
Setelah mengucapkan selamat untuk para mempelai, seseorang menghampiri Rita dan memintanya untuk datang ke suatu ruangan.
“Yang, aku pergi sebentar ya?” Rita pergi mengikuti orang tersebut, ia lupa microphone wireless yang masih melekat di bajunya. Ia masuk ke sebuah kamar, tiba-tiba seseorang mendorongnya, tapi refleks Rita cepat menghindar sehingga yang mendorongnya itu malah terjatuh.
“Rosy? Ngapain lo?” tanya Rita heran
“Lo ngapain kemari?” tanyanya marah-marah
“Ya kondangan lah!”
“Kan sudah gue bilang jangan datang! Artinya lo gak diundang!” ujar Rosy galak
“Lo memang gak ngundang gue, tapi Kakek Sugi ngundang gue. Hayo! Lo mau apa?” jawab Rita
“Ngapain sih lo pakai datang segala? Pengen pamer kebahagiaan gitu? Pengen manasin Rendy gitu?”
“idihhh iseng amat! Memangnya kerjaan gue gak banyak, manas-manasin orang!” jawab Rita santai
“Lo tuh kalau dibilangin malah jawab!”
“Heh Rosy! Ada juga gue yang ngomong begitu sama elo!, gue ini setahun lebih tua dari Lo!” ujar Rita suaranya mulai tegas
“Lo tuh menjijikan tau gak? Masa Ranna masih kecil sudah mau punya adek lagi! Jijik banget gue lihatnya!” ujar Rosy lagi
“Kenapa jijik? Gue enggak! lagi pula anak ini ada bapaknya dan bertanggung jawab, kenapa harus jijik? Gue pernah kehilangan calon anak sebelumnya, jadi begitu Allah kasih lagi, gue senang dong! Mau jarak dekat atau jauh. Urusannya sama lo apa?” ujar Rita
“Gue tuh gak suka lo muncul depan Rendy!”
“Kenapa?”
“Kok kenapa? Kan lo tahu sendiri ceritanya?”
“Tapi kan sekarang dia sudah jadi suami lo!. Sudah SAH! Lo jangan insecure gitu!”
“Lo gak ngerti sih jadi orang nomor 2!, setiap bersamanya gue merasa Rendy itu seperti melihat lo! bukan melihat gue!”
“Berarti kepercayaan diri lo payah!”
“Kok gue? Seharusnya Lo dong yang ngerti! Kan tau adik sepupu lo mau nikah sama mantan lo! seharusnya lo gak usah datang!”
“Menurut gue lo gak percaya diri, siapa yang tahu pikiran orang! Heh Rosy! Gue kasih tahu ya! gue itu mantan atlet nasional. Gue banyak melawan musuh! Salah satunya Rendy. Dan dia itu orang yang cukup tangguh.”
“Hubungannya apa?”
“Ada dong!, bertarung itu seperti lo mengerti kepribadian musuh lo! Jadi gue pikir dengan hadirnya dia di sini, melaksanakan ijab kabul , menikahi Lo, itu artinya dia sungguh-sungguh sama elo! “
Rosy terdiam.
“Tapi dulu dia sama Lo?”
“Hei! Dengerin gue dulu ya! gini kronologisnya! Kalian pada datang ke Auckland, selain untuk TWK juga ngenalin Rendy. Gue kan gak kenal dia sebelumnya.”
“Iya, tapi kakek ngejodohin elo sama dia!”
“Tapi kakek gak bilang apa-apa sama gue! Yang ribut itu kalian! Inget gak waktu di kolam renang?”
“Iya sih, tapi..”
“Rosy dengerin lagi nih..yang nolak perjodohan itu Rendy, bukan gue!”
“Ah masa? Boong Lo ! supaya gue gak marah sama lo kan?”
“Serius!, waktu di RS dia bilang ke gue supaya minta ke para kakek untuk membatalkan pertunangan kita.”
“Terus Lo gak mau batalin?”
“Et dah ni anak bolot apa bego ya? tunangan apaan? Para kakek gak ngomong apa-apa sama gueee!!! Berapa kali sih harus gue tegasin?”
“Kalau begitu kenapa Rendy bilang minta batalin pertunangan?”
“Ya gue gak tau??? Gue nangis juga nih! “ Rita kesal
“Kakek gak bilang apa-apa sama gueeee...jadi gue bukan siapa-siapanya dia!!! Lo ngerti kagak!” Rita setengah teriak menahan emosi
“Tapi di kolam renang lo bilang, kalau kakek jodohin lo gak nolak? Gitu kan?”
“Waktu itu gue penasaran, dijodohin itu rasanya kayak apa. makanya gue bilang, kalau sebatas kenal dulu ya gak masalah! Lo inget gak gue bilang begitu?”
“Iya sih!” amarah Rosy mulai mereda
“Jadi kita cool ya? jujur Ros, gue datang dengan tulus mendoakan kalian berdua, semoga sakinah, warohmah, mawaddah, langgeng terus! Sehat-sehat terus! Banyak rejeki,..aamiin”
“Aamiin!” Rosy mengamini
“Tapi Rit, lo gak apa-apa ditolak Rendy? Maksud gue ditunangin saja belum sudah ditolak! Lo gak marah gitu?”
“Tersinggung lah gue!..sialan!..bener kan sialan!!!”
“Lo marah?” Rosy tersenyum
“Iya lah! Itu penghinaan! Kenal gue saja belum sudah nolak. Itu seperti melihat roti dari toko gue, belum dicoba sudah bilang gak enak!” ujar Rita memberikan analogi
“Terus lo gimana?”
“Ya gimana-gimana? Ya udah! Biarin saja, masa mau gue pukulin?” ujar Rita lagi
“Terus waktu itu Daniel gimana?”
“Oh, waktu itu Daniel belum menyatakan cintanya!”
“Belum?”
“Belum!,..gue memang sangat menyukainya, tapi waktu itu dia belum mualaf. Jadi gue simpan dulu!”
“Kalau waktu itu Rendy gak nolak lo, kira-kira lo bakal jadi sama Rendy gak?” tanya Rosy penasaran
“Hmm...kayaknya enggak!”
“Jadi sebenarnya lo nolak Rendy juga?”
“Enggak juga...gimana ya? gue sudah suka sama Daniel dari awal ketemu, tapi dia belum mualaf..tapi gue sudah suka banget sama dia. Terus Rendy nolak...ya gak pa-pa...toh sebenarnya gue sudah suka Daniel!” ujar Rita lagi
“iye..iye...gue ngerti..pokoknya Daniel kan!”
“Nah!! Lo ngerti kan? Jadi Rosy...please..stop being insecure oke...Lo tuh muda, cantik jadi harus percaya diri oke!” bujuk Rita, Ia memeluk Rosy dengan sayang
“Kalau lo PD, aura lo keluar deh! Jadi diri lo saja! Jangan berusaha menyenangkan orang lain! Menikah itu artinya lo hidup bersamanya, punya teman yang berbagi suka dan duka. Kerjasama tim!” ujar Rita menasehati
“Kok lebih banyak lo yang nasehatin gue dari pada nyokap gue?”
__ADS_1
“Ya ini sekedar sharing saja,..menjadi istri itu gampang-gampang susah. Jadi lo jangan pura-pura sama laki lo! apa adanya saja! Gue juga begitu sama Daniel. Gue bilang gue berencana hidup sampai tua bersamanya, jadi gue gak mau berpura-pura cuma untuk menjadi yang dia minta. He said Oke!”
“Begitu ya Rit?”
“Iya!..kayaknya kita sudah lama di sini deh, nanti lo dicariin buat make up!” ujar Rita
“Lo duluan deh keluar, gue belakangan!” ujar Rosy
“Oke, semangat!” Rita hendak membuka pintu
“Rit! Maaf ya tadi!” ujar Rosy menyesal
“Gak apa-apa ! yang jatuh elo kok! Hehehe!” Rita meninggalkan kamar itu. Beberapa mata melihatnya keluar dari kamar. Rita yang dasarnya cuek tidak memperhatikan orang berbisik-bisik di sekitarnya.
Setelah Rita keluar, Kakek Sugiyono masuk ke kamar itu.
“Rosy! Tadi kamu ngapain sama Rita?” tanya kakek dengan suara galak
“Enggak Kek, akuuu...” Rosy menunduk matanya mulai berkaca-kaca.
“Kakek dengar dari kakek Dar, katanya kamu melarang Rita datang?”
“Itu kek...” sebelum ia melanjutkan ucapannya, Kakek Sugi menghampiri dan memeluknya dengan sayang
“Kamu itu cucu kakek! Kakek sama sayangnya sama kalian! Kakek tidak akan membiarkan lelaki sembarangan mengambil cucu kesayangan kakek! Jadi kamu gak perlu khawatir. Rendy sudah mengungkapkan semuanya, dia sungguh-sungguh menyukai mu! Jadi kamu gak perlu khawatir! Masalah antara Rendy dan Rita itu completely kesalahan kakek, jadi kamu jangan menyalahkan mereka berdua ya sayang?” bujuk Kakek Sugi. Rosy menangis dipelukan kakek Sugi cukup lama. Sepertinya kini perasaannya sudah merasa nyaman.
Sementara Rita kembali ke tempat duduknya di samping Daniel yang sedang mengayun Ranna di strollernya.
“Bu maaf, tadi microphonenya masih nempel!” ujar crew video
Rita kaget, dengan gemetar ia membuka klip microphone dari bajunya, lalu ia menempelkan wajahnya ke tubuh suaminya
“Huuaaaa...aku maluu” ujarnya, karena tadi percakapan dalam bahasa Indonesia, Daniel tidak mengerti..ia hanya mendengar namanya disebut-sebut
“Kamu kenapa?” tanyanya heran
“Enggak kenapa-kenapa, toh mereka cuma tahu suara, gak ada gambar!” ujar Rita menghibur diri
Acara resepsi berjalan dengan lancar, kedua mempelai kelihatan bahagia sekali. Rita dan Daniel memberikan selamat kepada mereka berdua. Rosy memeluk Rita dengan erat
“Terima kasih sudah datang!” ujarnya tersenyum
“Selamat ya!” ujar Rita kepada Rendy
“Terima kasih!..terima kasih klarifikasinya! “ ujar Rendy tersenyum, ia mendengar semua percakapan mereka ketika mencari Rosy yang menghilang
“Yeah..itu...sama-sama!” lalu Rita menggandeng Daniel karena malu
Resepsi berlangsung hingga malam, keluarga Darmawan pamit pulang lebih dulu.
“Kami pulang duluan ya!” ujar Rita kepada para sepupunya
“Iyaa!! Hati-hati!”
“Rita!” panggil Robby,ia berlari mendekat
“ya?" jawab Rita
Tiba-tiba Robby memeluknya
“Terima kasih!” ujarnya sambil tersenyum
Di dalam mobil
“Rit, tadi itu sengaja ya?” tanya Darmawan ia berbicara dalam bahasa Indonesia
“Sengaja apa kek?”
“ Itu percakapan dengan Rosy di kamar!”
"kedengaran ya Kek?"
"iya, jelas banget! kamu gak tahu memangnya?"
“Enggak sengaja Kek!, Rita lupa microphonenya masih nempel dibaju” ujar Rita dengan wajah merah
“Untung kamu orangnya santai ya, jadi Rosy nya juga gak emosi”
“Emosi juga kek!, dia sempat mau mendorong Rita ke tembok!”
“Oh ya? kena gak?”
“Yah, kakek, Rita ini sering berhadapan sama musuh, jadi tahu lah serangan dadakan jadi bisa menghindar!”
“Beneran nih? kamu lagi hamil lho! Kakek takut terjadi apa-apa sama janin mu!”
“Aman kok Kek, tenang saja. Kalau Rita gak ingat lagi hamil, pasti tadi Rosy sudah babak belur!”
“Babak belur?”
“Lho kakek gak dengar ucapannya yang menyakitkan?”
“Iya sih! Tapi kamu pintar menjawabnya!”
“Itu karena Rita terus menerus berdebat dengan bapak ini! Jadi terbiasa!” Rita melihat ke arah suaminya yang tidur karena kelelahan.
“Hahaha...iya ya,..kamu lebih diplomasi sekarang..bagus itu Rit! Jangan main fisik terus!”
“Iya Kek! Hehehe!”
Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Darmawan,
“Kami langsung ke kamar ya Kek!” ujar Rita dan Daniel. Darmawan melambaikan tangannya
Sesampainya di kamar
“Ahh...akhirnya selesai juga acaranya!” keluh Daniel, ia memindahkan Ranna yang terlelap di stroller ke boks bayinya, lalu ia membuka pakaiannya hingga tinggal singlet dan boxer lalu langsung rebahan di ranjang dan terlelap. Sementara Rita ke kamar mandi untuk mengecek tubuhnya, ia takut sesuatu terjadi pada kandungannya,
“Ah syukurlah...kamu gak apa-apa ya Nak!” Rita mengusap perutnya meyakinkan kejadian tadi tidak mempengaruhi janinnya. Setelah itu ia membersihkan wajahnya lalu pergi mandi. Setelah itu sholat Isya. Sehabis sholat iya menyalakan alarm jam untuk bunyi jam dua dinihari. Kemudian ia tidur dengan nyenyak di samping suami tercintanya.
Pagi harinya mereka bangun dengan wajah segar
“Yang! Kita main sepeda yuk!” ajak Rita,
“Memangnya ada sepeda?” tanya Daniel
“Ada!, nanti aku minta pak Ridwan deh!”
Panggilan sarapan pagi menyuruh mereka segera turun ke ruang makan
__ADS_1
“Selamat Pagi Kek!” ujar Rita riang
“Pagii!!”
“Morning Kek!” Daniel menyalami kakek
“Morning Niel!, ia mengambil Ranna dari gendongan Daniel”
“Kalian akan kembali ke Singapura kapan?” tanyanya di sela-sela sarapan
“Kamu hari cutinya tinggal berapa hari lagi Yang?” tanya Rita
“Dua hari lagi kek!”
“Hmm...hari ini hari Senin, kamu mau melihat-lihat cabang Jakarta?” tanya Kakek Sugi
“Sekarang?”
“Iya, nanti aku berniat ke kantor jam 9, kamu ikut ya?”
“Tapi kek, Daniel kan lagi cuti!” protes Rita
“Iya, makanya kakek ajak, Cuma lihat-lihat saja kok. Bukan buat kerja. Gimana Niel?”
“Baiklah!” Daniel melanjutkan sarapannya
Setelah selesai sarapan ia berganti pakaian yang lebih resmi, walaupun mabuk paginya masih tersisa tapi sudah berangsur hilang.
Darmawan membawa Daniel melihat-lihat kantor cabang Jakarta.
“Lebih luas ini ya Kek?” ujarnya
“Iya, di sini klien kami lebih banyak tapi nilai kontraknya lebih kecil dari pada di Singapura. Tetapi orang di sini setia, mereka jarang berpindah kalau sudah nyaman dengan satu perusahaan. Beda dengan di Singapura, iya gak?”
“Jadi di sini lebih bisa diandalkan ya Kek?”
“Yaa..begitulah..tapi peraturan pemerintah kadang-kadang berubah. Jadi kita harus sering up date. Terutama masalah perpajakan dan cukai”
“Oh begitu”
“Daniel ini Pak Emil, dia kepala cabang Jakarta! Emil ini cucu mantu ku Daniel!”
“Oh Pak Daniel, senang berkenalan dengan Anda!” ujar Emil ramah
“Sama-sama Pak!” jawab Daniel tersenyum, Emil menemani Daniel berkeliling kantor, kehadiran Daniel cukup menghebohkan beberapa staf perempuan. Disangkanya perusahaan akan mengadakan acara kantor dan mengundang Idol Korea.
“Hahaha...Daniel...Daniel...sebentar saja kamu di sini, staf cewek di sini sudah ribut. Mereka pikir akan ada konser idol K POP!”
“Hahaha...di sini masih demam Halyuu ya Kek?” jawab Daniel agak malu
“mungkin juga.
Eh Niel..kontrak kamu berakhirnya kapan?” tanya Darmawan tiba-tiba serius
“Kalau tidak ada halangan sekitar 4-5 bulan lagi kek, kenapa?”
“Aku mau memindahkan kamu ke cabang sini. Setelah memikirkan semuanya, aku akan menutup cabang Singapura 2.”
“Oh..kenapa Kek?” tanya Daniel heran
“Ini bukan masalah performa antar cabang Niel! Kerusakan yang dibuat Jameson itu ternyata parah. Dia membuat nama Dar,co rusak di mata beberapa pelanggan. Kamu tahu sendiri kan, pencitraan itu penting bagi perusahaan.”
“Iya kek!”
“Jadi Niel.. kamu siap-siap saja ya?”
“Tim ku gimana Kek?”
“Mungkin nanti kita pikirkan, apa mereka akan ikut pindah dengan mu, atau ditarik ke cabang Singapura 1”
“Jadi nanti hanya ada Dar,Co cabang Singapura?”
“Betul sekali!..oh iya kakek akan ke sana sekarang! Kamu mau pulang? Atau ikut ke sana?”
“Aku pulang saja kek! Mumpung masih ada waktu cuti!”
“Hahaha...iya ya..baiklah!”
Supir mengantarkan Daniel kembali ke rumah Darmawan, sesampainya di sana
“Pak Ridwan, Rita di mana?”
“Sedang bermain di taman belakang!”jawab Ridwan tersenyum
Daniel langsung ke taman belakang, ia melihat istrinya sambil menggendong Ranna di depan, ia menaiki gajah-gajahan seperti di mal
“yeee!!!” teriaknya, Ranna tertawa geli digendongan maminya, ia senang bermain mainan gajah yang bisa berjalan
“Hai! Kamu sudah pulang!” tegurnya, Daniel menghampiri dan mencium istrinya
“Kalian senang sekali!”
“Mainan ini, sengaja di pesan si O, dia bilang kalau Ranna ke sini main beginian pasti senang!”
“Ranna apa mami yang senang?” ledek Daniel
“Dua-duanya!” jawab Rita tertawa
Daniel mengambil Ranna dari Rita dan menggendongnya di depan, mereka berkeliling taman dengan sepeda, Daniel mengayuh, Rita membonceng di belakang.
“Aihh...kalian berat sekali!” keluh Daniel
“Stop..stop...sudah sampai sini saja!” ia kasihan melihat suaminya kecapekan
“Kita main ayunan!”
Mereka menaiki ayunan, Ranna berteriak senang
“Ranna!!! Kamu sudah bisa teriak kencang ya?” ujar Rita heran
“Hehehe...iya anak papi sudah besar ya?”
“Kamu itu bersikap seolah-olah Ranna akan masuk sekolah!” protes Rita
“Hahaha..iya ya?” Daniel kembali terdiam, banyak hal dipikirannya
“Tadi kenapa di kantor Yang?” tanya Rita, ia mengenal suaminya jika banyak pikiran
“Kayaknya kita benar-benar harus pindah kesini Yang!” Daniel menggandeng istrinya dan mencium rambut istrinya dan berjalan kembali ke rumah
__ADS_1
_bersambung_