
Rita melihat rekaman CCTV di ponselnya. Ia tidak melihat suatu kejanggalan kemudian ia mencari bekas suntikan di tangannya. Ia mendapati bekas suntikan yang hampir hilang.
“Eh, ditangan ini?” ia melihat punggung tangan kanannya. Bekas suntikan tersebut terletak tersembunyi. Ia mengingat-ingat lagi siapa yang berinteraksi dengannya.
“Sayang, kamu sudah enak kan?” tanya Daniel, ia menggendong Rafa
“Hmm,..sudah..Rafa ingin menyusu ya?”
“Dia sudah minum susu tadi, tapi sepertinya dia kangen kamu” Daniel menghampiri Rita dan memberikan Rafa ke gendongannya,
“Sini nak!, kamu kangen mami ya?” Rita mencium kepala Rafa
“Beberapa hari ini, ia tampak tenang sepertinya ia mengerti mamanya sedang istirahat”
“Kamu masih online?”
“Masih, tapi lagi rehat sebentar. Pegal juga duduk terus”
“Kamu bisa mengubah ruang kerjanya menjadi lebih menyenangkan “
“Oh ya? misalnya?”
“Ya, kamu bisa menghubungkan komputer dengan layar monitor di ruang tengah, jadi kamu bisa bekerja sambil berolahraga, atau apapun yang kamu mau”
“Itu multi tasking! Apa kamu gak tahu kalau cowok itu gak bisa multi tasking”
“Hoooh begitu ya?” Rita tersenyum melihat suaminya.
“Kenapa ngeliatin?” tanya Daniel
“Enggak, wajah kamu kelihatan cemas sekali ya?”
“Tentu dong! Apa kamu gak tahu, sejak kamu pingsan beredar kabar di group kantor aku akan menjadi duda keren?”
“masa? Aku Cuma gak sadar 24 jam!”
“36 jam!, kamu gak menghitung setengah dari setelah pingsan!”
“Oh iya ya? maaf deh! Aku kan juga gak tahu bakal pingsan. Oh ya, kamu sudah menyelidiki orang yang membuatku pingsan?”
“Aku sedang mengusahakannya! Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti, tapi sebelumnya aku minta kerja sama mu!”
“Tentu! Kamu mau aku ngapain?”
“Kamu melihat wajah orang-orang ini!” Daniel memberikan tabletnya yang berisi foto-foto orang.
Rita meletakkan Rafa yang telah terlelap di sampingnya, lalu melihat foto dalam tablet dengan seksama.
“Hmm...sebentar!” ia menggeser foto dalam tablet perlahan
“Eh ini, kayaknya ini satpam yang di apartemen kita deh!” Rita menunjukkan foto seseorang
Daniel mengambil tablet dari tangan istrinya
“Hmm...ini satpam apartemen kita?”
“Iya, seingatku dia yang menemaniku waktu kita kebobolan pertama kali”
“Kamu yakin?”
“Tentu, karena wajah orang ini lumayan tampan.”
“Kamu genit juga ya?” Daniel cemburu
“Bukan begitu, waktu itu aku berpikir. Kenapa orang setampan dia jadi security, kenapa gak jadi model saja”
“Kamu sempat-sempatnya mikir begitu? Padahal apartemen kita dibobol orang?”
“Jangan cemburu seperti itu, aku berpikir sepertinya aku pernah melihat wajah ini, tapi di mana ya?”
“Wajah suami mu sudah sangat tampan, tapi kamu masih memperhatikan cowok lain?” Daniel kesal, ia keluar dari kamar tidur mereka sambil membawa tablet, sementara Rita masih mengingat-ingat tentang cowok itu. Malam itu Daniel mendiamkan Rita, ia masih kelihatan kesal.
“Yang, aku lagi kuliah online, menurut mu mata kuliah pilihan yang aku ambil apa ya?” Rita menunjukkan laptopnya, tapi Daniel berpura-pura tidur.
“Yah, sudah tidur ya? besok saja deh!” Rita menutup laptopnya lalu mematikan lampu kamar.
Keesokkan paginya, Rita sengaja bangun pagi untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Daniel baru saja selesai berpakaian dan bersiap untuk kerja online
“Selamat pagi Sayang!”Sapa Rita, ia menyuapi Ranna, sementara Rafa sedang di kursi goyang
“Pagi!, halo Ranna! Rafa!” Daniel mencium kepala kedua anaknya, lalu duduk di ruang makan.
“Eh, maminya gak dicium?” tanya Rita heran
“Gak usah lah!” ujarnya kesal
“Kenapa? Kamu masih marah soal kemarin ya?”
“Kenapa enggak? kamu pernah marah gara-gara pertemuan pertama kita tidak seperti harapan kamu?” ujar Daniel dengan suara datar, ia mulai menyantap sarapannya
“aku heran, kenapa kamu jadi marah seperti itu? Aku kan melakukan seperti yang kamu lakukan?”
“Maksud mu?”
“Kamu kan kalau mengingat orang berdasarkan ciri-cirinya, nah aku juga melakukan hal yang sama. Hanya saja cara aku mengingat lebih panjang dibandingkan kamu, bukan berarti aku tertarik sama orang itu!” ujar Rita
“Apa betul seperti itu?” tanya Daniel
__ADS_1
“Tentu!, lagi pula aku gak tertarik hanya pada ketampanan, tapi potensi itu yang lebih menarik!”
“Jadi orang itu tidak berpotensi?”
“Yaa, bisa jadi kan? Bukan maksudku merendahkan profesi, maksudku hidupnya bisa lebih baik kan kalau..”
“Ya...ya...ya..tuan putri memang selalu benar!” Daniel menyudahi makannya, lalu pergi meninggalkan ruang makan.
“Papi kenapa sih Ranna? Dari kemarin emosi melulu! Lagi dapet ya?” gerutu Rita sambil membereskan bekas makan mereka, tak berapa lama pelayan datang
“Permisi, mau ambil piring bu!”
“Oh ya silakan!” Rita menggeser kursi Ranna dan Rafa menjauh dari meja makan. Rita memperhatikan pelayan itu yang sedang membereskan meja makan mereka
“Hmm..kamu baru di sini ya?” tanyanya, sambil berusaha melihat wajah pelayan tersebut
“Enggak bu, sejak kemarin saya sudah di sini” ujarnya,
“Hmm...”Rita membalikkan tubuhnya untuk menggendong Ranna, tiba-tiba pelayan itu menyerang Rita dari belakang. Ranna terjatuh dari kursinya dan menangis keras, Raffa mengikuti. Sementara Rita berusaha bertahan dari serangan pisau pelayan tersebut. Daniel mendengar suara tangis kedua anaknya.
“Rita! Aku sedang!” suaranya agak tinggi, ia keluar dari ruang kerjanya, alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat istrinya sedang bertahan dari serangan pisau pelayan. Ia segera menarik tangan pelayan tersebut, sayangnya pisau itu melukai lengan Daniel.
“Sayang!” Rita berteriak
“Amankan anak-anak!” teriak Daniel, ia bertarung dengan orang itu. Rita menggendong Ranna dan Rafa membawanya ke kamar tidur mereka, ia menelpon Ridwan untuk membawa security ke kamar mereka. Rita merasa tidak tenang melihat luka di lengan suaminya, ia keluar dari kamar tidur mereka.
“Jangan kesini!” teriak Daniel, pelayan itu menuju ke arah Rita dan menusuk perutnya,
“Akhhh!!” Rita tampak kaget, sementara pelayan itu terlihat semakin beringas, ia berusaha menusukkan pisaunya semakin dalam, Rita mengambil vas bunga kaca cukup berat dan memukulnya ke kepala orang itu
“Duaghh!!! “ akhirnya pelayan itu pingsan
“Kamu gak apa-apa?” tanya Daniel, ia tampak lemas
“Aku tidak apa-apa, tadi aku membawa bantal dari kamar, gak menyangka ternyata sangat berguna” Rita memeriksa luka di lengan suaminya.
“Kamu gak apa-apa?” tanyanya lagi
“Aku hanya lemas saja, mungkin pisau itu diberi obat bius!” ujar Daniel, kesadarannya memudar.
Beberapa jam kemudian ia tersadar di ruang perawatan, Rita berada di sampingnya
“Kamu sudah sadar Yang?” tanya Rita, ia mengusap wajah suaminya dengan sayang.
“Aku di mana? Bagaimana orang itu?” ia segera bangkit dari ranjangnya
“Polisi sudah membawanya tadi, pak Ridwan meminta penyelidikan tentang orang itu, motifnya apa menyerang kita"
“Dia bukan menyerang kita, dia mengincar mu Rit!”
“Aku? Kenapa?”
“Apa kamu yakin dia hanya mengincar aku?”
“Karena, sejak kamu masuk kamar membawa anak-anak, ia menghindar untuk berkelahi dengan ku. Dengan kondisi ku yang lemah terkena sabetan pisau biusnya seharusnya ia bisa menghabisiku dengan mudah” ujar Daniel menjelaskan
“Wah gawat juga ya?”
“Kok kamu kelihatan senang? Tadi Ranna jatuh, dia gak apa-apa kan?”
“Hanya kaget saja, aku senang karena akhirnya orangnya tertangkap jadi kita gak perlu khawatir lagi”
“Hmm..aku kog gak yakin ya? sepertinya ini hanya permulaan saja”
“Tadi kakek marah pada staf keamanan, bagaimana ia bisa lolos masuk ke rumah?”
“Sepertinya orang itu sudah merencanakan sejak lama. Ia sudah menjadi karyawan di sini” ujar Daniel lagi, ia melihat luka di lengannya
“Perih ya? tadi dokter sudah menjahit lukanya, darahmu sedang di tes di lab, mereka takut ada racun lain di tubuh mu!”
“Ahh...kenapa bisa begini sih? Kenapa kita lebih aman di apartemen kita sendiri?” Daniel kembali merebahkan tubuhnya. Rita memeluknya
“Aku lega kamu baik-baik saja” ujarnya sambil menyandarkan kepalanya ke tubuh suaminya
“Kenapa kamu keluar kamar? Itu bahaya!” ujar Daniel ia mengusap rambut istrinya
“Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku akan sangat menyesal kalau tidak bisa membantu mu” ujar Rita lagi
“Membantu ku? Aku jadi ingat!”
“Ingat apa?”
“Penyanderaan rumah besar di Auckland!, kamu juga menyelamatkan ku! Waktu itu kita juga sedang bertengkar”
“Ahh!!! Itu dia!!!”
“Hah? Apa?”
“Kamu ingat orang yang menjadi kepala security di sana? Dia bekerja sama dengan penyandera, aku lupa namanya, Robert kalau gak salah! Mukanya mirip orang tadi!”
“Kamu yakin?” Daniel langsung bangkit dari ranjang
“Aduuh!!” kepalanya agak sakit
“Kamu di sini saja, biar aku yang bilang ke pak Ridwan!” Rita segera keluar dari kamar perawatan dan menghubungi pak Ridwan.
Dua jam kemudian ia kembali ke kamar perawatan, Daniel yang masih terbaring melihat wajah cerah istrinya
__ADS_1
“Apa semua baik-baik saja?” tanyanya, Rita mengangguk, ia tampak lega
“Ternyata dia juga yang menstalker aku, berpura-pura menjadi security untuk mengawasi pergerakan kita.”
“Kamu yakin dia orangnya?”
“Kakek menghubungi orangnya di Auckland, mereka memeriksa apartemennya. Semua lingerie aku ada padanya, juga foto-foto ku dan anak-anak”
“Ah syukurlah!” Ia tampak sangat lega, ia tersenyum melihat istrinya
“kenapa? Kok tersenyum?”
“Kalau dipikir-pikir tadi kita hampir ribut besar, eh kita baikan lagi karena kita hampir terbunuh”jawab Daniel
“Itu karena kamu terlalu cemburu!”
“Tentu aku cemburu!, istriku memperhatikan cowok lain!. Kalau aku yang begitu pasti aku gak akan dapat jatah tiap malam!” ujar Daniel sewot
“Iya..iya..baiklah!”
“Baiklah apa?”
“Aku tidak akan memperhatikan cowok lain lagi!”
“Mana mungkin!”
“Habis kamu mau aku bagaimana dong?” tanya Rita bingung
“Berhenti menyebut cowok lain tampan di depan suami mu!” ujar Daniel
“Siap!! Laksanakan!” Rita bersikap memberi hormat pada suaminya
“Hahaha! Dasar!!” Daniel tersenyum melihat tingkah istrinya.
Sore hari hasil lab Daniel keluar.
“Bagaimana dokter?” tanya Rita
“Semuanya normal bu, tidak ada zat yang membahayakan lagi di tubuh kalian”
“Alhamdulillah!” ujar Rita dan Daniel bersamaan
“Sepertinya tugas kami di sini sudah selesai ya bu, pak, kami mohon diri!”
“Terima kasih dokter! Suster! “ Rita mengantar tim medis yang telah tinggal bersama mereka lebih dari empat hari.
“Eh mau kemana?” Rita melihat suaminya keluar dari ruang rawat
“Ya kembali ke kamar kita, aku sudah sembuh kan?”
“Iya, tapi kamu juga harus banyak beristirahat!”
“Bukan aku saja, kamu juga kan?” Daniel merangkul istrinya
“Setidaknya di sini gak membosankan, iya gak?”
Daniel mencium kening istrinya
“Kamu gak pernah membosankan!” ujarnya dengan sayang, mereka kembali ke kamar mereka di sambut dengan tangisan kedua anak mereka.
“Huaaa!!!!”
“Wah kompak nih yee!!” ujar Rita, ia mengambil Rafa, sedangkan Daniel mengambil Ranna.
“Kalian boleh istirahat, nanti kami panggil kalau kami butuh!” ujar Daniel kepada kedua baby sitter
“Baik pak!”
Daniel, Rita dan kedua anak mereka bercengkrama di kamar tidur.
“Kita ini aneh ya?”
“Aneh kenapa?” tanya Rita, ia memberikan boneka kecil kepada Ranna
“Kamar sudah begitu luas, tetap saja ngumpul di kamar tidur” jawab Daniel
“Mungkin karena kita kaum rebahan sejati, gak di tempat tidur gak asyik!!” ujar Rita sambil bermain kapal-kapalan dengan Ranna
“Hmm...besok Ranna sudah setahun ya?” ujar Daniel
“oh iya! Aku lupa membuat pesta ulang tahun kecil-kecilan untuknya, padahal tadi kak Andi ingin kita merayakan secara online”
“Besok, aku bantu!”
“Terima kasih sayang! Kamu memang the best!” Rita mencium bibir suaminya. Tiba-tiba Ranna memukul wajah Rita pelan
“Kamu kenapa?” tanya Rita
“Ia cemburu, kamu mencium ku!” ujar Daniel tersenyum, Ranna menghampiri Daniel lalu mencium pipinya
“Jadi Ranna gak sayang mami lagi nih? huhuhuhu” Rita berpura-pura menangis , ia menutup wajahnya. Ranna menghampirinya, lalu membuka tangannya
“Baaa!!!” Rita mengagetkan
“Hahahaha!!” Ranna tertawa girang, ia memeluk leher Rita lalu menciumi wajahnya
“Mungkin dia cemburu sama aku, tapi dia tetap sayang aku!” ujar Rita, membalas ciuman anak pertamanya.
__ADS_1
_Bersambung_