Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 298: Rumah Sukabumi


__ADS_3

Rombongan Rita dan Daniel tiba di Sukabumi siang hari, ketiga anaknya lelap tertidur.


“Selamat datang!!” Mario menyambut rombongan di depan pintu pagar.


“Eh, rumahnya jadi dua lantai?” Rita menengadah


“Iya, kita lihat yuk!” ajak Daniel, ia sudah tidak sabar untuk melihat rumah barunya


“Siang bos!” sapa Mario


“Siang Mario!” Daniel menyalami Mario


“Woy O!” Rita menepuk punggung Mario


“Aduhh!!! Ritong!! Sakit tau!!!” protes Mario


“Masa?” ledek Rita, Daniel melihat ke arah Rita dan memegang tangannya


“Sudah sampai mana renovasinya?” tanya Daniel


“Sebenarnya sudah selesai bos, tinggal diselametin saja” jawab Mario


“Selametin? Apaan tuh?”


“Seperti di doakan supaya rumahnya gak ada yang ganggu dan awet” ujar Rita menerangkan


“Caranya gimana?” tanya Daniel


“Ya undang anak-anak panti asuhan untuk berdoa sama-sama di sini, juga mengundang orang-orang sini untuk memperkenalkan rumah” jawab Rita lagi


“Memperkenalkan? Ini kan rumah lama kamu, masa perlu diperkenalkan lagi?” sanggah Daniel


“Ya, sekalian mengenalkan kamu ke warga sini”


“Begitu ya? menurut kamu gimana Mario?”


“Ai sih terserah bos Daniel saja, tapi kalau menurut Ai ada baiknya kok ni rumah didoain supaya gak ada hantunya”


“Eh memangnya ada hantu?” tanya Daniel


“Biasanya kalau rumah sering dikosongin suka ada penghuninya bos, dari dunia lain”


“Kamu jangan nakutin saya begitu” ujar Daniel


“Eh bos Daniel kok takut, ini bini you pawang hantu lho!” ledek Mario


“Yang, memangnya rumah ini bisa dijadiin tingkat 2? Memangnya pondasinya kuat?” tanya Rita


“Heh Ritong, Ai udeh cek pondasi rumah ini, dan rumah ini dari awal memang diperuntukan untuk bangunan 2 lantai! Mungkin dulu yang punya rumah ini sebelum Ayah Reza ingin bangun rumah tingkat 2 makanya dia bikin pondasi 2 lantai!” terang Mario


“Oh begitu” Ujar Daniel dan Rita bersamaan


“Lihat lantai atas yuk!” ajak Mario


“Anak-anak gimana Yang?” tanya Rita


“Ada kamar yang sudah bisa digunakan gak?” tanya Daniel


“Masih pada kotor sih Bos, habis kalian ngomong mau kemarinya mendadak dangdut, jadi Ai gak sempat nyuruh orang untuk bersihin seluruh rumah” ujar Mario


“Kalau hari ini minta orang ngebersihin bisa gak O?” tanya Rita


“Sekarang? Tapi tetap aje tong baru bisa besok atau lusa ditempatin” jawab Mario


“Kamu mau di sini sampai lusa?” tanya Rita ke Daniel, yang berkeliling di lantai 1


“Boleh, malam ini kita menginap di penginapannya teman kamu yang Rusia itu!”


“Oh Qowi?”


“Iya! Sewa 3 kamar untuk kita dan para baby sitter, ART dan supir" ujar Daniel


“Kamar yang gimana?” Rita mengangkat ponselnya


“Kamar yang besar saja, kita kan ber 5, lalu baby sitter dan ART ber 4, untuk supir yg single"


“Oh oke!” Rita menelpon Qowi


“Ya Rit?”


“Hey Wi, gue ada di rumah Sukabumi nih”


“Beneran! Asyikk!!”


“Gini Wi, gue mau nyewa 2 kamar besar dan 1 single di tempat lo, bisa gak?”


“Untuk kapan?”


“Sekarang, rumah gue belum dibersihin jadi anak-anak gak bisa tidur di sini”


“Oh beres, gue siapin ya? mau datang jam berapa? Nanti gue suruh orang rapihin kamarnya supaya lebih bersih”


“Satu jam lagi deh kita kesitu!”


“Oke Rit!, see you!”


Rita menutup ponselnya, Daniel dan Mario sudah berada di lantai dua. Rita menyusulnya


“Wahh...ini toh lantai 2” ia terkagum


“Lantai 2 ini ada dua kamar tong, karena anak-anak masih bocah jadi masih satu kamar kan? Nah yang di sebelah sana itu kamar kalian, yuk lihat!” ajak Mario


“Taraaa!!!” Mario membuka kamar utama


“Wow!!!” Daniel dan Rita terkagum-kagum dengan kamar utama yang luas


“Hampir mirip sama kamar gue di Auckland ya O?”


“Ember! Luas kamar ini hampir sama Tong, gue menyesuaikan, eh iya kamar ini ada balkonnya juga lho, dan sifatnya privasi, lo bisa lihat keluar, tapi orang di luar tidak bisa lihat kalian!” Mario membuka pintu ke arah balkon


“Nah kalian bisa menaruh kursi di sini, balkonnya agak luas ya, apa lagi kalau pintu kamarnya dibuka. Kalian bisa kayak orang kemping di sini”


Daniel melihat ke bawah


“Ini tertutup seperti ini tidak gelap ke dalam?” tanya Daniel karena pembatas balkon sebagai ruang privasi


“enggak bos, cahayanya kan dari atas”


“Ini bahaya gak O, kalau anak-anak pada di sini?” tanya Rita


“Tenang, Ai sudah uji kok, pembatas kayu ini sempit jaraknya jadi anak-anak gak akan bisa menyelipkan tangannya atau melakukan yang berbahaya, misalnya memanjat”


“Lo uji? Pakai anak siapa?” tanya Rita


“Anak panti lah, umurnya gak beda jauh dari Ranna” jawab Mario


“Oh ada juga anak bayi di panti lo?” tanya Rita


“Banyak Tong, kebanyakan yang ditinggalin emaknya karena mereka gak sanggup membesarkan!” jawab Mario


Rita mengangguk paham


“Lihat kamar anak-anak yuk?”ajak Mario lagi , mereka pergi ke kamar sebelah yang luasnya setengah dari luas kamar utama


“Kok kamar ini lebih kecil ya?”


“Iya tong, tapi cukup kok buat anak-anak”


“Ada kamar mandinya juga kan?” tanya Daniel

__ADS_1


“Ada dong bos, ada tempat untuk nursing juga. Pokoknya cukup deh. Ini cukup 2 tempat tidur , apalagi kalau tempat tidur tingkat”


“Wah tempat tidur tingkat, bahaya gak tuh?” tanya Daniel ke Rita


“Asal lantainya dikasih karpet tebal, aman bos!” jawab Mario


“Mulai panggil orang deh O untuk bersihin rumah ini” pinta Daniel


“Sudah Ai panggil dari tadi bos, mereka lagi di jalan” jawab Mario


“Eh O, barang-barang lama gue mana? Kayak tempat tidur dan lemari?” tanya Rita


“Kalau tempat tidur lama lo, gue taruh di kamar baru di bawah, kamar tamu tong. Sama lemarinya. Nah isinya gue taruh kardus. Tenang aje aman dan bersih kok sedangkan alat-alat elektronik yang canggih-canggih gue taruh di rumah gue supaya lebih aman”


Rita dan Daniel saling berpandangan


“Kamu sudah punya rumah Mario?” tanya Daniel


“Sudah bos, Ai sudah beli setahun lalu, sudah Ai renov juga”


“Dimana rumah lo O? Dekat sini?” tanya Rita penasaran


“tuh di ujung gang itu”


Rita dan Daniel melihat ke arah yang ditunjukan Mario


“Oh rumah jawa itu?” tanya Rita


“Heeh! Sudah lama Ai pengen rumah bergaya jawa kuno.”


“Kenapa gak dibikin gaya minimalis kayak gini?”


“Enggak ah, Ai kan senang yang vintage. Kalau rumah bergaya jawa itu vintage banget”


“Kok Lo gak ngundang kita liat rumah lo O?” tanya Rita


“Penasaran niyee? Nanti lah kalian konsentrasi dulu ke rumah kalian!” ujar Mario


“Assalammu’alaikum...”


“Wa’alaikummussalam!” Jawab mereka kompak


“Nah ini tim bersih-bersih sudah datang! Btw bos kamar mana dulu nih yang mau dibersihin duluan?”


“Lantai atas dulu O! Kan kalau banyak debu pada ke bawah” jawab Rita


“Ya udeh!” Mario memberikan instruksi kepada para pekerja untuk membersihkan lantai 2


“Yang, kita ke penginapan dulu menaruh anak-anak lalu kita belanja” ajak Daniel


“hah? Belanja apaan?”


“Kita kan perlu beli ranjang dan tempat tidur untuk kamar kita” ujar Daniel


“Oh iya!”


“Di sini ada tempat yang bagus untuk beli furniture O?” tanya Daniel


“Ada bos, kayaknya Ritong juga tau deh”


“Kamu tahu tempatnya Yang?” tanya Daniel


“Yang dekat mall itu bukan O?” tanya Rita


“He eh! Mereka cepat pelayanannya, cepat diantar mungkin nanti malam ranjangnya sudah sampai” ujar Mario


“Ayo deh, kita ke penginapan” Daniel dan Rita kembali ke mobil mereka dan pergi menuju penginapan Qowi, mereka melewati rumah Mario


“Yang, mau turun dan lihat rumah Mario? Siapa tahu ada Om Radian?” tanya Rita


“Boleh deh” Daniel meminta supir berhenti di depan rumah Mario, Ia dan Rita turun dari mobil dan sedikit berjalan ke depan pintu pagar depan.


“mario! Mario!” panggil Rita berpura-pura, tetapi tidak ada jawaban dari dalam, sementara Daniel berjalan mengelilingi rumah dari luar, ia sempat memfoto jendela-jendela di rumah itu, lalu pergi menghampiri Rita


“Yuk kita ke penginapan” ajak Daniel. Mereka berdua kembali ke mobil yang membawa mereka ke penginapan Qowi


Sesampainya di penginapan, anak-anak ditidurkan di ranjang tambahan di dalam kamar orang tua mereka, sementara ART dan baby sitter tidur di kamar sebelah, dan supir di kamar yang lebih kecil.


Rita dan Daniel beristirahat sejenak di ranjang mereka


“Padahal kita duduk saja ya di mobil tapi capeknya...” keluh Daniel


“Iya mungkin pengaruh AC mobil jadi kita gampang capek, anak-anak lelap banget tidurnya” Rita memperhatikan ketiga anak batitanya yang pulas tertidur.


Daniel membuka ponsel dan melihat foto yang baru saja ia ambil dari rumah Mario


“Gimana Yang? Apa kelihatan ada orangnya?” tanya Rita, Daniel memperbesar ukuran fotonya


“Ini jendela bagian samping, gak ada tanda ada orang ya?” Daniel menunjukkan hasil fotonya di ponsel yang bisa dilebarkan


“Nah yang ini jendela depan”


“Bayangannya juga gak kelihatan ya?”


“kalau ada orang yang ngintip di jendela seharusnya kelihatan” jawab Daniel


“capek ah, nanti lagi saja ngeliatnya” Daniel mulai tertidur, sementara Rita melihat foto lainnya


“ting!” bunyi notifikasi dari ponselnya


“Ritaa!! Lo ada di rumah yee?” tanya Andien melalui pesan WA


“Yoi Dien, lo dimana?”


“Gue kan nge kost dekat kampus, jadi belum bisa nyamperin!” jawab Andien


“Qowi juga lagi gak di sini ya?” tanya Rita


“Iya! Dia juga lagi magang, lo berapa lama di sini?” tanya Andien


“Sampai Sabtu deh, Minggu balik. Ini rumah lagi dibersihin”


“oh iya, rumah lo jadi bagus banget Rit, mewah!”


“hehehe...itu kerjaannya si Mario, dia yang mendesign”


“Cepat juga ya renovasinya?”


“Iya tuh, hebat , kalah deh Bandung Bondowoso!”


“Bisa aje lo Rit, ya udeh deh, gue ada customer nih, nanti gue hubungi lagi ya?”


“eh Dien, thanks ya cirengnya!”


“Sama-sama Rit!” jawab Andien


Rita meletakkan ponselnya, ia pun mulai mengantuk. Dalam mimpinya ia teringat kejadian yang pernah terjadi di rumah itu, kenangan bersama ayahnya. Tanpa terasa air mata mengalir di pipinya, walau pelan isak tangisnya terdengar oleh suaminya.


“Kamu menangis? Apa ada kabar duka?” tanya Daniel mengusap air mata dari pipi istrinya


“Enggak, tiba-tiba aku teringat masa-masa aku tinggal di rumah itu bersama ayah.” Air mata kini mengalir deras . Daniel memeluk istrinya dengan sayang dan mengusap punggungnya.


“Rumah lama mu bukannya hilang, hanya di up grade saja, sama seperti kamu yang semakin lama semakin dewasa begitu juga dengan rumah itu” Daniel memeluk dan mengecup kening istrinya dengan sayang.


“Iya aku tahu! Terima kasih ya?”


“hah? Terima kasih? Untuk apa?”


“Membeli rumah ini untuk kita”

__ADS_1


“Sebenarnya ayah mu hendak memberikan sebagai warisan untuk mu, tetapi waktu itu beliau sangat membutuhkan uang”


“hah? Untuk apa ayah butuh uang?”


“Ada pasien, anak kecil yang membutuhkan pengobatan serius di Jakarta, sementara kedua orang tua anak itu tidak mampu jadi beliau membantu mereka untuk pengobatan dan biaya selama mereka di Jakarta menjalani pengobatan”


“Kenapa ayah gak bilang aku? Aku mau kok membantu membiayai”


“Ayah gak mau ngerepotin kamu. Tadinya dia hendak menggadaikan rumah ini ke bank, Mario cerita sama aku tentang rumah itu yang hendak digadaikan. Aku pikir daripada nanti disita bank karena ayah gak bisa bayar bunga pinjaman lebih baik aku beli saja. Kebetulan aku baru dapat royalti dari Frank.”


“Apa harga rumahnya mahal?” tanya Rita, ia bersandar di lengan suaminya


“Aku membeli sesuai harga pasar, ayah sempat menolak beliau merasa gak enak sama aku. Tapi aku bilang aku hanya ingin punya rumah di Sukabumi supaya bisa refreshing kalau jenuh di Jakarta, akhirnya Ayah melepas rumah ini, katanya sih sisa penjualan rumah setelah untuk pasien itu, beliau gunakan untuk ongkos tinggal di Singapura”


“Kamu tahu banyak kog gak cerita sama aku?” tanya Rita heran


“Mario dititipi pesan oleh ayah mu supaya gak cerita sama kamu. Bagaimana pun juga kamu masih cucunya pak Sugiyono. Beliau pikir kalau dia melibatkan kamu dalam urusan pribadinya apalagi masalah uang yang cukup besar, dia gak enak sama kakek kamu”


“aku kan sudah menikah, kakek gak ikut campur lagi urusan ku” ujar Rita


“Gak mungkin kakek melepas kamu begitu saja, masa kamu gak ingat bagaimana perjanjian aku sama kakek?”


“Oh iya ya? eh, kita mau ke toko furniture jam berapa?”


“Nanti habis sholat Ashar”


“Bawa anak-anak gak?”


“bawa dong, sekalian kita makan di luar”


“Duit mu bakal habis dong dipakai pengeluaran ini-itu?”


“Tenang saja, Aku kan tinggal lama di Swiss dapat uang transport lumayan besar nah ada sisa uang dari sana dan aku langsung rupiahkan, lumayan lho!”


“dolar apa Euro? Aku kok gak dikasih?” protes Rita


“Euro, Memangnya kamu mau duit juga? Bukannya kamu sudah banyak dari D’Ritz?”


“Tapi aku mau dapat bonus juga dari Lexi” pinta Rita dengan suara manja


“Memangnya kamu mau beli apaan?”


“Ya nanti kalau ada barang yang kena di hati”


“Kalau begitu nanti saja sekalian belinya. Kita kan mau beli isi rumah”


“Iya deh!” Rita menurut


Adzan Ashar berkumandang, Daniel dan Rita sholat Ashar di penginapan. Ketiga anak mereka telah bangun dari tidur.


“Papi-Mami i hungry” ujar Raffa


“Aku juga” ujar Ranna, sementara Rayya sedang minum ASI dari botol


“Yuk kita keluar cari makan” ajak Daniel


Rombongan Daniel pergi ke restoran cepat saji yang terdekat dengan hotel. Restoran itu dulu milik Tommy.


“Makanan di sini enak deh Yang!” Rita berpromosi


“Oh ya? ayo kita makan di sini deh” ajak Daniel.


Rombongan yang terdiri dari 7 orang dewasa dan 3 batita memasuki restoran. Rita melihat sekeliling, tidak banyak perubahan di resto tersebut.


Rita memilih tempat duduk yang letaknya strategis, pelayan resto datang menghampiri untuk memberikan daftar menu.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Rita kepada suaminya


“ terserah ! kamu yang tahu menu di sini kan?” jawab Daniel, ia meminta 3 kursi bayi untuk anak-anaknya


“Kalian pilih sendiri makanannya ya?” ujar Rita kepada para baby sitter dan ART sambil memberikan menu


“Kami terserah ibu saja, seperti yang bapak bilang ibu lebih tahu menu yang enak di sini” jawab salah satu suster yang diaminkan oleh temannya yang lain


“Baiklah, jadi terserah aku ya?” Rita memberi tanda kepada pelayan resto yang segera datang ke meja yang penuh itu”


“Kami pesan ini.... lalu minumnya...” Rita menyebutkan menu yang ia pesan


“Baik kak, harap tunggu 15 menit ya, terima kasih!” ujar Pelayan tersebut sambil membawa kembali daftar menunya.


“Tuh kan rata-rata pelayanan itu 15 menit Yang, itu maksimal!” ujar Rita kepada Daniel


“Kok tiba-tiba?”


“Kamu kan pernah complain di cafe ku pelayanannya kelamaan?”


“Bukan kelamaan, maksud ku kalau bisa lebih cepat kan lebih baik, misalnya nih aku pesan minuman saja masa harus menunggu 15 menit padahal cuma untuk secangkir teh”


Lima belas menit kemudian hidangan tersaji, mereka bergantian untuk mencuci tangan setelah itu mereka menyantap makanan dengan tenang.


“Aku mau mami- papi yang suapi!” pinta Ranna


“Me too” sambung Raffa


Rita dan Daniel bergantian menyuapi makan ketiga batita mereka. Sementara Rayya juga ikut disuapi oleh kedua orang tuannya. Para baby sitter merasa tidak enak hati.


“Gak apa-apa suster, setelah ini kami akan sibuk memilih barang-barang untuk di rumah, kalian akan sibuk mengasuh anak-anak ini” ujar Rita sambil menyuapi Ranna dan Rayya bergantian.


Selesai makan rombongan itu meninggalkan resto, mereka mampir ke mesjid sebentar untuk sholat magrib setelah itu mereka menuju toko furniture.


“Kalian sama suster ya? itu ada playground! “ Rita menunjuk playground di pojok pintu masuk toko


“Kak Ranna, ingat kata papi ya?”


“Ya papi!” Ranna mengangguk, mereka pun menuju play ground sementara Daniel dan Rita berkeliling mencari ranjang, bed dan lemari pakaian.


“Bed nya yang agak besar ada kan?” Rita tiduran di bed untuk mencoba kenyamanan bed


“Lemarinya, Mario memberikan ukuran kamar kita jadi kita bisa membeli lemari pakaian sesuai ukuran kamar ini” ujar Daniel sambil membaca pesan dari Mario


Selain membeli furniture mereka juga membeli sprei.


“Eh, kita perlu mesin cuci gak ya?” tanya Rita


“Mesin cuci mu masih berfungsi baik, nih sudah dipasang oleh Mario” Daniel menunjukkan foto dari Mario


“oh..” mata Rita tertuju pada sesuatu


“Aku mau beli ini ah” ia memegang sebuah scooter


“Yang itu? Kok tanggung amat? Kita beli yang ini saja, roda tiga “


“Lho kan aku sudah punya yang roda tiga?”


“Tapi gak kaya gini” Daniel mengagumi motor roda tiga


“Tapi harganya lumayan lho Yang, kamu kan sudah keluar uang banyak hari ini”


“Bisa dibayar pakai kartu kredit kok kak” ujar pramuniaga


“Enggak ah masa sudah keluar uang banyak harus ngutang pula” ujar Daniel, akhirnya ia mengurungkan membeli sepeda tersebut.


Karena mereka membeli banyak dan secara cash sehingga mereka mendapatkan hadiah berupa sepeda listrik.


“Alhamdulillah!!!” Daniel kegirangan mendapatkan hadiah, Rita tersenyum melihat reaksi suaminya yang seperti anak kecil.


Selesai berbelanja, mereka mampir ke resto untuk membeli cemilan untuk sarapan, Rita sengaja membeli panci listrik untuk memanaskan makanan untuk sarapan besok pagi.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2