Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 266: Kesibukan Daniel


__ADS_3

“Hey!” Rita menghampiri suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaan


“Hey!” Daniel merangkul istrinya


“Masih banyak kerjaannya?”


“Begitulah, tadi ujiannya bagaimana?”


“Lumayan, lebih banyak pilihan ganda”


“Gampang dong, bisa nebak-nebak?”


“Iya sih, tapi pilihannya lumayan banyak sampai E, aku jadi bingung sendiri harus baca satu persatu. Jadi sebenarnya makin banyak pilihan makin pusing ya?”


“He eh..”


“Kamu lagi bikin apa?”


“Ini, aku lagi mengecek pekerjaan tim ku”


“Oh, kamu bekerja dalam tim lagi?”


“Iya, aku juga bingung, sebenarnya struktur organisasi perusahaannya gimana”


“Memangnya kamu gak dikasih tahu waktu perekrutan?”


“Mungkin aku melewatkannya, tapi beberapa dari kami memang mendapat tugas yang sama”


“Jadi kalian berkompetisi sesamanya?”


“Mungkin Lexi ingin mencari tim dengan jalan keluar terbaik”


“kalau seperti itu kasihan sama tim yang tidak terpilih dong?”


“Itu sebabnya, kami terus diasah untuk menjadi lebih baik”


Rita mengambil kursi dan duduk di samping suaminya


“Kamu sudah gak apa-apa?” tanyanya


“Aku? Memangnya aku kenapa?” tanya Daniel heran


“oh, syukurlah kalau kamu gak apa-apa” ujar Rita


“Tentang Lexus itu ya?”


“He eh, kamu gak apa-apa kan?”


“Kayaknya sudah gak apa-apa”


“Kok kayaknya?”


“Habis, perasaan ku seperti mati rasa, apakah kecewa? Itu pasti. Sedih? Mungkin sedikit.”


“Pasti dipikiran mu masih berputar-putar pertanyaan, memangnya aku salah apa?”


“Entahlah, mungkin juga”


Rita mendekati suaminya dan merangkulnya


“Sayang, kadang-kadang itu bukan salah siapa-siapa”


“Maksud mu?”


“Maksud ku tidak setiap yang terjadi itu karena adanya kesalahan, bisa jadi Lexi sedang menguji mu. Kamu kan bilang sendiri sir Alec orang yang tidak bisa ditebak kelakuannya. Beda dengan om Radian, yang sangat kaku dan mungkin sangat cocok bekerja sama dengan mu”


Daniel menatap wajah istrinya, tidak pernah terpikir olehnya tentang hal itu.


“Menurut mu, kalau yang dilakukan Lexi itu merupakan ujian, aku harus bagaimana?” tanya Daniel bingung


“Kalau aku yang minta saran dari kamu tentang itu, kira-kira kamu akan bilang apa?”


“Kamu ditanya kok malah balik bertanya?” tanya Daniel heran


“Karena sebenarnya kamu sudah punya jawabannya, tapi kamu gak yakin”


“Kalau ternyata kamu salah bagaimana?”


“Aku salah? Tentang ujian Lexi?”


“Iya, kalau ternyata Lexi dari awal hanya ingin nge prank aku saja?”


“Sekali lagi aku bilang, kamu gak rugi apa-apa sayang...Kamu gak keluar uang sepeser pun kan?”


Daniel terdiam dengan kata-kata istrinya.


“Lalu bagaimana dengan perkembangan kelompok bermain anak-anak?” tanya Daniel mengalihkan pembicaraan


“Besok aku bertemu dengan arsitek, pak Ridwan dan salah satu ketua tim konten kreator”


“Memangnya mau kamu jadikan konten?”


“Enggak juga, tapi ketua tim konten kreator ku itu ternyata sangat kreatif. Aku perlu mendengar pendapatnya tentang kelompok belajar ini. Aku juga sudah mengundang salah satu instruktur, siapa tahu dia ingin meluangkan waktunya untuk bekerja sama dengan ku”


“Apa kamu butuh bantuan ku?” tanya Daniel


“Tentu dong!”


“Bantuan apa yang kamu butuhkan?” Daniel merangkul istrinya


“Tetap waras ya? kamu tahu sendiri aku akan kacau kalau banyak pikiran”


“Kalau begitu kita sama ya? aku sempat kacau kemarin tetapi kamu yang menenangkan. Sungguh kata-kata mu itu membuat ku bersemangat”


“Memangnya aku bilang apa?”


“Kamu gak ingat yang kamu bisikan ke telinga ku?”, Rita menggeleng


“Dasar!, kamu bilang, kalau mau Lexus kita beli saja sendiri”


“Aku bilang begitu?”


“Iya!..wah aku jadi bersemangat. Hati ku terbakar, aku akan beli sendiri Lexus itu!” tekad Daniel


“Aamiin deh, oh iya aku tidur duluan ya? aku capek banget”


“Minggu depan kamu masih ujian?”


“Iya!, Aku mengambil mata kuliah cukup banyak supaya cepat lulus”


“Kalau yang di Singapura, kapan kamu ujian?”


“Oh iyaaa!!! Aduh kenapa aku bisa lupa!!” Rita berlari keluar kamar kerja Daniel dan melihat jadwal ujian yang dikirim melalui email


“Alhamdulillahh....masih bulan depan!” Rita menunjukkan jadwalnya


“Hari apa itu? Kamu harus datang ke sana?”


“Iya, Jum’at-Sabtu-Minggu, kamu bisa nemani aku?”


“Kalau Sabtu dan Minggu tak masalah, Jum’at ini aku masih kerja.”


“Ah iya ya? nanti kita pikirin lagi deh! “Rita menutup laptopnya


“Aku tidur duluan!” ujarnya


“Iya!!” jawab Daniel

__ADS_1


Dua minggu telah berlalu, hari jum’at sore tepat pukul 5, Daniel belum sampai di rumah.


Rita menggendong Rayya melihat ke arah jam dinding di kamar mereka,


“Dek, papi kok belum pulang ya? biasanya sudah di rumah” Tadinya ia hendak menelpon, tetapi ia urungkan niatnya, ia tidak mau menjadi istri yang mengontrol suaminya. Ia tetap menunggunya, hingga dua jam kemudian


“Assalammu’alaikum..”Daniel tiba, ia terlihat lelah sekali


“Wa’alaikummussalam! Kok terlambat sekali?” tanya Rita heran


“Sir Alec datang ke kantor cabang Jakarta, kami rapat maraton!” Daniel merebahkan tubuhnya di sofa depan TV. Dia langsung terlelap. Tiba-tiba Ranna dan Raffa berlari lincah dari kamar. Mereka mendengar suara Daniel yang baru datang. Dengan sigap Rita menangkap kedua bocah batita itu, lalu memasukan ke kamar tidur.


“ssstttt....kalian jangan ganggu papi dulu, dia capek. Besok pagi saja ya main sama papi?”


“huuuuu...huuu...” Ranna menangis


“Huuuu...huuu”..Raffa mengikuti kakaknya ikut menangis


“sssttt....kok kalian nangis, besok kan masih bisa main sama papi. Nih kalau gak percaya, mami kasih tahu.” Rita menggendong kedua anaknya mendekati Daniel yang sedang lelap tertidur


“zzzzz....rrrrrgggghhhh....” suara mendengkur keluar dari mulutnya


“ssstttt...” Rita memberi tanda pada kedua anaknya supaya tidak bersuara


“Papi kenapa mi?” bisik Ranna


“Papi capek, jadi bobo. Kalian jangan ganggu papi ya?”


Kedua anak itu menurut, mereka mengangguk, lalu kembali ke kamar tidur mereka.


Perlahan, Rita membuka pakaian suaminya. Ia mengambil air hangat dari kamar mandi dan mengelap tubuh suaminya dengan lembut. Ia begitu serius, sampai tidak memperhatikan Daniel telah membuka mata dan memperhatikannya


“astaghfirullah...sudah bangun rupanya!” Rita menghentikan kegiatannya


“Kok berhenti, lanjutkan dong!” pinta Daniel. Rita melanjutkan mengelap tubuh suaminya, kemudian mengganti airnya, lalu mengelap wajahnya


“Sudah!, aku mau ambil pakaian ganti untuk kamu ya?” Ia hendak pergi , Daniel mencegahnya lalu memeluknya erat.


“Aku capek sekali,..tapi kalau melihat kamu dan apa yang sudah kamu lakukan, capek ku berkurang banyak”


“Syukurlah, sudah istirahat dulu, aku akan mengambilkan pakaian ganti. Oh iya kamu sudah makan?”


“Sudah, tadi kami dijamu besar-besaran di kantor, jadi ternyata stylenya sir Alec itu begitu, kami diperas, tapi kami juga diberi makan enak!”


Rita kembali lagi dengan piyama


“Nih, ganti baju dulu!” Ia hendak pergi meninggalkan suaminya


“Kamu mau ngapain pergi lagi?”


“Kamu mau ganti baju kan?”


“Memangnya kalau kamu di sini kenapa?”


“gak kenapa-kenapa sih”


“Kenapa? Kamu risih ya lihat suami mu ganti baju?” goda Daniel


“Kenapa risih, biasa saja kok!” tapi wajah Rita tersipu


“Wajah kamu gak bisa boong! Sudahlah ngaku saja, lebih baik kamu melihat tubuh telanjang suami mu, dapat pahala, dari pada melihat tubuh lelaki lain kan?”


“Sudahlah, cepat ganti. Aku mau mengecek Rayya”


Daniel justru memperlambat gerakannnya, ia berbuat slow motion


“Konyol!” Rita geli melihat tingkah suaminya.


“Kamu tuh! Katanya capek, tapi masih bisa bercanda!” ujarnya sambil tertawa


“Aku pikir tadi, apa aku sudah meninggal ya? Aku sedang dimandikan bidadari!” ujarnya


“Preeettt!!!” Rita menjawab


“kok pret? Ini beneran lho!, akhirnya aku tahu, ternyata selama ini kalau aku pulang terlambat, kamu yang menggantikan pakaian ku?”


“iya dong, memangnya siapa lagi?”


“Aku kira, aku sleep walking. Aku sendiri yang mengerjakan dengan mata tertutup”


“Mana mungkin!” Rita membereskan pakaian kerja Daniel dan menaruhnya di ruang laundry


“Besok kita jadi jalan-jalan kan? Kamu sudah janji lho ke anak-anak nonton Sea-World!”


“Ah iya...aduh..gimana ya? lihat besok siang ya, kalau rapatnya bisa selesai setengah hari kita bisa berangkat sore, toh besoknya aku libur”


“Kok jam kerjanya jadi begitu sih?”


“Ini karena sir Alec yang tiba-tiba datang ke Jakarta. Jujur saja, baru kali ini aku melihat kantor cabang Jakarta pontang-panting mempersiapkan kedatangan Sir Alec”


“Waktu di Dar.Co gimana?”


“Biasa saja, kedatangan pak Darmawan justru disambut biasa saja, mungkin karena kakek sering datang inspeksi, kalau sir Alec baru kali ini datangnya”


“Serius? Sudah berapa lama Lexi di Jakarta?”


“Tiga-empat tahun deh, katanya tadi kepala cabang bingung harus ngapain


“Bukannya kepala cabangnya kamu?”


“Aku? Bukan! Ada lagi yang memimpin! Aku kan orang baru!”


“Wahhh...benar-benar membingungkan!” Rita segera ke kamar tidur anaknya mendengar suara tangisan Rayya, ia menggendongnya lalu membawanya ke ruang TV.


“Sini adek sama papi!” Daniel mencium pipi Rayya, lalu menggendongnya


“Kamu kok beda ya?”


“Apanya?”


“Waktu Ranna kamu jarang menciumnya seperti itu, gendong ya gendong saja, tapi sama Rayya kamu kelihatan senang sekali”


“Masa sih? Kamu gak pernah lihat saja aku mencium Ranna”


“Apa iya ya? aku ingat ketika Ranna seumuran Rayya, kamu sering menyerahkan dia ke aku.”


“Dulu aku kan masih baru jadi papi, sekarang sudah ahli.”


“Iya sih, tapi aku melihatnya beda.”


Daniel menggendong Rayya sambil berhadapan,


“Apa iya, papi beda sama kamu dek?hhmmmm....gemeeessss!!!” ia kembali mencium pipi Rayya


“ah sudah lah, tadi anak-anak ingin menyapa mu, karena kamu tidur jadi mereka kembali ke kamar mereka. Lihat anak-anak dulu deh”


“Iya-iya, kamu cerewet sekali...mami cerewet ya dek!, besok adek saja yang ikut papi ke kantor!” Daniel berjalan menuju kamar anak-anaknya. Ranna dan Rayya sudah terlelap dengan tenang, perlahan Daniel mencium kening mereka satu persatu


“Tidur yang nyenyak ya, sholeh dan sholeha ku!” bisiknya. Ia sempat duduk dipojokan kamar sambil menggendong Rayya, beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar tidur mereka, Rita telah berganti piyama.


“Sudah?”


“Sudah, mereka sudah tidur dengan tenang”


“Syukurlah, mereka membicarakan tentang akuarium raksasa, jadi jangan membatalkan ya?”


“Iya-iya sayang ku!” Daniel menggelitik Rayya hingga ia tertawa geli

__ADS_1


“Rayya tidur di sini ya, malam ini” ujarnya


“Iya, kamu kangen dia ya?”


“Iya, aku keingetan dia terus tadi di kantor. Kenapa ya?”


“Mungkin kamu suntuk, jadi otak mu mencari pelampiasan”


“Mungkin juga, tapi sekarang kalau aku pikir-pikir aku jadi paham kenapa aku lebih perhatian ke Rayya”


“tuh kan? Apa karena dia paling kecil?”


“Bukan itu saja, dia paling mirip kamu!, kamu itu kalau dikecilin menggemaskan!” Daniel meletakkan Rayya, kemudian menarik tangan Rita, lalu mencium bibirnya agak lama


“Kamu tuh, ketularan bos mu ya? tingkah mu random!” Rita tersipu


“gak apa-apa, toh yang aku cium istri ku sendiri, bukan istri orang!” ia merebahkan tubuhnya di kasur, Rayya di sampingnya


“Kamu sudah sholat Isya?” tanya Rita


“Sudah dong, tadi aku minta Hendra mampir di mesjid sebentar sebelum pulang” Daniel melanjutkan tidurnya sedangkan Rita sholat Isya di kamarnya.


Keesokan harinya, Daniel bangun pagi, ia sarapan pagi pukul 7 dengan sandwich buatannya sendiri.


“Sayang, kok lebih cepat dari biasanya?” Rita melihat suaminya telah rapi berpakaian. Daniel mengenakan kaos berwarna biru navy dengan celana cream, sepatu yang ia gunakan pun sepatu kets tanpa tali. Daniel terlihat trendy. Rita sendiri baru bangun.


“Aku harus tiba di kantor pukul 8 tepat, kemarin sir Alec bilang maksimal kedatangan pukul 8.15”


“Tapi sekarang weekend sayang!” protes Rita


“Jangan bilang ke aku, protes ke sir Alec!”


Tak lama kemudian, mobil fortuner putih datang menjemput,


“Sayang, aku berangkaatt!!” teriak Daniel sambil masuk ke mobil


“Hati-hati di jalan!” teriak Rita, ia sibuk memberi Rayya ASI


Di mobil


“Kamu sudah sarapan pagi Hendra?” tanya Daniel


“Tadi sempat ngopi pak”


“Ngopi saja?”


“Ya, sama makan pisang goreng”


“Kamu suka makan roti?” Daniel hendak membagi sandwichnya kepada Hendra


“Wah, saya gak suka roti pak, walaupun saya kerja di perusahaan asing, tapi perut saya melokal. Belum makan kalau belum makan nasi”


“Oh begitu, tadinya aku mau memberi mu sandwich, tapi karena kamu gak suka apa boleh buat!” Daniel meletakan kembali rotinya ke kotak bekalnya.


“Terima kasih pak, oh iya hari ini sampai jam berapa ya pak?”


“Entah lah, ini hanya sementara selama sir Alec di Jakarta saja”


“Saya dengar kemarin, seluruh departemen bebenah pak, apa betul?”


“Katanya sih begitu, saya baru beberapa bulan di Lexi, jadi belum tahu kebiasaan kantor”


“Oh ya? bapak orang baru? Wahh...saya kira sudah lama di Lexi”


“Kamu kan sudah lama di Lexi Hendra, pasti baru lihat saya kan?”


“Bukan begitu pak, di Lexi itu, setahu saya para petingginya sering gonta-ganti, seperti di rolling, jarang ada yang menetap. Saya pikir pak Daniel orang dari cabang negara mana gitu”


“Oh begitu, ngomong-ngomong Hendra, sebenarnya kepala cabang Jakarta itu siapa ya?”


“Hah? Pak Daniel gak tahu?” Daniel menggeleng


“kalau gak salah namanya pak Tony deh”


“Pak Tony? Tony mana?”


“Itu lho pak, yang mobilnya BMW seri terbaru”


“hah? Itu kepala cabang Lexi? Ya ampuunnn!!!” Daniel terkesiap kaget, kemarin ketika bertemu Tony terlihat sangat rendah hati, ia tidak terlihat bersikap layaknya seorang kepala cabang. Daniel menelan ludah berkali-kali mengingat perkataannya yang tidak sopan pada Tony.


“Kenapa pak Daniel kelihatan shock?”


“Hahaha...enggak, Cuma karena berangkat terlalu pagi sakit perut saya kumat” Daniel beralasan


“waduh, apa gak dicek ke dokter pak? Perusahaan ada klinik kesehatan gratis, dokternya cantik lho! Banyak para karyawan lelaki walaupun gak sakit datang ke klinik untuk melihat dokternya”


“hahaha..terima kasih, perut saya gak apa-apa. kalau saya datang ke klinik, bisa-bisa istri saya yang sakit di rumah!” canda Daniel


“hahahaha...pak Daniel bisa saja!”


Akhirnya mereka tiba di kantor, suasana sudah sibuk seperti hari kerja biasanya. Rapat pagi itu diadakan di ruang terbuka, sir Alec sengaja membuat ruang rapat out door. Para karyawan berlarian menempati kursi yang masih kosong. Daniel duduk di depan sesuai dengan nama yang diberikan pada tiap kursi.


Pukul 8.30 , rapat di mulai. Tiap-tiap departemen menyampaikan presentasinya. Rapat baru berjalan selama tiga puluh menit, tetapi para peserta rapat terlihat bosan, Sir Alec memberikan jeda sepuluh menit untuk para karyawan mengambil kopi, teh dan snack pagi yang disediakan. Daniel mengambil kopi dan kue soes kesukaannya, ia dihampiri Tony


“Pagi pak Daniel!” sapa Tony ramah


“Eh selamat pagi pak Tony!” Daniel meletakan kopi dan kuenya untuk menyalami Tony


“Anda terlihat semangat sekali pagi ini” ujar Tony basa-basi


“Terima kasih, saya orang yang terbiasa bangun pagi. Karena udara pagi sangat segar, kita jadi bersemangat!” jawab Daniel , mereka berjalan beriringan menuju tempat mereka sebelumnya. Tony memindahkan kursinya di samping Daniel.


“Pak Daniel, kira-kira berapa lama rapat ini akan berlangsung?” tanyanya dengan serius


“Waduh saya kurang tahu pak, mungkin kalau semua departemen selesai presentasi?” tebak Daniel


“Wah bisa gawat kalau begitu” Tony tampak khawatir


“Kenapa pak?”


“Lexi terdiri dari banyak departemen, kalau semua presentasi tidak akan selesai hari ini, padahal aku berjanji akan mengajak jalan anak ku” keluh Tony


“berapa putra pak Tony?” tanya Daniel


“Aku punya dua anak sepasang, yang lelaki namanya Toby berusia 9 tahun, sedangkan yang perempuan Alicia berusia 8 tahun. Mereka tinggal bersama ibu mereka”


“eh?”


“Aku bercerai dari istri ku tiga tahun yang lalu, sekarang istri ku sudah menikah lagi, aku juga sudah. Tapi dengan istri baru aku belum punya anak. Bagaimana dengan pak Daniel?”


“Anak ku tiga, perempuan-lelaki-perempuan, anak pertama berusia 2,5 tahun, anak kedua 2 tahun, anak ketiga 7 bulan.”


“Wah masih kecil-kecil ya? Anda juga kelihatan masih muda, berapa usia Anda?”


“Tahun ini masuk 30 tahun”


“Oh ya? masih muda sekali, tetapi Anda hebat ya, sudah masuk jajaran CEO senior di Dar.co” puji Tony


“Saya? CEO senior?”Daniel tidak percaya dengan yang didengarnya


“Apa saya salah informasi? Saya dengar dari HRD, bahwa Lexi mendapatkan harta karun dari Dar.co, dan setelah saya telusuri hanya Anda yang sebelumnya bekerja di Dar.co”


“Saya harta karun? Terlalu berlebihan ah!” Daniel merasa senang, ia seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Tanda bel dibunyikan oleh sir Alec menandakan rapat kembali dimulai.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2