Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 29: Usaha Melarikan Diri


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 8 WITA, pasukan khusus kepolisian mengepung tempat persembunyian Budi CS. Penggrebekan dilakukan tetapi mereka tidak menemukan Rita. Yang ditemukan hanya Budi dan 1 orang anak buahnya yang terkapar dengan kepala terluka parah.


1 orang lainnya ditemukan tewas di dapur.


Sedangkan anak buah yang lainnya ditemukan dalam keadaan terluka parah di bagian kepala 10 meter dari tempat kejadian.


Seluruh bagian rumah digeledah tetapi tidak ada jejak apapun, kecuali bungkus bekas pewarna rambut berwarna hitam.


Bagian CSU (crime Scene Unit) sibuk mencari sidik jari di setiap ruangan di rumah tersebut.


Budi dan kedua anak buahnya dibawa ke RS setempat.


Pagi harinya di hotel. Ratna menelepon papanya.


"Bagaimana pa, hasil pencarian Rita?"


"Papa masih menunggu laporan dari kepolisian setempat", Jawab Kakek


"Untuk sementara Ratna akan menyewa apartemen dekat sini sampai Rita ditemukan!"


"Baiklah, kamu yang tabah ya, papa akan tetap memantau dari sini!"


"Baiklah, pa, terimakasih banyak!" Ratna menutup percakapan.


"Andii!!" Panggil Ratna


Andi yang sedang menatap ponselnya menjawab panggilan mamanya.


"Ya ma?"


"Kamu bereskan barang2 kita, kasih tahu Dewa juga, nanti sore kita pindah ke apartemen. Mama sudah menyewa apartemen dekat-dekat sini!"


"Sudah ada kabar dari kakek ma?" Tanya Andi


"Belum, polisi masih menyelidiki!"


"Pak Dodi juga sudah memberi kabar?"


"Ga tau, mama malas mendengar atau melihat muka dia!" Ujar Ratna masih kesal


"Jam berapa kita check out ma?"


"Jam 4 sore, mama sudah minta tolong orang untuk bantu membersihkan apartemen bisa langsung kita gunakan."


"Iya ma, btw kenapa ga sewa rumah saja?"


"Kalau rumah agak jauh letaknya dari sini, mama tidak mau Rita kesulitan mencari kita jika ia berhasil melarikan diri."


"Mama sudah membayar untuk seminggu!" Tambah Ratna


"Mama optimis Rita akan berhasil melarikan diri?"


"Iya, entah kenapa mama punya feeling, sebenarnya Rita bisa melumpuhkan orang-orang itu atau setidaknya ia bisa menarik perhatian orang sekitarnya. Tapi itu tidak ia lakukan. Dari rekaman cctv ia tidak melawan sama sekali. Jadi sepertinya Rita merencanakan sesuatu!"


"Semoga dugaan mama benar!" Ujar Andi sedikit lega


"Kakek juga telah minta tolong dengan beberapa kenalannya, seharusnya kita bisa lebih cepat mendapatkan informasi dibandingkan polisi!"


Dugaan Ratna tidak salah, terjadi sesuatu di rumah tersebut.


"Bos, orang ini telah melakukan yang disuruh" ujar si Buncit


"Bunuh saja! Ia telah melihat anak itu kan?" Ujar Joey


"Bunah-bunuh, gampang banget lo mau ambil nyawa orang!" Tukas si Bos


"Dia saksi, nanti kita ketahuan!" Ujar si Joey lagi.


"Dengan ngomong kayak gitu depan dia, apa malah ga menambah dia mengetahui sesuatu?" Ujar Budi.


Ryan melangkah mundur menjauhi Budi yang berjalan mendekatinya.


"Asal lo ga bilang siapapun yang ada di sini gue akan membebaskan lo!" Ujar Budi


"Duakk!!!" Tiba-tiba Budi roboh, darah segar keluar dari kepalanya.


"Sorry Bud, gue ga bisa ikutin cara lo!" ujar Joey


"Bos lo sudah mati, gue kasih pilihan, lo mau nyusul dia atau jadi anak buah gue?" tanya Joey dengan nafas masih tersengal. Ryan dan Buncit terpaku melihat Budi telengkup bersimbah darah di hadapan mereka. Kaki mereka begitu berat untuk dapat melarikan diri. Si Botak Sarip yang sebelumnya berada di dapur mendengar keributan di ruang tengah, melihat bosnya terkapar, ia menyerang Joey. Terjadi saling rebut tongkat baseball. Sarip berhasil merebut tongkat dari Joey, ketika ia akan memukul Joey, tiba-tiba pukulan dari arah belakang membuatnya terjatuh. Pukulan berkali-kali di belakang kepala juga membuatnya roboh.


Buncit yang memukulnya.


Joey kaget melihat kejadian tersebut.


Ryan yang melihat begitu banyak orang berdarah tersadar dari kekagetannya, tetapi ia tidak lari keluar rumah melainkan ke lantai bawah. Buncit mengejarnya.


"Duak!!" satu pukulan mengenai punggung Ryan. Ia pun roboh di tempat. Buncit menyeretnya ke kamar di mana Rita di sekap.


Rita tidak mengetahui apa yang terjadi, ia pura-pura tertidur di lantai dengan tangan terikat. Buncit tidak mencurigainya, kemudian ia kembali mengunci kamar tersebut dan kembali ke lantai atas.


"Orang salon sudah saya bereskan Joey!"


"Bagus, sekarang kita pergi dari sini, bawa cewek itu!"


"Mau dibawa kemana Joey?"


"Yang jelas ga disini!, Siapa yang bawa orang salon itu kesini?" Tanya Joey


"Theo!" Jawab Buncit


Theo, si kurus datang dari luar rumah, ia melihat Budi dan Sarip yang terkapar, ia langsung keluar rumah untuk melarikan diri. Joey mengejarnya dengan tongkat baseball. Sementara itu Rita yang sebelumnya berpura-pura tidur, bangun dari lantai, ia berlutut dan memegang leher Ryan untuk memeriksa denyut nadinya.


"Hmm..masih hidup, ujarnya".


Ia mencari jalan keluar dari kamarnya itu, tetapi tidak ditemukan.


"Bli Ryan! "Panggil Rita mengguncangkan tubuh Ryan yang pingsan. Ryan belum tersadar juga. Rita menutup lubang hidung Ryan, "Uhuk..uhuk..uhuk",Ryan tersadar dari pingsannya


"Aduhh..", keluhnya sambil memegang tengkuknya.


"Bli ga apa-apa?" Tanya Rita.


"Sakit!" Keluhnya.


"Kita harus berusaha keluar dari sini!" Ujar Rita.


"Caranya?" Tanya Ryan masih sambil memegang tengkuknya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di atas sana?" Tanya Rita


"Pemberontakan, saya juga bingung, tiba-tiba mereka saling menyerang!"


"Apakah ada yang terluka?"


"Ada 2 mungkin 3, saya tidak tahu, karena sibuk menyelamatkan diri?"


"Bli kenapa bisa kesini?" Tanya Rita curiga


"Saya diminta untuk mewarnai rambut kamu !"


"Tapi salon kamu dan tempat inikan jauh?"


"Saya diajak Theo, kebetulan dia mendengar saya baru dipecat dari salon!"


"Kog bisa?"


"yah saya dipecat, setelah sering salah mewarnai rambut customer!"


"Saya?" Tanya Rita setengah tidak percaya


"Bukan kamu saja sih, yang lain juga, entahlah semua warna sama menurut saya!"


"Hmm..coba ini warna apa?" Tanya Rita memegang rambutnya


"Hitam!" Jawab


"Kalau warna sepatu saya?" Tanya Rita menunjuk sepatu hijaunya.


"Hmmm...merah?, Eh kuning!"


"Warna tembok kamar ini apa?"tanya Rita lagi


"Hitam eh putih!"


"Hmm .. mungkin bli buta warna, itu sebabnya selalu salah memberi warna pada rambut pelanggan.


"Ahhh... bisa juga begitu!"


"Sekarang tolong buka ikatan kaki dan tangan saya, tadi si buncit mengikat kaki saya begitu menyeret bli kesini." Dengan tangan sedikit gemetar Ryan mencoba membuka ikatan kaki Rita. Dan berhasil. Disaat itu bunyi kenop pintu di putar. Rita bersembunyi di balik pintu. Ryan berpura-pura masih pingsan. Buncit melangkahkan kakinya ke dalam kamar untuk mencari tawanannya yang satu lagi. Kali ini Rita telah siap ia melancarkan tendangan ke wajah Buncit. Berkali-kali tendangan di layangkan oleh Rita, karena terkejut Buncit tidak bisa melawan. Ia pun Roboh pingsan. Rita dan Ryan keluar dari kamar itu dengan berjingkat. Sayangnya ketika mereka keluar pintu rumah Joey melihat mereka dengan tongkat baseball berlumuran darah. Dan ia berlari akan mengejar Rita dan Ryan. Rita kabur diikuti Ryan, Joey mengejarnya. Rumah itu terpencil, di tengah rumput ilalang. Rita kesulitan untuk melarikan diri. Ia pun terpisah dari Ryan. Jantungnya berdetak kencang, ia melihat Ryan berjalan melewatinya, tapi ia urungkan, karena Joey dan Ryan ternyata telah saling mengenal.


"Bodoh kamu! Kenapa membiarkan dia lepas?" Ujar Joey


"Kamu lebih bodoh, karena bukan mengejar cewek itu,malah ikut mengejar aku!" Ujar Ryan yang ternyata sekomplot dengan Joey.


"Hati-hati Joey, cewek itu jago bela diri, kamu bisa diserangnya den tiba-tiba" ujar Ryan.


"Dia pasti belum jauh, posisi rumah ini jauh dari jalan raya, dan banyak semak belukar, ia akan kesulitan mencari jalan!" Ujar Joey.


"Kita kembali ke rumah!" Ajak Joey


"Sini tongkatnya!" Pinta Ryan.


Joey memberikan tongkatnya. Kemudian berjalan di depan Ryan.


"Duakk!!!" Ia memukul Joey dari belakang.


"Sorry Joey, kamu sudah diketahui, polisi akan memasukkan kamu ke daftar pencarian orang!"


Ryan menghampiri Buncit.


"Joey sudah saya amankan"ujarnya.


"Ohh,..jadi kita harus bagaimana?" Tanya Buncit.


Diam-diam Ryan mengambil pisau dapur. Ketika si buncit lengah, ia menusuknya.


"Sorry lo sudah ketahuan oleh polisi!" Ujar Ryan.


Buncit roboh, dengan perut berlumuran darah.


Ryan menghapus semua jejaknya di rumah tersebut. Kemudian ia keluar dari rumah itu. Sementara itu, Rita melepas ikatan kain ditubuhnya dan mengambil iphone yang sejak tadi disembunyikannya. Ia menyalakan senter dari ponselnya, penerimaan sinyal begitu buruk. Ia pun terus berjalan mencari jalan raya.


Sementara itu pada siang hari di hotel. Andi kembali ke kamarnya, dan memberitahu Dewa tentang kepindahan mereka.


"Arya, kita bereskan pakaian nanti sore kita pindah ke apartemen dekat sini!"


"Hah? Emang lo punya apartemen di sini?" Tanya Dewa


"Bukan, nyokap nyewa apartemen di sekitar sini. Kayaknya kita bakal tinggal di sana sampai Rita di temukan."


"Ooo, sudah dengar kabar tentang Rita?" Tanya Dewa


"Belum, polisi kehilangan jejaknya."


"Lho, bagaimana dengan posisi terakhir Rita, kan diambil dari posisi ponselnya?"


"Menurut polisi, sinyal daerah itu sangat sulit. Jadi Rita akan kesulitan untuk menghubungi kita"


"Sudah meleset jauh dari apa yang ia impikan!" ujar Dewa sambil berpikir.


"Mungkin karena dia menceritakan mimpinya, jadi banyak mimpinya yang meleset!"


"Bisa begitu?"


"Tentang perempuan yang lompat itu, dia berhasil mencegahnya karena ga cerita apapun sama gue."


"Tapi yang duluan cerita kan dia sendiri, bukan kita yang maksa"


"mungkin karena gue marah sama dia?" ujar Andi sedih


"Maksud lo?"


"Gue ga pernah marah sama dia, apalagi sampai ga mau ketemu. Sekarang dia beneran menghilang" ujar Andi penuh penyesalan.


"Yahh,..mungkin dia juga merasa ada yang perlu dibagi, seinget gue Rita itu orang yang penuh perhitungan" ujar Dewa menenangkan.


"Bagaimana lo bisa mengenal dia?" tanya Andi


"Awal kita ketemu itu saat perkemahan PMR, saat perkenalan dia nyanyi dangdut!"


"beneran?"


"Iya, suaranya sudah keras datar pula nadanya" Dewa menceritakan sambil tersenyum


"Terus?"

__ADS_1


"Dia bilang namanya diambil dari nama penyanyi dangdut favorit ayahnya, hahaha..lucu banget dia!" Dewa mengingat awal ia mengenal Rita.


"Hahaha...dulu dia anak yang cengeng, kurus dan penakut. Dia selalu menghindar kalau guru taekwondo kami datang. Lucunya ia tidak pernah menangis walau berkali-kali dibuat babak belur sama sepupu kami"


"Kata lo dia cengeng dan penakut?"


"Iya, awalnya dia takut dan nangis-nangis, tapi setelah ditenangkan ayah, dia jadi berani. Gue iri sama dia!"


"Masih iri?"


"He eh, dia bisa mengadu sama ayah kapan saja, dan ayah juga akan pasang badan untuknya"


"Apa selama ini lo ga menghubungi ayah ?"


"Gue punya nomernya, berkali-kali gue hubungi dia, cuma mau dengar suaranya saja.Begitu terhubung langsung gue tutup!"


"Kenapa?"


"Gue takut ga bisa menahan rasa rindu akan bokap" ungkap Andi dengan mata berkaca-kaca.


"Ahh..elo nih bikin gue mewek!" ujarnya lagi sambil mengusap titik air matanya.


"Gue pikir Rita merasakan hal yang sama kayak lo!"


"Lo tahu darimana?"


"Dia pernah cerita, kalau temannya mengambil benda kenangan dan dia berusaha keras merebut benda itu dari mamanya."


"Benda apa?"


"Tempat pensil, dia juga bilang mamanya yang ngasih, tapi yang milihin elo!"


"Kog dia bisa tahu?"


"Karena bentuknya mobil-mobilan!"


"Ahhh...tempat pensil yang itu?" Andi tersenyum getir


"Kenapa? masa lo ga tahu Rita itu cewek?"


"Tahulah, dulu gue berharap dia itu cowok, supaya bisa gue gebukin kalau gue mulai iri. Jadi gue sengaja milihin dia tempat pensil itu. ga nyangka dia masih menyimpannya."


"Masih, dia bilang, kalau terjadi kebakaran di rumahnya, benda itu yang duluan di bawanya."ujar Dewa


"Rita..Rita..ternyata orangnya sentimentil!"


"Lo juga Rey, kelihatannya saja lo cuek, padahal lo khawatir banget kan?"


"Tentu dong! Rita kan adik gue!"


" lo tahu Ar?" Tambah Andi


"Apa?"


"Dia selalu melindungi gue, walaupun gue cuma kakak yang beda ayah!"


"Caranya?"


"Gue pernah protes sama kakek karena membedakan perlakuan dibandingkan dengan Rita dan sepupu gue lainnya!"


"Kenapa bisa dibedain?"


"Karena jantung ini!" Andi menunjukkan bekas jahitan di dada kirinya.


"Ketika gue lahir jantung ini bentuknya ga sempurna, akibatnya setahun sejak gue lahir harus berada di ICU dengan alat bantu. Tapi Ayah Rita yang terus berupaya supaya gue tetap hidup dan mengusahakan transplantasi jantung. Karena terlalu ringkih, orang-orang di rumah memperlakukan gue seperti hiasan kaca yang mudah pecah!"


"Terus cerita Ritanya mana?"


"Gue melakukan kebandelan yang bikin kakek marah besaarr sampai gue mau dipukulin tapi Rita menangis kencang ga berhenti-henti, dia bilang kalau kakek menghukum gue, gue bakal mati, hahahaha..." Andi tertawa geli


"Emang lo ngapain?"


"Gue membuka kandang kuda dan memetik jeruk-jeruk yang masih belum siap panen."


"Waktu itu lo umur berapa? "


"Delapan tahun!"


"Lo bandel juga ya?"


"Hehehe...gue lebih sering berkeliaran sendirian di halaman rumah kakek yang super luas. Ternyata si Rita ngikutin gue dari belakang."


"Lo gak tahu diikutin?"


"Ga tahu, sampai kita dikejar anjing di kebun jeruk kakek dan kita manjat pohon sampai para pekerja kakek membantu kita turun." cerita Andi tersenyum


"Kakek lo punya kebun jeruk dan kuda?"


"iya!"


"Ooo..pantesan"


"Maksud lo?"


"Gue bingung, berlibur di Bali, okelah itu biasa, pindah-pindah hotel bagus, itu tetap biasa. Tapi sampai menyewa apartemen? itu tidak biasa, kecuali lo punya pabrik uang!"


"Kalau pabrik uang, berarti gue Bank Indonesia dong, kakek dan mama hanya pengusaha biasa!"


"Pengusaha sukses banget pastinya."


"Alhamdulillah, meskipun begitu kami tidak dimanjakan. Sedangkan Liburan ini sudah direncanakan nyokap sejak lima tahun yang lalu. Beliau menabung dari hasil usahanya, untuk jalan sama anak-anaknya."


"Ooo begitu, pantesan ya Rita kelihatan agak canggung."


"Iya, Dia yang paling ga menikmati kekayaan. Kalau kami, walau ga dikasih duit banyak, tapi fasilitas di rumah kakek itu melebihi fasilitas hotel dan taman hiburan!"


"Nah, itu gue percaya deh, karena lagak lo emang beneran lagak orang tajir!"


"Alaaahhh elo juga tajir Ar, cuma karena lo lama di daerah dan jarang bepergian, makanya kesannya norak!"


"Hahaha, sialan Lo!! mereka tertawa


"Kog kita tenang kayak gini ya?" ujar Dewa tiba-tiba


"Iya, entah kenapa gue merasa Rita sedang melakukan sesuatu!"


"Gue setuju, kita berdua jangan matikan HP, feeling gue, dia akan menghubungi salah satu dari kita cepat atau lambat!"ujar Dewa optimis.

__ADS_1


__ADS_2