
Tak terasa WFH sudah berlangsung selama 6 bulan, selama itu pula Rita dan keluarga kecilnya menetap di rumah besar Darmawan yang kini telah menjadi miliknya.
“Mba Rita, ini sertifikat kepemilikan rumah ini. Sekarang sudah resmi menjadi milik mba Rita” Ridwan memberikan map berisikan dokumen rumah. Rita membuka dan membacanya
“Apa gak terlalu cepat pak? Kakek kan masih sehat wal’afiat. Kenapa langsung bagi waris seperti ini?”
“Saya dengar dari pak Darmawan, beberapa aset tetap harus beliau segera bagikan kepada cucu-cucunya mumpung beliau masih hidup. Sedangkan harta lainnya akan cair setelah beliau meninggal”
“Saya selalu berdoa semoga kakek Darmawan panjang umur”
“Aamiin,..Pak Darmawan memang selalu melakukan persiapan, beliau tidak mau ketika sesuatu terjadi padanya semua harta memberatkannya dengan adanya sengketa para ahli waris”
“Saya sendiri baru mengenal kakek dua tahun belakangan lho pak, tapi kakek sudah mempercayakan hartanya pada saya” Rita tampak terharu
“Sebenarnya mba Rita, pak Darmawan pernah cerita, dulu sekali”
“Tentang apa pak?”
“Tentang mba Rita”
“Tentang saya? Dulu nya kapan ya?”
“Waktu mba Rita tidur di bagasi mobilnya pak Darmawan”
“Wah itu sudah lama sekali, gimana ceritanya pak?”
Empat belas tahun yang lalu..
“Kak Sugi, aku pamit ya? Nanti tolong Andi suruh menyusul saya!”
“baik Dik!, ada apa Ndar?” Sugiyono bertanya pada salah satu stafnya
“Mba Rita hilang lagi Pak, guru taekwondonya sudah menunggu di ruang latihan”
“Anak ini!” Sugiyono mengambil telepon di mejanya, sementara Darmawan menghentikan langkahnya keluar dari ruang kerja Sugiyono
“Ton! Coba lihat di hutan belakang, Rita sering memanjat pohon paling tinggi. Kalian cari di atas!, oh ya, suruh orang juga cari di dapur, terutama di bagian penyimpanan makanan!” perintah Sugiyono pada para staf rumahnya
“Kenapa Kak?”
“Ini si Rita, hilang lagi!..anak ini benar-benar susah diatur!”
“Kenapa mencari di hutan? Memangnya dia bisa memanjat?”
“Dia sangat pandai memanjat, gak tanggung-tanggung pohon paling tinggi, aku heran siapa yang mengajari dia memanjat!”
“Hahaha...mungkin dia terinspirasi film tarzan, Oh ya Anak itu gak mirip Reza, mirip Ratna juga enggak!”
“Rita masih anak-anak, wajah bisa berubah-ubah. Kadang dia bikin aku khawatir berlebihan.”
“Tapi kak Sugi kan masih punya cucu perempuan yang lain”
“Iya memang, tapi Rita ini istimewa, aku juga gak ngerti kenapa. Aku sangat peduli padanya, tetapi sepertinya dia senang sekali membuatku khawatir!”
“Mungkin karena kakak terlalu khawatir jadi dianya sengaja seperti itu. Oh ya apa Ratna tahu anaknya sering memanjat pohon tinggi?”
“Tahu, aku saja yang seperti ini tidak didengar apa lagi mamanya.”
“Bagaimana dengan Reza? Apa dia tidak bisa mengendalikan Rita?”
“Kadang-kadang dia bisa tetapi sepertinya dia terlalu memanjakan anaknya, jarang aku melihat ia memarahinya”
“Hmm..baiklah kak!, aku pulang dulu ya!”
“Hati-hati di jalan!”
Darmawan meninggalkan ruang kerja Sugiyono, sebelum keluar rumah ia sengaja mengambil jalan memutar, ia ingin melihat pohon besar yang sering dipanjat Rita
“Waduhh...tinggi sekali ini pohon, seharusnya ditebang saja” gumamnya, ia langsung masuk ke mobilnya tanpa memperhatikan kopernya yang tertinggal.
Satu jam kemudian ia tiba dikediamannya.
“Selamat Sore Pak!” sapa Ridwan
“Sore, sehat kamu wan?”
“Alhamdulillah sehat pak!, oh ya, mas Andi gak ikut?”
“Nanti dia menyusul, katanya mau main sebentar lagi. Oh ya, tolong suruh seseorang mengambil koper ku di bagasi”
“Baik pak!”
Darmawan masuk ke rumahnya, ia memiliki kebiasaan setelah masuk rumah, ia duduk dulu di teras depan sambil minum teh hangat, lalu membaca koran sore. Tak berapa lama Ridwan datang menemuinya
“Pak maaf, kopernya tidak ada!”
“Huh? Tidak ada? Tadi Edi sudah memasukkannya, kamu sudah tanya ke Edi?”
“Sudah pak, dia juga bingung kopernya gak ada, tapi pak ada pengganti kopernya” Ridwan mengatakannya dengan suara pelan
“Pengganti koper? Maksud mu? Seseorang menukar isi koper ku? Koper ku hanya berisi pakaian saja tidak ada yang penting” Darmawan melipat koran lalu bangkit dari duduknya kemudian ia menuju bagasi mobil sedannya. Ia melihat seorang anak perempuan kecil terlelap di bagasi mobilnya, ia tersenyum.
“Wan, angkat dia pelan-pelan jangan sampai terbangun, di ruang tengah ada sofa yang nyaman, tidurkan di situ”
“Baik pak!” perlahan Ridwan mengangkat tubuh kecil Rita yang terlelap dan membawanya ke sofa di ruang tengah. Sementara Darmawan menghubungi Sugiyono
“Kak, Rita gak usah dicari, dia ada bersamaku!”
“Hah? Kok bisa?”
“Rupanya dia menukar koper ku di bagasi dengan dirinya”
“Jadi dia ngumpet di bagasi mobil mu? Hhmmm...makin canggih ngumpetnya” terdengar suara gemas Sugiyono
“Gak usah khawatir kak, nanti aku suruh orang untuk mengantarnya pulang, sambil mengambil koperku”
“Dia lagi ngapain sekarang?”
“Sedang tidur, kayaknya capek sekali” Darmawan melihat wajah kecil yang terlelap
“Baiklah, antarkan saja ya?”
“Beres kak!” mereka menyudahi percakapan
Satu jam kemudian Rita terbangun, ia mencium wangi masakan dari ruang makan. Tanpa menyadari keberadaannya, ia menghampiri sumber wangi
“Selamat malam putri tidur!” sapa Darmawan ramah
“Eh, malam!” Rita malu, ia baru menyadari kalau ia tidak berada di rumahnya
“Ayo duduk, kamu pasti lapar kan?” Darmawan tersenyum ramah, Rita menurutinya. Staf membantunya menggeser kursi makan yang cukup berat
“Ayo, kamu boleh pilih makanan yang kamu suka!”
Rita tersenyum, karena tubuhnya yang kecil ia terpaksa berdiri di kursinya, lalu ia menunjuk beberapa makanan yang ia ingin makan, staf membantunya.
“Eh maaf ya Kek!” Rita kembali duduk di kursinya, Darmawan terkejut Rita memanggilnya kakek
“Kamu mengenal saya?” tanya Darmawan heran, Rita mengangguk
“Kakek kan kakeknya kak Andi”
__ADS_1
“Kok kamu bisa tahu? Kita kan belum pernah ketemu?”
“Sebenarnya saya sering lihat kakek menjemput kak Andi di rumah kakek”
“Oh ya? kok saya gak ngeliat ada kamu?”
“Hehehe, karena saya ngeliatnya dari atas pohon”
“Atas pohon yang tinggi itu? Apa kamu gak takut jatuh?”
Rita menggeleng
“Memanjat itu yang penting kekuatan tangan dan kaki, lalu kepercayaan diri kalau kita bisa memanjat lebih tinggi”
“Kok kamu bisa tahu?”
“Saya sering nonton Nat Geo di kamar mama”
“Kenapa kamu suka memanjat pohon?”
“Karena kita bisa melihat tempat yang jauh dari ketinggian. Lagi pula itu satu-satunya tempat di mana orang gak akan mengira mencari saya di situ”
“Apa kamu gak takut jatuh?”, Rita menjawabnya dengan menggeleng
“Kenapa kamu sembunyi?”
“Kakek selalu memaksa Rita berlatih, katanya selain bagus untuk kesehatan juga untuk membela diri. Coba deh kakek pikir, untuk apa saya berlatih bela diri, pengawal kakek kan banyak”
“Uhuk!” Darmawan mengangguk, menurutnya alasan Rita cukup masuk diakal untuk anak seusianya
“Jadi kamu akan terus melarikan diri setiap latihan?” tanya Darmawan
“Mungkin, tapi sepertinya akan sulit. Kalau seperti ini kayaknya latihannya akan dilipatgandakan”
“Apa kamu gak bilang keberatan mu ke kakek?”
“Sudah!, tapi gak didengar. Malah beliau menyuruh Maia untuk memukuli saya”
“Oh ya? kenapa?”
“Beliau bilang, kalau saya bisa menang dari Maia, saya boleh gak latihan lagi”
“Kamu menang?”
“Enggak pernah, makanya saya lari!”
“Rita, lari itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin kamu bisa menganggap latihan itu sebagai tantangan”
“Tantangan?”
“Iya, seperti kamu memanjat pohon yang tinggi, kamu menganggapnya tantangan kan?”
“Iya sih kek? Eh iya saya boleh kan memanggil kakek?”
“Boleh dong! “
“Hmm...Rita kan sudah punya kakek, kalau yang ini kakek juga gimana bedainnya?” Rita menggumam sendiri, Darmawan tampak geli melihat wajah kecil yang serius memikirkan panggilan untuknya
“Aha! Kalau begitu saya memanggil Kakek, kakek tampan saja!”
“Hah? Kakek tampan?” Darmawan tampak terkejut
“iya kakek tampan! Karena walaupun sudah agak tua, wajah kakek tampan!”
Darmawan agak kesal mendengar kata tua, tapi ia senang dibilang tampan
“Hmm...baiklah..jadi Rit, kamu mau pulang atau menginap di sini?” Darmawan menanyakan setelah ia melihat Rita menyelesaikan suapan terakhirnya.
“Uhuk!!” Darmawan tersedak air teh ketika mendengar Sugiyono disebut kakek galak
“Kakek galak?”
“He eh!..oh ya kakek tampan, nanti Rita diantar?”
“Iya, kamu gak mau mandi dulu?”
Rita mencium bajunya
“Gak usah deh, nanti saja di rumah, sekarang saya khawatir kakek akan marah-marah pada seisi rumah karena saya hilang”
“Baiklah!” Darmawan segera bangkit dari kursi makan
“Ayo kita ke rumah kakek galak!”
“Eh kakek tampan mau nganterin?”
“Iya, kalau kakek tampan ikut, kakek galak gak bakal marahin kamu kan? Kamu bisa langsung masuk ke kamar!”
“Oh iya!! Benar juga! Kenapa gak kepikiran!” ujar Rita
Darmawan mengantarkan Rita kembali ke rumah besar Sugiyono, dan mengambil kembali kopernya
Sesampainya di sana, Sugiyono menyambutnya di depan pintu, wajahnya terlihat cemas bercampur kesal. Rita bersembunyi dibalik tubuh Darmawan
“Rita kemari!” perintah Sugiyono
“Maaf kek!, Rita capek latihan!” teriak Rita dari balik tubuh Darmawan.
“Capek? Latihan saja belum sudah ribut capek. Apa perlu kakek suruh Robby mengajari mu?” ancam Sugiyono
“Jangan!! Iya, mulai besok Rita akan rajin latihan!” teriaknya , ia masih bersembunyi
“Benar ya? kakek ini saksinya!” ujar Sugiyono
“Iya!, kakek tampan ini saksinya!” ujar Rita, ia berlari masuk ke dalam rumah menghindari kakek Sugiyono
“Hah? Kakek tampan? Maksudnya apa?” tanyanya heran
“Namanya anak-anak kak!, oh ya, Aku sekalian menjemput Andi, dia sudah siap kan? Besok aku akan kembali ke Auckland”
“Eh Andi akan ikut ke Auckland?”
“Iya, aku sudah bilang ke Ratna, kemarin dokter jantungnya meminta supaya Andi tidak terlalu memforsir tenaganya. Aku sudah mendapatkan donor untuknya”
“Oh ya? syukurlah!”
Beberapa menit kemudian Darmawan keluar dan hendak kembali ke mobilnya, Rita mengejarnya
“Kakek tampan!”
“Eh Rita? Kamu sudah mandi?”
“Sudah kek, tadi terima kasih ya? sudah diantar dan diumpetin. Oh ya ini coklat untuk kakek!”
“Untuk saya?”
“Iya? Saya membuatnya di dapur dengan para chef, baru kakek yang saya beri.”
“Kakek mu gimana?”, Rita menggeleng
“Rita hanya memberikan pada orang yang istimewa!, sudah ya kek!” ia langsung berlari meninggalkannya
__ADS_1
“Terima kasih Rita!” teriak Darmawan, ia tersenyum
Di dalam mobil
“Apaan tuh Kek?” tanya Andi
“Ini coklat”
“iya tahu!, dari mana?”
“Ada aja!”
“Minta dong!”
“Enggak ah!, ini coklat untuk orang teristimewa, kamu orang istimewa gak?” tanya Darmawan, Andi memotek coklat dengan paksa
“Ih kamu nih! gak sopan!” protes Darmawan
“Hehehe...” Andi langsung memakan coklat itu, lalu ia mengambil tissue dan memuntahkannya
“Coklat apaan tuh? Sudah pahit asin pula!”
Darmawan memakan coklat itu dengan lahap
“Enggak ah! Rasanya pas kok!” ujarnya tersenyum
“Selera Kakek aneh kalau begitu!”
“Eh ndi, Rita itu mirip ayah Reza gak?” tanya Darmawan
“Hmm...mirip deh!”
“Masa sih? Kayaknya enggak deh.”
“Masa enggak? ayah Reza kan ayahnya, memangnya mirip siapa?” tanya Andi, ia masih mengelap lidahnya dengan tissue
“Kamu senang gak punya adik kayak Rita?”
“Senang banget, tapi sayang ya, ayahnya beda. Jadi Andi juga suka gak enak kalau terlalu dekat”
“Tapi Reza baik kan sama kamu?”
“Ayah? Baik banget!, dia menganggap Andi anaknya”
“Terus? Kok kelihatannya kamu gak puas?”
“Karena menganggap sama yang sebenarnya kan benar-benar beda kek!”
“Oh ya, mulai besok kamu tinggal di Auckland bersama kakek!”
“Mama gimana?”
“Mama akan bersekolah lagi di Paris”
“Hah? Gak mungkin ah! Mama kan punya suami”
“Andi, kamu mengerti arti perceraian kan?”
“Maksud kakek?”
“Tadi kakek mu bilang, mama dan ayah Reza akan bercerai, dan Rita akan ikut bersama Reza”
“Hah? Kenapa mereka bercerai kek?”
“Entahlah, kakekmu gak mau cerita banyak”
“Kasihan Rita! Apa dia tahu?”
“Sepertinya tahu, menurut kakek mu, Rita sendiri yang memilih untuk tinggal bersama ayahnya”
“Aku ingin menemaninya kek!”
“Kamu jangan khawatir ndi, Rita gak langsung dibawa, dia hanya sesekali pergi dengan Reza, setelah terbiasa dengan keadaan baru lah dia benar-benar ikut Reza”
“Apa kakek gak bisa berbuat apa-apa?”
“Kalau Rita cucu ku, aku akan segera membawanya, tapi sayangnya dia bukan. Aku akan dianggap menculiknya kalau membawanya!”
“Iya juga ya?”
“Kamu gak usah khawatir Ndi, Rita itu anak pemberani. Dia pasti akan baik-baik saja!”
“Iya kek, semoga dia baik-baik saja ya?”
Mereka tiba di kediaman Darmawan
“Malam Pak”
“Malam Wan!, coba lihat bagasi, seharusnya ada kopernya di situ!” ujar Darmawan, ia mengikuti Edi dan Ridwan membuka bagasi mobilnya
“Iya pak kali ini benar kopernya!” ujar Ridwan tersenyum,
“Hmm..” wajah Darmawan tampak kecewa, ia berharap Rita kembali bersembunyi di situ kemudian ia masuk ke dalam rumah sambil mengantongi bungkus coklat pemberian Rita.
“Bungkus coklat?” tanya Rita
“Iya, pak Darmawan selalu menaruh di sakunya. Ia membawanya kemana saja. Saya pernah melihat beliau memborong coklat dari Belgia, ia hanya mencobanya sedikit, lalu ia berikan kepada staf di sini , ia bilang rasanya beda dengan coklat pemberian mba Rita”
“Aduhh kakek...so sweet sekali!!” Rita terharu mendengar cerita Ridwan
Malam harinya, Daniel memeluk istrinya
“Sayang, aku sedang haid!” ujar Rita
“Iya tahu, aku cuma ingin memeluk mu saja! Sayang istri cantik begini didiamkan!”
“Hmm...kamu pernah nyobain coklat bikinan aku gak?” tanya Rita
“Enggak!, memangnya kamu pernah bikin?”
“Besok aku mau coba bikin ah!”
“Belanja keluar dong?”
“Iya, memangnya gak boleh?”
“Boleh sih, tapi aku dengar penularan di sini lebih parah!, apa lagi kamu punya anak bayi di rumah”
“Iya juga ya? jadi gimana dong?”
“Tumben! Ya beli online saja! Bahan bakunya! Eh bukannya tante Saye punya usaha coklat?”
“astaghfirullah al’adzhim!!, kenapa aku bisa lupa? Aku beli langsung saja ya sama tante!”
“Tapi sih Yang, lebih baik menghubungi tokonya langsung, kalau lewat tante biasanya beliau gak mau dibayar! Kan kasihan!”
“Iya juga ya? kamu pintar sekali! Muachh!! “ Rita mencium suaminya yang dibalas dengan intens
“Sudah ah! Nanti bablas!” ujar Daniel menyudahi ciuman panas mereka, lalu mematikan lampu tidur, mereka pun terlelap.
_Bersambung_
__ADS_1