Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 154: Kehidupan Baru Pernikahan


__ADS_3

“Ada apa dengan mu anak muda? Kenapa kamu begitu lesu?” tanya Pak Aldy kenalan Daniel di gym langganannya


“Hhhhh...” Daniel hanya menghela nafas


“Ada apa?”


“hmm,..istriku...kami baru saja menikah!”


“Selamat! kalian pasti sangat berbahagia!”


“Terima kasih!, tentu saja kami sangat berbahagia” ujar Daniel ia membuka sarung tangan barbelnya


“Tapi???....”


“istriku berbelanja banyak barang, harganya tidak murah!”


“Uangmu dihabiskannya untuk membeli barang-barang itu?”


“Justru tidak! Ia membeli barang-barang itu dari uang pemberian keluarganya sebagai hadiah pernikahan kami!”


“Seharusnya kamu senang dong? Uangmu utuh?” ujar Aldy heran


“Aku ingin istriku menikmati hasil kerja kerasku untuk memenuhi kebutuhan kami!”


“Barang-barang apa yang istrimu beli?”


“hmm...standing stove oven, bread maker, pasta maker, juice extracting, vacuum cleaner, steam iron, blender, food processor, dan mixer. Istriku menyukai memasak!” ujar Daniel tersenyum


“cukup banyak yang ia beli, apa jika memakai uangmu, akan cukup membeli itu semua?”


“mungkin ya, mungkin tidak, karena ia juga memesan lemari pendingin pagi ini”


“Apa kamu pernah menanyakan kenapa ia tidak menggunakan uangmu?”


“Tidak, aku takut kami bertengkar. Aku tidak ingin mood kami rusak sebagai pengantin baru!”


“Itulah kesalahan pasangan zaman now, mereka menghindari konflik akhirnya mencari pelampiasan di tempat lain! Gak heran perselingkuhan banyak terjadi”


“Tapi aku tidak selingkuh!”


“Belum! Kebanyakan lelaki karena ia menyembunyikan keberatan pada pasangan di dalam hatinya, akhirnya menumpuk lama-lama seperti balon, duarrr!!! Pecah!. Karena pecah tidak bisa ditambal lagi! Timbullah banyak perceraian akibat perselingkuhan”


“Menurut Anda begitu?” Daniel melihat ke wajah Aldy yang sedang membentuk otot perutnya


“Aku menangani beberapa pasien dengan gejala serupa dengan mu!”


“Pasien?”


Aldy menurunkan barbelnya dan membuka tasnya, dari dalam dompet ia mengambil kartu nama


“Aldy Habibie, Marriage Conselor” Daniel membaca kartu nama yang Aldy berikan


“Habibie? Anda orang Indonesia?”


“Betul!, tepatnya Makassar, aku di sini karena mengikuti istriku yang sedang mengambil study S2 di bidang hukum”


“Aku Daniel, Istriku juga orang Indonesia, Kami baru menikah sebulan lalu!”


“Wow, itu sedang hangat-hangatnya!, apa yang istrimu lakukan selama kamu bekerja?”


“Entahlah, Aku tidak pernah menanyakannya, Aku hanya menceritakan hari-hariku di kantor”


“Hmm..istrimu hanya mendengarkan?”


“Iya, setelah aku bercerita, biasanya kami bercinta. Setelah itu tertidur”


“Apa istrimu tidak bercerita di pagi hari?”


“Hmm...pagi hari? Setelah sholat subuh, kami bercinta lagi kemudian Aku berangkat bekerja!” Daniel menceritakan tanpa canggung


“Tubuhmu tidak apa-apa?”


“Maksud Bapak?”


“Jangan panggil aku Bapak, aku baru berusia 36 tahun. Panggil Aldy saja!”


“Aku 27 tahun, istriku 18 tahun!”


“Pantas, kalian masih menggebu-gebu!. Menurutku ada baiknya kamu mendengarkan cerita keseharian istrimu. Bisa jadi ia belanja banyak barang karena hatinya kosong. Kegiatannya hanya melayanimu saja setiap hari”


“eh setiap hari?” Daniel mengingat sesuatu kemudian ia membereskan peralatan fitnesnya


“kamu mau kemana?”


“Aku harus menemui istriku!, oh iya Pak, eh Aldy, aku akan menjadi pasien mu!, Aku harap anda bisa mendengarkan keluh kesahku!” Daniel menjabat tangan Aldy, kemudian segera ke ruang mandi


Dalam perjalanan pulang, Daniel menelpon Rita, sebelumnya ia membeli test pack di apotek dekan tempat fitnes


“halo sayang! Kamu di mana?”


“Di rumah!, Kamu terlambat pulang sayang?” tanya Rita


“Aku tadi mampir ke tempat fitnes, sudah hampir sebulan ini aku tidak fitnes”


“hmm..bukannya kita rajin berolah raga setiap hari?”


“Hahaha..bukan fitness yang itu sayang! Aku sebentar lagi pulang, kamu mau titip apa?”


“Gak usah sayang, aku membuat pasta hari ini!”


“Pasta? “Daniel ingat mesin pasta maker yang Rita beli kemarin


“Iya, aku sudah buat spageti yang enak!, kamu harus coba ya?”

__ADS_1


Daniel agak malas mendengarnya, karena alat itu dibeli bukan dari jerih payahnya


“Baiklah!, sebentar lagi aku sampai!”


“Baik, missed you!!” Rita menutup teleponnya


Daniel menatap ponsel dengan foto pernikahan mereka yang ia jadikan wallpaper.


Beberapa menit kemudian ia sampai di apartemennya


“Assalammu’alaikum...” sapanya


“Wa’alaikummussalam!” Rita menyambutnya, seperti biasa Rita telah rapi menyambut kepulangan Daniel. Mereka berciuman, kemudian Ia mengambil tas dan jas Daniel serta dasi yang melekat di lehernya. Setelah menaruhnya di ruang kerja. Ia kembali dan menarik Daniel ke ruang makan.


“Ayo sayang, kita makan!” Rita menyiapkan spageti yang sudah ia buat


Awalnya Daniel kurang berselera, tetapi setelah mencoba suapan pertama, ia sangat menyukainya. Ia melahapnya tanpa bernafas. Rita tersenyum puas


“Pelan-pelan sayang! Nanti tersedak!” ia menghapus saus tomat dari bibir Daniel


Daniel mengingat awal mula ia menyukai Rita dulu, di kedai piza sepulang dari kondangan. Ia berpikir sejenak kemudian hilang sudah kegundahan dalam hatinya


“apa yang kamu lakukan hari ini sayang?” tanya Daniel, Rita agak terkejut Daniel menanyakan harinya


“Hmm...Aku ke supermarket belanja keperluan kita, ketika pulang, aku melihat kursus membuat pasta dalam sehari. Langsung aku mendaftar dan belajar membuatnya. Oh iya!” Rita membuka tasnya dan memberikan lebar tagihan kursus tadi


“Apa ini?”


“itu tagihan kursus hari ini, murah 50 dollar sudah termasuk semua bahan!” Rita tersenyum senang


Daniel membaca lembar tagihan itu.


“Dengan hasil seperti ini, kamu tidak sia-sia mengeluarkan uang sebanyak ini!” Daniel tersenyum


“Besok, ada kursus lagi, membuat roti, aku ingin menggunakan bread maker yang aku beli kemarin!”


“hmm... tagihan untuk beli bread maker kemarin mana? Juga pasta maker dan semua alat elektronika ini?” tanya Daniel


“hmm...sayang! sebenarnya, sebelum aku kesini kakek memberikanku sejumlah uang untuk aku habiskan sesukaku! Beliau bilang uang ini untukku, habiskan sesuai keinginanku. Beliau juga mewanti-wanti kalau untuk keperluan kita berdua, aku harus menggunakan uang dari mu!”


“Berapa yang kakek berikan?”


“hmm..sekarang sudah habis, aku habiskan untuk semua alat yang sudah aku beli!”


“Termasuk mesin jahit?”


“Ah iya, itu bukan! Ini tagihannya 50 dolar!, uang dari kakek habis, wah panik Aku! Ternyata aku menghabiskan telah menghabiskan banyak uang!”


“Tentu saja!, aku saja sampai deg-deg an wah Rita belanja banyak! Tapi aku juga heran kok kamu tidak memberikan tagihan untuk semua alat itu?”


“Yaa, karena aku membeli yang aku sukai! Kalau perempuan lain membeli tas, sepatu atau pakaian bermerk, kalau aku membeli alat elektronik!”


“Kamu sangat menyukainya ya?”


“Hah? 250 dolar?”


Rita mengangguk


“Alat itu memudahkan kita memasak!, misalnya dalam waktu singkat aku ingin membuat sup daging! Nah pressure cooker itu akan membuat daging lebih cepat empuk! Sedangkan air frier, kita bisa memasak tanpa menggunakan minyak sedikit pun”


Daniel mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Rita, keringat membasahi keningnya, ia menyesali kekesalannya tadi karena Rita tidak menggunakan uangnya


“Oh iya Sayang, bagaimana harimu?”


“Hmm...seperti biasanya, mungkin proyekku di sini akan selesai lebih cepat dan kita akan kembali ke Auckland!”


“Hmm..begitu ya? kira-kira kapan?”


“Mungkin 2-3 bulan lagi!”


“ooo..”


“Oh iya, tadi sebelum kemari aku membeli ini!” Daniel memberikan kantong plastik kecil


Rita membuka kantong plastik itu


“test pack?”


“Iya, aku baru teringat, kita bercinta hampir setiap hari tanpa jeda, apa mungkin kamu sedang hamil?”


“Hmm...sebenarnya, ketika aku umroh, dokter memberikanku beberapa butir obat penghenti haid, nah obat itu masih tersisa beberapa butir jadi aku minum karena aku takut kamu kecewa dijeda dengan masa haidku”


Daniel termenung, ia baru menyadari, Rita betul-betul memperhatikan kebutuhannya, sampai ia menahan kodratnya untuk haid agar ia terpuaskan. Daniel memeluk Rita dengan sayang


“Kamu gak usah lagi meminum obat itu!, nanti malah sakit! Kalau memang harus keluar ya apa boleh buat? Libur 4- 7 hari tidak masalah bagiku!” Daniel mencium kening Rita


“Yaa, aku pikir juga begitu, karena aku sedang haid sekarang!” ujarnya tersenyum


Daniel kembali duduk, ia agak kecewa, ia pikir Rita telah hamil.


“Kamu ingin aku hamil?” tanya Rita


“hmm...kamu keberatan? Kamu berniat kuliah ya?”


“Sebenarnya kakek memberikan beberapa brosur sekolah kuliner di Paris.”


“Kamu mau mendaftar di sana?”


“Hmm...gimana ya? tiba-tiba aku ragu. Kalau aku kuliah di sana, kita akan LDR lagi. Aku lelah LDR –an”


“kamu gak percaya sama Aku?” Daniel mengusap pipi Rita


“bukan begitu, buat aku sekolah itu harus dengan hati tenang, tentram, dan dukungan dari orang-orang sekitar, kalau kamu jauh. Aku akan kepikiran terus, kangen, hatiku gak tenang!”

__ADS_1


“Apa gak ada sekolah kuliner di Auckland?”


“Aku juga sedang mencarinya di google”


“Sudah ketemu?”


“Belum!, oh iya aku lupa, aku juga beli laptop, ini tagihannya!”


“Laptop? Bukannya kamu sudah punya?”


“Laptopku ditinggal di rumah Auckland, aku lupa membawanya!”


“Kenapa gak minta dikirim kesini saja lebih murah?” Daniel melihat tagihan senilai 400 dollar


“Hehehe..aku gak kepikiran, sepulang dari kursus tadi aku melewati toko komputer, tiba-tiba aku mupeng dengan kecanggihannya. Aku langsung beli!” Rita menunjukkan laptop barunya


“Aku boleh pinjamkan?” Daniel memeluk pinggang Rita yang sedang memamerkan laptop barunya


“Bukannya kamu sudah punya?” tanya Rita heran


“Tapi aku mau mencoba kecanggihan laptop baru mu!”


“Yaa, boleh lah!”


“oh iya aku mau mandi dulu!” Daniel beranjak dari kursinya, ia membereskan bekas makannya dan mencuci piringnya sendiri.


“Bukannya di gym tadi sudah?”


“Perjalanan kesini cukup padat, aku kembali berkeringat, apalagi setelah makan spageti yang enak itu!”


Daniel mengambil handuknya, kemudian masuk ke kamar mandi, ia melihat peralatan elektronik yang baru


“Ini apa sayang?” tanyanya dari dalam kamar mandi. Rita menghampiri


“Ini pemanas air, jadi kamu gak perlu masak air lagi untuk mendapatkan air hangat. Tenang saja ini menggunakan gas, jadi kita tidak akan kesetrum. Oh iya aku letakkan tagihannya di meja kerjamu”


“Harganya berapa?”


“150 dolar”


“Jadi total kemu belanja hari ini?”


“900 dolar! Kalau gak salah hitung!” ia pergi meninggalkan Daniel yang wajahnya memucat


Rita kembali lagi


“Oh iya, cara kerjanya seperti ini!” Rita menunjukkan caranya, beberapa menit kemudian Daniel menikmati mandi dengan air hangat


“Yah lumayanlah!” gumamnya menikmati mandi dengan air hangat yang membuatnya rileks


Rita sudah merapikan ranjang mereka, wangi semerbak memenuhi kamar mereka


“Taraaa!!!” Rita tersenyum


“Hmm...wangi apa ini?”


“ini aromaterapi relaksasi, aku tahu kamu pasti stress dengan banyak tagihan yang jadi aku sudah menyiapkan aroma terapi ini, dan teh chamomile agar stress mu hilang!”


Rita telah memakai piyama barunya


“Piyama itu baru?” tanya Daniel, ia baru keluar dari kamar mandi menuju walking closet mereka


“Aku membelinya sepasang!, aku sudah cuci, kamu boleh langsung memakainya!” Rita memberikan piyama itu


“Bagaimana Victoria secret?” tanya Daniel sambil memakai piyamanya yang berbahan lembut


“Dia libur beberapa hari!, lagi pula aku tidak mau menyiksa mu dengan lingerie itu kan?”


Daniel mengangguk tersenyum, ia naik ke ranjangnya, sebelum naik ia melihat meja kecil di sisi ranjang mereka, Rita meletakkan tablet, kacamata dan secangkir teh di sana


“Ini baru juga?” tanyanya


“Iya!!! tadi ada diskon! Wah cantik sekali! Aku pikir, selama ini kita meletakan barang-barang di lantai, jadi aku beli ini! Murah, cuma 60 dolar sepasang! Tagihannya juga sudah aku taruh di meja kerjamu!” ujar Rita dari dalam kamar mandi, ia sedang menggosok gigi dan membersihkan wajahnya.


Daniel menggaruk-garuk kepala, ia membuka sisa saldo di rekeningnya yang sudah berkurang cukup banyak. Ia menghela nafas, teringat kekesalannya tadi pagi dan kini ia menyesalinya dengan berkurangnya saldo ditabungannya. Rita mengambil laptop barunya untuk ia buka di ranjang mereka.


“Kamu melihat apa?” tanyanya, melihat ke ponsel Daniel yang segera menutup laman m-bankingnya


“Tidak! Melihat apa-apa!” tetapi wajahnya terlihat sedikit kesal


“Sayang, kamu jangan membeli banyak barang dulu, ingat ini cuma apartemen sewaan, dalam 3 bulan kita akan kembali pulang, akan repot untuk membawa semua barang-barang ini nanti!” ujarnya memperingatkan


“iya sih, tetapi sejak di sini aku bingung harus ngapain, aktivitasku paling aktif di malam hari, ketika kamu berangkat kerja aku bingung harus ngapain. Aku melakukan laundry, semua benda berkain di sini sudah aku cuci kecuali karpet! Aku bahkan mengurangi jatah OB, ia membersihkan bagian luar apartemen ini saja. Bagian dalam aku yang mengerjakan semua!”


Daniel terbengong-bengong mendengar keluhan Rita


“Lalu kamu belanja itu semua untuk...”


“Yaa, karena aku teringat uang yang kakek berikan, kalau aku gunakan untuk keperluan kita, kamu pasti marah. Jadi aku beli yang aku mau!”


“Semua keinginanmu sudah terpenuhi dengan barang-barang itu?” tanya Daniel, ia merangkul Rita


“Belum semua, ada lagi yang ingin aku beli, tapi aku urungkan! Aku kumpulkan uang dulu!”


Daniel mengeryitkan alisnya


“Mulai sekarang, kamu gak usah kasih aku semua lembar tagihan itu!, Kamu boleh menghabiskan uang untuk membeli barang yang kamu suka, Gak usah mengumpulkan uang dulu!”


“Beneran nih? Nanti kalau uangmu habis gimana?”


“tenang!!! Aku kan ada penghasilan lain, aku pikir itu lebih dari cukup!” Daniel mencium kening Rita, tapi dalam hati , ia berharap Rita bisa menghemat pengeluarannya.


“kehidupan pernikahan memang tidak mudah!” pikirnya

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2