Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 113: Direktur Baru


__ADS_3

Daniel terkejut membuka paket yang berisi Lukisan Anak menangis. Ia termenung memperhatikan lukisan yang terlihat sangat natural, hatinya ragu dengan cerita dari Saveetri tentang kutukan di lukisan tersebut. Apa benar rumah yang ditempati lukisan itu akan terbakar? Apa itu hanya karangan Saveetri saja untuk mendekati dirinya? Tanpa sengaja Daniel menatap mata anak dalam lukisan, ia merasa di bawa ke suatu tempat, dirinya tersadar ketika sekretaris menegurnya.


“Pak Daniel!”


“Hah? Iya ada apa?”


“Ada telepon dari pak Radian!”


“Sambungkan ke ruangan saya!”


“Sudah pak!, tapi tidak diangkat oleh Bapak!”


“Hah? Oh iya, sambungkan lagi!” Daniel mendekati meja kerjanya dan menerima telepon dari Radian.


“Niel!”


“Ya Pak?”


“Apa ada yang penting sampai telepon dariku tidak kau angkat?”


“Maaf pak!, saya ada keperluan sebentar”


“Hmm..Niel, Aku sudah berada di London”


“Iya pak?”


“Ya, kerjasama kita dengan pak Charles terlalu riskan jika aku kerjakan jarak jauh, jadi aku memutuskan membuka kantor baru di sini. Beberapa orang staf kantor di Auckland sudah aku tugaskan ke London untuk bertugas di sini!”


“Apa saya termasuk ke London pak?”


“Tidak!, Kamu saya angkat menjadi Direktur di situ menggantikan aku, kamu sudah sangat tahu job desknya kan? Ini berlaku sejak saat ini. Aku sudah email pemberitahuan kepada seluruh kepala bagian dan staf di sana! Untuk kontrak kerja dan fasilitas yang kamu dapatkan tercantum di kontrak kerja!”


“Tapi pak?”


“Niel! Ini kesempatan langka! Kamu jangan ragu, tidak setiap orang mendapat kesempatan bagus seperti ini! Aku yakin kamu bisa membuat kantor kita tetap berjaya! Oh iya, katakan pada Andi dan Rita, aku tunggu di London minggu ini, Kamu juga Niel!”


Daniel termenung, gagang telepon masih dipegangnya, ia seperti mendapatkan durian runtuh, tidak percaya dirinya mendapatkan kepercayaan begitu besar. Ucapan Radian tidak diresponnya dengan cepat


“Niel? Niel?”


“Ya pak?”


“Kamu gak apa-apa kan? “


“Saya sangat sehat pak!”


“Bagus, apa kepalamu masih sakit?”


“Eh?”


“Salah seorang kenalanku melihatmu di rumah sakit"


“Kepala saya sudah jauh lebih baik pak, masih nyeri sedikit!”


“Kalau kamu kurang sehat pulang saja, istirahat! Kantor masih bisa berjalan tanpa kamu!”


“Baik pak terima kasih!”


“Oh iya satu lagi Niel!”


“Ya Pak?”


“Untuk sementara kamu pakai mobilku sampai mobil baru untukmu tiba!”


“Mobil baru?”


“Iya, Kamu direktur yang baru, gak mungkin kamu pakai mobil bekas aku!”


“Baik pak terima kasih!” Radian menutup teleponnya, Daniel masih shock, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia mendapatkan promosi besar!


Di tempat lain, Radian sedang bercakap-cakap


“Sudah Om, Daniel sudah resmi menjadi direktur cabang Auckland!”


“Bagus, tapi bukan berarti kamu lepas tanggung jawab ya?, Aku melepasmu dengan menjalankan perusahaanmu sendiri bukan berarti kamu tidak memperhatikan kantor lama! Kamu kan tetap komisaris utama!”


“Iya Om, tapi apa tidak berlebihan mengangkat Daniel? Yang sebelumnya hanya asisten pribadiku?”


“Aku mengenalnya sejak ia berusia 15 tahun, anak itu cerdas, loyal dan setia. Bahkan hingga saat ini ia terus mengirimi uang untuk ibunya.”


“Oh ya? Om mengawasi Daniel?”


“Tentu!, aku tahu ia akrab dengan Rita. Ini juga ujian buat Daniel, apa dia berubah dengan jabatan yang ia miliki atau tidak!”


“Apa ini strategi Om untuk menjauhkan Daniel dari Rita?”


“ini seperti 2 sisi mata uang Radian, kalaupun akhirnya mereka putus, tokh Daniel tetap jadi pegawai kita. Kalau kinerjanya bagus kita pertahankan, jika tidak terpaksa kita lepas, simple saja kog!. Jika akhirnya ia berjodoh dengan cucuku, itu juga keuntungan bagiku, setidaknya Daniel akan memiliki harta sendiri dari jerih payahnya sebagai Direktur. Aku ingin cucuku hidup terjamin!”


“Om, Andi dan Rita tahu Om selamat?”


“Aku belum menghubungi keduanya!, aku ingin memberikan kejutan pada mereka!”


“Masih iseng saja Om?”, Darmawan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Radian


“Tentang Daniel dan Rita, aku tidak menentangnya. Perjalanan ku yang sekarang menyadarkan ku, selama ini aku terus bekerja membesarkan perusahaan, sampai aku tersadar cucu-cucuku sudah dewasa. Aku bersyukur, mamanya Metha, tantemu memaksaku pergi ke Venesia di bandingkan langsung pulang, sehingga aku terhindar dari kecelakaan pesawat itu!”


“Ketika aku mendengar kabar pesawat yang ditumpangi Om hilang, aku sangat panik. Aku bingung bagaimana mengabarkan kepada Andi dan Rita.”


“Maaf membuat kalian cemas!” Darmawan mengatakannya dengan pelan


“Jadi Om mengurungkan niat Om dan pak Sugiyono untuk menjodohkan Rita dengan Rendy?”


“Aku sudah menyatakan mundur, aku tidak mendukung perjodohan itu. Aku melihat Rita, anak yang sangat berbakti dan setia. Aku mengamatinya dari jauh, sejak aku menghilang , tidak sedikitpun ia menghubungi ayahnya. Bisa jadi ia ingin melindungi ayahnya dari aku atau dia merasa tidak enak denganku. Padahal aku sudah kembalikan paspornya, ia bisa pergi kapan pun, tapi itu tidak ia lakukan karena itu aku berpikir kembali, aku ingin Rita bahagia dengan orang yang ia cintai”


Radian terdiam mendengar ucapan Darmawan, ia berpikir orang tua di depannya ini sudah banyak berubah, sementara itu Daniel masih shock dengan kenaikan jabatan yang tiba-tiba, ia terduduk lemas. Sekretaris datang ke ruangannya.


“Pak Daniel, ruangan untuk Anda akan segera selesai besok, apa ada yang mau bapak pindahkan dari ruangan ini ke ruangan baru?”

__ADS_1


“Hmm...aku pikir tidak ada, ruangan ini akan ditempati oleh asistenku, jadi tidak usah!”


“Baik pak!”


“Eh, Martin!” Daniel memanggil sekretaris


“Ya pak?”


“Ada berapa sekretaris di kantor ini yang menangani pak Radian?”


“Dua pak! Saya dan Helen!”


“Kalau begitu mulai sekarang, Kamu menempati ruangan ini, kamu menjadi asistenku, biar Helen yang tetap menjadi sekretaris!”


“oh, baik pak!”


“Satu lagi, hari ini aku agak kurang sehat, jadi aku ingin pulang lebih cepat”


“Baik pak, apa perlu diantar Andre?”


“Andre?”


“Dia supir baru perusahaan Pak, Richard, supir yang sebelumnya ikut pak Radian ke London!”


“Oh begitu, kalau begitu minta Andre menjemput aku besok ke apartmen ku pukul 9 pagi, nanti aku kirim alamat apartment ku!”


“Tapi Pak?”


“Ya?”


“Pak Radian bilang Apartemen Baru untuk Bapak akan tersedia dua hari lagi!”


“Ini bukan apartemen baru, ini apartemenku yang lama!.Jadi tolong ya Martin!”


“Baik Pak, akan segera dilaksanakan!”


Daniel mengantongi ponselnya dan turun ke lantai bawah, semua orang memberi hormat padanya, ia hanya mengangguk pelan. Perhatian yang membuatnya canggung, pikirnya. Sesampainya di mobil ia menghubungi Rita, ia bermaksud menjemputnya di sekolah. Pukul 3 sore sekolah sudah selesai, Rita menunggu Daniel di halte depan sekolahnya.


“Sudah lama nunggu?” tanya Daniel


“Cuma 10 menit!, kamu sudah selesai kerja?” tanya Rita sambil memasang seat belt


“Aku ijin pulang cepat , kepalaku sakit!”


“Hah? Aku saja yang menyetir!” Ujar Rita khawatir


“Enggak usah, itu alasanku untuk keluar kantor lebih cepat “ujarnya tersenyum


“Apa betul begitu?”


“Sungguh! Masa aku bohong tentang kesehatanku sendiri, kamu sudah makan?”


“Belum, lapar nih!”


“Ayo aku traktir, aku ada kabar nih!”


“Kabar apa? bagus apa enggak?”


“Niel, restaurant ini kan mahal!”


“Gak apa-apa Rit, restaurant ini memang mahal, tapi makanan di sini enak dan halal!”


“Begitu? Apa uangnya cukup? “ Rita membuka dompetnya mencari kartu debitnya


“Gak usah khawatir pesan saja!” Daniel membuka menu lalu memesan beberapa makanan, karena Rita tidak tega melihat harga di menu, ia menolak memesan. Akhirnya Daniel memesankan untuknya.


“Kamu yakin Niel? Harganya mahal lho! Kamu kan harus bayar sewa apartment bulan ini?” tanya Rita khawatir


“Rita, aku punya kabar gembira!”


“Iya?”


“Sejak saat ini, aku telah diangkat menjadi Direktur menggantikan pak Radian!”


“Hah? Uhuk..uhuk..uhuk...”Rita terbatuk-batuk mendengar kabar tersebut, Daniel memberikan minumannya kepada Rita


“Kenapa?”


“Pak Radian membuka kantor baru di London, karena kerjasama dengan pak Charles yang nilainya terlampau besar untuk ia serahkan kepada orang lain. Jadi ia menyerahkan urusan kantor ini kepadaku!”


“Oya? Selamat pak Direktur Niel!!! Wah kenaikan jabatan yang sangat pesat!” ujar Rita senang


“Hmm,..tapi Rit, kog kamu senangnya biasa saja? Aku pikir kamu akan sangat senang!”


“Aku sangat senang dan bahagia kog Niel, tapi aku juga khawatir!”


“Khawatir?”


“Kamu sudah menjadi Direktur, tentunya waktumu akan tersita lebih banyak di kantor, kita akan susah bertemu dan bersama seperti ini!”


“hmm..benar juga ya? apa aku tolak saja jabatan itu?”


“Hush! Itu bodoh! Tidak semua orang seberuntung kamu Niel! Mungkin akan banyak mata sirik tertuju padamu! Saat itulah Kamu harus membuktikan bahwa kamu memang berqualified menduduki jabatan itu! Aku yakin Om Radian tidak akan menyerahkan posisi itu tanpa memikirkan kemampuanmu!”


“Tapi kalau aku sibuk, kita bagaimana?”


“Kita akan cari cara supaya bisa terus bersama, oh iya, sebaiknya kita tidak menunjukkan keakraban kita di muka umum, terutama saat acara perusahaan!”


“Kenapa? Kamu tahu kan akan banyak tante-tante genit yang mendekatiku kalau kamu gak ikut?”


“Apa kamu gak keberatan, jika ada yang bilang, jabatanmu itu karena dekat dengan cucu pemilik perusahaan?” tanya Rita, Daniel terdiam


“Ketika aku menerima tanggung jawab dari pak Radian aku sangat senang, tapi ada yang mengganjal pikiranku, entah apa. Tapi perkataanmu itu menyadarkan aku Rit, itu yang aku khawatirkan!”


Rita mengangguk, makanan yang dipesanpun tiba, mereka makan dengan tenang, ucapan Rita membuat Daniel tersadar dengan tantangan baru dalam hubungan mereka. Setelah selesai makan, Daniel mengantar Rita pulang, sekalian mengembalikan mobilnya.


“Kamu pakai dulu saja mobilku!” Ujar Rita ketika mereka sampai di garasi mobil

__ADS_1


“Enggak usah, aku tadi minta supir datang kemari untuk menjemputku!”


“Oh ya? kamu dapat mobil baru Niel?” tanya Rita senang, Daniel hanya mengangguk. Sungguh jabatan ini membuatnya dilema.


“Niel, jangan pulang dulu, ayo temani aku dulu, kak Andi masih belum pulang!”


“Andi pergi kemana?”


“Simposium gamer, dia ketagihan nge game sejak temannya mengajaknya investasi di bidang game!”


“wuiih..hebat ya Andi!”


Daniel duduk di taman, rumah ini ada taman di bagian dalam. Ia mencari spot yang tepat untuk tiduran. Rita yang sudah sholat ashar dan berganti pakaian mendekatinya.


“Niel, kamu gak usah merasa terbebani dengan jabatan baru mu!, nikmati saja! Lihat saja kak Andi, aku sering bingung dengan kelakuannya. Ia menjadikan hobi sebagai bisnisnya, setelah bisnis dronenya lumayan menghasilkan, ia ekspansi ke bidang lain, dan itu ia kerjakan dengan hati senang!, Kamu juga harus begitu, Niel!”


“Tapi kamu jangan marah kalau aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku ya?” ujar Daniel memelas


Rita geli melihat wajah Daniel yang begitu memelas, seperti memohon.


“Iya, insya Allah enggak, Asalkan kamunya gak over posesif!”


“Aku posesif?”


“Iya, kalau aku gak ngabarin kemana aku pergi, itu artinya aku belum sempat mengabari, kamu jangan marah!”


“Masa aku gak boleh marah kalau pacarku jalan sama cowok lain?” protes Daniel


“Kiano kan bukan cowok lain, dia temanku!”


“Tapi dia kan cowok! Apa lagi terbukti dia naksir kamu!”


“Kalau dia yang naksir aku bisa apa? yang penting akunya naksir kamu kan?” jawab Rita


“Kalau kamu goyah gimana?”


“Goyah?”


“Iya, ada cowok yang lebih muda dari aku dan keren dari aku? Kamu akan minta putus?” tanya Daniel dengan suara lemah


“Kalau aku balik kondisinya bagaimana? Kamu bertemu dengan cewek seusiamu dan kamu naksir dengannya? Apa kamu mau jujur? Apa kita tetap akan mempertahankan hubungan kita?” tanya Rita lagi


Daniel bangkit dari duduknya, ia menghampiri Rita dan memegang tangannya


“Rit, mari kita jalani hubungan ini dengan jujur, dan perlahan. Kita harus saling jujur jika salah satu dari kita mulai berubah perasaannya sehingga kita tidak saling menyakiti!”


“Untuk sekarang ini, dan aku berharap seterusnya, perasaanku padamu tidak akan berubah!” ujar Daniel ia mencium kedua tangan Rita


“Ehem!” deheman Andi mengagetkan Daniel dan Rita, Daniel segera melepaskan tangan Rita


“Andi, sudah lama di sini?” tanya Daniel


“Hmm...sejak ..mari kita jalani hubungan dengan jujur!” ujar Andi, ucapannya membuat wajah Daniel memerah menahan malu. Rita mengalihkan pembicaraan


“Kak Andi, sudah selesai simposiumnya?”


“Kata siapa?”


“Lee?”


“Bukan simposium, aku hanya memberikan masukan kepada temanku tentang gamenya!”


“Jadi kak investasi di game itu?”


“Belum sih, gamenya masih dalam pengembangan, aku menyarankan memberikan gratis dulu, sampai mendapatkan banyak masukan, baru masuk berbayar!”


“Kamu sibuk sekali Ndi, bagaimana kuliahmu?” tanya Daniel


“Jurusan kuliahku manajemen bisnis, anggap saja ini praktek kerja!, oh iya Daniel, selamat ya Direktur baru!!” Andi menyalami Daniel


“Hah? Kakak tahu?”


“Tentu dong, kakak dapat edarannya pagi ini!”


“Edaran apa?” tanya Rita bingung


“Edaran tentang pengangkatan Daniel sebagai Direktur Utama, menggantikan om Radian. Para komisaris mendapatkan berita itu!”


“kakak Komisaris?”


“Iya, kamu juga Rita, mungkin kamu belum diangkat karena belum 20 tahun, tapi setiap keluarga Darmawan pasti menjadi komisaris!”


“Oo begitu!” Rita mengangguk paham, Lee datang memberitahu tentang kedatangan supir Daniel


“Direktur Daniel, supirnya sudah datang tuh!” goda Andi


“Aku pulang ya?” Daniel memegang tangan Rita, lalu menyalami Andi


“Terima kasih Ndi!”ujarnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua di taman itu.


“Wahh, kakek hebat juga ya?” ujar Andi tiba-tiba


“Kakek? Apa kakek sudah ketemu?” tanya Rita kaget


“Sudah, kamu gak tahu? Kakek gak naik pesawat itu?”


“Kapan kakak tahu? “ Tanya Rita heran


“Seminggu lalu!, aku pikir kamu sudah tahu!”


“Belum kak!, kenapa kakek gak pulang kesini?”


“Tanggung kayaknya, kita pasti bertemu dengannya di London!”


“Kakek juga diundang?”


“Tentu dong!”

__ADS_1


“Wah bakal rame nih!” ujar Rita


_bersambung_


__ADS_2