Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 339: Sidang Skripsi


__ADS_3

Rita dan rombongan tiba di Singapura sehari sebelum jadwal sidang skripsi.


Malam harinya


"Besok jam berapa ke kampus?" Tanya Daniel sambil memberi susu pada Razan


"Jam 10, aku mampir dulu ke toko membeli Snack untuk para dosen"


"Kamu kok ga belajar sekarang?"


"Enggak ah, aku sudah selesai belajar sampai kemarin, sekarang ini aku ingin menenangkan diri"


"Mudah-mudahan sidangnya lancar ya?"


"Aamiin...btw waktu kamu sidang skripsinya gimana?"


"Gimana ya? Aku lupa, tapi kalau yang thesis aku dibantu pak Radian"


"Om Radian?"


"Iya, beliau jadi dosen penguji, aku latihan dicecar pertanyaan macam-macam."


"Kamu akrab sekali ya dengan om Radian"


"Begitulah, kalau baru kenal memang terlihat dingin dan datar tapi sebenarnya beliau sangat perhatian. Beliau mengijinkan aku libur seminggu untuk mempersiapkan thesis lalu membelikan ku tiket ke Korsel untuk bertemu mama.Aku sangat terharu dibuatnya"


"Jujur aku baru tahu tentang pribadi om dari kamu lho"


"Beliau memperlakukan aku seperti adiknya. Setelah kita menikah dia terlihat sangat senang"


"Oh ya? Kenapa?"


"Beliau bilang lega bisa menitipkan keponakan bandelnya ke aku, hehehe...."


"Aku kan gak sebandel itu!" Rita mencubit pinggang suaminya


"Auw..geli tau! Zan.. mami nakal nih!" Bayi yang baru berumur 2 Minggu itu menggeliat. Daniel memperhatikan wajahnya


"Anak ini tampan ya?"


"Hah?" Rita ikut memperhatikan wajahnya


"Masa kamu gak memperhatikan anak sendiri"


"Mungkin karena aku berpikir, wajah bayi itu masih bisa berubah. Seperti Ranna misalnya, dulu waktu lahir ia seperti orang Jepang, eh agak besar terlihat seperti orang Korea, Mirip papinya"


"Kalau Raffa?"


"Aku tidak banyak mengalami kesusahan saat hamil dia, kan kamu yang ngidam dan muntah-muntah. Waktu dia lahir aku lega sekali, kita punya sepasang walaupun jarak usianya dekat"


"Dia mirip siapa?"


"Mirip ayah Reza ya? Coba perhatiin deh"


"Masa sih? Aku pikir Raffa itu mirip aku."


"Enggak! Ranna yang jiplak kamu banget!"


"Hehehe..begitu ya tapi Rayya fotokopinya kamu!"


"Iya..iya...rada aneh sih melihat wajah kita dalam versi kecil"


"Sudah kamu istirahat deh, besok kan sidang. Aku mau melihat anak-anak dulu!"


Dengan bantuan Mario, ruang kerja Daniel dijadikan kamar untuk para baby sitter perempuan sedangkan Ryan tidur di kamar anak. Daniel mengecek kamar anaknya.


"Sudah pada tidur semua" gumamnya. Satu persatu ia mengusap kepala anaknya lalu kembali ke kamarnya.


Ketika Daniel kembali, Rita sudah terlelap.


Setelah sholat Isya, Daniel mengambil tabletnya dan memeriksa email yang dikirimkan Allan. Setelah beberapa saat ia pun terlelap.


Pagi harinya, saat subuh Rita mempersiapkan sarapan untuk keluarganya.


Daniel baru saja kembali dari mesjid.


"Lho kok kamu masak? Apa gak capek?" Tanya Daniel


"Enggak! Ini untuk mengalihkan rasa khawatir dan kegugupan ku"


"Kita ikut antar ya? Aku menyewa mobil cukup besar"


"Hah? Nyewa mobil segala?"


"Iya, aku mau ajak anak-anak keliling kota. Habis mengantar kamu."


"Gak usah diantar deh! Nanti aku mala jadi tambah gugup"


"Setidaknya kita antar sampai kampus, setelah selesai kamu kita jemput"


"Sewa mobil untuk berapa hari? mahal ya?"


"Sampai besok, mereka akan mengantarkan sampai bandara"


"Mereka?"


"Sebenarnya, Alex, kamu ingat kan?"


"Alex? Teman mu dari interpol?"


"Iya, dia kan sudah jadi bos di CITE, jadi dia meminjamkan mobil untuk kita, termasuk supirnya"


"Kenapa dia mau meminjami?"


"Dia bilang balas Budi karena sudah memberi pekerjaan yang bagus"


"Kamu orang baik sih ya, jadi banyak orang yang ingin membalas kebaikan mu!"


"Aku baik?"


"Iya! Itu buktinya!"


"Tapi aku baru saja memecat kepala divisi impor"


"Kenapa?"


"Dia bekerja sama dengan oknum pemerintah untuk menaikan harga komponen mesin, jadi Lexi harus membayar lebih mahal. Aku jadi berpikir apa aku terlalu keras ya? Bisa saja ia melakukan itu untuk menghidupi keluarganya "


"Yang kamu lakukan itu sudah benar, jangan berpikir ia melakukannya untuk keluarganya"


"Maksudnya?"


"Kalau dia bekerja sama dengan oknum apalagi terjadi bertahun-tahun, artinya dia serakah. Kalau sekedar menghidupi keluarganya itu suatu keterpaksaan. Ustadz bilang jangan mencampur kan yang hak dan yang bathil"


Daniel mengangguk


"Eh, kamu masih mengaji? Kapan? Aku kok gak lihat kamu ke mesjid?"

__ADS_1


"Lewat online dong. Aku kan dalam keadaan hamil tua. Anak-anak juga ngaji online. Mereka sudah hafal surat pendek"


"Aku terbiasa dengan ustadz yang di Jakarta, beliau yang membimbing ku selama ini, kalau sama yang lain rasanya beda saja"


"Aku lihat kamu sibuk kerja, bukannya lagi cuti?"


"Aku kan presiden direktur bagaimana bisa cuti. Walaupun cuti tetap saja aku harus mengecek kantor "


"Ckckck.. menurut ku Yang, kalau kamu dapat uang banyak dari Lexi, lebih baik kamu belikan saham Lexi , siapa tahu kan beberapa tahun ke depan kamu jadi pemegang saham mayoritas malah jadi pemilik Lexi"


"Wah, istriku sangat ambisius. Tapi apa kamu gak dengar peringatan dari Andi? Waktuku di luar hanya 7 tahun, kemudian aku harus kembali ke Dar.Co?"


"Oh itu, aku lupa bilang. Kak Andi pernah bilang ke aku, katanya kalau kamu mau berkarier di luar Dar.Co, silakan saja, lama juga boleh. Yang tujuh tahun itu batal!"


"Kapan dia ngomong begitu?"


"Oh, setelah kita pindah ke Swiss. Kakek mendengar cerita dari kakek Sugi tentang kita. Lalu beliau bilang deh ke Kak Andi."


"Beliau bilang apa?"


"Beliau tidak akan memaksa mu untuk Dar.Co. semua terserah kamu saja, kakek akan mendukung apa pun keputusan kita"


Tiba-tiba Daniel memeluk Rita, matanya berkaca-kaca


"Kamu kenapa?" Tanya Rita heran melihat suaminya emosional.


"Aku lega....sungguh! Ini seperti restu yang sudah lama aku tunggu. Jujur saja apa yang Andi katakan tentang 7 tahun itu sering membebani ku. Aku takut itu mempengaruhi hubungan.kita sebagai suami-istri"


"Kok aku jadi kena? Aku kan selalu mendukungmu"


"Itu kan ketakutan ku, walau seperti nya itu tidak lagi mempengaruhi ku"


"Tidak lagi?"


"Aku lihat kok, bagaimana kamu mengurus ku, mengandung anakku, bahkan kamu rela bersusah-susah pindah ke negeri antah berantah hanya untuk ikut aku. Makanya aku tidak ragu lagi akan dukungan mu!"


"Aku bingung nih!"


"Bingung? Bagian mana bingungnya?"


"Aku harus senang dengan ucapan mu itu apa tidak."


"Seharusnya senang dong!"


"Iya, tapi aku agak tersinggung, bagaimana bisa kamu meragukan kesungguhan ku? Kita sudah hampir 5 tahun bersama?"


"Begini, jangan marah! Dengarkan penjelasan ku dulu!"


Aku ini orang perantauan yang gak punya apa-apa, susah senang aku rasakan sendiri. Kemudian seorang seorang putri kaya dan cantik menyukai ku, dan menikah dengan ku lalu mau mengikuti ku kemana saja, apa itu tidak aneh?"


Rita terdiam ia tidak menimpali penjelasan Daniel.


"Sudah waktunya,yuk berangkat!" Ajaknya.


Rombongan Rita menaiki mobil minibus berpenumpang 12 orang, Rita diturunkan di depan kampus nya


"Dadah mami! Semangat ya!" Ujar Daniel


"Dahh..mamiii!!..suksesss!!!" Teriak Ranna


"Semoga belhasil mami!" Teriak Raffa


Rita tersenyum mendapatkan dukungan dari keluarganya.


Perlahan mobil meninggalkan Rita sendirian di kampus. Ia datang ke bagian administrasi, lalu segera menuju ke gedung tempat sidang berlangsung.


"Hai! Kamu dapat sidang jam berapa?"


"Aku giliran pertama kamu yang kedua Rit!"


"Oh, setelah ini ada lagi yang sidang?"


"Banyak! Dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 4 mahasiswa. Nah ini nama-nama penguji kita!"


"Kok kamu bisa dapat itu?"


"Aku datang kemari sejak tiga hari yang lalu untuk riset dan mencari tahu kebiasaan para penguji"


"Apa itu membantu untuk ujian nanti?"


"Sebenarnya enggak juga, tapi ini untuk membunuh rasa sepi dan mengisi waktu saja"


"Oh begitu"


"Kamu akan lanjut mengambil gelar master?"


"Entahlah! Mungkin aku istirahat dulu. Belajar dengan banyak urusan anak dan suami benar-benar membuatku lelah" keluh Rita


"Oh ya? Aku iri sama kamu. Masih muda, sudah bersuami, punya anak pula. Kata ibuku itu sudah memenuhi siklus hidup perempuan, apalagi sebentar lagi kamu lulus kuliah"


"Iya, Alhamdulillah aku memang beruntung" Rita menyentuh cincin kawin di jarinya


Nama Michele dipanggil untuk masuk ke ruangan sidang. Di ruangan itu hanya ada 4 orang penguji, notulen dan mahasiswa yang diuji.


Rita menghabiskan waktu menunggunya dengan berdzikir untuk menenangkan diri.


Satu jam kemudian Michele keluar ruangan, terlihat dari matanya ia sangat lelah.


"Susah ya?" Tanya Rita


"Lumayan! Aku harus memperbaiki beberapa tulisan ku. Mau pecah rasanya kepala ku" keluh Michele, ia mengambil obat dari tasnya


"Apa itu?"


"Ini? Aspirin. Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit"


"Kalau begitu kamu tiduran saja!"


"Enggak ah, aku mau langsung pulang"


"Pulang? Memangnya hasil sidang sudah keluar?"


"Sudah! Aku LULUS!" Michele kegirangan


"Wahh... selamat ya!" Rita memeluk Michele turut senang.


"Rita Kang" namanya dipanggil


"Aku masuk dulu ya? Bismillahirrahmanirrahim "


Rita memasuki ruang sidang.


Ia melakukan presentasi seperti biasa ia lakukan di tokonya bersama para staf. Ia juga menjawab pertanyaan para penguji dengan lancar.


"Eh, kamu pemilik D'Ritz itu ya?" Tanya salah satu penguji


"Benar pak!"

__ADS_1


"Wahh...jadi penelitian ini tentang toko mu?"


"Benar sekali Bu!"


Mereka membuka Snack box yang dibawa Rita dan memakan rotinya


"Benar juga enak! Lebih enak dari pada toko roti di depannya!"


"Oh ya? Anda kesitu?"


"Iya, anak ku bilang toko itu sedang viral dan harganya murah. Aku antri kira-kira satu jam. Jujur saja aku gak puas dengan rasa roti itu!"


"Benar! Aku juga menyesal antri lama di situ, walau murah tapi rasanya enggak enak mana mau balik lagi.Berbeda saat antri di D'Ritz, walau menunggu lama tapi gak mengecewakan!"


"Terimakasih!" Rita tersenyum bangga.


"Tapi apa harga rotinya harus semahal itu?" Tanya salah satu penguji


"Mahal? Itu relatif pak. Karena kami sudah memperhitungkan penggunaan bahan yang berkualitas dan higienis. Ditambah biaya tenaga kerja, pembuatan dan lainya sehingga didapatkan harga sedemikian" terang Rita


"Memang, aku merasakan kok, butter murahan dengan butter berkualitas itu rasanya di mulut berbeda."


"Benar bu!" Jawab Rita tersenyum


"Apa akan ada varian rasa baru lagi?"


"Mungkin pak! Kami menguji rasa-rasa yang familiar dengan anak muda zaman sekarang, tapi juga kami memperhatikan kesehatan"


"Maksudnya higienis ? Itu memang harus!"


"Bukan hanya higienis pak, kami juga memperhatikan bahan-bahan yang digunakan. Misalnya kami lebih memilih madu dari pada gula pasir untuk mengganti rasa manis pada roti. Menggunakan tepung yang sedikit mengandung gluten. Dan terus melakukan riset agar mendapatkan tepung yang bebas gluten. Seperti yang saya sebutkan di skripsi saya, penderita diabetes tipe 1 dibawah usia 20 tahun mencapai 17% di dunia. Sementara target pasar kami anak-anak usia remaja, walaupun seiring waktu berjalan roti kami disukai oleh banyak kalangan"


Para penguji mengangguk.


"Kami dapat ini lagi gak ya?" Saya sudah habis nih?"


"Tenang pak, saya bawa banyak!"


"Ini bukan sogokan kan?" Canda salah satu penguji


"Bukan pak! Jujur saja, kemanapun saya pergi selalu membawa roti dari D'Ritz, kadang kami membuat versi mini untuk dibagikan secara gratis"


Rita dibantu oleh staf yang dibawanya dari toko untuk membagikan kotak berisi roti kepada para penguji.


Tak terasa satu jam telah berlalu, Rita mendapatkan nilai A untuk skripsinya.


"Terimakasih banyak pak Bu!"


"Anda harus tahu nilai A ini bukan semata-mata karena pemberian roti ya?"


"Iya pak!" Rita tersenyum senang


"Nilai A itu pengakuan kami pada cara Anda mengelola D'Ritz hingga menjadi sebesar itu! Jadi selamat ya!"


"Terimakasih pak!"


Rita keluar dari ruangan sidang dengan wajah lega, ia memfoto kertas hasil sidang dan mengirim ke suaminya.


"Aku dapat A!" Tulisnya, ia bergegas kembali ke gedung administrasi untuk mengurus nilainya.


"Apa Anda akan mengikuti wisuda?"


"Eh? Kapan?"


"Sebulan lagi"


"Apa aku perlu memikirkannya? Karena aku tinggal di Kanada sekarang"


"Oh begitu"


"Apa saat wisuda itu, ijasahnya juga sudah selesai?"


"Tentu! Wisuda dengan menerima ijasah. Di sini selalu begitu"


"Apa harus daftar sekarang?"


"Sebaiknya begitu, supaya tidak bolak-balik"


"Berapa biaya wisuda?"


"Tiga ribu dolar Singapura"


"Lumayan ya, kalau aku berhalangan hadir apa toga dan ijasahku akan dikirim?"


"Tentu saja, tapi ada biaya lagi"


"Iya, tak masalah!"


Rita membayar administrasi, lalu segera keluar dari gedung itu, keluarga nya sudah menunggunya di tempat parkir


"Yeaayyy!! Selamat mami!!" Daniel memeluk istrinya


"Terimakasih "


Anak-anak juga mengerubunginya.


"Selamat Bu Rita!" Para baby sitter memberinya selamat


"Terimakasih banyak!"


Rita sungguh terharu mendapat dukungan dari keluarganya.


Mereka mampir ke cafe D'Ritz dan makan siang di sana. Rita juga melakukan VCall dengan kakek Sugi dan Kakek Darmawan. Lalu ia menghubungi mamanya serta kakaknya Andi.


"Cucu ku hebat!" Puji Darmawan, mereka melakukan Vcall berkelompok


"Siapa dulu cucu ku!" Ujar Sugiyono


"Kumat deh!" Ujar Andi sebal


"Selamat ya Rit!.. akhirnya..lulus juga" ujar Ratna


"Iya Ma, Rita juga gak menyangka dapat A"


"Jangan-jangan Lo sogok dengan roti D'Ritz ya?" Canda Andi


"Bukan sogokan kak, Rita hanya ingin para penguji benar-benar merasakan hasil penelitian Rita "


"Iya-iya!, Selamat Rit!"


"Kamu mewarisi bakat kakek Rit!"


"Bukan kamu saja, bakat dari ku juga" ujar Darmawan gak mau kalah, mereka berdebat online


Rita tersenyum, ia melihat suaminya yang sedang menggendong Rayya. Akhirnya ia paham apa yang dikatakan Daniel tadi. Dirinya besar bersama kedua kakek yang kaya raya, walaupun dia besar dengan ayahnya tapi ia sama sekali tidak pernah merasa kekurangan, berbeda dengan suaminya.


Hatinya semakin mantap untuk terus mendukung suaminya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2