Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 255: Kursi Roda


__ADS_3

“Sayang, aku baru saja dapat kiriman kado pernikahan kita” ujar Rita


“Hah? Kado pernikahan? Anak kita hampir tiga kadonya baru datang?” tanya Daniel heran


“Sepertinya tercecer di rumah Auckland. Kak Andi baru saja mengirimkannya ke kita”


“Berapa banyak?”


“Lima!”


“Wow! Lumayan banyak, kamu mau membukanya sekarang?”


“He eh!”


Daniel duduk di samping Rita, ia mulai memilih kado yang pertama kali akan ia buka.


“hmm....ini dari tante Okky” Daniel membaca label dari kado


“Tante Okky? Yang mana itu ya?”


“Mungkin kerabat kakek Dar, coba kita lihat isinya”


Kotak yang lumayan besar itu dibuka oleh Daniel


“Wow!!!,...Tas sayang!” ujar Daniel melihat isinya


“Tas? Merknya apa?”


“Bally,..wah sepasang lho!” Daniel terlihat sangat senang menerima kado berupa tas kulit


“Bally? Wow!! Sekarang yang ini, dari Kelg. Honsan”


“Honsan? Siapa lagi tuh?”


“Entahlah, mungkin kenalan kakek, kamu ingat kan waktu resepssi hari kedua, banyak orang yang gak kita kenal.”


“Iya juga, isinya apaan?”


Kotak berbentuk persegi yang cukup besar


“Kayaknya sepatu deh” Rita membuka bungkus kotak tersebut


“voila!! Beneran sepatu Say, sepasang lagi” Rita langsung membuka kotak sepatu itu


“MasyaAllah,..bagus banget sepatunya” Rita sangat menyukai sepatu itu


“Bermerk gak?” tanya Daniel


“Iya, playboy”


“Playboy bukannya sepatu untuk lelaki?” Daniel membuka kotak sepatu yang satu lagi


“Iya, mungkin dia sengaja custom untukku” Rita mencoba sepatu pentofel yang terbuat dari kulit tersebut


“Hak sepatu itu lumayan tinggi, memangnya kamu bisa pakai sepatu hak?” tanya Daniel memperhatikan istrinya yang mencoba sepatu itu


“Hak segini mah belum tinggi say” Rita mulai bolak-balik mencoba sepatu , Daniel juga mencoba sepatu miliknya


“Kok mereka bisa tahu ukuran kaki kita ya?” ujarnya heran


“Mungkin mereka nanya sama kakek” jawab Rita sekenanya, sepertinya ia tidak begitu peduli bagaimana si pemberi sepatu bisa tahu nomor kaki mereka


“coba yang lain apaan?” tanya Daniel, melihat 2 kado yang masih belum dibuka. Rita mengambil satu lalu membukanya


“Wow , blazer Armani say, sepasang juga” Rita memberikan satu blazer model cowok kepada suaminya dan langsung ia kenakan


“Gimana? keren gak?” tanya Daniel, ia mulai berjalan layaknya seorang model di catwalk


“Keren-keren!” Rita bertepuk tangan kegirangan, baru kali ini ia melihat suaminya tidak serius


Ketika ia hendak melakukan hal yang sama, tiba-tiba mata kaki kanannya terlipat, sehingga ia hampir terjatuh syukurlah Daniel sigap memegangnya sehingga Rita tidak jatuh ke lantai


“Tuh kan, aku bilang juga apa. hati-hati dong Yang! Kamu kan lagi hamil” ujarnya mengingatkan. Ia membukakan sepatu istrinya, lalu melihat mata kaki kanan istrinya


“Sakit gak?”


“Enggak”


“Beneran?”


“Kalau sakit aku pasti teriak”


“Sudahi dulu deh peragaan busananya” Daniel membuka blazer dan Sepatunya lalu membereskan kotak-kotak kado


“Satu lagi nih” Rita mengambil kotak terakhir


“dari siapa?”


“Tulisan Korea”


“Mana coba?” Daniel mengambil kotak itu dari Rita lalu membaca tulisannya


“Selamat menikah, bahagia selalu, tante Gaon, oh dari tante ku” Daniel segera membuka kotak tersebut


“Rompi dan topi untuk memancing?” Rita heran dengan pemberian tantenya Daniel


“Sepasang juga” Daniel mencoba Rompi tersebut, juga mencoba topinya


“Bagus gak?” tanyanya


“Karena kamu tampan apapun yang kamu pakai kelihatan bagus” puji Rita

__ADS_1


“Ah kamu bisa saja” Daniel tersenyum, lalu melipat kembali rompi dan topinya


“kok ditaruh di kotak lagi?”


“Kan aku belum mau mancing, nanti kalau mancing baru deh aku pakai”


“Taruhnya di atas lemari saja, supaya kamu gak lupa” ujar Rita mengingatkan


“Biar aku saja yang merapikan semua bungkus kado ini” ujar Daniel, Rita membuka blazernya, dan hendak berdiri, lalu


“Aduhh”


“Kenapa? Kaki yang tadi ya?”


“Iya, kenapa sekarang jadi sakit?”


Daniel berlutut dan memperhatikan kaki istrinya


“Agak bengkak tuh, sebentar!” Ia mengambil batu es dari kulkas lalu ditaruhnya di plastik kemudian menghampiri istrinya


“Coba kompres pakai ini, dulu waktu aku latihan kalau salah gerakan pasti aku kompres pakai ini” ia menempelkan batu es tersebut ke matakaki istrinya


“Dingin” ujarnya


“Iya dong namanya juga batu es” Daniel mengambil kain lalu mengikat batu es tersebut ke matakaki istrinya


“Nah, begini dulu biasanya kalau esnya mencair, sakitnya juga hilang”


“Iya, terima kasih ya sayang” ujar Rita tersenyum, sementara Daniel membereskan semua bungkus kado dan menyimpan barang-barang di lemari mereka.


Beberapa menit kemudian ia menghampiri istrinya


“coba kamu berdiri lalu berjalan” pintanya, Rita melakukan yang diminta suaminya


“Aduuhh” erangnya


“Wah masih sakit ya? bengkaknya juga gak berkurang”


“Terus gimana dong?”


“Kamu gak bisa jalan?”


“Bisa sih” dengan terpincang-pincang Rita berjalan


“Jadi aneh ya? kita ke dokter saja yuk. Di rongent saja, aku takut retak” ujar Daniel


“Enggak lah paling Cuma terkilir” ujar Rita


“Aku gendong deh!” Daniel membelakangi, supaya Rita menggendong di punggungnya


“Kamu kuat gak?”


Perlahan Rita menggendong di punggung suaminya, kedua anak-anaknya yang baru datang dari ruang bermain menyangka mami dan papinya sedang bermain


“Papi aku juga mau gendong” ujar Ranna


“Aku juga” Raffa mengikuti, keduanya menempel pada kedua kaki Daniel


“Wah gawat nih, turun saja deh” Rita segera turun dari punggung suaminya


Daniel menggendong kedua anak batitanya, mereka tertawa kegirangan


“Susternya mana nih?” tanyanya kelelahan


Rita memanggil suster


“Sus, tolong anak-anak. Saya sama bapak mau ke dokter, titip anak-anak ya?”


“ke dokter? Siapa yang sakit bu?”


“Saya, nih kaki saya bengkak”


“Waduh,..pakai parem saja bu” ujar suster Rini


“Itu gampang, nanti kalau dokter bilang Cuma terkilir, tinggal beli parem” ujar Daniel


Para suster mengajak kedua batita bermain di taman Zein, sehingga mereka tidak tahu orang tuanya pergi.


Beberapa jam kemudian mereka telah kembali dari dokter, kaki Rita dibalut perban dengan ketat


“Jadi bagaimana bu?” tanya suster Erni


“Terkilir, tetapi karena di tempat itu katanya rentan dengan keretakan apalagi saya lagi hamil. Beban kaki saya bertambah”


“Wah sulit bergerak dong bu?”


“Iya, sedikit . Saya minta tolong urus anak-anak dulu ya?”


“Baik bu”


Keesokkan paginya, seperti biasa Rita memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain di depan teras, kakinya yang masih terbalut ia naikkan ke atas kursi. Ia membeli tongkat untuk membantunya berjalan.


“Sayang bagaimana kabar mu?” tanya Daniel melalui Vcall dari kantornya


“Kaki ku nyut-nyutan. Aku capek bolak-balik pakai tongkat” keluh Rita


“Itu tandanya obatnya sedang bekerja, kamu ngapain bolak-balik?” tanya Daniel


“Yah, aku kan harus mengambil sesuatu”


“Suruh mbak saja”

__ADS_1


“Dia gak tahu tempatnya” Rita seperti merengek


“hmm...anak-anak gimana?”


“Mereka lagi main, tuh!” Rita mengarahkan ponselnya ke arah anak-anak


“Kamu lagi ngapain Yang?” tanya Rita


“Aku lagi mereview hasil iklan kemarin”


“Bagus gak?”


“Lumayan, memang barangnya berkualitas, jadi iklannya menunjukkan itu. Nah tim ku sudah datang, nanti kita sambung lagi ya? love you muach!” Daniel menutup vcallnya


“Love you too!” balas Rita, ia terlihat sangat kesal dengan keadaannya, padahal ia hendak ke studio, tapi jarak studio dari kamarnya cukup jauh apalagi jika ia harus memakai tongkat. Ia melihat Raffa dan Ranna sedang bermain mobil-mobilan yang bisa berjalan sendiri, para suster mengendalikan pergerakan mobil tersebut.


“Ah iya, gue beli kursi roda otomatis saja” gumamnya pada diri sendiri. ia mulai membrowsing melalui ponselnya, setelah bertanya sana-sini tentang produk kursi roda elektrik, akhirnya ia memutuskan untuk membelinya.


“Bisa diantar siang ini ya?” telponnya


“Bisa bu, kirim alamatnya saja”


Rita memberikan alamat rumahnya, selang beberapa jam, seseorang dari toko datang, ia diarahkan langsung ke teras depan kamar Rita. Ditemani pak Ridwan, ia memperhatikan orang tersebut memasang kursi roda elektrik. Beberapa menit kemudian kursi roda elektrik pun selesai dirakit dan ia mencobanya


“Wah kerennn!!!” teriaknya kegirangan, ia mencoba berputar-putar di sekitar kamarnya


Pak Ridwan geli melihat tingkah majikannya yang seperti anak-anak bermain


Setelah membayar kursi dan memberi tip kepada orang toko itu, Rita pun segera memulai aktivitasnya. Ia menggunakan kursi itu untuk berkeliling rumahnya, kedua anaknya ia pangku, untuk berkeliling menggunakan kursi roda elektrik.


“Sudah ya nak, mami mau kerja, Kalian main sama suster ya?” ujar Rita , kedua anaknya menurut


Rita bertemu stafnya di studio, mereka hendak mengerjakan proyek baru untuk vlog mereka. Tanpa terasa sore telah menjelang.


“Wah sudah jam 4 nih, aku belum sholat ashar, kalian boleh pulang deh.” Ujarnya pada staf contennya. Dengan tergesa ia kembali ke kamarnya, ia sangat terkejut karena suaminya sudah tiba di rumah


“Wah kamu sudah datang?” ujarnya tersenyum


“Kapan kamu membeli kursi roda itu?” tanyanya


“Tadi siang”


“Wah...” wajahnya tampak kecewa


“Kenapa?”


“Aku juga membeli kursi roda elektrik untuk mu”


“Oh ya? seperti apa?”


“Sama kayak gitu”


“Serius?”


“Iya, kamu kenapa gak bilang aku dulu?”


“Maksud ku supaya jadi surprise gitu”


“Gak bisa dibatalkan?”


“Gak bisa, aku sudah bayar lunas, nanti malam mereka antar”


“Ya sudahlah, gak apa-apa. kan lumayan kalau kamu malas bisa naik kursi ini”


“memangnya enak pakai kursi itu?”


“Lumayan, aku gak usah capek ke kamar-kamar di rumah ini”


“Iya juga ya”


Malam harinya, kursi roda elektrik yang dipesan Daniel tiba, bentuknya besar dan lebih berat


“Kamu kalau membeli barang benar-benar gak tanggung ya?” ujar Rita melihat kursi roda elektrik itu


“Untuk istri ku tercinta gak boleh barang murahan, cobain deh”


Rita mencoba kursi roda elektrik tersebut


“Lebih halus Say, dan stabil ya?” Rita mencobanya maju mundur. Ranna dan Raffa menghampiri,dengan dipangku maminya mereka berputar-putar di kamar menggunakan kursi itu. Daniel mencoba kursi roda elektrik milik Rita. Mereka seperti bermain di dalam kamar


“Bang Raffa sama papi sini” ujar Daniel, akhirnya mereka berkeliling rumah menggunakan kursi roda masing-masing


“Hehehe...ini namanya sengsara membawa nikmat” ujar Rita, ia tersenyum pada suaminya yang mengikutinya dengan kursi roda juga. Para staf rumah geleng-geleng kepala melihat kedua pasangan itu.


“Kamu jangan sampai lupa mengisi baterainya, karena kalau sampai habis baterai berat dorongnya” ujar Daniel


“Kalau kursi roda aku bisa dilipat Say, jadi bisa aku bawa ke mall”


“Memangnya kamu mau ke mall?”


“Hehehe...iya”


“Mau ngapain?”


“Mau keliling mall pakai kursi ini”


“Ayo deh, kita belanja yuk. Aku kepengen beli sesuatu untuk dimasak akhir pekan ini!”


“Ayo!” jawab Rita bersemangat


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2