
"Aku diberikan waktu 3 bulan untuk mengurus kepindahan ke Kanada"
ujar Daniel
"Visa aku dan anak-anak ya?"
"Iya, juga baby sitter, coba tanya mereka mau ikut gak tinggal di sana, kalau enggak ya terpaksa kita cari orang sana saja"
"Memangnya gampang cari orang?"
"Kanada itu negara terbuka untuk imigran. Orang dari berbagai negara sudah banyak di sana termasuk Indonesia. Kita bisa menyewa jasa mereka berdasarkan jam kerja saja gak perlu menginap seperti sekarang"
"Memangnya kamu keberatan ya kalau mereka menginap?"
"Kan aku sudah bilang, aku ingin bersama anak-anak saat weekend dan privasi tentunya"
"Iya ya privasi"
"Kalau memang begitu langsung saja putuskan kita gak pakai jasa mereka lagi?"
"Kalau sekarang gak bisa dong, kamu kan lagi hamil, dokter bilang harus banyak istirahat"
"Tapi tadi kamu bilang..."
"Itu kan skenario terburuk kalau para nanny gak bisa ikut. Kita itu harus memikirkan plan B kalau plan A gak sesuai keinginan."
"Oh begitu.."
Dua hari kemudian
"Jadi suster Erni dan suster Eva yang ikut kita?"
"Iya, suster Rini tidak bisa karena suaminya keberatan dia tinggal di Kanada"
"Tapi dia ikut ke Swiss?"
"Aku gak tau deh, tapi katanya suster Rini mau konsentrasi sama keluarganya."
"Kalau suster Erni ? Bukannya sudah bersuami?"
"Sudah, suaminya akan menyusul ke Kanada atas biaya mereka sendiri tentunya. Asal kamu bisa jadi sponsornya agar dia bisa mendapatkan pekerjaan di sana."
"Aku cuma jadi sponsornya saja kan? Bukan menanggung hidupnya?"
"Bukan dong sayang, katanya sih temannya suami suster Erni yang di Kanada juga akan membantu mencarikan tempat tinggal untuk mereka"
"Begitu ya, kalau begitu beres..lagi pula Ranna dan Raffa sudah besar, mereka hanya butuh diikuti sedangkan Rayya lebih sering bersama mu kan?"
"Mereka dibawah 5 tahun lho, tapi kemarin dia ngotot berenang di tempat dewasa karena kita sering bilang dia sudah besar dan harus mengalah sama adeknya "
"hahaha..si kakak itu..lucu sekali aku sering kangen dipanggil papoi sama dia"
"anak-anak kita sangat aktif, ibarat nya kalau ketemu kolam, yang satu langsung nyebur yang satu lagi banyak berpikir" ujar Rita mengingat anak-anaknya
"mereka lagi ngapain sekarang?"
"mereka sudah tidur, tadi puas sekali main air"
"Jadi memang sudah fix yang ikut dua orang itu saja ya?" tanya Daniel
"InsyaAllah iya, mudah-mudahan gak berubah"
"iya dong, nanti susah urus visa tinggalnya, nanti aku malah ditegur kantor"
"tapi kamu sudah direktur cabang Sayang,..mana ada yang berani menegur"
"mereka yang ngurusi pasti kesal kalau yang diurus berubah terus, sudahlah pokoknya jangan ada perubahan lagi"
"iya cintaaa.." Rita mencubit pipi suaminya gemas
"Oh iya, kita ada waktu untuk pulang , kamu mau ke Jakarta atau Auckland?"
"Pulang ya? Berapa lama?"
"Dua Minggu, ya itu sih paling minimal, kalau aku bilang tiga Minggu nanti kita kebablasan liburnya"
"jadi kamu libur?"
"hmm ..lebih tepatnya peralihan. Aku dikasih jeda untuk mengalihkan pekerjaan ku ke penerus ku"
"seharusnya kamu di kantor kan?"
"kan aku sudah bilang, aku sudah memberikan mandat kepada bawahan ku, dalam waktu 2 Minggu ini mereka mempelajari semua yang akan mereka hadapi dan tanyakan ketika aku datang, beres kan?"
"mereka bisa dipercaya kan?"
"itu pekerjaan mereka, harus bisa, jadi pilih mana? Jakarta atau Auckland?"
"Jakarta saja deh, kakek sedang ada di London menemani kak Andi, tidak ada siapapun di Auckland "
"nenek?"
"beliau di Perancis menemani Tante Metha, oh iya sekarang Tante memegang cabang Perancis "
"oh begitu..kamu tahu dari mana?"
"dari nenek, dia membelikan perosotan di kolam renang anak-anak"
"Dermawan sekali nenek mu" puji Daniel
"ya begitulah"
__ADS_1
"Jadi kita ke Jakarta ya? pas dengan pemikiran ku, kemarin Anwar mengirim pesan untuk ku, dia ingin aku datang ke acara pembukaan cabang restoran yang baru"
"Oh ya? buka cabang lagi? Di mana ? Di Jakarta juga?"
"Enggak di Malang "
"Waduh jauh itu"
"Memangnya Malang itu di mana?"
"Kamu gak tahu?"
Daniel menggeleng
"Itu di Jawa Timur, kira-kira 12 jam kalau kita naik mobil, atau 9 jam kalau naik kereta, bisa juga naik pesawat cuma satu jam , tapi turunnya di Surabaya dari situ satu jam ke Malang."
"Hmm...kenapa dia gak cerita tentang cabang di tempat yang jauh?"
"Mungkin dia ingin bergerilya, aku dengar di Jakarta persaingan makin ketat setiap bulan ada saja restoran yang tutup karena rugi"
"Memang kalau bisnis restoran itu harus ulet dan banyak modal serta inovasi baru tentunya "
"Modal kamu sudah kembali?"
"Sudah, tapi aku investasi kan kembali. Jadi penghasilan dari restoran ya untuk restoran "
"Tapi kamu tetap menyimpan keuntungan kan?"
"Tentu dong, ngapain aku investasi kalau ujungnya merugi. Aku punya feeling yang bagus tentang Anwar. Kalau semua berjalan baik, aku ingin kami membuka restoran di Kanada, khusus makanan Indonesia "
"Kalau itu jangan sama Anwar, sama aku saja"
"Sama kamu?"
"Iya, kamu gak percaya?"
"Bukan begitu, aku takut nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Ini bisnis lho"
"Kenapa kamu lebih percaya Anwar yang orang asing buat ku daripada istri mu sendiri?" Protes Rita
"Bukan begitu, kalau Anwar macam-macam di bisnis ini aku bisa putuskan hubungan kerja, nah kalau kamu? Bisa bubar rumah tangga "
"Ya Jangan sampai bubar! D' Ritz saja bertahan kan?"
"Itu kan bisnis kamu sendiri, aku gak ikut campur kecuali diminta, tapi kalau kerjasama bisnis aku gak yakin kamu akan suka sama aku"
"Masa sih? Kok Anwar bilang dia suka banget kerjasama sama kamu beda dari orang Korea pada umumnya "
"Itu alasan dia kali supaya bisa terhubung sama kamu terus, orang itu ada saja kan modusnya "
"Kamu aneh"
"Aneh apanya?"
"Kan sudah aku bilang, feeling ku bagus sama dia"
"Sama aku gak bagus?"
"Hmm...beda..sama kamu feeling nya lebih romantis dan erotis!" Daniel merangkul dan mencium kening istrinya dengan sayang"
"Dasar!" Rita tersipu malu.
Dua hari kemudian mereka kembali ke Jakarta.
Daniel sholat magrib dan Isya di Mesjid dekat rumah, ia membawa Raffa bersamanya. Di Mesjid ia bertemu dengan ustadz yang sudah lama ia kenal.
"Assalamualaikum,apa kabar pak Ustadz?" Daniel memeluk guru spiritualnya
"Alhamdulillah..Niel..wah kamu makin ganteng saja.. sehat semua keluarga?"
"Alhamdulillah, sehat semuanya pak"
"Alhamdulilah..itu Raffa kan?"
"Iya, Raffa kemari, salam sama pak Ustadz Subki"
Raffa menghampiri dan mencium tangan ustadznya.
"Anak Sholeh dan tampan seperti Abi nya"
"Terimakasih..kamu boleh main nak!" Ujar Daniel pada Raffa, ia terlihat senang melihat anak-anak berlarian di mesjid menunggu waktu sholat.
"Kapan kamu kembali ke Swiss lagi Niel?"
"InsyaAllah dua minggu lagi pak, oh iya nanti saya akan pindah ke Kanada"
"Oh jadi balik ke Kanada ya?" Ustadz Subki sudah mengenal Daniel sejak di Auckland dulu, ia orang Indonesia yang bekerja di Auckland, melalui dirinya lah Daniel belajar tentang agama Islam dan menjadi mualaf. Kontrak kerjanya di Auckland telah selesai, ia kembali ke Jakarta untuk mengembangkan sekolah tahfidz Al Qur'an.
"Iya, saya akan memegang cabang Lexi di sana"
"MasyaAllah tabarokallah.. Alhamdulillah Niel..itu rejeki tapi ingat ya Niel jangan tinggalkan sholat sesibuk apapun, sedekahnya juga jangan lupa terutama sama istri karena menafkahi istri itu kewajiban walaupun istri mu lebih kaya"
"InsyaAllah pak saya akan terus mengingatnya"
"Oh iya, jangan terhanyut dengan pujian, sesungguhnya puji-pujian itu hanya milik Allah, kalau sekarang kamu hebat itu karena Allah yang menghebatkan. Kadang orang itu bisa lulus ujian ketika dalam kesulitan tapi tidak lulus dalam kelapangan"
"Maksudnya?"
"Orang ketika susah sudah biasa datang ke Allah, tapi ketika dalam kelapangan? Belum tentu ingat. Semua yang kamu dapat sekarang ini merupakan ujian baru buat kamu Niel, ujian Ego, apa kamu masih baik dengan istri mu karena secara ekonomi kamu sudah bisa menandinginya. Lalu ujian dengan anak-anak, kesabaran, waktu kerja menyita perhatian. Uang yang banyak bikin kamu ingin membeli semua yang sebelumnya kamu gak bisa dapatkan..banyak Niel ujiannya jadi selalu berhati-hati dan jaga kesehatan ya?"
Daniel merenungi ucapan ustadz, mengangguk memahami
__ADS_1
"Oh iya pak Ustadz saya dengar pengumuman tadi tentang donatur rumah hafidz Al'quran?"
"Iya Niel, saya membuka sekolah tahfidz Al Qur'an, untuk anak dan dewasa terutama anak-anak. Nah ini kan gratis tapi para ustadz nya kan juga harus dapat penghasilan,jadi kami mencari donatur tetap untuk operasional dan gaji para ustadz"
"Saya mau deh ustadz jadi donatur tetap, saya akan transfer ya tiap bulan, 20 juta cukup?"
"Wah Niel..cukup banget itu, Alhamdulillah saya sempat bingung mencari donatur "
"Kenapa ustadz gak bilang sama saya?"
"Kita kan jarang ketemu, Saya juga gak enak sama kamu Niel, kamu kan mualaf"
"Hubungannya apa ustadz?"
"Saya gak mau dibilang memanfaatkan kamu, nanti dibilang memperjualbelikan agama, nanti kamu malah beranggapan jelek sama agama baru mu"
"Enggak dong pak, istri saya juga menjadi donatur tetap yayasan yatim dhuafa di Sukabumi"
"MasyaAllah.. kalian benar-benar orang baik ..Kita dipertemukan di sini atas kehendak Allah..Semoga rejeki kalian dilancarkan, tetap adem ayem selalu rumah tangga kalian, diberikan anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan selalu dalam lindungan Allah Subhana Wata'ala"
"Aamiin yaa robbal'alamin, terimakasih ustadz doa dan nasehatnya, saya sempat merasa kosong jiwa ini, kadang bingung apa nanti ketika saya meninggal semua harta ini bisa saya bawa mati"
"Itu tanda Niel, kamu diberikan hidayah untuk menaruh harta mu di tempat -tempat yang ada amal jariyahnya"
"Amal jariyah? Itu apa ustadz?"
"Ada tiga yang akan mengikuti kita ketika meninggal,"
"Apa saja itu ustadz?"
"Ilmu yang bermanfaat, doa anak yang Sholeh dan amal jariyah itu semua akan terus mengalir sebagai pahala bagi mu ketika kamu meninggal, yang lain-lain akan ditinggalkan di dunia. Amal jariyah itu, pahalanya akan terus mengalir ke kamu selama yang kamu berikan itu terpakai, misalnya menyumbang Al Qur'an atau alat sholat, selama alatnya terpakai, pahala sholat orang itu ku juga dapat"
"Oh begitu, kalau tahfidz ini?"
"Ya sama, kamu membiayai guru ngaji yang mengajarkan ilmu Allah, InsyaAllah pahala orang yang diajarkan ngaji oleh guru yang sejahtera itu mengalir pada mu"
"Alhamdulillah..baiklah ustadz saya akan menjadi donatur tetap, saya transfer sekarang ya?" Daniel membuka ponselnya
"Eh sekarang Niel? Apa sudah ada dananya?"
"Insya Allah ada pak ustadz..nanti saya beri alamat kami di Kanada ya, kalau pak ustadz diundang kajian ke sana, bisa mampir ke rumah kami"
"InsyaAllah Niel.."
"Sudah pak, bisa dicek ke rekening nya"
Ustadz membuka m banking nya dan membaca saldo tabungannya
"Tiga puluh juta? MasyaAllah.. Jazakillah Khairan katsira Niel...semoga membawa keberkahan untukmu dan keluarga.." ustadz memeluk Daniel dengan senang
"Aamiin"
Sesampainya di rumah
"Sayang, kamu sudah transfer untuk rumah ini?" Tanya Rita
"Astaghfirullah..aku kok bisa lupa, gini saja deh, tiap bulan aku transfer ke kamu 300 juta, kamu atur saja untuk kebutuhan rumah ini, untuk belanja dan nafkah kamu, aku gak akan sempat untuk ngurus printilan kayak gini"
"300 juta? Perbulan?"
"Iya, gak cukup?"
"Hmm ..250 saja jangan banyak-banyak "jawab Rita
"Lho..lho..bang apa mau hujan ya?"
"Kenapa Pi?" Tanya Raffa menghampiri papinya
"Mami menolak uang" goda Daniel
"Bukan begitu 300 itu kebanyakan, kamu kan kepala rumah tangga harus menyimpan uang juga kan? Jangan semua diberikan ke aku. Kamu juga mau beli keperluan mu kan?"
"Iya sih, tapi benar nih? Gak nyesal? Kalau sudah transfer aku gak mau transfer lagi lho, biaya transfer nya mahal!"
"Lima belas ribu kan? InsyaAllah enggak nyesal tapi kalau sudah banyak duit jangan kawin lagi ya, awas lho!" Ancam Rita
"Kawin lagi? Kamu saja satu gak habis masa kawin lagi?"
"Biasanya lelaki kalau banyak duit suka iseng"
" Kalau aku iseng mending mainin kamu!" Goda Daniel lagi sambil merangkul istrinya.
"Ah iya tadi Anwar kemari ngasih tiket kereta, kelas eksekutif lho" Rita memberikan sebuah amplop besar
"Wah kaya dia, lho ini apa?" Daniel membuka amplop, selain tiket juga undangan pernikahan
Mereka membaca undangan pernikahan yang terlihat mewah.
"OOO...jadi dia akan nikah sama orang Malang..dasar tadi gak ngomong apa-apa sama aku" ujar Rita kesal
"Kamu cemburu ya dia menikah?"
"Enak saja! Enggak aku kesal saja, dia tadi buru-buru ngasih ini terus langsung kabur gak cerita apa-apa lagi"
"Itu namanya dia menghormati aku dan kamu, dia tahu kamu gak ada suami di rumah"
"Tapi kan banyak satpam anak-anak juga ada"
"Tetap saja dia merasa gak pantas, kan aku sudah bilang Anwar itu orang baik, seperti Mario" ujar Daniel langsung berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian
"Ah iya benar, Anwar dan Mario keduanya malah jadi nempel sama kamu!" Rita mengikuti suaminya dari belakang
__ADS_1
_bersambung_