Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 218: Siapa Tersangkanya?


__ADS_3

Daniel membawa kedua anaknya ke ruang perawatan Rita.


“Dokter sudah lebih dari 24 jam, kenapa istri saya belum juga sadar?” tanya Daniel bingung


“Kami masih memeriksa lagi pak, selain darah, rambut serta kuku. Biasanya ada zat-zat tertentu yang mengendap jika istri bapak meminum sesuatu”


“kira-kira kapan hasil laboratoriumnya keluar?”


“Tergantung pak, ada beberapa zat uji tes tidak bisa dilakukan di sini tapi di lab lain, jadi kami membawanya kesana”


“Detoksnya masih dokter?”


“Masih sedang berjalan Pak!”


“Saya dan anak-anak boleh melihat ibunya?”


“Silakan pak!”


Daniel yang menggunakan gendongan ganda, perlahan menurunkan kedua anaknya. Ia menidurkan Rafa di sisi Rita lalu Ranna di sisi satunya lagi.


“Sayang! Kami menunggu mu di sini, cepat sadar ya?” Daniel memegang tangan dan mencium kening Rita.


“Ranna, pegang mami nak! Supaya mami lekas bangun” Daniel menahan isak tangisnya. Ia tidak menyangka istrinya tidak sadarkan diri seperti itu. Ranna duduk di samping Rita, perlahan ia mengusap wajahnya, lalu mencium pipinya.


“Maamamamaaaaammmmmmaaaaaa!!!” teriaknya, tak disangka Rita langsung terbangun dari tidurnya


“Ranna!!!” tiba-tiba ia sadarkan diri


“Rita!!” Daniel segera memeluknya erat


“Ada apa Niel?” tanya Rita heran, mendapati dirinya di ruangan lain.


“Tadi kamu tidak sadarkan diri, menurut dokter ada yang menyuntikan obat bius ke tubuh mu, apa kamu tahu siapa orangnya?”


“Obat bius? Hmm..tadi pagi aku menggendong Ranna dan mendekapnya di dadaku karena badannya agak hangat. Ia sedang tumbuh gigi Yang!” Rita menunjukkan gigi Ranna yang mulai tumbuh


“Iya,..aku senang kamu telah sadar! Kamu bikin aku takut!”


“pak Daniel!..pak Daniel!” seseorang memanggilnya


“Huh?” tiba-tiba Daniel terbangun dari tidurnya, ia tertidur di samping Rita.


“Anak-anak mencari papinya” ujar Pak Ridwan, Daniel tersadar dari mimpinya. Rupanya tadi hanya mimpi. Rita belum sadarkan diri.


“Baik pak, saya akan ke kamar anak-anak” Daniel tampak kelelahan dengan langkah gontai ia menuju kamar anak-anaknya, baby sitter telah diganti.


“Ranna, kamu sudah tumbuh gigi ya nak?” Daniel mengangkat anak pertamanya, memangkunya, lalu melihat mulut anaknya.


“Iya, ya, tadi mami bilang gigi kamu sudah tumbuh” Daniel memeluk anaknya erat, ia terisak


“Ranna...papi takut mami gak sadar-sadar” isaknya, Ranna seperti mengerti ucapan papinya, ia mengusap wajah papinya, lalu merebahkan kepalanya ke dada papinya.


“Eh..benar juga ya? kamu cerdas. Mami bilang kamu cerdas sekali Ranna!..” Daniel mencium kepala anaknya lalu tersenyum. Sentuhan kecil dari anaknya mengobati duka di hatinya


“Hueee!!!” Rafa menangis


“Kamu duduk di kursi goyang dulu ya?” Daniel meletakan Ranna di kursi goyang otomatis, lalu ia mengangkat Rafa dari tempat tidurnya, Ia menggendongnya, lalu mengambil persediaan ASI dari lemari pendingin


“tuk!” ada yang jatuh, ia heran. Ia menaruh Rafa di tempat tidurnya, lalu mencari benda yang jatuh tadi


“Alat suntik!” gumamnya, ia mengambil alat suntik itu dengan tissue lalu ia mencari plastik untuk membungkusnya.


“Ting!” bunyi notifikasi ponselnya, ia membuka pesan di ponselnya


“Niel, sidik jarinya tidak dikenali, tapi kamu harus tahu ada seseorang yang sedang menyelidikimu” ujar Joey


“Kamu tahu siapa orangnya?”


“Aku mencoba mencari tahu, tapi masuk berkas rahasia. Kamu ikut operasi rahasia akhir-akhir ini Niel?”


“Sudah 2 tahun ini tidak! Joey, aku menemukan alat suntik di kamar anakku, aku akan mengirimimu sidik jari dari alat suntik ini”


“Bagaimana kabar istrimu?”


“Belum sadar Joey, seseorang menyuntikan obat bius ke tubuhnya, aku curiga alat suntik ini yang digunakan orang itu”


“Kirim saja Niel gambar sidik jarinya nanti segera aku proses dan mengabarimu!”


“Baik Joey, terimakasih!” Daniel memberikan ASI botol kepada Rafa sambil duduk bersila menghadap Ranna


“Kalian, tenang-tenang saja ya? papi akan berusaha menyadarkan mami kalian!” ujar Daniel dengan suara lembut


“haaaa!” Rafa mengangkat tangannya seperti mengerti. Satu jam kemudian, kedua anak telah lelap tertidur. Daniel meletakkan keduanya di stroller lalu membawanya ke ruang perawatan Rita. Malam itu ia berniat tidur bersama dengan istrinya. Sementara Rita yang tengah berada di alam mimpi.


“Hey Rit!” seseorang menyentuh pundaknya


“Eh kak Tommy?” ia sangat kaget melihat seniornya, berpakaian putih-putih. Ia tidak menyadari keberadaan dirinya


“Kamu sehat Rit?”


“Alhamdulillah Kak, oh iya kakak bagaimana?”


“Alhamdulillah, baik-baik juga! Bagaimana kamu sekarang?”


“Hmm...Aku sudah menikah kak”


“Oh ya? Selamat ya?”


“Terima kasih!” Rita tersenyum


“Kamu bahagia ya?”


“Hmm...iya!”


“Suami mu baik?”


“Sangat baik dan tampan!”


“Lebih tampan dari kakak?” tanya Tommy sambil bercanda, Rita mengangguk


“Hahaha..kamu jangan terlalu jujur kayak gitu!”


“Boong kan dosa kak!” jawab Rita tersenyum


“Hehehe..sudah punya anak?”


“Sudah 2!”


“Wow!..cepat sekali. Namanya siapa saja?”


“Yang paling besar 12 bulan Ranna Khadijah, yang kedua 2 bulan Raffa Muhammad”


“ckckck...kamu akan menjadi ibu yang luar biasa Rit!”


“Eh iya kak? Kenapa aku ada di sini?” tanya Rita, ia mulai menyadari keberadaan dirinya


“Entahlah!, tadi kakak disuruh menemanimu di sini”


“Siapa?”


“Kakak gak boleh bilang!”


“Malaikat?”, Tommy hanya tersenyum, lalu ia mengajak Rita berjalan


“Rit!”


“Ya Kak?”


“Apa kamu pernah memikirkan kak Tommy akhir-akhir ini?”

__ADS_1


“Enggak! hehehe...maaf ya Kak. Prinsip Rita yang sudah pergi biarkan pergi,..hehehe...”


“hahaha..begitu ya? kamu pasti sangat sayang sama suami mu, sampai-sampai kakak gak dihiraukan lagi” Tommy tersenyum manis


“Tapi aku sering mengirim doa kok, untuk ayah, papa Eka, kak Tommy Om Radian”


“Om Radian? Hmm...dia siapa?”


“Dia sepupunya papa Eka, papa Rita”


“Ohh..kok kakak belum pernah ketemu ya?”


“Biasanya ketemu kak?”


“Iya, kakak saja bisa kenal papa Eka”


“Hoo..kalian seperti reuni begitu ya?”


“Rahasia Rit, pokoknya biasanya yang sudah pindah alam bisa bertemu kalau orang baik”


“Om Radian orang baik kok, dia sering ngasih Rita uang!”


“Kalau kategori orang baik Cuma ngasih uang, pablo Escobar sering ngasih uang!”


“Pablo Escobar? Gembong narkoba asal Kuba?”


“Iya, dia gak ada di sini”


“Mungkin di alam Kuba kak, tapi masa Om Radian disamakan sama gembong narkoba. Beliau Cuma pengusaha biasa kok”


“hmm...beliau sudah menyebrang?”


“Meninggal maksudnya?”


“Iya, kami di sini menyebutnya menyebrang”


“ohh,..kira-kira dua bulan lalu deh, karena kecelakaan”


“Oh begitu, mungkin beliau nyasar di tempat lain”


“Dia gak bawa GPS kak!”


“Hahahaha! Kamu masih lucu saja!, Sungguh kalau kakak gak menyebrang melihat kamu menikah pasti kakak patah hati sampai setengah mati”


“Kalau mengerjakan sesuatu jangan setengah-setengah kak!” canda Rita


“Hahahaha...iya juga ya? kakak gak main setengah lagi langsung full!” Tommy tersenyum, mereka saling berpandangan


“Ehem! Kak Tommy bertugas di sini apa bagaimana?”


“Ya begitulah, tapi kamu belum saatnya Rit!”


“Saya?”


“Iya!”


“Ini di mana ya kak? Kok semua serba putih?”


“Ini di ruang antara, biasanya orang yang tidak sadar, rohnya di ruang ini”


“Oh begitu, kalau dia sadar kembali lagi?”


“Iya, dia kembali lagi atau kalau sudah waktunya ia akan menyebrang”


“Apa di alam sini orangnya baik-baik?” tanya Rita


“He eh!” Tommy mencuri pandang ke arah Rita,


“Masa kak Tommy di hidup Rita sudah lewat, sekarang masanya Daniel” ujar Rita seperti menjawab pertanyaan Tommy


“Daniel? itu nama suami mu?”


“Oh begitu, sepertinya dia memiliki perasaan yang sama dalamnya dengan mu. Oh iya Rit, nanti apapun yang terjadi kamu harus tetap berada di samping suami mu.”


“Memangnya ada apa kak?”


“Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu harus mempercayainya! Sepertinya ia akan mengalami banyak kesulitan di kemudian hari”


“Oh ya? seperti apa kak?” tanya Rita, tiba-tiba Tommy menghilang


“Kak Tommy?” panggil Rita, ia membuka matanya, tersadar dari tidurnya. Ia melihat dirinya berada di ruangan seperti di rumah sakit.


Daniel dan anak-anaknya tidur di tempat tidur cadangan yang sengaja di pasang di situ. Rita melihat tubuhnya yang dipasangi selang infus. Perlahan ia mencabut selang infus dari tangannya.


“Aduuhhh!” erangnya dengan suara berbisik, ia mencoba bangun dari tempat tidurnya. Kakinya masih lemas karena lebih dari 24 jam ia tertidur, otot kakinya lemas. Setelah menunggu beberapa saat dengan duduk tegak di ranjang, kakinya mulai kuat untuk berjalan. Ia menghampiri ranjang darurat tempat suami dan anak-anaknya tidur.


“Sayang!” ia mengecup kening dan mengusap rambut suaminya. Daniel yang kelelahan tidak bergeming. Rita memutuskan untuk tidur disamping suaminya. Ranjang itu cukup lebar, sehingga ia bisa berada diantara suami dan kedua anaknya. Ia memeluk suaminya sambil merebahkan diri di sampingnya.


“Hueee!!!” Rafa menangis karena kepalanya terkena tangan Ranna yang mengubah posisi tidurnya


Rita bangkit, lalu menggendong Rafa


“Cep..cep..cep!! jangan nangis sayang!”


“Huh!” Daniel yang merasa terganggu dengan gerakan Rita tiba-tiba terbangun. Ia melihat seorang wanita menggendong anaknya. Ia melompat kaget, lalu menyalakan lampu kamar.


“Kamu!” teriaknya kaget, Rita menoleh


“Ssstt!!! Nanti pada bangun!” Rita memperingatkan, Daniel mengejap-ngejapkan matanya, lalu


“Auchh!!” ia menampar pipinya sendiri


“Kamu kenapa?” tanya Rita


“Kamu sudah sadar Yang?” tanya Daniel, ia menghampiri istrinya dan memegang pipi istrinya lalu mencubitnya


“Aduhhh!! Kenapa dicubit?” protes Rita kesakitan, ia masih menggendong Rafa


“Kamu sudah sadar! Alhamdulillah, ya Allah!” Ia memeluk istrinya erat


“Memangnya aku kenapa?”


“Hmm..kamu gak ingat?”


“Enggak? seingatku tadi pagi aku capek sekali. Setelah bercinta dengan mu lalu menyusui anak-anak, habis itu aku gak ingat lagi.”


“Bukan tadi pagi, tapi kemarin! Kamu gak sadar lebih dari 24 jam!”


“Oh ya? kok bisa?”


“Itu yang aku mau tanyakan, apa kamu ingat siapa yang menyentuhmu?”


“Menyentuh? siapa? Gak ada!” ujar Rita heran


“Ada bekas suntikan kecil di tanganmu, dokter bilang ditemukan obat bius kadar cukup tinggi di dalam darah mu. Apa kamu minum obat tidur? Atau obat flu mungkin?”


“Enggak! aku kan lagi menyusui, aku harus hati-hati dengan obat yang aku minum. Pil KB saja aku konsultasi ke dokter dulu, takut mempengaruhi ASIku”


“Aku juga bilang begitu sama dokter, sekarang mereka sedang memeriksa rambut dan kuku mu”


“hmm,..kira-kira siapa yang mau melukai aku?”


“Aku mengganti baby sitter anak-anak”


“Apa mereka yang melakukannya pada ku?”


“Aku belum tahu, tetapi mereka orang terakhir yang bersama mu sebelum kamu pingsan”


“Kamu sudah mengecek latar belakang mereka?”

__ADS_1


“Sedang dilakukan, aku meminta temanku untuk mengecek mereka”


“Apa aku pura-pura belum sadar, atau bagaimana?”


“Kalau pura-pura agak sulit, kamu lihatkan di ruangan ini dipasangi CCTV, mereka pasti juga sudah tahu kamu telah sadar”


“Mereka? Berarti yang melakukan ini lebih dari satu orang?”


“Kita anggap saja begitu. Tadi pagi aku sempat down, karena sebelumnya kita melakukan hal yang tidak biasa dan anak-anak sangat nempel pada mu.”


“Kamu takut itu pertanda aku akan meninggalkan kalian?” tanya Rita , Daniel mengangguk. Rita menaruh Raffa di tempat tidur kemudian ia memeluk suaminya erat.


“Insya Allah aku akan menemani mu, sampai ajal menjemput kita ya?”


“Insya Allah!” Daniel membalas pelukan istrinya.


“Jadi bagaimana Yang?” tanya Rita, ia melepaskan pelukannya


“Kamu bisa berpura-pura lemah, tapi harus tetap waspada. Ingat orang itu sepertinya memantau kita sejak lama”


“Apa aku harus minum obat dari dokter?”


“Aku akan meminta dokter menghentikan infusnya.”


“Btw Yang, kamu yang punya ide menjadikan kamar ini ruang perawatan?”


“Iya, tadinya pak Ridwan akan membawa mu ke rumah sakit. Aku tidak setuju. Rumah Sakit sedang ramai dengan orang yang terjangkit virus. Lagi pula aku dan anak-anak ingin selalu di dekat mu”


“Ide yang sangat baik!, berapa jam mereka membuat ini?”


“Empat sampai lima jam, rumah ini punya OB yang sangat cekatan”


“Jadi malam ini kita berempat tidur di sini?” tanya Rita


“Iya, aku kunci pintunya supaya kita bisa tidur dengan nyenyak” Daniel mengunci pintu kamar perawatan, lalu mematikan CCTV. Mereka kembali tidur dengan kedua anak mereka.


Keesokan paginya, Rita yang sudah segar kembali diperiksa dokter.


“Bagaimana perasaan Anda bu?”


“Lebih segar, mungkin obat bius itu benar-benar mengistirahatkan seluruh organ tubuh ku” canda Rita, Daniel tidak tersenyum wajahnya terlihat sangat khawatir


“Kami sudah memeriksa fungsi jantung, hati dan ginjal Anda, semuanya normal. Sepertinya detoks kemarin benar-benar mengeluarkan racun dari tubuh Anda.”


“Syukurlah dokter, sekarang saya sudah bisa menyusui anak saya?”


“Belum bu, kami periksa dulu ASI ibu, ini permintaan kakek Anda”


“Oh, baiklah!”


Beberapa jam kemudian hasil lab ASI sudah keluar.


“Sudah bersih bu, dan aman. Ibu bisa menyusui anak ibu lagi”


“Istri saja sudah bisa kembali ke kamar kami dokter?” tanya Daniel


“Tentu Pak” jawab dokter tersenyum


“Terima kasih banyak dokter!”ujar Rita dan dan Daniel bersamaan


“Kami harus kembali ke rumah sakit” ujar dokter


“Jangan dulu pak!, ada pesan dari pak Darmawan, tim medis diminta stand by di rumah ini 2x 24 jam lagi” ujar pak Ridwan


“Baiklah!”dokter dan timnya menyetujuinya, sepertinya mereka senang karena fasilitas rumah besar yang lengkap. Rita kembali ke kamarnya.


“Yang, kamu istirahat deh, jangan ngerjain apa-apa dulu!” ujar Daniel, kedua baby sitter cowok yang kini menjadi kedua anaknya


“Gak salah nih Yang?” tanya Rita heran


“Mereka yang cocok sama kedua anak kita, Cuma untuk sementara. Kamu jangan menyusui di depan mereka ya?” ujar Daniel mewanti-wanti


“Ya iyalah!, kalee!!!” Rita meloncat ke ranjangnya, lalu berguling-guling di situ seperti sudah lama tidak tiduran di ranjang itu. Daniel menggeleng-geleng melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil.


“Walau Cuma 24 jam, tapi ranjang perawatan itu sangat keras, beda sekali dengan ranjang ini” ujar Rita sambil memeluk guling.


“Eh tau gak Yang, di Jepang, kalau istri sudah memeluk guling, suaminya marah lho” ujar Daniel tiba-tiba


“Oh ya? kenapa?”


“itu artinya dia sedang kesepian, seharusnya ia memeluk suaminya”


“Sini deh kamu aku peluk!” ujar Rita, ia merentangkan tangannya.


“hmm...nanti saja deh, tunggu kamu pulih dulu!” Daniel segera meninggalkan ruang tidur mereka dan kembali ke ruang kerja. Ia melaporkan keadaan Rita kepada kedua kakek.


“Rita sudah sadar Kek, aku sudah menyuruhnya istirahat” ujar Daniel


“Bagaimana penyelidikan mu tentang kedua baby sitter Niel?” tanya kakek Dar


“Sedang diproses kek, nanti aku kabari perkembangannya”


“Niel, sebisa mungkin kalian meminimalisir bertemu dengan orang baru” saran kakek Sugi


“Iya Kek, aku juga sudah mengirimkan profil para baby sitter serta pelayan di rumah besar ini ke interpol”


“Huh? Semua pelayan di rumah besar?” tanya Kakek Darmawan


“Betul Kek, ini untuk pencegahan saja”


“Baiklah Niel, kakek serahkan semuanya pada mu, oh iya besok Ranna ulang tahun ya?” tanya Kakek Darmawan


“Oh iya, aku juga sampai lupa” jawab Daniel


“Masih satu tahun, dia gak bakal ingat!” ujar kakek Sugi


“Iya sih, tapi lagi lucu-lucunya itu” ujar Kakek Dar, mereka berdebat secara online


“Ehem...kakek, maaf, aku harus kembali bekerja. Kemarin aku tidak bekerja karena masalah Rita”


“Oh iya, baiklah Niel salam untuk Rita!” ujar kedua kakek, mereka kembali berdebat secara online, Daniel keluar dari percakapan group mereka dan kembali online ke kantornya.


“Selamat Pagi pak Daniel!” sapa semua karyawan


“Pagi, maaf saya terlambat online”


“Gak apa-apa Pak, bagaimana kabar bu Rita?”


“Alhamdulillah, istriku sudah sadar, sekarang ia sedang istirahat di kamarnya”


Karyawan perempuan bergosip di channel lain


“Bu Rita sudah sadar!”


“Yah, sayang deh pak Daniel batal jadi duda keren!”


“Hush! Memangnya kalau pak Daniel jadi duda , dia mau sama kamu?”


“Bisa saja, kalau aku pepet terus!”


“ Gak bakalan deh, kelihatan kok pak Daniel cinta mati sama istrinya” ujar karyawan perempuan lainnya


“Mungkin, tapi istrinya kan belum tentu sama cintanya?”


“Ah itu bisa-bisanya kamu saja!”


Sementara Rita yang sedang rebahan di kamarnya mengecek pesan-pesan di ponselnya. Ia mengingat, ponselnya terhubung dengan CCTV di kamarnya. Penasaran, ia melihat rekaman beberapa hari yang lalu saat ia pingsan.


_ bersambung_

__ADS_1


__ADS_2