
Sugesti kehamilan yang dirasakan Daniel cukup membuatnya menderita. Hidungnya menjadi sensitif terhadap wangi parfum, bahkan ia tidak menyukai wangi parfumnya.
"Yang, kok tumben kamu gak wangi?" Tanya Rita saat sarapan pagi
"Aku enek mencium bau parfum ku sendiri" lalu ia ke kamar mandi untuk muntah, ia kehilangan nafsu makan.
"Ini berapa lama ya Yang?" tanyanya dengan wajah pucat
"Biasanya sih jam 8/9 sudah enggak muntah"
"Oh jam2 tertentu saja?"
"Iya, itukan pengaruh hormon"
"Waktu Ranna kamu menderita begini ya?"
"Hahaha..iya!"
"Maaf ya?" Daniel merasa prihatin
"Itu kan memang sudah kodrat, kamu gak bisa apa-apa!"
"Iya sih, setidaknya aku membuktikan lho, aku sayang banget sama kalian!"
"Kalian?"
"Ya Kamu, Ranna dan calon anak kedua kita!"
"Oh iya ya,aku makin bnyak saingan!" canda Rita
"Aku penasaran lho, kira-kira anak kedua ini, cewek atau cowok?"
"Kamu maunya apa?"
"Karena yang pertama sudah cewek, yang kedua seharusnya cowok, jadi sepasang!"
"Bagaimana kalau kembar?"
"Memangnya di keluarga mu ada keturunan kembar?"
"Entahlah, nanti aku tanyakan"
"Btw Yang, jangan bilang-bilang dulu tentang kehamilan mu ini sama keluarga mu" pinta Daniel
"Tapi ayah kan sudah tahu"
"Iya sih .. seharusnya gak berobat di ayah ya?"
"Lho kenapa memangnya?"
"Aku malu, sejak kejadian dengan Andi di sini, mereka pasti menilai ku macam-macam."
"Mama ku bahkan sudah tahu Ranna akan segera punya adik ketika ia baru lahir" ujar Rita
"Masa sih? Kok bisa ya?"
"Kita terlihat terlalu bucin kali ya?"
Daniel membereskan bekas makannya.
"Aku berangkat ya?" Ia mengecup kening Rita dan Ranna
"Da dah Ranna! Papi kerja dulu ya?"
Ranna bergerak aktif di gendongan Rita.
Setelah Daniel berangkat, Rita melepaskan Ranna dari gendongan dan meletakannya di kursi goyang
"Hari ini kita ke toserba ya? Kamu mau ikut kan?" Rita tersenyum melihat Ranna yang semakin lucu. Ia memompa ASI nya
"Wahh..sudah penuh lagi! Mami makan dulu ya?"
Rann bergerak-gerak kegirangan.
Rita menyantap sarapannya dengan lahap setelah selesai ia menaruh piring kotor di mesin pencuci piring otomatis.Lalu ia juga memasukkan baju-baju kotor Ranna ke mesin cuci, memogramnya.
Ia duduk sejenak sambil meminum susu coklat. Dia melihat Ranna mulai tertidur karena goyangan kursi otomatis.
Sementara Ranna tertidur, Rita memantau tokonya dari cctv yang ia pasang secara online.
Ia melihat lagi Jameson yang datang ke tokonya, sikapnya biasa, ia membeli beberapa roti dan kopi ia duduk sejenak di cafe sambil melihat sekeliling setelah selesai ia pun pergi meninggalkan D'Ritz.
Rita menelpon Ismael manajer toko .
"Ismael!"
"Ya Ms?"
"Mungkin saya tidak datang sore ini, tapi saya tetap memantau kalian. Oh iya, tugas Ary di situ apa ya?"
"Waiter bu!"
"Kalau gak ada pelanggan dia ngapain?"
"Ya menunggu saja!"
"Kalau begitu, kamu minta ke Adele untuk mengajarkan Ary mencatat persediaan!"
"Baik bu!"
Rita menutup ponselnya.
Di cafe D'Ritz
"Ary, kamu ke bu Adele untuk diajari pencatatan persediaan barang!"
"Aku? Dibayar gak?"
"Pencatatan itu hanya saat barang keluar atau masuk saja, itupun kamu membantu bu Adele. Toh kalau tidak ada tamu kamu tetap dibayar!"
"Kalau aku malas gimana?"
"Aku kasih tahu saja nih, bu Rita memantau toko ini secara online. Menurut mu kenapa kamu yang disuruh?"
"Kenapa?"
"Karena dia melihat hanya kamu yang sejak tadi main hp!"
Ary terkejut, ia melihat sekelilingnya mencari kamera tersembunyi.
"Gak perlu mencari kamera tersembunyi! Gak bakal ketemu! Sudah kerjakan yang Ms.Rita minta!" Ujar Ismael tegas
Ary mematuhi perintah Ismael.
Di kantor saat jam makan siang, Jameson mendekati Daniel
"Kursinya kosong?" Tanyanya, Daniel mengangguk
"Anda sendirian saja pak? Biasanya para anak buah bapak berkumpul di sini?" Jameson membuka percakapan, sambil makan.
"Mereka sudah duluan selesai!" Daniel menyantap salad
"Anda sedang diet?"
"Enggak, perutku sedang kurang enak sejak kemarin, jadi lebih baik aku menghindari makanan berat!"
"Oh..begitu btw pak Daniel , aku sangat menyukai roti dari toko istri Anda!"
"Oh ya? Terimakasih"
"Anda sangat beruntung ya? Paket komplit!"
"Maksudnya?"
"Iya, sudahlah istrinya cantik, muda, pintar masak lagi!"
"Terimakasih! Aku benar-benar beruntung ya?" Daniel tersenyum
"Anda sudah menikah pak James?"
"Dua kali! Keduanya bercerai!" Ujarnya
"Oh maaf turut prihatin!"
__ADS_1
"Gak masalah! Kedua istriku itu selalu mempermasalahkan jam kerja ku, mereka bilang aku gila kerja!"
"Anda punya anak?"
"Ada satu, lelaki dari istri pertama, sekarang dia tinggal bersama ibunya"
"Berapa usianya?"
"Delapan tahun!"
"Anda sering menjenguknya?"
"Kadang-kadang kalau sempat!"
"Oh ya, kemarin Anda bertemu istri ku?"
"Iya!"
"Katanya ada yang ingin dibicarakan? Tentang apa ya?"
"Oh itu! Tidak! Aku hanya ingin ngobrol dengannya. Aku menyukai istri Anda pak Daniel!"
"Eh??"Daniel bingung dengan ucapan Jameson
"Maksud Anda apa ya?" Tanyanya
"Aku ingin mengenal istri Anda lebih dekat"
"Untuk apa? Anda tahu kan aku suaminya?" Tanya Daniel heran
"Iya aku tahu! Tapi zaman sekarang pernikahan monogami itu sudah jarang! Akan lebih baik jika kita melakukan hubungan terbuka!"
"Maaf saya gak mengerti maksud Anda?" Tanya Daniel, ia mulai merasa muak
"Anda gak up date keadaan ya? Sekarang ini suami-istri banyak yang memiliki pendamping lain selain istri/suami sahnya, itu yang disebut open relationship"
"MAAF James, Anda bisa mengatakan saya kuno, tapi saya TIDAK AKAN MEMBAGI ISTRI saya dengan Anda! Selamat Siang!" Daniel terlihat sangat marah, hampir saja ia hendak memukul Jameson karena perkataannya yang kurang ajar,ia meninggalkannya dan kembali ke ruangannya. Mario melihat Daniel yang bersitegang dengan Jameson.
"Kenapa tuh si Daniel?" gumamnya
Sore harinya, sepulang kantor, Daniel tampak bete. Wajahnya kelihatan sangat kesal.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rita, ia mengambil tas dan jas Daniel lalu meletakkannya di ruang kerja
"Hari ini Jameson ke toko mu?" Tanyanya
"Iya, tapi aku gak datang ke toko, aku capek! Jadi aku dan Ranna main di sini saja, bahkan aku membatalkan pergi ke toserba!"
"Kalian di apartemen saja?"
"Tentu! Aku malas keluar! Jadi aku dan Ranna memainkan drone pemberian uwa Andi"
"Ah syukurlah!" Wajah Daniel terlihat lega
"Kamu kenapa?" tanya Rita heran
"Enggak ada apa-apa!" Daniel segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, selesai mandi dan berpakaian, ia main dengan Ranna di sofa.
"Ranna! Papi lagi kesal dengan seseorang!" Curhatnya
"Kamu ingat Jameson yang ketemu di lift di kantor papi kan? Yang bikin kamu nangis?"
"Uuaaa...uaaa..." Respon Ranna
"Lain kali kalau ketemu dia dimanapun kamu nangis kencang ya? Supaya mami mu bisa pergi darinya, oke Ranna?"
"Aaa..oooo" Ranna tersenyum mendengar kata-kata papinya. Daniel mengambil koleksi action figur dari lemari hias di ruangannya ia mendudukkan Ranna di kursi makan, lalu Daniel mulai memperagakan sandiwara melalui action figur nya
"Siang Jameson!"
"Kamu Jameson?"
"Iya kenapa?"
"Oeee...oeeee..ooeee!"
Daniel menunjukkan caranya ke Ranna.
Rita melihat kelakuan suaminya dari jauh
"Feeling mu benar Rit!"
"Feeling apa?"
"Jameson tertarik padamu!"
"Hah? Dia bilang begitu?"
"Iya! To the point! Dia bilang zaman now , zamannya pernikahan terbuka, jadi boleh membagi istri atau suami dengan orang lain!"
"Gila tu orang! Aku hajar saja kalau ketemu?" Ujar Rita kesal
Daniel kaget mendengar reaksi Rita
"Jangan! Nanti kmu dipenjara karena sudah melakukan kekerasan fisik bagaimana?"
"Biarin! Yang penting dia kapok dulu! Enak saja menyamakan dirinya dengan orang lain!" Rita kembali marah-marah
Daniel tersenyum
"Kok kamu malah tersenyum begitu?" Tanya Rita heran
"Ini berarti posisi ku di hati mu aman!"
"Maksud mu?"
"Dia naksir berat sama kamu, tapi kamu menolaknya, bahkan akan memukulinya. Jadi sudah pasti kamu gak suka sama dia kan?"
"Tentu! Memangnya aku perempuan apaan punya suami 2? Itu namanya penghinaan! Memangnya kita binatang! Open relationship Fuu***" Rita memaki
"Sayang jangan nafsu begitu! Tidak baik untuk janin mu!"
"Biarin! Nanti aku ajarin anakku untuk menjaga kehormatan dirinya dan orangtuanya!"
Daniel memeluk Rita untuk menenangkan hatinya.
"Walau yang lain poligami atau poliandri, kita tetap monopoli ya Rit!"
"Monogami!" Rita membetulkan
"Iya maksud ku begitu!"
"Ayo kita makan!" Ajak Rita, pelukan Daniel membuatnya tenang
Daniel menyantap makanannya dengan lahap hatinya lega Rita memiliki prinsip yang sama dengannya.
Malam harinya Daniel memberikan ASI untuk Ranna melalui botol sambil menggendongnya.
"Kamu lagi ngapain Yang?" Ia melihat Rita sedang online melalui laptop nya
"Sstt..aku lagi streaming perkuliahan!" Bisiknya
"Ooo sudah di mulai?"
Tanya Daniel berbisik juga, Rita mengangguk.
Daniel meletakkan Ranna di tempat tidur tambahan di sisi ranjangnya.
"Aku tidur duluan ya Yang!" Bisik Daniel, Rita memberi tanda jempol untuk setuju, ia kembali berkonsentrasi dengan kuliah onlinenya. Satu jam kemudian kuliah berakhir.
Rita menutup laptopnya. Ia menggunakan laptop lama yang Daniel bawa dari Auckland.
Laptop baru nya digunakan untuk keperluan D'Ritz.
"Aduhh!! Aku lupa!" Ujar Daniel saat sarapan
"Lupa apa?"
"Aku lupa menyiapkan rencana untuk kencan besok!"
"Oh iya! Gak usah deh!"
"Kenapa? Kamu marah?"
__ADS_1
"Bukan! Ada pesanan roti lagi, jadi sepertinya besok pagi aku harus turun tangan!"
"Aku boleh membantu?"
"Beneran?"
"Bener! Kita kan bisa mencetak roti bersama-sama, kamu bisa mengajarkan aku!"
"Hmm..baiklah!"
"Aku sudah bilang ayah datang ke toko untuk mengawasi Ranna"
"Beliau bisa?"
"Tentu, dia senang di hari liburnya bisa bermain dengan cucunya "
"Baguslah kalau begitu!"
Keesokan harinya, Rita dan Daniel telah berada di Dapur D'RITZ
"Wah jadi luas ya?" Daniel menggendong Ranna.
"Iya, O yang mengatur alat-alat supaya tidak ada ruang yang tak terpakai!"
"Hebat O! Aku mengakui kemampuannya!"
Rita mulai menghitung banyaknya adonan yang dibutuhkan dengan laptopnya. Daniel menaruh bahan-bahan di mesin pengaduk sesuai dengan perkataan Rita, sementara Ranna main balon sendirian di ruangan sebelah sambil menunggu akinya datang.
Daniel memperhatikan mesin pengaduk ukuran besar yang terus-menerus berputar.
"Ini kamu membelinya?"
"Iya, aku membaca panduan usaha, untuk tahun-tahun awal usaha modal untuk investasi, jadi ini investasi ku!"
"Uangnya dari?"
"Dari keuntungan toko ini dong!"
"Sudah untung?"
"Alhamdulillah sudah! Walau kecil, tapi dikumpulkan beberapa bulan, terbeli deh mesin ini dan mesin pengembang itu!"
"Kalau sudah ada untung, kok pemilik saham tidak mendapatkan bagiannya?" Protes Daniel, ia menanyakan bagian keuntungannya sebagai pemegang saham 15%
"Kamu sudah aku bagi kok!"
"Mana? Kok aku gak tahu?"
"Cuma langsung aku berikan ke istrinya!" Ujar Rita tersenyum
"Istrinya pak Daniel?" Ledek Daniel
"Iya! Yang cantik dan muda itu!" Jawab Rita dengan canda
"Yang mata duitan itu?" Ledek Daniel
"Hahahaha ..."Rita tertawa geli
"Kalau kamu mencari istri yang cantik, muda, seksi dan gak mata duitan, sudah pasti gak akan ada!" Jawab Rita
"Begitu ya?" Daniel memasukan adonan roti ke mesin pencetak otomatis.
"Kamu makin mahir menggunakan mesin itu!" Puji Rita
"Tentu! Ini mudah sekali! Btw karyawan mu kok belum pada datang?"
"Kalau weekend Sabtu aku memundurkan jam masuk kantor, biasanya jam 8 sudah buka, sekarang jam 11"
"Apa enggak terlalu siang?"
"Enggak,kan weekend. Biar mereka agak lama dengan keluarganya, baru ke sini bekerja!"
"Jam pulang kantornya?"
"Kami biasa tutup jam 7 malam, kalau weekend jam 8. Saat itu sudah sepi kok!"
"Bagaimana dengan cafe? Apa berjalan lancar?"
"Cafe ini ramai di jam-jam makan siang."
"Jam makan siang? Mereka makan roti?"
"Selain roti, aku menambahkan menu lasagna, makaroni schotel, spaghetti, pizza, dan martabak"
"Kamu sempat membuat itu?"
"Kan aku sudah menakar bahannya, pegawai ku tinggal mengolahnya"
"Sekarang pegawai mu ada berapa?"
"Sekarang menjadi 8 , 4 untuk cafe, 2 untuk toko roti, yang 2 lagi Ismael dan Adele di bagian akunting"
"Bagian pengantaran gimana?"
"Itu tanggung jawab Ismael!"
"Untuk mengantar pesanan bagaimana?"
"Aku menyewa grab"
"Apa gak berniat untuk membeli mobil angkutan?"
"Maunya sih begitu, tetapi aku was-was kalau tugas mu di sini selesai, aku harus menutup toko ini! Lagi pula jarang kok pemesanan banyak begini."
Setelah adonan roti dibagi rata, Rita memasukkan adonan ke alat pencetak, di situ roti dibentuk, dan beberapa diberi filling. Daniel mengambil Ranna dari ruangan Rita dan masuk ke dapur
"Tuh Ranna! Mami bikin roti kayak robot!"
Ranna melihat gerakan tangan Rita yang cepat, tertawa kegirangan, ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
"Oyy!! Ranna jangan terlalu aktif seperti itu! Kamu berat badanmu bertambah ya? Jadi papi keberatan kalau kamu banyak bergerak!"
"Oeeee!!" Ranna menangis
"Eh kok nangis?" Daniel melihat ke Rita bingung
"Apa ia tahu aku marahi?"
"Bukan! Ranna walau masih bayi, ia tetap perempuan! Ia sangat sensitif dibilang berat nya bertambah!" Rita menghibur Ranna dengan menaruh tepung di wajahnya, Ranna tertawa geli
"Masa? Sih? Anak 2 bulan sudah ngerti kayak begitu?" tanyanya heran.
"Aku kan sering bersamanya, kami banyak berbagi! Iya gak Ranna?"
"Hhhhaaaaa...haaaa...." Respon Ranna
"Wah..istri dan anakku makin aneh!" Gumam Daniel
"Eh kok ayah belum datang ya?" Rita mengambil ponselnya dan menelpon ayahnya.
"Halo?"
"Ayah?" Rita heran yang mengangkat telepon bukan suara ayahnya
"Ritong ini O!"
"Kenapa lo yang ngangkat telepon ayah?" Tanya Rita
"Ayah kena serangan jantung! Sekarang di IGD!"
"Hah?" Rita kaget,
"Yang, Ayah di IGD kena serangan jantung!"
"Kamu ngomong sama siapa?"
"Si O, dia sudah di IGD" Rita mulai menangis
"Begini deh! Kamu ke sana, biar pesanan ini aku yang urus, sambil menunggu Ismael datang"
"Kamu bisa?"
"Kamu hanya harus bilang, aku harus ngapain!"
__ADS_1
"Iya!" Sambil menahan air mata, Rita menjelaskan yang harus dilakukan Daniel. Setelah itu ia menggendong Ranna dan membawanya ke RS
_bersambung_