantai atas, sekalian uji coba, kata O, lantai atas itu sound proof, kalian teriak atau lompat-lompat juga gak akan kedengaran “


“Iya deh, kakak, Abang kalau makannya sudah, ke kamar papi ya? kita main!” Daniel yang sudah selesai makan, menggendong Rayya dan langsung membawanya ke lantai atas.


“Mami”


“Ya kak?”


“Papi sayang Ayya ?” tanya Ranna


“Papi sayang kalian juga kok” jawab Rita, ART dibantu baby sitter merapikan bekas sarapan


“papi bawa Ayya teus”


“Adek kan belum bisa jalan seperti kakak dan abang makanya digendong terus”


“hmm...tapi Mami sayang Anna kan?” tanyanya manja


“Sayang dong...mami sayang kakak, abang , adek, papi, aki eyang, nenek, Uwa Ndi semuanya deh” jawab Rita tersenyum


“Uncle O?” tanya Raffa


“Yaaa...boleh lah!” jawab Rita tersenyum


Selesai makan anak-anak bersama baby sitter bermain di kamar baru mereka.


“Halooo buu...assalammu’alaikum..” Andien menghampiri Rita , mereka bersalaman dan cipika –cipiki


“Wa’alaikummussalam! Lho kok elo yang datang Dien? tante Saye kemana?” tanya Rita, matanya tertuju pada mobil yang mungkin masih ada orang yang keluar dari mobil.


“Tolong pak kardusnya di taruh di teras itu” pinta Andien kepada supir


“Tolong masukin ke dalam rumah saja pak, kita masuk yuk, kebetulan rumahnya baru selesai dibersihkan” ajak Rita


Mereka duduk di ruang tamu, ART menyediakan air minum dan cemilan untuk Andien.


Rita mengecek pesanan ,setelah sesuai, ia melakukan pembayaran melalui M-Banking


“Sudah gue transfer Dien, lo bisa cek sekarang”


“Iya, gue sudah nyuruh bagian finance untuk ngecek” jawab Andien


“Sekarang kita bisa santai ngobrol dong?” tanya Rita, Andien mengecek ponselnya dan membaca pesan dari Saye


“Iya, kita bisa ngobrol santai. Ini gue dapat ijin dari bos” Andien menunjukkan pesannya


“Diminum tehnya Dien”


“ahhh...nikmat sekali”


“Jadi sudah berapa lama kerja sama tante gue?”


“hmm...sama bulan ini 8 bulan”


“Wow lumayan juga, kok baru cerita?”


“Lo kan sibuk , jauh lagi di Swiss, jadi gue pikir cerita gue gak penting” Andien mengambil cemilan dan melahapnya


“Jangan begitu Dien, kita kan sobat dekat, satu gank lagi. Oh iya kenapa bukan tante gue yang antar?”


“Beliau lagi mabok”


“Mabok?”


“Iya, lagi hamil anak kedua jadi bawaannya eneg dan gak enak badan. Dari kemarin gue lho yang keliling nemuin klien”


“Anak kedua? Alhamdulillah...kok tante gak cerita ya?”


“Beliau bilang karena kehamilannya belum 7 bulan jadi dia ngeri gugur”


“Sekarang kehamilannya sudah 7 bulan?”


“Belum! Baru 4 bulan”


“Lho kok lo bilangin?”


“Zaman now memangnya yang gitu-gitu masih berlaku?” Andien mengambil cemilan yang kedua


“sebenarnya gak ngaruh sih, waktu gue hamil Raffa, dari usia kandungan 2 minggu udeh diumumin alhamdulillah, dia lahir normal dan lancar”


“Nah kan? Tapi please jangan bilang ke tante lo ya kalau lo tau dia hamil, nanti beliau marah sama gue”


“tenang aja!, terus ceritanya lo bisa kerja sama tante gue gimana?”


Andien mulai bercerita


Delapan bulan yang lalu, di rumah Andien


“Dien, Minggu depan Saras dilamar pacarnya, sebentar lagi nikah kamu kapan?” tanya mamanya Andien


“Nanti lah ma, tunggu saja tanggal mainnya!” jawab Andien sambil main game di ponselnya


“Kamu tuh terlalu santai! Kamu sudah 20 tahun! Dulu mama 22 tahun sudah dianggap perawan tua!”


“Itu kan dulu ma, sekarang yang usia 42 tahun saja banyak yang belum nikah!” jawab Andien

__ADS_1


“Amit-amit ! kamu tuh kalau ngomong jangan sembarangan!” mamanya menarik ponsel Andien


“Apaan sih ma?”


“Iya! Memangnya kamu mau nikah di usia 40 tahun? Itu sudah tua!”


“Tua itu 60-70 ma, 40 belum!”


“Jadi kamu berniat nikah di usia 40? Apa kamu gak kasihan sama papa kamu? Kalau kamu nikah papa gak ada gimana?”


“Memangnya papa kemana?”


“Coba deh kamu pikir, kalau kamu usia 40 tahun kira-kira papa dan mama masih hidup gak?”


“Masih dong! Apa mama gak baca berita? Rata-rata usia orang tua sekarang bertambah, rata-rata meninggal 80-90 tahunan..apa ya namanya itu?”


“Tapi tetap saja Dien,kalau di usia 40 itu kalau masih ada yang mau ya bagus kalau enggak? laki-laki dan perempuan beda Dien!”


“Memang beda lah ma, dari struktur tubuh, tulang, kekuatannya saja beda”


“Bukan itu saja Dien, kalau lelaki itu makin tua makin banyak yang mau, tapi kalau perempuan enggak! dan kebanyakan lelaki itu maunya yang muda terus!”


“Andien kan masih 20 tahun ma jadi mama gak usah panik deh!”


“Tentu mama panik dong! 2 tahun lagi kamu bakal 22 tahun,..jadi kamu harus mulai aktif cari jodoh ya?” ujar mama mengingatkan.


“iya ma..iya..mana hp Andien?”


“Nih!”


Seminggu kemudian acara keluarga di rumah keluarga besar kakek Andien, acara lamaran sepupunya di adakan di rumah itu karena lebih luas dan sekalian memperkenalkan anggota keluarga.


“Saras..anak tante..sudah dewasa..sudah akan jadi istri orang” ujar Een, mamanya Saras ia tampak terharu melihat anaknya berfoto dengan calon suaminya.


“Kamu beruntung ya En, jodohnya Saras mudah datangnya” ujar Asih mamanya Andien


“Iya, Saras itu rajin merawat dirinya, dia betul-betul menjaga tubuhnya supaya tetap langsing dan enak dipandang” Ia melihat ke arah Andien yang sibuk mengambil cemilan di piringnya yang kedua


“Andien juga, cuma saja dia lagi males treatment, maklumlah anak semata wayang agak susah dibilangin, kalau saya marahin pasti papanya malah marah sama saya” curhat Asih


“Kasih tau akang teh, sebelum Andien semakin membesar tubuhnya lebih baik dari sekarang dirawat tubuhnya karena kalau gemuk susah lho kurusnya” ujar Een lagi


“Iya memang, dia itu ribut kepengen berkarir dulu, nikahnya nanti”


“Tapi sekarang dia sudah punya pacar belum?”


“Kayaknya belum deh, nanti saya tanyain papanya. Dia itu apa-apa ceritanya sama papanya”


“Buruan atuh teh, apa perlu dikenalin sama teman-temannya Saras? Banyak lho yang cakep”


“Boleh deh! Andieeennn!” panggil Asih


“Ya ma?” Andien datang dengan membawa sepiring penuh cemilan


“Kamu ini dari tadi makan melulu! Taruh piring nya di situ!”


“Tapi ma, ini pesanan papa”


“Ya udah kamu kasih ke papa lalu kembali ke sini ya?”


Andien membawa piring itu ke papanya


“Pa, ini” ia menyerahkan piring berisi penuh cemilan


“Papa udah kenyang Dien”


“Dien titip pa, habis nanti mama marah sama Dien kalau makan banyak”


“Ya udah taruh sini deh, kamu lapar apa doyan sih? Kenapa banyak begini?” papanya heran


“Keduanya pa” jawab Andien cuek, ia meninggalkan papanya dengan setumpuk makanan tadi


“Ya ma?” Andien menghampiri mamanya dan tantenya. Tiba-tiba Een menarik tangan Andien dan memanggil seseorang.


“Erlan, kemari nak!!” panggil Een


“Ya tante?” seorang lelaki berusia 20 tahunan berlari kecil menghampiri


“Kenalin nih ini Andien keponakan tante”


“Andien!”


“Erlan!” keduanya saling berjabat tangan


“Nah kalian ngobrol deh!” Een meninggalkan mereka berdua


“Eh?” baik Andien maupun Erlan terdiam. Keduanya merasa canggung.


“hmm..kamu temannya Saras ya?” tanya Andien membuka percakapan


“Iya”


“Teman yang mana? SD? SMP? SMA?”


“SMA!”


“ooo” lalu mereka kembali terdiam


“Kamu sekarang kuliah atau kerja?” tanya Andien lagi


“hmm..kuliah”


“Oh ya? semester berapa?”


“Masuk semester 3, Andien... Gue jujur saja ya? gue baru putus dari pacar tapi belum bisa move on mendingan lo jangan sama gue deh..tuh tante Een sudah pergi” ujar Erlan terus terang


“oh...” Andien terdiam mendengar penolakan Erlan, ia pun membalikkan badannya dan menjauh


Beberapa orang lelaki menghampiri Erlan, mereka berbisik


“Siapa Lan? Ciyee,...langsung dapat yang baru nih!” ujar temannya


“Hush! Bukan tipe gue! Udeh ah! Yuk pergi..nanti gue dipaksa kenalan lagi sama sepupu Saras yang lain” ajak Erlan


Andien mendengarnya, hatinya merasa sedih walaupun dia belum punya perasaan apapun pada Erlan tetapi perasaan ditolak mengingatkannya pada Indra. Ia menghampiri papanya


“Pa, katanya kenyang kok piringnya hampir bersih?” protes Andien


“Tadi mama mu datang, dia curiga tentang makanan ini. Jadi papa makan, eh keterusan. Tapi tartnya papa sisain buat kamu. Papa gak suka cream”


Dengan kesal Andien memakan tart cream coklat, tiba-tiba air matanya menetes


“Huuuu.....papaaaaa” ia menangis memeluk papanya


Papanya kebingungan melihat reaksi Andien


“Eh Dien,..maaaaff..papa ambilin lagi deh kue-kuenya”


Tetapi Andien menahan tubuh papanya, ia menangis di dada papanya.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah ia diam saja, pertanyaan-pertanyaan mamanya tidak ia digubris.


Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


“Andien kenapa sih pa?”


“Eh itu, kayaknya kue-kue di tempat Saras tadi enak banget ya?” jawab papanya


“hah?”


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2