
“Selamat Pagi Niel! Apa kabar?” Davis menyalami Daniel yang menghadap ke kantornya
“Baik Pak, evaluasi proyeknya sudah selesai pak?” tanya Daniel, setelah ia dipersilakan duduk
“Sudah! Kesimpulannya kamu tetap menangani proyek lanjutannya, hanya saja kali ini kamu mengepalai dua divisi!”
“Apa saja pak?”
“Sebenarnya dalam rapat kemarin, kami memutuskan menyatukan 2 divisi, yaitu divisi proyeksi bersatu dengan divisi manajemen”
“Apa ini cara Dar,co agar kesalahan yang lalu tidak terulang?”
“Betul! Dengan cara ini akan lebih efisien kan?”
“Bagaimana dengan kepala divisi manajemen Pak? James?”
“hmm....Dia juga dinonaktifkan, entah sampai kapan atau mungkin digeser ke divisi lain. Sebenarnya kemarin kami membahas kinerja kalian dalam mengelola tim. Selain penilaian dari kami, juga pendapat anggota tim kalian. Hasilnya 98% tim mu puas dengan kepemimpinanmu dan hampir 70% tim manajemen juga mengakuimu, padahal mereka tidak berhubungan langsung dengan kamu!” ujar Davis menerangkan
"hmm begitu, apa perlu kita negoisasi ulang dengan klien Pak?”
“Tentu saja!, kamu bisa melakukan meeting dengan mereka. Sekarang ini aku ditugaskan untuk benar-benar mengawasimu Niel. Kami mempercayaimu, jadi lakukan yang terbaik ya?”
“Baik Pak, terima kasih!” Daniel hendak pamit kepada Davis
“Oh iya, ruangan mu juga berpindah, karena dua tim bergabung sehingga khusus untuk proyek kamu, seluruh ruang di lantai 20 untuk kalian!”
“Oh, baiklah Pak! Terima kasih!” Daniel keluar dari ruangan Davis, ia menuju ruangannya yang baru, ketika sampai di sana, ia disambut tepuk tangan dari timnya yang lama juga timnya yang baru
“plok...plok..plok!!!, Selamat Pak Daniel” teriak anggota timnya
“Terima kasih! Apa kabar kalian semua?”
“Baik pak Daniel!, kelihatannya Anda agak gemukan ya?” tanya Eddy bercanda
“Apa iya? Yah mungkin karena tidak banyak kegiatan selama beberapa minggu ini. Oh iya untuk sementara kalian saling berkenalan dulu dengan anggota tim yang baru. Seluruh ruangan di lantai ini dikhususkan untuk proyek kita, jadi saya minta kita saling bekerja sama sebagai tim yang solid.”
“Wow!!! Seluruh ruangan di lantai 20 ini!..ckckck...” para karyawan berdecak kagum
“Dan untuk teman-teman baru kita, saya ucapkan Selamat Bergabung!, nama tim kita untuk sementara yaitu Tim Solid, sampai kita temukan nama baru. Karena masih Day-1, silakan kalian merapikan meja kerja kalian masing-masing!” Daniel kembali ke ruangannya.
Ruangannya kini menjadi lebih luas, beberapa barang pribadinya dari ruangan lama telah dipindahkan kesitu. Daniel duduk di kursi kerjanya yang semakin nyaman, tiba-tiba ia teringat kata-kata istrinya tadi pagi.
“Kamu gak usah khawatir Yang!, aku yakin Proyek tahap ke 2 akan tetap kamu pegang” ujar Rita sambil menuangkan juice jeruk ke gelas suaminya
“Bagaimana kamu bisa yakin?” tanya Daniel, ia heran dengan sikap optimis istrinya
“Aku melihat bagaimana kamu memimpin tim mu pada saat pertandingan, bukan saja memotivasi tapi kamu juga memberikan contoh yang baik pada mereka. Aku saja yang orang luar mengagumi apalagi mereka yang berhubungan langsung!”
“Begitukah? Mudah-mudahan kamu benar!”
“Tapi Yang, mudah-mudahan di proyek ke 2 ini kamu bisa mengelolanya sehingga tidak terlampau sibuk. Beberapa bulan kemarin, kamu pulang larut dan berangkat pagi. Aku sangat kesepian!” keluh Rita
“Kasihan..ayo sini!” Daniel menarik tangan istrinya yang duduk di sampingnya, kemudian ia memeluknya.
“Kalau kamu merasa kesepian, atau aku terlalu malam di kantor. Kamu datang saja!, temani aku kerja!” Ia memeluk istrinya dengan sayang
“Apa enggak mengganggu?”
“Kita harus cari celah agar selalu bertemu dan berkomunikasi, jadi gak sibuk sendiri-sendiri!, aku juga merasakan lho, kamu tinggal untuk syuting-syuting” keluh Daniel
“Hehehe...iya juga ya, maaf ya Yang!” Rita mencium bibir suaminya. Mereka saling bertatapan
“Ehem...Aku takut kesiangan!” Daniel memecahkan saling tatap mereka, lalu mendorong istrinya agak menjauh
“Iya ya!” Rita tersipu malu, Ia masih merasa berdebar jika ditatap terus oleh Daniel, walaupun mereka telah menjadi suami istri.
“Aku berangkat ya?” Daniel mencium kening istrinya
“Iya!!!” jawab Rita ceria, ia mengantarkan suaminya sampai depan pintu apartemen mereka.
“tok..tok..tok..!” suara ketukan di ruangan Daniel
“Ya?”
“Pak Daniel, apa perlu saya membuat jadwal untuk pertemuan dengan klien kita” tanya Eddy supervisor tim sebelumnya
“hmm..belum, jangan dulu! Saya sudah mengirimkan email kepada mereka, sekarang mereka belum menjawabnya. Oh iya Ed, supervisor dari tim manajemen siapa? Bisa tolong panggilkan kesini?”
“hmm...kalau gak salah namanya Erina.., Baik Pak, akan segera saya panggil” Eddy segera memanggil Erina untuk menemui Daniel di ruangannya
“Selamat siang pak!,” Erina datang menghadap. Perempuan muda, penampilannya sexy dengan rok ketat dan di atas lutut.
“Silakan masuk!, Eddy jangan pergi, kamu juga tetap di sini” Daniel tidak suka dengan wanita berpakaian terlalu sexy di kantor
Erina duduk agak risih di hadapan Daniel, ia merapatkan kedua kakinya, dan menutupi pahanya dengan kertas kerja yang sengaja ia bawa.
“Jadi saya harus bagaimana memanggil Anda? Erina atau bu Erina?” tanya Daniel, ia membaca profil Erina yang diberikan Eddy
“Erina saja Pak, saya masih single!” ujarnya malu
“hmm....baiklah..Eddy ada berapa karyawati di tim kita?” tanya Daniel
“ditambah dengan tim manajemen, jadi ada 10 pak!”
“Baiklah, begini Erina, saya ingin tim kita ini bergerak leluasa dan gesit, jadi saya ingin mulai besok para karyawati memakai celana panjang atau kulot, terserah. Asal jangan rok atau legging. Sepatu juga tidak perlu high heel, yang membuat nyaman saja. Karena di proyek tahap 2 ini, semua gerakan dan tindakan kita diawasi langsung oleh bos besar” ujar Daniel
“hhmm..apa cara berpakaian saya mengganggu Pak?”
“Mengganggu? Menurutmu? Apa kamu nyaman berdiri lama dengan high heel seperti itu? Atau duduk seperti itu?”
Erina terdiam, ia ingat, dulu ia berpakaian seperti yang diucapkan Daniel, ia mengubah penampilannya mejadi seperti ini atas permintaan bosnya yang lalu.
“Permintaan ini bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk semua karyawati di tim kita!” ujar Daniel
“Baik Pak, akan segera kami kerjakan mulau besok!”
“Oh iya, karena saya sudah terbiasa bekerja sama dengan Eddy yang dulu menjadi supervisor, sekarang Eddy menjadi asisten saya. Kamu yang menjadi supervisornya!”
“Baik Pak!” Jawab Eddy dan Erina bersamaan. Erina meninggalkan ruangan, sedangkan Eddy diminta tetap di ruangan.
“Eddy, kamu jadi asisten saya, artinya kamu menjadi tangan kanan saya. Jadi saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik!”
“Iya pak!, terima kasih atas kepercayaannya!”
Di ruangan lain
Erina mengumpulkan seluruh anggota tim di ruangan rapat.
“Rekan-rekan sekalian!, saya akan menjadi supervisor tim ini. Sedangkan Pak Eddy akan menjadi asisten pak Daniel, saya harap kerjasamanya dari kalian!”
“Baik Buuu!” jawab seluruh anggota tim
“Oh iya, mulai besok, para karyawati diwajibkan memakai celana panjang atau kulot, dengan sepatu flat, atau apapun yang membuat nyaman. Asal jangan high heel.”
“Ribet amat” ujar Elda yang juga berpakaian sexy dari tim manajemen
“Ini permintaan langsung pak Daniel!” ujar Erina
“Masa sih?” beberapa karyawati dari tim manajemen berbisik -bisik tidak percaya
“Itu benar!” Tiba-tiba Eddy masuk ke ruang rapat
“Pak Daniel bilang, ia ingin anggota tim kita bergerak dengan gesit tanpa kendala!Dan ini berlaku mulai besok!” ujar Eddy tegas
“Baik Pak!” kemudian mereka meninggalkan ruangan rapat.
Saat istirahat, Toilet di perusahaan itu dibuat sangat luas, seperti ada ruang tunggu. Jadi para karyawati bisa duduk sejenak sambil menunggu giliran.
“Beda pakaian lagi ya?” ujar Elda
‘’Kenapa? Bagus kan? Jujur saja selama ini aku risih jika harus ke ruangan pak James. Ia selalu melihat ke arah kakiku!” ujar Erina
“Aneh, kamu bekerja sudah berapa tahun menjadi supervisor beliau? Baru kali ini mengeluh?” tanya Elda
“Kadang pak James suka sengaja menjatuhkan sesuatu di lantai dan memintaku untuk mengambilnya! Sebenarnya sudah lama aku mau resign, tapi perusahaan ini memberikan gaji dan fasilitas yang lumayan bagus. Jadi aku berpikir lagi”
“Hmm...Aku heran, apa Pak Daniel itu homo? Dia gak suka melihat cewek berpakaian sexy?” ujar Maria tiba-tiba, ia juga dari tim manajemen
__ADS_1
“hush!!! Ngaco kamu! Istrinya pak Daniel, masih sangat muda dan cantik lagi!” ujar Eyril, ia memakai lipstiknya
“Masa? Kalau begitu beliau dingin banget dong?” Ujar Elda lagi
“Bukan dingin! ia hanya ingin kita para karyawati nyaman bekerja tanpa ada gangguan dari mata jelalatan karyawan pria lainnya!” ujar Emily
“Kok kamu tahu Emily? Apa diam-diam kamu...?”
“Enggak, aku tanpa sengaja mendengar percakapan pak Daniel dengan pak Eddy, saat kita masih di tim proyeksi dulu. Beliau sangat menjaga martabat perempuan lho!”
“Mudah-mudahan kamu benar! Ayo kita kembali!” Erina mengajak teman-temannya kembali ke ruangannya.
Jam kerja selesai pukul 4.30, bel di kantor menandakan waktu pulang
“Teman-teman , Sampai bertemu besok!” ujar Daniel iya keluar kantor lebih dulu
“Sampai besok pak!” jawab para stafnya
“Tuhh kan,..pak Daniel sangat sayang sama istrinya, kalau gak ada kerjaan, pasti buru-buru pulang!” ujar Emily
“Istrinya pak Daniel yang mana sih? Waktu perlombaan dia datang?” tanya Elda
“Datang, malah jadi partisipan juga. Bahkan karena bu Rita, tim kita menang terus!”
“Sebentar, jangan-jangan cewek tinggi itu ya?”
“Tinggi?”
“Iya yang tingginya di atas rata-rata cewek!, yang jago basket dan volley itu kan?” ujar Maria
“Iya betul! Kamu ingat juga!”
“Tentu dong!, bola yang dia pukul berkali-kali ngerepotin kita!, wajar deh kita kalah!” ujar Maria
“ooo yang itu!” Erina mulai mengingat
“Apa pak Daniel juga dekat dengan karyawati lainnya?” tanya Erina pada Emily
“Enggak!, kalau ada pertemuan dengan seluruh tim, ia mengumpulkan di ruang yang luas. Seluruh anggota tim ngumpul!”
“Oh begitu,..mudah-mudahan benar ya dia gak macam-macam sama kita!” ujar Erina lagi
“aamiin!” teman-temannya mengamininya
Keesokan harinya seluruh karyawati dari lantai 20 serentak mengenakan celana panjang. Tampilan mereka sangat sopan dan rapi. Karyawati dari lantai lainnya memperhatikan mereka yang terlihat eksklusif
“Kalian dari lantai 20 ya?” tanya salah satu staf
“Betul! Kok tahu?”
“hahaha...kalian seperti FBI! Keren sekali!!!” puji staf tersebut, karyawati dari lantai 20 tersenyum dengan percaya diri ia masuk ke lift lalu naik ke lantai 20.
Di sana para karyawati dari tim manajemen ribut, kegirangan karena mendapat perhatian ekstra dari karyawan-karyawan di lantai lain
“Eh, kita keren lho!, tadi aku masuk lift, eh security bilang, lt.20 ya? padahal aku belum bilang apa-apa!”
“Iya betul!, jadi kita ditandai penghuni lantai 20!..mulai sekarang kita pertahankan pakaian dan sepatu yang nyaman ini!” ujar Erina bersemangat
Sementara Daniel tiba pukul 9 pagi, ia masuk ke lift yang agak penuh
“Eh tau gak? Karyawati dari lantai 20 keren-keren lho! Pakaian mereka mirip FBI! Berasa nonton bioskop!” ujar salah satu karyawan yang naik lift
“Oya? Bosku menyuruhku memakai rok ketat ini. Aku sebal sekali, apalagi ia selalu mengajakku untuk pertemuan dengan klien dari Jepang. Kadang mereka suka gak sopan sama aku!” ujarnya
Daniel hanya mendengarkan saja, kemudian sampailah ia di lantai 20. Ia disambut oleh para karyawati yang tersenyum dengan riang
“Selamat Pagi Pak!!!” ujar mereka bersamaan, Daniel terkejut
“Selamat Pagi! Wah kalian tampak berbeda hari ini! Oh iya hari ini lantai kita mendapat julukan FBI” candanya
Seluruh karyawan tertawa, mereka paham dengan candaan bosnya
“Kalau begitu, kita namakan tim kita tim FBI!” ujarnya
“Yeaahhh!!!” Eddy menepuk tangannya, seluruh staf tertawa mengikutinya
“Eddy, aku sudah dihubungi pihak klien, mereka meminta bertemu hari ini pukul 11”
“Oya? Dimana pak?”
“Kita ke kantor mereka, Erina, selama saya dan Eddy pergi kamu bertanggung jawab atas lantai ini ya?” ujar Daniel
“Baik pak!”
Pukul 10, Daniel dan Eddy pergi meninggalkan kantor, sementara lantai 20 masih merapikan ruangan mereka masing-masing.
Daniel kembali ke kantor pukul 2 siang, ia mempelajari draft yang diberikan oleh kliennya,
“Eddy, coba kamu perbanyak draft ini dan minta tim kita untuk mempelajarinya, kita akan mulai rapat pukul 3 sore ini!”
“Baik pak!” Eddy segera mengerjakan perintah bosnya, sementara Daniel menelpon istrinya
“Yang, kamu jadi ke dokter hari ini?”
“Jadi, dokternya prakteknya sore jam 6, aku sudah membuat perjanjian dengannya”
“Aku mau ikut!” ujar Daniel, suaranya dibuat seperti anak-anak
“Hah? Ikut?”
“Iya dong! Papi mau ngintip, masa gak boleh!”
“hahaha...baiklah, nanti aku ke kantormu ya? oh iya total seluruh staf di lantai 20 ada berapa orang?”
“hmm...25 orang, termasuk aku!”
“Begitu, baiklah. Sampai ketemu nanti ya? Love you!”
Daniel menutup teleponnya
“Pak? Maaf?” Erina melihat bosnya tersenyum menatap ponselnya
“Eh iya, ada apa?”
“Pak Eddy bilang hari ini kita rapat?”
“Betul, nanti jam 3!”
“Di ruangan mana pak?”
“hmm..kita ada 25 orang aku ingin semua anggota tim berpartisipasi, bisa gak mejanya kita buat melingkar? “
“Melingkar?”
“Iya?” Daniel menggambarkan konsep ruang rapatnya.
“Ooo begitu!” Erina memotonya, kemudian mulai mengerjakan permintaan Daniel.
Ia memilih ruangan yang besar kemudian dibantu oleh anggota timnya membuat susunan tempat duduk sesuai konsep.
Pukul 3 sore rapat dimulai, Daniel membuka rapat. Mereka berdiskusi dengan aktif. Masing-masing memberikan pendapatnya, tidak ada satupun anggota tim yang mengantuk atau mengabaikan anggota tim lainnya. Daniel menyimak, sedangkan Eddy menjadi notulen rapat. Tanpa terasa rapat telah berlangsung hampir satu setengah jam
“hmm...baiklah teman-teman, kita akhiri pertemuan ini, kita lanjutkan besok!” Daniel melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4.15 . Rapat selesai, Daniel ke toilet untuk mengambil air wudhu, kemudian ia sholat di ruangannya. Ia membuat sendiri ruang untuk ia sholat .
Tiba-tiba resepsionis di lantai 20, kedatangan tamu
“Selamat sore!” sapa Rita ramah
“Sore ms, mau bertemu siapa? “ tanya resepsionis ramah
“Pak Daniel!”
“Sudah buat janji sebelumnya?”
“Sudah!”
Resepsionis menghubungi Eddy, dengan segera Eddy menemui Rita.
__ADS_1
“Apa kabar bu Rita!” ia menyalami Rita
“Baik, Eddy! Kamu sehat-sehat kan?” tanyanya
“Sehat bu, pak Daniel ada di ruangannya sedang ibadah, silakan !” Eddy mengantarnya ke ruangan Daniel, mereka melewati para karyawan di lantai 20.
“Ehemm...!!” Eddy meminta perhatian para karyawan
“Perkenalkan ini bu Rita, istrinya pak Daniel!” Eddy mengenalkan Rita kepada para karyawan lainnya
“Saya Rita, senang bertemu dengan kalian!” Rita tersenyum, kemudian ia memberikan kotak berisi roti untuk dibagikan kepada seluruh karyawan di lantai tersebut
“Ah ini roti dari toko Anda?” tanya Eddy
“Iya, kamu tahu juga ya?” Rita tersipu
“Kalian juga cobain ya? saya sudah membawanya banyak!” ujarnya sambil tersenyum
“Terima kasih bu!!!” ujar para karyawan kompak
Lalu Rita bersama Eddy ke ruangan Daniel, sementara para karyawan berebut untuk mencoba roti yang dibawa Rita
“Oh itu istrinya pak Daniel, memang cantik! Baik lagi!” ujar Elda
“D’Ritz? Ini kan lagi viral!” ujar Maria
“Viral?”
“Iya, kemarin tokonya muncul di drama yang lagi booming itu lho!” ujarnya lagi
“wahh...pak Daniel benar-benar beruntung ya? sudahlah tampan, istrinya cantik, pinter cari duit lagi!” puji Erina
“Iya-iya! Norak banget sih!” ujar Silvy
“Kenapa dia?” tanya Elda
“Kasih tak sampai!” ujar staf lainnya
“Apaan sih!” mata Silvy mendelik tajam, semua orang menjadi terdiam
“tok..tok..tok...!”
“Ya?”
“Pak Daniel, ada bu Rita!”
“Oh iya!” Daniel menyambut istrinya senang,
“Masuk Yang!” panggilnya
“Terima kasih pak!” ujar Rita, Eddy meninggalkan mereka berdua di ruangan
“Wahh...pak Daniel, kantormu bertambah luas!”
“hehehe” Daniel tertawa senang, ia mendengar para karyawannya tertawa
“Ada apa?” ia mengintip dari sela jendela kantornya
“Aku membawakan roti buat mereka!”
“Ooo pantas!, buat aku mana?”
“Buat bosnya ada dong!” Rita mengambil Roti dari tas ranselnya
“Hmm...Yang, kamu senang banget pakai tas model ransel ya?” ujar Daniel, ia mengambil beberapa buah roti dari tangan istrinya
“Kenapa? Ransel sangat praktis, kedua tanganku bisa bebas, karena seluruh beban pindah ke pundak!”
“Tapi sebentar lagi kehamilanmu akan membesar, kamu tidak boleh membawa yang berat-berat”
“Benar juga ya? sebenarnya aku sudah minta kak Andi mengirimkanku koper yang bisa dinaiki, jadi aku bisa menaruh barangku di situ juga menaiki koper itu”
“berapa batas maksimum koper itu?”
“Mungkin sekitar 100 kg!”
“Apa bisa mengangkut kamu?” canda Daniel
“Hey! Aku belum seberat itu!” jawab Rita tertawa
“Pak, teman-teman pamit pulang!”
“Oh Iya!” Daniel keluar dari ruangannya,
“Silakan pulang lebih dulu, saya akan menyusul! Sampai bertemu besok , Selamat Sore!”Ujarnya
“Selamat Sore Pak!” ujar Karyawan kompak, mereka meninggalkan lantai 20 secara bertahap
“Eddy, kamu juga pulang saja, saya dan ibu ada keperluan.”
“Baik Pak!, eh iya, bu Rita”
“Ya?”
“Teman-teman bilang rotinya sangat enak! Terima kasih banyak!”
“Sama-sama!” Rita tersenyum senang
“Kamu memberikan banyak roti, itu masuk pembukuan gak?” tanya Daniel, setelah Eddy pergi
“Masuk dong!, aku beli lho dari tokoku sendiri!”
“Oh bukan roti sisa?”
“Roti sisa? Mana ada roti sisa? Roti kami itu selalu habis !” ujar Rita dengan bangga
“Iya deh!” tiba-tiba keduanya terdiam. Suasana sepi membuat keduanya saling bertatapan
“Eh di ruangan ini gak ada cctv kan?” tanya Rita, Daniel menutup dan mengunci ruangannya, ia menghampiri istrinya dan mencium. Mereka bermesraan di sofa besar di tengah ruangan.
Setelah beberapa saat, Rita tersadar
“Eh Yang, sudah jam berapa nih?” tanyanya,
“Sudah setengah 6!” Daniel melihat jam tangannya
“Wah sudah waktunya Yang!” Rita merapikan pakaiannya yang sudah berantakan, begitu juga dengan suaminya.
“Kamu ada cermin gak di sini?” tanya Rita
“ada di toilet!” Daniel menunjukkan toilet khusus untuk dirinya di ruangan itu
“Woo!!! Hebat sekali pak Daniel puji Rita!”
Daniel kembali memeluk istrinya dari belakang
“Haruskah pergi sekarang?”ujarnya
“Tentu saja!, aku ingin tahu perkembangan janin kita!” ujar Rita ia melepaskan diri dari dekapan suaminya, kemudian menutup pintu toilet. Ia membersihkan diri sejenak, kemudian memakai sedikit make up lalu merapikan pakaiannya, setelah itu keluar dari toilet
“Sudah?” tanya Daniel, Rita mengangguk, giliran Daniel yang merapikan dirinya. Beberapa saat kemudian mereka meninggalkan ruangan dan keluar dari kantor tersebut
“Yang!” panggil Daniel di mobil
“Ya?”
“Kamu sering-sering ke kantorku ya? “
“Kenapa?”
“Kadang aku ingin perubahan suasana saja!. Lagi pula aku ingin para stafku tahu aku sudah beristri jadi mereka tidak akan menggangguku”
“hmm...baiklah!” Rita tersenyum
Tak berapa lama merekapun tiba di dokter kandungan
_ bersambung_
__ADS_1