Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 293: obrolan cafe


__ADS_3

“Siapa Yang?” tanya Daniel, ia melihat istrinya membuka rekaman CCTV di laptop


“Ini, ada yang melemparkan gulungan beberapa menit yang lalu ke depan pintu kita” Rita memberikan gulungan terbungkus plastik


“Kamu sudah tahu pelakunya?” Daniel ikut melihat rekaman CCTV


“Dia pakai topi menutupi wajahnya, apa kita perlu membuka gulungan ini?”


“Jangan! Aku takut isinya berbahaya. Aku akan membawanya ke kantor polisi dan membawa rekaman CCTV ini, share ke ponsel aku ya?”


“Baiklah!, oh ya aku akan ke toko siang ini, anak-anak aku bawa saja kamu kan ke kantor polisi”


“Iya, nanti dari kantor polisi aku jemput anak-anak” Daniel langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ke kantor polisi sementara Rita membangunkan kedua batitanya untuk mandi dan bersiap ke toko.


Daniel telah rapi berpakaian dan siap berangkat


“kamu repot gak bawa tiga anak? Apa aku bawa satu?”


“Jangan, kamu kan mau ke kantor polisi nanti malah repot karena anak kita mudah bosan. Aku sudah menelpon suster Rini untuk membantu ku menjaga anak-anak”


“Baiklah, aku berangkat ya!” Daniel mengecup kening istrinya kemudian pergi meninggalkan apartment. Beberapa menit kemudian bel apartement berbunyi


“Ya?”


“Selamat Siang bu Rita!”


“Suster Rini! Selamat siang! Apa kabar?” Rita menyalami suster


“Baik bu!”


“Ayo masuk!” Rita mempersilakan suster Rini masuk.


“Baru datang ya bu?” tanya suster sambil duduk di sofa


“Iya, maaf aku mendadak menghubungi. Suamiku ada keperluan sedangkan para baby sitter ku pulang ke Jakarta semua. Kami sering bolak-balik Jakarta-Swiss karena pekerjaan suamiku. Mungkin bulan depan kami ke Swiss lagi”


Ranna berlari dengan memakai baju yang belum dikancing dan membawa celana di tangan kirinya


“Mamiiiii!!!” teriaknya, di belakangnya Raffa mengikuti dan Rayya yang merangkak di belakang Raffa


“Kak Ranna! Ingat suster Rini?” Rita membantu memakaikan pakaian Ranna


“sustel Lini?”


“Iya, setahun yang lalu, kamu gak lupa kan?”


“Hai kak Ranna! Ingat suster kan?” Suster Rini menggunakan suara anak-anak


“Ahh!!! Sustel!!!” Ranna menghampiri dan memeluknya


“Ini adik-adiknya Ranna suster, pasti masih ingat Raffa kan? Nah yang ini Rayya baru 8 bulan” Rita mengangkat Rayya dari lantai. Raffa menyalami suster Rini


“I’am Raffa!”


“Raffa ini biasa berbicara bahasa Inggris, tapi ringan kok!” ujar Rita sambil mengusap kepala Raffa.


“Mungkin saya akan butuh bantuan ekstra untuk mengawasi Raffa” ujar suster Rini


“Ya, boleh! Kalau bisa dua orang, untuk Rayya juga aku akan ada rapat lumayan lama di toko”


“Baik bu!” Suster Rini menelpon kedua rekannya


“Oh iya suster, saya akan membayarnya per jam ya?”


“Ya bu Rita, per jam masih tetap harga yang lama”


“Baiklah” mereka menunggu kedatangan kedua rekan Rini. Satu jam kemudian mereka tiba


“Bu Rita, ini Ema dan Elly”


“Rita, kalian bisa mulai sekarang? Aku belum mandi sejak tadi”


“Bisa bu”


“Aku percayakan anak-anak pada kalian ya? Kakak, abang, ikuti apa kata suster ya?” pesan Rita


“Yes mami!!” jawab keduanya kompak, suster Rini mengambil Rayya dari gendongan Rita, sedangkan Ranna dipegang Ema dan Raffa oleh Elly


Setelah Rita rapi berpakaian mereka pun turun dari apartemen dan menuju D’Ritz yang hanya berjarak beberapa meter dari apartment.


“Selamat siang semuanya!!!” sapa Rita ramah


“Selamat siang bu!” jawab para karyawan, Erina menyambutnya di depan pintu


“Anak-anak bisa ke ruang bermain” ujar Erina


“Oh kita punya arena bermain?” Rita terheran


“iya, renovasi yang lalu Mario mengusulkan ada ruangan khusus anak-anak bermain, jadi kita memperlebar ruangan untuk itu”


“oh begitu, ide yang bagus sekali” ia berkeliling D’Ritz yang kini lebih besar dari sebelumnya.


“Oh iya bu, ruang management ada sebelah cafe” Erina mengajak Rita ke ruangan management yang letaknya di sebelah cafe.


“Selamat siang teman-teman, ini bu Rita owner D’Ritz!” Erina memperkenalkan Rita kepada tim manajemen


“Selamat Siang bu Rita!” sapa para karyawan yang kebanyakan perempuan


“Mereka pindahan dari Dar.Co bu!” bisik Erina


“oooo!!!” Rita mengangguk


“Mari saya tunjukkan kantor baru ibu!” Erina mengajak Rita ke ruangan barunya


“Ini ruangan ibu, ruangan saya di sebelah sana” Erina menunjukkan ruangan di depan ruangan Rita


“Kita menyewa tambahan ruangan?” tanya Rita


“Iya bu!”


“Apa dana kita tersedia banyak?” tanya Rita heran.


“Sebenarnya ini usulan Mario untuk mengambil kredit dari BOS untuk memperluas lahan”


“Sebentar-sebentar, kamu mengambil kredit tanpa persetujuan ku?” tanya Rita, ia agak terkejut mendengarnya


“eh iya bu, karena ibu nasabah premium BOS, jadi mereka menawarkan dana cair dengan bunga yang kompetitif”


“Sejak kapan?” tanya Rita, ia agak tersinggung dengan keputusan sepihak Erina


“Sebulan lalu bu, mungkin ibu lupa saya sudah menyampaikannya melalui Email dan pertemuan Online kita”


“Apa iya?” Rita merasa heran


“Aku akan mengecek dulu, aku di ruangan ku ya?”


“Baik bu!”


Rita memasuki ruangan barunya, interiornya lebih bagus dari ruangannya yang dulu dan lebih luas. Rita menaruh barang-barangnya dan mencari rekaman pertemuannya dengan Erina bulan lalu. Ia juga memeriksa laporan bulan lalu.


“ah iya! Aku menyetujui pengambilan kredit ini, kok aku gak ingat ya?” Rita termangu sejenak..


“sebulan lalu aku sibuk dengan tugas kuliah dan urusan rumah tangga jadi tidak begitu memperhatikan laporan ini, langsung tanda tangan saja” Rita melihat besar kredit yang diambil dan bunga yang harus mereka bayar tiap bulan. Ia menelpon BOS untuk mengkonfirmasi simpanannya di sana


“Sebenarnya gak perlu kredit, aku masih sanggup membayar renovasi kantor” gumamnya, setelah itu ia pun mengadakan rapat dengan tim management dan Erina.


“Maaf aku baru sampat datang kemari” Rita membuka rapat


“Tidak apa-apa bu!” jawab timnya


“Aku melihat laporan bulanan, bisnis kita alhamdulillah berjalan lancar dan beberapa cabang yang kita buka di beberapa tempat juga berjalan dengan baik”


“Betul bu! Beberapa varian baru juga sudah diluncurkan dan mendapat sambutan baik” ujar Erina

__ADS_1


“Alhamdulillah..saya berterima kasih, tapi jujur saja saya ingin melunasi hutang kita ke BOS, saya sudah memeriksa rekening D’Ritz dan sudah bisa melunasi kredit kita. Jadi saya minta bu Erina untuk menghubungi pihak bank untuk pelunasannya”


“Tapi bu, kita meminjam belum genap satu bulan”


“iya, saya tahu. Jujur saja saya kurang suka meminjam kalau masih ada dana segar. Jadi lunasi saja beserta bunganya.”


“Baik bu!” Erina mencatat keinginan Rita


“Oh iya, ada berapa cabang yang kita buka bulan lalu?”


“ada tiga bu” Erina memberikan laporan tiap-tiap cabang, ia menyampaikan laporan tiap cabang dalam bentuk presentasi. Rita menyimaknya dengan serius, tiba-tiba Ranna dan Raffa masuk ke ruang rapat


“mamiii!!!” seperti biasa mereka selalu mengecek keberadaan maminya


“Haiii!!! Kalian kok tahu ruangan ini?” tanya Rita sambil menggendong kedua batitanya


“I see you from outside!” jawab Raffa tersenyum dan memeluk Rita


“anak-anak bisa mengganggu!” bisik salah satu anggota rapat


“ssttt...kalau di sini kapan pun anak datang akan diinterupsi” balas karyawan lama


“ooo begitu”


“Kalian main apa di ruangan baru?” tanya Rita


“Slide!” jawab Raffa


“Sand!” jawab Ranna


“Mana adek?”


“still playing with sus Rini” jawab Raffa


“Kalian sudah makan?” tanya Rita


“Not yet! We’re hungry” jawab Raffa, Rita menelpon bagian Cafe dan memesan makanan untuk anak-anak serta para suster.


“Mami sudah pesan makanan, kalian ke cafe ya? nanti mami susul!” ujar Rita, ia memberi isyarat kepada para baby sitter untuk membawa anak-anak ke cafe


“oke mami!!” jawab Ranna dan Raffa, rapat pun di mulai kembali


“Mungkin bu Erina sudah mengatakan pada kalian, jika rapat bersama saya. Kapan pun anak datang rapat akan disela dulu, itu kebiasaan saya” ujar Rita menerangkan, para anggota rapat mengangguk


Rapat pun di lanjutkan. Beberapa menit kemudian rapat selesai, Rita pun menghampiri anak-anaknya makan di cafe, Erina menemaninya.


“Makan bersama kami Er!” ajak Rita


“Baik bu!” Erina mengikuti Rita ke cafe D’Ritz


Mereka makan bersama anak-anak dan para baby sitter.


“Er, menurut mu apa kita bisa mengambil alih Dar.co Singapura?” tanya Rita tiba-tiba


“Hah? Uhuk..uhuk...” Erina terkejut sampai terbatuk


“Aku dengar Dar.Co Singapura kini diambil alih CITE.” Ujar Rita


“Oh ya? saya baru mendengarnya dari bu Rita”


“Kamu gak tahu?”


“terakhir saya dengar Lexi kenapa bisa CITE?”


“Entahlah!” Rita menyantap Spagetinya dengan lahap


“Mami aku sudah selesai makan, boleh aku ke tempat bermain lagi?” tanya Ranna


“Boleh sayang!” Rita memegang pipi anak sulungnya, dengan segera Ranna meninggalkan mejanya lalu berlari ke ruang main, baby sitter mengikutinya dari belakang. Raffa masih makan, sedangkan Rayya disuapi oleh suster Rini. Melihat kakaknya pergi, Rayya seperti ingin ikut bersamanya. Ia menolak makan lalu melemparkan sendok plastik yang sejak tadi ia pegang.


“Adek!! Kenapa?” tanya Rita heran


“She wants playing too” jawab Raffa santai


“Baik bu” Suster Rini menggendong Rayya, sambil membawa makanannya dan pergi ke ruang bermain.


“Ruang bermainnya bagus ya, Bang?” tanya Rita, Raffa mengangguk sambil meneruskan makannya


“Butuh dana yang sangat besar bu untuk membeli banyak saham Dar.Co” jawab Erina melanjutkan percakapan mereka


“Menurut mu apa kita bisa?”


“Mungkin suatu hari nanti bisa bu, tapi..”


“Tapi apa?”


“Saya dengar salah satu alasan bos besar melepas Dar.Co Singapura karena managemennya sudah terlalu bobrok dan korup banyak kolusi dan nepotisme” Erina menyantap Fetucininya


“Oh ya? kenapa kakek tidak memperbaikinya?”


“Sulit, karena kebanyakan mereka yang melakukan sudah menjadi pemegang saham inti, bahkan mereka juga yang menghalangi pak Daniel menjadi CEO menggantikan pak Davies”


“hah? Apa sebelumnya suami ku termasuk yang dicalonkan menjadi kepala cabang Dar.Co?”


“Betul bu! Saya mendengar dari teman-teman di lantai atas, para dewan pemegang saham inti tidak menyukai pak Daniel karena beliau terlalu idealis. Sehingga mereka menghembuskan gosip murahan untuk menjegal pak Daniel” cerita Erina


“Apa suami ku tahu tentang itu?”


“Sepertinya tahu bu, tetapi kelihatannya beliau tidak begitu peduli dengan posisi puncak. Beliau memilih keluar”


“ooo begitu. Oh iya Er, apa betul D’Ritz menjadi penampungan ex-karyawan Dar.Co?”


“Sebenarnya bu, setelah pak Daniel pergi beberapa karyawan perempuan terutama single mom merasa tidak nyaman lagi bu. Selain pekerjaan mereka semakin berat pelecehan terhadap para single mom juga kerap terjadi mereka memilih hengkang dari sana”


“Apa kamu yakin? Kok Dar.Co jadi seperti itu?” tanya Rita terheran-heran


“Sejak pak Radian meninggal pengawasan pada tiap-tiap cabang memang mengalami kemunduran, performa Dar.co Singapura menurun drastis. Sekarang performa yang terbaik Dar.Co London tepat di bawah kantor pusat”


“Kok kamu bisa tahu detail?”


“Beberapa teman yang melamar kemari menceritakannya bu, dan hubungan mereka dengan teman-teman yang masih di kantor lama cukup erat”


“berapa orang eks Dar.Co yang kamu rekrut?”


“Empat orang bu, semuanya single mom”


“Apa hanya berdasarkan itu kamu merekrut mereka?”


“Mereka sudah berpengalaman bu dan kami sudah sering bekerja sama ketika di Dar,co dulu”


“Padahal cuma lima orang eks Dar.co tapi gosipnya seolah-olah seluruh karyawan Dar.co pindah kemari” gumam Rita


“Sebenarnya empat orang di kantor ini bu, sepuluh lainnya tersebar di tiga cabang lainnya”


“hah? Jadi kamu merekrut empat belas orang? Apa kita mampu Er?” tanya Rita


“Mereka berpacu membesarkan cabang masing-masing bu, dan sejauh ini performa tiap cabang sangat baik”


“Begitu ya?” Rita mengangguk,


“Mamiii..papi’s here!” Raffa melihat Daniel masuk ke cafe.


“Selamat siang pak Daniel!” sapa Erina, dia berdiri menyalami Daniel


“Halo Erina! Apa kabar?” tanya Daniel tersenyum


“Baik pak!” jawab Erina tersenyum, hatinya berbunga-bunga bertemu dengan orang yang ia kagumi, ia hendak berpindah tempat duduk


“Jangan Er, lanjutkan saja!” Daniel mengambil duduk berhadapan dengan Rita dan mengambil sedikit spagetinya


“Kamu sudah makan?” tanya Rita


“Belum!” Daniel mengusap kepala Raffa

__ADS_1


“Kakak mana Bang?” tanya Daniel


“She’s playing!”


Rita memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk suaminya.


“Kamu betah bekerja di sini Er?” tanya Daniel


“Sangat betah pak, seperti yang bu Rita bilang tempat ini seperti taman bermain.” Jawab Erina tersenyum. Selang beberapa waktu beberapa karyawati yang hendak makan siang menghampiri meja mereka


“Pak Daniel!!!” teriak mereka kegirangan melihat mantan atasannya


“Hai!!! Kalian di sini juga?” Daniel menyalami mereka satu per satu


“Iya pak!” jawab mereka bersamaan. Para karyawan tersebut tersenyum dan mengambil duduk di sekitar mereka, Erina melihat perubahan wajah Rita yang tampak tidak suka dengan keadaan tersebut, ia segera bangkit sambil membawa piringnya.


“Teman-teman, pak Daniel baru saja datang dan hendak makan bersama keluarganya. Kita jangan mengganggu.” Ia mengajak teman-temannya menjauh dari meja mereka, Erina membawa piringnya yang masih tersisa Fetucini, para temannya menurut


“Permisi pak Daniel- bu Rita”, mereka mengambil tempat duduk agak jauh


“Abang, panggil adek Rayya, papi mau ketemu” pinta Daniel, Raffa yang baru selesai makan segera berlari ke ruang bermain


“Ketemu lagi deh dengan mantan” bisik Rita cemburu


“Mantan anabul?” jawab Daniel mengambil spageti lagi dari piring Rita


“Kamu lapar banget ya?” Rita mengusap saos dari bibir Daniel


“Iya!” jawab Daniel sambil menghabiskan makan siang Rita, para karyawati melihat interaksi Rita dengan suaminya saling berbisik


“Bu Rita, bikin iriii sajaa” bisik mereka


“husshh!!! Sekarang bos kita bu Rita bukan pak Daniel!” bisik Erina


“Oh iya ya? eh Er, bu Rita galak gak?” tanya mereka dengan suara pelan


“Sebenarnya baik bangettt tapi kalau berhubungan dengan suaminya dia agak galak tuh!” jawab Erina lagi


“masa sih Er? Sama Lo juga?” tanya mereka, Erina mengangguk


“Bu Rita gak senang kalau ada cewek-cewek sok akrab dengan suaminya. Walau dia gak ngomong tapi wajah dan tatapannya mengerikan, makanya tadi gue ngajak lo pada cabut dari sana” ujar Erina sambil meneruskan menyantap masakannya


Suster Rini datang bersama Rayya menghampiri Daniel dan Rita


“Adekkk!!! Suster Rini ! apa kabar?” Daniel menyapa suster dan mengambil Rayya dari gendongan susternya


“Baik pak!”


“Makannya sudah habis sus?” tanya Rita


“Sudah bu, tadi juga sudah ganti baju”


“Adekk!!! Papi kangen!!!” Daniel menciumi Rayya seolah sudah lama tidak bertemu


Para karyawati melihat itu


“sweettt banget pak Daniel sama anaknyaaa”


“Memang, dia ikut ngurusin anaknya lho! Kadang sampai dibawa ke kantor segala!” cerita Erina


“Jadi ingat waktu beliau membawa Ranna ke kantor dulu kan ramai ya?”


“Memang! Ada yang sedih banget gak percaya kalau pak Daniel sudah menikah dan punya anak” ujar Erina mengenang masa-masa mereka di Dar.co


“Itu anak bungsunya?”


“Iya! Belum bungsu sih!” jawab Erina


“Oh ada lagi? Kan masih kecil, memangnya bu Rita hamil lagi?”


“Enggak, tapi katanya pak Daniel ingin anaknya 6” jawab Erina


“Wah Er, kok lo jadi tahu semua hal tentang pak Daniel”


“Ya begitulah, terkadang bu Rita gak sengaja cerita tentang pak Daniel”


“Lo jago juga ya Er!”


“hah? Gue?”


“Iya! Lo kan juga suka sama pak Daniel, Cuma karena gak terbalas akhirnya ...”


“Hushh!! Jangan disebut lagi! Itukan masa lalu. Sukanya gue sekarang beda bukan yang bersifat romantis lagi tapi lebih kepada kekaguman”


“Beneran?”


“Bener!! Lagi pula gue senang kerja di sini. Bebas gue seperti pemiliknya dan gue bukan orang yang bisa berkhianat” ujar Erina


“iya sih, pak Daniel itu seperti memakai kacamata kuda! Kita-kita gak pernah dianggap!” keluh mereka


Sementara pesanan makan siang Daniel telah tiba


“Kamu makanlah dulu, nanti main lagi sama Rayya, dia juga mau balik lagi ke ruang main!” ujar Rita memperingatkan, ia memesan kentang wedges untuk cemilan


“Di sini ada ruang bermain?” tanya Daniel heran


“iya, Mario yang mengusulkan dan Erina mewujudkan”


“Kamu?”


“kayaknya secara gak sadar aku menyetujuinya” jawab Rita


Rayya kembali dibawa ke ruang bermain


“Bagaimana hasil dari kantor polisi?” tanya Rita pelan


“Nanti di apartemen aku ceritakan, jangan di sini” jawab Daniel, ia menyantap makanannya


“Kamu sudah bilang berapa hari kita di sini?” tanya Daniel


“Belum!, eh kita tiga hari kan?”


“Dua! Lusa kita ke Jakarta” jawab Daniel


“Oh begitu” Rita kelihatan agak kecewa


“Kenapa? Kamu mau agak lama di sini?”


“Bisa?” Tanya Rita sambil memegang tangan suaminya


“Mungkin aku yang pulang lebih dulu ke Jakarta karena aku harus melaporkan kegiatanku selama di Swiss”


“Memangnya gak bisa secara online?”


“Gak bisa”


“Ya sudah, gak jadi deh”


“Ya gak apa-apa kalau kamu mau di sini agak lama”


“Tapi kalau gak ada kamu gak mau” jawab Rita manja, Daniel tersenyum melihat wajah istrinya


Para karyawati yang memperhatikan dari jauh kembali bergosip


“rasanya jadi bu Rita gimana ya? setiap hari bisa melihat pak Daniel, menyentuh...wah ngebayanginnya saja bikin mimisan”


“Memangnya kamu membayangkan apaan?” tanya teman-temannya


“yaa...sesuatu yang intim lah! Kan kita sudah dewasa semuanya”


“hahahaha...iya deh yang sudah dewasaa...” goda teman-temannya sambil tertawa


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2