Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 40: Zombie dan Kiano Abdullah


__ADS_3

"Sshhhh!!" Seseorang menarik Rita dengan keras, menjauh dari Zombie yang menyerang Rita.


"Lepasin!!!" Rita berusaha berontak dari cengkeraman cowok yang menarik paksa dirinya


"Ssshh...diam kalau ga mau ketahuan!" Cowok itu memperingati Rita dan mengajaknya bersembunyi di balik tembok bangunan.


Rita memperhatikan cowok yang baru saja menariknya. Rambut ikal, kulit sawo matang, alis mata yang tebal, sedikit lebih tinggi darinya.wajahnya..ya lumayan manis.


"Hmmm....hitam manis" gumamnya.


"Abu???" Panggilnya tiba-tiba ia teringat teman mainnya di rumahnya yang dulu.


"Hah?" Abu memalingkan mukanya ke arah Rita


"Apaan? Lo baru ngeh ini gue?"


"Ya Ampuuunn!!" Rita memukul-mukul pundak Abu kegirangan.


"Aaduuuhhh sakit tauu!!" Abu mengusap-usap pundaknya


"Ngapain lo di sini bu?"


"Nyangkul!!"


"Serius!!"


"Ya jenguk orang lah!"


"Siapa yang sakit?"


"Bu de gue!" Abu mencondongkan kepalanya untuk melihat situasi, sementara Rita terus mengajaknya bicara.


"Ooo...tapi bukannya rumah bude lo pas di sebelah rumah lo?


"Iye, baru bulan ini kita pindah. Kita dapat gusuran. Daerah rumah kita dulu dilewatin tol, naah tanahnya dijual ganti untung.!"


"Wahh..asik sekali, OKB dong!!"


"Sshh..bawel banget lo! kita lagi ngumpet, malah ngajak ngobrol!!"


"Eh iya juga!" Rita kembali bersikap waspada dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Abu


"Zombie-zombie itu buta Rit, tapi indera pendengaran dan pembaunya tajam!" Abu berbisik


"Kog lo tau?"


"Bude gue di ruang isolasi lantai 2. Gue jenguk cuma dari kaca, eh tiba-tiba orang-orang pada lari-lari ribut.Gue lari masuk ke ruang isolasi, gue merhatiin dari kaca di dalam."


"Terus kenapa lo keluar dari sana?"


"Nahh..perawat yang biasa keluar-masuk ruangan isolasi masuk, dan dia berubah jadi zombie setelah di cakar."


"Cuma dicakar jadi zombie?"


"Kayaknya kalau kena darahnya!"


"Butuh berapa lama mereka berubah setelah digigit?"


"5-10 menit, cuma sebentar tu perawat roboh eh bangun lagi. Dia mulai nyerang orang-orang. Alhamdulillah..gue berhasil lolos."


"Alhamdulillah, tadi gue mau masuk ke RS antar makanan dan baju buat bokap eh dihadang di luar, ga boleh masuk!"


"Terus kenapa lo bisa masuk?"


"Ada jalan lain!"


"Tunjukin gue jalan keluar..di sini horor banget!"


"Ahh..ga mau! Gue harus bawa bokap gue keluar!"


"Ohh..pak dokter tugas di sini sekarang!"


"Iya!"


"Lantai berapa?"


"Lima!"


"Good luck deh!" Abu menjauh dari Rita dan akan pergi meninggalkannya


"Eitt..lo mau kemana emangnya?" Rita menarik kerah baju Abu


"Mau cari jalan keluar dari sini lah, gue gak mau mati konyol atau jadi zombie!" Abu berusaha melepaskan pegangan Rita.


"Jangan kesana Bu, disitu ga ada jalan. Jalannya ada di gedung sebelah!" Rit menunjuk gedung yang cukup jauh dari tempat mereka bersembunyi.


"Serius lo? Jadi gue terperangkap di tempat ini?" Abu terduduk lemas.


Rita duduk di sampingnya.


"Kita nunggu bantuan bu?"


"Siapa yang mau bantu? Fokus orang di luar, jangan sampai orang luar masuk. Lah orang2 di dalam gedung gimana?"


"Hmm... sebentar!"Rita mengambil ponselnya dari tas selempang, dan mencoba menghubungi Andi.


Perhatiannya kepada ponselnya beberapa zombie berjalan mendekati mereka.


"Kabur Rit! Kita ketahuan!" Abu menarik tangan Rita.


Suara ponsel tut..tut..tut..memancing para zombie.


"Rit, matiin hp lo bikin mereka tau posisi kita!" Abu terus berlari di sisi Rita.


"Kog lo tau?


"Liat ke belakang!"


Segerombolan Zombie mengejar mereka.


"Aaaaaaa!!!" Rita mematikan ponselnya dan berlari makin cepat. Suara ponsel terputus, para zombie menghentikan langkahnya.


Sementara itu di tempat lain...


"Kita harus segera menyelamatkan Rita!" Ujar Tomi dengan suara panik


"Nih kunci mobil Tom, Arya lo bantuin gue angkat ni TV ke mobil, gue mau bawa drone?"


"Oh iya bener, kalau bisa ada alat komunikasinya Ray!"


"Nih!!"


"Wiihhh..kapan belinya?"


"Penting ya sekarang??" Andi melihat Dewa dengan wajah kesal


"Hehehehe..ayo!!!"


Ketiganya berangkat naik mobil Andi menuju RSUD.


Sesampainya di RSUD.


Pintu gerbang RS ditutup sekelilingnya dijaga oleh polisi berpakaian anti huru hara.


Tomi yang menyetir mobil melewati gerbang RSUD.


"Betul juga, penjagaan ketat, mendekati saja susah!" Ujar Tomi


"Lo berhenti di sini Tom, kita keluar masuk ke gang kecil, jalan itu tembusan ke RSUD." Ujar Dewa memberi instruksi


"Kog lo tau?"tanya Andi dan Tomi bersamaan.


"Waktu jenguk Rani gue diajak Rita lewat sini, lebih dekat katanya."


"Ooo.." ujar Tomi dan Andi bersamaan.


"Btw, siapa lagi tu Rani?" Tanya Andi menyelidik


"Penting sekarang?" Jawab Dewa membalas tatapan Andi


"Enggak!! Nanti saja!" Jawab Andi


Mereka bertiga keluar dari mobil, lalu memasuki gang, tak jauh dari situ terdapat pintu kecil, cukup untuk 1 orang. Mereka memasuki pintu itu dengan hati-hati.


"Hmm..menurut gue kita jangan masuk ke sana dulu sebelum tahu keadaan di balik pintu ini!" Ujar Tomi


"Bener juga, kita kirim drone sana!" Sambung Dewa.


Andi segera mempersiapkan drone, dan mulai menerbangkannya. Tomi dan Dewa melihat tampilan layar ke tablet yang mereka bawa.


Drone terbang melewati pintu dan memantau keadaan sekitar pintu.


"Terusin Ray, ini belum masuk RS!"


"Masih jauh dong?" Tanya Andi


"Kira-kira 150 meter lagi"

__ADS_1


"Sambil jalan saja, toh tadi ga ada orang di sekitar pintu!" Ajak Tomi


Perlahan tapi pasti ketiganya berjalan melewati pintu belakang. Sesampainya di pintu belakang yang masih tertutup, mereka menghentikan langkahnya sejenak.


"Wah sulit nih, susah bergerak gue, di belakang pintu ini banyak orang!"


"Hmm..wa, kayaknya mereka sudah jadi zombie jadi ga sadar kalau kita pukul!" Ujar Tomi mengamati layar tablet


"Yakin lo?"


"Lihat matanya?"


Andi men-zoom wajah salah satunya.


Suara halus pergerakan drone membuat para zombie mengikuti sumber suara.


"Eh, dronenya diikuti banyak orang!" Para zombie melompat-lompat berusaha menangkap drone.


"Di, di drone lo ada speakernya kan?"


"Ada, ini micnya, suara lo bisa keluar di speaker drone!"


"Wah keren!" Sahut Dewa


Tomi mengambil mic dari Andi


"Yuuhuuu!!!!"..suara Tomi yang keluar dari Drone, membuat zombie di belakang pintu menjauh dan mengejar drone.


"Bagus!!" Ujar Dewa, mereka bertiga memasuki pintu belakang dan menguncinya. Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya menyerang Dewa.


Refleksnya bekerja, dengan gesit Dewa menghindari serangan, dan membuat penyerang terkapar.


"Kog yang ini ga terpancing?" Dewa bingung sambil menyeret zombie ke semak-semak.


"Mungkin karena dia kurang dengar!" Ujar Tomi memungut alat bantu dengar dari tanah.Kemudian ia meletakkan alat bantu dengar ke saku kemeja zombie yang pingsan.


"Siapa tahu dia bisa sembuh!"


"Ayo jalan , kita ke balik gedung itu!"


Mereka bertiga kini berada di belakang gedung.Andi masih sibuk dengan dronenya.


"Coba lo bawa drone lo juga Ar, jadi kita bisa bagi tugas. Gue mengalihkan perhatian, drone lo mencari Rita!" Andi menyesal.


"Ya sudahlah, sekarang begini, arahin drone ke tempat2 yang kira-kira Rita bisa sembunyi!" Ujar Tomi,


tiba-tiba sekelompok zombie mendatangi mereka.


Dengan sigap, Tomi dan Dewa bekerja sama melawan, kemudian mereka bertiga melarikan diri kembali ke pintu masuk sebelumnya, dan menguncinya.


"Wah sulit nih, kita ga bisa masuk lebih dalam lagi!" Keluh Andi


"Kita cari rumah/ tempat yang lebih tinggi dari ini, dari situ lo bisa mengontrol dronenya!" Ujar Tomi.


Tak berapa lama kemudian mereka menemukan rumah tingkat 2 dengan balkon.


"Assalamualaikum!, Permisi!!" Panggil Dewa kepada pemilik rumah.


"Wa'alaikummussalam,!" Terdengar suara jawaban seorang cewek yang datang membuka pintu.


"Siapa ya?" Tanya cewek itu sembari membuka pintu.


"Maaf kami mau..."Dewa belum menyelesaikan kalimatnya, cewek itu memotong ucapannya.


"Kak Dewa??.."cewek itu tersenyum kegirangan.


"Eh, kamu siapa?"tanya Dewa tersenyum.


"Saya, Ratih adik kelas kakak! Saya kelas 10!"


"Oo!!"


"Wahh..asiknya bisa ketemu selebriti sekolah" Ratih bertepuk tangan kegirangan.


"Ahh..bisa aja, selebriti sekolah," Dewa tersipu malu


"Eh Ratih maaf, kita boleh ke balkon atas? Ada yang mau kami kerjakan!" Ujar Tomi menghampiri Dewa


"Wahhh... mimpi apa aku semalam ada kak Tomi juga😘😘😁😁" Ratih melompat kegirangan.


"Jadi gimana Ratih boleh ga?" Tanya Dewa tersenyum


"Boleh banget kak!, Ayo masuk!"


Dewa, Tomi dan Andi memasuki rumah itu.


Ratih memperhatikan Andi yang masuk.


"Waahhh..." Ratih semakin terpesona melihat Andi.


"Ong Seung Wu!.." ucapnya


"Hah??" Andi bingung dengan perkataan Ratih.


"Ong Seong Wu personel Wanna One! kakak itu mirip dia! Kak Dewa mirip Kang Daniel, kalau kak Tomi mirip Cha Eun Wo!" Ratih bertepuk tangan kegirangan.


"Semuanya personel wanna One?" Tanya Andi


"Eun Wo personel Astro!" Jawab Ratih yang KPOP maniak.


"Ooo!!!" Ujar Mereka bersamaan.


"Gak ada yang lokal ya Tih?" Tanya Dewa iseng


"Kalian versi lokalnya!!" Ratih semakin girang


"Wa, bukan saatnya!" Tomi melotot mengingatkan


"Ayo kakak² kita ke atas!" Ajak Ratih.


Sesampainya di balkon, Andi segera mengaktifkan dronenya.


Tomi dengan serius memperhatikan gambar yang ditampilkan tablet.


"Di sini sinyalnya lebih bagus."ujar Andi sambil mengarahkan drone ke rumah sakit.


"Wah.. hampir semuanya sudah terinfeksi ya?" Ujar Dewa tertegun.


Sementara Zombie yang sensitif terhadap suara drone kembali mengikuti.


"Agak tinggi Di, supaya ga tertangkap!" Perintah Tomi.


"Iya ini sudah gue usahakan!"


"Arahin ke gedung itu, Rey, itu kantor bokap lo!" Ujar Dewa


Drone terbang menuju gedung yang ditunjuk Dewa.


"dr.Reza Sugiarto!!" Panggil Andi melalui Drone ke setiap jendela gedung.


Beberapa saat kemudian, jendela di lantai 4 terbuka, muncul lah dr. Sugiarto mencari arah suara. Drone Andi segera menghampirinya.


"Ayah, ini Andi!" Panggilnya.


"Andi!! Jangan kesini, berbahaya! Sebentar!" Ujar Reza, ia kembali ke dalam, terlihat menulis sesuatu dan mengirimkan sesuatu.


Kemudian ia kembali ke jendela lalu melambaikan tangan.


"Andi, bawa kemari dronenya!"


Andi mengarahkan dronenya, dengan hati-hati Reza mengambil drone dan menempelkannya sesuatu di atas drone.


"Oke Di!" Kemudian ia melepaskan dronenya kembali keluar.


Drone itu segera kembali ke Andi.


Surat dari Reza dibacanya.


"Ada sample darahnya juga!"


Dari instruksi Reza, Tomi menghubungi kenalannya di kepolisian yang juga sedang bertugas memantau keadaan di RS.


Sample darah segera dibawa di laboratorium untuk dianalisa. Setelah itu sample darah akan disintesis, sel darah dan digunakan untuk menawarkan racun, supaya zombie bisa dikembalikan seperti manusia normal.


"Mudah-mudahan bisa


segera dibuat sintesisnya!" Ujar Dewa yang dikelilingi oleh para ABG teman Ratih.


"Kak Dewa, kak Andi dan kak Tomi, mau bentuk boyband ya?" tanya Ela, teman Ratih


"Ah, enggak kita sering ngumpul aja!" Jawab Dewa tersipu.


Sementara Andi mengisi baterai dronenya.


"Kita belum bisa menyelamatkan Rita,Tom, terlalu berbahaya!" Ujar Andi


"Iya gue tau, mudah-mudahan Rita bisa bertahan di dalam sana!" Ujar Tomi memperhatikan Dewa yang dikelilingi oleh para ABG.

__ADS_1


"Kog elo ga dikelilingi kayak Dewa,Tom?"


"Dewa itu ketua orientasi siswa baru, makanya penggemarnya banyak!"


"Elo kan juga ga kalah populer!" Ujar Andi memperhatikan Tomi


"Engga ah, gue ga suka jadi pusat perhatian gitu!" Jawab Tomi sembari berjalan mendekati drone yang sedang dicharge


"Sudah 85%, sebentar lagi!" Katanya.


"Bagaimana lo bisa kenal kapten Gunawan,Tom?"


"Beberapa bulan lalu, secara ga sengaja gue menolongnya lari dari kejaran para preman. Saat itu beliau bertugas menyamar, tapi ketahuan. Lalu beliau lari menyelamatkan diri, di pom bensin beliau langsung bonceng motor gue. Ya sudah deh, gue langsung tancap gas.Sejak itu beliau jadi kenal sama gue".


"Ooo begitu, syukur deh punya kenalan polisi."


"Om Gunawan itu juga Omnya Lisa temannya Rita."


Suara musik dari ponsel Tomi menghentikan percakapan mereka.


"Om Gunawan!" Tomi memberi isyarat kepada Andi dan Dewa


"Ya Om?, Iya Om saya masih di dekat RS, diuji dulu? Ke Zombienya. Kayaknya ada satu om, nanti Tomi kabari ya!" Ia menutup percakapan teleponnya


"Obat anti Zombie nya sudah jadi, tapi belum tahu berhasil apa engga, harus diuji coba dulu."


"Caranya? Kita suntikin ke zombie gitu?" Tanya Dewa bingung


"Katanya diminumin juga bisa, disintesis dan diperbanyak pakai air!"


"Wah gampang dong!"


"Gampang matamu! Masalahnya kalau zombie itu sudah lebih dari 12 jam, pengaruhnya ga bisa dibalik!"


"Artinya?" Tanya Andi


"Akan jadi Zombie selamanya!"


Mereka bertiga bergidik ngeri, membayangkan kota yang penuh dengan zombie


"Jadi gimana?" Tanya Andi


"Gue, ambil obatnya. Lo berdua bersiap nangkep 1 zombie yang tadi kita bikin pingsan."


"Kita bawa kemari?"


"Jangan, kalau obat ga bekerja bisa-bisa infeksi zombie menyebar keluar RS."


Nanti kita pikirin sama-sama, yang penting gue ambil dulu sample penawarnya. Kalau sudah terbukti berhasil, Om Gunawan akan menurunkan sepasukan untuk menyuntikan penawar ke Zombie."


"Kog bisa sih, tindakan polisi nungguin orang sipil kayak kita?"tanya Andi gusar


"Beliau bilang untuk uji pertamanya, nanti videokan, kita paling dekat dengan TKP dan paling tahu keadaannya."


"Hmm... Ya sudah segera ambil obatnya Tom!" Desak dewa


"Ratih, kakak boleh pinjam motornya?"


"Boleh banget kakTomi, tapi nanti Ratih dan teman-teman boleh foto bareng kakTomi ya?" Pinta Ratih


"Boleh Ratih, Sekarang mana kuncinya?"


Dengan cepat Tomi mengambil kunci motor dari tangan Ratih dan pergi ke laboratorium kepolisian.


Tomi telah dikenali sebelumnya,sehingga


mudah baginya untuk keluar masuk laboratorium. Gunawan memberikan sample obat yang disuntik dan diminum.


"Nanti perhatikan ya Tom, mana yang lebih efektif bekerjanya!" Pesan Gunawan


"Baik Om, insyaaAllah Tomi akan kirim video rekamannya."


"Terimakasih banyak Tom"


"Sama-sama Om!"


Tomi segera meninggalkan Gunawan dan kembali ke rumah Ratih. Setelah mengembalikan motornya, Dewa dan Tomi segera pergi ke pintu belakang tadi. Sedangkan Andi tetap di balkon


Ratih dan teman-temannya memperhatikan Andi dari jauh.


"Lo beruntung banget tih didatangi cowok-cowok tampan, langsung 3 orang lagi!" Ucap Hesti Iri


"Iya ya, gue juga ga nyangka, tinggal dekat RS membawa keberuntungan buat gue" Ratih tersipu.


"Btw emang bener ya kak Tomi sudah punya pacar?" Tanya Salma


"Gak tau, lo denger dari siapa?"


"Kak siapa gitu, ngomong di toilet sekolah. Tadinya mereka mau melabrak ceweknya kak Tomi."


"Terus ga jadi?"


"Ga jadi, mereka takut."


"Hah? Kog bisa takut?"


"Ceweknya kak Tomi jago bela diri. Beberapa orang cowok berandal pernah dibuat semaput. Mereka takut kejadian yang sama menimpa mereka."


"Oo, nama ceweknya siapa?"


"Ratna apa ya? Rika? Entahlah, anak kelas 11, tapi 11 berapa kurang tahu."


"Beruntung banget ya yang jadi pacarnya kakTomi, selain ganteng, tampan, baik pula.Ngeselin memang yang cakep-cakep sudah laku!" Sesal Hesti


Sementara itu Dewa dan Tomi telah sampai di pintu belakang RS.


"Ga ada orang di balik pintu" ujar Andi melalui dronenya.


Perlahan Dewa dan Tomi membuka pintu dan menguncinya.


Dewa mencari orang yang ia buat pingsan tadi. Tiba-tiba seseorang menyerangnya.


"Waaaa!!!" Teriak Dewa kaget, ia menahan serangan zombie. Tomi membantu menahan zombie itu. Dewa yang telah berhasil lepas dari sergapan Zombie bangkit .


"Wa, ambil, obat suntik di kantong belakang celana gue!" Teriak Tomi sambil menahan Zombie.


Dewa segera mengambil suntikan, dan segera ia menyuntikannya ke lengan Zombie. Tiba-tiba Tomi berteriak kesakitan, ternyata Dewa salah suntik. Obat itu justru masuk ke lengan Tomi bukan Zombie.


"Lhoo?? Kog bisa tangan lo sih Tom?"


"Apaan sih lo dendam sama gue ya?" ujar Tomi kesal, sambil menahan sakit akibat suntikan juga menahan gerak si zombie.


"Sorry gue pikir tangannya bapak itu!. Yah obatnya abis Tom..gawat nih.."


Tomo masih menahan zombie tadi


"Obat minum Wa!"


Dewa mengambil obat berbentuk sirup dari saku belakang Tomi. Sementara Tomi masih menahan tubuh zombi Dewa memaksa Zombie membuka mulutnya dan meminumkannya.


"Yak berhasil!, Tahan dulu Tom, sampai dia tenang."


Tomi melepaskan pegangannya ke zombie itu dan menjauh darinya. Perlahan


Zombie itu melemah, dan kakinya berjalan gontai, tetapi masih tersisa tenaga untuk menyerang Tomi.


Beberapa detik kemudian ia menggelepar seperti ayam dipotong, lalu terdiam.


"Tom, ini gpp tu obat masuk ke badan lo?"


"Hmm..gak tau kesemutan badan gue!" Keluh Tomi


"Sorry Tom, panik gue!" Ucap Dewa menyesal.


Zombie tadi pingsan Tomi memvideokan, perlahan wajah Zombie yang sebelumnya pucat, kembali ke warna kulit normal.


"Aduuhh.. saya di mana?" Tanya orang tadi.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Dewa


"Saya dimana"tanya bapak itu bingung.


Tomi mengingatkan alat bantu dengar bapak itu. Ia mengambilnya di saku kemeja bapak itu dan menaruhnya kembali di telinga si Bapak.


"


"Masih di RS pak!" Jawab Tomi


"Ooo...tadi bapak dikejar-kejar orang, tahu-tahu bapak ada di sini" keluhnya kecapekan.


"Bapak diam di rumah ini dulu saja pak, jangan keluar-keluar, masih belum aman!" Pinta Tomi.


Bapak itu menuruti perkataan Tomi, ia bersembunyi di gudang dekat pintu keluar.


"Aduh, tangan gue kesemutan nih!" Keluh Tomi


"Waduuhh gawat dong Tom, kalau lo jadi Zombie jangan gigit gue ya" Dewa memperhatikan gerak-gerik Tomi

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke rumah Ratih!" Ajak Tomi


-Bersambung-


__ADS_2