Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 96: Semesta yang lain


__ADS_3

Satu jam sebelumnya


“Dek Rita silakan berganti pakaian dengan ini” perawat memberikan pakaian rumah sakit


Rita menuruti perintah suster, pakaiannya dibawa suster untuk di desinfektan. Rita memasuki kamar bertempat tidur 3 orang. Rita berbaring di salah satu ranjang, tangannya menggenggam tiket


“Padahal setelah dari RS mau langsung nonton, tiket ini agak susah dapatnya karena baru keluar filmnya. Daniel sudah bersusah payah mendapatkan tiket ini” Rita membaca tulisan di tiket


“Multiverse Madness \= kegilaan semesta yang banyak!, apa betul di kehidupan ini ada banyak semesta? Banyak planet dan galaksi itu sudah dibuktikan keberadaannya, tapi semesta yang lain? Kira-kira siapa gue di semesta yang lain?” lama ia memainkan tiket itu di tangannya, lama kelamaan rasa kantuk menyerang, ia pun terlelap.


Di dalam mimpinya, ia melihat seseorang yang melepaskan gas beracun di rumah sakit. Di tempat lain ia juga melihat pertengkaran Joey dan Silvy, ia juga melihat apa yang dilakukan Silvy pada Joey, hanya saja...


“Hei bangun!!!” Rita mengenali suara itu, perlahan ia membuka matanya


“Eh??” Rita masih belum tersadar penuh,


“Cepetan bangun!” ujar Andi dengan suara agak kasar


“Kak Andi kog bisa kesini?” tanya Rita bingung, ia mengejapkan matanya


“Gue ditelepon disuruh jemput lo di sini!” ujar Andi ketus


“Siapa yang nelpon? Pihak RS? Apa semua sudah beres?”


“RS apaan? Lo ngaco ya?”


“Kenapa sih kak Andi marah-marah terus?” tanya Rita yang mulai kesal dengan kakaknya


“Tentu dong gue kesel, gue lagi online, tiba-tiba di telepon pihak sekolah, suruh jemput lo!”


“Pihak sekolah? Ini bukan rumah sakit?”


“Rumah sakit pala lo, udeh, cepetan, gue udeh ditungguin nih!” Andi melempar tas sekolah ke arah Rita, dengan sigap Rita menangkapnya. Ia belum menyadari perubahan pada dirinya, tak lama kemudian seorang lelaki muda berpakaian training masuk ke ruangan itu, kalau dari penampilannya , sepertinya ia seorang guru.


“kamu sudah mendingan Rita?” lelaki itu memegang kepala Rita, dan Rita menghalaunya


“Anda siapa?” tanyanya


“Pak, apa adik saya ini terjatuhnya keras? Dari tadi kelihatannya ia kebingungan?” tanya Andi, kali ini nada suaranya seperti andi yang normal dan sangat perhatian.


“Mungkin agak keras, tadi ketika ia melakukan putaran di palang paralel, tiba-tiba palangnya patah dan ia terjatuh”


“Tapi pak bukannya ada matras di bawahnya?” tanya Andi lagi


“Nah, itulah anehnya, seharusnya ada, tapi waktu Rita di temukan ia sudah tergeletak di lantai tanpa matras.”


“Apa selama ini adik saya berlatih sendiri pak? Bukankah seharusnya ada yang mendampingi?” tanya Andi memburu


“Kami akan mengecek CCTV di sekitar gym, tapi kelihatannya ia sudah tidak apa-apa, tapi kalau kamu sangat khawatir, sebaiknya dicek ke rumah sakit!” ujar bapak guru itu


“Baiklah pak, akan saya lakukan, saya harap bapak bisa menemukan penyebab matras pelindung hilang.”


Setelah itu mereka memohon ijin pulang, Andi berjalan di depan, sementara Rita mengikuti dari belakang, ia melihat-lihat keadaan sekeliling, kemudian ia mengejar Andi dan berjalan di sampingnya.


“Kak, ini ada di mana?” tanyanya, Andi melihat ke arah Rita, wajahnya terlihat khawatir, lalu ia melihat jam tangannya


“Sebenarnya gue mau bawa Lo ke RS untuk rongent kepala, tapi waktunya gak cukup, papa sudah nelpon dari tadi minta di jemput”


“Eh papa? Papa siapa?” tanya Rita heran, ia menghentikan langkahnya


“Rit, begini deh, untuk sementara kebingungan Lo itu disimpan dulu, kita ke bandara SoeTa untuk jemput papa!”


“Bandara Soeta? Berarti kita di Indonesia dong?” ujar Rita girang


“Memangnya di negara mana, coba sini sebentar!” Andi mendekati Rita dan memegang dahinya


“Panas enggak, matanya juga normal, Lo gak enek kan?”


“Engga! Kenapa memangnya?”


“Ya sudah, ayo ngomongnya dilanjut di mobil!”


Mobil MPV hitam telah terparkir di depan pintu depan sekolah, supir membukakan pintu untuk mereka berdua, sebelum memasuki mobil Rita melihat sekeliling sekolah


“Beneran ini, sekolahan di Indonesia!” ujarnya dalam hati.


“Ayo masuk!” perintah Andi, Andi duduk di samping supir, sedangkan Rita duduk di belakang.


Setelah seat belt terpasang, mobil pun meluncur keluar dari lingkungan sekolah.


Rita melihat ke luar jendela, ia mengingat daerah tersebut


“Inikan wilayah Jaksel ya Kak?” tanyanya


“He eh!, kenapa Lo lupa ya?”


“Enggak, heran saja, sekarang benar-benar memperhatikan jalanan!”


“Memang selama ini memperhatikan apaan?”


“Apa ya? hehehe!”

__ADS_1


“Dasar! Btw mama nelpon, katanya Lo bolos les piano lagi?”


“Les piano?”


“Iya, jadi selama gak les lo kemana?”


“Kemana ya? aku juga gak inget kak!” jawab Rita sekenanya, karena ia betul-betul tidak tahu


“Hmm.., Lo gak apa-apa kan?”


“Maksud kakak?”


“Gue denger dari adiknya Indra, katanya kemarin Lo di tahan di kamar mandi sama gengnya Amanda?”


“Hah? “ Rita kaget mendengar kabar itu, karena ia tidak mengingatnya sama sekali


“Apa betul? Sebaiknya Lo lapor kalau ada yang bully Lo!. Gue tahu, kakeknya si Amanda memang yang punya sekolah itu, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya sama kita, kita kan bayar di sekolah itu!”


“Kita? Emang kak Andi juga sekolah di situ?”


“Lah, gue kan duluan masuk, setelah gue lulus, lo baru masuk!”


“aku kog lupa ya? hehehehe” Rita berusaha tertawa, ia sungguh-sungguh bingung, dimana dia sekarang, ia mencubit tangannya dengan keras


“Aduhh! “ erangnya keras


“Dasar B*g* , nyubit diri sendiri, hahaha!” Andi tertawa geli melihat kelakuan adiknya dari kaca spion


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di bandara. Seorang lelaki paruh baya, bertubuh tegap agak chubby, tingginya sekitar 180 cm, kulitnya putih seperti orang Cina, rambutnya lurus dipotong pendek rapi, berkaca mata. Ia memanggil Andi


“Andi!”


Andi menoleh, ia menarik Rita yang celingukan, dan berjalan lambat di belakangnya


“Papa!” Andi menyalami lelaki itu.


“Rit, kog diam saja? Salam dong ini papa!” ujar Andi


Rita menatap lelaki yang disebut papa oleh Andi, ia terdiam kaku, tidak percaya, selama ini ia hanya mendengar tentang papanya Eka Darmawan, sekarang ia melihatnya langsung.


“Rita? Kog diam saja?” tanya Eka heran


“Oh!” Rita menghampiri Eka, lalu memeluknya erat, ia sangat bahagia bisa bertemu papanya


“Hei!!! Kita gak bertemu seminggu, kamu kangen papa ya?” Eka mengusap kepala Rita dengan sayang.


“Pa, bagasinya mana?”


“Asyiiik, kita makan-makan!” Andi bersorak senang, ia mengikuti Eka yang merangkul Rita berjalan keluar dari terminal bandara.


Selama di mobil, Eka sibuk dengan tabletnya, sepertinya ada pekerjaan yang harus ia selesaikan saat itu juga, sementara Andi dan Rita makan burger yang mereka beli secara drive thru


“nih Pa!” Rita menyuapi burger ke Eka, dan Eka memakannya dengan lahap


“Hahaha, celemotan!” Rita mengambil tissue dari depan kursinya dan mengelap bibir Eka


“Terimakasih sayang!” ujar Eka tersenyum.


“Pa, kita jadi ke tempat kakek bulan depan?” tanya Andi


“Ke New Zealand?” tanya Rita


“Bukan, Swiss!” jawab Andi


“Enggak Ndi, kakek yang mau kesini!”


“Yahhh, kenapa? Kita aja yang kesana pa!” desak Andi


“Gak tahu tuh kakek, mungkin karena kesal sama nenek yang minta pulang terus kesini!” ujar Eka


“Huuu!” keluh Andi


Mobil telah tiba di rumah, semuanya masuk ke dalam rumah, Rita berjalan di belakang Andi, ia tidak mau terlihat seperti orang lain di rumahnya sendiri.


Rumah besar, bergaya eropa, besarnya tidak sebesar rumah kakek Sugiyono, tapi tampak depan terlihat megah dan mewah.


“Ternyata di dunia lain pun aku jadi orang kaya!” gumam Rita


“Ngomong apa Lo?” tanya Andi


“Hah? Enggak, kak Andi dengarnya apa?”


“Kak Eka!!!” suara perempuan muda yang terdengar familiar di telinga Rita


“Tante Metha?”


“Ah Rita!!! Sudah besar ya kamu!!, ih terakhir kita ketemu kamu masih 7 tahun, sekarang sudah 17 tahun, cantik dan langsing!” puji Metha, ia mencium pipi kanan dan kiri Rita.


“Tante lebih ramah” ujar Rita dalam hati


“Mas, kopernya mana?” tanya Ratna

__ADS_1


Rita melihat mamanya, Ratna di dunia ini lebih gemuk, walaupun wajahnya tetap cantik


“Nanti pak Amir yang bawa kemari”, Eka menghampiri Ratna dan mengecup keningnya


Rita melihat pemandangan itu dengan takjub,


“wah papa dan mama paket lengkap!” pikirnya


“Kalian mandi dulu lalu kembali ke sini, Metha ingin memperkenalkan tunangannya, sebentar lagi ia datang!, “ perintah Ratna kepada Andi dan Rita


“Rita!, setelah makan malam, kamu temui mama di ruang kerja papa ya, ada yang harus kita bicarakan!”


Rita mengangguk, dengan langkah ragu ia menuju kamarnya, sebelumnya ia mencari kamarnya, syukurlah seorang asisten rumah tangga membantunya membawa tas sekolahnya dan menaruhnya di kamar Rita


“Terima kasih!” ujar Rita tersenyum, art tersebut mengangguk dan meninggalkan Rita sendirian di kamar itu. Rita melihat-lihat sekeliling kamarnya yang bernuansa hijau pastel, warna kesukaannya. Betapa terkejutnya ia melihat foto dirinya bersama Tomi terpampang di meja belajarnya.


“Hah? Kak Tomi?” Rita menitikkan air mata, orang teristimewa di hatinya, seperti hidup kembali, ia sungguh senang. Di bukanya laci meja belajarnya, ia melihat beberapa hiasan pita hijau, biru dan pink.


“Banyak amat pita di sini” gumam Rita, kemudian ia mengelilingi kamarnya, terpajang prestasinya di bidang senam. Sepertinya ia telah banyak menjuarai banyak kejuaraan. Foto-fotonya terpasang di dinding kamarnya yang luas.


“Wah, gue orang hebat rupanya” gumamnya lagi, ia membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian untuk makan malam, karena akan ada tamu yang datang. Setelah sholat maghrib, Rita keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan, di sana telah menunggu kedua orang tuanya, Andi , Metha dan tunangannya.


“Nahhh, akhirnya bintang kita sampai juga! “ Ledek Andi


“Andi!, jangan memancing kegaduhan!” ujar Ratna memperingati


“Duduk dekat papa ya sayang!” Eka menarik kursi di sampingnya, Rita mengangguk, dan duduk di kursi itu


“Nah, sudah lengkap ya sekarang, oh iya, Rita belum kenal ya? Rita ini Daniel tunangan tante, Daniel ini Rita keponakan ku satu-satunya!” ujar Metha memperkenalkan


Daniel tersenyum melihat ke arah Rita, karena meja makan itu cukup besar, sehingga Daniel hanya menganggukkan kepalanya, sementara Rita melihatnya dengan tatapan heran bercampur sedih, tidak ada yang memperhatikan wajah Rita saat itu, karena semuanya sudah sangat kelaparan. Makanan terhidang dengan cukup mewah, beberapa diantaranya hidangan kesukaan Rita, tapi itu tidak membuatnya senang, selera makannya mendadak hilang.


“Sedikit sekali kamu makannya Rit?” tanya Metha melihat makanan di piring Rita


“Dia lagi diet untuk pertandingan mendatang tante!” ujar Andi


“Kak, apa normal Rita makannya seperti itu? Kamu gak bulimia kan nak?” tanya Metha khawatir


“ini Cuma sementara saja Met, nanti setelah pertandingan, makannya kembali segunung!” canda Eka, yang diiringi tawa semua orang yang ada di tempat itu


Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga, Metha duduk berdampingan dengan Daniel, sedangkan Rita duduk agak jauh dari tempat itu, tapi ia terus menatap ke arah Daniel.


“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya Eka


“Kira-kira 2 bulan lagi kak, aku mengurus visa orang tuanya Daniel agar bisa datang kemari!”


“Oya? Memangnya mereka ada di mana?” tanya Ratna


“Ah iya, aku belum cerita ya, Daniel ini orang Korea Selatan, ia bekerja di sini sudah hampir 5 tahun, kami bertemu di acara pembukaan kantor baru perusahaan Daniel, perusahaanku yang juga partner ikut diundang.”


“Sudah berapa lama kalian dekat?” tanya Rita tiba-tiba


“Hmm..sudah hampir 2 tahun !” jawab Daniel, aksen Koreanya seperti Daniel di dunianya Rita. Daniel menggenggam tangan Metha dan menatapnya dengan mesra.


“Huh, kayak orang mau nyebrang, pegangan terus!!” batin Rita, ia jadi mengerti perasaan Rendy yang melihat ia dan Daniel terus berpegangan tangan di mobil.


“Rita, mama mau bicara sama kamu!, maaf ya Metha, Daniel kami tinggal dulu.” Ratna mengajak Rita ke ruang kerja Eka


Rita mengikuti Ratna dari belakang, di kepalanya terus bertanya-tanya,


“Kenapa ia bolos les? Ada apa dengan Rita di sini?” tanyanya heran


“Duduk!” Ratna menarik kursi putar dan menyuruh Rita duduk di situ, sedangkan ia duduk di depannya


“Ada yang mau kamu ceritakan ke mama?” tanya Ratna dengan nada lembut


“Cerita apa ya Ma? Hehehe..” Rita menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak gatal


“Kamu ada masalah apa di tempat les? Kenapa sudah 3x pertemuan kamu gak datang? Kamu gak tahu ya? kalau gak datang tetap ditagih bayar les!”


“Mahal ya ma?” tanya Rita


“Tentu saja! Memangnya kamu sudah bisa cari duit sendiri?”


“Aaaaaa”


“Mama tahu uang kamu banyak, hadiah dari kompetisi, tapi tetap saja nak, kamu gak boleh sembarangan menghabiskan uang!”


“Tapi Ma, Rita kan gak minta les piano!” ujar Rita


“Siapa bilang? Mama pegang kog perjanjian kita!”


“Hah? Perjanjian apa ya?”


“Mama tahu, kamu itu dari kecil gampang bosenan, waktu itu minta les akting, Cuma datang sekali, lalu les menggambar, Cuma datang 2x, makanya ketika kamu memohon-mohon minta les piano, mama langsung minta perjanjian dari kamu, kalau kamu berhenti di tengah jalan, uang jajan kamu mama potong untuk melunasi uang les piano kamu!”


“Masa, aku bikin perjanjian absurd kayak begitu ma?”


“Gak percaya? Nih!” Ratna memberikan secarik kertas yang tertulis perjanjian antara Rita dan Ratna. Agaknya Rita mau tidak-mau harus mematuhi perjanjian tersebut. Rita keluar dari ruang kerja dengan wajah kusut, ia memegang kertas perjanjian yang sama kusutnya dengan wajahnya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2