
“Niel, aku turut berduka cita atas kepergian kakek mu!” ujar Davis kepala kantor cabang Singapura
“Terima kasih Pak, untuk itu saya ijin beberapa hari untuk pergi ke sana!”
“Tentu saja! Oh iya, saya mendapat surat dari kantor pusat. Tentang perpanjangan proyek yang kamu pegang, diambil alih oleh tim di sini”
“Kenapa pak? Boleh tahu kesalahan saya?” tanya Daniel heran
“Ini perintah kantor pusat, kamu kembali ditarik ke sana. Katanya proyek di London bermasalah, kamu akan ditugaskan di sana”
“Proyek di London? Itu di bawah pengawasan pak Radian langsung ,Pak?”
“Entahlah, ini keputusan dari Bos Besar. Saya tidak bisa apa-apa”
“Apa ada hubungannya dengan kesalahan tim manajemen waktu itu?” tanya Daniel penasaran
“Menurutku tidak!, semua kesalahpahaman telah kita bereskan, kamu gak usah berprasangka seperti itu Niel. Menurutku, karena tugasmu cemerlang di sini, makanya kamu langsung ditarik ke tempat yang proyeknya bermasalah”
“Baiklah Pak Davis, senang bekerjasama dengan Anda!” Daniel menyalami Davis
“Oh iya Niel, kamu bisa menggunakan saat ini untuk perpisahan dengan tim kamu. Kamu gak berniat pergi tanpa pamit dengan mereka kan?”
“hmm...” sebenarnya Daniel berniat demikian, ia tidak suka perpisahan yang dirayakan, tapi ucapan Davis ada benarnya, bagaimanapun juga timnya telah berbuat yang terbaik di bawah pimpinannya. Ia menghubungi istrinya
“Ya?”
“Kamu di mana?” tanya Daniel
“Di toko, aku harus membuat adonan untuk beberapa hari kita pergi”
“Hmm...mungkin kamu harus menutup toko rotimu Yang!”
“Hah? Kenapa?”
“Aku dipindah tugaskan kembali ke Auckland, sepulang dari Korsel”
“Hah? Yang benar saja?” Rita kebingungan. Toko Rotinya sedang berkembang dengan sangat baik, kini ia harus mengikuti suaminya kembali ke Auckland
“Kok mendadak Yang?” tanya Rita heran
“Entahlah, menurut Davis, ada masalah dengan proyek di London, kemungkinan aku dikirim ke sana, oh iya aku nanti pulang agak malam, ada perpisahan dengan tim ku di sini”
“hmm...baiklah, jangan terlalu malam ya? Love you!”
“Love you too!” Daniel menutup teleponnya
Sementara Rita kebingungan di tokonya, ia segera melakukan VC dengan profesornya yang menjadi penasehat hukumnya
“Bagaimana nih Prof? Ini sangat mendadak, saya gak mungkin ada di sini sementara suami saya di Auckland. Tapi toko saya sedang berjalan baik”
“Kapan Anda akan pindah ke Auckland?”
“Mungkin sekitar sebulanan, karena kami harus membawa barang-barang kami di sini”
“hmm....Anda berniat menjual bisnis Anda?”
“Maksudnya?”
“Toko Anda sudah mempunyai nama yang baik dan dikenal, kalau anda menjualnya mungkin ada yang tertarik”
“Menurut Anda apa saja yang bisa saya tawarkan agar toko saya cepat laku terjual?” tanya Rita
Profesor memberikan perincian hal-hal yang bisa ia tawarkan pada saat menjual bisnisnya
“Baiklah prof, saya akan mendiskusikan dengan suami saya, oh iya biaya konsultasi ini, silakan kirim ke saya ya prof!” Rita menutup ponselnya kemudian ia mengumpulkan beberapa pegawainya, tentu saja mereka sangat kaget dengan pemberitahuan yang tiba-tiba.
“Toko kita masih hidup untuk sebulan ke depan, saya juga akan memberikan pesangon untuk kalian semua, terima kasih!” Rita menutup pengarahannya. Ia menutup tokonya pukul 8 malam, kemudian kembali ke apartemennya, Daniel belum datang. Ia rebahan sebentar di sofa yang nyaman, kira-kira sejam kemudian ia ingat belum melakukan packing untuk keberangkatannya ke Korsel. Ia segera mengambil koper di walking closetnya, dan memasukkan pakaian mereka untuk beberapa hari di Korsel. Setelah packing, ia juga menyiapkan tas untuk ia bawa selama di Korsel.
Daniel tiba pukul 11 malam, ia kelihatan lelah sekali. Rita mengambil tas dan jasnya, Ia juga membantunya membuka kaos kaki. Daniel rebahan di sofa. Ia langsung lelap tertidur, Rita meletakan segelas air hangat di meja tamu, kemudian ia kembali ke kamarnya. Ia tidak mau mengganggu suaminya yang sudah kelelahan.
Pukul 2 pagi Daniel terbangun, Ia teringat belum sholat Isya, ia melihat pakaiannya telah berganti menjadi singlet, Rita telah mengganti pakaian kerjanya agar ia lebih nyaman tertidur. Ia segera ke kamar mandi untuk mandi air hangat kemudian melakukan sholat Isya, lalu sholat tahajud. Ia melihat koper yang terlah disiapkan istrinya untuk berangkat besok. Ia membukanya untuk mengecek kelengkapan, setelah semua sudah ia lengkapi, ia menutup kembali kopernya lalu kembali tidur di samping istrinya.
Keesokan paginya, Rita telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua
“Penerbangannya jam 10 Yang, jadi kita harus berangkat jam 8” ujar Rita mengingatkan, Daniel baru saja bangun, setelah sholat subuh ia kembali tidur
“Aku masih capek banget, aku gak suka perpisahan, mereka membuat perasaanku menjadi buruk!”
Tadi malam, di acara perpisahan
“Pak Daniel, Anda dipindah tugaskan secara tiba-tiba, apa ini ada hubungannya dengan kesalahan tim manajemen kemarin?” tanya Eddy supervisor
“Apa iya Pak? Bukankah mereka sudah setuju yang memperbaiki? Kenapa justru yang ditarik ke kantor pusat pak Daniel?” tanya salah seorang karyawati
__ADS_1
“Bukan begitu, ada proyek mendesak yang perlu saya tinjau, jadi saya ditarik ke sana” ujar Daniel
“Yahh..kalau pak Daniel tidak ada, tidak ada lagi santapan buat mata kita ya?” bisik salah satu karyawati
“Iya, yang paling tampan di kantor ini akan pergi, kini tersisa hanya remahannya!” ujar temannya lagi
“Sudahlah!, tokh pak Daniel di sini, kita gak bisa mendapatkan dia!” ujar temannya lagi
“Jiaahh....ada yang dendam karena kasih tak sampai neh!!!”ledek temannya lagi
“Baiklah teman-teman, mungkin kerjasama kita berakhir saat ini, kita sudah melewatkan banyak suka dan duka bersama, saya minta maaf jika selama saya memimpin kalian, ada perilaku saya yang tidak mengenakan, mohon dimaafkan. Mungkin di waktu lain atau di kesempatan lain, kita bisa bertemu kembali!” suara Daniel agak bergetar menahan sedih. Beberapa karyawan dan karyawati yang tergabung dalam tim proyeksi juga menitikan air mata.
“Eh, kamu kan tim manajemen? Kok di sini?” tanya Eddy pada salah satu karyawan
“Saya mengagumi kinerja pak Daniel, walaupun beda tim, ini kan acara perpisahan, masa saya gak boleh ikut?” pungkasnya, Daniel tersenyum
“Terima kasih, baik-baik ya kalian! Sampai bertemu lagi!” Daniel mengakhiri acara hari itu, ia menyalami satu persatu anggota timnya.
“Jadi kamu sudah resmi nih gak di situ lagi?” tanya Rita sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya
“Iya, jadi dari Korsel kita kembali ke sini untuk beres-beres apartemen, lalu kembali ke Auckland”
“Aku juga berniat menjual tokoku”
“Oh ya? kamu menjual mereknya gitu? Kan tokonya saja kamu menyewa?”
“Profesorku menyarankan aku menjualnya, katanya orang pasti tertarik dengan prestasi tokoku dalam beberapa bulan belakangan ini”
“Apa yang dijual termasuk resep roti yang kamu kembangkan sendiri?”
“Iya, selain merek, sistem juga semua resep”
“Aku boleh bersuara? Sahamku ada 15% di situ!”
“Silakan!”
“Aku tidak setuju kamu menjualnya. Kamu boleh menjual barang-barangnya, tapi merek, sistem dan resep? Itu milikmu. Kamu sudah berusaha keras memikirkannya. Kalau mau ditutup yan tutup saja. Kamu bisa membukanya di tempat lain.”
“Menurutmu begitu?”
“Iya!, D’Ritz! Tidak mudah membuat merk yang diingat, apalagi resep. Aku takut jika dijual kamu gak boleh membuat toko roti dengan resep yang sama bukan?”
“Iya juga ya!” Tiba-tiba Rita menjadi sangat bersemangat, ia mengecup bibir suaminya, kemudian ia menelpon profesornya
Daniel melamun, setelah dikecup oleh istrinya. Ia menyadari sesuatu yang hilang dalam beberapa bulan ini. Dan ia sadar karena kesalahannya. Ia memikirkan cara agar bisa kembali mesra seperti sebelumnya.
Pukul 8 pagi mereka menuju bandara, sebelumnya Rita mengajak mampir ke toko Rotinya
“Selamat Datang!” salah satu karyawan menyapa mereka, tokonya cukup ramai, terutama pesanan yang datang dari aplikasi online
“Apa ada beberapa roti yang masih tersisa? “ tanya Rita
“Sudah habis bu, kami sedang membuatnya lagi”
“hmm...kalau masih banyak pesanan, dan kalian masih sanggup membuatnya, habiskan saja adonannya, kemudian tutup toko! Serahkan kuncinya pada Ismael. Nanti setelah pulang dari Korsel kalian akan saya hubungi !” ujar Rita tegas, Daniel memperhatikan istrinya, sambil menyeruput kopi hangat ciri khas D’Ritz. Dari toko mereka segera berangkat ke bandara dan mengambil penerbangan tujuan Seoul. Lama perjalanan sekitar 10 jam. Mereka mengambil kelas eksekutif, Daniel sengaja memesan kelas tersebut agar Rita bisa tidur dengan tenang selama perjalanan.
Sepuluh jam kemudian, mereka tiba di Korsel, Daniel memesan hotel terdekat dengan rumah kakek dan neneknya. Dari hotel, ia menyewa mobil beserta supir untuk ke rumah kakek dan nenek. Selama perjalanan mereka tidak banyak bercerita, suasana canggung masih terasa diantara mereka. Sebenarnya Rita sudah bersikap seperti biasa tetapi Daniel seperti masih menjaga jarak diantara mereka. Di tengah perjalanan Daniel dihubungi oleh mamanya, agar langsung menemui mereka di rumah duka, akhirnya mobil mengganti tujuannya ke rumah duka “Paradise”
(Bahasa Korea)
“Mama!” Daniel menyapanya dengan bahasa Korea
“Niel!” bu Areum memeluk Daniel erat, ia mengenakan pakaian hitam-hitam. Begitu pula anggota keluarga lainnya serta para pelayat.
“Rita!” bu Areum memeluk menantu kesayangannya
“Mama” Rita mengusap punggung ibu mertuanya. Ia diperkenalkan kepada anggota keluarga lainnya
“Oh ini istrinya Daniel, katanya orang Indonesia ya? tapi lebih mirip orang Cina ya?”
“Katanya kakeknya keturunan Cina”
“oo Begitu!, katanya lagi hamil?”
“Keguguran!” sahut anggota keluarga yang lainnya
“kasihan...!” mereka melihat ke arah Rita dengan wajah prihatin.
Rita dikenalkan dengan neneknya Daniel,
“Rita ini neneknya Daniel, Kim Daehwa”
“Rita!” ia menyalami nenek berusia 85 tahun itu, ia sudah sulit mendengar tetapi matanya masih sangat baik
__ADS_1
“oh ini cucu mantuku? Cantik sekali!” ia mencium kedua pipi Rita. Kemudian memeluk Daniel. tiba-tiba ia menangis kencang
“Cucuku Niel!!!, sudah lama kamu gak pulang Nak!, kakekmu selalu menyebut namamu! Ia bilang Niel pemberani pasti sukses di sana!” ujarnya sambil menangis. Daniel ikut terharu dengan doa dari kakek dan neneknya.
Setelah pemakaman, keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan, Rita turut sibuk membantu mengeluarkan makanan dari dapur
“Istrimu baik sekali!, ia sama sekali gak canggung sama keluarga kita!” bisik bu Areum. Daniel memperhatikan Rita yang tersenyum dan memberikan air untuk anggota keluarga lainnya
“Niel, kamu pandai cari istri, ia sangat rajin. Padahal ia baru di sini!” puji Dasom tantenya
“Yah begitulah dia, di pesawat tadi dia tidur, setelah sampai darat katanya ia harus bergerak agar peredaran darahnya lancar!” ujar Daniel, ia bangkit dan membantu istrinya, lalu mengajaknya duduk.
Setelah acara makan-makan selesai, mereka pun kembali pulang ke rumah masing-masing
“Ma, Niel membawa mobil, mama dan nenek ikut mobil kami saja!” ajak Daniel
Bu Areum dan Nenek menuruti kemauan Daniel. Mereka bergabung dengan Rita di mobil, mereka menuju rumah kakek. Sesampainya di sana Rita membantu nenek berjalan, sementara bu Areum memegang tangan Daniel. Rumah kakek berada di dalam gang, walaupun rumah itu besar tetapi tidak bisa dilewati mobil, sehingga mereka harus berjalan dari jalan raya menuju rumah kakek.
“Kalian bertengkar ya?” tanya bu Areum ke Daniel
“Tidak!” jawab Daniel
“Hmm...kok mama merasakan ada jarak antara kalian ya?”
“Itu perasaan mama saja!”
“Kalau Rita, ia sikapnya biasa, tapi kamu..kelihatannya kamu agak menjauh darinya” insting ibu dan seorang perempuan bekerja
“Ah, enggak kok ma, kami biasa saja!”
“Niel, pernikahan kalian itu masih hitungan bulan. Masih banyak penyesuaian, kalau kalian berniat meneruskan pernikahan seperti kakek dan nenek, kamu harus banyak sabar. Ingat kebaikan istrimu. Jangan menyalahkan dia atas keguguran itu!”
“Niel gak nyalahin Rita kok ma!”
“Kamu juga jangan menyalahkan dirimu! Itu tidak akan ada baiknya!. Dengarkan mama Niel, sebelum kamu lahir, mama juga pernah keguguran.”
“Oh ya?” Daniel kaget ia baru mendengar cerita tentang itu
“Iya, kami juga sama kecewa, apalagi usia kehamilan mama waktu itu menginjak 4 bulan. Lalu dokter bilang, bayinya tidak ada detak jantungnya.”
“Kok bisa ma?”
“Yaa, apa boleh buat? Mama pikir waktu itu pernikahan kami masih baru, tiba-tiba mama hamil. Mungkin mama belum siap menerima bayi itu. Jadi Tuhan mengambilnya. Gak apa-apa Niel!. Kamu jangan menghukum dirimu sendiri. Sudahlah berdamai dengan istrimu, dia sangat sayang padamu!” bujuk bu Areum. Daniel menepuk tangan mamanya, ia memikirkan cara kembali mesra dengan istrinya.
“Oh ya berapa lama kalian di sini?”
“Hmm...Empat hari!”
“Nah!! Mumpung kalian di sini, ajak saja Rita melihat wisata di Seoul. Kamu tahu kan bandara Incheon saja sudah bagus banget. Ajak deh istrimu keliling-keliling, anggap saja bulan madu. Kalian belum pernah bulan madu kan?”
“Iya belum!, setelah menikah kami sibuk dengan urusan kami masing-masing!”
“Sempatkan waktu Niel, lebih cepat lebih baik. Keadaan dingin seperti ini dalam rumah tangga itu tidak baik. Bisa-bisa salah satu dari kalian muak, dan mencari pelampiasan di tempat lain” ujar bu Areum memperingatkan. Daniel mengangguk paham
“Tapi ma, bagaimana besok? Kalau masih ada yang datang ke rumah?”
“Gak usah khawatir, mereka tamu nenek dan mama, kamu boleh keliling Seoul!” ujar bu Areum mengusap pipi anak lelaki semata wayangnya.
Di hotel, Rita terlihat sangat lelah, setelah makan malam dan sholat isya, ia langsung naik ke ranjangnya dan tertidur. Sementara Daniel masih sibuk dengan tabletnya, ia merencanakan pergi ke beberapa tempat esok hari.
Keesokan harinya, Daniel telah berpakaian rapi, sedangkan Rita masih rebahan di tempat tidur.
“Kamu gak mandi Yang?” tanya Daniel
“Hmm...hari ini kita kemana?” tanya Rita, ia agak malas bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.
“Aku ke bawah dulu memesan taksi, sekalian membeli sarapan untuk kita!” teriak Daniel
“Ya!!!” Rita menjawabnya dari kamar mandi.
Satu jam kemudian Daniel kembali ke kamar mereka, ia melihat Rita yang hanya mengenakan pakaian dalam, sambil memilih pakaian dari koper. Daniel memalingkan wajahnya, setelah peristiwa keguguran itu, ia agak takut menyentuh istrinya lagi. Ia keluar kamar, jantungnya berdebar tak karuan.
“Ah sial!! Kenapa begini sih? Dia kan masih istriku!” gumamnya kesal. Ia hendak masuk ke kamar, tapi ia urungkan, ia merasa berdosa pada istrinya beberapa bulan terakhir ini, dan ia berjanji pada dirinya untuk membuat istrinya tersenyum kembali.
“Sudah Yang?” tanya Daniel, Rita telah lengkap berpakaian,
“Sudah, kamu sudah makan?” tanya Rita, ia membuka bungkusan yang Daniel bawa
“Belum, aku berniat makan bersama kamu di sini!”
Rita mengangguk , kemudian ia mengambil piring plastik yang di bawa suaminya
“Ini tteokbokki, gak pedas kok, coba deh!” Daniel menyuapkan ke mulut istrinya
__ADS_1
“Hmm...enak!, gak begitu pedas!” Rita mengambil agak banyak, Daniel tersenyum melihat istrinya yang makan dengan lahap,ia menghapus saus di bibir istrinya, jantungnya kembali berdebar. Rita kelihatan sangat cuek, ia mengambil makanan yang lain, setelah selesai makan, ia pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi, lalu memakai sedikit make up, Daniel membereskan bekas makan mereka. Setelah itu mereka pun pergi.
_Bersambung_