Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 295: Rita VS Nenek Sinta


__ADS_3

Sinta, ibunya Metha baru saja tiba di Auckland dari Zurich, ia melihat kamar depan lantai dua yang bersinar.


“Lee, tolong koper saya bawakan ke kamar ya?” pinta Sinta kepada Lee , kepala pelayan rumah


“Baik bu” Lee memanggil staf lain untuk mengangkut barang bawaan Sinta ke kamarnya


“Rita sudah datang ya?” tanya Sinta menengadahkan kepalanya melihat sinar terang dari lantai 2


“Iya bu, mba Rita beserta keluarganya baru tiba pagi ini” jawab Lee


“Hmm...oh iya Lee, tolong makan malam untuk ku antar ke kamar ya aku lelah harus jalan ke ruang makan”


“Baik bu!”


Sinta segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang, teringat kejadian kemarin siang di rumah Metha.


Siang hari di rumah Metha, ia mengadakan pesta kebun untuk merayakan ultah salah satu teman Sinta.


Sehari sebelumnya


“Metha, mama mau mengadakan pesta kebun di rumah ini boleh?” tanya Sinta


“Pesta kebun? Untuk siapa?”


“Daisy, teman ku ulang tahun”


“Kenapa gak diadakan di rumahnya?”


“Suaminya tidak suka kami sering ngumpul di rumahnya, jadi lebih baik di sini saja. Lagi pula teman-teman mama itu sosialita lho, mereka bisa membantu memasarkan rumah ini” bujuk Sinta


“Besok?”


“He eh!”


“Berapa lama?”


“yaa paling seharian”


“Seharian? Memangnya mereka gak ada kerjaan lain apa?”


“anak-anak teman mama sudah pada dewasa, mereka sudah gak perlu mamanya lagi”


“Hmm...baiklah, tetapi jangan ada yang menginap dan minuman keras ya? saya eneg mencium bau muntah”


“Tentu saja!, terima kasih sayang!” Sinta mencium pipi anak semata wayangnya kemudian menelpon teman-temannya untuk datang besok pagi.


“Rumah ini Indah sekali” puji Eliza


“Benar, katanya rumah ini dijual” ujar Mary


“Oh ya? kenapa dijual? Bukannya rumah ini baru saja dibangun tahun lalu?” tanya Eliza


“Betul, tapi karena ada masalah rumah tangga sehingga rumah ini dijual” bisik Mary


“Kalian berbisik apa?” tanya Daisy yang baru saja tiba


“Heiii...yang ulang tahun..selamat ulang tahun yaa!!” Semua teman Daisy menghampiri dan memberikannya selamat.


“Terimakasih, eh tuan rumahnya mana ya?” tanya Daisy,


“Selamat datang tante Daisy! Selamat Ulang tahun!” Sapa Metha ramah


“Terima kasih Metha Sayangg!!!” Daisy memeluk Metha


“Oh iya mama mu mana? Aku hendak berterimakasih sudah menyediakan tempat indah ini untuk ulang tahun ku” tanya Daisy


“Mama masih di atas katanya ada kejutan untuk tante!”


“Ah Sinta itu benar-benar teman baik” Daisy tersenyum senang


“Silakan dinikmati hidangannya tante-tante!” ujar Metha ramah


“Terima kasih!” jawab mereka bersamaan


“Ah iya Metha, aku prihatin dengan Francois, aku dengar beberapa galeri di kota ini menolak untuk memamerkan lukisannya” ujar Joan


“Oh ya? saya sudah tidak mengikuti beritanya lagi tante Joan” jawab Metha


“Bukankah baru sebulan kalian resmi bercerai?” tanya Isle


“Iya tante, tapi setelah keputusan pengadilan kami sudah tidak lagi berhubungan” jawab Metha, ia mulai kesal menjawab pertanyaan para teman mamanya


“ Francois itu tampan, kalau ditawari jadi bintang film pasti laku deh” ujar Eliza


“Tampan tapi bodoh, dia gak bisa menghargai harta karun!” bisik Mary


“Harta karun?” tanya Eliza


“Metha sangat kaya, aku dengar dia yang selama ini membiayai pameran Francois juga gaya hidupnya, eh dia malah selingkuh!” bisik Mary lagi


“Jadi mereka berpisah karena perselingkuhan?” tanya Joan berbisik, Metha pura-pura tidak mendengar ucapan mereka. Perlahan ia meninggalkan klub perempuan tukang gosip dan pergi ke ruangan kerjanya.


“Aku sih kasihan sama anak-anak, baru setahun sudah gak punya papa” ujar Isle


“Habis papanya gak bener masa dipertahanin” ujar Joan


“Ah kamu bisa saja! Bukannya kamu berkali-kali memaafkan suami mu yang selingkuh?” tanya Eliza


“Francois dan suamiku berbeda, suami ku kaya raya. Aku rela melakukan apa saja agar dia tetap bersama ku, tetapi Francois itu seniman miskin. Aku dengar sebelum menikah dengan Metha, ia menjadi peliharaan seorang nenek tua” ujar Joan


“Oh ya? apa nenek itu sekarang masih hidup?”


“Entahlah, kayaknya nenek itu sudah meninggal dan memberikan warisan berupa galeri kecil untuk Francois”


“Haii teman-teman!!” Sinta datang dengan membawa kotak besar yang didorong oleh seorang pelayan


“Sinta! Apa itu?” tanya Daisy, ia terlihat senang


“Ini hadiah dari ku untuk mu!” Sinta menyerahkan kotak besar itu


“Kira-kira apa ya?”


“Surprise!!!” ternyata di dalamnya seorang penari lelaki berpakaian sangat ketat, kemunculannya membuat para ibu genit itu berteriak kegirangan


“ahhhh!!!!” teriak para ibu melihat tarian erotis penari


“Sinta kamu iseng banget!” Daisy tertawa senang, ia memberikan segelas champagne kepada Sinta


“Ini hiburan untuk kamu!” ujar Sinta tertawa


“Eh iya, aku mendengar kabar terakhir Francois” bisik Daisy, Sinta terdiam, wajahnya tampak tidak suka mendengar nama mantan menantunya disebut


“Aku dengar dia pindah ke London dan membuka galeri seni di sana”

__ADS_1


“Dari mana dia punya uang?” tanya Sinta heran


“Katanya sih beberapa lukisannya dinilai sangat tinggi dan dibeli oleh milyuner timur tengah” bisik Daisy


“Kenapa dia tidak memberikan nafkah untuk cucu ku?” gumam Sinta geram


“Aku dengar lagi, Francois menyatakan kalau anak-anak itu bukan anaknya, nanti aku share berita nya ke kamu” bisik Daisy lagi


“Lelaki sialan!” Sinta merapatkan giginya geram


“Apa Metha tidak apa-apa?” tanya Eliza, ia nimbrung percakapan Daisy dan Sinta


“Metha? Dia anak yang kuat, dia itu gila kerja. Masalah ini hanya hal yang remeh baginya” ujar Sinta sambil meminum champagne


“Bagaimana dengan kamu Sinta? Apa kamu sudah menerima anak mu menjadi janda? Dan cucu-cucu mu menjadi yatim?” tanya Mary yang berlidah pedas


“Yaa begitulah, seperti Joan bilang untuk apa mempertahankan seniman miskin kan?” ujar Sinta meremehkan


“Tapi aku tetap kasihan pada Metha dan anak-anak, seharusnya tidak usah bercerai bagaimana pun juga di dunia kita ini status sangat penting” ujar Isle


“Oh itu sebabnya kamu membiarkan suami mu selingkuh dengan pembantu mu?” ledek Mary


“Setidaknya dia tetap bersama ku, bagaimana dengan mu Mary? Aku dengar kamu digantung suami mu ya?” ledek Isle


“Heii!!!...sudahlah..kenapa kalian bertengkar. Hari ini ultah Daisy mari kita rayakan dengan bersenang-senang!” teriak Sinta. Alunan lagu meramaikan suasana pesta kebun.


Malam harinya Sinta menghampiri Metha yang sedang bermain dengan anak-anaknya.


“Besok mama kembali ke Auckland, kamu mau ikut?”


“Gak ah ma, bulan lalu sudah. Metha gak enak sama papa merepotkan beliau terus”


“Merepotkan? Memangnya dia ngapain?”


“Papa banyak memberikan support mental ke Metha ma, beliau menguatkan hati Metha”


“Menguatkan hati mu? Kamu gak menganggap mama mu ini hah?” ujar Sinta tiba-tiba marah


“Bukan begitu ma, maksud Metha..”


“Sudahlah!...lebih baik mama kembali ke Auckland sendirian!” Sinta membanting pintu kamar Metha


Pagi hari di Auckland, Sinta baru saja selesai berjalan pagi di taman, karena kelelahan ia duduk di belakang batu besar di taman Zein. Rita datang ke taman itu bersama Daniel yang menggendong Rayya.


“Kita istirahat di sini saja Yang, enak dinginnya alami” ajak Rita, ia duduk di tepi sungai kecil buatan di taman dalam rumah itu. Daniel melepaskan gendongan Rayya, dan membiarkannya mengeksplor taman itu.


“Waktu terakhir aku kemari taman ini sudah ada gak sih?” tanya Daniel


“Sudah, tapi gak sebesar ini. Lalu oleh Mario di desain ulang jadi deh taman in door kayak gini”


“Wah hebat juga ya Mario, taman ini luas sekali seperti taman di luar ruangan!” Daniel mengagumi taman itu


“Eh Yang, katanya kamu sedang membangun rumah di Sukabumi?” tanya Rita


“Iya, aku ingin kalau liburan kita tinggal di sana”


“Memangnya kalau di rumah besar kenapa?”


“Aku juga suka di rumah besar, tetapi kadang aku merasa masih seperti tamu di rumah besar itu” jawab Daniel


“Kok tamu? Kamu kan suami ku dan kakek sudah memberikan rumah itu atas nama ku” ujar Rita, Sinta mendengarkan percakapan keduanya dari balik batu.


“memang! Tapi aku ingin kita menikmati hasil jerih payah ku! Kamu tinggal di rumah yang aku bangun dengan hasil jerih payah ku!”


“Lagi pula tahun depan Rayya sudah harus punya adik lagi!” ujar Daniel sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rita


“Tahun depan?”


“Iya! Ranna dan Rayya sudah 4 tahun, Rayya juga sudah hampir 2 tahun jadi wajar dong kita buat lagi”


“Maksud ku, apa harus menunggu tahun depan?” bisik Rita, Sinta merasa malu mendengar percakapan kedua cucu tirinya itu.


“Memangnya mau bikin sekarang?” bisik Daniel lagi


“Bukannya KB mu selesainya tahun depan?” bisik Rita lagi


“Iya sih, tapi siapa tahu kan?” Daniel mencari Rayya,


“Kamu mau ngapain?” tanya Rita heran


“Ayo kita titipkan Rayya ke kakek, kita bikin adiknya!” Ujar Daniel sambil merangkul Rita dan menggendong Rayya keluar dari taman itu. Setelah memastikan mereka keluar, Sinta pun keluar dari persembunyiannya.


Hatinya terbakar cemburu melihat kebahagiaan cucu tirinya, ia langsung pergi ke kamarnya tanpa sengaja ia berpas-pasan dengan Rita yang hendak kembali ke taman untuk mengambil gendongan Rayya yang tertinggal.


“eh Nenek?” Rita langsung menyalami nenek tirinya


“Apa kabar nek!” tanyanya ramah


“hmm...baik! kamu baru datang?” tanya Sinta dengan nada kesal


“Kemarin siang nek, maaf Rita tidak tahu nenek ada di rumah ini” ujar Rita


“Ya begitulah rumah ini terlalu besar “


“Iya nek” Rita tersenyum dan hendak ke taman


“Rita!”


“Ya nek?”


“Aku dengar yang kamu lakukan pada Metha”


“eh tante Metha?”


“Mungkin untuk selanjutnya kamu gak usah sok menasehatinya apalagi tentang pernikahan. Kasihan Metha, Sekarang dia menjadi janda dengan dua anak-anak yang masih kecil” ujar Sinta dengan suara sinis


“Tapi nek!”


“Pernikahan itu tidak ada yang sempurna Rita!, tinggal kita saja yang mau bertahan atau tidak! Seharusnya kamu gak usah memperkenalkan Metha dengan pengacara itu, akibatnya cucu-cucu ku kehilangan ayahnya!"


“Lagi pula urusan mu apa dengan pernikahan tante mu? Kamu kan orang baru di keluarga Darmawan! Aku jadi ingat perkataan Franky tentang asal-usul mu! Masa sih setelah 16 tahun baru ketahuan kalau kamu bagian dari keluarga Darmawan? Apalagi hanya dalam waktu singkat kamu langsung mendapatkan rumah besar di Jakarta. Aku juga mendengar, Reza sejak dulu suka berbohong, mungkin kamu itu anaknya bukan anak Eka!”


“Tapi Nek tes DNA”


“Iya aku tahu tes DNA!, bisa saja kan Reza melalui temannya memanipulasi hasil tes. Kalau aku jadi Darmawan tidak semudah itu aku menerima orang asing di keluarga ini apalagi memberinya harta! Oh iya apa kamu tahu, akibat suami mu pergi dari perusahaan, Dar.co menjadi rugi besar? Suami mu itu betul-betul orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih! Sudah dibesarkan oleh Darmawan malah bekerja untuk perusahaan lain! Ia beruntung menikahi mu! Dari hanya pengemis menjadi kaya raya!” maki Sinta sambil pergi meninggalkan Rita.


Rita terdiam seribu bahasa hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ia ke taman dan mencari gendongan tanpa sengaja ia melihat pantulan wajahnya di sungai kecil, tiba-tiba ia menangis sedih. Ia terdiam di taman itu untuk menenangkan diri, tak lama kemudian ia keluar dari taman itu menuju kamarnya.


Saat Sinta berbicara dengan Rita, Andi yang sedang menuju kamar Rita untuk bermain dengan para ponakannya mendengar kata-kata Sinta pada Rita.


Malam hari seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam, Rita bersikap biasa saja. Andi memperhatikannya sejak ia masuk ke ruang makan bersama suami dan anak-anaknya.


“Apa kalian akan pergi besok?” tanya Darmawan

__ADS_1


“Iya kek!, mungkin dari Singapura kami akan ke Sukabumi” jawab Rita


“Sukabumi? Kenapa gak ke rumah Jakarta dulu?”


“Daniel ingin melihat rumah di Sukabumi Kek mumpung masih libur kerja” jawab Rita


“Sudah berapa lama kalian membangun rumah itu?” tanya Darmawan lagi


“Baru beberapa bulan Kek” jawab Daniel


“Rumah di Jakarta sayang banget dong ya?” ujar Darmawan


“Kita tetap tinggal di Jakarta kok” ujar Rita


Sinta diam saja mendengar percakapan mereka, tak berapa lama ia meninggalkan ruang makan lebih dahulu. Andi melihat Sinta pergi dari ruang makan, ia pun segera meninggalkan ruang makan untuk menyusul Sinta.


“Nenek!” panggilnya


“Ya?”


“Bisa kita bicara?” Andi mengajak Sinta ke suatu ruangan


“Silakan duduk nek!” Sinta menuruti


“Ada apa Ndi? Sepertinya ada yang penting?”


“Ini nek, Andi hanya ingin menunjukkan ini” Andi memberikan 2 lembar kertas


“Apa ini?” tanya Sinta memegang lembar itu


“Itu hasil tes DNA Rita nek, tes itu diambil di dua rumah sakit yang berbeda. Yang pertama di Singapura dan yang kedua di Auckland. Kedua tes itu diambil ketika Rita sedang tidak sadarkan diri. Sebenarnya ada tiga tes, satu lagi di Indonesia, itu pertama kali ketahuan kalau Rita bukan anak ayah Reza”


Sinta memegang kertas itu, tangannya bergetar ia tahu sekali betapa sayangnya Andi kepada Rita


“Andi,..tentang ini...nenek...”


“Dibandingkan Nenek dan tante Metha di keluarga ini, Rita lebih tinggi kedudukannya.” Andi mengatakan dengan nada datar dan cukup membuat Sinta ketakutan


“Dan Daniel itu bukan pengemis seperti yang nenek pikir, dia meminang Rita dengan uang hampir mencapai 2 milyar dan itu hasil jerih payahnya sendiri. Mungkin nenek tidak tahu semua biaya pernikahan antara Francois dan tante Metha, semua tante Metha yang biayai. Bahkan sampai cincin kawin sekalipun. Nenek tidak tahu bagaimana Francois memperlakukan tante Metha? Seperti sampah Nek!”


Sinta terdiam mendengar kata-kata datar Andi tetapi menyakitkan.


“Andi gak habis pikir bagaimana tante bisa bertahan dengannya selama 2 tahun. Kakek banyak menerima laporan perselingkuhan Francois. Ini buktinya kalau nenek tidak percaya” Andi memberikan banyak foto ke hadapan Sinta yang menunduk dan menatap foto itu selembar demi selembar.


“Kakek pernah menawarkan kepada tante ketika akhirnya ia hamil si kembar. Mau digugurkan atau dilanjutkan dengan kondisi ayah si kembar seperti itu. Tapi tante bersikeras untuk mempertahankan, ia ingin memberikan cucu untuk nenek” ujar Andi lagi


“Metha, anakku...” Sinta menangis sedih, akhirnya ia menyadari kesalahannya.


“Andi tahu nenek sedang sedih dengan keadaan tante tetapi menyalahkan Rita, itu tidak dibenarkan, Andi tidak terima nek!” suara Andi mulai meninggi


“Maaf Ndi!!! Nenek khilaf! Nenek hanya iri melihat kebahagiaan Rita! Nenek sedih Ndi! Kenapa Metha tidak bisa seperti Rita!” ujar Sinta sambil menangis tersedu


“Andi tidak peduli nek! Seharusnya nenek sadar, karena sikap nenek lah tante Metha menjadi seperti itu. Memilih lelaki asal-asalan agar nenek bisa mendapatkan menantu. Kasihan tante Metha”


“huhuhuhu....” Sinta menangis mendengar perkataan Andi


“Kata-kata nenek pada Rita tadi sungguh menyakitkan! Apalagi nenek membawa nama Franky. Apa nenek tahu, Franky itulah yang menyebabkan kakek kehilangan perusahaan logistik yang dulu dibangunnya dengan susah payah? Kerugian karena Daniel pergi tidak seberapa dibandingkan dengan yang dilakukan Franky!” ujar Andi lagi


“Andi,...nenek hanya....”mata Sinta berurai air mata


“Andi harap nenek tidak mengungkit lagi masalah ini, bersyukurlah kakek tidak tahu. Kalau kakek tahu nenek tahu kan apa yang terjadi?”


“Maafkan Nenek Ndi!..jangan bilang ke kakek mu...nenek akan berlutut meminta maaf pada Rita!”


“Sebaiknya begitu Nek!” Andi meninggalkan Sinta di ruangan itu sendirian


Sinta menelpon Lee dari ruangan itu.


“Lee, apa Rita masih ada di ruang makan?”


“Mba Rita sudah kembali ke kamarnya bu”


“Oh begitu, baiklah! Eh Lee, bisa aku minta tolong?”


“Ya bu?”


“Bisa tolong pesankan tiket ke Zurich malam ini?”


“Malam ini bu?”


“Iya, malam ini. Aku akan menemani anakku di sana”


“Baiklah bu!”


Sinta kembali ke kamarnya, ia mengepak pakaiannya. Ia terus memikirkan cara meminta maaf pada Rita. Tapi egonya menghalangi untuk bertemu Rita langsung, akhirnya ia memutuskan membuat surat untuk Rita. Malam itu ia langsung pergi ke Zurich tanpa berpamitan dengan kakek Darmawan.


“Bu Sinta mana Lee?” tanya kakek, ia sedang bermain dengan Andi dan ketiga cicitnya


“Beliau kembali ke Zurich pak!”


“Kembali ke Zurich? Malam begini? Apa ada yang sakit?”


“Mungkin pak, beliau terlihat tergesa-gesa” jawab Lee.


" dia ini makin lama seperti jelangkung"


"jelangkung kek?" tanya Andi heran


"iya, datang gak diundang pulang gak diantar!"


"hahahaha kakek bisa saja!" Andi tertawa geli mendengar jokes kakeknya


Pagi hari nya Lee memberikan surat yang ditinggalkan Sinta kepada Rita


“Mba Rita, ini ada surat dari bu Sinta”


“Untuk saya?”


“Iya mba, sepertinya ia menulisnya tadi malam sebelum berangkat kembali ke Zurich”


“Apa itu Yang?” tanya Daniel, ia hendak mengambil surat dari tangan Rita


“Jangan! Ini privacy ku!” Rita menghindari Daniel, ia takut Daniel mengetahui masalah nenek padanya. Ia sendiri sudah memaafkan nenek, tetapi Daniel belum tentu bisa memaafkan. Rita menyimpan surat itu, ia baru membukanya ketika ia berada di Singapura dalam kantornya.


“Dear Rita,


Maafkan Nenek sudah menjadikan mu pelampiasan kemarahan. Nenek minta maaf setulusnya juga pada Daniel. Terima kasih sudah membantu Metha melewati masa-masa sulit, semoga ia kelak menemukan kebahagiaan seperti Rita dan Daniel. Sehat-sehat terus ya, dan terima kasih,...


nenek Sinta”


Rita terharu membaca surat yang singkat itu, ia juga mendoakan tante dan neneknya agar mendapatkan kebahagiaan seperti dirinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2