
“Rit, mama pulang dulu ya?” bu Areum, mertuanya pamit. Setelah menunggu beberapa lama ia tidak mendengar jawaban dari anak menantunya. Agak segan ia masuk ke kamar anaknya
“Aduhh!” Rita mengerang kesakitan memegang perutnya.
“Rita kamu kenapa?”Bu Areum memegang kening anak menantunya ia merasakan panas.
“Kamu ada termometer?” tanya bu Areum, Rita menunjuk laci paling bawah. Dengan segera bu Areum mengambil termometer dan mengarahkan ke kening Rita
“38,7 C, wah ini gak normal!” Ia segera keluar dari apartemen dan meminta security memanggil ambulan. Beberapa menit kemudian ambulan datang, mereka membawa Rita ke RS, bu Areum ikut bersamanya. Ia pun menghubungi Daniel dari ponsel Rita. Beberapa jam kemudian Daniel telah tiba di RS
“Rita kenapa ma?” tanyanya dengan suara panik
“Mama juga belum tahu, dokter baru memberikan infus untuk menurunkan panas tubuhnya. Apa sebelumnya ia pernah sakit?”
“Beberapa bulan lalu ia menderita usus buntu, tapi sudah pulih”
Dokter menghampiri Daniel dan bu Areum
“Bapak, suaminya pasien?”
“Betul Dok!”
“Ayo kita bicara di dalam ruangan!” dokter mengajak Daniel ke ruangannya, sedangkan bu Areum menunggui Rita
“Jadi begini Pak, istri anda mengalami infeksi usus, sepertinya ia memakan sesuatu yang asing dan belum pernah sama sekali sehingga perutnya tidak bisa menyesuaikan”
“hmm..makan apa ya?”
“Mungkin yang pedas-pedas?”
“Oh iya, kemarin dia mencoba makan kimchi, saya yang memberikannya. Saya pikir pedasnya biasa saja”
“hmm...mungkin penyebabnya itu, kalau dilihat dari bekas operasi diperutnya yang relatif masih baru, itu operasi apa?”
“Usus buntu dokter!”
“hmm...sebaiknya dalam beberapa bulan ke depan hindari makan-makanan dengan bumbu yang terlalu pedas, seperti mengandung cabai ataupun lada”
“Bagaimana dengan bayinya dok?”
“Kami belum melakukan USG terhadap janin bayi, tapi setelah ini akan segera kami lakukan”
“Tolong, bantu kami dokter!”
Setelah konsultasi selesai, Daniel menghampiri ibu dan istrinya yang masih berbaring
“Apa kata dokter nak?”
“Infeksi usus ma, kemarin Daniel memberikan Kimchi untuknya, maksudku supaya ia bisa mencobanya. Ternyata perutnya masih sensitif”
“hmm...begitu. Mama akan menunda kepulangan mama ke Korsel, sampai istrimu sembuh!”
“Benar ma? Syukurlah! Terima kasih!” Daniel memeluk ibunya lega.
Daniel memindahkan kamar istrinya ke ruang VIP agar ia bisa menginap menunggui istrinya, sementara bu Areum tinggal di apartemen mereka.
“ting nong!” suara bel apartemen membangunkan bu Areum dari tidurnya, segera ia membukakan pintu
“Ya?”
“eh ini benar apartemen 3055 kan?” Ratna keheranan melihat seorang wanita Korea berada di apartemen anaknya
“iya betul!”
“Ini Apartemennya Daniel dan Rita kan?” tanya Ratna, ia baru saja tiba dari Paris dan tiba-tiba ingin bertemu dengan anaknya
“Iya betul!, maaf Anda siapa ya?”
“Saya Ratna, ibunya Rita!”
“Oh!!, Silakan masuk! Saya Areum, ibunya Daniel!”
“Oh ya?” Ratna masuk ke apartemen mereka dengan wajah senang bercampur keheranan
“Duduk dulu bu!, maaf ya?” Bu Areum segera membereskan perlengkapan tidurnya yang ada di sofa, Ratna duduk dan mencari keberadaan anak dan menantunya
“Bu Areum, Kita baru sempat bertemu sekarang. Waktu resepsi kemarin, tantenya Daniel ya yang datang?” Ratna tersenyum membuka percakapan
“Iya, dia Byeol sepupu saya yang tinggal di Kanada. Ia yang membesarkan Daniel!” bu Areum segera ke dapur untuk menyiapkan minuman
“Gak usah bu!, saya bukan tamu di sini. Saya baru datang dari Paris, biasanya langsung ke Jakarta. Tiba-tiba saya kangen anak saya, Rita di mana ya?” tanya Ratna matanya masih berkeliling
“Begini bu, tadi pagi Rita badannya panas, Jadi kami membawanya ke RS. Sekarang ia diopname di RS” suara bu Areum dibuat setenang mungkin, agar Ratna tidak panik
“oawaallaahhh!!! Ini toh perasaan gak enak aku dari tadi” Ratna kelihatan sedih, ia mengambil tas jinjingnya
“Rumah sakit mana bu? Saya akan ke sana!” ujarnya. bu Areum memberikan nama rumah sakit serta kamar tempat Rita diopname
Beberapa jam kemudian ia telah tiba di kamar Rita
“Niel!” panggilnya!, Daniel baru selesai sholat di kamar itu
“Mama? Baru datang?” Dniel mencium punggung tangan mertuanya
“Iya, bagaimana Rita?” tanyanya, ia segera menghampiri anak perempuannya yang masih terbaring lemah
“Baru saja di periksa dokter”
“Bagaimana dengan bayinya?” tanya Ratna
“Ma, tadi dokter bilang, janin di perut Rita tidak berkembang untuk usia kehamilan beberapa minggu” suara Daniel terdengar sangat tertekan
“Lalu?”
“Dokter akan melakukan kuret terhadap janin tersebut”
__ADS_1
“Maksudmu, keguguran?” tanya Ratna, Daniel mengangguk dan tertunduk sedih. Ratna mengajaknya duduk ia paham. Yang paling bersedih atas keguguran ini adalah Rita dan Daniel.
“Niel! Lakukan yang menurut dokter baik untuk Rita dan janinnya. Kalau tidak berkembang, apa boleh buat? Yang penting Rita sehat kembali!” ujar Ratna menghibur.
“Tapi ma, ini anak pertama kami?”
“Anak itu termasuk rejeki Niel! Mungkin belum rejeki kalian. Perasaan mama sudah tidak enak sejak kemarin, mungkin ini firasat. Gak apa-apa Niel, kalian masih muda, insyaAllah akan ada penggantinya. Ratna memegang tangan Rita yang masih tertidur pulas.
“Oh iya mama tadi sudah ke apartemen?” tanya Daniel
“Iya, sudah! Mama juga sudah bertemu mamamu! Mama sangat bersyukur ibumu datang, kalau tidak, gak ada yang tahu Rita sakit?”
“Iya ma, tadi pagi Niel membiarkan Rita tidur, karena kelihatannya ia sangat lelah, tapi Niel tidak mengecek panas tubuhnya!”
“Rita kenapa bisa kelelahan?” tanya Ratna heran
“Rita mengelola toko roti ma, ia menyewa tempat dekat apartemen kami, katanya untuk mengisi waktu.”
“Toko Roti? Apa namanya?”
“D’Ritz!”
“D’Ritz? ini?” Ratna menunjukkan kardus berisi roti yang ia beli sebelum berangkat ke RS, Daniel melihat kotak kardus yang dibawa ibu mertuanya
“iya betul ma!”
“wahhh....hebat banget! Tadi mama sampai antri lho beli ini. Katanya rotinya sangat enak
“Rita mengambil kursus membuat roti ma, lalu ia kembangkan sendiri resepnya. Ia juga membuat sistem di toko tersebut, hingga tetap bisa berjalan walaupun ia gak datang. Tapi karena sistemnya masih baru ia masih harus mengawasi”
“Wahhh...anak mama hebat sekali!!!” Ratna menatap anaknya yang tertidur dengan wajah bangga.
Rita terbangun dari tidurnya
“Mama?” Rita berusaha bangun dari tidurnya
“Rita!!!” Ratna memeluknya
“Mama baru sampai?” tanyanya, ia melihat mata suaminya yang memerah
“Daniel kenapa ma?” bisiknya. Daniel meninggalkan mereka berdua di kamar, sementara ia keluar untuk menenangkan diri
“Rita, kamu yang sabar ya?”
“hmm..kenapa ma?” Rita heran dengan sikap mamanya yang tiba-tiba serius
“Kata dokter, janin di tubuh mu tidak berkembang. Jadi terpaksa harus digugurkan”
Rita menangis sedih, ia tidak menyangka kandungannya harus gugur
“Sabar ya Nak! Belum rejeki!” Ratna memeluk anaknya dengan sayang. Daniel mendengar percakapan mereka, ia juga ikut menangis.
Sebulan setelah itu, Rita telah kembali pulih kesehatannya. Bu Areum mertuanya sudah kembali ke Korsel, di apartemen kini kembali tinggal mereka berdua.
Rita menyibukan diri di toko Roti yang semakin banyak penggemarnya. Roti-roti keluaran terbaru dari tokonya menjadi trending topik. Rita dengan bangga menceritakan hasil wawancaranya dengan salah satu tv yang menayangkan khusus acara masak.
“Wahh..gak nyangka lho Yang, aku menjadi nara sumbernya. Aku kemarin bertemu dengan Gordon Ramsay. Dia baikkkk banget, beda lho sama acara hell kitchen. Ia bahkan mengundangku ke restorannya kalau mampir ke London!” Rita bercerita dengan semangat, saat mereka makan malam.
“Hmm...” Daniel hanya menanggapi dengan sikap dingin, ia membersihkan piring makannya kemudian pergi dari meja makan.
“Niel!, bisa kita bicara sebentar?” Rita mulai tidak tahan dengan sikap diam suaminya, Daniel kembali duduk di meja makan
“Ini sudah tiga bulan, sejak kita kehilangan bayi kita!” Rita sengaja membuka permasalahan
“Iya betul! Tapi kelihatannya kamu tidak bersedih sama sekali ya? kamu malah sibuk dengan urusan mu sendiri!” Daniel mulai kelihatan kesal
“Aku gak sedih? Janin itu ada di perutku Niel!, aku yang bertanggung jawab atasnya!, Kamu bilang aku gak sedih?”
“Kelihatannya begitu?” Daniel memakan wortel mentah yang masih tersisa di atas meja makan
“Sedihnya aku itu gak bisa merajuk kayak kamu! Seolah-olah kamu korban yang paling menderita!, move on Niel! Ayahku pernah bilang. Janin tidak berkembang itu karena ada faktor genetik, mungkin karena kehamilan yang terlalu cepat, atau lainnya. Jadi berhentilah mengasihani diri sendiri!”
“Kamu itu kadang sok pinter! Hanya karena ayahmu dokter, jadi tahu segalanya begitu?”
“Itu berdasarkan pengalaman Niel!, coba deh kamu cari info tentang itu! Jadi kamu gak menyalahkan aku!”
“Aku gak nyalahin kamu!”
“Kamu nyalahin aku Niel! Meski kamu gak bilang, tapi sikap dinginmu!. Kamu sengaja pulang larut malam untuk menghindariku kan?”
“Enggak! Aku memang sibuk!”
“Terserah deh!, aku Cuma mau bilang sama kamu!. Semua ini juga baru bagiku Niel!, Aku gak menyangka akan menikah di usia belasan tahun, lalu hamil, lalu keguguran!”
“Kamu menyesal menikah denganku?” tanya Daniel, Rita kaget mendengar pertanyaan suaminya
“Dasar Bodoh!” Rita ke kamarnya, lalu keluar dari apartemen mereka. Ia membanting pintu apartemen hingga rusak. Kemarahannya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Ia pergi ke tokonya.
Daniel terdiam, ia melihat pintu apartemen yang rusak engselnya. Security datang menghampiri
“Ada apa Pak? Saya dengar laporan ada yang rusak di sini?” tanya security tersebut
“Gak apa-apa Pak, nanti saya minta orang untuk mengganti pintu itu, ia segera menelpon tukang pintu untuk memperbaiki pintu mereka yang rusak. Daniel sendirian di kamarnya, ia sangat gelisah.
“rrrr!!!” ponselnya berbunyi
“Ya?”
“Niel!”
“Ya Ma?”
“Kamu sehat?” tanya bu Areum
“Alhamdulillah sehat Ma!”
__ADS_1
“Istrimu sudah sehat kan?”
“Sudah ma! Sekarang sudah tidur” Daniel terpaksa berbohong
“Niel, Kakek meninggal tadi pagi. Ia akan dimakamkan tiga hari lagi”
“Mama gak apa-apa?” tanyanya
“Ini yang terbaik Niel, kakek sudah tua. Nenek juga sudah pasrah”
“Baiklah Ma!, besok InsyaAllah Niel akan ke Korsel. “
“Kalau kamu gak bisa datang gak apa-apa Niel!, mama paham kok!”
“Enggak ma, Niel memang berniat akan ke sana menengok mama!”
“Kerjaan kamu gimana?”
“Proyek Niel sedang jeda ma, ada beberapa bulan untuk memulai proyek tahap 2, jadi mumpung belum sibuk, aku bisa ke sana!”
“Ajak istrimu ya Niel!, Rita itu masih sangat muda, masih belasan tahun. Mama kaget begitu tahu usianya.Tetapi ia sangat dewasa ya? sangat sopan pada orang tua. Bahkan ia membelikan mama banyak baju yang mahal. Dia sangat perhatian, dia bilang mama seperti mamanya!”, Daniel tersenyum mendengar pujian mamanya kepada istrinya
“Iya Ma, insya Allah Rita juga ikut!” ujarnya tersenyum.
Bu Areum mengakhiri telponnya, Daniel kini kembali sendirian di apartemennya. Ia menatap dinding kamarnya. Ia merasakan kesepian yang Rita alami, selama ia menghindarinya, tetapi rasa ego di hatinya menghalangi pikirannya. Ia menyibukan diri di ruang kerjanya membuat sketsa perhiasan. Tanpa sengaja ia melihat sebuah buku berwarna coklat, yang tersimpan di laci meja kerja. Ia membuka buku tersebut, ternyata diarynya Rita, mungkin ia lupa menyimpannya. Kelihatannya buku tersebut masih baru, Daniel membacanya
“Januari 31, Daniel melamar, Masya Allah...mimpi yang terlalu indah untuk terjadi buat gue, imoji hati.... gak nyangka sekarang jadi nyonya Daniel!!!...Yeahh!!!! Rita Love Daniel!!”
“Februari, terpisah sama Yayang Niel!... Ibadah...datang ke Baitullah..berdoa agar keluarga kami langgeng hingga maut memisahkan...aamiin *Missed him so much!!!
“Musim ujian...semangat!...semangat!..semangat!...ujian berakhir, langsung ketemu Yayang! I’m comingg Dearr!!!”
“Resepsi...rame euy. Dream 2.... Baby on the Way!!!... what a surprise!! Kebaikan apa yang sudah gue perbuat hingga menerima banyak berkat dari Allah? Suami yang tampan dan baik, baby on the way, teman-teman yang baik...MasyaAllah Tabarakallah.. Good guys came...thanks for your present. WE thank you!!!
“Maret, D’Rits hadir!!! WOW!!! Dream 3 setelah jadi nyonya Daniel.* love..love...love
“Di New York....Suamiku ganteng banget *love..love...love....kalau gak inget ada kamu Nak!!! Wah...
“Ibu mertua datang...Baikkkk bangettt...love her..stay with us, please???”
“My baby is gone...deep Sorrow!!! Innalillahi wa’innalillahi roji’un..See you in Jannah, my baby. Mommy and papy love you!”
“Mourn Months... I missed my husband...I missed my baby * cry...cry...cry...
“Interview with vampire...ups...with WFC...i am not a good cook, but every one loves my cook,..Alhamdulillah....lonely...*missed you Hubby
Daniel menutup diary tersebut, ia menyadari Rita lebih kehilangan dari dirinya, seharusnya ia menghiburnya, bukan malah menjauhinya. Ia teringat kata-kata istrinya tentang rekan satu tim. Ia menaruh kembali Diary Rita, tanpa sengaja foto terjatuh dari selipan buku tersebut. Foto dirinya dan Rita berdua setelah memenangkan pertandingan basket. Caption di balik foto tersebut
“My Partner in Life, My Soulmate, perfect Team * love...love...love” Ia kembali menangis,..ia sangat takut kehilangan istrinya. Ia segera berganti pakaian, ia bertekad membawa istrinya kembali tapi ketika ia hendak mengunci pintu, Rita sudah berada di luar apartemen
“Kamu mau pergi?” tanya Rita heran, ia melihat jam di tangannya, sudah pukul 10 malam
“Iya? Kamu dari mana?” tanya Daniel
“Aku baru saja dari toko membuat adonan untuk besok. Jadi para pekerja tinggal mencetaknya.”
“Malam begini?” tanya Daniel heran
“Memang biasanya aku bikin adonan malam, supaya besok pagi bisa diolah!”
“ooo” Daniel kaget, jadi selama ini istrinya selalu keluar malam saat ia sudah tidur
“Kamu mau kemana?” tanya Rita, melihat suaminya yang telah berpakaian rapi
“Hmm...aku mau memesan tiket pesawat!”
“Tiket pesawat? Kemana?”
“Kakekku meninggal pagi ini, tiga hari lagi akan dimakamkan. Jadi aku berniat memesan tiket”
“innalillahi wa'innalillahi roji'un... eh memesan tiket ke bandara? Kan bisa langsung online? Kamu gak tahu?” tanya Rita agak heran, Daniel menggeleng
“Sini aku bantuin deh!” Rita menarik suaminya masuk kembali ke apartemennya. Lalu ia mengambil laptopnya dan membuka situs pemesanan online
“Nah, kapan kamu pergi?”
“Kalau besok, aku ijin dulu ke kantor dan membereskan beberapa pekerjaan, mungkin lusa!”
“Hmm...lusa ya? berapa orang?” Rita menandakan di aplikasi tersebut
“Kamu ikut kan?” tanya Daniel
“Boleh?” tanya Rita,
“Tentu saja! Kamu belum pernah melihat Korea dari dekatkan?” tanya Daniel, mereka agak canggung setelah pertengkaran tadi
“CC number?”
“Itu aman gak ya?” tanya Daniel, ia membuka dompetnya untuk mengambil kartu kreditnya
“Aman kok, aku sudah pakai aplikasi ini beberapa kali, alhamdulillah aman. Aplikasi ini dikembangkan oleh kak Andi dan kawan-kawan!”
“ooo” Daniel mengangguk, ia memberikan kartu kreditnya ke Rita. Setelah itu ia kembali mengenakan piyamanya. Ia melihat Rita yang masih sibuk dengan laptopnya
“Kamu gak ganti pakaian?”
“Sebentar! Aku belum melihat email beberapa hari ini, karena sibuk mempersiapkan interview kemarin”
“Oh tentang itu! Selamat ya? Kamu memang pintar!” Daniel mencium rambut Rita, kemudian ia kembali ke ranjang.
“Terima kasih!” Rita tersenyum senang. Ia membuka situs kuliah secara daring.
“hmm...apa aku kuliah ini saja ya? nanti aku diskusikan dulu!” ia menutup laptopnya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
_Bersambung_
__ADS_1