
Malam harinya Rita dan Daniel melakukan aktivitas seperti biasa.
“Eh Yang, kalau salah satu dari kamar kosong itu aku bikin studio untuk video blog ku bagaimana?” tanya Rita disela-sela sesi bercinta mereka
“Hey!, kamu lagi gak konsentrasi ya?” protes Daniel
“Huh? Eh maaf kamu lanjutkan saja!” ujar Rita,
“Huh!” Daniel melepaskan pelukannya, lalu pergi ke toilet.
“Eh kamu kemana Yang?” tanya Rita, ia kembali memakai piyamanya, tak lama kemudian Daniel kembali
“Kok? ditutup?” Daniel heran melihat tubuh istrinya yang sudah berpakaian lagi
“Aku kira kamu lagi gak mood!” Rita kembali membuka piyamanya
“Aku tadi pipis sebentar,kamu lagi gak mood ya?”
“hmm...Yang, apa kamu gak merasa aktivitas bercinta kita ini jadi seperti rutinitas?”
“Enggak! kan ada liburnya”
“Iya sih..” sebelum Rita menyelesaikan kalimatnya Daniel kembali menciumnya dengan penuh gairah
Satu jam kemudian..
“Hah..hah..hah..” keduanya menyelesaikan aktivitas bercinta mereka
“Kok, kamu bisa sih Yang?” Rita kembali memakai piyamanya
“Bisa apa?” Daniel juga memakai piyamanya
“Setelah tadi kelihatan tidak mood, tiba-tiba bisa kembali bergairah?” tanya Rita heran, Daniel tersenyum
“Sulit melihat istri cantik yang sedang berpikir dalam keadaan telanjang, itu sexy sekali kan?”
“Hmm...dasar!” Rita mencubit pipi suaminya gemas. Kemudian mereka kembali tidur.
Pagi harinya, seperti biasa Rita menyiapkan ASI untuk kedua anaknya, dan sarapan bersama suaminya.
“Yang!”
“Apa?”
“Lain kali kalau sedang bercinta kamu harus fokus ya?” ujar Daniel mengingatkan
“Hmm,..aku fokus kok!”
“Enggak! buktinya kamu ngomongin tentang studio untuk vlog kan?”
“tiba-tiba itu terbersit dipikiranku”
“Hmm...itu bisa menghilangkan mood ku tahu!”
“Masa? Tadi malam lancar-lancar saja tuh?”
“yaa, karena aku fokus pada wajah dan tubuh sexy mu!”
“Memangnya kamu gak pernah memikirkan hal lain, saat bercinta?”
“Enggak dong!, bercinta ya bercinta, makan ya makan! Gak multi tasking!”
“hooh gitu ya, oh itu hari ini kamu cakep banget, memangnya mau kemana?”
“Gak kemana-mana, mau kerja online. Memangnya aku lebih cakep dari biasanya?”
“Iya, apa karena kemeja itu ya?” Rita melihat ke kemeja yang dipakai suaminya.
“Ini kemeja lama, mungkin kamu baru benar-benar menyadari kalau suami mu ini cakep” goda Daniel
“hmm...aku rugi nih”
“Rugi? Kenapa?”
“Aku harus membagi kegantengan suamiku dengan karyawan cewek di kantor!” ujar Rita dengan suara agak kesal. Daniel agak tersenyum mendengar perkataan istrinya. Selesai makan,
“Rit, anak-anak sudah diurus baby sitter?” tanya Daniel, ia baru saja selesai absen secara online
“Sudah, keduanya sedang berada di kamar bermain!” Rita sibuk memasukan sisa makanan ke lemari pemanas.
“Kalau begitu kemari deh!, tolong kunci pintu kamar ini”
“Huh?” Rita mengunci pintu kamar mereka
“Kemari Yang!” panggil Daniel dari kamar tidur mereka, Rita segera menghampiri suaminya
“Ada apa?” tanyanya heran, tiba-tiba Daniel memeluknya erat, lalu melucuti pakaian istrinya
“Eh kenapa?” tanya Rita tambah heran
“Kamu bilang hari ini aku lebih cakep kan? Jadi aku ingin kamu yang pertama menikmati kecakepan aku!” ujar Daniel, ia mencium bibir Rita dengan penuh gairah,untuk pertama kalinya mereka bercinta di pagi hari. Selesai bercinta, wajah Rita terlihat sangat bahagia juga lelah, ia memegang wajah suaminya yang masih berbaring di ranjang kelelahan.
“Terimakasih ya? mudah-mudahan sifat mu tetap begini walau kita menua!” ujar Rita, mengecup pipi suaminya
“Kamu kelihatan senang sekali?” Daniel memiringkan tubuhnya, ia melihat ke arah jam tangannya
“Iya, ini di luar rutinitas”
“Ting-nong!” percakapan mereka terpotong bunyi bel pintu kamar, mereka segera kembali berpakaian.
“Kamu saja yang buka pintunya!” ujar Daniel, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rita mengenakan kembali pakaiannya, lalu dengan segera membuka pintu kamar mereka
“Ya?” Rita tidak sadar rambutnya masih acak-acakan
“Maaf bu, mengganggu, tapi Ranna sejak tadi menangis ingin bertemu maminya” suster Sari memberikan Ranna yang menangis kepada Rita
“Sini sayang? Kenapa menangis?” Rita mencium kepala anaknya, tak berapa lama kemudian, susternya Rafa juga datang,
“Wah, kalian kompak rupanya!” Rita menggendong keduanya
“Kenapa?” tanya Daniel, ia telah kembali rapi berpakaian, kedua suster senyum-senyum melihat majikannya
“Ini Pi, kedua anak ini tiba-tiba kangen sama aku”
“Mana? Sini satu sama papi!” Daniel hendak mengambil Ranna dari Rita, tapi ia menolak.
“Kalau gitu Rafa deh!”, Rafa melakukan hal yang sama, ia menangis ketika harus berpindah tangan
“Sudah gak apa-apa Pi, biar sama mami saja, papi sudah harus online kan? Itu sudah jam 9!” Rita memperingatkan.
“Anak-anak ini nempel banget sama mami! Kalian gak nurut papi ya?” gerutu Daniel sambil meninggalkan mereka.
“Sus! Tolong!” Rita agak kelabakan dengan Ranna yang terus bergerak
__ADS_1
“Ranna sayang, besok kamu ulang tahun ya? ke 1 ya?” Rita mengajak Ranna berbicara sambil menggendong Rafa
“hiiii...” Ranna tertawa, tampak gigi atasnya yang mulai tumbuh.
“Eh, Ranna sudah ada giginya, coba mami lihat?” Rita memberikan Rafa kepada susternya, dan membuka mulut anaknya
“Wahh...sudah tumbuh 2 ya? makanya badannya agak hangat” Rita beranjak mengambil termometer dan mengarahkan ke anaknya
“36,9 agak demam tapi masih normal” ia segera masuk ke kamarnya membawa Ranna, ia membuka pakaiannya lalu meletakkan Ranna di dadanya. Beberapa menit kemudian, ia kembali mengukur suhu tubuh Ranna.
“Nah, sudah normal!, hari ini kamu jangan main ya? istirahat saja sama mami di sini” Rita kembali berpakaian lalu keluar dari kamarnya.
“Suster, hari ini mereka nonton TV saja ya? gak usah main dulu sepertinya mereka kecapekan main”
“iya bu” jawab Kedua suster kompak, Rita menyalakan TV layar lebar dan membuka channel untuk bayi.
“Nontonnya dari sini, agak jauh!” ia menggeser sofa di depan TV menjauh.
Rafa dan Ranna didudukan di kursi bayi, mereka memperhatikan tayangan TV yang sedang berlangsung, sementara Rita ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tak berapa lama kemudian ia kembali bergabung dengan kedua anaknya. Rasa kantuk yang amat sangat, membuatnya pulas tertidur.
“Bu..bu Rita!” panggil salah satu suster, Rita tidak bergeming, ia justru terjatuh ke lantai
Kedua suster panik,
“Bu..bu Rita!” panggil suster sambil mengguncang-guncang tubuh Rita. Salah satu suster memanggil Daniel di ruang kerjanya
“Tok..tok..tok..”
“Ya? ada apa?” Daniel membuka pintu
“Pak!, Ibu pingsan!” ujar Suster panik
“Hah pingsan? Apa itu?” Daniel mengambil ponselnya lalu melihat terjemahan, setelah tahu artinya ia segera keluar ruangan, ia mendapati istrinya masih tertidur.
“Rita! Rita!” panggil Daniel, ia mengecek nafasnya
“Masih ada!” kemudian ia mengecek pupil matanya, dengan segera ia mengangkatnya ke ranjang mereka, ia menelpon pak Ridwan
“ya pak Daniel?”
“Bagaimana saya menghubungi dokter?”
“Siapa yang sakit pak?”
“Bu Rita pingsan!” ujar Daniel, ia berusaha menguasai dirinya. Kedua anaknya seperti merasakan kegelisahan papinya, keduanya menangis.
“Tenang ya nak!” Daniel menggendong Rafa untuk menenangkannya.
“Saya akan segera panggil dokter pak!”
“Terimakasih!”
Setengah jam kemudian, dokter dan perawat datang, mereka menggunakan pakaian hazmat. Ranna dan Rafa menangis ketakutan melihat orang berpakaian putih-putih
“Itu dokter sayang! Jangan takut!” ujar Daniel
“Pasiennya mana?”
“Di kamar dokter!” pak Ridwan yang berbicara dengan dokter
Mereka melakukan pemeriksaan kepada Rita. Beberapa menit kemudian.
“Apa sebelumnya, istri anda pernah tidak sadarkan diri seperti ini?” tanya dokter
“Kami akan mengambil sample darah pasien, kalau bisa ia dipindahkan ke rumah sakit”
“Jangan rumah sakit! Sekarang ini sedang pandemik. Pak Ridwan, beberapa kamar masih kosong, bisa kita gunakan untuk ruang perawatan?” ujar Daniel
“Bisa pak!” Ridwan segera menghubungi staf rumah, salah satu kamar kosong, dibersihkan lalu diubah seperti ruangan di rumah sakit. Beberapa jam kemudian Rita dipindah ke ruangan tersebut
“Dokter, kalau membutuhkan ruang jaga bisa menggunakan ruang di sebelahnya” ujar Ridwan
“Baik, pak!. Sample darah sudah dikirim ke lab hari ini, mudah-mudahan segera ketahuan penyebabnya”
Berita pingsannya Rita sampai ke telinga kedua kakek, mereka menghubungi Daniel melalui video yang terhubung dengan TV besar.
“Niel! Bagaimana Rita sekarang?” tanya kakek Dar, mereka v-call bertiga dengan kakek Sugi
“Masih belum sadar kek”
“Kenapa dia Niel?” tanya kakek Sugi
“Tadi pagi, ia masih baik-baik saja, setelah sarapan. Mengurus anak-anak, lalu tiba-tiba salah satu suster bilang bu Rita dibangunkan tidak bangun-bangun”
“Kamu lagi di mana?”
“Saya lagi online kek”
“Apa sudah tahu penyebabnya?” tanya kakek Sugi
“Belum keluar hasil laboratorium kek”
“Anak-anak bagaimana? Mereka masih butuh ASI kan? Terutama Raffa?”
“Alhamdulillah, Rita sudah menyetok ASI cukup banyak Kek, mudah-mudahan ia segera sadar sebelum persediaan ASI habis”
“Apa kalian memesan makanan dari luar?” tanya kakek Darmawan
“Tidak Kek, kalau dari makanan, pasti aku kena juga kan?” jawab Daniel
“Niel, coba cek CCTV di kamar kalian, lihat ada tidak yang mencurigakan sebelum Rita pingsan”
“Eh ada CCTV kek?” tanya Daniel kaget
“Ada, khusus untuk di kamar, hanya kalian saja yang bisa membukanya, kamu bisa minta tolong Ridwan untuk meminta passwordnya” ujar kakek Darmawan
“Baik Kek!” sesi Vcall mereka selesai. Tak lama Ridwan datang ke kamar mereka, lalu membuka rekaman CCTV beberapa jam sebelumnya.
“Terimakasih, pak! Biar saya yang mengeceknya” Daniel agak khawatir privasi mereka dilihat oleh orang luar
“Baik pak, oh iya Bu Rita sudah dirawat intensif di kamar sebelah!”
“Kabari saya, kalau hasil lab nya keluar”
“Baik pak!” Ridwan keluar dari kamar
“Eh iya pak Ridwan” panggil Daniel
“Ya Pak?”
“Bisa tidak, ada 2 suster pengganti untuk kedua anakku?” tanya Daniel
“Bisa pak, mungkin saya bisa meminta beberapa staf yang tidak sibuk untuk menjaga Raffa dan Ranna”
__ADS_1
“Iya pak, kalau bisa kedua baby sitter yang sekarang, diamankan dulu tapi jangan sampai mereka sadar sedang diicurigai!” ujar Daniel lagi
“Baik pak, segera”
“Suster!” panggil Daniel
“Ya pak?” keduanya menghampiri Daniel
“Bisa tolong pindahkan anak-anak ke ruangan kerja saya? Biar saya saja yang mengawasi mereka”
“Tapi pak? Kenapa?”
“Bukan begitu, aku was-was dengan anak-anakku, mereka juga sedang gelisah tentang ibunya, aku pikir akan lebih baik jika aku papinya yang menjaga mereka”
“Baik pak!” keduanya memindahkan Ranna dan Raffa yang lelap tertidur ke ruang kerja Daniel
“Terima kasih, kalian boleh beristirahat!” Daniel menutup pintu ruang kerjanya, lalu ia mulai memperhatikan CCTV sebelum Rita pingsan
“Kamu kenapa Rita?” gumamnya, ia melihat rekaman sebelum mereka sarapan. Ia mengcapture wajah pelayan yang mengantarkan sarapan pagi untuk mereka. Ia menjalankan video perlahan
“Eh, apa itu?” ia melihat kejanggalan, ia memperbesar gambar lalu mengcapturenya. Diam-diam ia keluar dari ruang kerjanya, lalu mencari benda yang dimaksud. Setelah memotretnya, ia mengambilnya dengan sapu tangan. Seperti detektif, ia mengambil pencil, isinya ia hancurkan, dengan menggunakan kuas dari meja rias Rita, ia menempelkan serbuk pensil ke benda itu, setelah mendapatkan sidik jari yang utuh, ia segera meng-uploadnya ke email temannya yang bertugas di interpol.
“Tunggu hasilnya ya Niel, oh ya turut prihatin dengan keadaan istrimu, sekarang dia bagaimana?”
“Masih belum sadar, aku juga belum boleh melihatnya, sedang tunggu hasil lab. Kalau dia negatif virus, aku dan anak-anak boleh menjenguknya”
“Kamu harus kuat Niel!, ingat anak-anak bergantung pada mu!”
“Terimakasih, Joey! Aku tunggu kabarnya!”
“Tok..tok..tok..”
“Ya?” Daniel membuka ruang kerjanya
“Hasil lab sudah keluar pak,sekarang dokter ingin bertemu bapak di ruangan ibu” ujar pak Ridwan
“Baiklah!, pak Ridwan,staf yang saya minta sudah ada?”
“Sudah pak, tapi keduanya lelaki”
“Gak apa-apa, yang penting kamu kenal keduanya kan?”
“Kenal pak!”
“Selamat Siang!” kedua orang staf rumah datang ke ruang kerja Daniel
“Saya Ihsan!”
“Saya Emil!”
“Daniel!, ihsan, Emil saya minta tolong untuk jaga anak saya sebentar, oh ya kedua baby sitternya jangan boleh mendekati anak-anak ya?”
“Baik pak!” jawab keduanya kompak
Daniel bersama Ridwan menuju ruang dokter
“Pak Daniel, ada kabar baik dan kabar buruk”
“Kabar baik dulu dokter” jawab Daniel, Ridwan membantu menerjemahkan
“Kabar baiknya, bu Rita tidak terjangkit virus berbahaya”
“Alhamdulillah!” jawab Daniel dan Ridwan bersamaan, keduanya tampak lega
“Kabar buruknya?”
“Terdapat zat bius di dalam darah bu Rita, dan kadarnya cukup tinggi, apa bu Rita kesulitan tidur akhir-akhir ini?”
“Tidak! Dia tidur sangat teratur”
“Apa dia mengonsumsi obat tertentu?”
“Tidak, seingatku ia hanya meminum pil KB, selebihnya tidak”
“Apa Anda yakin? Dia tidak mengonsumsi obat-obatan?”
“Untuk minum obat flu saja, dia ijin padaku.” Jawab Daniel
“Kalau begitu, kami akan mengecek tubuhnya lagi.”
“Sebenarnya, apa yang dokter cari?” tanya Daniel bingung
“Kalau tidak dikonsumsi melalui mulut, bisa dari jarum suntik”
“Kalau begitu, biar aku membantu mencarinya”
Mereka segera ke kamar rawat darurat, dengan lampu yang sangat terang. Tubuh Rita diperiksa oleh perawat perempuan, dan Daniel mengawasinya
“Ada pak!”
“Ada apa?” tanya Daniel
“Ini, bekas luka karena suntikan, sepertinya jarumnya sangat kecil, jadi tertutup dengan pori-pori”
“Tapi bagaimana Anda yakin itu bekas suntikan?”
“bagian ini agak bengkak sedikit”
“Dokter, dengan kadar bius dalam darah istri saya, kira-kira kapan ia segera sadar?”
“Tergantung pak, bisa nanti malam atau besok pagi”
“Dokter, istri saya sedang menyusui, saya takut ASI nya mengandung obat bius juga” ujar Daniel
“Kalau begitu bisa dicek semuanya pak” ujar dokter.
Daniel segera mengeluarkan semua persediaan ASI yang disimpan Rita, bagian laboratorium sengaja di panggil beserta peralatannya untuk mengecek ASI di rumah mereka.
Beberapa jam kemudian,
“Semua ASI bersih pak, tidak terkontaminasi” ujar dokter membaca hasil lab ASI
“Dokter, sekarang tindakan untuk istri saya apa?”
“kami sedang membersihkan darahnya melalui infus, semacam detoksifikasi”
“Baiklah dokter, kabari saya perkembangan istri saya” ujar Daniel, ia kembali ke ruang kerjanya, anak-anaknya sudah bangun dan rapi. Mereka tampak senang melihat papi mereka.
“Hey!! Bocah-bocah! Kalian sehat kan?” Daniel menggendong kedua anaknya
“Kerja bagus, kalian boleh kembali ke pos kalian, saya ingin bersama anak-anak!” ujar Daniel
“Baik pak, permisi dulu!” ujar keduanya
__ADS_1
_Bersambung_