
"Rita...Rita kamu baik-baik saja Nak?" Suara mama Ratna terdengar sayup-sayup beriringan dengan suara roda ranjang rumah sakit.
"Uh..uh..uh..." rintihan Rita dengan wajah tertutup masker oksigen. Seluruh tubuhnya memucat karena darah yang terus keluar, dokter berusaha menghentikan pendarahan di dadanya.
"Ibu tunggu di ruang tunggu pasien, kami akan mengabarkan jika operasi selesai!" Ujar petugas medis kepada Ratna yang membalasnya dengan mengangguk pelan.
24 jam sebelumnya
"Rit, maafin gue ya?" Ujar Kiki sambil menangis
Rita bangkit dari tempat tidurnya.
"Kiki? Ini di mana?" Rita yang baru tersadar dari pingsannya yang cukup lama.
"Lo sudah 2 hari pingsan" ujar Kiki
"Pingsan? Ini di mana?" Rita berusaha duduk sambil melihat sekeliling.
"Di penampungan!" Jawab Kiki pelan
"Penampungan? Maksud Lo?" Rita masih bingung dengan ucapan Kiki yang lirih dan hampir tak terdengar.
"Rit maaf ya, gue harus membawa Lo kemari, kalau enggak mereka akan membunuh Andre!"
Tangis Kiki mulai pecah
Rita memperbaiki posisi duduknya, ia melihat sekelilingnya.
"Ini di mana? Kenapa dengan Andre?"
"Andre terjebak hutang rentenir untuk melunasi hutang motor mamanya Ida. Tapi ia gak bisa bayar, jadi ia dikurung di sini. Kalau gak bayar juga, organ tubuhnya akan dijual untuk melunasi hutang-hutangnya!" Tangis Kiki semakin keras.
"Terus?"
"Rentenir yang meminjamkan uang bilang, kalau Andre mau selamat, gue harus membawa Lo kemari!"
"Siapa rentenirnya?"
"Gue gak tau Rit, tapi gue pikir Lo pasti bisa membebaskan diri dari mereka, makanya gue membawa Lo kemari!"tangisan Kiki mulai reda
" Lo cinta banget ya sama Andre? sampai-sampai ngorbanin sahabat Lo sendiri"ujar Rita ketus
"Maaaf Rit! Gue terpaksa!"Kiki dengan suara menyesal
"Terpaksa apaan? Masa gue harus ngorbanin diri untuk dia? Hubungannya apa sama gue?" Rita mulai marah.
"Gue hamil Rit!, Kami berencana menikah setelah Andre lulus SMA!" Ujar Kiki pelan, ia mengelus perutnya.
"Ah, gila Lo Ki! Kog bisa? Ya Ampuuunn...Lo masih muda Ki, waduuhh!" Rita panik dan menatap Kiki kesal
"Gue salah Rit! Gue terbawa suasana, Lo pernah kan rasanya disayang? Itu yang gue rasakan dari Andre!" Ujar Kiki masih berurai air mata.
"Sudah berapa bulan?" tanya Rita
"Gue telat sudah tiga minggu!"
__ADS_1
"Tiga minggu? Lo yakin? Sudah ke dokter?"
Kiki menggeleng
"Kog Lo gak kelihatan menyesal Ki?" Tanya Rita kesal
"Perasaan gue campur aduk Rit, gue bingung, senang dan sedih bersamaan!"
"Kog bisa-bisanya ada senangnya? Apalagi belum nikah, Lo kan masih SMA! Lo yakin si Andre bakal nikahi Lo?"
Kiki mengangguk
"Seminggu lalu ia dan mamanya datang ke rumah untuk ketemu mama dan papa"
"Nyokap Lo bukannya lagi sakit?"
"Iya,tapi mereka menerimanya, dan meminta Andre menyegerakan pernikahan!"
"Hmmm...."Rita bergumam, matanya terlihat sangat kesal
"Terus Lo tau siapa rentenir itu?"
"Cuma tahu sedikit, mereka bilang tentang Bali"
"Bali? Hmmm..." Rita berpikir sejenak"ahhhh.. jangan-jangan orang-orang itu!"
"Orang itu?"kiki bingung
"Di Bali gue pernah menggagalkan human traficking, penjualan manusia ke luar negeri, dengan modus tenaga kerja. Mereka gagal karena tempat persembunyiannya terbakar!"
"Terus, kenapa Lo juga ditahan di sini?"
"Perjanjian sebelumnya, gue hanya menyerahkan Lo di tempat tertentu. Supaya mereka ga curiga, gue ikuti kemauan mereka. Diam-diam gue memasukan hp gue ke belakang celana Lo Rit waktu Lo pingsan, di hp itu ada GPS-nya, makanya gue bisa melacak Lo sampai sini"
"Ada orang lain yang tahu kita di sini?"
" Gue ngirim email ke Dewa lewat hp nyokp, krna gue juga diawasi, hp gue disadap!"
"Lha, hp yg di pantat gue?"
"Itu hp lama gue Rit, bokap gue pasang tracking di situ"
"Untuk apa pasang itu di hp Lo?"
"Nyokap gue selalu mengancam bokap akan membawa gue pergi kalau mereka bertengkar, jadi bokap ngasih HP itu"
"Tapi kog...aduuuhh!"Rita mengaduh..
"Kaki gue kenapa nih?"
"Kemarin malam jempol kaki Lo terantuk kursi, kayaknya berdarah.Tadi gue sudah bersihin dan kasih betadine"
"Terimakasih, jadi Lo terperangkap di sini sama gue?"
"He eh..gue harus meyakinkan Lo aman Rit, gue kan yang menjerumuskan Lo" Kiki menyesal
__ADS_1
"Kenapa gak lapor polisi?"
Kiki membisikkan ke telinga Rita
"Kemarin gue sudah coba, tapi di sana gue mengenali, salah seorang dari orang-orang ini polisi"
"Kenapa gak ke Lisa saja? Om Gunawan pasti bisa dipercaya!" Rita memandang Kiki dengan kesal
"Sekarang ini Lisa dan keluarganya sedang pergi, dua kali gue ke rumahnya untuk minta tolong tentang Andre tapi gak ketemu, akhirnya terpaksa gue bawa Lo Rit" Kiki terlihat sangat menyesal
"Seharusnya lo beliin gue juga parasetamol, biasanya kalau luka itu gak cukup obat luar, obat dalam juga!" Rita membaringkan tubuhnya yang mulai demam
"Rit, Lo gak apa-apa?" Kiki meletakkan tangannya di dahi Rita
"Panas!" Ia bangkit dan berteriak ke penjaga
"Penjaga.. penjaga...orang ini sakit!" Teriaknya panik.
Salah satu penjaga melihat ke sel tempat Rita dan Kiki berada. Ia melihat Rita yang wajahnya memucat dan tubuhnya basah berkeringat.
"Harus bawa ke dokter!" Teriak Kiki
Penjaga itu melihat Kiki yang panik, kemudian ia pergi meninggalkannya. Selang beberapa waktu, ia membawa obat dan sebotol air mineral.
"Minumkan ini!" Perintahnya
"Apaan nih? Ini bukan racun kan?" Tanyanya setengah berteriak
"Kalau pengen teman Lo selamat, minumkan ini!, Kalau gak percaya, coba saja lo minum sebutir!" Ujarnya dingin kemudian ia pergi. Kiki memandang beberapa butir obat yang terbungkus plastik kecil bening.Ia mengambil 1 butir lalu meminumnya.Ditunggu sejenak reaksi obat, setelah yakin tidak terjadi apa-apa pada dirinya, ia meminumkannya ke Rita.
"Rit, ini diminum ya, kayaknya ini parasetamol, tadi gue juga sudah mencobanya!" Kiki membantu Rita minum obat lalu kembali membaringkannya. Kiki mengambil sapu tangan di tas kecilnya, perlahan ia mengusap keringat di dahi dan wajah Rita. Ia menangis sedih.
"Maaf ya Rit...maaf. .. tangisnya"
Rita menutup matanya dan tertidur.
"Ting.!"..bunyi notifikasi di ponsel, Dewa sedang rebahan di kamarnya setelah berputar-putar mencari informasi tentang Rita.
Dengan segan ia meraih ponselnya, dan membuka email dari Kiki, matanya terbuka lebar, lalu bangun.
Kemudian ia menelpon Reza, ayah Rita.
"Tuuttt...tuuttt..tuuutt!" Bunyi sambungan telepon yang tak kunjung diangkat. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Rita. Sesampainya di sana, ia tidak menemukan siapapun, rumah Rita sepi.berkali-kali ia mengetuk pagar rumah yang tingginya hanya sepinggang. Tetangga depan rumahnya keluar dan melihat ke arah Dewa.
"Dr.Reza di rumah sakit! Tadi malam dijemput ambulan, sepertinya kena serangan jantung!" Ujarnya.
"Ada orang lain bersamanya?" Tanya Dewa
"Enggak ada, biasanya ada Rita, tapi dari kemarin juga gak kelihatan!" Jawabnya
"Ibu tahu rumah sakit mana?" Tanya Dewa menghampiri
" RSUD tempat pak Reza kerja!"
"Oo begitu, terimakasih bu!" Dewa tersenyum kemudian kembali ke motornya. Ia pergi ke RSUD menemui ayah Rita.
__ADS_1