Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 48: Firasat


__ADS_3

“Rit, hari ini ada acara?”


“Engga ada Kak”


“Jalan yuk?”


“Ayo, kemana?”


“Kak Tomi mau bawa mobil, mungkin Ayah mau ikut?”


“Sebentar nanti aku tanyain dulu ya, Kak?”


“Oke, nanti kakak telepon lagi ya?” Tomi menutup teleponnya


“Ayah, kak Tomi ngajak kita jalan,ayah mau ikut?” tanya Rita kepada ayahnya yang lagi tidur-tiduran di sofa ruang tamu


“Enggak ah, ayah capek. Kamu kan tahu hampir sebulan ini ayah di RS terus, nah libur ini ayah mau tidur-tiduran!”


“Oo ya udah, aku bilangin kak Tomi deh”


Tiba-tiba ayahnya bangkit dari sofa


“Kalian mau pergi kemana?”


“Gak tahu tuh, kak Tomi ngajak saja, katanya Ayah mau ikut gak?”


“Hmm..aneh..mau pacaran kog ngajak ortunya?”


“ih ayah..” Rita tersipu


“Rit, duduk sini, ayah mau ngomong!” tiba-tiba ayahnya bersikap serius. Rita menuruti, ia duduk berhadapan dengan ayahnya.


“Kamu kan sudah SMU, sebentar lagi kuliah. Mungkin setelah ini kita akan sama-sama sibuk, mumpung sempat ayah ingatkan kamu.”


“Iya yah”


“Ayah senang kamu sudah punya teman dekat. Tomi anak yang baik, ayah juga suka sama dia. Tapi ingat nih Rit, Tomi itu lelaki dan kamu perempuan”


“Tentu yah, Rita ingat!” Rita tertawa geli


“Bukan begitu, kamu sudah dewasa, di dusun sana anak seusia kamu sudah berumah tangga, nah Kamu sebagai anak perempuan ayah satu-satunya, harus menjaga nama baik keluarga. Jaga diri baik-baik. Jangan mudah menyerahkan diri kamu dengan lelaki manapun, kecuali dia sudah jadi suami kamu! Kamu sudah melihat banyak contoh kan? Pacaran yang berlebihan, akhirnya perempuannya hamil. Syukur-syukur dinikahi, eh malah ada yang dibunuh, ditinggal dipaksa aborsi dan lain-lain. Itu karena darah muda yang masih menggebu. Asal cinta, dan sama mau lalu berhubungan intim”


“Ih ayah, amit-amit deh, Insya Allah Rita gak begitu, kak Tomi juga selalu jaga jarak sama Rita”


“Namanya orang Rit, ada saja khilafnya. Kadang moment-moment tertentu jadi pemicu. Misalnya lama gak ketemu, kangen, atau habis berantem, takut kehilangan. Apalagi era digital seperti sekarang, film-film romatis bikin anak-anak muda kayak kamu makin terlena. Akhirnya banyak remaja yang terperangkap *** bebas.”


“hmm...” Rita terdiam


“Ayah sebagai orang tua sangat was-was dengan kamu, apalagi cowok-cowok yang deketin kamu itu cakep-cakep semuanya, ayah takut kamu gak kuat iman, malah gak aman”


“Yang deketin Rita Cuma kak Tomi dan kak Dewa saja kog yah!”


“Kamu ga ngitung si Indra? Dia juga cakep, berani lagi, gentle jemput kamu langsung ke Ayah. Dewa sampai bela-belain masuk ke RS lagi supaya kamu bisa selamat. Di mata kamu Cuma Tomi saja ya?”


“Kak Indra gak jelas yah, kak Dewa banyak fansnya”


“Lho emang Tomi gak ada fansnya?”


“Banyak juga yah, tapi kak Tomi jutek, jadi cewek-cewek pada takut. Kak Tomi cuma ramah sama Rita, hehehe”


“Kalau Kiano gimana? Dia juga ganteng tuh?”


“Menurut Ayah Kiano ganteng?”


“Bukan ganteng saja sih, baik juga tapi dia agak Oon ya?” Ayah tiba-tiba tersenyum


“Kenapa yah, kog tiba-tiba tersenyum?”


“Ayah jadi ingat, seminggu setelah mamanya meninggal katanya dia gak mau makan sampai lemas. Lalu ayah ajak jalan untuk menghiburnya. Begitu makan siang, ayah ajak makan di restoran, eh makannya lahap, katanya hampir seminggu ini dia gak selera makan di rumah karena tantenya masaknya jorok. Tapi dia gak tega gak makan masakan tantenya, dia paksa makan akhirnya dia kena diare!”


“Terus lucunya dimana yah?”


“Iya lucu, tantenya curhat sama Ayah , dia khawatir dengan kesehatan Kiano,beliau takut Kiano sangat kehilangan mamanya. Dia bela-belain banyak masak untuk Kiano”


“Ooo, terus Ayah bilang apa sama Kiano, kog begitu pulang, dia lega dan girang sekali?”


“Kamu bisa ingat ekspresinya?”


“Inget yah, selama ini Rita lihat mata Kiano itu selalu sedih walau tersenyum tetap getir, baru kali itu lihat wajahnya cerah”


“Ayah, beliin dia makanan kesukaannya, sama obat diare. Kalau-kalau dia diare lagi bisa mium obat itu. Tentang mamanya, dia bilang mamanya sudah gak sakit lagi sekarang.”


“Ooo begitu, terjawab sudah teka-tekinya.”


“Ngomong-ngomong, tentang Tomi, Kamu tahu kan kalau dia itu Feri?”


“Eh,..Ayah tahu?”


“Tahu dari awal, waktu ayah antar kau ke pertandingan. Ayah pikir, kayaknya pernah lihat ini anak. Baik, dewasa, sopan sama orang tua.”


“Kan teman Rita banyak yang sopan Yah?”


“Tapi gak seperti Tomi. Ayah jadi ingat, dia kan yang anter kamu pulang waktu kamu kabur dari rumah? Dia yang jelasin semuanya ke Ayah. Jujur saja Ayah terkesan dengan keberaniannya.”


“Terus, bagaimana ayah menyimpulkan Tomi itu Feri?”


“Di RS waktu dia di rawat, ayah lihat namanya Tomi Feriansyah, kalau dilihat dari riwayat penyakitnya kemungkinan besar amnesianya itu karena gumpalan darah di otaknya.”


“Iya yah, sekarang sudah membaik”


“Syukurlah!” tiba-tiba ponsel ayahnya berbunyi, setelah beberapa saat ayah menerima telepon.


“Rit, tante Saye sudah di stasiun kereta, dia minta dijemput.”


“Tante Saye?”


“Kamu inget gak? Tante Saye, Adik Ayah, dulu dia yang ngasuh kamu waktu kamu kelas 2 atau 3 SD”


“Iya yah Inget, kog tiba-tiba sekali?”


“Katanya ada kerjaan di dekat-dekat sini, jadi sekalian mampir.”


“Jadi ayah sekarang mau ke stasiun?”


“Iya, kamu mau ikut?”


“Hmm...ikut deh”


Rita menghubungi Tomi


“Kak, maaf Rita ada acara mendadak gak bisa pergi.”


“Acara apa?”


“Tante Saye , adik Ayah tiba-tiba datang, sekarang minta di jemput di stasiun kereta, Kita mau jemput sekarang.”

__ADS_1


“OO, begitu, baiklah, hati-hati di jalan, salam sama Ayah Rit!”


“Iya kak, kakak juga!”


Beberapa waktu kemudian..


“Assalammu’alaikum,...wahh....lumayan besar ya rumahnya” Tante Saye masuk ke dalam rumah dan melihat sekelilingnya.


“Wa’alakummussalam,..tante, tidur sama aku ya, tasnya sudah aku pindahin ke kamar aku!”


“Iya Rit, wahh..sudah lama sekali ya?”


“Kamu sudah makan Ye?” tanya Ayah Rita


“Belum Mas, tadi pagi aku buru-buru, ga sempet makan apapun!”


“Masih pelit juga?” ledek ayah Rita


“Gak pelit Mas, Cuma harga makanan di stasiun kurang manusiawi.”


“Dari pada lapar kan?”


“Yah...nahan-nahan deh”


“Istirahat dulu, Rit kamu masak apa?, kalau gak sempat beli nasi padang saja!”


“Iya yah, tadi Rita sudah pesan makanan sekarang lagi di jalan.”


“Waahh..Rita..kamu sudah besar ya, sekarang kamu 16 tahun kan? Tante inget dulu kamu seneng banget manjat pohon tetangga. Hampir tiap minggu tetangga pada ngadu, mereka khawatir kamu jatuh. Sia-sia khawatir orang yang manjatnya kayak monyet!”


“Hahahaha.....tante inget saja, aku gak inget Tante!”


“Tante inget banget, itu teman kamu siapa namanya Abu? Dia yang sering dimarahi orang kalau kamu yang manjat!”


“Waahh..ingatan tante tajam sekali, sampai inget namanya.”


“Pasti inget, tante baru lihat, bocah kecil pasang badan untuk melindungi temannya, wahhh..keren banget!”


“Keren apa Oon?” tiba-tiba ayah Rita nimbrung setelah berganti pakaian.


“Keren Mas, aku inget, dia bilang. Tanggung jawabnya sudah ngajarin Rita manjat pohon dengan baik!”


“Hahahahaha...” ketiganya tertawa mendengar cerita tentang Kiano dari tante Saye.


Setelah makan siang, tante Saye berganti pakaian dan tidur-tiduran di tempat tidurnya Rita.


“Rit, sudah punya pacar?”


“Sudah tante!”


“Cakep gak?”


“Lumayan tante.”


“hmm...sudah lama?”


“Apanya?”


“Pacarannya?”


“Baru tente, dekatnya sih dari SMP baru jadiannya 2 minggu ini deh”


“Oooo,..kog bisa lama banget?”


“Ooo begitu, kenalin dong Rit!”


“Tante mau nginap berapa lama?”


“Paling lama seminggu, paling cepat tiga hari, kenapa Rit? Tante ganggu kamu ya?”


“Enggak kog Tante, heran saja kog tiba-tiba”


“Yah..begitulah Rita, kadang yang direncanakan gak pernah jadi eh giliran mendadak malah langsung ketemu.”


“Eh Tante, bagaimana kabar suami Tante?”


Saye menceritakan hubungannya dengan suaminya


“Aku ini Istrimu! Aku istri sah dihadapan Tuhan dan Negara! Walau Kamu menikahi Aku karena pelarian, setidaknya hormati Aku! Jangan selingkuh dengannya selama aku masih istri Mu!” Saye menangis pilu


“Aku tidak ingin pernikahan ini, Kamu yang memaksa Aku melakukannya. Kamu bilang, menikah akan membuatku melupakannya! Tapi Aku telah menahannya selama ini Saye! Aku gak bisa melupakannya! Cintaku padanya lebih besar dibandingkan benciku padanya!”


“Tapi dia telah mengkhianati mu Adrian!! Dua kali!! Kamu tetap mencintainya??? Astaghfirullah!!! Kamu harus sadar Adrian, Dia juga telah bersuami! Dia ingin kembali kepadamu? Apa kamu Gila!!!”


“Iya aku Gila Saye!! Aku gak bisa kalau bukan Dia! Jadi aku akan menceraikan Kamu! Suka atau tidak Kamu harus menerimanya!” Adrian bersikukuh


“Baiklah kalau itu maumu! Lakukan sesukamu! Kamu yang melakukan semuanya, Aku hanya tanda tangan, jangan bikin repot aku harus bolak-balik sidang pengadilan!” Saye menyetujui dengan berat hati. Dengan hati pedih, Ia masuk ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamarnya dan ia menangis sejadi-jadinya.


Adrian pergi meninggalkan rumah yang mereka tempati selama lima tahun lamanya.


“Jadi Tante akhirnya bercerai dengan Om Adrian?”


“Iya Rit, akhirnya kami berpisah. Kamu tahu yang paling bikin tante sedih, ternyata Adrian telah menyiapkan semua dokumen perceraian dari awal kami menikah. Jadi pernikahan Kami hanya alat baginya untuk mendapatkan pacar lamanya.”


“Waahh..kejam banget ya Om Adrian, padahal orangnya gak ganteng-ganteng banget.”


“Menurut Kamu gak ganteng Rit, tapi menurut tante, dia ganteng. Hampir flawless, tanpa celah”


“Tanpa celah kog begitu sifatnya?”


“Kan tante bilang hampir...kadang nih Rit, tante pikir kalau pasangan kita itu KDRT, akan lebih mudah, laporin polisi, biar dia dipenjara. Tapi Adrian enggak, bahkan ketika tante melemparkan barang-barang padanya ketika marah, dia sama sekali gak membalas.” Saye bercerita dengan suara parau


“Yahhh..tante, dia mungkin diam saja, tapi dia nyatet tuh tan, akhirnya kayak gitu Sudahlah tan, Om Adrian gak sebaik yang tante pikir, kalau dia baik, gak mungkin semudah itu dia menceraikan, apalagi tante bilang proses perceraian sangat cepat.Artinya dari awal hatinya bukan untuk tante!”


Saye menatap Rita dengan pandangan sedih


“Tante malah tambah sedih, bukan hanya karena perceraian tapi juga diceramahi sama anak kecil!” Saye menangis menutupi wajahnya dengan bantal


“Maaf ya Tante, bukan maksud Rita menceramahi, menurut Rita sih begitu Tan. Btw tante mau makan apa? Rita traktir deh!”


“Beneran?” Tiba-tiba Saye mengangkat wajahnya dari bantal


“Beneran Tan, Alhamdulillah, mama Rita sudah transfer uang jajan bulan ini”


“Ohh..Rita sudah ketemu kak Ratna? Bagaimana kabarnya?”


“Alhamdulillah baik Tan, makin sibuk bisnisnya berkembang pesat!”


“WOW, mama kamu itu orang hebat Rit, tante gak begitu kenal dengannya, tapi tante memperhatikan hubungan mama dan ayah kamu, complicated. Tante juga menyesalkan kenapa Kak Reza bisa melepaskan perempuan sehebat kak Ratna”


“Ayah dan mama pernah bilang, hubungan seseorang itu ada awal dan ada akhir, dan sepertinya hubungan mereka hanya sampai di situ!”


“Kamu gak apa-apa Rit?”


“Sudah lama enggak apa-apa Tan, walaupun Rita berjauhan sama mama, tapi kami terus komunikasi, bahkan mama pernah naik helikopter untuk menemui Rita. Supaya lebih cepat bertemu katanya.”

__ADS_1


“Wuiiihhh... horang kaya emang beda mainannya.”


“Jadi tan, mau beli apa nih?”


“Tante kepengen Pizza keju Rit, keju yang banyaaakkk”


“Gak es krim coklat Tan? Katanya kalau hati gundah makan coklat, dia punya zat anti stress!”


“Bosen Rit!” Saye bangkit dan mengeluarkan beberapa coklat dari tasnya


“Nih buat Rita”


“Waahh..banyak banget Tante jualan?”


“Hmmm..sebenarnya setelah tante bercerai, tante sedih banget lalu tante pergi ke supermarket buat beli coklat. Hampir semua merk coklat tante cobain, tapi rasanya kurang srek di hati. Tante buka youTube cara buat coklat dari biji coklat. Terus iseng-iseng bikin coklat sendiri. Tante jualin, bikin merk sekarang sudah masuk ke beberapa supermarket”


“Wahhh Tante jadi pengusaha coklat dong..”


“Belum besar sih Rit, doain ya, mudah-mudahan bisa berkembang pesat.”


“Aaamiin Tante, kalau gitu tante juga orang kaya dong, harusnya tante yang nraktir Rita!”


“Yahh...Kamu gak ikhlas ya,?”


“Hehehe..iya!”


“Ah dasar kamu, ya udah pesan 3 loyang pizza ya yang ukuran besaar... buat tante 1 yang ekstra keju, yang 2 lagi terserah Rita!”


“Asyiikkk...pesta Pizza!!”


Hari itu mereka makan pizza sepuas hatinya.”


“Saye kamu mau berapa hari di sini?” tanya Reza sambil mengambil sepotong Pizza


“Mungkin lusa sudah pulang Kak”


“Sebenarnya ada urusan apa di sini? Kog tumben, biasanya kamu nginep di hotel


“aku ganggu ya?”


“Engga, Kakak senang kog kamu di sini, Cuma heran saja kog tumben gak seperti biasanya.”


“Aku kangen sama kak Reza dan Rita. Sejak kakak pindah kemari gak ada kabar sama sekali.”


“Ooo..kasihan ya Rita, syukurlah Rita anak pemberani “ keduanya memperhatikan Rita yang sedang merapikan meja makan


“oh iya, sebulan yang lalu, kakak menghadiri seminar di salah satu rumah sakit di Jakarta, kakak ketemu Adrian. Dia bawa anak kecil.”


“Oh..mungkin anak istrinya, umurnya sekitar 5 tahun kan?”


“Hmmm..iya kayaknya. Waktu kakak tegur, Adrian diam saja, gak enak hati kayaknya.”


“Adrian memang begitu kak, seperti orang bisu ya,hahaha!”


“Tapi kamu pernah suka banget sama dia kan??? Tergila-gila malah!”


“yahh..itukan masalalu Kak! Jangan diingetin lagi dong!”


“Sudah berapa lama kalian bercerai? 2 tahun?”


“Masuk tahun ketiga kak”


“Kamu baik-baik saja kan?”


“Episode sedihnya sudah lewat Kak, sekarang Saye fokus kerjain bisnis coklat. Kalau bisnis ini bisa aku jalanin dari jauh, Aku mau sekolah lagi, ambil jurusan per-coklat-an”


“Emang Ada?”


“Kali ada ada, mungkin di Perancis, siapa tahu dapat bule, hehehe...”


“Nahh...gitu dong...Adik Hebat!!” puji Reza


“Sebenarnya, waktu Kakak dengar Adrian menceraikan kamu, kakak hampir saja mau menghajarnya, tapi kamu menahannya dan bilang ini semua salah kamu yang memaksanya menikahimu. Kakak jadi gak bisa membela kamu.”


“Kalau Saye ikutin kemarahan, aku mau kakak gebukin Adrian sampai mati atau setidaknya suntik mati dia. Tapi itu gak bisa membuat hatinya ke Saye kak, Aku sadar itu. Nikah itu ibadah, tapi kalau bukan dari hati sudahkan beribadah. Jadi Saye lepas saja.”


“Kadang nih Ye, kak Reza suka heran sama Kamu. Yang suka kamu di kampus banyak, tapi kamu melabuhkan hati ke cowok bisu kayak Adrian. Kenapa? Kamu kurang tantangan?”


“Hahahaha...iya kali kak!” Saye tertawa getir


“Assalammu’alaikum..” tiba-tiba terdengar suara dari depan rumah


“Wa’alaikummussalam!” Reza membuka pintu depan


“Oh Tomi!! Masuk Tom!”


Tomi masuk ke dalam rumah dam memberikan bungkusan kepada Reza


“Ini Om, oleh-oleh!”


“Apaan nih, wah..repot-repot..makasih ya!..Ritaaa..Tomi nih!!, Duduk Tom, o iya kenalin nih, ini Adik Om, Saye!”


“Tomi, tante!” Tomi menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecil


“Saye, oh ini temannya Rita, wahh...keren!” Saye tersenyum melihat Tomi


Rita berlari ke ruang tamu


“Eh Kak Tomi, gak jadi pergi?”


“Jadi, cuma sebentar terus langsung balik “


“Ohh..eh kebetulan nih kak, banyak Pizza, yuk makan bareng.”


“Eh Tomi juga banyak bawa Ayam goreng sama kentang nih, wah lengkap untuk makan sore, ayo kita makan bareng!”


Mereka makan bersama dengan hati senang. Selesai makan dan ngobrol beberapa waktu, Tomi pun pamit pulang.


Malam harinya..


“Rit, Tomi itu keren ya, kamu senang banget dong punya pacar keren!”


“Alhamdulillah Tante, Rita juga senang banget. Apalagi kak Tomi itu pengertian.”


“Pengertian?”


“Iya pengertian, ngerti banget kalau Rita kelaparan.”


“Hahahahaa....”


Tiba-tiba telepon Rita berdering


“Ya Halo Kak Dewa?, Hah?? kak Tomi kecelakaan??” Rita pingsan.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2