
Rita keluar dari ruang kerja papanya dengan wajah lesu
"Heran dimanapun gue berada pasti deh kena denda, di sana gue harus ganti motor orang, sekarang ganti uang les!" gerutunya di luar kamar, ia berniat kembali ke kamarnya, teguran mamanya membuat dirinya lelah, ketika ia berjalan menuju kamarnya ia melihat Daniel kebingungan seperti mencari sesuatu, awalnya Rita tidak peduli, tetapi kemudian ia berubah pikiran, ia menghampiri Daniel yang sejak tadi berjalan bolak- balik
"Apa Anda mencari toilet?" tanya Rita sopan, Daniel mengangguk
"Dari sini lurus, lalu belok kanan"
"Oh, begitu, terima kasih, rumah ini begitu luas, aku bingung"
"yeah seharusnya ada beberapa staf yang bisa ditanyai" ujar Rita lagi
"Aku begitu terburu-buru, begitu tersesat, baru aku menyadari seharusnya bertanya dulu tadi!" ujarnya
"Apa anda memakai pampers? sehingga bisa menahan panggilan alam begitu lama? " tanya Rita
"Ah iya, Kamu benar, terima kasih banyak, Rita kan?!" ujarnya tersenyum ramah, kemudian ia pergi arah yang ditunjuk Rita
Cara berjalan Daniel, sangat khas, Rita bisa mengingatnya dengan baik, itu membuatnya sedih karena harus merelakannya jatuh ke pelukan tantenya. Rita kembali ke kamarnya, ia langsung menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di situ
"Ah kasur ini begitu nyaman, seharusnya gue gak bangun saja, terus di tempat tidur. matanya mulai menutup, disaat yang sama ia mendengar suara dari luar.
Ia membuka pintu yang menuju teras, ciri khas rumah itu, setiap kamar memiliki teras sendiri, kamar Rita menghadap ke jalan, dari atas ia melihat Metha dan Daniel, setelah berpamitan mereka masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah, Metha dan Daniel melambaikan tangan ke arah Rita.
Rita membalasnya, ia melihat mobil Metha meninggalkan rumah, Ia melihatnya dengan hati sedih, beberapa saat kemudian, Andi yang mengantar Daniel dan Metha keluar, ia membuka ponselnya, ketika ia berbalik, ia melihat Rita berada di teras depan kamarnya sedang melamun,
"Rita!, Tommy menelpon, lo gak nyalain hp lo?" teriak Andi
"Andi! jangan teriak-teriak begitu, sana samperin!" terdengar suara Eka memperingati, Andi menurut, ia berlari menuju kamar Rita
"Hei! Tommy nelpon ke hp lo, ga diangkat, dia nelpon gue, telpon balik gih!" ujar Andi sambil berlalu
Dengan malas, Rita mengambil ponselnya di meja belajarnya, ia membaca pesan dari Tommy kemudian ia menelpon balik
"Hei Kak! ada apa?"
"Rita, tadi kemana? kog hpnya gak hidup?"
"Aku di sekolah latihan kak, aku gak bawa ponsel"
"Ooo begitu, aku lagi di Jakarta, nanti sore aku balik ke Bandung. Aku ke situ ya?"
"hmmm...Jangan sekarang kak, hari ini aku capek sekali" keluhnya
"Oo begitu, ya sudah nanyi sebelum pergi aku telpon lagi ya? bye!" Tommy menutup teleponnya
"iya, Bye!" Rita menutup percakapan teleponnya, lalu kembali rebahan
"Setelah sekian lama, padahal bisa bertemu lagi dengan Tommy, tapi..kenapa hati ini berat sekali??? apa karena Daniel?" pikir Rita, kemudian ia pun terlelap.
Pagi harinya, di ruang makan, semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan
"Selamat pagi sayang!" sapa Eka
"Pagi Pa!" jawab Andi dan Rita bersamaan
"Pagi Sayangku!" sapa Ratna yang baru bergabung di meja makan. para ART dengan sigap menyediakan aneka hidangan, seperti nasi goreng,toast, omelet, dan jus buah
"Makan yang banyak! jangan sampai pingsan lagi!" ujar Andi ke Rita tiba-tiba
"Siapa yang pingsan?" tanya Ratna khawatir
'Rita ma!, kemarin Andi jemput Rita di sekolah"
"Kamu pingsan Nak?" Ratna meletakan tangannya di dahi Rita
"Gak apa-apa kog ma!"
Eka menggeleng
"Ma,sebaiknya bawa Rita ke RS, untuk dicek aku dengar dari Andi dari kemarin ia seperti orang bingung! mungkin ada efek dari jatuhnya!"
"Kamu jatuh Nak?" Ratna menghampiri Rita dan mengecek semua bagian tubuhnya.
"Apaan sih mama, Rita gak apa-apa kog!" protes Rita, nafsu makannya masih belum kembali
"Enggak bisa, kalau jatuh ya harus dicek" Ratna pergi sebentar ke ruang lain, lalu kembali ke ruang makan
"Mama sudah ijin ke sekolah, hari ini kamu gak usah sekolah, kita ke RS, mama juga sudah buat janji sama dokter di sana!"
"Tapi ma, aku gak apa-apa!" rengek Rita
"Sayang, kamu nurut apa kata mama ya?" bujuk Eka lembut, mendengar kata-kata lembut papanya membuat hatinya trenyuh, akhirnya ia mengangguk tanda setuju, Eka mengusap rambut Rita dengan sayang
__ADS_1
"Pa, Rita kan sudah hampir 17 tahun, kamu masih memperlakukannya seperti anak kecil!" protes Ratna sambil menyantap sarapannya
"Di mata papa, Rita selalu berusia 7 tahun, anak yang lucu!" jawab Eka menatap Rita dengan pandangan sayang
"Hari ini kuliah kamu jam berapa Andi?" tanya Eka
"Jam 10 pa! aku mau bawa motor saja! gak usah diantar pak Amir!"
"Kamu yakin? kampusmu lumayan jauh lho!"
"Gak apa-apa Ma, Andi sudah terbiasa kog!"
"Kamu juga memperlakukan Andi seperti anak kecil Ma!" ujar Eka
"Hahaha...kamu benar pa, di mataku aku selalu melihat Andi masih kecil!"
"Heii, aku hampir 20 tahun lho!" protes Andi
"Yah itu cuma angka, tapi kelakuanmu seperti anak SD!" ujar Ratna mengelap sisa saos di bibir Andi
Kira-kira satu jam, sarapan telah selesai, Eka berangkat ke kantor, Rita kembali ke kamarnya
"Rita, kamu siap-siap ya? kita berangkat jam 10!" ujar Ratna,
"Iya ma!" Rita kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Rita mematut dirinya didepan cermin rias di kamarnya
"Aku di sini...aku sakit..apa yang sakit? hatiku sakit" gumamnya kepada diri sendiri
"Aku ingin istirahatkan pikiran, tidur seharian tanpa ada yang ganggu!" Rita melihat jam di kamarnya, ah masih jam 8, ada waktu 2 jam untuk tidur, ia pun kembali ke ranjangnya dan tertidur. Ia terbangun ketika mendengar suara adzan dzuhur dari mesjid di daerah rumahnya.
"Eh jam berapa nih?" ia mengingat janjinya kepada mamanya, dengan segera ia keluar kamar dan mencari mamanya
"Mbak! mama mana?" tanya Rita kepada salah seorang art
"tadi mama datang ke kamar mbak Rita, eh katanya lagi tidur nyenyak, beliau gak tega membangunkan, jadi beliau langsung berangkat ke kantor!"
"oh begitu, aku balik ke kamar ya?" Rita kembali ke kamarnya dan kembali rebahan, ia hanya terbangun untuk sholat, setelah itu tidur lagi. Malam harinya, setelah makan malam, dokter datang berkunjung. Alangkah terkejutnya Rita ternyata dokter yang memeriksanya adalah dr.Reza Soegiarto, ayahnya di dunia lain.
Kedatangan dokter ke kediaman Darmawan cukup membuat para staf heboh, terutama staf perempuan. Mereka berkumpul di ruang keluarga untuk melihat dokter tampan memeriksa Rita
"Hei kalian ngapain ngumpul di sini?" tegur Andi
"itu mas, dr.Reza lagi periksa mba Rita, takutnya beliau butuh bantuan kami" ujar salah satu art beralasan
"ini sakit?" Reza menekan perut Rita, Rita menggeleng, perasaannya saat itu bercampur aduk. Ia bahagia bisa bertemu ayahnya lagi, ia kangen, ingin rasanya memeluknya, tapi ia menahan diri.
"ada radang sedikit! nanti ayah kasih resep obat untuk diminum ya?"ujarnya, Rita agak kaget mendengar kata ayah, tapi ingatannya di masa itu mulai muncul
dr.Reza Soegiarto teman kecil papa Eka Darmawan, beliau mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di bidang kedokteran. Sekarang ini beliau bukan hanya dokter tapi juga Doktor profesor. Sekarang ini, beliau menjabat sebagai Direktur Utama di RS milik keluarga Darmawan. Ia terkenal sebagi direktur utama termuda di RS. Seluruh keluarga Darmawan dirawat oleh dr.Reza.
"Rita, kalau ada masalah coba diceritakan sama orang yang kamu percaya. Jangan dipendam sendirian, nih, sakitnya di sini lalu kesini!" Reza menunjuk jantungnya lalu ke kepala
"Hatimu sakit! kenapa? putus ya sama Tommy? " tanya Reza kepo
Rita hanya diam saja, Aku melupakan Tommy, ditinggal Daniel hatiku terpuruk!, ia tidak berniat menceritakan perasaan patah hatinya pada Daniel, toh bukan Daniel di dunia ini. pikirnya
"Ya sudah kalau kamu gak mau cerita,"Reza mengakhiri pengobatannya, Eka datang menghampirinya
"Apa kabar Rez? sudah lama?"
"Alhamdulillah baik, sudah setengah jam" jawabnya sambil melihat ke jam tangannya. Mereka saling bersalaman dan berpelukan,layaknya teman lama yang baru bertemu.
"Kamu kembali ke kamar untuk istirahat ya sayang!" Eka mengecup rambut Rita
"Terimakasih banyak yah!" Rita mencium tangan Reza, lalu pergi ke kamarnya.
Eka mengajak Reza ke ruang kerjanya untuk mengobrol. Mereka terbiasa ngobrol lama di sana
"Aku kesini karena aku dengar Ratna membatalkan janji check up, Aku pikir ada yang gak beres jadi aku mampir kesini"
"Terimakasih Za, aku ga ngerti sama Rita ini, dia 2x bolos les piano, kalau ditanya diam saja"
"Rita sedang dalam masa puber Ka, dia lagi merasakan jatuh cinta, patah hati, nah itu mempengaruhi moodnya, kita harus sabar-sabar, yang penting tetap kita awasi. Anak zaman now itu baperan dan mudah sekali depresi."
"jadi Rita sedang patah hati?"
"Sepertinya begitu, tapi memang ada juga radang di tenggorokannya"
"hmm...begitu, btw bagaimana kabar Novia? wah kamu itu mentang-mentang laku, gonta-ganti istri saja"
"Ah, kamu bisa saja! ini bukan salah ku! kedua mantan istriku tidak tahan dengan semua perempuan di sekitarku, akhirnya mereka minta cerai"
"Kamu gak mempertahankan?"
__ADS_1
"untuk apa? mereka bilang memilikiku membuat hati mereka sakit, aku ini dokter, seharusnya aku bikin orang sehat bukan malah sakit!"
"Rugi ya para mantanmu padahal kamu baik banget, walaupun yah agak flamboyan.Terlalu tampan kadang memang jadi kutukan ya?"
"Ah Eka kamu bisa saja, menurutmu Aku tampan?"
"Di mataku yang lelaki saja kamu tampan, apalagi perempuan?"
"Kalau aku setampan itu kenapa waktu itu Ratna menolak ku?" tanya Reza jahil
"Dasar!!!" Tiba-tiba Eka memiting kepala Reza diketiaknya dan memoles-moles kepalanya, bercandaan keduanya masih seperti anak-anak.
Pukul 9 malam Reza meninggalkan rumah Eka, keadaan seisi rumah kembali tenang. Ratna yang baru pulang dari kantor terheran-heran
"Ada apa mas? seperti habis konser di sini?"
"Itu, tadi Reza datang memeriksa Rita"
"ooo begitu, pantas rame, jadi bagaimana Rita?"
"ada radang sedikit, sama lagi patah hati"
"hah? patah hati? kamu tahu darimana?"
"Reza yang bilang, apa Rita putus dari Tommy?" tanya Eka
"Entahlah, coba tanya Andi, mungkin dia tahu"
"Andi gak tahu ma, memangnya Andi gak ada kesibukan lain, ngurusi orang?" jawab Andi ketika ditanya perihal Rita
"hush Rita kan adikmu bukan orang lain!, tugas kamu sebagai kakak ya menjaganya!, kamu cari tahu ya Ndi! ini perintah dari papa!" ujar Ratna tegas, kemudian ia meninggalkan kamar Andi.
Sudah tiga hari Rita tidak masuk sekolah, meski demikian ia tetap mengerjakan tugas sekolah di rumahnya. weekend telah tiba, Eka mengajak keluarga untuk pergi ke Bandung, walaupun segan, Rita terpaksa ikut. Mereka menaiki mobil vellfire, mobil mewah yang dalamnya luas, Rita hanya duduk di belakang menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Ndi, kamu sudah menghubungi Tommy tempat kita menginap kan?" tanya Eka
"Sudah pa, kata Tommy ia akan datang!"
"Baguslah, papa khawatir sama Rita, biasanya dia riang, sekarang jadi kayak begitu" ujar Eka berbisik
"Rita itu seperti kamu pa, inget gak waktu kita pacaran dan berantem, kamu mogok makan 3 hari kan?" ujar Ratna berbisik
"hush, kata siapa?"
"papa yang bilang, kamu gak keluar kamar tiga hari!"
"apa betul pa?" tanya Andi
"Mungkin, papa sudah lupa tuh!"
"btw Ndi, Tommy ambil jurusan apa di Bandung?"
"Jurusan pertanian ma, dia mau jadi petani katanya"
"ooo pantesan, memang masih ada sawah di Bandung?"
"Masih pa, katanya mereka lagi ujicoba pertanian indoor,pa"
"seperti greenhouse?"
"Bukan pa, mereka lagi mencoba menanam padi di atas dan di dalam gedung"
"hah? emang bisa?"
"Di Jepang berhasil Pa, makanya mereka lagi ujicoba di sini"
"oo begitu, nanti dia datang ?"
" iya paaa, kog gak percaya sama anak sendiri?" ujar Ratna gemas
"bukan begitu ma, harus yakin nih, papa bela-belain batalin janji golf untuk nyamperin Tommy demi Rita!" bisik Eka
"kenapa gak papa ajak saja teman papa? kan bisa main golf di Bandung, sekalian memperkenalkan hotel baru kita di Bandung?"
" ah iya, kenapa gak kepikiran kesitu ya?" Eka menepuk jidatnya
"dasar, papa!" Ratna menggeleng
Eka mengambil ponselnya dan menelpon ke temannya
Rita mendengar percakapan orang tuanya, tapi ia tidak peduli, pikirannya betul-betul sedang suntuk.
-bersambung-
__ADS_1