Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 117: Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak tubuh Kevin ditemukan, kondisinya masih belum sadarkan diri. Sementara Rita masih disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Seperti biasa ia menghabiskan jam makan siangnya menyendiri di bawah pohon di depan perpustakaan. Sudah tiga hari pula Daniel tidak mengirim pesan, menelpon bahkan menjemputnya. Dengan Rita membuka ponselnya mencari pesan dari Daniel.


“Ah rupanya dia beneran marah” gumam Rita lesu, ia merebahkan kepalanya di atas meja.


“HI!” tegur Sisca


“He!” jawab Rita lesu


“Kenapa gak semangat?”


“Capek, males!”


“Nahh..pasti karena sudah tiga hari gak diantar jemput oppa ya?” goda Sisca


“Oppa apa? oppa..oppa” Rita terus mengucapkan


“Sudah gak usah sedih, gak ada oppa, cari yang lain saja!”


“Cari yang lain? Emangnya gampang? Kamu saja masih pengen PDKT sama Kevin!” Kali ini Rita memperbaiki sikap duduknya


“Kevin itu cuma salah satu saja Rit, masih banyak yang keren, nih!” Sisca menunjukkan foto di ponselnya. Karena kepo, Rita melihat foto itu satu per satu


“Siapa saja nih Sis?”


“Dari depan ya, itu Brad, Roger, Ethan, Richie dan Michael!” Sisca menyebutkan nama cowok di ponselnya


“WOW, banyak amat! Apa Kamu berani mendekati mereka?”


“Enggak lah! Mana mau mereka sama kutu buku kayak aku? Aku cuma berani memperhatikan dari kejauhan! “


“Wah, percuma dong, kamu jadi seperti Ariel!”


“Ariel?”


“Iya Ariel putri duyung dalam dongeng, dia gak bisa mengungkapkan perasaan sebenarnya, akhirnya berubah menjadi buih di laut!”


“Ah itu kan Cuma dongeng, gak mungkin terjadi di dunia nyata!”


“Mungkinlah, kamu contohnya!”


“Kamu enak sudah punya oppa yang sayang sama kamu, orang-orang juga mengagumi mu, tapi aku? Aku punya apa?” keluh Sisca


“Jangan minder begitu!, semuanya tergantung cara berpikir. Kalau kamu berpikir kamu gak menarik gak pantas dicintai nanti orang lain juga akan melihat kamu begitu!”


“Ah kamu pinter aja ngasih nasehat, jadi kenapa oppa sudah tiga hari gak antar jemput?” tanya Sisca


“Kog kamu bisa tahu” jangan-jangan kamu stalking aku ya?”


“Engga! setiap pagi aku selalu lihat kamu diturunkan di halte depan, tiga hari ini kamu naik bis, saking lesunya, kamu gak nyadar aku duduk di belakangmu!”


“Masa?”


“Beneran!”


“Kenapa kamu gak menyapa?”


“Karena kamu begitu lesu, mungkin kamu gak sadar, kamu ngomong bahasa korea wey-wey-wey?”


“Masa sih?” wajah Rita bersemu merah


“Nih! “ Sisca menunjukkan rekaman Rita di dalam bus


“Ih kamu iseng banget ngerekam orang!” Rita tertawa geli melihat rekamannya


“Hapus dong! Malu-maluin!”


“Enggak ah, ini momen langka!” dengan cepat Rita mengambil ponsel Sisca dan membawanya lari untuk menghapus rekamannya sambil tertawa, sementara Sisca mengejarnya


“Kembalikan! Hey itu pelanggaran privasi!” teriak Sisca, tanpa sengaja Rita menabrak seorang wanita paruh baya


“Aduh! Maafkan saya!” Rita menunduk meminta maaf, wanita itu membuka kacamata hitamnya, terlihat ia sangat terganggu


“Kamu!”


“Maaf saya gak sengaja!” ujar Rita , wanita itu menatap wajah Rita


“Majorka?” panggilnya


“Huh?” Rita bingung, wajah perempuan itu juga kelihatan bingung, kemudian ia memakai kembali kacamatanya, lalu pergi meninggalkan Rita. Sisca menghampiri Rita


“Siapa dia?”


“Entahlah!” jawab Rita, melihat Rita lengah dengan cepat Sisca mengambil ponselnya dari tangan Rita.


“Dapat!!! Weee!!!” Sisca tertawa meninggalkan Rita yang masih melihat ke arah lain.


Sore hari, sepulang sekolah Daniel menjemput Rita dengan mobilnya. Awalnya Rita segan masuk ke mobil, karena ia kesal Daniel tidak mengabarinya selama tiga hari. Pesan darinya juga tidak direspon. Daniel keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang


“Masuklah!” ujarnya


“Kenapa harus masuk?” ujar Rita, ia masih kesal. Ia menutup pintu mobil lalu pergi. ia berniat naik bus.


“Hey! Ayolah!” bujuk Daniel, sementara mobil di belakang mereka ribut membunyikan klason. Karena Rita tidak ingin memancing keributan, akhirnya ia naik ke mobil. Daniel tersenyum senang, lalu ia menjalankan mobilnya menuju bioskop drive-in


“Kenapa kemari?” tanya Rita ketus


“Aku lapar, pengen makan burger!” ujar Daniel, Ia memesan 4 paket.


“4? Banyak amat?”


“Kan aku bilang, aku sangat lapar!”


Selama pesanan belum datang, keduanya hanya terdiam

__ADS_1


“AAA!”keduanya mengucapkan secara bersamaan


“Kamu duluan!” ujar Daniel


“Kamu lagi marah sama Aku ya? tiga hari ini gak ada kabar berita? Kamu mau nge-ghosting aku?” tanya Rita kesal


“Sudah itu saja?”


“Aku minta, kalau aku berbuat salah, kamu bilang sama aku, jangan diam saja! Aku kan bukan paranormal atau pembaca pikiran!” ujar Rita


“Baik! Ada lagi?”


“Untuk sementara itu dulu!”


“Aku memang lagi kesal sama kamu!”


“Kenapa?”


“Kamu gak sadar?”


“Enggak!”


“Tiga hari lalu kamu menyuruh-nyuruh Andre untuk mengikuti kehendakmu! Jujur aku merasa tersinggung! Aku tahu semua yang bekerja di kantor kakekmu berarti pegawaimu juga, tetapi tidak seharusnya kamu bertingkah seperti itu!”


“Huh? Cuma karena itu kamu mendiamkan aku tiga hari?”


“Iya! Karena tiap mengingat itu, aku jadi sangat kesal!”


“Lain kali, kamu harus menjelaskan dulu, jangan langsung lari. Kamu itu bikin orang panik saja!” ujar Daniel, kali ini suaranya melembut


“Baik, aku minta maaf kalau kamu tersinggung!, Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Pikiranku saat itu hanya untuk menemukan tubuh orang itu secepatnya sebelum ia meninggal!” kemudian Rita melanjutkan


“Tapi Niel, ini yang sebenarnya aku takutkan, Kamu akan tersinggung untuk hal-hal yang kecil!, Aku tidak pernah berpikir bahwa pegawai kakekku adalah pegawaiku juga. Awalnya aku mau naik taksi tapi kebetulan kamu bawa supir. Aku selalu seperti itu sama supir taksi. Kamu membuat aku terlihat buruk!” kali ini ia yang kesal. Keduanya kembali terdiam.


“Selama kamu merasa seperti itu, sebaiknya kita gak usah ketemu lagi!” Rita keluar dari mobil Daniel dan keluar dari Drive in itu lalu memberhentikan taksi dan pulang. Daniel membiarkan Rita pergi, Ia memikirkan kata-kata Rita, ini pertengkaran mereka yang pertama.


Setiap Sabtu biasanya mereka menghabiskan waktu bersama di gym, tapi Sabtu ini keduanya masih perang dingin, tidak ada satupun yang berniat menelpon atau menghubungi lebih dulu. Daniel yang baru bangun membuka kulkasnya dan meminum susu langsung dari tempatnya. Ia melihat undangan pernikahan temannya yang akan menikah besok.


“Ah sial! Besok aku harus datang sendirian!” gerutunya. Kemudian ia mengambil ponselnya, dicarinya pesan dari Rita, tapi tidak ada. Ia membuka galeri fotonya yang penuh foto dirinya bersama Rita. Ia tersenyum sendiri. Tiba-tiba muncul kerinduan dalam hatinya, lalu ia mengirim pesan tapi pesannya hanya dibaca tapi tidak direspon. Tidak ada jawaban. Ia terus berharap jawaban dari Rita, tetapi tidak ada balasan. Kemudian ia mencoba menelpon. Telepon terdengar tersambung, lalu diputus.


“Diputus??? Dasar anak kecil!” gerutu Daniel, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjangnya, lalu kembali tidur.


Minggu pagi, saatnya ia hadir di acara pernikahan temannya. Daniel mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu, penampilannya begitu keren dan terlihat lebih tampan dari biasanya. Ia mematut diri di depan cermin.


“Aku keren dan ganteng kan? Rita kamu akan menyesal sudah menolak aku!” gumam Daniel. Ia menaiki mobilnya yang baru saja keluar dari bengkel. Sesampainya di tempat pernikahan ia banyak bertemu dengan teman lama


“Hei Daniel bukan?” seseorang menegurnya dari belakang, Daniel menoleh


“Siapa?” tanyanya, ia mengingat-ingat orang itu


“Aku, Alan!” Jawab orang itu


“Alan?” Daniel belum juga ingat


“Wickham!!! Aku ingat!” Daniel membalas jabatan tangannya


“Apa Kabar?” Tanya Alan


“Baik, bagaimana dengan mu?”


“Biasa saja, Daniel, Kamu masih menjadi pengawal?”


“Kenapa?”


“Aku menjalankan usaha bidang keamanan, di sini selain menghadiri resepsi juga mempromosikan usahaku!”


“oo, bagus kalau begitu!” Jawab Daniel datar, ia tidak begitu tertarik.


“Mungkin suatu saat kamu akan membutuhkannya, atau mungkin mau bergabung dengan kami!” Alan memberikan kartu namanya


“Terima kasih!” Daniel menerima kartu nama itu, lalu memasukannya ke kantong tuxedonya.


Acara pernikahan yang begitu khidmat, terlihat kedua pengantin saling berpaut janji setia dan memandang mesra. Diiringi suara saxophone memainkan Forever Love, kedua pengantin memasuki lantai dansa, mereka berdansa dengan mesra, kemudian kedua orang tua mempelai juga turut berdansa, diikuti oleh para tamu.


Daniel melihat jam tangannya, sudah 1,5 jam ia berada di pesta itu. Hampir semua kue-kue sudah ia coba, tingkahnya mengundang tawa beberapa wanita yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya. Alan menghampiri Daniel.


“Daniel, dari pada sendirian, ayo bergabung bersama kami!” Alan mengajaknya menemui ketiga wanita itu.


“Hai!” sapa salah satu wanita itu


“Daniel, ini para sepupu pengantin perempuan, ini Lyla, Rose dan Eve!” ketiganya tersenyum mengangkat gelasnya untuk menyapa.


“Daniel!” jawab Daniel.


“Daniel, apa kamu bersama seseorang di pesta ini?” tanya Rose


“Tidak!” jawab Daniel


“Kalau begitu, ayo berdansa dengan ku!” Rose menarik paksa tangan Daniel. Alunan lagu romantis berubah menjadi lagu disko, Rose bersemangat menari. Setelah lagu selesai Daniel bermaksud menyudahi dansa mereka, tetapi kali ini Lyla yang menariknya, Daniel tak kuasa menolak ajakan Lyla yang begitu bersemangat, tiba-tiba lagu berubah menjadi lagu slow. Lyla menarik tangan Daniel dan memeluknya


“Dansa itu enaknya seperti ini!” ujar Lyla, tinggi Lyla se-dagu Daniel membuatnya mendongak menatap wajah Daniel


“Daniel, apa kamu sedang berkencan dengan seseorang?” tanya Lyla, sikapnya berubah menjadi serius


Daniel tidak menjawab pertanyaan Lyla, ia sedang tidak mau mengingat tentang hubungan cintanya. Kali ini giliran Eve yang menarik Daniel. Ia segera memeluk Daniel erat.


“Maaf aku susah bernafas!” ujar Daniel, ia berusaha melepaskan diri dari Eve. Tiba-tiba seorang lelaki menarik Eve dari Daniel


“Eve! Kamu apa-apaan?” tanya lelaki itu marah


“Jangan pedulikan aku!” ujar Eve, ia kembali menarik Daniel yang berusaha menjauh lalu memeluknya


“Kamu!!!” ia menarik Eve lalu memukul dagu Daniel

__ADS_1


“Aduh!!!” erang Daniel


“Jangan mengganggu tunanganku!” ujar lelaki itu. Bau alkohol keluar dari mulutnya


“Austin! Daniel tidak tahu apa-apa!” ujar Eve, ia menghalangi pacarnya memukul Daniel


“Kamu Eve!, kamu tunanganku tapi kamu mudah sekali selingkuh!” Kali ini Austin berniat menampar Eve, sebelum tangannya menyentuh Eve, Daniel lebih dulu mencegahnya, lalu membalas pukulan Austin hingga ia terjatuh.


“Kamu sedang mabuk!, sebaiknya kita tidak ribut di sini!” ujar Daniel, suaranya yang berat dan berwibawa membuat orang-orang disekitarnya menunjukkan rasa segan. Daniel merapikan bajunya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi Austin yang mabuk tidak membiarkan begitu saja, ia menerkam pinggang Daniel dan mendorongnya, keduanya jatuh di atas meja yang penuh dengan makanan. Beberapa saat kemudian keamanan datang, mereka membawa Austin ke kantor keamanan sedangkan Daniel sibuk di toilet membersihkan tuxedonya yang kotor karena makanan yang menempel. Celana dan jasnya ia bersihkan sambil menggerutu.


“Seharusnya aku gak tanggapi berdansa dengan orang mabuk!” setengah jam kemudian pakaiannya sudah cukup bersih.


“Sebaiknya aku pulang saja!” gumamnya, ia meninggalkan pesta dan masuk ke mobilnya.Baru saja ia berniat menyalakan mobilnya, tiba-tiba Eve masuk ke mobilnya.


“Jalan!”perintah Eve, sepertinya ia sedang menghindari seseorang


“Eh?” Daniel menurutinya, setelah keluar dari tempat pernikahan ia menghentikan mobilnya


“Maaf Eve, Anda harus turun di sini, saya tidak bisa mengantar Anda lebih jauh lagi, saya tidak mau terlibat pertengkaran kalian!” ujar Daniel tegas


“Maafkan Aku, Apa kamu sakit?” Eve memegang dagu Daniel yang dipukul Austin. Daniel menghindari tangan Eve


“Sebaiknya Anda turun!” ujar Daniel


“Maaf bisa antar aku ke hotel Ashton? Aku menginap di sana!”


“Anda bisa memanggil taxi!”


“Tasku tertinggal di dalam, aku malu harus kembali ke dalam!” ujar Eve


Terpaksa Daniel mengantar Eve ke hotel Ashton, sepanjang jalan Eve mulai bercerita.


“Austin dan Aku sudah 4 tahun bertunangan, seharusnya Kami menikah tahun ini, tetapi terpaksa ditunda karena banyak alasan. Austin menjadi tangan kanan ayahku di perusahaan. Ia sangat rajin, kinerjanya baik sekali. Aku pikir kami saling mencintai, aku menerimanya apapun dia, tetapi itu tidak cukup baginya. Ia selalu merasa lebih rendah dari Aku. Apapun yang aku lakukan dianggap merendahkannya. Mungkin sebaiknya kami berpisah. Tapi Dia juga tidak membiarkanku bersama orang lain!” ujar Eve kesal


Daniel mendengarkan keluh kesah Eve, hingga ketika sampai di depan pintu masuk hotel


“Sudah sampai, Eve aku turut prihatin. Aku harap kamu tidak menyerah terhadapnya!” ujar Daniel, Eve hanya tersenyum


“Terima kasih Daniel!” ia turun dari mobil kemudian masuk ke hotel. Setelah menurunkan Eve, Daniel memacu mobilnya menuju rumah Rita.


“Lee, Rita ada?” tanyanya kepada Lee kepala pelayan


“Mba Rita ada di kandang kuda sejak pagi, Ia mengurus kuda miliknya dan kuda milik tuan Darmawan. Mba Rita orang yang sangat rajin dan rendah hati. Aku belum pernah melihat seorang nona muda berkotor-kotor membersihkan kandang kuda!” ujar Lee


Daniel mengangguk,


“Baiklah aku akan ke sana!” ujar Daniel, ia kembali ke mobilnya dan memacu mobilnya ke kandang kuda. Ia memarkirkan mobilnya, lalu membuka jaketnya. Setengah berlari, tak sabar ia ingin bertemu dengan Rita. Di kandang kuda ia menanyakan kepada staf di sana, mereka menunjuk keberadaan Rita. Ternyata ia sedang menenangkan kuda betina yang hendak melahirkan. Kuda betina itu terbaring, terlihat ia sangat kesakitan, Rita mengelus-elus kepalanya untuk menenangkan.


“Rita!” panggil Daniel, Ia sangat senang melihat wajah perempuan yang sudah lima hari tidak ia temui!


“Sssttt! Eleen akan melahirkan!” Bisik Rita memberi isyarat. Daniel mengangguk. Ia mencari tempat untuk duduk. Tak lama kemudian dokter hewan datang , Ia membantu persalinan Eleen. Rita berlinang air mata melihat kelahiran bayi kuda.


“Terima kasih dokter!” ujarnya kepada dokter hewan yang pamit pergi. Setelah dokter pergi, Rita mengambil ember dan sikat, ia bermaksud memandikan kuda di sebelah Eleen. Daniel membantunya


“Nanti bajumu kotor!” ujar Rita, ia melihat Daniel menggulung lengan baju putihnya hendak menggosok punggung kuda


“Sudah kotor!” ujarnya tersenyum, ia sedang mencari kata untuk berbaikan dengan Rita.


“Eleen sudah menjadi ibu, ia terlihat bahagia sekali. Ini pertama kalinya aku melihat kuda melahirkan!” ujar Rita tersenyum


“Iya, ehm..Rita..Aku...” Daniel menghentikan ucapannya


“Ah, kamu kenapa Rick?” tanya Rita kepada kudanya, ia memeriksa kaki kudanya,


“Rupanya sepatumu perlu diganti”, ia segera memanggil salah satu staf peternakan.


“Tolong diganti sepatunya ya Pak? Ini kuda kesayangan kakek, aku ingin kuda ini tetap sehat sampai kakek tiba di sini lagi!” ujar Rita. Staf melakukan perintah Rita. Beberapa saat kemudian pekerjaan Rita di peternakan kuda selesai.


“Maaff kamu sampai ikutan bekerja di sini!” ujar Rita menyesal


“Gak apa, aku yang mau kok!, Rita!” Daniel memulai


“Iya?”


“Maafkan Aku! Aku memang brengsek! Maafkan Aku!” ujarnya dengan wajah penuh penyesalan


“Iya memang!” Rita tersenyum memandangnya dengan tatapan sayang


“Aku tidak akan seperti itu lagi!” ujar Daniel berjanji


“Seperti apa?”


“Ya seperti itu, mudah tersinggung”


“Apa bisa?” tanya Rita tidak percaya


“Aku akan berusaha!”


“Berjanjilah tidak memaksa hatimu! Aku menyukai Daniel yang jujur terhadap perasaannya sendiri!” ujar Rita bijak


“Iya, aku juga! Tapi tolong , kalau kita bertengkar, jangan blok aku!” ujar Daniel memohon


“Hah? Siapa yang memblok?”


“Kamu!, Aku kirim pesan sejak kemarin tidak ada respon, aku pikir di blok”


Rita mengambil ponsel di tas kecilnya,


“Ya aamppuunnn...ponselku tertukar dengan ponselnya Sisca!” ujarnya


“Huh??”


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2