Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 147: Akad dan goodbye?


__ADS_3

Persiapan akad sudah mendekati 90%, para kakek melihat tempat pelaksanaan akad, Andi mengantar mereka berkeliling.


“Nih Kek, O yang memilih tempat dan mendekor ruangan ini jadi keren seperti ini!” Andi mengenalkan Mario pada kedua kakeknya


“O! ini kakek-kakek gue!”


“Mario, kakek-kakek!” Mario menyalami kedua kakek


“Namamu Mario? Dipanggil O?” tanya Darmawan


“Itu kerjaannya si Ritong kek!” ujar Mario genit


“Ritong?” Sugiyono heran


“Rita maksudnya, karena dia suka makan sotong, jadi Ai gabung jadi Ritong!” ujar Mario lagi


“Rita suka sotong?” tanya Andi heran


“yeay, suka banget!, waktu itu kita main ke rumah paman Ai yang nelayan, kita nangkepin sotong!, doi dapat banyak! Ai dapat nelayannya!, hihihi!”canda Mario


“Aku baru tahu dia suka sotong!” gumam Andi


“Sotong apaan sih?” tanya Darmawan


“Itu sejenis ikan Dik!, temannya cumi-cumi deh, kalau cumi kan kecil, kalau sotong agak besar sedikit!” terang Sugiyono


“Ooo kirain sotong itu kaya sotong makassar, sotong Betawi!” ujar Darmawan menimpali


“Itu Soto Kek!!! Ih kakek Lucu!” tiba-tiba Mario mencubit pipi Darmawan,


“Hih!” Darmawan agak kesal lalu pergi meninggalkan mereka


“Lo sih O, gak sopan tau!” hardik Andi, ia mengejar Darmawan untuk meredakan kekesalannya


“O! Selain dekorasi kamu mahir apa lagi?” tanya Sugiyono


“Hmm..spesialisasi Ai sih di dekorasi kek, tetapi Ai lagi belajar desain interior untuk rumah”


“Kamu khusus belajar untuk mendekorasi?” tanya Sugiyono lagi


“Otodidak Kek, awalnya Ai kerja di tempat penyewaan tenda untuk pernikahan, karena Ai putus sekolah, ayah Ai sakit-sakitan terus, jadi gak ada biaya untuk meneruskan ke sekolah yang Ai mau. Kebetulan pas pulang sekolah, ada orang dari tenda pesta yang butuh pekerja, Ai melamar ke situ, eh diterima. Subhanalloh!” ujarnya lega


“Berapa lama kamu belajar?”


“Hmm..berapa lama ya? mungkin sekitar 4-5 tahunan deh Kek”


“Kata Andi kamu punya sertifikat keahlian dekor?”


“Ah Anding!..jadi malu!..iya Kek, jadi waktu itu ada perlombaan menghias pelaminan, eh Alhamdulillah Ai menang, dan hadiahnya Ai boleh ikut ujian mendapatkan sertifikasi keahlian gratis, kalau bayar mahal kek, sekitar 2 atau 3 jutaan gitu!”


“tapi bukannya pelatihannya gratis? Aku lihat di internet?”


“Ihh..kakek kayak gak tau aja, gratis di negara ini mah mutunya payah! Kecuali kalau orang yang ngajarinnya ikhlas!.. Nah Ai ikut ujian keahlian mendekorasi, Alhamdulillah Ai lulus! dapat deh sertifikat keahlian!” ceritanya heboh


“Kamu sekolah sampai mana?”


“Apanya kek? Jalannya?”


“Bukan, tingkat pendidikanmu! SMA atau kuliah?”


“Cuma sampai SMP kek, Ai kan sempat sekelas sama Ritong padahal Ai lebih tua setahun dari dia tapi dia banyak bantu Ai belajar. Ai sedih banget waktu tiba-tiba dia pindah sekolah!” ujarnya sedih


Sugiyono mengangguk-angguk, lalu menepuk punggung Mario. Ia pergi meninggalkan Mario yang menyeka air matanya. Sugiyono duduk di samping Darmawan yang sibuk membaca pesan di ponselnya


“Eh Dik, ternyata cucu kita, Ritong itu baik banget ya sama orang!” bisik Sugiyono


“Tapi kak, cucu kita namanya Rita!” balas Darmawan


“Ah iya, Rita. Ini gara-gara ngobrol sama si O jadi ketularan!” keluh Sugiyono


Sementara Rita di ruangan lain sedang didandani dengan kebaya putih hasil rancangan Ratna.


“Ma, ini kebayanya siapa? Kok pas banget?” tanya Rita mematut tampilannya di cermin


“Ini sebenarnya pesanan orang, tapi sama dia direject” ujar Ratna sambil merapikan kebaya ditubuh Rita


“Kok bisa ma? Kan kalau sudah fitting, apalagi sudah jadi kayak begini, kenapa bisa direject?”


“Sebenarnya, orangnya suka tetapi, pas menjelang hari H, ternyata calon suaminya mondok sama sahabatnya! jadi dia batalkan pernikahannya” ujar Ratna lagi


“Aduhh..sedih banget ma!”


“kebaya ini mahal lho, bahannya saja 3 juta per meter, kalau ditotal dengan ongkos buat, harganya jadi 30 juta. Tapi klien mama itu nangis-nangis, dia bilang gak ada uang. Karena semua biaya nikah yang menanggung calon suaminya. Ya akhirnya mama relakan saja deh. Eh gak taunya kebaya ini malah berjodoh dengan anak mama!” ujar Ratna tersenyum


“Rita bayar gak nih ma?” tanya Rita


“Gak usah, mama pinjamkan, tapi nanti kamu mau ya jadi model katalog mama? Badan kamu bagus lho Rit!” ujar mamanya memuji


“Kalau wajahnya ma?” tanya Rita


“Wajahnya apalagi, manis!” puji Ratna, Rita tersenyum senang.


Setelah itu, Ratna mulai merias wajah Rita, dengan sapuan yang sederhana namun elegan, sehingga terpancar aura kecantikannya. Rita mengenakan selop putih yang sewarna dengan pakaiannya, tiba-tiba Mario masuk ke ruang rias, ia terpana melihat Rita yang sangat cantik. Lututnya menjadi lemas, ia menangis seperti anak kecil


“Ritong! You keterlaluan! “ tangisnya, Rita bingung melihat Mario menangis terduduk di lantai seperti anak kecil, begitu pula dengan Ratna


“Kenapa dia?” tanya Ratna heran


“Lo kenapa O?” Rita berjongkok mendekati Mario. Di dekati Rita, justru Mario seperti ketakutan, ia menjauh


“Lo kenapa sih? Keserupan?” tanya Rita heran


“Lo jahat banget Ritong!, gue nungguin lo balik kemari! Gue nungguin Lo jadi pacar gue!, pas lo balik malah lo mau kawin! Huaaahhh!!!! Dan gue jadi dekoratornya...huaaahhh!!!” Mario menangis kencang. Ia menggesek-gesekkan kakinya ke lantai seperti anak kecil yang mainannya diambil orang. Tangisannya mengundang orang-orang pada datang ke ruangan Rita, termasuk para kakek, Andi dan Daniel


Rita berusaha menenangkan Mario, “Siapa suruh nungguin? Lo kebiasaan begitu deh!, jangan nunggu kalau gak disuruh!” ujar Rita kalem


“Tapi..tapi..lo bilang! lo bilang...tu kan lo lupa lagi!!!” Mario makin kencang menangisnya. Daniel datang menghampiri, kemudian ia membisikkan sesuatu. Tiba-tiba Mario berhenti menangis kemudian ia kembali berdiri dan kembali menjaga imagenya.

__ADS_1


“Ehem..para tamu dan pengantin! acaranya dimulai 15 menit lagi ya!” ujarnya, kemudian ia menyuruh orang-orang yang berkerumun di kamar rias keluar semuanya, ia juga menarik Daniel yang terpana melihat Rita.


“Hei, groom! Later ya!! nanti setelah syah baru pantengin lama deh!” ujar Mario, Daniel menurut.


Pukul 19.00, Daniel, Andi, Reza penghulu serta para kakek duduk saling berhadapan di depan meja yang telah disediakan. Sebelumnya Daniel telah menghapalkan kalimat akad. Dengan mantap dan lancar Daniel mengucapkan janjinya (Ijab-kabul) untuk menikahi Rita Darmawan Soegiyono binti Eka Darmawan, dengan mahar berupa uang senilai 100,000USD dalam bentuk tabungan. Yang hadir di sana sangat terkejut tertutama para kakek.


“Itu beneran kak? Aku gak salah dengar kan?” bisik Darmawan


“Beneran, tuh bukunya!” tunjuk Sugiyono


Darmawan menghitungnya di dari kalkulator di ponselnya, kemudian berbisik


“Kalau di rupiahkan 1,5 M, kak!” bisik Darmawan lagi. Kakek Sugiyono mengangguk-angguk


Setelah dinyatakan sah, Rita dihadapkan untuk berdampingan dengan Daniel. Semua mata melihat kagum padanya, mereka berbisik


“Gak heran maharnya mahal, pengantinnya cantik banget!”


“Rita..cantik banget, masya Allah!” ujar Lisa dan Andien yang mengabadikan moment Rita berjalan menghampiri Daniel. Para senior yang diundang juga tidak kalah terpukau. Indra berkali-kali menelan ludah, ia mengingat kembali masa-masa ia dekat dengan Rita. Setelah Rita dan Daniel dipertemukan, mereka menandatangi buku nikah. Setelah itu keduanya menghormat kepada para kakek, ibu dan ayah Reza. Mereka semua terharu, melihat Rita yang kini telah menjadi istri seseorang. Andi yang berperan sebagai wali nikah juga ikut terharu, ia berpesan kepada Daniel


“Jangan menyakiti Rita ya Niel, dia akan sangat baik kalau kamu baik sama dia!” pesan Andi, sambil memeluk Daniel


“InsyaAllah Di, terima kasih sudah menjadi wali nikah kami!” bisik Daniel


Dewa ikut hadir, ia mengambil tempat duduk yang jauh dari tempat pengantin. Mario menghampiri Dewa yang menyendiri


“Hey! Waktu itu maaf ya!” ujar Mario dengan nada gemulai, Dewa agak menghindari Mario


“Iya, sama-sama!” ujarnya dingin


“udah! Jangan terlampau sedih! Jaman now, jarang yang nikahnya langgeng!” ujar Mario


“Jangan begitu! Kalau lo teman yang baik seharusnya doain yang bagus kan?” balas Dewa


“Ai lihat realitas!, 10 dari 20 nikahan yang Ai bantu dekor itu pada cerai! Ih kalau mau cerai kenapa harus nikah!” ujar Mario sinis


“Berarti lo bawa sial dong? Itu 50%nya!” ujar Dewa kaget


“Eh!..itu kan perkiraan Ai saja, kemungkinan lebih keciiiillll!!” ujarnya menjentikan jarinya


“Tapi kalau mereka gak nikah, lo gak dapat duit kan?” ujar Dewa lagi


“Iya juga sih, maksud ai, nikah itu jangan grasa-grusu! Nikah buru-buru setelah selesai nafsu, eh pada bubaran, dimana letak ibadahnya coba?” Mario mengatakan dengan nada sinis


“Kalau Lo perhatiin, apa Daniel orang seperti itu?” ujar Dewa, ia melihat kedua mempelai yang saling berpandangan melalui layar kaca


“Namanya orang euy! Ada aja kurangnya!” ujar Mario lagi, ia memalingkan wajahnya dari TV


“Lo sebenernya sayang sama Rita gak sih? Kok jelek banget doanya?” ujar Dewa resah


“Ai? Tentulah sayang! Makanya Ai mau mendekor dadakan untuk dia!. Yu gak tau sih betapa hancurnya hati ini harus mendekor kawinan orang yang pernah berarti bagi kita!” ujar Mario dengan bergaya puisi


“Terus kenapa tadi tiba-tiba Lo diam? Daniel bisikin apa?” tanya Dewa, tadi dia sempat mengintip kehebohan di ruang rias


“Ehem...hahaha..mau tauuu ajah!” tawa Mario


“Hey Fergoso! Kita itu hidup di dunia realita yu know R-E-A-L-I-T-A! Gak dapat orangnya ya harus dapat duitnya lah! Apalagi ditambah bonus wisata ke Universal Studio Singapura! Eh!” Mario keceplosan, ia menutup mulutnya


“ooo..jadi itu yang dibisikin Daniel tadi!” ujar Dewa tadi


“eh keceplosan, kapan lagi ai jalan-jalan ke luar negeri! Mumpung ketemu sama orang yang ngajak!”Mario meninggalkan Dewa duduk sendirian. Tak lama kemudian para tamu memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, termasuk Dewa dan kawan-kawan.


“Selamat ya Rita, Semoga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah, Langgeng sampai akhir hayat!” ujar Dewa


“Aamiin, terima kasih banyak kak Dewa!” Rita tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya ke tamunya yang lain. Setelah berfoto bersama, Dewa pun pamit kepada Rita dan keluarganya. Ia memilih pulang duluan tanpa berkumpul dengan teman-temannya, tetapi ia mampir di warung pak Amir. Beberapa saat kemudian Andi menelponnya


“Ar, di mana lo?”


“Warung pak Amir!”


Dengan segera Andi berganti pakaian dan pergi ke warung pak Amir, lima belas menit kemudian dia telah tiba di warung pak Amir


“Heh! Sendirian aje lo! gak ngajak-ngajak!” Andi menepuk punggung Dewa yang masih rapi dengan batiknya


“Lo kan lagi sibuk jadi wali nikah! Kenapa kesini?”


“Ada Mario!, Dia kan dibayar untuk beberes sampai selesai, jadi gue bisa cabut! Lo gak apa-apa Ar?”


“Hmm...kalau dipikir-pikir Lo itu pengkhianat bangsa Di!” ujar Dewa tiba-tiba


“Maksud lo?”


“Kalau Lo teman gue, kenapa lo malah menikahkan Rita dengan orang lain bukan sama gue?” ngomong Dewa mulai meracau. Andi heran, ia mencium minuman yang diminum Dewa, kemudian memanggil waiter


“Dia minum apa?” tanyanya


“Cuma rootbeer mas!”


“Beralkohol?”


“Kami gak jual minuman beralkohol mas, pemilik cafe ini Haji Amir!” ujar Waiter


“Kok dia kayak orang mabok?” tanya Andi heran


“Mungkin karena minumnya terlalu banyak!” ujar waiter lagi


“Katanya gak beralkohol kog bikin mabok?” Andi bingung, ia segera membawa Dewa ke klinik terdekat. Dokter memberinya obat untuk mengeluarkan cairan dari lambungnya. Cukup lama mereka berada di klinik, setelah Dewa agak baikan, Andi membawanya pulang.


“Permisi! Tolong bukakan pintu pak!” pinta Andi pada satpam rumah Dewa


“Eh Den Andi, sudah lama ya, ayo masuk Den!” satpam membukakan pintu untuk Andi yang merangkul Dewa.


“Pak, bisa bantu saya untuk antar dia ke kamarnya?” pinta Andi, Satpam membantu Andi membawa Dewa ke kamarnya dan meletakkan di tempat tidur.


“Yang lain pada kemana pak? Kok rumah ini sepi?”


“Lho, den Andi gak tahu? Bapak, Ibu dan dek Isye pindah ke Bali sudah setengah tahun yang lalu. Den Dewa di sini sendiri”

__ADS_1


“Kuliahnya gimana? Bukannya dia kuliah di Bandung?”


“Waduh, bapak gak ngerti Den. Tetapi sejak tiga bulan yang lalu sepulang dari luar negeri, den Dewa sudah gak ke kampus lagi”


“Kemana pak? Sehari-harinya kegiatannya apa?”


“Saya gak ngerti Den, kita Cuma jaga di luar saja!”


“oo begitu, terima kasih pak!, mungkin saya menginap di sini menemani dia!”


“Iya Den, kalau butuh apa-apa ambil sendiri saja ya den, di dapur lengkap kok!”


“Baik pak!, terima kasih!” Andi melepaskan jaket denimnya, kemudian ia membantu Dewa untuk berganti pakaian


“Lo kenapa sih Ar, gara-gara cewek jadi begini?” guman Andi sedih melihat keadaannya sahabatnya


Dewa yang mulai sadar, ia melihat ke arah Andi


“Gue tolol Di! “ kemudian dia mulai menangis


“Kenapa?” Andi heran


“Dulu..dulu Rita itu suka sama gue, terus gue cuekin dia, bahkan gue menepis semua pemberiannya. Gelang persahabatan, wrist band, cemilan. Ternyata semua itu cara dia menunjukkan perhatiannya ke gue. Tapi gue tolak! Goblok kan? Sekarang dia sudah nikah sama orang lain! Gue menangisi kegoblokan gue!” Dewa terisak


“Sudahlah Ar, bukan jodoh lo! jangan begitu! Gue jadi gak enak nih, gue kan kakaknya Rita!”


“Nah itu!, belakangan gue baru tahu Rita yang perhatian ke gue itu ternyata adik lo! orang yang selama ini gue tunggu. Ada di depan gue, tapi gue gak ngenalin! Gue goblok banget kan?? Dewa TOLOL!!!” ia memaki dirinya sendiri


“Tapi Ar, bukannya waktu di Bali kalian sudah dekat? Kenapa lo gak nyatain?” tanya Andi heran


“Sudah gue coba Rey!, tapi dia gak goyah. Dia malah menyebut tentang Tomi teman SMPnya. Jadi gue mundur!”


“Lah berarti seharusnya Lo sudah move on dong?” ujar Andi heran


“Setelah Tomi wafat, gue pikir bisa dekatin Rita lagi, eh dia malah makin jauh. Begitu ketemu malah sudah dekat sama si Daniel sialan itu!”


“Lo juga Ar, masa sih Lo gak mau bantuin gue dekat sama Adik Lo?” ujar Dewa lagi


“Ih, siapa bilang? Kan gue yang bayarin Lo ke NZ supaya ketemu dia!, tapi dasarnya Rita gak ada feeling sama Lo Ar!, udah jangan dipaksa!”


“Seharusnya Lo bisa dong, maksa dikit kek, Lo kan kakaknya! Ingetin dia tentang masa-masa dia PDKT sama gue?” ujar Dewa bersikeras


“Tentang itu mana gue tahu? Eh Ar, kalau Rita pernah PDKT sama Lo,memangnya dia ngapain saja?” tanya Andi penasaran


“hmm..ngasih macam-macam, gelang persahabatan, wristband, aneka snack bahkan makan siangnya”


“Terus lo terima ?”


“Iya”


“Terus barang-barang yang dia kasih kemanain?”


“Gue kasihin Tomi”jawab Dewa pelan


“Kalau gitu lo bener! Tolol!, Goblok!, gue tambahin Bloon!” ujar Andi kesal


“Tuh kaan!!!” Dewa menutup wajahnya kesal


“Lo tau gak, Rita itu tipenya, kalau yang sudah lewat dia gak mau balik lagi. Lo sudah gak dianggap sama dia! Makanya dia santai kan sama Lo waktu di Bali, di NZ, karena sikap lo itu begitu!, beda sama Daniel. Dia mengejar Rita lho! Bayangin dari NZ, ke Singapura, terus Jakarta lalu ke Sukabumi! Kurang tekun apa dia? Rita juga merasakan orang yang benar-benar menginginkan dia. Dan Dia juga pernah bilang ke gue, kalau Dia itu bukan tipenya Elo! Jadi sudah lah move on! Kuliah lagi!” Andi menasehati panjang lebar


“Kok lo tahu gue DO?” tanya Dewa heran


“Lo di rumah saja kan? Sudah berapa bulan gak kuliah? Ada 3 bulan?” tanya Andi


“1 semester!” ujar Dewa pelan


“ya ampun Arya!!!, Lo ngapain menyia-nyiakan hidup lo untuk cewek yang sama sekali gak mikirin Lo?? waktu itu berjalan cepat Ar!, nanti tiba-tiba Rita sudah bawa anak 3 eh lo masih kayak gini? Meratapi dia? Gak heran kan dia ngejauhin pecundang!” ujar Andi memarahi


“Masa sih Rey, Rita sama sekali gak ada feeling sama gue?” tanya Dewa penasaran


“Gak ada Ar! Lo inget gak waktu lo buru-buru pulang? Nah itu awal dia jadian sama Daniel tuh! Gue marahin Dia, supaya jangan flirting sama Daniel kalau dia suka sama LO!”


“Terus?”


“Ternyata dia sukanya sama Daniel!, seminggu lalu nih, Rita kena usus buntu, Lo tahu gak siapa yang bawa dia ke RS?”


“Daniel?”


“Iya! Betul! Katanya dia punya feeling gak enak, pengen nelpon Rita, gak tahunya bener, si Rita lagi kesakitan di rumah!”


“Ooo begitu ya, jadi mereka sudah punya hubungan batin!” Dewa mulai memahami


“Makanya Ar, sudahlah, jangan meratap terus! Gue gak enak nih! Kita kan sudah berteman lama! Gue gak mau lo hancur gara-gara adik gue!” hibur Andi


“Lo ada saran supaya gue bisa merelakan?”


“Kumpulin semua kenangan dari dia, kalau ada, misalnya pemberian, apapun, terus lo bakar deh. Biasanya jadi lupa tuh. Kalau gue sih begitu!”


Dewa langsung bangun dari tempat tidurnya, ia mengambil kotak coklat dari atas lemari


“Apaan tuh?” tanya Andi


“Waktu mamanya Tomi pamit, beliau memberikan ini ke gue, pas gue buka, ternyata barang-barang yang Rita kasih ke gue. “


Andi melihat isi box coklat itu, wrist band, gelang persahabatan, syal, kaos kaki.


“Ini semua dari Rita?” tanya Andi heran, Dewa mengangguk


“Semuanya jadi punya Tomi?” tanya Andi lagi, Dewa mengangguk lagi


“Udeh, bakar saja deh, bakar semuanya, kalau bisa otak lo ikutan lo bakar!” ujar Andi kesal


“Maaf deh Rey!, bantuin gue bakar ini semua ya?” pinta Dewa memelas


“Kalau ada foto-foto lo sama Rita, bakar juga, singkirin, supaya lo gak keingetan terus!” perintah Andi


Beberapa menit kemudian, Dewa dan Andi berkumpul di lapangan basket di belakang rumah Dewa. Dewa menyiramkan minyak tanah dan melemparkan lilin untuk membakar kotak yang berisikan barang-barang kenangan antara dirinya dan Rita. Dengan cepat api membakar Kotak coklat dan ini di dalamnya, sayup-sayup Dewa bergumam “Farewell Rita!!”

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2