
Udara malam ini sangat dingin, begitulah yang dirasakan Rita. Ia menarik selimutnya, tetapi tubuhnya tetap merasa kedinginan. Akhirnya ia bangun dari tidurnya, dilihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 2 dinihari, siang hari nanti akan ada pertandingan bela diri yang merupakan pertandingan puncak. Penentuan pemenang ditentukan pada pertandingan nanti. Rita menyalakan lampu di samping tempat tidurnya, dengan susah payah bangkit dari tempat tidur, ia menyalakan lampu kamarnya dan mencari obat pereda demam, karena ia lama tinggal bersama ayahnya yang dokter tentu saja ia tahu apa yang harus dilakukan ketika badannya demam. Sayangnya obat demamnya habis, terpaksa ia hanya meminum air putih hangat, lalu ia duduk di kursi besar di kamar yang menghadap ke jendela. Sayup-sayup ia mendengar seseorang berlatih di luar, tubuhnya terlalu lelah untuk melihat siapa yang berlatih, akhirnya Rita tertidur pulas di kursi besar itu. Pagi harinya, rumah besar sangat ramai, sarapan pagi dengan menu beraneka ragam tersedia lengkap. Tapi Rita kehilangan nafsu makan, ia hanya makan 1 tangkup roti bakar dan bubur kacang hijau hangat, badannya tetap sangat tidak nyaman. Para sepupu tidak memperhatikan Rita, karena mereka sangat bersemangat untuk pertandingan siang nanti. Setelah sarapan Rita pergi ke ruang pengobatan untuk menemui perawat pribadi , sayangnya si perawat sedang pergi selama dua hari, akhirnya Rita kembali ke kamarnya. Di tengah jalan menuju kamarnya, ia bertemu Rendy.
“Hai, Rita!” sapa Rendy
“Hai Juga!” ia membalas sapaan ramah Rendy
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Rendy
“Sekarang?”
“Iya!, ayo ikut” Rendy menarik tangan Rita untuk pergi ke suatu tempat di rumah itu. Tampaknya Rendy tidak memperhatikan Rita yang sedang tidak enak badan. Ia mengajaknya ke ruang perpustakaan, ruangan itu cukup nyaman dan sepi.
“Hmm..Rita, sebelumnya aku minta maaf baru menyapamu sekarang!” ujar Rendy ramah
“Yeah, aku juga!” jawab Rita sekenanya, kepalanya mulai pusing, kata-kata Rendy selanjutnya tidak dapat ia dengar dengan jelas, akhirnya ia jatuh pingsan.
Beberapa saat kemudian, Rita tersadar, ia sudah berada di ruangan serba putih, Rendy duduk di kursi di samping tempat tidurnya.
“Kamu sudah sadar Rita?” tanya Rendy, ia menghentikan kegiatannya membaca dari tabletnya
“Ini di mana?” tanya Rita lemas
“Rumah sakit!, tadi kamu pingsan, ketika kita sedang ngobrol di perpustakaan” jawab Rendy
“Oh , begitu. Kenapa harus ke rumah sakit?” tanya Rita, kepalanya masih sangat berat
“Suhu tubuhmu sangat tinggi, kami khawatir jika tidak langsung di bawa kemari akan terjadi hal yang tidak diinginkan, lagi pula dokter pribadi di rumah kamu sejak kemarin belum datang.” Jawab Rendy
“Sekarang jam berapa?” tanya Rita, ia teringat pertandingan hari ini
“Tenang, pertandingan hari ini ditunda, sampai juara bertahan sehat kembali!” jawab Rendy tersenyum
“Ooo, kamu nungguin aku dari tadi?” tanya Rita heran
“He eh! Kenapa? Kecewa ya bukan pacarmu yang menunggu?” Tanya Rendy
“Pacar? Siapa?” tanya Rita heran
“Itu cowok yang selalu bersama Andi, dan memelukmu saat pertandingan!” ujar Rendy
“Oh tu kak Dewa temannya kak Andi, dia bukan pacarku!” jawab Rita
“Yaaa, terserah,pacarmu atau tidak, itu bukan urusan ku!” ujar Rendy
“Kak Andi pergi kemana?”
“Sepertinya masih berhubungan dengan mobilnya yang dicuri, oh iya, hasil tes darahmu belum keluar, sebaiknya kamu beristirahat!” ujar Rendy lagi
“Terimakasih, ternyata kamu baik ya?” ujar Rita tersenyum
“Hei, aku tahu kita baru kenal, pingsannya kamu ketika bersamaku, aku takut orang-orang akan menuduhku melukaimu!” ujar Rendy
“Kamu terlalu berlebihan!” ujar Rita lagi
“Yah mungkin, oh iya, apa semua temanmu atau teman kakakmu terbiasa memeluk? Sebelumnya orang Korea teman pamanmu juga memelukmu kan?” tanya Rendy lagi
“Tidak, itu karena mereka merasa bertemu teman baik, kamu bilang tidak peduli, kenapa jadi marah?” tanya Rita heran
“aku terus terang saja ya, aku orang yang to the point, aku gak suka bertela-tele!” ujar Rendy Tegas
“Ya?” Rita memperbaiki posisinya di tempat tidur, obat pereda demam sudah bekerja sehingga ia merasa agak nyaman
“Apa kamu tahu kakekmu dan kakekku berusaha untuk menjodohkan kita?” tanya Rendy
“Aku belum pernah dengar, kedua kakekku gak bilang apa-apa?” jawab Rita jujur
“Sungguh?” tanya Rendy heran
“Apa aku kelihatan sedang berbohong?” tanya Rita lagi
“Yeaah, aku belum mengenalmu dengan baik, tapi sebaiknya kukatakan dengan jujur ya, aku sudah punya kekasih, dia tinggal di Dubai. Aku sangat menyukainya, jadi aku harap kamu bisa bilang ke kakekmu untuk membatalkan perjodohan kita!” ujar Rendy terus terang
“Apa kakekmu tahu tentang pacar Dubaimu?” tanya Rita lagi
“ Belum, kami baru saja jadian, tapi perjodohan ini membuatku harus jauh darinya, bayangkan aku harus tinggal di rumah kakekmu yang di Jakarta lebih dari sebulan, Ia memaksaku untuk mengenal para cucu perempuannya, termasuk mengajakku untuk bertemu dengan mu” ujar Rendy lagi
“Apa kamu gak bilang terus terang ke kakekmu? Atau kakekku?” tanya Rita heran
“Aku merasa gak enak, mereka sudah sangat ramah padaku, aku pikir aku bisa bergaul dengan baik dengan para saudaramu, tapi mereka tidak menganggapku sama sekali!” ujar Rendy lagi
“Yeah, mereka seperti kamu, mereka juga sudah punya pilihan sendiri, tapi kelihatannya kamu bergaul sangat baik dengan Rosy.”
“Rosy? Iya, ia sangat baik, berbeda dengan saudara kembarnya Roby, tanpa sengaja aku sering melihat Roby membullynya.”
__ADS_1
“Kamu diam saja melihat itu?”
“mereka kakak dan adik, itu masalah internal mereka!” jawab Rendy tak peduli
“hmm..begitu, berarti aku cukup beruntung mendapat perhatian dari kamu ya?” tanya Rita
“Perhatianku?” tanya Rendy heran
“Iya, kamu membawaku ke RS, dan menjagaku di sini, walaupun mungkin kamu merasa terpaksa melakukannya”
“Anggap saja kau berhutang kepadaku, jadi bisa kan kamu bilang ke kakek-kakekmu untuk membatalkan perjodohan?” bujuk Rendy
“Tentu aku bisa, kalau...” Rita menghentikan ucapannya
“Kalau???? “tanya Rendy
“Kalau mereka bilang ke aku, kalau aku dijodohkan sama kamu, kalau aku langsung nolak, mereka akan menganggapku ke-geer-an.” Ujar Rita
“Aku dengar kamu cucu kesayangan kedua kakek, makanya, aku takut kalau menolakmu, jadi sebaiknya, kamu yang menolakku!” ujar Rendy memelas
“Begitu ya, btw Rendy kamu cukup mahir berkuda, memanah , panjat tebing, bahkan berenang, apa kamu telah berlatih sebelumnya?” tanya Rita
“Aku tinggal di Dubai lebih dari 4 tahun, di sana kami dituntut untuk dapat berenang, memanah dan berkuda, meskipun orang tua kami orang yang berada.”
“Ooo begitu, pantas”
Tiba-tiba pintu diketuk, dokter datang berkunjung
“Dek Rita, bagaimana keadaan sekarang?” tanya dokter bernama Erland
“Aku agak mendingan dokter, tapi badanku masih gak enak!” jawab Rita
“Tentu saja, kami melihat hasil lab mu, ternyata kamu terkena typus, apa kamu makan yang kurang sehat akhir-akhir ini?” tanya dokter
“Seminggu lalu aku baru pulang dari gunung, kami terjebak karena badai salju di sana, jadi makanan hanya perbekalan yang kami bawa saja” cerita Rita
“Hmm...baiklah, saya akan meresepkan obat-obatan yang akan langsung masuk melalui infus ini, kita lihat perkembangannya nanti ya?” ujar Dokter Erlan
“Jadi dia akan dirawat di sini dokter?” tanya Rendy tiba-tiba
Dokter menoleh, dan melihat ke arah Rendy
“Tentu saja, Kami mengobatinya hanya berdasarkan gejala yang muncul, biasanya typus akan mereda selama beberapa hari, apakah Anda keluarganya?” tanya dokter
Rendy mengangguk setuju, setelah itu dokter keluar kamar. Tak lama kemudian, pintu kembali di ketuk, kali ini Ratna datang
“Assalammu’alaikum...Rita sayang!!” sapa mamanya, ia memeluk Rita dengan erat, Ratna tidak mehat Rendy yang berada di dekat pintu
“Wa’alaikummussalam,..Mama!!! Rita kangen!!!” Rita memeluk mamanya dengan erat
“Maaf ya sayang, mama segera kemari begitu mendengar yang terjadi sama Kamu dan Andi!. Oh iya Andi mana?” Ratna clingukan mencari Andi
“Andi sedang di kantor polisi tante, ia memberikan keterangan tambahan untuk mobilnya yang dicuri!” jawab Rendy tiba-tiba
“Kamu siapa?” tanya Ratna heran, baru hari ini ia bertemu dengan Rendy
“Ini Rendy ma, ia cucu temannya kakek Sugi, kebetulan ia yang membawa Rita kemari!” jawab Rita mewakili Rendy
“Oooo begitu, terimakasih ya, sudah membantu Rita!” Ratna menyalami Rendy,
“Sama-sama tante!, maaf tante saya pamit dulu ada keperluan” jawab Rendy tersenyum
“Oh baiklah, terimakasihnya Rendy!” Ratna menyalaminya lagi, Rendy pergi meninggalkan kamar Rita
“jadi Rit, bagaimana menurutmu tentang Rendy, orangnya baik kan?” tanya Ratna tiba-tiba
“Lumayan sih ma, tapi kenapa mama tertarik padanya? Apa mama gak kangen sama Rita?” tanya Rita
“Kangen dong sayaaanggg, mama langsung kemari begitu dengar kamu pingsan, sehari sebelumnya Andi juga dikabarkan kecelakaan, mama jadi takut, langsung kesini dengan jetnya kakek!”
“Ma,..” Rita belum menyelesaikan kalimatnya, suara ribut terdengar dari luar kamarnya, kedua kakek berebut masuk ke kamar rawat Rita
“Aku duluan!” ujar Darmawan yang mendului Sugiyono,
“Rita kamu gak apa-apa kan?” tanya Darmawan dengan nada cemas., Sugiyono berada di belakangnya, juga mengajukan pertanyaan yang sama
“Hadeuuhh, kalian ini kalau sudah bersama seperti anak kecil!” ujar Ratna geleng-geleng kepala melihat kelakuan ayah dan mantan mertuanya
“Ah Ratna, sudah lama datang? “ Darmawan
“Saya juga baru tiba 5 eh 10 menit yang lalu!” Ratna menyalami tangan mantan mertuanya
“Kamu naik apa kesini nak?” tanya Sugiyono, Ratna juga menyalaminya
__ADS_1
“Naik jet pah, tapi tadi jetnya pergi lagi karena sedang banyak yang memesan” jawab Ratna, sepertinya bisnis penyewaan jet pribadi papanya berjalan dengan baik
“Kalian sekarang menyewakan jet?” tanya Darmawan
“Iya dong, kami sudah beli 5 jet terbaru sejak tahun lalu, dan Alhamdulillah, surplus!” ujar Sugiyono bangga
“Hmmm...kog baru bilang sekarang? Padahal aku butuh untuk perjalanan bisnis!” ujar Darmawan
“Kakek, aku lagi sakit kog malah pada ngomong bisnis?” protes Rita
“Ah iya, maaf yaa, cu, bagaimana kabarmu?” tanya Darmawan
“Aku terkena typus kek!” jawab Rita
“Typus? Kamu yakin? Sejak kapan?” tanya Ratna
“Aku merasa gak enak badan tadi malam, tadi pagi aku dibawa ke RS, karena pingsan” ujar Rita
“Tadi pagi? Sebentar aku kemana ya?” tanya Darmawan mengingat aktivitasnya pagi ini.
“Kita berkuda! Hingga melewatkan sarapan!” ujar kakek Sugiyono
“ah iya, kami langsung kemari begitu dikabari oleh orang rumah, katanya Rendy yang membawamu ke RS?” tanya Sugiyono
“Iya kek, sebenarnya kami sedang ngobrol di perpustakaan, kemudian Rita gak ingat lagi, tahu-tahu sudah di RS. Menurut Rendy, Rita jatuh pingsan di perpus.” Ujar Rita
“Rendy,..syukurlah, benarkan dek? Rendy itu anak baik!” ujar Sugiyono memuji, Darmawan mengangguk setuju
“Sekarang Rendynya mana?” tanyanya
“Dia pergi, ada keperluan katanya” jawab Ratna
Beberapa menit kemudian Andi dan Dewa tiba di RS
“Rita! Kamu gak apa-apa?” tanya Dewa cemas yang langsung memasuki ruang rawat inap dan menghampiri tempat tidur Rita
“ehem!” deheman kakek Sugiyono
“Eh kakek, maaf!” ujar Dewa malu
“Lo gak apa-apa Rit?” tanya Andi
“Andi kamu kemana saja?” tanya Ratna yang datang tiba-tiba dari luar, Andi kaget
“Eh mama, sudah lama ma?” tanya Andi, ia menyalami mamanya, Dewa juga melakukan hal yang sama
“Mama dan Kakek sudah lama datang, kalian kemana saja? Masa kamu gak tahu adikmu pingsan?” tanya Ratna
“eh itu ma, Andi diminta datang ke kantor polisi berkaitan dengan mobil Andi yang dicuri orang.
“Oh mobil mu hilang, syukurlah, mama sangat bersyukur kamu kehilangan mobil itu, mama dengar kamu sering ngebut dengan mobil itu kan?” tanya Ratna melotot
Kedua kakeknya juga melakukan hal yang sama
“Enggak ma!, kecepatan biasa saja kog!” elak Andi, ia takut kakeknya tidak jadi membelikannya mobil baru
“Kalian ini beranjak dewasa, seharusnya sudah bisa menjaga diri dengan baik, Rita mama dengar kamu terkena typus ini karena makanmu gak beraturan!, kenapa bisa begitu? Apa di rumah kakek Darmawan makanan dibatasi?” tanya Ratna tajam
Kakek Darmawan agak tersinggung mendengarnya,
“Bukan begitu Ratna, Rita ini baru saja pulang dari kamping, jadi makannya gak benar!” ujar Darmawan
“Tapi pah, Rita kan baru enam bulan ini sembuh dari sakit kog sudah dibolehkan kamping?” protes Ratna
“Kog enam bulan ma? Sudah setahun Rita di sini!” protesnya
“Kamu gak boleh membantah kata mama, ini karena kamu terlalu bebas, jadi tidak ada yang mengawasi!” ujar Ratna lagi. Kali ini Darmawan setuju dengannya
Tok-tok..suara ketokan dari luar, perawat masuk membawa obat-obatan
“Maaf bapak-ibu, sebaiknya pasien dijaga oleh satu orang saja, kalau terlalu banyak, nanti pasiennya tidak bisa beristirahat!” ujar perawatnya
“Ini kamar VIP kan?” tanya Sugiyono
“Bukan, ini kamar kelas 1” jawab Andi
“Suster, pindahkan cucu saya ke kamar VIP ya, kami gak suka kunjungan kami dibatasi!” ujar kakek Sugiyono tegas.
Perawat yang menyadari bahwa orang di depannya bukan orang biasa, ia segera menghubungi staf administrasi, dalam waktu singkat, Rita sudah dipindah ke ruangan yang lebih luas dan nyaman, ruang VIP.
Ratna memutuskan untuk menginap di RS menemani Rita, Andi, Dewa dan kakek-kakeknya pulang ke rumah.
_ Bersambung_
__ADS_1