Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 215: Ngumpul Genk (2)


__ADS_3

“Gara-gara Indra gak jelas, makanya lo jadi jatuh ke pelukan Tommy?” tanya Andien


“Oh kalau tentang Tommy itu, dia kakak kelas gue di SMP dulu, kita dekat di SMP hampir jadian malah sampai dia pindah sekolah lalu kecelakaan. Nah waktu itu tiba-tiba dia ingat gue lagi, jadi deh kita jadian jadi nerusin kisah kita di SMP dulu”


“Oh begitu, jadi gue aman ya sama Indra?”


“Aman din, Silakan saja, jangan sungkan sama gue!”


“Tuh kan, dengan begini lo jadi merasa jelas kan?” ujar Qowi


“Indrajit deketin Lo ndin?”


“Iya, setelah dari resepsi lo deh, kita sering ngobrol via online”


“hmm...terus dia nyinggung-nyinggung tentang hubungan kalian gak?”


“Enggak pernah! Makanya gue bingung nih”


“Lo follow sosmednya?” tanya Rita lagi


“pastinya”


“ada yang aneh gak di situ?”


“Aneh kayak apa?”


“Lo bilang kan kalian sering jalan? Pasti sering foto-foto nah foto kalian dipajang gak di medsosnya?”


“hmm...kayaknya enggak deh, kecuali waktu kita pulang bareng-bareng dari resepsi lo tuh, ada foto kita di sosmednya”


“Oh begitu”


“Kenapa? Kok lo jadi begitu?” tanya Andien heran


“Boleh gue kasih saran?”


“Boleh banget, please seniorita!” jawab Andien


“Selama dia belum menyatakan perasaannya sebaiknya Lo jangan kegeeran dulu. Ya sebenarnya gak apa-apa sih geer tapi nanti lo jadi patah hati, ternyata dia gak punya feeling yang sama kayak lo”


“Jadi gue diam saja gitu? Nungguin dia nembak?”


“Kalau Lo berani sih , boleh saja, misalnya Lo penasaran nih, ya tanya saja langsung. Tapi lo harus hati-hati kadang-kadang cowok kalau ditanya langsung tentang perasaannya suka merasa seperti ditodong. Malah menjauh” jawab Rita


“Lo pernah begitu Rit?”


“Pernah dong! Hehehe...”


“Di SMP apa SMA?” tanya Qowi penasaran


“Lo mau tau aja apa tau banget?”


“Tau banget!”


“Enggak ah, sudah tutup buku!” jawab Rita tersenyum


“Jadi intinya, cowok itu akan nembak kalau dia benar-benar tertarik sama kita Rit?” tanya Lisa tiba-tiba


“Iya, berdasarkan pengalaman gue sih begitu”


“Rit, tahu dari mana kalau Daniel itu orang yang tepat untuk lo?” tanya Qowi , nada suaranya seperti mewawancara


“Tahu dari mana? Hmm...gue banyak sholat istikharoh..supaya hati gue dijaga. Kalau dia gak baik seharusnya dia menjauh. Eh dia malah jadi mualaf, terus ngejar gue sampai ke Jakarta. Terus ke Sukabumi jadi menurut gue itu sudah suatu tanda kan?”


“Gue kan kristen Rit, masa gue harus sholat apa tadi?” tanya Qowi


“Istikharoh, Oh iya? lo banyakin doa Wi, minta petunjuk Tuhan nanti pasti dikasih, tapi ingat sebelum sah jangan dikasih diri lo, nanti Tuhan malah marah”


“Tapi Lo sendiri pernah ribut besar sama Daniel” tanya Lisa


“Pernah dong, pernah putus malah”


“hah? Suer lho?” ketiganya gak percaya


“itu gara-gara apa?”


“Gara-gara ada yang ngomongin dia di kantor, kalau dia dapat posisinya di kantor karena dia dekat sama gue. Eh dia menjauh dari gue”


“Terus lo gimana?”


“ya terus gue sempat amnesia sebentar, lalu dibawa ke Jakarta sama Kakek gue”


“Lo sempat amnesia? Gimana?”


“Ya lupa gitu sama dia”


“Sengaja lo lupain?”


“Mungkin, tapi gue inget banget tuh, mukanya sedih banget waktu gue bilang gak inget sama dia”


“Lo beneran gak inget apa dibuat-buat?” tanya Lisa


“Awalnya beneran gak inget. Gue pikir dia pacarnya nyokap gue, tapi kok kemudaan. Dia ngikutin gue melulu. Pas sampai Jakarta gue baru inget sama dia eh sebenarnya malamnya gue inget sama dia”


“Terus? Kenapa lo pura-pura gak inget?” tanya Lisa


“Gue masih sakit hati sama perlakuannya, jadi gue pikir ya sudah kita selesai saja”


“terus Rit?”


“Terus tiba-tiba dia datang ke Jakarta, gue ketahuan sudah ingat. Dia nyamperin, kebetulan gue sakit dia yang bawa gue ke RS, nungguin banyak deh.”


“Terus lo maafin?” tanya


Andien


“Belum lah! Gue merasa mati rasa saja sama dia”


“Kok bisa?”


“Namanya lagi marah, kesal, dendam banyak deh”


“Terus kenapa kalian balik lagi?”


“Waktu itu gue bertanding sama teman gue. Eh kalah”


“Hah? Lo kok bisa kalah? Pasti teman lo itu jago ya?”


“Karena kita tandingnya Judo, bukan taekwondo makanya gue kalah”


“Terus hubungannya sama Daniel?”


“Pas kalah itu gue ngigau kata teman gue itu sih, dia bilang gue manggil-manggil namanya. Terus dia nyebutin semua kejeleken cowok, gue bilang Daniel gak begitu. Kalau begitu maafin saja, lagi pula kelihatan gue masih suka sama dia.”

__ADS_1


“Dia bilang begitu dan lo nurut Rit? Siapa tuh namanya? Kenalin kita dong?” tanya Lisa


“Nanti deh kapan-kapan, orangnya cuek dan lucu juga. Kayaknya bakal cocok deh sama gengk kita”


“Terus Rit, lo balik sama Daniel gimana?”


“Ya gue ke apartemennya di Singapura, gue bilang ke dia kalau gue masih suka sama dia, dan gue akan berusaha memaafkan perbuatan dia”


“Terus? Dia jual mahal gak?”


“Enggak! Dia meluk gue, dia bilang lega karena sebelumnya dia takut gue datang untuk putus sama dia”


“Ngapain juga ya? datang untuk putus? Buang-buang ongkos” ujar Andien


“Laki gue itu kadang suka nge-drama jadi begitu. Oh iya Lis, lo gimana sekarang? Masih sama Farhat?”


“Hmm...enggak sudah enggak!” jawabnya ragu-ragu


“Kok ragu begitu?” tanya Rita


“Habisnya kadang dia perhatian banget, tapi kata adiknya dia sudah punya pacar di sana. Gue jadi bingung Rit!”


“Gak usah bingung Lis!, lo move on saja. Cari cowok lagi, ngapain ngarepin dia. Kadang dia pengen ramah saja. Karena lo tahu sendiri kan, waktu kalian jadian dia langsung nembak lo kan?”


“Benar juga, kenapa gue bingung-bingung ya?”


“Kalau Lo Wi gimana? Gak mungkin ah Dewi kita yang satu itu ngejomblo lama”


“Yahh..itu Rit..gimana ya ngejelasinnya”


“Qowi suka sama cowok beristri Rit!” ujar Endah, ia membalas perbuatan Qowi yang tadi membuka rahasianya


“Dih Andien!” Qowi melotot


“Maksudnya?”


“Yah..ada cowok di tempat magang gue”


“Berarti di hotel lo dong?”


“Bukan!, gue disuruh magang di tempat lain”


“Oh begitu, terus?”


“Orangnya sih baik, perhatian, dewasa, awalnya kita sering bercanda, curhat terus jalan bareng. Lama-lama kok nyaman ya?”


“Lo tahu dari mana dia sudah beristri?”


“Sebenarnya gue melihat dia di jalan sama istri dan anaknya. Anaknya baru satu”


“Terus?”


“Gue nelpon dia kan? Nanya, lo di mana?”


“Dia bilang sama teman!, padahal gue ada di dekat situ lihat dia dengan mata kepala sendiri”


“Terus?”


“Gue putusin kalau begitu gue gak lanjutin deh sama dia. Gue cuekin tuh dia, ada kali sebulan-an. Lalu ada kejadian di kantor dia nolongin gue. Terus dia nanya kenapa gue marah sama dia”


“Lo bilang kalau lo mergokin dia sama istrinya?” tanya Rita


“Iya”


“Terus dia bilang apa?”


“Lo percaya Wi?” tanya Rita


“enggak, tapi dia sering ceritain tentang istrinya begini –begitu, terus dia nanya menurut lo gimana? Kita jadi kayak diskusi”


“Akhirnya lo jadian sama dia?”


“Belum sih, tapi dia nembak gue, dia bilang nyaman sama gue, dan ingin serius sama gue. Dia juga akan segera menceraikan istrinya”


“Wah kok lo jadi pelakor?” ujar Lisa dengan nada polos, Andien dan Rita terdiam menahan diri untuk tidak tertawa


“Pelakor? Enggak dong? Kan cowoknya yang ngejar gue. Kalian jangan sok deh, jangan langsung menjudge orang begitu!” ujar Qowi dengan nada marah


“Gue gak nge-judge elo Wi!, suer!” ujar Rita


“Terus kenapa Lo diam saja? Lo kasih masukan ke Andien, ke Lisa tapi giliran ke gue lo diam saja?” tanya Qowi suara marahnya tertahan


“Karena..karena..Wi, menurut gue Lo sudah tahu itu salah! Lo lagi cari pembenaran untuk menerima cowok itu. Gue gak menjudge lo ya, gue lebih mengutuk lakinya. Masa dia ngejelekin istrinya? Dia itu ibu anaknya lho. Bagaimana kalau lo yang jadi istri orang itu, dan dijelekin toxic macam-macam untuk membenarkan perselingkuhannya?”


“Tapi Rit?”


“Lo cantik Wi, cantik banget malah, kalau lo mau semua cowok di sini nurut sama Lo!, terus kenapa lo mengungkung diri lo sama cowok toxic kayak dia?”


“Dia toxic? Tapi dia baik?”


“Toxic itu gak selalu langsung mematikan Wi, kadang dia perlahan tapi menggerogoti jiwa kita. Coba deh periksa hati lo, sejak backstreet sama dia. Apa lo menjadi orang lebih baik? Atau malah jadi orang pemarah? Yang merasa lo lebih baik dari istri sahnya?”


Qowi diam saja mendengar perkataan Rita


“Gue kan sudah jadi istri Wi, gue sudah merasakan dilindungi, gue mempercayakan hidup gue ke dia. Dan gue juga berusaha membalas perhatiannya setiap hari. Eh tiba-tiba ada cewek lain di mata laki gue, terus gue dianggapnya toxic..wah..kalau gue bini tuh orang, gue samperin langsung gue smackdown!” ujar Rita kesal


“Ceweknya atau lakinya Rit?” tanya Andien


“Lakinya lah! Gue gak akan mandang ceweknya, tapi laki ini, dia sudah janji di depan Tuhan akan menjaga kita dalam suka dan duka, terus dia mengingkari..wah...sudah gue smackdown, gue bikin impoten dia. Terus gue bilang ke ceweknya, makan tuh sampah! Gue cere-in deh”


“Apa lo bisa begitu sama Daniel?”,


“Kalau sama Daniel, kayaknya sebelum gue bertindak dia akan jadi bulan-bulanan kakek gue lah.”


“Maksud lo?”


“Kakek gue akan turun tangan kalau Daniel selingkuh dari gue, entah Danielnya yang menghilang atau selingkuhannya yang menghilang”


“Ah ada-ada aja Lo, ngarang!” ujar Lisa gak percaya


“Daniel sendiri yang bilang ke gue. Dia bilang dari pada selingkuh mendingan langsung cerai saja gitu, setidaknya hidupnya tenang dan selamat”


“Kok laki lo ngomong begitu sih Rit? “


“Itu karena gue sering cemburu sama dia, staf kantornya pada ngefans sama dia”


“Lo marah gak?”


“Gimana marah? Kan dulu gue juga nge fans sama Daniel, masa ngefans saja dilarang?”


“terus untuk menghindari fans yang keterlaluan gimana Rit?”


“Dia nyuruh gue sering-sering datang ke kantornya, malah dia pernah bawa anak ke kantor untuk nunjukin ke cewek-cewek itu kalau dia sudah jadi bapak”

__ADS_1


“Oh begitu lucu juga ya laki lo”


“Ya gitu deh, nyokap gue bilang selama gue bisa memenuhi urusan perutnya dan di bawah perutnya, gue akan aman”


“Di bawah perut? Maksudnya?” tanya Andien polos


“Inget-inget di bawah perut lo apa?” tanya Qowi, Andien mengingat sebentar,


“Ohhh...itu maksudnya? Alat reproduksi?”


“Hahahaha...betul! dasar anak science!” ujar Qowi dan Rita bersamaan


“Jadi kalian sampai jam berapa di sini?” tanya Rita, ia melihat jam tangannya


“Ini mau pergi”


“Ke stasiun kan? Gue anterin saja yuk? Gue bawa supir kok!”


“Ngerepotin gak?”


“Enggak! gue sengaja bawa supir supaya bisa antar kalian, sebentar ya, gue bayar makanan dulu” Rita pergi meninggalkan ketiga temannya


“Eh, si Rita makannya banyak banget ya?” ujar Endah, dia melihat piring-piring kosong


“Maklum lagi menyusui, lo denger kan tadi”


“Iya, gak nyangka ya? cewek paling sangar di sekolah malah lebih keibuan dari kita” ujar Lisa


“Iya, gak heran Daniel bucin berat sama dia” ujar Qowi


“Kata siapa lo?”


“Lo gak dengar tadi? Waktu kawinan gue juga dengar dari kakek-kakeknya Rita, mereka bilang kalau gak segera dinikahin bisa gawat, gitu..ternyata bener, dalam waktu satu setengah tahun sudah ada 2 buntut. Kayaknya bakal nambah lagi tuh” ujar Qowi


“Ceweknya cantik, kaya, baik lagi siapa yang gak bucin. Gue saja kalau cowok pasti bucin juga sama si Rita” ujar Lisa


“Hey! Ayo!” ajak Rita, ia membawa tas berisi botol ASI, dengan cueknya ia melewati beberapa cowok yang memperhatikannya


“Tuh lihat, sudah jadi emak-emak saja cowok masih banyak yang tertarik” bisik Qowi


“Eh ayo cepetan!” panggil Rita lagi


“Oh iya Rit!!” ketiganya berlari mendekati Rita, mereka menuju lobby Mal, lalu dari situ mereka menuju stasiun kereta Api


“Lo gak ke Sukabumi lagi dong Rit? Bokap kan sudah gak ada?” tanya Qowi


“Mungkin kesana untuk ziarah, lagi pula masih ada tante di sana”


“Oh iya Tante Saye ya? kabarnya gimana?”


“Alhamdulillah baik, dia juga sudah punya anak dari suami barunya”


“Alhamdulillah, beliau kan yang nikah sama temannya itu kan? Terus suaminya itu selingkuh sama mantannya?” tanya Qowi


“Iya betul, tapi beliau move on lho, dia bilang gak mau terjebak hubungan toxic lebih lama lagi. Sudah deh akhirnya beliau nikah sama orang yang pertama kali ketemu dengannya di pesawat.


“Syukur deh!” ujar Qowi


Beberapa menit kemudian mereka tiba di stasiun Mangarai


“Kita tetap berhubungan ya?” ujar Rita sambil memeluk temannya satu per satu”


“Sehat-sehat ya Rit!, kita tunggu kabar anak ketiganya!” canda Lisa


“Hey! Enak saja! Nanti dulu lah!” ujarnya tertawa.


Setelah berpamitan mereka pun berpisah, Rita kembali ke rumah besar.


“Assalammu’alaikum!!!”


“Wa’alaikummussalam! Eh bu Daniel sudah datang?” ledek Daniel, ia sedang memberikan susu kepada Rafa


“Lho susternya mana?” tanya Rita heran, ia mengambil Rafa dari gendongan Daniel, Rafa menangis melihat mamanya minta digendong


“Anak-anak ini tadi mencari mu! awalnya Ranna, lalu Rafa juga. Suster sampai pada bingung mereka nangis gak berhenti-henti padahal sudah diberi ASI.”


“Terus Ranna mana?”


“Sudah aku tidurkan! Aku bilang mami lagi pergi cari berlian!” canda Daniel


“Hahaha...bisa saja!”


“Jadi kalian ngapain saja?”


“Makan saja, cerita-cerita”


“Siapa saja yang datang?”


“Cuma tiga orang, Qowi, Lisa dan Andien”


“Oh, si Rusia, si cerdas dan si imut”


“Hahaha kamu mengingatnya begitu ya? kenapa Qowi kamu ingatnya Rusia?”


“Karena wajahnya mirip bule Rusia”


“Memang papanya orang Rusia”


“Ohh...pantas, kamu bawa apa ?” tanya Daniel melihat tas yang di bawa Rita


“Aku bawa botol susu, dan pompa ASI , ini hasilnya”


“Jadi kamu memompa ASI mu di foodcourt?” tanya Daniel heran


“Tenang! Aku bawa kain penutup kok!, memangnya kenapa?”


“Apa gak pada ngeliatin itu?”


“Ngeliatin apaan?”


“Iya, kamu lagi mompa ASI”


“Gak kelihatan lah”


“Masa gak kelihatan, orang bentuk dada mu jadi aneh” ujar Daniel lagi


“Aneh gimana?”


“kamu pernah nonton video musicnya madonna gak? Dia kan pakai bra yang lancip? Nah kamu kayak gitu, bedanya ini gak lancip”


“Ah sudahlah, toh aku sudah ibu-ibu ngapain mikirin tanggapan orang” ujarnya cuek


Daniel menggeleng-geleng karena kecuekan istrinya. Rita pergi ke kamar anak untuk meletakan Rafa lalu menggendong Ranna yang sedang tertidur

__ADS_1


“Maaf ya nak! Kamu kangen mami ya?” bisiknya sambil memeluk Ranna dengan sayang lalu meletakkannya lagi di tempat tidurnya kemudian ia ke kamarnya untuk berganti pakaian.


_Bersambung_


__ADS_2