Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 268: Rita Kesal


__ADS_3

“Selamat Siang, Pak Daniel!”


“Selamat Siang Pak Ridwan, masih pukul 11?”


“Oh iya ya pak, begini pak, Saya mencari mba Rita, apa mungkin beliau bersama pak Daniel?”


“Rita? Hmm....tadi saya berangkat ke kantor dia masih ada di rumah, sudah dicari sekeliling rumah pak?”


“Sudah pak, beliau tidak ada”


“Anak-anak bagaimana?”


“Anak-anak aman bersama baby sitternya pak”


“Apa Rita membawa Rayya?”


“Tidak pak, Rayya bersama baby sitternya”


“Pak Ridwan sudah mencoba menelpon semua nomor ponselnya?”


“Sudah pak, tidak diangkat”


“Hmm..baiklah, nanti kalau sudah saya temukan akan saya hubungi pak Ridwan”


“Iya pak, sebenarnya sejak tadi beberapa orang menghubungi saya karena tidak bisa menghubungi mba Rita”


“Oh ya? siapa saja?”


“Dari tenant mall, dari Ibu yang di Singapura, juga dari bu Ratna”


“Oh begitu, baiklah. Nanti saya hubungi lagi ya pak?”


“Terima kasih pak Daniel”


“Sama-sama pak!”


Daniel menutup, ia mencoba menghubungi ponsel Rita, tersambung tetapi tidak diangkat


“Kemana dia ini?” ia mencoba mencarinya melalui GPS yang terhubung dengan ponsel Rita.


“Ah sial, dia gak bawa ponsel yang itu” GPS menunjukkan posisi Rita berada di rumah besar


Daniel memutar otak,


“Kemana dia ini? Ada apa? kenapa tiba-tiba? Tadi pagi biasa saja” gumam Daniel. Sebenarnya dia agak menyesal karena kesibukannya, ia tidak begitu memperhatikan gerak-gerik istrinya pagi ini.


“Samuel, setelah makan siang ini apa ada klien yang harus aku temui?” Daniel menghubungi Samuel melalui interkom dari ruangannya


“Tidak ada pak!,semua pekerjaan yang dijadwalkan hari ini sudah selesai semuanya”


“Oh begitu, baiklah” Daniel segera mengambil jasnya lalu keluar ruangan.


“Samuel, aku ada janji dengan dokter internis, mungkin aku tidak kembali ke kantor siang ini”


“oh ya pak, baiklah!”


Daniel segera meninggalkan kantor, ia sengaja tidak minta diantar oleh Hendra supir kantornya, ia pulang menggunakan taksi.


Di dalam taksi, ia mengingat tempat-tempat yang biasa Rita kunjungi, pertama dia datang ke sasana olah raga langganannya.


“Halo pak Daniel, sudah lama tidak kemari!” sapa resepsionis gym


“Halo, maaf aku sedang sibuk, oh iya apa istri ku datang kemari?”


“Bu Rita? Sebentar pak!” Resepsionis melihat di daftar kunjungan


“Tidak ada pak, kunjungan beliau terakhir bersama Anda beberapa bulan lalu”


“Oh begitu, baiklah, terima kasih”


“Oh iya pak Daniel ini ada program khusus untuk keluarga, mungkin Anda dan istri Anda tertarik untuk program ini, harga promosi lho!” resepsionis memberikan flier kepada Daniel


“Baiklah, aku simpan ya!” Dia segera meninggalkan tempat itu


“Hanya sampai akhir bulan ini ya Pak!” teriak resepsionis tersebut.


Daniel kembali ke taksinya, kemudian ia pergi ke sasana anak-anak, dia berpikiran Rita sedang rapat dengan salah satu instruktur di sana.


“Oh iya pak, bu Rita membatalkan pertemuan hari ini” ujar instruktur tersebut


“Apa dia mengatakan sesuatu?”


“katanya ada urusan mendesak, kalau dari suaranya sepertinya beliau sedang kesal”


“Oh begitu, baiklah, terima kasih”


Daniel kembali ke taksinya


“Kali ini kemana pak?” tanya supir


“Saya sedang bingung pak, istri saya menghilang”


“Hah? Apa gak lapor polisi saja pak?”


“Belum 1x 24 jam, dia baru menghilang 2 jam terakhir”


“oh begitu, apa orang rumah tidak ada yang melihat istri Anda pak?”


“Tidak ada, mereka juga sudah mencarinya, menurut Anda, kira-kira saya harus cari kemana?”


“hmm... apa sebelumnya istri Anda pernah menghilang seperti ini?”


Daniel terdiam, mengingat-ingat


“Oh iya!, ke mall pak!” Daniel mengingat cerita Radian sewaktu ia memarahi Rita di depannya ketika di Auckland dulu, Rita sedang bermain di play zone.


Beberapa menit kemudian, taksi telah tiba di mall besar, Daniel membayar taksinya kemudian segera masuk ke dalam mall. Ia melihat peta mall, dan mencari wahana bermain yang cukup besar.


“Oh lantai atas!” ia segera berlari ke lift menuju lantai paling atas. Hatinya berdebar kencang, sudah lama ia tidak merasa berdebar seperti itu.


“Kenapa hati ku berdebar seperti ini?” gumamnya, tak lama lift telah sampai ke lantai paling atas. Daniel membeli tiket masuk, dan berkeliling tempat itu. Tak butuh waktu lama, ia melihat kerumunan orang sedang memperhatikan seseorang yang melakukan permainan dengan sangat serius.


“Permisi!” Daniel hendak melihat orang yang sedang bermain, dugaannya tepat, ia melihat istrinya bermain menembak Zombie, poinnya sangat tinggi. Beberapa orang menggerutu ingin bermain yang sama.


“Hai!” tegur Daniel,


“Hai!” Rita melihat suaminya, lalu kembali ke permainan


“Kamu gak kasihan sama orang-orang itu? Mereka sudah menunggu kamu gantian mainnya?”


“Biar saja mereka main yang lain!” Rita tampak cuek, kekesalan terpancar dari raut wajahnya.


Seorang staf datang menghampiri, ia mendapat complain tentang permainan Rita


“Mba maaf, bisa gantian mainnya?” ujar staf tersebut


“Saya kan bayar!, masa gak boleh main sepuasnya?” ujar Rita ngotot


“Kita semua bayar mba! Tapi gantian dong!” ujar salah satu pengunjung yang sudah menunggu lama. Hampir saja, Rita hendak memukulnya, tapi segera dicegah oleh Daniel


“Maaf ya, silakan!” Daniel menarik istrinya pergi dari permainan itu


“Sebentar!” Rita kembali ke tempat permainan


“Eh ngapain?” Daniel mengikutinya, ia khawatir Rita akan berkelahi dengan salah satu pengunjung. Rita mengambil tiket yang berhasil ia kumpulkan

__ADS_1


“Wah sudah banyak, kamu mau tukar kan?” tanya Daniel


“Enggak, aku kumpulin dulu, aku mau tukarkan sama boneka beruang besar itu!” Rita menunjuk boneka beruang besar yang lucu


“Dulu kamu pernah punya kan?” Daniel mengingat boneka yang pernah Rita dapatkan di Auckland


“Aku sudah sumbangkan ke panti asuhan” jawab Rita, suaranya masih terdengar kesal


“Kamu ngapain di sini? Gak kerja?” tanya Rita pada suaminya


“Tadi aku di kantor, pak Ridwan menghubungi ku. Katanya kamu menghilang”


Rita memilih wahana tinju, ia memukul bola sasaran dan mendapatkan poin yang tinggi


“Wah hebat! Kekuatan mu masih banyak!” puji Daniel


Kali ini Rita memilih permainan memasukan bola basket


“Kamu mau bertanding dengan ku?” ajaknya


“Boleh!” Daniel melepas jasnya, dan melipat kemejanya. Mereka mulai bertanding memasukkan bola ke dalam keranjang. Pertandingannya cukup ketat, mereka saling susul menyusul mengumpulkan poin, akhirnya Daniel menang dengan hanya berbeda satu lemparan bola.


“ah sial! Aku gak pernah menang dari kamu!” gerutu Rita


Daniel mengambil tiket, kemudian mengejar Rita yang berjalan menjauh


“Rita!..” panggilnya


“Apaan sih? Kamu pulang saja, nanti aku juga pulang!” ujar Rita kesal, ia menghindari Daniel


“Kamu kenapa sih?” tanya Daniel heran


“Enggak kenapa-kenapa, memangnya orang gak boleh menghilang? Sebentttaaaarrrr saja aku main, kenapa dicariin?” protes Rita, suaranya agak keras. Beberapa orang memperhatikan mereka


“Ssstt...jangan di sini, ayo kita keluar!” ajak Daniel,


“Gak mau!” Rita bersikeras


“Jangan begitu dong masa kamu mau aku dikerubutin orang sini?”


“Kenapa dikerubutin?”


“Kalau aku memaksa mu keluar dari tempat ini, kira-kira mereka menganggap ku apa?”


Rita terdiam sebentar, ia melihat wajah suaminya yang memelas. Karena kasihan, akhirnya ia menurut. Ia pun keluar dari tempat permainan tersebut.


“Sudah jam makan siang nih, kita makan yuk!” Daniel menggandeng tangan Rita dan mengajaknya ke restoran yang menyediakan mie ramen. Ia memesan 2 porsi mie ramen beserta minuman segar. Beberapa menit kemudian, mie pesanan mereka datang, Daniel menyantap mienya dengan lahap.


“Kok kamu gak makan?” tanya Daniel, melihat Rita hanya minum saja


“Aku gak lapar!” jawabnya sambil menyeruput jus buah


Daniel tahu, istrinya sedang kesal, ia sedang mencari cara untuk meredakan amarahnya. Selesai makan, ia meminta mie bagian Rita dibungkus untuk dibawa pulang.


“Aku gak mau pulang!” ujar Rita


“Siapa yang mau pulang? Yuk kita main itu!” Daniel membeli tiket kereta keliling mall


“Itu buat anak-anak!”


“Enggak, buat dewasa juga boleh!” Mereka menaiki kereta keliling mall, Daniel duduk di samping Rita yang sejak masuk ke kereta ia selalu memalingkan wajahnya.


“Tadi kamu kemari naik apa?”


“Naik taksi”


“oh pantas, Amin juga gak tahu kamu kemana”


“Aku Cuma butuh me time saja!” ia masih memalingkan wajahnya


“kok tiba-tiba? Me time? Ada apa sih?”


“aku gak percaya!, kalau perempuan bilang gak apa-apa, pasti ada apa-apa!”


“Sungguh, gak ada apa-apa!”


“Baiklah! Aku gak akan memaksa mu! Tapi kalau kamu begini aku akan sedih sekali”


“kenapa? Memangnya aku gak boleh me time?”


“Boleh, Cuma kelihatannya ada yang mengganggu mu, dan kamu menutupinya dari aku. Kamu gak percaya ya sama Aku?”


“Bukan begitu!” Rita


“Aku tahu beberapa minggu belakangan ini aku sangat sibuk. Sampai-sampai aku gak memperhatikan istriku sendiri. Beberapa bulan belakangan ini adalah masa penyesuaian bagi ku di kantor baru, aku janji, setelah ini, aku akan terbiasa , jadi maafkan aku ya?” ujar Daniel, wajahnya memelas. Kereta sudah kembali ke tempat semula. Kali ini Daniel mengajak Rita ke restoran cepat saji.


“Kamu mau makan lagi?” tanya Rita heran


“Di restoran ini ada menu es krimnya, enak deh. Kamu duduk di sini sebentar, aku pesan dulu!” Daniel pergi mengantri, beberapa menit kemudian Daniel datang dengan membawa beberapa es krim yang di makan di tempat


“Nih cobain deh!” ia memberikan es krim itu ke istrinya, Rita mencobanya, tiba-tiba ia menangis


“huuuu.uuuuu....huuuu....”kebiasaannya, jika hatinya gundah dan makan es krim, seketika tangisannya pecah, beberapa orang bisik-bisik melihat ke arah mereka. Daniel merasa tidak enak hati. Ia meminta tissue dari kasir dan memberikan kepada istrinya


“huuuu...aku bodoh..”Rita menangis dengan mulut penuh es krim, Daniel ingin tersenyum melihat wajah aneh istrinya, tetapi ia juga tidak tega dengan kesedihan istrinya.


“Tadi aku menerima hasil ujian di UT, nilai ku jelek sekali, D semua...huuuaaaaa... lalu dari Singapura juga, aku mengulang beberapa mata kuliah...ternyata aku bodoh sekaliiii” Rita menangis.


“oh begitu..kirain..”


“Kirain? Kamu gak menganggap kuliah ku serius ya?” tanya Rita kesal


“Siapa bilang? Justru aku heran sama kamu!”


“Heran?”


“iya, kenapa kamu harus kuliah banyak di beberapa tempat? Kegiatan mu kan sudah banyak. ya jaga anak, D Ritz, sekarang ada tenant di mall, di tambah lagi kamu mau bikin kelompok bermain. Gak heran nilai mu jatuh. Itu bukan karena kamu bodoh, tetapi kamu tidak fokus!” Daniel terbiasa berterus terang. Rita terdiam mendengar penjabaran suaminya


“Tapi kak Andi bisa kuliah di dua tempat dan selesai dengan cepat?”


“Kamu jangan menyamakan diri mu dengan Andi. Dia berbeda”


“Berbeda? Maksud mu dia lebih pandai dari ku? Iya aku memang bodoh! Aku kasihan sama kamu punya istri bodoh!” ujar Rita ketus


“Bukan begitu!, maksud ku berbeda. Pertama dia tidak punya tanggung jawab sebesar kamu.”


“Tapi dia bisa mengelola perusahaannya sendiri”


“betul, tapi dia kan gak punya anak batita. Kamu itu hebat lho!, aku saja salut sama kamu. Sudahlah mengurus anak yang masih kecil-kecil, mengurus aku, tapi kamu masih bisa kuliah, ambil empat jurusan lagi.”


Rita diam saja mendengar suaminya


“Jadi aku harus bagaimana?”


“Menurut ku sih, kalau memang harus remedial, ya remedial. Kalau perlu kamu mengajukan cuti dulu untuk menyelesaikan yang di Singapura dulu. Sayang kan? Aku ingat kamu ujian ketika hamil Raffa. Fokuskan yang lebih dulu saja!”


“Menurut mu begitu?”


“Iya!, menurut ku begitu.”


“Kalau, sudah remedial tapi nilai ku gak naik juga bagaimana?”


“Ya sudah, berarti memang rejekinya segitu”


“huuaaaaa....aku gak mau begitu!”

__ADS_1


“ssstttt...sayang, jangan keras-keras, nanti orang pikir aku melakukan hal yang buruk sama kamu!”


“aku kesal! Aku gagal membuktikan ke kakek kalau aku juga bisa menjadi CEO seperti kak Andi”


“oh itu sebabnya kenapa kamu mengambil begitu banyak jurusan kuliah?”


Rita mengangguk


“Aku tidak mau hanya menjadi cucu dan istri saja, aku mau lebih!”


“Apa menjadi istri ku berat ya?” tanya Daniel tiba-tiba


“hah? Enggak! bukan begitu! Ini gak ada hubungannya dengan kamu! Sungguh, aku sangat bahagia menjadi istri mu dan ibu anak-anak mu. Itu mimpi ku sejak bertemu kamu!” ujar Rita


Daniel terdiam menatap istrinya, hatinya senang mendengarnya, tetapi juga sedih


“Kalau kamu bahagia, kenapa tidak cukup hanya menjadi istri ku?”


“Bukan!..aku juga cucu kakek, di darah ku ada darah Darmawan. Kenapa Kakek tidak mempertimbangkan ku menjadi penerusnya? Apa karena aku perempuan? Tugas ku hanya menghasilkan dan mengasuh anak-anak saja seperti kamu bilang, kakek ingin aku konsentrasi mengurus anak?”


Daniel terdiam mendengar keluh kesah istrinya


“kalau kamu meminta ke kakek untuk menjadi CEO di Dar.Co sekarang juga, apa kamu mau?” tanya Daniel tiba-tiba


“Eh?” Rita terdiam


“Kakek gak mungkin melakukan itu”


“Bisa saja, kalau aku meneruskan ini ke kakek, apa menurut mu dia tidak akan bersedih dianggap pilih kasih oleh cucunya?”


“Tapi...” Rita terdiam, pikirannya berkecamuk


“Rita sayang, kamu boleh melakukan pembuktian apa saja untuk kamu tunjukkan ke kakek, tapi..”


“Tapi?”


“Jangan menghukum anak-anak kita dengan kabur seperti ini.”


“aku...aku tidak bermaksud begitu! Kamu sungguh ga adil, kenapa kalau aku, kamu menggunakan anak-anak untuk membuat ku merasa bersalah?”


Daniel terdiam, ia menyesal dengan kata-katanya


“Bukan begitu sayang, sudahlah. Maaf kan aku untuk perkataan ku yang terakhir. Tapi kamu mau pulang sekarang?” tanya Daniel


“enggak! aku gak mau pulang dulu”


“Baiklah, aku pulang duluan ya? kalau butuh dijemput atau apapun telepon aku ya?” ujar Daniel


Mereka keluar dari restoran cepat saji, Daniel melepaskan pegangan tangan Rita


“Aku pulang duluan ya?” ujarnya, Rita mengangguk. Daniel menaikin taksi biru yang membawanya menjauh dari mall tersebut.


Rita hendak kembali ke wahana bermain tadi tapi ia mampir ke mushola untuk sholat dhuzur, di mushola ada seorang ibu yang duduk di lantai beristirahat, anaknya ia lepaskan dari gendongan.


“Ibu capek, kamu main di sini dulu!” ujar ibu tadi, Rita mendekati ibu itu


“Umur berapa bu anaknya?”


“Sepuluh bulan”


“Wah pintar ya, sepuluh bulan sudah bisa jalan” puji Rita


“iya, semua anak-anak saya sepuluh bulan sudah bisa jalan, tidak seperti anak sekarang, itu anaknya para selebriti, setahun lebih baru bisa jalan!”


“Oh begitu ya bu? Anak ibu berapa?”


“Anak saya tiga, ini yang paling bungsu. Bedanya jauh dari kakaknya. Kakaknya sudah SMP, eh saya hamil lagi.”


“Namanya rejeki bu” ujar Rita


“iya betul, saya sih bersyukur saja, kakak saya sudah rumah tangga lebih dari 15 tahun belum juga punya anak. Padahal dia orang berada, sudah mencoba bayi tabung berkali-kali gagal, akhirnya dia mengadopsi anak kembar, tapi sepasang” ibu itu bercerita disetelah selesai sholat dzuhur


“Oh ya, adek sudah menikah?” ibu itu bertanya, sambil melihat cincin kawin tersemat di jari manis Rita


“Sudah bu!”


“Sudah punya anak?”


“Sudah tiga bu!”


“Wah, masih muda ya? suaminya pasti sayang banget ya”


“Ah ibu bisa saja?”


“Biasanya kalau masih muda anaknya sudah banyak, berarti suaminya doyan, hahahaha!” canda ibu itu


“hahahaha....” Rita geli mendengar candaan ibu itu


“Anak saya yang nomor satu baru saja lulus SMK”


“Wah, jarak anak pertama dan kedua juga jauh ya bu?” tanya Rita


“Iya, maklum lah, waktu itu, suami saya kerjanya serabutan. Saya mau punya anak lebih dari satu mikir-mikir takut gak bisa menghidupi kalau anaknya banyak. Tapi Alhamdulillah, begitu hamil anak kedua, eh suami saya di terima kerja di pabrik. Sekarang sudah jadi supervisor. Makanya, namanya setiap anak itu membawa rejekinya masing-masing” ujar ibu itu panjang lebar. Rita mengangguk setuju


“Kalau adek di sini, anak-anak sama siapa?”


“Oh ada neneknya!” Jawab Rita berbohong


“Neneknya pasti masih muda juga ya? banyak bersyukur dek, anak-anak ada yang megangin, adek masih bisa keliling-keliling mall. Saya juga kalau bete di rumah keliling saja di mall, bawa anak deh. Habis kalau pergi sendirian, saya suka galau, takut ada apa-apa sama anak saya. Itulah kodrat perempuan dek, walaupun sepintar apapun, tetap saja rasa sayang ke anak itu gak bisa deh digantiin”


Rita masih terdiam mendengar ucapan ibu, lalu ia bertanya


“Ibu, waktu anak pertama ibu juga bekerja?”


“Iya! Saya kerja di pabrik tali sepatu di daerah bandengan, gajinya kecil, tapi lumayan lah untuk bikin asap dapur mengepul”


“Lalu berhenti karena suami ibu dapat kerja di pabrik?”


“Oh enggak!, waktu itu, anak saya titipkan di tetangga, tapi saya bayar lho tiap bulan, sehari juga saya kasih 10 ribu. Eh suatu hari, tetangga saya itu lengah. Anak saya diculik”


“hah? Diculik? Siapa yang nyulik bu?”


“Tetangga juga, tukang bakso. Dia punya kelainan suka sama anak-anak!. Syukurlah anak saya berhasil diselamatkan.”


“Bagaimana bu?”


“Ada yang melihat anak saya diseret ke rumah kontrakan orang itu, lalu lapor ke tetangga saya. Langsung deh, rumahnya di grebek orang sekampung! Hampir saja mati tu orang diamuk masa”


“Tapi anak ibu tidak apa-apa kan?”


“Dia sempat trauma, gak bisa tidur selama beberapa hari, akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja untuk mengasuh anak. Saya buka warung kecil-kecilan depan rumah, jualan cilok, siomay, apa aja deh. Alhamdulillah, bisa membantu perekonomian suami. Dari jualan itu saya bisa beli motor, walaupun seken. Betulin rumah, kalau saya pikir-pikir semua ada hikmahnya, kalau anak saya gak diculik, pasti saya tetap kerja dan ekonomi saya juga gak akan berubah lebih baik seperti sekarang”


“Sekarang anak ibu yang diculik itu, masih trauma atau mengingat ketika ia diculik?”


“Ingat iya, tapi sudah gak takut. Kami sering membicarakan tentang itu, ia juga sangat melindungi kedua adiknya.”


“Anak ibu yang diculik itu lelaki atau perempuan?”


“Lelaki,dia baru lulus SMK, sebenarnya mau coba-coba masuk kepolisian, tapi gak tahu deh, bisa gak kalau dari SMK. Saya dengar-dengar masuk jadi polisi bayarnya mahal ya?”


“Wah saya gak paham bu, maaf sudah sore, saya pamit dulu. Oh ya Adek, ini es krim, nanti di rumah di masukin kulkas dulu ya?” Rita memberikan es krim yang tadi ia beli di restoran cepat saji


“Bilang terima kasih dong sama tante!” ujar ibu itu mengajarkan. Anak itu mencium tangan Rita,


“maacih!” ujarnya tersenyum

__ADS_1


“Sama-sama!” Rita segera meninggalkan mushola mall dan memanggil taksi, ia ingin segera bertemu dengan anak-anaknya.


_Bersambung_


__ADS_2