Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 197: Reuni Kecil


__ADS_3

“kakek meminta kita untuk bersiap-siap pindah ke Jakarta”


“Kapan?”


“Setelah kontrak dengan Bank of Singapura selesai, kira-kira 4-5 bulan lagi”


“Ini beneran gak Yang? Nanti berubah lagi. Aku kan juga mau bersiap memindahkan Dritz”


“Kenapa gak bikin cabang saja seperti yang kakek bilang?”


“Aku belum siap, kamu tahu sendiri sekarang ini saja mempersiapkan bahan untuk membuat adonan saja masih aku. Kalau aku share ke pegawai nanti dicontek gimana?”


“Repot kalau begitu ya?”


“Woy!!!” Mario memanggil mereka, ia datang bersama Andi


“Hey!”jawab Rita dan Daniel bersamaan, mereka berkumpul seperti reuni kecil


“Ranna sini sama Uwa Ndi!” Andi mengambil Ranna dari gendongan Daniel


“Kok kalian pada kesini? Memang acaranya sudah selesai?”


“Udeh dong! Mempelainya saja langsung terbang ke Dubai!” jawab Mario


“Oh ya? keren dong!” sahut Rita


“Lo dan Rosy bener-bener rame kemarin!” ujar Mario lagi


“Sebenarnya ada apaan sih? Aku gak ngerti lho, tiba-tiba saja dia balik salah tingkah gitu?” tanya Daniel heran


“Itu, si Rosy keberatan Rita datang!” jawab Mario


“Lho, tapi aku lihat mereka berdua salam-salaman?” ujar Daniel lagi


“Iya, itu karena bini yu berhasil meyakinkan Rosy, kalau Rendy dan Rita gak pernah ada hubungan apa-apa!”


Daniel melihat ke arah istrinya, wajahnya penuh tanda tanya


“Memang gak ada hubungan apa-apa Yang! Tanya saja kak Andi!”


Andi yang asyik bermain sama Ranna, hanya menimpali


“Memang gak ada apa-apa Niel!, Rendy nya saja yang rese! Drama king dia, sama kayak bininya.”


“Bininya Rendy?” tanya Mario


“Iya, si Rosy kan drama queen!” ujar Andi lagi


“Rosy?” Rita heran


“Iya! Lo baru tahu ya?” tanya Andi


“Iya! Gue jarang main sama dia sih, dulu kan anaknya pemalu banget!” ujar Rita mengingat masa kecil mereka


“Btw, kapan kalian balik ke Singapur?” tanya Andi


“InsyaAllah besok sore Kak, kenapa?”


“Yah, cepet banget baliknya, memangnya kalian gak betah di sini?”


“Betah bangeeettt!!!..apalagi Daniel tuh, dia senang banget mandiin Ranna, katanya alat-alat mandinya canggih!. Rannanya juga senang di kamarnya.”


“Hehehe...siapa dulu yang milih peralatan mandinya!” Andi berbangga diri


“Eits siapa dulu yang mendesign interiornya!” ujar Marion berbangga diri


“Lo beneran kurang ajar O!” ujar Rita tiba-tiba


“Dih kenapa?” Mario kaget dengan ucapan Rita yang seperti marah, Andi dan Daniel juga heran


“Karena desain lo yang kelewat bagus, gue jadi berat ninggalin nih rumah eh kamar eh rumah!” ujar Rita kesal


“Oooo” ujar Andi,Mario dan Daniel bersamaan


“Iya O!, aku juga jadi pengen menetap di sini!” ujar Daniel


“Ya, menetap saja di sini, yang memberatkan apaan?” tanya Mario


“D’Ritz gue kan lagi maju-majunya. Ah seandainya gue punya pintu kemana saja doraemon. Gue bisa tinggal di sini dan kerja di sana!” keluh Rita


“hahahaha!” ketiga lelaki terdekat di hidup Rita tertawa geli mendengar celotehannya


“Rit! Niel, mau tau kejutan gak?” tanya Andi


“Kejutan? Apaan?” tanya mereka


Andi mengajak mereka kembali ke taman, di sana telah disediakan karpet dan aneka makanan berpiknik


“Hah, kalian ngajak piknik nih?” tanya Rita kegirangan, ia menghampiri gelaran karpet luas, ia langsung duduk di sana.


“Pelan-pelan duduknya!” Daniel memperingatkan


“Dasar! Masih saja bikin orang khawatir ya?” ujar Mario memperhatikan tingkah Rita yang ngasal


“Nih kejutannya!” Andi meletakkan Ranna di karpet, kemudian ia berbisik


“Ayo Ran! Tunjukkan ke papi dan mami mu yang kemarin kita latih!” bisik Andi. Ranna seperti mengerti ucapan Andi. Dari posisi terlentang, kemudian ia mengubah posisi menjadi tengkurap, lalu ia mulai duduk.


Rita dan Daniel tercengang


“Masya Allah Ranna!!! Kamu sudah bisa duduk!” mereka ribut berdua kegirangan,


“Rame banget, baru bisa duduk, apa lagi bisa jalan!” ujar Mario, ia merasa iri melihat keluarga kecil itu


“Nanti kira-kira 10-12 bulan, gue akan cari alat untuk Ranna latihan jalan!” ujar Andi bertekad


“Yu, bener-bener menjadikan keponakan Yu project ye?”


“Iya! Ranna ini bayi ajaib! “ Andi berbinar-binar menceritakan kegiatannya selama menjaga Ranna


“Bayi ajaib gimana?” tanya Mario


“Dia gak rewel, gak gampang nangis, sudah gitu pengertian lagi”


“Tau dari mana?”


“Kemarin waktu mamanya lagi ngobrol sama Rosy, gue main sama Ranna. Terus tiba-tiba dia kehausan terus nangis, gue bingung maksudnya apa.”


“Terus?”


“Terus dia pegang telunjuk gue memasukannya ke mulutnya!”


“Ih jorok!”


“Gak sampai masuk, gue langsung ngerti. Terus gue ambil botol susunya, gue bilang sabar ya Ranna, Uwa siapin susu dulu. Dia gak nangis, diam saja sambil ngeliatin gue repot”


“Memang! Ranna terbiasa gue suruh sabar!” ujar Rita sambil melahap pie apel kesukaannya


“Btw Rit, lo pernah marahin Ranna?” tanya Mario penasaran


“Pernah dong!, awal-awal dia latihan minum pakai botol. Eh botolnya ditepak, kadang dilempar. Awalnya gue pikir gak sengaja, ternyata itu cara dia protes.”

__ADS_1


“Terus lo gimana?”


“Gue coba pakai cara kucing”


“Maksud lo?”


“Gue ambil boneka kelinci, terus boneka kelincinya jatuhin botol. Lalu boneka kelincinya gue pukul pantatnya.”


“Ranna ngerti tuh?”


“Awalnya enggak, tapi setelah berkali-kali gue contohin baru dia ngerti”


“Hahaha...emak yang sangar!”


Daniel ikut tertawa mendengar metode pengajaran Rita pada anak mereka.


“Tapi Ranna memang anak yang tenang, dia tahu kok kalau mamanya sibuk atau lagi sedih. Jadi dia gak banyak rewel. Kita sobat ya Ran!” Rita mencubit pipi Ranna gemas


“Susah ya jadi orang tua?” tanya Andi


“Ini belum apa-apa Ndi, Ranna kan masih bayi. Mungkin nanti kalau dia sudah agak besar sedikit. Sudah punya keinginan, nah itu pasti repot deh!” ujar Daniel, ia menyantap anggur kesukaannya


“iya memang! Waktu Ranna lahir, aku langsung minta maaf sama mama, ternyata melahirkan itu sakit banget!” ujar Rita membagi pengalamannya


“Tapi melahirkan sakit, kok malah mau nambah lagi?”Sindir Mario


“Yah..namanya rejeki, gak boleh ditolak!, iya gak Yang?” ujar Rita


“Iya!, mudah-mudahan adiknya Ranna laki-laki, jadikan kita punya sepasang!” ujar Daniel lagi


“Terus berenti ?” tanya Mario


“Ya sekasihnya , kalau Allah ngasih lagi, kita mah oke saja. Toh..ada bapaknya!” jawab Rita santai


“Lo santai banget ya? kuliah lo gimana Rit?” tanya Andi


“Nah itu juga Yang!, kalau pindah kemari makin jauh kuliahnya, padahal sebentar lagi ujian tengah semester” keluh Rita


“Kalau begitu, aku minta gabung sama Singapura 1 saja, supaya gak repot!” ujar Daniel


“Kalian ngomong apaan sih?” tanya Mario heran


“Begini, kemarin kakek Dar bilang ke Daniel, setelah kontrak dengan BOS selesai, Dar.Co Singapura 2 akan di merger dengan Singapura 1. Jadi nanti hanya ada Dar.Co cabang Singapura”


“yaah..Ai gimana dong?” tanya Mario khawatir


“Kamu pastinya ikut ke Singapura 1, karena project apartemen itu sebenarnya punya Singapura 1. “ ujar Daniel


“oh begitu? Tapi kenapa Yu beda?”


“Karena Aku memegang project eksklusif dan dikontrak tertulis dengan Dar.Co Singapura 2. “ terang Daniel lagi


“Ai kurang ngerti sih, Ndi, Yu kan cucu penerus perusahaan? Gak bisa gitu kasih masukan ke kakek soto?” tanya Mario


“Masukan apa?”


“Ya, supaya jangan merger! Kasihan pegawai di Singapura 2, di situ kompak banget orang-orangnya” ujar Mario yang mulai menyukai suasana kantornya


“Gue belum dengar masalahnya O, mungkin nanti setelah gue lulus kuliah bisnis management, baru deh gue berani ikutan”


“Yahh...keburu dimerger!” keluh Mario


“O!, lo gak bisa bikin apartemen kita di Singapura kayak rumah di sini?” tanya Rita


“Luas tanahnya beda tong!, di sini gue leluasa karena tempatnya luas. Kalau di apartemen lo, paling-paling setengah luas dari kamar kalian di sini”


“yahh...gue senang banget di kamar itu!” keluh Rita, Daniel juga mengangguk. Mario senang mereka menghargai usahanya.


“Rumah? Di Singapura? Tambah ribet urusan.” Keluh Rita


“Sebenarnya kalian lebih berat kemana nih? Singapura, Jakarta atau Auckland?” tanya Mario


“Gimana Yang? Aku sih di Singapura cuma ikut Bapak ini, sekalian isi waktu luang eh malah lancar usahanya. Tapi di sini suasananya enak. Di Auckland juga, tapi kita terasa orang asing ya Yang?” tanya Rita meminta persetujuan suaminya, Daniel mengangguk setuju


“Tapi Niel, Lo kan sudah lama banget di Auckland, masa masih merasa seperti orang asing?” tanya Andi


“Karena dia masih sering dianggap orang Korea Kak, jadi agak sebel!” jawab Rita , Daniel mengangguk


“Btw si Ranna lahir si Singapura, dia jadi warga negara sana dong?” tanya Mario


“Aku mendaftarkan kelahiran Ranna sebagai warga negara Indonesia, biar sama dengan maminya” jawab Daniel


“Ooo begitu, jadi gak menjadi warga negara sana saja?” tanya Mario


“Maminya lahir di Indonesia, orangnya baik jadi aku ingin anakku sebaik maminya!” ujar Daniel


“Ciyeee...muji...muji...ada maunya tuh tong!” ledek Mario, Rita tersipu


“Kenapa gak warga negara Kanada saja?” tanya Andi


“Aku saja juga pendatang di Kanada, aku lebih banyak tinggal di Auckland kan?”


“gak berniat pindah ke warga negaraan?”


“Enggak ah! Biar saja lagi pula aku besar di Kanada mungkin suatu hari nanti aku akan mengajak keluarga ku sana, sesekali”


“iya? Asyiikkk!!” sorak Rita


“girang amat!”


“btw bulan depan kita ke Cirebon” ujar Andi


“kenapa kak?”


“Lo belum dengar?”


“Belum?”


“Tante Metha menikah, ia berniat menikah di tanah kelahirannya”


“Alhamdulillah...wah kita jalan-jalan lagi Ranna!” ujarnya sambil memeluk Ranna gemas


“aaahhhhh!” teriak Ranna girang


“Heh! Anak lo remuk ntar!!” Mario geli melihat Rita yang gemas pada anaknya


“Enggak dong!!! Ranna kan kuattt!!!” Rita menaruh hidungnya di leher Ranna yang membuatnya tertawa geli


“hahahahahahaha” tawa Ranna, Daniel, Mario dan Andi yang mendengar tawa renyah Ranna, turut tertawa


“lagi lucu-lucunya ya?”


“Iya, aku gak sabar pulang kantor untuk main sama Ranna!” ujar Daniel, kali ini dia mengangkat Ranna tinggi-tinggi dan memainkannya seperti kapal-kapalan


“Ahhhh...hehehehe” Ranna berteriak senang


“Anak ini mirip maminya, senang yang ekstrim-ekstrim!” ujar Daniel mengamati anak sulungnya


“Wah...kita terjebak nih , jadi merinding!” ujar Mario


“Terjebak? Maksud lo?” tanya Andi heran

__ADS_1


“Terjebak omongan bokap-nyokap. Gue jadi inget bokap gue” ujar Mario sedih


Andi dan Rita menepuk-nepuk punggung Mario untuk menghiburnya


“Tapi nyokap masih ada kan O?” tanya Rita


“Nyokap gue sudah nikah lagi, anaknya 3.”


“Lo gak nengokin beliau?” tanya Andi


“Beliaunya gak mau ketemu gue. Kan kalau gue mau ketemu harus ijin ke anaknya. Terus anaknya bilang, mama gak mau ketemu. Terus dia kirim pesan suara. Beliau bilang, gue sudah dewasa jalani hidup gue sendiri saja, gak usah mikirin beliau lagi, gitu!” keluh Mario sedih


“Jadi nyokap lo gak tau tuh lo udah melalang buana ke luar negeri?” tanya Andi


“Gak tau lah!, biarin saja lah, toh kalau beliau butuh anaknya bakal hubungi gue!, jangan salah lho ya, gue suka ngirim ke beliau eh dikembaliin, beliau bilang buat gue saja. Ya udah, masa gue maksa!”


Piknik selesai, mereka kembali ke kamarnya masing-masing.


Daniel tidur-tiduran di depan TV layar lebar, Rita membuat cemilan di dapur mini nya


“Nih Yang!” ia menyuguhkan snack buatannya, Daniel bangun dan mencicipinya


“Enak! Apa nih?” Daniel melihat bentuk snack bulat dan garing


“Kentang crispy! Gurih kan?” Rita ikut mencicipi


“Wahh...aku gak bisa berhenti makan nih!..btw di rumah ini ada gymnya kan?”


“Dulu sih ada, gak tau deh sekarang!. Nanti tanya saja!”


“Ga usah deh, toh besok kita sudah kembali ke Singapura” nada suara Daniel agak sedih


“Kamu juga betah di sini ya?” tanya Rita


“Iya!, aku suka banget! Suasananya...mungkin karena kita sehari-hari tinggal di pusat kota, jadi melihat gedung dan mobil lalu lalang, jadi bosan!”


“Memang! Bagaimana kalau tiap minggu kita kemari?” usul Rita


“Jadi pas weekend kita ke sini?”


“Iya!, kita bisa minta jet kakek jemput kita!” usul Rita


“Jangan! Kamu gak tahu biaya sekali terbang jet?” tanya Daniel


“Berapa?”


“Sekitar 200 juta!, kalau kakek karena kepentingan bisnis gak masalah, lah kalau kita?”


“iya juga ya? jadi enaknya gimana dong?”


“ya naik pesawat biasa saja, dua minggu sekali misalnya, kalau tidak ada pesanan di toko, kita bisa kesini” usul Daniel


“Iya ya...hitung-hitung liburan!”


Pesan di TV mereka untuk makan malam, mereka bergegas turun untuk makan malam. Di meja makan Andi dan Mario telah berada di sana


“Kakek belum datang?” tanya Rita


“Belum!, aku juga sejak tadi menelponnya tapi belum ada jawaban” ujar Andi sambil menyantap makanannya


“Andi, kamu kapan kembali ke Auckland?” tanya Daniel


“Hmm...kapan ya? mungkin minggu-minggu ini”


“Ke Singapura saja! Mario sendirian di apartemennya!” ujar Daniel


“eh? Iya O? Kok lo diam-diam saja?” tanya Andi heran


“Lho, Yu kan biasanya langsung ke Auckland, kalau bilang mau ke Singapura, pasti Ai bilang!” ujar Mario


“Ya, boleh deh. Gue tinggal di apartemen lo saja!” ujar Andi girang


“Kok lo senang amat?” tanya Mario


“Supaya gue bisa main sama Ranna!” ujar Andi


“Ah ..kebetulan! kak Andi bisa aku titipi Ranna ya?” ujar Rita senang


“Jangan terlalu sering, kasihan Andi, mungkin dia punya rencana lain di Singapura!” ujar Daniel mengingatkan


“Iya, sekali-sekali boleh lah! Iya kan Kak?” tanya Rita


“Boleh dong! Gue senang malah. Kalau Ranna gede dikit, gue bawa ke Auckland!”


“Enak saja!” ujar Daniel


“Hahahaha!” mereka tertawa, makan malam hari itu benar-benar menyenangkan.


Tak lama kemudian Darmawan tiba di kediamannya, ia langsung menemui cucu-cucunya di ruang makan. Wajahnya terlihat sangat serius.


“Selamat Malam Kek!” semua cucu menyambutnya dan mencium tangannya, termasuk Daniel dan Mario


“Malam, kalian berkumpul di sini, kebetulan!” ujarnya dengan suara serius


“Ada apa Kek?” tanya Rita sambil menyuapi Ranna yang duduk di kursi bayi


“Kakek akan mengumumkan surat warisan kakek.”


“hah? Kok terburu-buru?” tanya Andi


“Kakek pikir, kalau ditunda-tunda kakek takut gak sempat. Tadi teman kakek tiba-tiba sesak nafas, kemudian meninggal.”


“innalillahi wa’innaillaihi roji’un” semua mengucapkan


“Pak Hermawan, notaris kakek sengaja kakek undang kesini . “


Seseorang bernama Hermawan datang dan sedikit membungkuk. Ia mengambil salah satu bangku di ruang makan tersebut. Kemudian datang pula Radian, Franky dan dua orang kakak Radian, serta Metha dan mamanya.


“Om Radian! Tante Metha! Nenek!” Rita kaget melihat semua keluarga besar berkumpul.


“Halo Sayang!!!” Metha memeluk Rita dan Andi. Kemudian Andi dan Rita bersalaman dengan nenek, Radian dan saudara-saudaranya, Daniel juga mengikuti mereka.


“Ah cicitku!” nenek mengangkat Ranna dari kursi makannya


“Hahahaha!!!” Ranna bergerak-gerak kegirangan


“Haiii Ranna! Ini Uyut!!!” ujar Nenek, Ranna menggerak-gerakan kaki dan tangannya kegirangan.


“Wah,..suka sama mama tuh!” ujar Metha. Ia mengambil Ranna dari mamanya. Ranna juga berteriak senang.


“Anak ini ramah sekali ya?” ujar Radian, ia memegang tangan kecil Ranna, Tubuh Ranna bergerak lincah ia ingin digendong Radian


“Radian, dia ingin digendong kakek tuh!” ujar Metha, ia memberikan Ranna kepada Radian


“Aku? Kakek?” Radian kaku menerima Ranna dari Metha, Ranna sangat senang, ia menempelkan wajahnya ke wajah Radian yang lain tertawa melihat tingkah lucu Ranna


“hahahaha...Radian! Ranna tidak pernah begitu lho sama aku!” ujar Darmawan iri


“Sepertinya Ranna tahu, aku mak comblang papi-maminya!” ujar Radian tertawa, ia jadi terbiasa menggendong Ranna.


-bersambung_

__ADS_1


__ADS_2