
Sudah satu minggu Rita berada dibawah divisi Sharon, ia tidak menyangka menjadi pemasaran merupakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga serta mental yang kuat. Sharon membagi anak buahnya menjadi beberapa tim, setiap tim ditugaskan untuk memasarkan produk ke retail-retail besar. Sebagai anak baru dan pemagang, tentu saja Rita mendapat tugas yang cukup merepotkan, tapi ia suka, menurutnya semua pekerjaan berat itu membuat dirinya lupa pada perasaannya pada Daniel yang tidak terbalas. Rita bertekad untuk melupakan perasaannya walaupun menyakitkan.
Di tempat lain, jika Radian sedang tidak di kantor, Daniel mengunjungi ruangan Rita yang kini kosong. Baru kali ini ia merasa ditinggal seseorang, ia berkeliling ruangan itu, terkadang ia duduk di situ mengingat masa-masa mereka bersama, kadang ia senyum-senyum sendiri mengingat kebersamaan mereka.
“Pak Daniel?” panggil Victor sekretaris Radian
“Eh iya?” Daniel tersadar dari lamunannya
“Oh Anda sejak tadi di sini? Saya mencari di ruangan Anda”
“Saya mencari barang yang dipinjam Rita, dia bilang ada di sini” ujarnya beralasan
“Oh, Pak ada telepon dari pak Radian, ia menghubungi Anda sejak tadi”
“Huh?” Daniel kaget, ponselnya mati sejak tadi, ia lupa menchargenya.
“Pantas saja aku tidak mendengar telepon dari pak Radian, ponsel ku mati, aku lupa bawa charger. Kamu bawa charger Victor?”
“Bawa pak, tapi saya gak yakin cocok, karena sambungannya type B, sepertinya ponsel pak Daniel type C”
“Coba dulu!” Daniel ke ruangan Victor dan mencoba chargernya.
“Ah benar juga gak cocok!” keluhnya, terpaksa ia menelpon melalui telepon kantor
“Selamat Siang pak Radian!”
“Siang Niel!, kamu gak baca pesan dari saya?”
“Maaf pak, ponsel saya mati sepertinya tadi malam lupa dicharge!”
“Tumben? Seperti bukan Niel saja?, sudahlah kamu segera charge ponsel mu”
“Iya pak, oh iya tadi pak Radian mau pesan apa ya?”
“Aku mau menanyakan apa Rita sudah kelihatan kewalahan di tim Sharon? Ini sudah satu minggu Niel ” nada suara Radian tampak cemas.
“Saya melihat dia baik-baik saja pak, bahkan sepertinya ia menikmati tugas-tugasnya” Daniel sedikit berbohong ia memang melihat Rita cepat berbaur dengan lingkungannya, tetapi menikmati tidak. Daniel memperhatikan wajah lelah Rita dari kejauhan. Ia berbohong agar Radian segera menarik Rita kembali.
“Aduuh...anak itu..benar-benar deh. Syukur deh aku gak punya anak, kalau anakku model Rita mungkin aku berantem terus sama dia”
“Hahaha, mungkin pak”
“Coba Niel, cari tahu apa bu Sharon sudah tahu latar belakang Rita?”
“Belum pak!”
“Kok kamu tahu?”
“Saya sudah menanyakan sebelumnya pada asisten bu Sharon, sepertinya bu Sharon berpikir kalau Rita itu keponakannya pak Jake bagian HRD”
“hmm....begitu ya? Kita harus menarik kembali Rita Niel, sebelum Om ku tahu. Tapi aku sangsi kalau Om Darmawan tidak tahu”
“Iya Pak?”
“Cari tahu jadwal Sharon Niel, aku ingin bertemu langsung dengannya”
“Iya besok ada Pak!” ujar Daniel
“Kamu yakin?” tanya Radian
“Saya sudah menanyakan jadwal bu Sharon dalam seminggu ini” jawab Daniel
“cepat juga” gumam Radian
“Ya Pak?”
“Kita bertemu besok pagi Niel!”
“Baik Pak!” Daniel begitu bersemangat, akhirnya Radian akan menarik Rita kembali. Ia ingat baterai ponselnya yang kosong. Setelah berkeliling , hampir setiap orang yang ia kenal memiliki charger dengan sambungan berbeda type. Saat jam makan siang, Daniel memutuskan pergi ke toko ponsel terdekat, lokasi kantor Dar.Co terletak di pusat bisnis, dari mulai toko elektronik sampai toko bahan makanan terkumpul di komplek perkantoran itu. Daniel mampir ke toko aksesoris ponsel untuk membeli charger, hanya membutuhkan waktu lima menit ia mendapatkan charger sesuai kebutuhannya. Ketika hendak kembali ke kantor, ia melihat Rita bersama timnya. Ia hendak menegur dan membantu membawakan barang-barangnya, tetapi ia keduluan. Salah seorang anggota tim lelaki membantunya.
“Terima kasih,Kak!” ujar Rita lega
“Sama-sama!” jawab orang itu, mereka ngobrol dengan akrab. Daniel mengikuti kedua orang itu dari kejauhan. Orang itu dan Rita menyerahkan benda ke toko yang dituju sehingga selesai tugas Rita. Mereka beristirahat di cafe, lelaki teman tim Rita bergegas membelikan minuman untuk mereka berdua.
“Terima kasih Kak!” ujar Rita menerima minuman tersebut. Mereka mengobrol cukup lama, waktu makan siang hampir selesai, akhirnya mereka kembali ke kantor. Melihat keakraban Rita bersama lelaki lain membuat Daniel cemburu, walaupun ia belum menyadari perasaan itu adalah cemburu.
Daniel kembali ke ruangannya, dikepalanya Rita yang sedang tersenyum dan tertawa pada lelaki teman timnya mengganggu pikirannya, dan membuatnya stres. Jika stres, lambungnya mulai merasa sakit.
“Aduhh..lambung ku” keluhnya, ia segera pergi ke klinik untuk memeriksa lambungnya.
“Anda sudah makan pak Daniel?” tanya dokter klinik
“Siang ini? Agaknya belum, eh aku lupa”
“Coba makan pak Daniel. Tidak baik membiarkan lambung kosong terus menerus karena ia akan terus mengeluarkan asam untuk mencerna makanan. Jika terus berlanjut kosong, dinding lambung anda akan rusak karena asam lambung. Kalau lambung sudah rusak efeknya bisa kemana-mana pak Daniel!” dokter menjelaskan panjang lebar
“Iya aku tahu, hanya saja beberapa hari ini nafsu makan saya hilang” keluh Daniel
“Mungkin Anda stres karena pekerjaan?”
“Mungkin juga, jadi Anda menyarankan apa?” tanya Daniel
“Saya akan memberikan obat lambung, tapi sebenarnya belum perlu, Anda hanya harus makan saja. Obat ini untuk berjaga-jaga saja” dokter klinik memberikan obat maag. Setelah mendapat obat Daniel keluar dari klinik, ia tidak melihat Rita memperhatikannya dari jauh.
“Pak Daniel sakit?” tanya teman satu timnya
“Maagnya kumat katanya” jawab salah satu temannya
“Kok kamu tahu?”
“Tadi aku di situ, aku ingin meminta pembalut, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka”
Rita merasa prihatin dengan kondisi Daniel, walaupun rasa sukanya tidak terbalas tapi ia juga tidak ingin orang yang ia sukai jatuh sakit.
Rita mengambil bekal makan siangnya,entah kenapa ia selalu membawa bekal padahal ia kini makan di kantin. Hari itu, ia tidak sempat makan di kantin karena tugas luar, ia menyantap makan siang di ruangannya. Anggota timnya masih mengerjakan tugas luar, sedangkan ia telah selesai sejak tadi. Rita melihat kotak makan siang bertingkat tiga, entah kenapa hari itu ia merasa harus membawa banyak bekal. Ia teringat tentang Daniel kemudian ia segera ke lantai paling atas untuk menemuinya. Ketika sampai di lantai atas yang sepi, karena beberapa orang sibuk di ruangannya masing-masing. Rita masuk ke ruangannya, ia mencari airpodsnya. Tanpa sengaja Daniel yang baru keluar dari ruangan Radian untuk mengambil sesuatu melihat seseorang di ruangan Rita.
“Hey!” tegurnya
“Astaghfirullah!” Rita kaget
“Oh Kamu! Saya pikir penyusup” ujar Daniel, ia kaget Rita ada di situ, hatinya senang tapi juga sebal.
“Saya cuma sebentar kok pak, saya mencari airpod”
“Airpod?”
“Iya airpod, seperti earphone warnanya hijau”
“Apa kamu menjatuhkannya?” Daniel berpura-pura ikut mencari, padahal ia yang menyimpan airpodnya. Ia ingin berlama-lama dengan Rita. Tiba-tiba perutnya berbunyi lebih keras dari biasanya.
“aduuh...perut ku ini benar-benar deh!” keluhnya
“Anda gak apa-apa Pak?” Tanya Rita, ia membantu Daniel duduk
“Anda lupa makan lagi ya?” tanyanya khawatir
“tugasku banyak, apalagi setelah kamu pergi. jadi dobel-dobel” keluh Daniel
“Maaf pak, eh saya masih ada bekal. Bukan sisa pak, tumpukan ketiga biasanya untuk cemilan bersama anggota tim, tapi mereka sedang di luar “ Rita membuka kotak makannya
__ADS_1
“Eh nugget dan apa ini?”
“Itu lemper goreng pak”
“Lemper?”
“kalau di Indonesia biasanya dibungkus daun pisang lalu dibakar, tapi karena di sini susah daun pisang jadi lempernya saya goreng saja”
“ini seperti nasi?”
“Iya, nasi ketan, dengan isian suwiran ayam”
“Walau sibuk kamu tetap membuat ini?”
“Saya selalu memasak kalau banyak pikiran pak!”
“Oh..kamu banyak pikiran juga? Memangnya kamu memikirkan apa?”
“Banyak deh, sulit untuk dijelaskan” ujar Rita tersenyum, ia senang Daniel menyukai masakannya
“Rit, kamu gak mau kembali ke sini?” tanya Daniel
“Enggak ah, pak Radian galak sekali. Beliau langsung menuduh tanpa mendengar alasan, Rita sangat tidak suka orang seperti itu” ujar Rita berterus terang
“Tapi marahnya pak Radian ada benarnya lho, kamu berkendara sembarangan bisa membahayakan diri kamu sendiri, apalagi mengejar pencuri. Syukurnya pencuri itu tidak memakai senpi atau sajam kalau tidak kamu bisa terluka”
“Iya, Rita tahu. Tapi melihat orang berteriak minta tolong apa kita harus diam saja? Apalagi kita punya kemampuan untuk menghentikannya”
“Kamu senang menolong orang ya?”
“Mungkin jadi seperti ketagihan pak, melihat orang yang kesulitan sebisa mungkin kita bantu, apa Rita salah pak?”
“Kamu baik hati, tapi kurang perhitungan. Seharusnya kamu juga harus memikirkan keselamatan mu. Sebenarnya itu yang diminta kakek pada mu bukan berarti kamu gak boleh membantu orang”
Rita diam saja mendengar nasehat Daniel, tanpa terasa bekal makan siang Rita telah habis disantap Daniel.
“Wah habis semuanya” Daniel tampak puas ia menyusun kembali tempat bekal itu.
“Sepertinya saya harus merelakan airpodnya” ujar Rita, ia hendak kembali ke lantainya
“Kamu mau kembali sekarang?” tanya Daniel, seolah menahan Rita pergi
“Iya pak, sebentar lagi tim saya berkumpul”
“Tapi liftnya di sana Rit!” Daniel mengingatkan karena Rita mengambil arah berlawanan dengan letak lift
“Saya mau lewat tangga darurat saja pak” ujarnya
“Kenapa?”
“Sepertinya beberapa orang di kantor ini tidak suka melihat saya terlalu akrab dengan Anda, pak Daniel dan itu akan menyulitkan di tempat saya yang sekarang. Saya permisi dulu” Rita segera menuju tangga darurat, Daniel hanya melihatnya menjauh, ia sedih tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Baik Rita maupun Radian sama-sama keras kepala.
Keesokan harinya, seperti direncanakan Radian datang khusus ke lantai 26 bagian pemasaran, orang-orang dilantai tersebut terkejut dengan kedatangan direktur utama ke lantai 26.
“Bu Sharon ada?” tanya Radian dengan suara penuh wibawa.
“Ada pak, tunggu sebentar” Resepsionis menghubungi bu Sharon, beberapa menit kemudian bu Sharon datang menemui Radian.
“Pak Radian, apa kabar! Mari pak, kita ke ruangan lain” ajak Sharon, ia tidak menyangka Radian datang sendiri ke lantainya.
“Silakan duduk pak!, Emir, tolong kopi dua ya?” pinta Sharon pada asistennya
“Ada apa pak Radian sampai datang kemari, padahal bapak bisa memanggil langsung meminta saya ke ruangan Anda?” tanya Sharon
“Ya, sebenarnya selain ada yang ingin saya sampaikan, saya juga ingin melihat lantai lain selain lantai 35 dan 36”
“Hmm...begini bu, saya ingin meminta asisten saya, Rita kembali” ujar Radian langsung tanpa basa-basi
“Eh? Rita? Yang mana ya?” tanya Sharon, ia tidak mengingat orang yang ia rekrut sebelumnya
“Rita, orang yang kamu bilang menyelamatkan pekerjaan mu, seminggu lalu?”
“Oohhh...Rita yang itu!”
“Aku sudah memikirkannya, waktu itu kamu bilang mau memberi hadiah padanya, tapi malah menariknya dariku, jadi apa hadiahnya?” tanya Radian heran, Sharon tersenyum, ia merasa direkturnya ini agak telat mikirnya
“Begini pak, sebelum saya meminta Rita dari pak Radian, saya mendengar dari orang-orang kalau Anda memarahinya habis-habisan karena sudah membantu orang kesusahan. Jadi hadiah buat Rita yaitu membebaskannya dari pak Radian” ujar Sharon tanpa sungkan.
“OH begitu maksudnya, apa Rita kelihatan kesusahan di mata mu?”
“Sepertinya begitu pak, karena hari ketika saya merekrutnya, saya bilang padanya untuk kembali ke saya lusa, tapi ia ingin mempercepat, sepertinya ia ingin menghindari Anda” ujar Sharon menjelaskan
“Apa kamu tahu, Rita itu siapa bu Sharon?”
“Anak SMA yang sedang mengerjakan tugas sekolah kan?”
“Sepertinya Rita tidak berani jujur pada Anda bu Sharon”
“Oh ya? apa dia menyembunyikan sesuatu dari Saya?”
“Rita itu cucu bos Besar, cucu perempuannya pak Darmawan”
“Hah? Tapi cucu pak Darmawan lelaki kan?”
“Adalagi cucunya, selama ini ia tinggal bersama ayah angkatnya di desa. Setelah SMA ia pindah kemari untuk berobat”
“Dia cucu asli atau fotokopi eh maksud saya cucu kandung atau cucu angkat? Karena saya dengar pak Darmawan memiliki banyak anak asuh”
“Cucu kandung, dia adiknya Andi. Anda akan kesulitan jika pak Darmawan tahu cucunya di beri tugas berat”
“Tapi dia di sini untuk bekerja kan? Menyelesaikan tugas sekolah?” tanya Sharon, Radian menggeleng
“Rita sedang dihukum bekerja di sini oleh kakeknya, ia membuat kesalahan dan harus ditebusnya di sini”
“Apa Anda mengarang supaya saya melepaskan Rita?”
“Untuk apa saya mengarang? Coba deh Anda pikir, apa saya akan bersusah-susah kemari kalau Rita hanya anak SMA biasa?” ujar Radian, ia langsung bangkit dari kursinya.
“Saya harap bu Sharon bisa mengembalikan Rita hari ini, oh iya Anda juga telah berjanji memberinya bonus bukan?” ujar Radian, ia meninggalkan ruangan. Sharon terduduk lemas, ia akui seminggu terakhir ia membuat Rita berkeliling, karena ia mendengar keakraban Rita dengan Daniel.
“Sepertinya pak Radian hanya ingin menakuti-nakuti ku saja. Aku dengar Rita itu keponakannya si Jake!” pikir Sharon. Ia penasaran, lalu ia pergi ke lantai 35 bagian HRD.
“Aku ingin bertemu pak Jake “ ujarnya
“Sebentar bu!” resepsionis menelpon ruangan pak Jake untuk memberitahukan kedatangan Sharon
“Maaf bu, pak Jake sedang ada tamu” ujar resepsionis. Sharon tahu itu hanya alasan Jake saja, ia segera menghambur dan masuk ke ruangan tempat Jake berada
“Bu Sharon!” resepsionis berusaha menahannya.
“Jake aku ingin bicara!” ujar Sharon langsung , ia melihat Jake sedang meeting dengan beberapa orang.
“Maaf pak!” ujar resepsionis, ia tak kuasa mencegah Sharon
“Tak apa-apa, kalian keluar dulu nanti kita lanjutkan.” Ujar Jake, orang-orang itu keluar akhirnya ia hanya berdua dengan Sharon.
“Baiklah Ratu Ular, masih saja seenaknya” ujar Jake meledek
“Aku mau tanya, apa Rita itu keponakan mu?” tanya Sharon
__ADS_1
“Rita? Rita siapa?”
“Pemagang baru tiga minggu, katanya kamu sendiri yang menugaskannya langsung di kantor pak Radian?”
“Hmm...”Jake menelpon Andrew, ia mendapat penjelasan dari Andrew.
“Oh Rita yang itu!”
“Jadi benar dia keponakan mu?”
“Bukan! Aku ditelepon langsung oleh pak Darmawan untuk menerimanya bekerja dan menugaskannya di kantor pak Radian” jawab Jake. Tiba-tiba Sharon merasa dadanya sesak
“Hah...hah..hah” ia terserang panik
“Hey kamu kenapa?” Jake memberikannya minum
“Jadi benar rupanya Rita itu cucu bos besar” gumam Sharon
“Aku dengar sih begitu”
“Aku pikir dia keponakan mu”
“Kalau keponakan ku kamu mau menyiksanya ya?” ujar Jake tersenyum geli
“Kelihatannya kamu senang sekali”
“Yeahh...akhirnya ..karma itu memang ada ya? kamu yang dulu begitu ribut karena aku merekrut salah satu keponakan ku, sekarang justru kamu kena batunya!” Jake tersenyum puas
Tok-tok!
“Masuk!”
Seorang staf wanita dengan rok pendek datang dan memberikan berkas pada Jake, dengan sengaja Jake menjatuhkan berkas di mejanya, sehingga ia bisa melihat staf itu membungkuk dengan mata mesumnya.
“Hey!, sudah biarkan saja!” ujar Sharon, staf itu kaget dengan suara Sharon yang menggelegar, lalu ia pergi dari ruangan Jake.
“Kamu itu masih saja! Itu pelecehan tahu!”
“Aku gak menyentuhnya? Aku Cuma melihat bokongnya, apa salah?”
“Itu juga termasuk bentuk pelecehan! Aku mungkin terkenal sebagai ular, tapi aku tidak rela jika kaum ku direndahkan!” ujar Sharon galak
“Direndahkan? Bagaimana?”
“Aku melihat semua staf perempuan di sini menggunakan rok pendek ketat, apa kamu tahu itu bisa mengundang pelecehan? Kalau aku mengadakan pengaduan di sini, kita lihat berapa staf wanita yang sudah kau lecehkan!” ujar Sharon
“Tenang lah! Jangan emosi” Jake agak takut dengan ancaman Sharon
“Aku akan menyuruh mereka mengenakan rok panjang atau celana panjang! Kamu puas?” ujar Jake dengan wajah kesal
“Benar ya? aku akan random kesini, kalau masih aku lihat staf di sini berpakaian seksi, aku akan membawa kasus ini ke rapat direktur, supaya kamu dipecat!” ujar Sharon
“Kamu masih saja gak asyik, gak heran hampir 40 tahun masih single!” gumam Jake, tapi masih terdengar Sharon
“Biar saja, dari pada dapat lelaki mesum macam kamu!” balas Sharon, ia kembali ke lantainya dengan perasaan kesal. Niat awalnya mengerjai Jake dan Rita yang dekat dengan Daniel justru kini ia yang berada dalam kesulitan. Setelah berpikir dan mempertimbangkan akhirnya ia memutuskan.
“Dave, bisa tolong panggil Rita ke kantor ku?”pinta Sharon melalui interkom
“Rita? Rita mana ya bu?” tanya Dave
“Rita, pemagang baru. Kamu bisa mencarinya di tim pemagang!”
“Baik bu!” Dave segera mengerjakan perintah Sharon, beberapa menit kemudian
“tok-tok!”
“Masuk!”
“Ibu memanggil saya?” tanya Rita
“Duduk Rit! Waduh..maaf ya saya sibuk baru bertemu sekarang” Sharon menyalaminya
“Gak apa-apa bu!”Rita duduk dengan perasaan canggung
“Jadi kamu sudah seminggu ya di bagian ini?”
“Iya bu”
“Bagaimana menurut mu pekerjaan kami?”
“Hmm...berat ya bu? Saya mengamati dan menjalani pekerjaan di sini, wahh...saya salut sama orang-orang di sini.”
“Apa itu pujian?” tanya Sharon
“Itu pujian bu, ternyata menjadi seorang sales itu harus punya mental dan fisik yang kuat. Ya kuat terhadap penolakan, kuat juga menghadapi kerasnya perjalanan. Kadang kita sudah susah payah menjelaskan eh kliennya tidak tertarik, atau bahkan menawar seenaknya.Yang lebih mengesalkan, kita sudah susah payah menawarkan produk kita eh mereka malah membeli dari kompetitor, rasanya ingin saya acak-acak saja ruang kerja klien itu” ujar Rita panjang lebar.
Sharon tertegun mendengar pengalaman Rita dalam seminggu ini, ia menjadi kagum kalau remaja di depannya ini bukan anak kaya manja pada umumnya. Ia juga cerdas dan pandai membaca situasi. Yang Rita sebutkan tadi merupakan dukanya menjadi seorang sales person.
“Ehem..iya memang, kamu mengingatkan saya pada perjuangan saya dulu”
“Jadi bu, kenapa saya dipanggil kesini?” tanya Rita
“Begini Rita, kamu kan sudah belajar banyak dari divisi saya, jadi saya sudah menepati janji saya ke kamu untuk berbagi ilmu?”
“Iya bu?”
“Nah, ini bonus kerja keras mu selama seminggu ini, mulai siang ini dan seterusnya kamu tidak usah kemari lagi” ia menyerahkan amplop putih berisi uang.
“Eh kenapa bu?”
“Karena kamu bahkan belum 17 tahun, aku akan dihukum jika ketahuan mempekerjakan anak di bawah umur” ujar Sharon beralasan
“Jadi bu Sharon tidak membutuhkan saya lagi?”
“Sebenarnya saya ingin kamu lebih lama di sini, tapi ..sudahlah kamu lebih cocok bersama pak Radian. Terima kasih Rita atas kerja samanya!” Sharon dengan gaya bicara akrab dan manis, tanpa sadar Rita sudah diambang pintu keluar.
“Baik bu Sharon, terima kasih” Rita meninggalkan ruangan Sharon dengan heran, ia mengantongi amplop dari Sharon dan merapikan tasnya. Ia bingung harus kemana.
“Pak Dave!”
“Ya?”
“Tadi bu Sharon bilang, siang ini saya sudah tidak bekerja lagi di sini”
“Iya lalu?”
“Saya harus bagaimana?” tanya Rita bingung
“Sebentar!” Dave menelpon Sharon menanyakan
“Eh!”
“Ya Pak?”
“Kata bu Sharon, kamu tanya ke bagian HRD untuk penugasan kamu kembali ke pak Radian”
“Oh begitu, terima kasih!” Rita membawa kardus kecil berisi barang-barangnya menuju ke HRD lantai 35
-bersambung-
__ADS_1